Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Jumat, 10 Desember 2010

Al – walaa’ wal baraa’


Bismillahirrohmannirrohim
Al – walaa’ wal baraa’
diBuat oleh: Muhammad Faisal, SPd, M, MPd
            Al Walaa’ dan Al Baraa’ termasuk bagian ‘Aqidah Islam. Al Walaa’ maksudnya memberikan rasa cinta dan pembelaan kepada Alloh, Rasul-Nya dan kaum Mukminin/Muslimin. Sedangkan Al Baraa’ maksudnya berlepas diri, memusuhi dan membenci musuh-musuh Alloh.
Keutamaan Al Walaa’ wal Baraa’
            Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Ikatan keimanan yang paling kuat adalah berwala’ karena Alloh, berbara’ karena Alloh. Cinta karena Alloh dan benci karena Alloh “. (HR. Thabrani). Beliau Rasul juga bersabda kembali: “ Ada tiga yang jika ada semuanya (dalam diri seseorang) niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman; Alloh dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Alloh dan benci kembali kepada kekufuran/kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilempar ke dalam api “.                  (HR. Bukhari dan Muslim).
Contoh memberikan wala’ kepada kaum Muslimin
            Kita diperintahkan berwala’ kepada kaum muslimin, berikut ini contoh-contohnya:
Berhijrah (pindah) ke negeri kaum muslimin dan meninggalkan negeri kaum musyrikin.
Membantu kaum Muslimin dan menolong mereka baik dengan jiwa, harta maupun lisan dalam hal yang mereka butuhkan baik yang berkaitan dengan dunia maupun agama.


Merasa sakit bila mereka sakit dan merasa gembira bila mereka gembira.
Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti sebuah jasad; jika salah satunya sakit, maka yang lain pun ikut merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur “. (HR. Muslim dan Ahmad).
Bersikap tulus (nashiihah) kepada mereka, senang apabila mereka mendapatkan kebaikan, tidak menipu mereka, menghina mereka dan tidak membiarkan mereka dalam kesulitan serta menjagaa darah, harta dan kehormatan mereka.
Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh menghinanya, membiarkannya dan menyerahkannya kepada musuh. Cukuplah, seseorang berbuat jahat jika menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim dengan muslim lainnya adalah terpelihara; baik darah, harta maupun kehormatannya “. (HR. Bukhari dan Muslim).
Menghormati mereka, memuliakan mereka dan tidak menjelekkan atau mencela martabat mereka.
Bersama mereka dlm keadaan mudah dan susah, lapang dan sempit.
Inilah bedanya orang mukmin dengan orang munafik. Alloh Subhaanahu’ wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik: “ (Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Alloh mereka berkata:               " Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Alloh akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Alloh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan                                      orang-orang yang beriman “. (Terjemah QS. An-Nisaa’: 141).
Mengunjungi mereka, senang bertemu mereka dan berkumpul bersama mereka.
Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya dikampung lain, maka Alloh mengirimkan seorang malaikat untuk memperhatikannya. Ketika bertemu, malaikat itu bertanya, “ Kemana anda ingin pergi? “ Ia menjawab, “ Kesaudaraku dikampung ini “. Lalu malaikat itu bertanya, “ Apakah ia berhutang budi kepadamu? “ Orang itu menjawab, “ Tidak, hanyasaja saya cinta kepadanya karena Alloh Azza wa Jalla “. Maka malaikat itu berkata, “ Sesungguhnya saya adalah utusan Alloh kepadamu untuk memberitahukan bahwa Alloh cinta kepadamu, sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya “. (HR. Muslim).


Memuliakan hak mereka, oleh karena itu tidak meminang wanita yang sudah dipinang mereka, membeli barang padahal sudah dibeli oleh mereka, dsb.
Menyayangi orang-orang yang lemah diantara mereka dan memuliakan orang yang sudah tua dikalangan mereka.
Mendo’akan dan memintaakan ampunan untuk mereka.
Alloh Subhaanahu’ wa Ta’ala berfirman: “ Dan mohonkanlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan “. (QS. Muhammad: 19).
Larangan Memberikan Walaa’ (rasa cinta dan pembelaan) kepada orang-orang Kafir.
            Alloh Azza wa Jalla berfirman menjelaskan bahwa tidak mungkin kaum mukminin memberikan wala’ kepada orang-orang Kafir-, “ Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka “.                          (Terjemah QS. Al-Mujaadilah: 22). Mungkin timbul pertanyaan: “ Bukankan dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8 diterangkan bahwa kita diperbolehkan berbuat baik dan bersikap adil kepada orang Kafir yang tidk memerangi kita?.
            Jawab; Fadhilatush Syaikh Al-Allamah Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan Hafidzhahulloh mengatakan, “ Maksud ayat tersebut adalah bahwa kaum Kafir mana saja yang menahan diri; tidak memerangi kaum muslimin dan tidak mengusir kaum muslimin dari kampung halaman, maka kaum muslimin boleh membalas sikap mereka dengan berbuat baik dan bersikap adil dalam mu’amalah duniawi, namun tidak disertai rasa cinta kepada mereka dengan hatinya, karena Alloh mengatakan, “ (Alloh tidak melarang kamu) untuk berbuat baik dan Berlaku adil kepada mereka “. (Terjemah QS. Al-Mujaadilah: 8). Tidak mengatakan “ (Alloh tidak melarang kamu) untuk memberikan wala’ dan rasa cinta kepada mereka “.
Contoh memberikan walaa’ kepada orang-orang Kafir
            Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kita dilarang memberikan wala’ kepada orang-orang kafir, berikut ini contoh-contoh berwala’ kepada mereka:
Tasyabuh (menyerupai) orang-orang Kafir
Yakni dalam hal ciri khas mereka. Kita tidak boleh menirunya, baik berupa kebiasaan, ibadah, akhlak maupun jalan hidup mereka. Termasuk contoh meniru mereka adalah memperingati hari kelahiran, merayakan hari Valenitine dan mengenakan pakaian khusus berwarna hitam ketika ta’ziyah dan berziarah.


Tinggal dinegeri mereka dan tidak mau berpindah ke negeri kaum Muslimin
Oleh karena itu, Alloh Azza wa Jalla menyuruh kaum Muslimin hijrah ke negeri saudaranya ketika mampu, dan melarang tetap terus tinggal disana kecuali jika tidak mampu. Alloh  Subhaanahu’ wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali “. (Terjemah QS. An-Nisaa’: 97). Diperbolehkan juga tinggal di negeri orang-orang Kafir jika bertujuan untuk dakwah (mensyi’arkan Agama Islam).
Bersafar (berpergian) ke negeri kaum Kafir hanya semata-mata untuk bersenang-senang atau tamasya
Fadhilatush Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Rahimahulloh berkata: “ Safar ke negeri orang Kafir tidak boleh kecuali jika terpenuhi tiga syarat: Pertama,  Dia memiliki ilmu yang bisa menangkal syubhat (tipu daya pemikiran orang-orang kafir) yang datang, Kedua, Dia memiliki agama yang kuat yang bisa menjaganya dari berbagai syahwat. Ketiga, Dibutuhkan. “ Yakni dibutuhkan untuk pergi ke sana seperti untuk berobat, mempelajari tekhnologi untuk kemajuan kaum Muslimin, berdagang, dsb) “, Demikian juga boleh bersafar ke negeri mereka dengan tujuan Dakwah.
Membantu mereka memerangi kaum Muslimin
Perbuatan ini termasuk pembatal-pembatal keIslaman -Wal ‘iyadz billah-.
Meminta bantuan kepada mereka, mempercayakan urusan kepada mereka dan memberikan mereka (orang-orang Kafir) jabatan yang di sana terdapat rahasia kaum Muslimin serta menjadikan mereka teman akrab dan sebagai anggota musyawarah yang dimintai pendapatnya
Menggunakan Kalender mereka dengan meninggalkan Kalender kaum Muslim
Berpartisipasi dengan orang-orang Kafir dalam upacara mereka atau membantu mereka mengadakannya atau bahkan mengucapkan selamat kepada mereka atau menghadiri acara tersebut
Termasuk contoh dalam hal ini adalah mengucapkan “ Selamat Natal “. Ini adalah Haram. Karena mengucapkan selamat natal sama saja ia tidak mengingkari, bahkan menyetujui upacara tersebut yang mana didalamnya terdapat syirik. Bukankah kita dilarang mengatakan kepada orang yang meminum minuman keras, “ Selamat meminum minuman keras “. Apalagi dalam hal ini yang mana dosanya (yakni syirik) melebihi meminum minuman keras.


Membantu mereka atau menjunjung tinggi peradaban mereka serta kagum dengan akhlak dan kepintaran mereka tanpa melihat kepada keyakian mereka yang rusak dan agama mereka yang batil lagi sesat
Menamai anak dengan nama-nama mereka
Misalnya menamai dengan nama George, Yuli, Petrus, Diana, Suzan, Nadia, dsb. Meninggalkan nama-nama Islami (seperti Abdullah atau Abdurrahman, Mujahidin, Jundi, dsb untuk yang laki-laki sedangkan perempuan seperti Aisyah, Khadijah, Fatimah, dsb) dan nama-nama kaum Muslimin.
Memintakan ampun dan rahmat untuk mereka
Alloh Subhaanahu’ wa Ta’ala berfirman: “ Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam “. (Terjemah QS. At-Taubah: 113). Diharamkannya memberikan wala’ kepada orang-orang Kafir bukanlah berarti diharamkan juga bermua’amalah dengan mereka, mengimpor barang-barang yang didatangkn dari mereka, menggunakan alat-alat buatan mereka, dsb. Bukankan Nabi Shallallahu’ Alaihi wa Sallam pernah menyewa orang Kafir yang bernama Ibnu Quraith untuk menujukkan jalan menuju Madinah dan pernah membeli kambing milik salah satu yang musyrik? “. Ibnu Baththal mengatakan: “ Bermua’amalah dengan orang Kafir adalah boleh kecuali jual beli yang (jelas-jelas –pent) membantu orang-orang Kafir memerangi kaum Muslimin “. Contohnya menjual perlengkapan perang dan persenjataan kepada orang-orang Kafir.
Penggolongan dalam masalah Wala’ dan Bara’
            Dalam masalah wala’ dan bara’, terbagi menjadi tiga golongan: Golongan pertama, Orang-orang yang diberikan kecintaan (wala’) murni tanpa dimusuhi sama sekali. Mereka adalah kaum Mukmin yang bersih dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Golongan kedua, Orang-orang yang dibenci dan dimusuhi murni tanpa ada rasa cinta dan wala’. Mereka adalah kaum Kafir, orang-orang Musyrik, orang-orang Munafik, orang-orang Murtad dan orang-orang atheis dengan berbagai ragamnya, serta orang-orang Liberal/Pluralisme. Lihat QS. An-Nisaa’: 150-151, Golongan ketiga, Orang-orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lain. Mereka adalah kaum Mukmin yang berbuat Maksiat. Mencintai karena iman yang mereka miliki, dan membenci karena maksiatnya yang tingkatannya di bawah Kufur dan Syirik.    Sekian, Semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi umat Islam, Fastabiqul Khairot, Nuun Walqolami’ Wama’a Yasthurun,  Wallohu’ Ta’ala a’lam bish Showab. Washallallaahu’ ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahhbihi wa sallam. Wallhamdulillahi Rabbil’ Alamien.


you 've plenty of time


Akhwat..
Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka membuat komentar pedas,memaki,dan lainya

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka membunuh karakter temanmu



Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka berduaan dengan lawan jenis

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka punya hubungan tanpa status/pacaran

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka pegangan tangan dengan lawan jenis

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
nonton bareng lawan jenis

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
sholat akhir waktu

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
bertelepon dengan tawa ,manja

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka jelalatan lihat lawan jenis(apalagi suami orang)



Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
sering sms ,di malam-malam buta dengan lawan jenis

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
Suka chating2  mesra dengan lawan jenis

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
malas baca al Qur'an

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka ghibah dan  menggosip siapapun aja.

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
tidak mau ikut kajian islam,

Jangan ngaku  - ngaku jadi akhwat kalau masih
suka dusta.

dan masih banyak lagi .......



tidak ada akhwat yang sempurna ...but i think you 'v plenty  of time
(akhwat masih punya waktu ,untuk memperbaiki semua )

� � 5 9 H�X �R 6.5in'>Maka apabila ada manusia yang hanya mencapai kebaikan dan kesempurnaan secara materi dan tidak berusaha mencapai kebaikan dan kesempurnaan secara sepiritual sekaligus, dapat di katakana tidak ada pembeda antara ketiga wujud tersebut, yaitu wujud  manusia, hewan dan golongan tidak memeliki rasa.

Wallahu a’lam

Kritikan Keras yang Melukai Perasaan


oleh Ibaadezt Fillah

Kritikan Keras yang Melukai Perasaan
Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras atau kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan: "Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkannya." Atau: "Kamu berseberangan dengan saya."
Jika anda seorang yang beretika baik, seharusnya yang anda katakan adalah: "Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi", "Menurut hemat saya...", "Saya mempunyai idea lain, harap anda menyemaknya dan memberi penilaian", dan ungkapanungkapan serupa.
Menurut DR. Abdullah al-Khathir rahimahullah. "Semua orang menyukai siapa saja yang mengoreksi kesalahannya tanpa melukai perasaan." Al- Khathir memberi contoh dengan sebuah kisah, bahawa suatu saat seorang dosen tengah mempersiapkan materi ceramah yang akan disampaikan di dalam sebuah forum umum. Namun makalah yang berhasil disusun olehnya terlalu panjang dan detail, sehingga dapat membosankan para pendengar. Untuk itu, ia minta penilaian dari istrinya dan berkata: "Bagaimana pendapatmu mengenai materi ceramah ini?" Dengan penuh bijak sang istri menjawab: "Materi ceramah ini lebih layak dan sangat baik jika menjadi ertikel untuk sebuah majalah ilmiah yang mengkaji tema-tema spesifik." Dari jawaban tersebut, dosen itu tahu bahawa materi makalah yang ia buat tidak cocok untuk disampaikan di depan forum umum.
Kisah di atas merupakan satu contoh kritik yang sangat baik. Ia menggunakan cara menonjolkan sisi-sisi positif dan kelebihan objek yang dikritik. Oleh kerananya, jika seorang sahabat datang menemui anda dan meminta pendapat mengenai rencananya untuk terjun berdagang—misalnya, maka sebaiknya anda memberi saran dengan mengatakan: "Engkau memiliki potensi menulis dan berpikir yang tajam, jangan sia-siakan potensimu itu." Jika memang ia tidak memiliki bakat berdagang dan menonjol dalam bidang intelektual.
Demikianlah model sikap yang harus diambil, jangan memutuskan suatu masalah dengan gaya ungkapan "Kamu tidak layak menekuni bidang itu", namun katakanlah: "Kamu lebih layak menekuni selain bidang itu."



Dalam suatu majlis, kita sering menemui seorang pembicara yang handal dan berceramah dengan tutur kata yang sangat baik. Kemudian pada akhir pembicaraan, ia membuat satu kesalahan. Jika kita perhatikan ragam sikap manusia dalam kisah seperti ini, ada yang hanya menilai titik kesalahnya saja, sehingga menuntut si pembicara untuk berhenti. Ini merupakan sikap yang tidak benar. Seorang pengkritik seharusnya menonjolkan sisi-sisi positif isi pembicaraannya dahulu seperti dengan mengatakan: "Saya setuju dengan isi pembicaraan anda dalam..., namun untuk masalah terakhir yang anda ungkapkan, saya mempunyai beberapa catatan."
Dengan gaya tersebut, pengkritik memulai dengan sisi-sisi positif, setelah itu, baru mengoreksi kesalahan pembicara. Gaya seperti ini akan lebih mendorong pembicara untuk menerima kritikan yang disampaikan kepadanya, tanpa harus terjebak dalam perdebatan kosong yang tidak menghasilkan apa pun.
Dengan gaya tersebut, berarti kita menerapkan kaidah: "Kita awali dengan perkara yang disepakati, baru kemudian membicarakan perkara-perkara lain."

dikutip dari " VIRUS VIRUS UKHUWAH " oleh : Abu 'Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah

http://www.facebook.com/notes/melati/kritikan-keras-yang-melukai-perasaan/167373579967692 465.95B $ i h H�X �R Dan sisi spiritual manusia ini pun tidak akan terlepas dari baik dan buruk.
Sehingga ada sesuatu yang menunjang kebaikan pada sisi spiritual manusia dan ada juga sesuatu yang menunjang keburukan pada sisi spiritual manusia, sehingga bagaimanakah kita tahu sesuatu itu menunjang kebaikan spiritual bagi manusia atau sesuatu itu menunjang keburukan bagi manusia?
Untuk itulah kemudia Allah mengirim para Rosulnya ke muka bumi ini untuk mendidik manusia mencapai kesempurnaan secara spiritual yang kemudia ajarannya kita kenal dengan sebutan Agama. Jadi tolak ukur kebaikan dan keburukan secara spiritual bagi manusia adalah terletak pada aturan-aturan Agama yang di sampaikan oleh para Rosul Allah dan hal inilah yang membedakan antara manusia dan dua golongan lainnya.
Maka apabila ada manusia yang hanya mencapai kebaikan dan kesempurnaan secara materi dan tidak berusaha mencapai kebaikan dan kesempurnaan secara sepiritual sekaligus, dapat di katakana tidak ada pembeda antara ketiga wujud tersebut, yaitu wujud  manusia, hewan dan golongan tidak memeliki rasa.

Wallahu a’lam


"Apakah Ukuran Baik dan Buruk Sesuatu?"


Bismillahirrahmanirrahim

Setiap mahluk dalam menjalani hidup ini pastilah tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan baik dan buruk. Namun apakah kebaikan itu? Dan apakah keburukan itu? Lalu apakah kebaikan yang ada pada manusia dan mahluk yang lain itu sama? Dan Apakah kebaikan pada posisi materi dan imateri ( Jiwa ) itu sama?
Di dalam note ini, kebaikan di definiskan dengan segala sesuatu yang menunjang hidup, keberadaan dan kesempurnaan.
Sedangkan keburukan adalah segala sesuatu yang menerangkan atau menyebabkan ketiadaan dan ketidak sempurnaan.
Ukuran umum kebaikan dan keburukan disini akan di bagi pada 3 ( tiga ) bagian wujud mahluk, yaitu : Manusia, Hewan dan Golongan yang tidak memiliki rasa.

 1.Manusia


Sesuatu yang dianggap baik bagi manusia adalah apa saja yang di butuhkan dan di senangi manusia maka akan di katakana baik.
Contoh : Hidup, Kaya, Mata, Ilmu, makanan dan lain sebagaianya.
Dan apa saja yang merugikan dan tidak di sukai maka akan dikatakan buruk.
Contoh : Mati, Buta, Miskin, Jahil, Kelaparan dan lain sebagaianya.
 2. Hewan
Bagi hewan kebaikan adalah apa saja yang sesuai dengan Hewan secara umum, maka akan dikatakan Baik.
Contoh : Rumput baik untuk Sapi
               Jagung baik untuk Burung
               Dll
Dan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Hewan secara umum, maka akan di katakana Buruk.
Contoh : Bakteri merugikan, Penyakit, Patah kaki, dan lain sebagainya.
 3. Golongan yang tidak punya rasa ( Tumbuhan dll )
Disini yang di katakana baik bagi Golongan ini adalah apa saja yang tidak merusak dengannya, maka akan di katakana baik.
Contoh : Dedaunan di katakana baik untuk Pohon ataupun tanah.
Dan apa saja yang dapat merusak golongan ini maka akan masuk dalam kategori Buruk.
Dengan ini maka kebaikan pada setiap dari ketiga golongan wujud ini ternyata berbeda dan kadang suatu hal yang merupakan kebaikan bagi satunya namun merupakan keburukan bagi selainnya, seperti Ikan adalah kebaikan bagi manusia untuk menjadi makanan tapi bagi ikan sendiri itu merupakan keburukan dan begitu juga dedaunan merupakan kebaikan untuk kambing tapi merupakan keburukan bagi pohon dan begitulah seterusnya.
Akan tetapi apakah berhenti sampai di sini saja kah kebaikan dan keburukan itu?


Ya, bagi selain manusia.
Namun bagi manusia selain kebaikan dan keburukan yang telah disebutkan diatas ternyata masih ada jenis kebaikan dan keburukan yang lain lagi bagi manusia yang membedakannya dengan golongan yang lain.
Yaitu kebaikan dan keburukan secara spiritual. Sebab apa yang di sebutkan di atas adalah kebaikan dan keburukan dari sisi materi.
Sedangkan manusia menyadari adanya realita spiritual di dalamnya, tidak seperti Hewan atau golongan yang tidak memiliki rasa, mereka tidak menyadari adanya realita spiritual di dalam dirinya sehingga segala kebaikan dan keburukan hanyalah sebatas materi saja.
Dan sisi spiritual manusia ini pun tidak akan terlepas dari baik dan buruk.
Sehingga ada sesuatu yang menunjang kebaikan pada sisi spiritual manusia dan ada juga sesuatu yang menunjang keburukan pada sisi spiritual manusia, sehingga bagaimanakah kita tahu sesuatu itu menunjang kebaikan spiritual bagi manusia atau sesuatu itu menunjang keburukan bagi manusia?
Untuk itulah kemudia Allah mengirim para Rosulnya ke muka bumi ini untuk mendidik manusia mencapai kesempurnaan secara spiritual yang kemudia ajarannya kita kenal dengan sebutan Agama. Jadi tolak ukur kebaikan dan keburukan secara spiritual bagi manusia adalah terletak pada aturan-aturan Agama yang di sampaikan oleh para Rosul Allah dan hal inilah yang membedakan antara manusia dan dua golongan lainnya.
Maka apabila ada manusia yang hanya mencapai kebaikan dan kesempurnaan secara materi dan tidak berusaha mencapai kebaikan dan kesempurnaan secara sepiritual sekaligus, dapat di katakana tidak ada pembeda antara ketiga wujud tersebut, yaitu wujud  manusia, hewan dan golongan tidak memeliki rasa.

Wallahu a’lam


Teman, Bangunlah! Bertahajudlah!


Merapatkan kaki disisi Allah pada pertengahan malam. Tidak ada seorangpun mengetahui kecuali Allah. Air mata mengalir membasahi pipi dan mencuci bersih hati yang terkotori. Berlindung dan berharap kepada Allah memenuhi segala kebutuhan mendambakan ridha Allah meridhai kita dengan kilauan cahaya disetiap wajah, anggota tubuh, istiqomah dalam beramal, ikhlas dalam hati dan senantiasa berpikir positif.



Nikmatilah! sholat malam melebihi dalam tidur lelap, sholat malam menjadikan berarti dalam hidup kita sebagai amal yang konsisten. Bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan. jadikan hati senantiasa gelisah karena merindukan sholat malam dan senang menyambut malam karena berdiri dihadapan Allah dengan tenang dan khusyuk.
Teman, hidupkanlah malam dengan tahajud dan berdzikir kepada Allah. Allah menggambarkan dengan indahnya bagi hamba-hambaNya yang senantiasa menunaikan sholat tahajud. 'Orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami adalah yang apabila diingatkan dengannya mereka tersungkur sujud, bertasbih, memuji Tuhan, serta tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka.' (QS. Al-Sajadah : 15-16).


Kamis, 09 Desember 2010

Rendah Diri, Rendah Hati atau Direndahkan?


♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Jangan pernah merendahkan dirimu, sekalipun orang-orang merendahkanmu.” Sepenggal kata-kata yang pernah saya dengar dan tetap saya simpan sebagai bekal dalam melangkah menyusuri jalan kehidupan yang tidak menentu ini.
Jalan kehidupan yang kadang keras, kadang lembut, kadang lancar kadang tersendat, membutuhkan kesabaran sampai ketidaksabaran pun datang menerpa kita semua. Rendah diri tidak sama dengan rendah hati, juga tidak sama dengan direndahkan derajat atau harga diri ini.
Rendah diri membuat seseorang berasa minder dan tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri, membuat segalanya berantakan karena tidak berani tampil kepermukaan. hasilnya orang yang minder tidak bisa maju ke depan, tetapi selalu berada di belakang orang yang terdekatnya. selalu bersembunyi di balik orang lain dan tidak bisa menampilkan jati dirinya. Orang seperti ini bukan berarti ia tidak memiliki kemampuan atau keahlian, justru banyak diantara orang yang rendah diri memiliki bakat yang terpendam, hanya saja tidak ada kesempatan untuk ditampilkan.
Rendah hati, sangat penting dan membutuhkan sebuah kebijaksanaan untuk menjadi orang yang rendah hati, tiada sombong mudah disokong dan bersahabat dengan siapa saja, ramah dan bersikap terbuka kepada siapapun yang datang kepadanya.

♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rendah hati tidak berarti rendah derajatnya. justru sebaliknya orang-orang yang mulia kebanyakan memiliki sifat rendah hati. semakin tinggi kedudukannya semakin besar jiwanya, dan tidak sombong.
Sebaliknya bila direndahkan dan diinjak-injak harga diri ini, sudah sebaiknya berpikir dengan positif. Bila memang kita memiliki harga diri, berapakah harganya? ternyata tidak ada ukuran apapun untuk menilai harga diri seseorang. Harga diri sesungguhnya hanya EGO saja. EGOSENTRIS seseorang yang merasa perlu dihargai, merasa perlu ditinggikan dan di hormati. sesunguhnya sampai dimana ke”EGO”an itu menjadi-jadi? biasa di kenal juga sebagai ke”AKU”an. Bila kita mampu menaklukan si ‘EGO’ atau si ‘AKU’ itulah baru dikatakan mereka yang berhati mulia yang nilainya luar biasa tidak ada sesuatu yang dapat menghargainya.
Siapa yang merendahkan maka ia akan direndahkan, hukum sebab akibat yang umum. Tetapi selama kita mampu bertahan dalam “kerendahan” itu sendiri dan dapat bangkit untuk melayani semua tanpa pamrih, maka Ia sudah belajar ilmu “TANAH”.
Tanah yang selalu diinjak-injak, selalu menampung dan menerima apa pun yang diberikan olehnya, diludahi, disiram apapun, dilindas apapun, dibebani sampai dipancang oleh tiang pancang sekalipun, Ia tetap menerima dan selalu memberikan yang terindah bagi semuanya.


Pohon yang tumbur subur, rumput yang menghijau, buah-buah yang ranum dan bunga-bunga yang mekar setiap harinya karena TANAH yang memberikan semuanya tetap tumbuh subur. Bumi tidak marah tetapi memberikan yang terindah untuk semuanya. Tetapi tetap harus hati-hati suatu saat bisa juga terjadi ‘gempa bumi’ atau ‘tanah longsor’.
Semua orang dilahirkan dengan derajat yang berbeda, itu bukan kehendaknya, karena mengikuti orang tua yang melahirkannya. Tetapi derajat bukan ukuran sesoerang mampu atau tidak mampu untuk menjadi sukses dan berhasil. Derajat juga bukan berarti menjadi penghalang seseorang untuk berubah dan mengubah keadaan dan kondisi hidupnya. Karena tidak ada ukuran yang tepat juga untuk menilai seseorang karena derajatnya. Mereka yang meningkatkan pengetahuan, kerja keras, kesabaran dan kebijaksanaan dirinya sudah tentu akan mengangkat derajat dirinya, derajat keluarganya dan orang tuanya. Seseorang yang berhasil dan bermanfaat bagi banyak orang dan bagi negaranya sudah pasti akan dikenang banyak orang. tentu saja banyak pengorbanan dan perjuangan yang dilakukannya.
♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Marilah kita meningkatkan kualitas diri untuk menjaga kejernihan hati agar memiliki kerendahan hati dan tidak menjadi orang yang rendah diri, meningkatkan jati diri dan eksistensi diri agar memiliki kualitas hati sehingga tidak mungkin ada yang merendahkan, malah mungkin dapat meningkatkan derajat hidup orang banyak.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/rendah-diri-rendah-hati-atau-direndahkan/10150098264021042

Kerisauan Hati Seorang Ibu


♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥ 

Pagi-pagi Sang Ibu sulit sekali membangunkan anaknya untuk sekolah, Dengan sedikit suara keras, akhirnya terbangun pula sang anak dari ranjang terbangun dari buaian mimpi indahnya,
Dengan cinta dan kasih sayangnya memasak hidangan pagi untuk sarapan sang buah hati tersayang, tapi sang anak tidak sedikitpun menyentuhnya dan seraya bergegas berangkat ke sekolah.
Dengan tatapan cinta sang ibu menghantar anaknya sampai depan pintu rumah, tetapi tak ada salam apapun yang keluar dari mulut sang anak, hanya doa sang ibu menghantar kepergian anaknya ke sekolah.
Dengan peluh di wajah menghela nafas yang berat kembali melanjutkan tugas dan kerjaan rumahnya, menanti waktu yang segera berganti siang.
Sarapan Pagi pun dinikmati seorang diri, sarapan pagi dimakan siang, dan kembali memasak masakan untuk buah hati tercinta selepas pulang sekolah.
Terdengar pintu rumah terbanting keras, Sang anak bergegas masuk kamar, dan tidak ada kata-kata manis untuk ibunya yang menantinya makan siang.


Hanya ucapan ketus “Aku Sudah Kenyang pergi Makan bersama Teman-teman”… Kembali Sang Ibu dengan sabarnya melanjutkan pekerjaan rumahnya. Sang anak tidak keluar dari kamarnya, asik bermain game dan berchating ria di depan komputernya.
Hati Sang Ibu hanya merintih: “sudah sedemikian jauhnyakah jarak antara aku dan anakku?”
Semua Sapaan dan Pertanyaan Sang Ibu selalu dijawab ketus dan tanpa ada arti. bathin sang ibu merintih tersenyum pahit dan sang anak tertawa tak mengerti apa yang terjadi….
Makanan siang dimakan malam hari oleh Sang Ibu. Kembali sang ibu tak berjumpa dengan anaknya yang telah keluar rumah dan baru pulang tengah malam nanti…
Tertidur di sofa menanti kembalinya buah hati, dengan kerisauan dan kekhawatiran di rauh wajahnya, tetapi sang anak tidak pernah melihat kerut di dahinya dan sembab di matanya karena bergadang karena menunggu anaknya kembali ke rumah. Sang anak dengan santainya masuk kamar tanpa perasaan apapun, dan meninggalkan sang ibu tanpa kata-kata….
Siapapun orang tuanya, dan siapapun anaknya, sadarkah kita kejadian ini mungkin sering terjadi atau pernah terjadi pada diri setiap orang, tetapi ada satu hal yang perlu diingat. cobalah luangkan waktu untuk orang yang kita cintai selagi mereka masih hidup, selagi kita masih memiliki orang yang kita sayangi. jangan sampai penyesalan datang belakangan.
Untuk orang tua Sayangilah anak anda, Kasihilah mereka bukalah jalur komunikasi dengan baik, jadilah teman anda. Dan Untuk anak, tataplah wajah orang tua anda, peluklah mereka rasakan jeritan hati mereka, dan katakan sayang kepada mereka sebelum semua itu menjadi penyesalan.

Ucapkan terima kasih pada apa yang telah diberikannya padamu.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/kerisauan-hati-seorang-ibu/10150098263186042

Allah Mengenalkan DiriNya


♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Kapan pun Allah memberikan sesuatu padamu, dalam rangka Dia memperlihatkan kebajikanNya padamu, dan kapan pun Dia menghalangi keinginanmu dalam rangka Dia memperlihatkan sifat Maha MemaksaNya. Dua hal di atas, masing-masing dalam rangka mengenalkan padamu sekaligus menghadapkan sifat Maha Lembutnya padamu.
Sesuatu yang berbeda dalam perjalanan takdir Allah, naik turun dan bahkan bergolak dalam diri kita, sesungguhnya itu semua merupakan cara Allah mengenalkan ma'rifatNya, dan keduanya adalah rahmat dan kelembutan dariNya. Tidak bisa kita sebutkan dibalik sifat perkasaNya  lalu kita merasa terjauhkan dari Maha LembutNya? Bukan begitu. Namun dibalik sifat perkasaNya yang bisa menghalangi kehendak kita pun, sesungguhnya tersembunyi Sifat Rahmat dan LembutNya.
Orang yang beriman, baik diberi atau dihalangi apa yang diinginkan, mestinya sama saja nilainya. Orang beriman harus disibukkan memuji kepada Allah, baik dalam kondisi suka maupun duka. Namun hawa nafsu kita serta ketidakfahaman jiwa kita, membuat kita merasa pedih terhadap hal-hal yang kita rasakan gagal.
Banyak orang yang memahami bahwa Kelembutan Ilahi serasa hilang ketika Allah memberikan cobaan yang bertubi-tubi. Salah faham yang luar biasa manakala kita memahaminya sedemikian sempit. Karena pada saat yang sama ia merasa su'udzon kepada Allah Ta'ala, dan cintaNya tak berpihak padanya.
Padahal sesuatu yang terhalang, gagal, atau pun hal-hal yang tak memenuhi tarjet cita-cita anda, adalah anugerah Allah pula. "Keterhalangan itulah hakikat pemberianNya."
Allah Maha Tahu kondisi dan situasi batin kita, apakah Allah harus membentak kita, karena kita banyak lalai dan sering meremehkanNya, ataukah Allah harus memberikan "bisikan halus" yang indah karena jika "dibentak" Allah, si hamba malah celaka? Inilah yang harus difahami dengan benar.


Bagaimana Allah mendidik kita dengan PengetahuanNya Yang Paripurna agar kita mengenal DiriNya, dan caranya hanya Allah yang menginteraksikan bentuk, ruang waktu dan metode yang "langsung" dariNya melalui kebahagiaan dan kepahitan.

♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/allah-mengenalkan-dirinya/10150098271576042