Assalamualikum warahmatullah
Bismillahirrahmanirrahiim....
Simple Title: Beginilah Caraku
Menjaga Hati
Ini adalah sebuah cerita nyata(meskipun ada pengeditan) dari seseorang yang
dicerpenkan tentang caranya menjaga hati . Mungkin dengan ini kita mampu
mengambil ibrah dari apa yang didapat dari cerita ini. Insya Allah.
***
Telah 5 tahun sudah, ku mencoba untuk mempertahankan hati ini untuknya,
walaupun aku belum pernah melihat, mendengar, berinteraksi dan bertemu
dengannya secara langsung untuk menjaga kesucian hatiku kepadaNya. Cerita ini
berawal ketika hidayah itu telah datang dan dengan datangnya itu mampu mengubah
segalanya jadi lebih indah dan terarah untuk ku tempuh.
Dahulu aku adalah seorang anak manusia yang biasa-biasa saja, seperti anak
muda normal lainnya. Aku pun terkadang sering jatuh cinta kepada siapa yang aku
kagumi. Hampir setiap hari mungkin hidupku terbiasa akan hal itu, hingga hal
itu menjadi sesuatu yang lumrah dalam pribadiku.
Namun, pada suatu ketika datanglah Hidayah kepadaku. Hidayah yang didasari
dari materi Cinta Kepada Allah yang banyak aku pelajari dari sekelilingku
ditambah dengan materi dari guru ngajiku ketika mentoring di sekolah. Hidayah
itu menumbuhkan aku untuk mencintai Rabb(Tuhan) sehingga membuatku rela untuk
menyingkirkan yang lainnya di hatiku terkecuali aku mencintai yang lainnya
karenaNya.
Kedatangan Cahaya itu mampu membuatku membuka mata hatiku dalam
mengaplikasikan cinta, tanpa harus membawaku kepada jurang kehancuran. Sehingga
akupun mulai berhati-hati terhadap hatiku dalam mencintai agar Cintaku kepada
Allah yang telah DikaruniakanNya kepadaku mampu ku jaga karena aku menyadari
bahwa hatiku miliknya. Dan Karena akupun juga menyadari bahwa cinta yang salah
mampu melumpuhkan kualitas Cintaku denganNya, sedangkan yang aku harapkan
adalah CintaNya karena tidak ada yang mampu mencukupiku kecuali Dia.
Sejak kedatangannya, hidayah itu mampu merubah segalanya yang ada pada
diriku seperti masalah cara berfikir dan kepribadianku hingga orintasiku dalam
mencintai sesuatu. Termasuk masalah ketertarikanku dalam menyukai sesuatu. Jika
sebelumnya mungkin aku tertarik kepada wanita yang biasa-biasa saja, maka
setelah Hidayah itu datang justru hatiku tertarik untuk menyukai muslimah
dengan busana khas dan sikapnya yang cenderung pemalu. Dan oleh karena itu
akupun berharap agar Allah menakdirkanku untuk menikah dengan salah satu
diantara mereka, muslimah yang shalehah. Insya Allah, Allahuma Amiin. Karena aku
mengetahui bahwa menikah adalah Sunnah Rasulullah.
Walaupun demikian, namun Hidayah itupun mampu mengajarkan aku dalam
mengendalikan perasanku agar hatiku tidak salah dalam menyikapi apa yang
menarik hatiku. Karena bagiku rasa ketertarikanku cukuplah akan aku tumpahkan
kepada istriku kelak walaupun aku belum pernah bertemu dengannya.
Karena sejak awal, hidayah itu mampu membuatku memahami diriku akan hakikat
mencintai pasanganku walaupun sebelum aku menikah dengannya tanpa membuat aku
cenderung melupakan Allah, lantaran aku memahami bahwa kalau saja Allah
menjadikan aku menikah dengan seseorang perempuan yg ditakdirkan Allah kepadaku
maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku kepada yang lainnya yang
belum tentu akan menjadi istriku kelak, sedangkan hati ini mudah terdominasi
dengan sesuatu hal yang lain jika kita tidak mampu mempertahankan hakikatnya
dalam mencintai Rabb?.
Dan karena akupun tidak memungkiri bahwa setiap manusia yang normal pasti
akan merasakan fitrahnya, termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan
jenis, maka jika harus demikian, menurutku untuk apa jika hati ini aku
tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat
peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati itu salah dalam pengelolaannya.
Oleh karenanya, aku memahami bahwa: Jika memang aku harus mencintai lantaran
mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia maka aku akan mencoba
untuk mencintai siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah
bertemu dengannya, lantaran pasti Allah akan mempertemukanku dengannya,
sehingga usahaku yang sia-sia akan cenderung berkurang di dalam lingkup
fitrahku. Insya Allah
Sejak saat itu hatiku mulai tersadarkan untuk meninggalkan hal-hal yang
sia-sia dalam cinta yang tidak memberikan manfaat kepadaku dalam MencintaiNya
dan cinta yang mampu membuat hatiku cenderung meninggalkan Rabb.
***
Waktupun berjalan seiring kegembiraanku atas datangnya hidayah itu. Hingga
tanpa aku sadari godaaan-godaan kecilpun datang dari sekelilingku untuk
menyukai muslimah yang aku rasa belum saatnya aku harus bersikap demikian
kepadanya. Tanpa ku sadari hal itu mampu membuatku sedikit gundah, mungkin
karena aku belum mampu mengendalikan fikiranku terhadap apa yang mempesonakanku
terhadap mereka.
Kegundahanku itu membuatku khawatir jika dengan demikian maka nikmat karunia
yang berupa Hidayah itu akan menyingkir dari diriku lantaran sikapku yang
salah. Sehingga, akupun berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah agar Allah
mengkaruniakanku kefahaman agar aku terus istiqomah untuk menyikapi hatiku
ketika ia harus menghadapi fitrahnya.
Singkat cerita, lantaran aku mengetahui bahwa istikharah adalah salah satu
cara yang dapat meyakinkan diri kita terhadap suatu pilihan, oleh karenanya
setiap godaan itu datang, dan di setiap ketidakmampuanku dalam menjaga diriku
dalam mengelola hati, maka akupun berusaha untuk mengistikharahkan siapapun
yang mempesonakanku agar aku dapat mengetahui diantara mereka siapakah orang
yang aku “cari” sehingga hal itu dapat cenderung membuatku terhindar dari
kesia-siaanku dalam pengelolaan hati yang salah yang aku takutkan dapat
cenderung mampu melumpuhkan rasa Cintaku kepada Rabbku.
Setelah aku membiasakan diri untuk istikharah di setiap waktu ada yang
mempesonakanku, seolah dengan itu hatiku mampu diyakinkan kepada siapa yang
akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah mengenalnya. Sepertinya dirinya
telah terkesan di hatiku sehingga hal itu mampu membedakan dirinya dengan yang
lainnya, kemudian dengan itu dapat membuatku melepaskan harapan dan keinginan
hatiku kepada arah yang salah dalam pengelolaannya terhadap siapa yang bukan
orangnya. Mungkin inilah cara Allah dalam meyakinkanku untuk mempertahankan
hatiku kepada siapa yang pantas aku cintai nantinya yang salah satunya diperoleh
melalui jawaban dari istikharah-istikharah itu.
Walaupun demikian, aku masih tetap seperti dengan manusia normal lainnya,
hal ini kubuktikan dengan masih adanya rasa kagum dengan muslimah yang
mempesonakanku, namun keberadaan mereka tidak sempat singgah dihatiku lantaran
hatiku seolah gelisah ketika aku mendapati orang yang salah jika ku taruh di
“sembarang” tempat dihatiku. Namun ketika aku mengingat tentang sosok yang aku
yakini akan aku nikahi nantinya, dan ku hadirkan dia di hatiku, meskipun aku
belum mengenalnya dan aku belum mengetahui jasadnya, maka entah mengapa
perasaanku seolah (cenderung) tenteram karenanya. Mungkin hal itu terjadi
karena hatiku telah berfatwa terhadapnya....
Mengenai hati yang berfatwa, aku menjadi teringat dengan sebuah hadist Rasulullah
bahwa:
Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati
menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yg membingungkan jiwa
dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu." (HR Muslim)
Mungkin karena ketenteraman dan kegelisahan yang aku dapati itulah dapat
membuat diriku mengurungkan diri untuk tidak melepaskan tambatan hati ini
kepada orang yang bukan dirinya yang akan aku nikahi nanti.
***
Waktu berjalan dengan caraku menjaga hati itu, membuat hidupku lebih
tersenyum lantaran kegundahanku itu mengurang seiring usahaku dalam meyakinkan
hatiku untuk tidak salah dalam pengelolaannya melalui istikharah-istikharahku
kepada Rabb. Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan hatiku kepada
Pemiliknya karena aku berharap agar Pemiliknya tidak tersingkir dari
singgasananya lantaran pengelolaan yang salah.
Namun, cobaan belum begitu saja berakhir hingga pada suatu ketika Allah
sibakkan aku bertemu dengan seorang muslimah yang begitu mengagumkan. Dia
berbeda, tidak seperti muslimah yang pernah aku temui pada biasanya, lantaran
keberadaannya entah mengapa hampir menyerupai perasaanku terhadap sosok yang
akan aku nikahi itu.Kemungkinan ini jauh dari apa yang aku bayangkan, karena
hal ini sepertinya akan lebih mengancam pertahananku dalam mempertahankan
hatiku untuk Rabb. Apalagi aku meyadari bahwa wanita merupakan godaan terbesar
seorang laki-laki.
Terkadang fikirankupun terbuai dengan dirinya di saat-saat aku kurang siaga
dalam memelihara hati ini untukNya. Hingga akupun kehilangan definisi dalam
mempertahankan hatiku untukNya. Mungkin karena terpesonanya aku dengan
keserupaannya dengan keyakinanku terhadap sosok yang akan ku nikahi itu,
membuatku terlupa untuk mengetahui jawabannya dengan istikharah-istikharahku dalam
usahaku meyakinkan diriku atasnya.
Dan tanpa ku sadari...
Hal-hal Rabbani(Ketuhanan(maksudnya: Keislaman)) yang aku kenali seolah
menjadi nuansa yang datar di hati, awalnya ku anggap hal itu sebagai
futur(menurunnya iman) yang biasa, namun aku mendapati bahwa nuansa khas itu
belum kunjung tiba dalam waktu yang cukup lama dan ketika aku telah lelah
menunggu kedatangannya kembali.
Hal-hal yang dahulunya begitu peka di relung-relung hati ini seolah
berkurang penginderaannya, hingga akupun menyadari bahwa hal ini terjadi karena
sikapku yang salah dalam pengelolaan hati terhadap seorang muslimah yang
menyerupai sosok yang akan aku nikahi itu.
Ketika aku tersadar , hal itu dapat membuatku takut ketika aku berfikir
jikalau Allah mem-futurkanku dengan keadaan yang demikian. Jika demikian aku
harus melakukan tindakan pencegahan agar perbuatanku tidak menjadikan keburukan
bagiku.
Sesekali ku coba bertanya dalam hati, bahwa jika memang dirinya adalah
orangnya maka hal itu seharusnya tidak membuatku jauh dari Allah, lantaran
dasarku menambatkan hati kepadanya adalah karena Cintaku Kepada Rabb. Hingga
akhirnya aku meyadari dari gerak hatiku bahwa bukan muslimah itulah orangnya.
Hingga keadaanpun mampu menegurku, sehingga dapat membantu menyadarkanku
dari kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonaku terhadapnya belum
pulih.
Pada suatu malam, akhirnya ku coba diri ini memohon ampun kepada Allah atas
apa yang telah aku perbuat, dan memohon pulihnya karunia yang sekiranya enggan
terasa indah dihatiku ketika itu. Dan akupun berharap kepadaNya agar hal yang
seperti itu tidak terjadi kembali, lantaran aku tidak mau lagi bermain-main
dengan hati ini lantaran aku sadari bahwa hati ini milikNya dan hanya kepada
dan karenaNyalah seharusnya ku tambatkan. Dan aku berharap agar Allah
menguatkan firasatku kepada sosok yang telah aku yakini yang terlahir dari
istikharah-istikharahku terhadap siapa saja yang pernah mempesonakanku.
Hingga akupun memberanikah diri untuk berdoa:
"Yaa Allah, Sucikanlah hatiku hanya untuk siapa yang pantas
menempatinya dengan keridhaanMu. Cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku
tidak menginginkan keburukan katika aku berbuat salah terhadap hatiku. “Ya
Allah, aku tahu bahwa Engkau Maha Berkehendak dan akupun tidak meragukan
KekuasaanMu Karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka
aku memohon kepadaMu agar Engkau memampukan diriku untuk dapat mengetahui wajah
dari siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun hanya sekejap saja agar dengan
itu aku mampu membedakan dirinya dengan yang bukan dirinya, agar aku dapat
cenderung menjauhkan hati ini dari kesia-siaan. Aku yakin bahwa Engkau mampu
menjadikannya, dan aku yakin atas hal yang terbaik bagiku dari segala
keinginanku, ku lakukan ini karena aku telah merindukannya dan mensyukurinya lantaran
Engkau takdirkan aku kepadaNya. Dan maafkan aku jika aku tersalah. Ku mohon
atas KuasaMu, ya Rabb.
Dan pertemukanlah aku dengannya ketika aku hendak menikahinya agar aku tidak
berlama-lama menjadikan hati ini terlena dengannya walaupun aku tahu bahwa
nantinya dia akan aku nikahi.
Jagalah hatiku untukMu Rabb, karena aku ingin selalu MencintaiMu lantaran
Engkaulah Dzat yang pantas aku Cintai sepenuh hatiku.
Allahuma Amiin”
Pintaku penuh harap dan lirih...
Dengan harap-harap cemas ku sadari doa itu lantaran aku takut jika aku telah
berbuat kesalahan. Entah hal apa yang mampu membuatku memberanikan diri untuk
berdoa seperti itu, mungkin saja karena rasa penasaranku yang telah tertanam
terhadap sosok yang kuyakini itu. Namun perasaan yakin bahwa aku tidak melakukan
kesalahan membuatku sedikit lega.
Setelah itupun aku tertidur, mungkin karena aku terlelah...
***
Beberapa waktu kemudian, kehidupanku mulai berubah, seeolah aku telah
memulai lembaran hidupku yang baru, hal-hal yang telah terjadi seolah telah tersapu
oleh air mata pembersihan diri ketika malam itu, membuatku bersemangat untuk
mensucikan hati ini kepada siapa yang patut menempatinya.
Perasaanku lebih tenang setelah aku memohon maaf kepadaNya sehingga
menjadikan kegundahanku terkikis beserta kecemasan-kecemasan lainnya. Namun,
ada beberapa hal yang menurutku ajaib dari peristiwa yang aku alami sejak malam
itu, entah mengapa dalam tidurku terkadang aku sering bermimpi didatangi oleh
seseorang muslimah yang Insya Allah, shalehah dan baik kepribadiannya yang aku
tidak pernah bertemu dengannya namun sepertinya aku mengenalinya, senyum,
putih, pemalu, sosoknya menenangkan jiwa, membuat hatiku bergetar tentang
kedatangannya.
Hingga akupun berkesimpulan bahwa inikah jawaban Allah atas permintaanku
waktu itu?. Aku tak mampu menjawabnya secara mutlak, namun keyakinanku dan
gerak hatiku mampu meyakinkanku bahwa kedatangannya itu ada sangkut pautnya
dengan keyakinanku kepada Allah akan terkabulnya doa yang pernah ku panjatkan
kepada Allah ketika malam itu. Dan hal ini sedikit terbukti ketika aku
melakukan istikharah untuknya, perasaan tenag yang tidak aku temukan jika aku
meng-istikharahkan yang lainnya. Masya Allah...
Walaupun sosoknya telah tersibakkan, namun Jika aku disuruh menggambarkan
wajahnya maka aku tidak mampu, karena aku tidak bisa melihat jelas bagaimana
wajahnya, namun sepertinya hanya hatiku-lah yang mampu mendeskripsikannya,
hingga gambaran wajah itu mampu membawaku kepada ketenteraman dan ketenangan
yang memuaskan hati. Mungkin dengan ini, hatiku telah berfatwa lagi atas
dirinya...
Namun, bukan hanya wajahnya saja yang Allah tunjukkan kepadaku, melainkan
karakter-karakter khasnya yang diperkenalkan kepadaku agar dengan itu mampu
membedakan membantuku dirinya dengan yang lainnya secara lebih tepat. Masya
Allah...
Sebelumnya aku mengira-ngira bahwa apa yang aku alami itu merupakan kebisaan
fikiranku dalam berimajinasi, namun ketika ku telaah lagi, peristiwa itu dapat
mengingatkanku kepada apa yang pernah Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadist,
meskipun hadist ini telah ditemukan olehku 5 tahun setelah kejadian itu.
"Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah, “sebelum aku menikahimu, aku
pernah melihatmu dua kali di dalam mimpi. aku melihat Malaikat membawa secarik
kain yang terbuat dari sutra. kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat
itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu. lalu kukatakan,
“jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi.
‘Pada kesempatan lain aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang
terbuat dari sutra. Maka kukatakan kepadanya, ‘Singkaplah.’ Malaikat itupun
menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu. lalu aku berkata, “jika
ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi. (HR
Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
Subhanallah, aku tidak percaya ini, namun aku tetap bertawakal kepada Allah
jikalau aku mendapatkan kesalahan atas apa yang terjadi pada peristiwa
tersebut.
Karena aku menyadari bahwa muslimah tersebut ku lihat di mimpiku, maka
akupun berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan keberadaannya dimimpiku
lantaran aku tidak menginginkan apa yang aku mimpikan itu adalah penyerupaan
jin, terkecuali di waktu ketika aku membutuhkan kedatangannya. Alhamdulillah,
beberapa waktu kemudian aku tidak memimpikannya lagi, hingga akupun merasa agak
lebih legaan lantaran aku takut jika syaitan ikut campur dalam hal ini. Bagiku
cukup dengan Ketawakalan dan keyakinan dari hatiku yang terdalamlah yang
sekiranya mampu membuatku membedakan dirinya dengan sesuatu yang menyerupai
dirinya. Semoga Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang benar. Allahuma
Amiin
Memang dirinya sudah tidak sering datang di dalam mimpi-mimpiku. Namun,
dirinya kadang-kadang datang diwaktu aku perlu ada yang menegurku. Entah
mengapa setiap kali aku berbuat zalim seperti halnya aku tidak mampu
menundukkan pandanganku, dirinya terkadang hadir dimimpiku beberapa hari
kemudian ataupun bisa malam harinya ketika aku tertidur, untuk mengurku dengan
bahasa khasnya yang cukup mampu menjadi nasehat dan introspeksiku atas
perbuatan yang telah aku perbuat. Bukan hanya itu iapun juga akan terlihat
memberikan nuansa kepuasannya yang khas ketika aku mampu mengendalikan diriku.
Dia seolah benar-benar telah hidup di dalam diriku meskipun aku tidak mengenali
siapa dirinya. Namun aku yakin dia ada.Dan ada pula beberapa hal spesial yang
aku alami setelah peristiwa itu terjadi di mana perasaanku merasa tidak nyaman
ketika aku menempatkan seseorang wanita untuk aku jatuh cintai jika bukan sosok
tersebut, hatiku seolah terasa kering, tidak menenangkan dan mampu meresapi
indahnya rasa cinta itu seperti hal yang pernah aku rasakan dahulu terhadap
siapa yang mempesonakanku. Seolah hati itu telah menjadi tidak peka terhadap
cinta ketika aku sembarangan menempatkan seseorang yang salah di sana.
Namun ketika aku ingat dengan sosok yang pernah hadir dimimpiku itu, entah
mengapa seolah hati ini begitu luas dan begitu 'basah' untuk menempatkan
dirinya di hati ini. Subhanallah, hal ini benar-benar mampu mengajarkanku untuk
mempertahankan perasaanku dengannya demi membantuku untuk mempertahankan
Kecintaanku Kepada Allah, lantaran aku menyadari bahwa hatiku hanya satu
sehingga aku tidak mampu jika harus mencintai lebih dari satu cinta terkecuali
aku mencintai yang lainnya karenaNya. Insya Allah
Mengenai keberadaannya pernah menjadi pertanyaan bagiku, namun hatiku lebih
tenteram ketika meyakini bahwa keberadaannya itu memang benar-benar ada,
meskipun aku tidak tahu dimanakah ia saat ini. Jika saja muslimah sehebat
Aisyah, Fatimah, Khadijah, Asiah dan Maryam pernah hidup di bumi ini, maka hal
itu membuatku makin percaya akan keberadaannya .
Persitiwa ini mampu menjadikanku tersadar akan keterbatasan kemampuanku
dalam memelihara hati demi menjaga Kecintaanku kepada Allah, membuatku yakin
dengan kedatangan seseorang yang akan aku nikahi dan membuatku mengurungkan
diri untuk mengira-ngira seseorang disekelilingku sehingga hal ini dapat
cenderung membuatku mengurangi kesia-siaan.
Namun seperti dari awal, aku berharap kepada Allah agar Allah
mempertemukanku ketika aku hendak menikahinya lantaran aku tidak mau menjadikan
hati ini berlama-lama bermain dengan perasaanku terhadapnya walaupun nantinya
dirinya akan dinikahkan olehku.
Namun, aku tidak berharap banyak, cukuplah Allah sebagai harapanku, Allah
mengajarkanku keikhlasan, dan karenanya aku mencoba ikhlas untuk menerima
selain dari yang dicirikan itu, jikalau memang benar dia tidak ada di bumi ini
dan diwaktu yang bersamaan denganku ketika aku hidup. Meskipun aku berharap
kehadirannya lantaran aku merasakan bahwa dialah belahan jiwaku.
Bisa jadi aku menemukan sosok itu setelah aku menikah dengan seorang
muslimah, ataupun bisa jadi muslimah itu adalah anak-anakku nanti yang dimana
hal itu akan sangat membanggakan orang tuanya karena mengetahui memiliki anak
yang shaleh dan shalehah. Ataupun aku tidak menemukannya di manapun, karena
bisa jadi dia adalah diriku sendiri yang memang telah Allah tentukan di dalam
diriku agar aku bisa menjadi seperti dirinya dan mengajarkan itu kepada istriku
kelak agar apa yang aku dapati dalam yakinku dapat terwujud. Masya Allah
Aku tidak 'jatuh cinta' bukan karena aku tidak seperti laki-laki pada
biasanya. Hatiku kupersembahkan kepada Pemiliknya, dan diisi hanya kepada yang
halal olehku, siapapun yang mengisinya nanti, dialah bidadariku...
Subahanllah...
Insya Allah
Terima kasih kepada siapa yang pernah mengalami peristiwa ini, Semoga Allah
senantiasa Merahmati dan mengampunkan segala dosa-dosamu beserta dosa-dosa kita
semua dan menjadikan kita semua orang-orang yang dijauhi dari kesia-siaan.
Allahuma Amiin
***
Ku coba menuliskannya dengan kerendahan hati dari saudaramu yang memiliki
kemampuan yang terbatas,
Akhina Ifa Uhibbukum Fillah
Semoga Allah memaafkan aku ketika aku bersalah
Allahuma Amiin
http://www.facebook.com/notes/melati/ku-pertahankan-kesucian-hatiku-kepadanya-untuk-mempertahankan-cintaku-kepadamu-c/184016958303354