Mengenai Saya
Laman
Jumat, 17 Desember 2010
Hati Yang Kosong Dan Jiwa Yang Keruh
‘Setiap tarikan nafas yang dihembuskan, di dalamnya ada ketentuan Allah. jangan kosongkan hati dari mengingat Allah, sebab akan dapat memutuskan muraqabah anda dari hadirat-Nya. janganlah keheranan karena terjadinya hal-hal yang mengeruhkan jiwa, karena itu sudah menjadi sifat dunia selama anda berada di dalamnya. “
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Di dalam perjalanan hidup anak Adam di permukaan bumi ini, tidaklah seorang hamba terlepas dari problema yang berlaku pula bagi manusia lainnya. Setiap tarikan nafas anak Adam, menjadi pertanda bahwasanya persoalan-persoalan yang sama selalu berulang. Karena segala yang belum terjadi, sudah terjadi dan akan terjadi berjalan di atas rencana Allah jua. Dan semua ketetapan dan rencana Allah berlaku untuk setiap orang, dimana anda berada di dalamnya. Tugas hamba Allah dalam mengikuti rencana-Nya, tidak lain mentaati hukum-Nya, mengikuti takdir-Nya dengan hati rida dan sabar.
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Di samping itu berikhtiar penuh waspada dan tawakal. Terus menerus taqarrub kepada Allah dengan mujahadah yang teratur, dan jangan membiarkan hati kita kosong dari zikrullah agar hubungan dengan-Nya selalu hidup serta menempatkan diri benar-benar sebagai hamba yang patuh. Membiarkan hati kosong dari Allah, akan memudahkan setan mendapat peluang menggerogoti keyakinan iman yang sedang tumbuh merekah. Lakukan ibadah salat dengan penuh kesadaran dalam muraqabah, karena itulah jalan menguatkan iman dan mengisi sepenuhya hati kita.
Jangan sampai seorang hamba terpengaruh oleh keajaiban dunia yang hiruk pikuk sehingga jiwa kita tergoda dan keruh, karena memang demikian irama hidup dan langgam dunia. Sudah dimaklumi bahwasanya hidup dunia ini ibarat panggung sandiwara. Apabila seorang hamba memikirkan hidup dunia semata-mata dalam rangka hidup saja, tentu ia akan berkeluh kesah, jiwanya akan terganggu dan hatinya menjadi keruh. Akan tetapi, hamba yang menjadikan hidup dunia ini semata-mata hanya salah satu dari bagian perjalanan yang masih jauh ditempuh, pasti ia tidak akan meratapi hidup ini dengan penuh keluhan tanpa ujung.
Si hamba akan mengembalikan melalui ikhtiar-ikhtiamya, segala sesuatu kepada-Nya.
Tidak perlu keluh kesah, tidak perlu hati menjadi keruh, karena segala sesuatu telah diatur oleh Allah Ta’ala sendiri serta menempatkan setiap orang pada bagian dan proporsinya masing-masing. Yang penting dipahami bahwa Allah Ta’ala akan menguji kebenaran iman hambanya, dan tidak membiarkan hamba-Nya jatuh kepada perbuatan yang kotor dan sengsara, selama si hamba masih tetap berada dalam hukum-hukum Allah.
Hidup dunia itu penuh fitnah, karena selama anak Adam berada di dalamnya, berarti selama itu pula sifat tamak anak Adam, tetap menjadi pakaian manusia. Adapun tamak itu akan menumbuhkan fitnah, dan fitnah akan membawa kehancuran. Allah Swt. menjelaskan hal ini dalam AI-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 35, “Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan .sebagai cobaan (fitnah), dan Pada Kami niscaya kamu akan dikembalikan. “
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/hati-yang-kosong-dan-jiwa-yang-keruh/10150101598526042
~~Seputih Melati~~
TAHUKAH ENGKAU BAGAIMANA MELATI ITU??? ;-)
Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya
Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap putih.
Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih.
Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya.
Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa.
Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.
♥●♥_◕_♥●♥
Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya.
Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes.
Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran.
Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.
Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam.
Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan?
Adakah kasih sayang tanpa cobaan?
Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?
Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya.
Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.
Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam.
Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah,
pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.
♥●♥_◕_♥●♥
Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan.
Atas nama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam.
Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.
Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.
Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun dan alam semesta.
Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.
♥●♥_◕_♥●♥
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/seputih-melati/10150101542166042
Indah Akhlak,Sejahtera Hidup
Sholawat beserta salam kita panjatkan kehadirat,baginda Rasulullah SAW,yang menyempurnakan Akhlak mulia,sehingga baginda menjadi tauladan sebagai Al Akhlaqul Kharimah,yang mendapat gelaran Al Insan Kamil.
Akhlak adalah sifat dan watak yang menggambarkan kepribadian,keadaan bathin dan rohani seseorang.Diatas sifat dan watak inilah seseorang akan dibangkitkan pada hari pembalasan/hisab diwaktu Kiamat,ketika itu ditampakkan berbagai hal secara terbuka.
Biasanya,apabila penampilan fizikal seseorang itu terlihat kemas dan baik,ia akan dikatakan berpenampilan baik,yakni dalam segi zahirnya.Begitu pula penampilan bathin(dalaman)seseorang.Apabila dihiasi berbagai sifat dan watak ,ia dikatakan berpenampilan bathin yang baik,ataupun berakhlak baik.Penampilan bathin inilah yang selalu dilihat oleh Allah,dan dengan penampilan bathin, seseorang itu akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak.
Penampilan luaran seseorang belum tentu akan sama dengan penampilan dalamannya.Seseorang yang berpenampilan kemas ,apabila mempunyai tingkah laku yang mencerminkan kerendahan adab,sombong,dan perangai lain yang bersumber dari penyakit hati ,hanya akan menimbulkan perasaan benci oleh orang-orang sekitarnya.Dan bila seseorang luarannya biasa saja,ataupun sederhana,apabila menghiasi akhlaknya dengan perangai terpuji,penyayang,murah hati,lapang dada,Qanaah,tawadhu dll, tentu orang lain akan mencintainya.Dan tentunya lebih beruntung lagi apabila seseorang itu menghiasi, memiliki keduanya,yaitu luaran dan dalaman yang baik adanya.
Seorang mukmin yang bijak mesti mencurahkan perhatiannya untuk berusaha meluruskan akhlaknya,dan mempunyai sifat-sifat yang dicintai oleh Allah.Seorang mukmin berkewajiban menyahut misi pengutusan Rasulullah sebagai nabi,seperti yang disabdakan baginda dalam hadistnya yang bermaksud:
“Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”(Riwayat Al-Bukhari).
Sebahagian orang bijak pandai di Yaman pada masa lalu,berkata,”Barang siapa lebih sibuk mendandani jasmaninya daripada rohaninya,hendaklah ia menuntut upah kepada ulat dan cacing,yang nanti akan menjadikannya santapan.”
Mengapa begitu? Sebab jika seseorang hanya sibuk mendandani jasmaninya,tidak sibuk mendandan rohani dan budi pekertinya
,sebenarnya ia hanya melayani ulat dan cacing,yang nanti akan menjadikannya mangsa(ketika ia sudah menjadi mayat dalam kubur)
Menjadi orang berakhlak mulia ataupun menyampaikan syiar dan dakwah kepada orang lain supaya berakhlak mulia,memiliki resiko dan cabaran yang besar,yaitu mungkin akan dilabel sebagai orang gila atau kurang waras.Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah yang bermaksud :
“Nuun…Demi pena dan apa yang mereka tulis,Engkau (wahai Muhammad)-dengan sebab nikmat pemberian Tuhanmu-bukanlah seorang gila (sebagaimana yang dituduh kaum musyrik,bahkan engkau adalah seorang bijaksana).Dan sesungguhnya engkau tetap beroleh pahala yang amat besar,yang tidak putus-putus,(sebagai balasan bagi menjalankan ajaran Islam),dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang amat mulia.”(Surah Al-Qalam,ayat 1-4).
Akhlak yang telah disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islam,juga merupakan dasar Aqidah (dasar dan sendi pokok Agama Tauhid) yang telah menyempurnakan Islam sebagai agama akhir Zaman.
Sabar,Bijak,dan Murah Hati.
Akhlak dan dakwah mempunyai kaitan penting dengan kesabaran,karena dengan akhlak inilah para Nabi menerapkan para sahabat dan pengikutnya.Allah SWT menghiasi tingkah laku mereka dengan kesabaran,sehingga mereka menjadi ikutan dan tauladan bagi orang lain.
Sabar adalah prajurit akal yang dapat mengendalikan gerak-gerik seseorang.Kesabaran juga dapat menegakkan keadilan dimata masyarakat.Kesabaran dapat mendorong seseorang agar tidak menjadikan hawanafsu sebagai hakim.Salah satu bentuk kesabaran adalah kesanggupan seseorang dalam menjalani rasa susahnya beramal ibadah,baik wajib maupun sunnah,dan melaksanakan kegiatan2 yang mengandungi maslahat dan manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.Kesabaran juga mendorong ketekunan dan ketabahan dalam menunaikan amalan baik.
Bentuk sabar yang lain dan juga yang utama,ialah kesanggupan seseorang dalam menahan diri dari kesenangan yang diingini oleh nafsu.Seorang mukmin akan diperingatkan oleh akal,dan memberitahu, bahwa setiap yang diingini dan yang diperturutkan oleh nafsu tersebut terkandung kemudharatan.Jika disentuh begitu saja ia akan membawa dirinya kepada kenistaan dan petaka.Lalu nafsu orang tersebut akan bertahan (sabar) untuk tidak menyentuhnya sebelum pertimbangan akal (padahal ia sangat menginginkannya) ,karena tahu akibat yang akan terjadi.
Dengan tertanamnya sifat sabar yang terlatih pada bathin sesorang itu,maka tumbuh pula sifat kebijaksanaan (hilm).Bijaksana juga merupakan sifat yang diberikan Allah kepada para Nabi dan RasulNYA.
Dan Allah Maha Bijaksana akan menganugerahkan hilm kepada yang dikehendakiNYA sebagai balasan diatas kesabaran seorang mukmin dalam melatih dirinya untuk berakhlak mulia.Bijaksana juga adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan amarah.
Diantara akhlak yang berkaitan dengan sikap bijaksana,yang setiap mukmin dan muslim dianjurkan memilikinya ,adalah murah hati (samahah).Sikap ini harus diterapkan oleh seorang mukmin dalam kehidupannya dan ketika bermuamalah dengan orang lain dalam bermasyarakat.
Dalam Islam,murah hati merupakan salah satu akhlak yang diajar oleh Nabi Muhammad SAW.Ketika berdakwah dengan para pengikutnya dan orang-orang beriman.Baginda bersabda,maksudnya:
“Allah sangat sayang kepada orang yang murah hati ketika menjual,murah hati ketika membeli,murah hati ketika membayar,dan murah hati ketika menagih.”(Riwayat Bukhari).
Rasulullah SAW mengajar kita doa untuk mendapatkan akhlak yang mulia.Diriwayatkan bahwa baginda berdoa, “Ya Allah,tunjukkanlah kepadaku keindahan akhlak yang tidak dapat menunjukkan keindahannya melainkan Engkau semata-mata,Dan palingkanlah dariku keburukan akhlak yang tidak dapat memalingkan keburukannya ,melainkan Engkau semata-mata.”(Riwayat Muslim)
Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW meminta perlindungan dari keburukan akhlak,keburukan watak dan kerendahan adab .Baginda berdoa maksudnya:”Ya Allah,sesungguhnya aku berlindung kepadaMU dari kemungkaran akhlak,amal-amal perbuatan ,hawa nafsu dan penyakit-penyakit (hati).”(Riwayat At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani) .
Pada masa kini ,Negara kita sedang berhadapan dengan keruntuhan akhlak yang amat serius.Bangsa kita yang dulunya dikenali dengan berbudaya elok, sikap bersopan santun,tenang dan tenteram dengan semboyan “gemah lipah lhoh jinawi”,ramah dan bersahabat,akhir-akhir ini berubah menjadi bangsa yang kasar,bengis ,egois dan sombong.Setiap hari kita menyaksikan media massa menayangkan berita-berita kriminal,Ada anak yang sanggup menghabisi nyawa orang tuanya,perampokan ,pelecehan hak asasi manusia,bahkan ada yang sanggup membuang bayinya sendiri.
Oleh itu sudah menjadi tugas kita bersama sebagai mukmin dalam bernegara,untuk memperbaiki keruntuhan akhlak dan kerendahan adab,di Ibu Pertiwi,Negara kita tercinta ini .Sememangnya memerlukan kesadaran dari setiap individu,dan bermula dari diri kita sendiri. Dengan menjadikan akhlak mulia sebagai tauladan,dan kemudian menampilkan budi pekerti dan tingkah laku yang mendatangkan maslahat dan manfaat kepada orang lain dan masyarakat pada umumnya.Ini karena akhlak mulia merupakan ciri seorang mukmin sejati.
Dengan tersebarnya akhlak mulia dan menjadi acuan oleh para pemimpin terutamanya,Insya Allah, bangsa dan Negara kita perlahan-lahan akan segera bangkit dari keterpurukan dan berubah kearah yang lebih baik.Amien Allahuma Amien.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/indah-akhlaksejahtera-hidup/10150101537461042
Berkat Melalui Perempuan
Bismillaahirrahmanirrakhiim...
"BENARKAH Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa andaikata beliau boleh menyuruh manusia bersujud kepada manusia lain, maka beliau akan memerintahkan istri bersujud kepada suaminya. Karena banyak sekali hak suami yang diberikan Allah atas istrinya?" tanya seorang murid kepada Abu Qubaisy dengan penuh minat.
Sebelum mahaguru yang dicintai dan dihormati murid-muridnya itu tiba, para murid yang telah lebih dulu berkumpul di majelis taklim riuh berbicara mengenai posisi atau kedudukan perempuan dalam Islam. Rupanya mereka terpengaruh oleh sibuknya orang-orang menyiapkan peringatan hari lahir seorang perempuan pejuang persamaan hak.
Sehingga ketika mahaguru itu tiba, salah seorang di antara para murid tersebut melontarkan pertanyaan yang mengandung kadar kritik terhadap emansipasi.
"Benar. Beliau pernah menyatakan hal demikian," jawab Abu Qubaisy.
"Bila demikian Islam menempatkan perempuan pada posisi yang amat rendah, Bahkan cenderung diharuskan menyembah suaminya," kata murid lain memotong kalimat guru besar mereka.
"O, tidak seburuk itu," sanggah Abu Qubaisy. "Pada kesempatan lain beliau berkata bahwa yang memuliakan perempuan adalah lelaki yang mulia. Dan yang merendahkan perempuan adalah lelaki yang rendah.
Artinya, sebelum seorang laki-laki merendahkan perempuan, maka dia sudah lebih dulu menjadi orang yang tidak berharga," sambung guru besar.
"Kini bersediakah Tuan berikan kepada kami petunjuk yang memperlihatkan perempuan pun memiliki kedudukan yang terhormat," pinta murid lainnya lagi.
"Dalam hadis yang diriwayatkan Al-Thabrani dan Anas Ibn Malik, disebutkan Rasulullah pernah berkata,
*lelaki yang mengawini perempuan karena kemuliaannya, maka Allah tidak menambah baginya kecuali kehinaan.
*Yang mengawini karena hartanya, Allah takkan menambah baginya kecuali kemiskinan.
*Yang mengawini karena kebangsawanannya, Allah takkan menambah baginya kecuali kerendahan.
*Yang mengawini perempuan dengan tidak mengharapkan apapun kecuali demi memelihara pandangannya, terjaga kemaluannya, dan terhubungkan silaturahminya, Allah akan memberkatinya melalui perempuan itu.
Jadi, perempuan bisa menjadi, atau membawa, berkat untuk lelaki," kata Abu Qubaisy seraya mengakhiri tuturnya yang memikat perhatian para muridnya.*
http://www.facebook.com/notes/melati/berkat-melalui-perempuan/166661736705543
""Karena Sabar Menjadi Besar""
oleh Ratna Na
Bismillahirohmanirohim.
Sahabatku, Allah menyebut kata “sabar” di 90 tempat dalam al-Quran. Ini menunjukkan betapa pentingnya sabar bagi kita. Menurut para ulama tafsir, jika satu kata/ kalimat sering diulang-ulang dalam al-Quran, itu artinya kata/ kalimat tersebut harus kita camkan baik-baik.
Sudahkah kita bersabar? Sungguh, ini bukan perkara mudah, bagi siapapun orangnya. Karena makna sabar sendiri adalah separuh dari iman. Sedangkan iman itu sangat luas cakupannya. Artinya, sabar meliputi setiap sisi kehidupan.
Kesabaran Nabi dan Rasul ditempatkan pada tempat tertinggi karena merekalah yang mendapat ujian dan cobaan terbesar yang pernah dialami umat manusia. Dengan kata lain, kesabaran sangat erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang, semakin ia diuji dan dicoba. Ketinggian iman para Nabi dan Rasul sudah tidak diragukan lagi.
Kita harus banyak mengetahui keutamaan sabar, karena dengannya kita menjadi lebih termotivasi untuk bersabar. Kesabaran para Nabi dan Rasul adalah kesabaran ideal yang hendaknya kita melihat, mencontoh dan meneladaninya. Berikut ini teladan kesabaran empat orang Nabi. Sengaja saya hanya mengambil empat orang Nabi karena mewakili jenis-jenis kesabaran yang ada.
Kesabaran Nabi Ayyub As.
Pada mulanya Nabi Ayub As. dikenal sebagai orang yang sangat kaya raya, gagah nan tampan rupawan, dan juga beristri banyak, namun secara sangat cepat pula semuanya hilang. Allah memberinya ujian dan cobaan berupa penyakit kulit yang susah untuk disembuhkan.
Berkat kesabaran dan sikap berserah dirinya kepada Allah, kemudian Allah menyembuhkan penyakitnya dengan memerintahkannya agar dia menghentakkan kakinya ke bumi. Nabi Ayyub menaati perintah itu maka keluarlah air dari bekas kakinya atas petunjuk Allah, Nabi Ayyub pun mandi dan minum dari air itu, sehingga sembuhlah dia dari penyakitnya, dikembalikan segala apa yang dipunya sebelumnya, ditambah lagi kemuliaannya, dan dicatat sebagai orang yang sabar. “...Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44).
Nabi Ayyub adalah contoh teladan seorang Nabi dalam menghadapi cobaan berupa penyakit. Sesungguhnya mereka yang kini sedang terbaring sakit atau yang sedang menderita suatu penyakit, mestilah membaca kisah tentang Nabi Ayyub ini, mudah-mudahan dapat memberi motivasi untuk lebih bersabar.
Kesabaran Nabi Yusuf As.
Kehidupan Nabi Yusuf As. dipenuhi dengan ujian dan cobaan, mulai dari masa remajanya yang menjadi budak, hadirnya seorang wanita cantik yang mengajaknya berzina,
hingga kemudian difitnah dan dipenjara.
Penolakannya terhadap ajakan berzina Zulaikha telah menjadi “legenda” yang dikenang sepanjang masa. Padahal saat itu kesempatan untuk berzina sangat terbuka lebar. Tapi Nabi Yusuf dengan kekuatan imannya, menolak dengan tegas dan berkata: “Ma’adzallahi, innahu rabbii ahsana matswaay – Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Hingga akhirnya Zulaikha menarik baju Yusuf bagian belakang hingga koyak, yang pada saat itu Yusuf As. hendak menjauh dari Zulaikha. “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24).
Sosok pejuang yang sabar dalam menundukkan hawa nafsu telah melekat pada diri Nabi Yusuf As.. Namanya menjadi mulia dan kedudukannya terus naik menjulang. Hingga beliau diangkat menjadi seorang menteri yang cerdas dan memiliki kemampuan dalam menyingkap tabir mimpi.
Hendaknya kita menjadikan kisah Nabi Yusuf As. ini sebagai motivasi untuk bersabar dalam menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Allah Swt. berfirman dalam surat Yusuf ayat 7: “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.”
Kesabaran Nabi Zakariya As.
Nabi Zakariya As. sudah sangat tua dan istrinya wanita yang mandul, tapi keinginannya sangat kuat untuk memiliki seorang anak. Beliau terus berikhtiar, bersabar, dan sering berdoa dengan doa: “Rabbi habli min ladunka dzurriyyatan thayyibah. Innaka samii’ud du’aa’ – Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”
Kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya tersebut. Terlahirlah kelak seorang anak yang shaleh, yang menjadi teladan, pejuang kebenaran dan keadilan, dan mujahid yang syahid, Yahya As..
Bagaimana kehamilan itu bisa terjadi? Bukankah pintu kemungkinan itu – secara rasional – sudah tertutup? Allah Swt. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 40: “Kadzalikallahu yaf’alu maa yasyaa’ – Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki- Nya.”
Bagi mereka yang kini belum diberi keturunan, bersabarlah! Dekatkanlah dirimu kepada Allah. Kencangkanlah doa-doamu seperti Nabi Zakariya berdoa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kalau kita sudah mengikuti apa yang diperintahkan- Nya.
Kesabaran Nabi Muhammad Saw.
Hampir tidak terhitung banyaknya ujian dan cobaan yang mendera Nabi, mulai dari penghinaan, penyiksaan, penindasan, pemboikotan, wafatnya kedua orang yang dicintai saat beliau sangat membutuhkan pembelaan keduanya, hingga wafatnya satu demi satu putra-putra beliau, sehingga orang-orang kafir mengejeknya dengan gelar “batara” (terputus), yaitu terputus keturunannya karena semua anak laki-lakinya wafat.
Namun kemudian sesudah gelapnya malam penderitaan, datanglah fajar kebahagiaan. Nabi Saw. menuai hasil apa yang selama ini diyakininya; dakwah Islam semakin tersebar luas, pahala yang tak terputus-putus (wainna laka la ajron ghayra mamnuun), Makkah dapat direbut dari tangan kafir Quraisy, kemenangan demi kemenangan di medan tempur, dan harta ghanimah yang semakin melimpah. Dan penghargaan yang jauh lebih hebat dari itu semua adalah namanya disandingkan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat dan Allah memujinya dengan berfirman: “Wa innaka la’alaa khuluqin adziim – Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Pelajaran Berharga
Entah bagaimana jadinya jika Nabi Ayyub As. tidak mau bersabar dengan penyakitnya; Nabi Yusuf As. tidak bersabar dalam menundukkan hawa nafsunya, Nabi Zakariya tidak bersabar dalam menanti buah hatinya tercinta; dan Nabi Muhammad Saw. tidak bersabar dalam mengemban dakwah Islam untuk umat sepanjang masa.
Nabi Ayyub pasti akan menjadi orang yang berputus asa dan karena itulah penyakitnya bisa bertambah parah, karena penyakit kulit bisa bertambah parah jika penderitanya mengalami stres dan tekanan mental. Nabi Yusuf pasti akan menjadi anak jalanan atau pelacur yang mengobral nafsunya dimana-mana. Nabi Zakariya pasti akan berhenti berharap memiliki seorang anak yang kelak menjadi sosok teladan umat manusia. Nabi Muhammad pasti akan menghentikan dakwahnya dan mengurung diri di dalam rumah, hingga tak ada generasi beriman dikemudian hari, termasuk kita!
Wahai sahabatku, reguklah mata air kecemerlangan dari kesabaran empat orang Nabi itu. Dekatkanlah dirimu kepada Allah dan kuatkanlah kesabaranmu dengan berlipat ganda. Karena dari sanalah engkau akan merasakan manisnya iman dan bersinarnya matahari kebahagiaan di dalam hatimu.
Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Sesungguhnya engkau bergantung pada Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Zat yang mampu membuat dingin api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim.
Zat yang membelah lautan untuk menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya. Zat yang membolak-balikkan hati dari kafir menjadi beriman; dari keras menjadi lembut seperti yang terjadi pada diri Umar bin Khaththab. Zat yang dapat memenangkan pasukan beriman meskipun jumlah pasukan musuh berlipat-lipat seperti yang terjadi pada perang Badar.
Syaratnya hanya satu: kembalilah kepada Allah dengan sebenar-benarnya kembali. Janganlah engkau berpaling dari selain-Nya. Sesungguhnya kemenangan itu sangatlah dekat masanya, hanya saja kita sering sekali tergesa-gesa dan mudah berputus asa. Padahal bisa jadi, setelah kita berhenti berharap, justru disana terdapat kejayaan.
Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran kepada kami dan jadikanlah kami bagian dari orang-orang yang sabar. Janganlah Engkau sesatkan kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.
Kuatkanlah iman kami. Kokohkan akidah kami.
Teguhkanlah pendiri kami diatas jalan-Mu yang lurus, Ya Allah Ya Arhamar Rahimin.
http://www.facebook.com/notes/melati/karena-sabar-menjadi-besar/168984396473277
Langganan:
Postingan (Atom)
