Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Sabtu, 09 April 2011

==Masihkah ada, rasa Malu itu di dalam diriku ???==


Malu (salah satu akhlak yang mulia) dan iman merupakan dua hal yang tidak boleh dipisahkan antara satu sama lain, maka apabila salah satunya diangkat (hilang) maka hilanglah yang lain. (HR. Al Hakim dan Ath Thabrani)
"Malu..oh, sungguh aku Malu untuk...."

Semua Manusia normal pasti memiliki & menyadari akan sifat&rasa malu yang ada pada diri nya. Namun, terkadang Ukuran rasa malu seseorang memiliki tingkat pemahaman & pengertian yang berbeda antara seseorang satu dengan seseorang lainnya. Seorang Filsuf kuno Konfusius mengungkapkan bahwa “kesalahan mendasar seseorang adalah mempunyai kesalahan dan tidak sudi memperbaikinya (the real fault is to have faults and not to amend it)."

Digambarkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu sifat malu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lbh pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu kami bisa mengetahui pada wajah beliau.” Di lain hal, dikisahkan pula dalam sejarah bahwa Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang terkenal memiliki sifat pemalu hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun malu pula kepadanya.

Seperti diketahui, budaya malu (shame culture) identik dengan ciri, sikap dan sifat dari Bangsa Timur (Asia).
Salah satu contoh teladan Negara yang memiliki budaya malu diantara sejumlah negara-negara yang ada saat ini adalah Negara Jepang. Seperti diketahui, budaya leluhur dan turun-temurun rasa malu kerap melekat dibudaya jepang. Dahulu, setiap kali seseorang warga Jepang membuat kesalahan fatal, karena malu menggugat diri, mereka melakukan meditasi dan kemudian memperbaiki diri atau mengundurkan diri, bahkan ada pula yang sampai ekstrem hingga harakiri (bunuh diri), karena rasa malu. Fenomena Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Kini, di Era serba Teknologi, Komunikasi & Informasi (Globalisasi), fenomena tersebut lambat laun berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (menteri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa lalai (Keliru, ceroboh) serta gagal menjalankan tugasnya.
Betapa budaya malu bangsa Jepang amat tinggi sehingga jika kita melihatnya sebagai ciri bangsa yang taat, patuh, tunduk terhadap aturan hukum dan norma yang berlaku di sosial dan masyarakat hingga terbentuk sikap disiplin yang tinggi.
Dikarenakan budaya malu, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan.
Dikarenakan budaya malu, orang Jepang secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan semisal pembelian tiket kereta, tiket masuk ke stadion (menyaksikan) pertandingan olahraga (sepak bola etc), begitupun kala antrian di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka (masyarakat jepang) pun berjajar rapi menunggu giliran.
Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.Bahkan baru-baru ini Bangsa Jepang yang saat beberapa waktu lalu mengalami musibah bencana Gempa Tsunami terjadi tidak membuat budaya tertib itu hilang dari Bangsa Jepang. Betapa tidak, baru-baru ini dunia dibuat decak kagum dengan mentalitas masyarakat jepang. Disaat terjadi Gempa dan tsunami yang demikian dasyat dan mematikan, mereka tetap mengantri dengan tertib di supermarket untuk membeli kebutuhan pasca gempa dan tsunami terjadi. Bukan hanya di supermarket saja, bahkan ketertiban masyarakat negeri sakura itu terlihat di tengah kemacetan lalulintas ketika tsunami baru saja terjadi. Antrian tertib sangat terlihat dengan jelas (terang wartawan yang meliput) mereka berupaya tenang walau kemacetan sudah merajalela, apalagi ketika lampu jalan berubah menjadi hijau (sebelum kota mati lampu semua) pengemudi tidak saling serobot, namun bergerak cepat teratur walau hanya berlaku satu baris mobil saja yang dapat lewat..Hal lain dapat kita lihat ketika Pemerintah Jepang mengevakuasi warganya ke dalam bis saat Tsunami lalu. Mereka sama sekali tidak ada yang menyerobot lebih dahulu naik kedalam bus tersebut, tertib dan mau antri. Hal tersebut terlihat nyata dalam tayangan stasiun televisi lokal Jepang, TBStv, ribuan warga yang berkumpul di utara Stasiun Shibuya, Tokyo, sedang mengantre dengan tertib untuk masuk ke dalam bis yang telah disediakan.
Di tingkat birokrasi, dikisahkan Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara, mengundurkan diri dari jabatannya. Setelah Maehara terbukti menerima donasi dari warga Korea Selatan yang bermukim di Tokyo yang total nilai donasinya hanya 250.000 Yen (sekitar Rp 25 juta). Padahal, uang tersebut tidak sepeserpun digunakan untuk pribadi Maehara, namun sebagai dana sumbangan partai politiknya, atau Partai Demokrat Jepang (DPJ). Entah dikarenakan tidak tahu atau kurang teliti, tenyata pemberian itu melanggar UU Partai Politik di Jepang yang tidak boleh menerima sumbangan dari bukan warga negara. Meski jumlahnya tidak besar, hanya Rp 25 juta, Maehara tetap dianggap melanggar. Karena berbuat lalai dan salah, maka dengan jiwa ksatria pun beliau (Seiji Maehara/Menlu Jepang) akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya.
Di satu sisi, mundur adalah wujud pertanggungjawaban dan moral. Namun di sisi lain, pengunduran diri ternyata berulang kali terjadi di Jepang, Sebelum Maehara, Menteri Kehakiman Yanagida mengundurkan diri bulan November 2010 karena merasa bersalah atas komentarnya yang tidak pantas di Parlemen. Bulan Juni 2010, Menteri Jasa Keuangan Kamei mundur akibat proses parlemen yang menurutnya tidak masuk akal. Di tahun 2009, ada sekitar 4 orang menteri yang mengundurkan diri karena berbagai alasan. Mereka mundur karena merasa tidak mampu memimpin Jepang, ataupun tidak sanggup memenuhi janji politiknya. Berulangkalinya pejabat Jepang mundur ini mengakibatkan ongkos politik menjadi begitu mahal dan Jepang terus terbelit dalam masalah ekonomi yang tidak kunjung usai. Fenomena mundur dalam jabatan bukanlah sebuah hal yang asing dan tabu. Sebagai informasi, Perdana Menteri Naoto Kan, yang saat ini menjabat Perdana Menteri Jepang merupakan Perdana Menteri Jepang yang kelima dalam lima tahun terakhir belakangan ini. Rata-rata PM Jepang hanya mampu bertahan antara 200 hingga 300 hari.

Kisah karena budaya malu dengan wujud mundur dari jabatan tercermin juga pada Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor Freiherr zu Guttenberg yang mengundurkan diri karena terbukti melakukan plagiat dalam disertasinya untuk memperoleh gelar doktor. Salah Satu kandidat bakal calon Kanselir Jerman ini (Guttenberg) mundur bukan hanya karena disertasinya, tetapi juga karena isu itu mengganggu kinerjanya sebagai Menteri Pertahanan. Dalam suatu kesempatan, beliau mengungkapkan: Ketika saya menjadi pusat perhatian dan harus mendukung prajurit yang merupakan tanggungjawab saya, maka saya tidak dapat membenarkan diri untuk tetap berada di kantor.Ujarnya (Sumber:CNN; Tempo Interaktif, 1 Maret 2011)

Malu takut berbuat dosa karena..
karena Alloh SWT ,
karena Amanah,
karena Jabatan,
karena tanggung jawab memimpin

Budaya MALU yang terjadi di Era Masa ke Khalifahan terdahulu

Dikisahkan pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab r.a membutuhkan uang untuk keperluan pribadi. ia menghubungi Abdurrahman bin 'Auf, sahabat yang tergolong kaya, untuk meminjam uang 400 dirham. Abdurrahman bertanya, "mengapa engkau meminjam dari saya? Bukankah kunci baitul maal (kas negara) ada di tanganmu? mengapa engkau tidak meminjam dari sana?" Umar r.a menjawab, Aku tidak mau meminjam dari baitul maal. Aku takut pada saat maut merenggutku, engkau dan segenap kaum muslimin menuduhku sebagai pemakai uang baitul maal. Dan kalau hal itu terjadi, di akhirat amal kebajikanku pasti dikurangi. Sedangkan kalau aku meminjam dari engkau, jika aku meninggal sebelum aku melunasinya, engkau dapat menagih utangku dari ahli warisku."

Dikisahkan, di hari pertama tugasnya setelah diangkat menjadi Khalifah, Umar Bin Abdul aziz memanggil istrinya Fatimah, seraya berkata “ Wahai istriku, aku telah diberi amanah untuk memimpin umat. Aku sangat takut durhaka terhadap Tuhanku, akibat menyalah gunakan harta Negara yang telah diamanahkan kepadaku, atau lalai dalam kepemimpinanku. Untuk itulah, tugas menjadi Khalifah ini sangat berat dan membebaniku.” Khalifah lantas memberikan kebebasan istrinya untuk memilih, apakah tetap menjadi istri Khalifah dengan resiko menanggung pekerjaan yang berat dengan penghasilan pas-pasan. Dan, ditambah lagi dengan berkurangnya perhatian terhadap dirinya dan anak-anaknya. Atau, memilih masa depannya sendiri dengan segala konsekuensi ( Cerai ). Fatimah ternyata memilih tetap setia mendampingi suaminya dengan segala kesederhanaannya.

Dikisahkan pula dalam suatu kesempatan, suatu waktu ada seseorang keluarga Khalifah yang datang kerumah Umar Bin Abdul aziz pada malam hari. Beliau pun berkata “Ada keperluan apa kamu datang kepadaku wahai saudaraku ? Adakah keperluanmu sebagai urusan pribadi atau menyangkut kepentingan Negara ? “ lantas si fulan menjawab singkat, “ Aku datang untuk urusan pribadi wahai saudaraku. “
Demi mendengar jawaban si fulan, Umar buru-buru mematikan lampu pelita yang sinarnya juga tidak seberapa terang. Suasana yang semula agak terang menjadi gelap gulita. Si fulan kaget, lantas bertanya, “ Wahai Umar, kenapa pelitanya engkau matikan ? “ Umar lantas terdiam kemudian berbicara, “ Wahai fulan, bukankah engkau datang untuk keperluan pribadi tak ada kaitannya dengan Negara? Sedangkan lampu minyak ini dibiayai oleh Negara, aku tidak ingin menyalahgunakan kekayaan Negara demi kepentingan pribadi, maka lampunya aku matikan. “
Lain hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengadakan rapat pejabat di rumahnya. Dalam acara itu, kepada para tamu yang hadir dihidangkan aneka buah. Putri Umar yang masih kecil tampaknya tergiur pada buah apel yang dihidangkan. Dia merengek kepada si ibu agar diambilkan satu. Si ibu menolak, si anak makin tersedu. Si ibu melarang dengan cara manis, tapi si kecil malah menangis. Akhirnya, si ibu, istri Khalifah Umar, dengan sangat berat hati mengambil sebuah apel untuk menghentikan tangis putri kecilnya. Kala itulah sang Khalifah segera merebut kembali buah apel itu seraya berkata “ Wahai istriku, apakah kau akan mengambil harta Negara untuk kepentingan keluargamu? Demi Allah janganlah engkau berikan api neraka ini kepada putrimu! “. Di saat menjelang kematiannya, ia berkata kepada anak-anaknya “ Aku tidak mempunyai harta berlimpah untuk diwariskan“ dan sebelas anak Umar hanya mendapat warisan, masing-masing sebesar, tiga perempat dinar. Walaupun tidak mendapat warisan yang besar, namun tidak ada satupun anak Umar bin Aziz yang tidak sukses, mereka semua memiliki harta yang berlimpah. Bahkan salah seorang anaknya, sanggup menyediakan biaya dari harta pribadinya untuk seratus ribu pasukan berkuda, sekaligus kudanya, dalam sebuah perang fi sabilillah. Itu semua adalah berkah dari kesabaran ayah yang sholeh.
***
Terdapat 99 bahagian tarikan pada wanita berbanding lelaki, lalu Allah karuniakan ke atas mereka sifat malu.(HR.Baihaqi)

Rasulullah SAW bersabda :
“Keadilan itu baik, akan tetapi lebih baik kalau berada pada umarak (pejabat pemerintahan). Kedermawanan itu baik, akan lebih baik jika ada pada orang-orang yang mampu (hartawan). Hemat cermat itu sangat baik, akan tetapi lebih baik kalau cermat itu berada pada orang berilmu. Kesabaran itu baik, namun akan lebih baik kalau ada pada orang miskin. Tobat (meninggalkan dosa itu baik), tetapi akan lebih baik kalau ada pada pemuda. Malu itu baik, tetapi akan lebih baik kalau ada pada perempuan”. (HR. Dailami dari Umar bin Khattab).

Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu. (Benjamin Franklin)

"Jika Anda tidak pernah ketakutan, malu atau terluka, itu berarti Anda tak pernah mengambil risiko.” (Julia Soul, aktris kelahiran Singapura)

Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkahpun. (Bung Karno)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah mebuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).

al Haya' ( Rasa malu) tidak datang kecuali dengan kebaikan

Haya'` termasuk bagian dari iman dan iman (balasannya) di surga. Dan ucapan cabul/jorok termasuk sifat tidak sopan dan tidak sopan itu di neraka." (Shahih Sunan Ibnu Majah 2/406, hadits no. 3373/4184)
"Sesungguhnya bagi setiap agama ada akhlak dan akhlak Islam adalah sifat haya'` (Shahih Sunan Ibnu Majah 2/406, hadits no. 3370/4181)

"Sesungguhnya sebagian dari yang ditemukan manusia dari ucapan para nabi terdahulu: 'Apabila engkau tidak merasa malu maka lakukanlah apa yang engkau kehendaki." (Shahih al-Bukhari, kitab adab, bab ke 78, hadits no.6120 (Fath 10/523)
“Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum (negeri), maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu.” (HR. Bukhari Muslim)


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/masihkah-ada-rasa-malu-itu-di-dalam-diriku-/10150203372166042

Duhai Diri....


Duhai diriku,
Jangan menyerah. Bukankah pekerjaanmu demi ibadah yang nyaman bagi dirimu. Agar kelak engkau tak lagi bersusah payah akan hari akhirat.

Basuh wajahmu dengan air wudhu. Sucikan. Sucikan. Ambil dua rakaat untuk menenangkan dan mendekatkan pada Robbmu. Bersihkan kembali hatimu dengan do'a dan istighhfar.

Maafkan kesalahan teman dan saudaramu. Maafkan semuanya. Agar, hatimu semakin lapang.

Duhai diriku, 
Tiada yang terindah selain Dia meridhoi apa yang engkau lakukan. Betapa nilai keikhlasan menjadi tempat yang sejuk. Belaianya, mengubahmu selalu pada qona'ah dan kesyukuran.

Biarkan yang mencela, biarkan yang mencaci mengiris - iris hatimu. Biarkan saja. Bukankah, telah lama dan seringkali hatimu didera oleh berbagai perjuangan. Masihkah tak cukup waktu yang telah kau lewati. Lapangkanlah lagi. Ma'afkan lagi. Biarkan. Ikhlaskan.

Wahai jiwaku,
Engkau bersemayam dalam diriku. Jangan engkau hinakan dengan meminta selain dari dan atas-Nya. Jangan pula kau rendahkan dirimu dengan kesombongan.

Lalu jangan kau remehkan dirimu dengan merasa yang paling segalanya. Semakin engkau merendah, semakin tinggi dirimu dihadapan-Nya.
Selalu ku ingatkan sekali lagi. Jangan kau merasa bangga dengan apa yang ada.

Duhai diriku, 
 Dalam perjalanan hidup dan ibadahmu, tiidak selamanya berjalan sesuai dengan yang engkau inginkan. Lakukan dengan teratur dan ketenangan jiwa. Karena, hambatan bukan hanya duri-duri kecil dan parit serta benteng. Namun juga, undakan-undakan gunung hingga pasir yang tajam bisa melukaimu.

Lakukan dengan kesungguhan dan kesenangan. Agar rintangan menjadi seperti sapuan yang lembut kala duduk bersantai ria di pematang sawah, sambil menikmati segelas kopi dan pisang goreng.

Karena, sungguh tidak semua orang bisa menerima apa yang kita minta. Setiap yang benar, pun mesti dilakukan dengan cara yang benar. Lakukan dengan irama yang mengalun lembut dan ritme yang simfoni. Agar, denting demi denting terdengar nyaman di hati.

Duhai diriku,  
Inginkah dirimu seperti itu?

Selalu lah kau iringi setiap tindakanmu dengan akhlak yang baik. Sempurnakan selalu jiwaku, sempurnakan akhlakmu terus dan terus.

Setiap penolakan dan tindakan bahkan kata-kata kasar, tidak hanya di dan berasal dari mulut sang pandir jiwaku. Tapi, kadang tidak sedikit bibir runcing berasal dari pria dan wanita berhijab. Tak usah kau sakit hati. Tak usah kau merasa tertusuk duri. Biarkan saja.

Sambutlah dengan senyuman. Sambut dengan ketulusan. Sambut dengan kelapangan. Sambut dengan akhlak yang indah dan menyejukkan. Kelak cermin itu akan memantul pada mereka. Karena kebenaran adalah pasti.

Jiwaku. Sebaik baik manusia adalah ia yang tiada pernah terhenti untuk memohon taubat. Aku dan dirimu wahai jiwaku, bagian yang tak terpisahkan. Kita milik-Nya dan akan kembali pada-Nya.

Duhai diriku,
 Sungguh, diri ini, apa-apa yang melekat di tubuh dan yang mengelilingi kita adalah titipan belaka. Kelak sang Pemilik akan mengambilnya.

Duhai diriku,
Merayu dengan sepenuh cinta pada-Nya. Mari merayu. Kita ikuti. Terus cari dan cari semua ridho-Nya. Mimpi-mimpi manis tak akan pernah terjadi saat hati ini tak pernah merasa dekat dengan-Nya.

Syurgalah yang kita inginkan. Tapi, jiwaku, dirimu semakin hari semakin menit, kenapa tak kau teruskan pada keridhoan-Nya. Berbagai alasan selalu mengindahkan. Bahkan tidak jarang melalaikan perintah-Nya.

Ah, syurga hanyalah mimpi. Mimpi bagimu yang merasa diri mampu namun tak pernah dilakukan. Ibadah hanya di bibir. Camkan bahwa jangan seperti itu jiwaku. Jangan.


Duhai diriku,
 Engkau hafal dengan seluk beluk syariat-Nya. Kadang tidak jarang engkau berani berdebat hanya karena tak mau kalah tentang keislamanmu. Ingat wahai jiwaku yang mendarah daging di dada ini, bahwa syarat mendapatkan cinta-Nya adalah beribadah dengan ikhlas.

Ilmu yang kau dapatkan meski setinggi langit sedalam lautan akan sia-sia belaka. Ucapan-ucapan yang engkau lontarkan di manapun, di banyak orang, di seminar-seminar, di buku lewat tulisan-tulisanmu, itu sia sia belaka. Sadarkah engkau jiwaku. Sadarkah?

Bahwa sekedar itu, tapi amalkan meski kau hanya tahu separuhnya. Atau, jangan-jangan kau lakukan semua itu demi keegoisanmu jiwaku? Agar engkau disanjung dan dibilang hebat atas semua karya dan ucapanmu?


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-duhai-diri-/10150164685746042

Bercouple Atau Jual Mahal


Masa kecil saya pernah memikirkan, memang perlukah seorang yang dewasa ber'dating' sebelum melangkah ke alam perkahwinan?
Kenapa saya bingung akan hal ini? Kecil-kecil lagi sudah gatal?
Bukan begitu. Naluri kanak-kanak saya pada waktu itu merasakan tidak selesa dengan apa yang ditayangkan dikaca televisyen.
Jikalau ceritanya tentang pasangan kekasih, sudah pasti ada adegan keluar makan berdua-duaan sebelum punya ikatan yang sah.
Cerita tempatan apatah lagi luar negara, babak kekasih dilamun cinta sebelum berkahwin disusun dengan penuh teliti.
Tetapi saya memang bingung.
Memang perlukah begitu? Perlukah bercouple sebelum berkahwin? Nyata saya tidak selesa di awal usia kanak-kanak.
Cinta Monyet
Alhamdulillah, semasa di sekolah rendah mahupun sekolah menengah saya jauh dari memahami erti ataupun mengalami cinta monyet.
Istilah yang biasa tetapi sekadar mendengar.
Ada sahaja rakan-rakan yang ber'cinta' seawal darjah lima.
Saya bingung. Memang terlalu muda untuk memahami tentang perkara ini.
Maka tidak hairanlah mengapa saya bingung ketika itu.
Pelik dan mencari-cari sebab mengapa ada yang bercinta seawal usia di darjah lima.
Di sekolah menengah, lain pula ceritanya. Kisah bercinta menjadi lebih hebat.
Mungkin merasakan diri lebih matang sedangkan baru menginjak remaja.
Kisah cinta disekeliling saya bermacam-macam.
Kenyataan-kenyataan seperti; batch kami bercinta seperti tukar baju (pelajar batch tersebut sering bertukar-tukar pasangan ibarat menukar baju setiap hari), ada senior mengaku dia bercinta untuk mencari pengalaman.
Aduh! Saya menjadi semakin bingung.
Benarkah ini semua?
Erti couple, cinta dan perkahwinan
Kini setelah saya berusia dua puluh dua tahun, saya semakin mengerti.
Kisah pasangan berdua-duaan yang saya fikirkan semasa kecil, bukanlah sesuatu yang dianjurkan oleh Islam.
Bahkan, Islam sebagai cara hidup menggariskan cara yang cukup indah dan sempurna untuk mengikat pertalian antara adam dan hawa.
Kisah cinta monyet yang membingungkan semasa di zaman sekolah juga dapat saya cari jawapannya.
Buku Tentang Cinta karangan Ustaz Pahrol banyak membantu saya untuk memahami isu ini.
Tambahan pula, semasa saya di Kolej Yayasan UEM Lembah Beringin, forum Tentang Cinta telah diadakan. Panel-panel terdiri daripada Ustaz Pahrol sendiri, Ustaz Hashim (trainer Fitrah Perkasa) dan Ustaz Hasrizal.
Panel yang hadir cukup berpengalaman kerana mereka jauh lebih dewasa dan sudah berkeluarga.
Islam dan Cinta
Islam menganjurkan lelaki dan wanita bertaaruf iaitu berkenal-kenalan sebelum mengikat pertunangan.
Cara bertaaruf menjaga adab dan syariat. Pasangan tidak berdua-duaan tetapi ditemani oleh orang tengah mahupun ibu bapa sendiri.
Bercinta pula perlu punya tujuan. Apa tujuan cinta monyet?
Sekadar suka-suka atau untuk mencari pengalaman? Jika benar, bukankah itu alasan-alasan yang menyedihkan?
Bercinta adalah berkasih sayang.
Mampukah untuk kita berkasih sayang dengan seseorang yang asing jika kita belum mampu menyayangi ahli keluarga sendiri?
Maka jika benar, kita berkasih sayang dengan orang luar perlu sama seperti berkasih sayang dengan ahli keluarga sendiri.
Tetapi adakah perkara ini benar-benar berlaku di antara pasangan yang menyatakan diri mereka bercinta?
Bagi saya, untuk memahami istilah cinta, saya perlu memahami erti mencintai diri sendiri, mencintai ahli keluarga, mencintai rakan-rakan dan yang lebih utama mencintai Allah dan RasulNya.
Saya perlu menguasai erti cinta ini sebelum mencintai seseorang yang asing - lelaki dalam hidup seorang wanita.
Terlalu teoritikal? Pandai-pandailah mencari cara untuk amalinya.
Semakin dewasa saya semakin memahami dan lihat sendiri teori-teori cinta secara praktikalnya (bukan saya yang bercinta, tetapi melihat realiti disekeliling).
Cinta itu perlukan kepercayaan dan tanggungjawab. Cinta itu memberi tanpa mengharap balasan.
Teori ini memang benar untuk menyelesaikan masalah-masalah perkahwinan yang saya ketahui(bukan menjaga tepi kain orang, tetapi mungkin diri sudah cukup dewasa memahami permasalahan ini).
Perkahwinan yang memang bergelora.
Sesekali terasa takut pula memikirkannya. Tetapi seperti kata emak; Jalan ini mudah sahaja jika manusia ambil jalan yang lurus. Tetapi hakikatnya, ada yang memilih yang bengkang-bengkok.
Jual mahal?
Setelah berusia dua puluhan dan masih tidak berpunya atau tidak pernah ber'boyfriend', maka masyarakat amnya masih mempunyai stigma bahawa tuan punya badan mungkin jual mahal.
Nasihat seperti , jangan jual mahal nanti tidak laku dan sebagainya dilontarkan.
Persoalannya, setelah beberapa perkara seperti di atas dibangkitkan, adakah benar bahawa seseorang yang tidak ber'boyfriend' itu wajar dikategorikan sebagai jual mahal atau memilih?
Atau mungkin tuan punya badan sekadar menongkah norma masyarakat kerana tidak bersetuju dengan gejala couple yang dipandang sebagai satu kemestian dan kebiasaan?
Atau mungkin tuan punya badan benar-benar memikirkan erti sebenar cinta dan berkasih sayang?
Isu yang berat untuk difikirkan bersama.
Masakan tidak, di dalam hadis daripada Nabi s.a.w. yang menegaskan dengan maksud bahawa :
"Sesiapa yang telah berkahwin dikalangan kamu maka dia telah sempurnakan separuh dari urusan agamanya dan hendaklah dia bertaqwa kepada Allah pada setengah atau separuh urusan agama yang selebihnya".
Masakan cinta dan perkahwinan perkara yang main-main sekiranya sebesar ini ganjaran yang dijanjikan Allah.
Tulisan ini sekadar perkongsian yang sudah mula saya fikirkan sejak kecil lagi. Mencari-cari apakah formulanya sedangkan Islam memang ada jawapannya.
Tulisan ini juga sekadar muhasabah diri dan mengambil kesempatan untuk mengucapkan tahniah dan mendoakan kakak kandung saya yang bakal melansungkan pernikahan Sabtu ini.
Juga buat senior mahupun junior yang selamat diijabkabulkan sepanjang cuti ini.
Tahniah dan selamat menempuh alam baru!


http://www.iluvislam.com/tazkirah/remaja-a-cinta/995-bercouple-atau-jual-mahal.html

Telefon Pintar, Popular Tetapi Bawa Kesan Buruk?


Suatu ketika dulu, agak mudah untuk kita menyapa mereka yang tidak dikenali kerana masa itu masyarakat lebih mesra dalam bertegur sapa.Tetapi kini, orang ramai lebih gemar 'membayar' untuk menghubungi kenalan yang jauh walaupun ada orang yang lebih dekat untuk dijadikan teman berbicara.
Di masa yang lalu, makan bersama keluarga adalah satu situasi di mana ibu menunjukkan kebolehannya memasak manakala abang akan bangga bercerita tentang perlawanan bola sepak di sekolahnya.

Ketika itu jugalah si adik akan 'menyambar' ketulan ayam goreng di pinggan kakaknya.Itulah gambaran kemesraan dalam satu keluarga.Kini, 'masa berkualiti' bersama keluarga itu makin pudar kerana keriuhan waktu makan menjadi sepi dan dingin kerana masing-masing lebih gemar memberi perhatian kepada peralatan komunikasi canggih milik mereka.

Barang Kemas Masakini

Jika dulu, barang kemas dan perhiasan badan seperti emas dan batu permata dijadikan ukuran simbol kekayaan seseorang, perkara itu bukanlah lagi satu-satunya kayu pengukur di masa sekarang. Kini peralatan komunikasi canggih seperti Blackberry, telefon Android, iPhone, iPad dan komputer peribadi adalah simbol status individu di dalam masyarakat.
Walau terdapat berita positif tentang bagaimana peralatan canggih ini dapat meningkatkan produktiviti, persoalan yang masih tidak terjawab tetap timbul tentang impak daripada gajet-gajet ini terhadap rentak hidup sosial masyarakat.

Semakin Popular

Penggunaan telefon pintar sudah semakin popular dalam kalangan masyarakat Malaysia. Suatu masa dulu ia hanya mampu diguna oleh warga korporat dan ahli perniagaan tetapi kini gajet ini mampu dimiliki kebanyakan orang. Telefon kini menjadi semakin 'pintar' setiap hari.
Setiap model peralatan ini disesuaikan dengan keperluan komunikasi, kerja serta hiburan. Pelbagai e-mel serentak juga boleh diterima oleh gajet ini. Perisian seperti MS Office dan PDF reader juga boleh dimasukkan ke dalam telefon pintar untuk kegunaan semasa.
Satu kajian pada tahun 2007 dijalankan oleh Research In Motion (RIM)mendapati pengguna biasa Blackberry boleh memberi satu jam dari masa muat turun mereka untuk keperluan produktif setiap hari dan ini meningkatkan darjah efisyen sebanyak 30 peratus.
Elemen hiburan merupakan satu lagi faktor yang membuatkan telefon pintar hangat di pasaran. Keupayaan menyimpan serta memainkan video/filem, video YouTube dan juga hubungan dengan situs jaringan sosial selain pelbagai permainan yang menarik merupakan satu lagi aspek yang perlu 'dipunyai' oleh generasi masa kini.
Sehingga kini terdapat lebih 35,000 aplikasi iPhone dan sehingga bulan Januari tahun ini sebanyak 10 bilion aplikasi dimuaturun sejak produk ini memasuki pasaran pada tahun 2008. Pembangunan perisian telefon pintar juga semakin rancak.
Dibandingkan dengan 10 tahun dulu, mereka yang menggunakan gajet itu kini boleh mencipta aplikasi telefon mereka sendiri dan menjadikan satu peralatan serba boleh seperti bertindak sebagai sebuah buku-e, menjadi 'terminal' permainansehinggakan ada juga yang menjadi penghalau nyamuk!.

Imbangan Kerja-Kehidupan

Debat tentang impak telefon pintar terhadap kehidupan penggunanya tetap berterusan. Bagi kebanyakan badan korporat, mereka mahukan perhubungan komunikasi 24 jam untuk mempertingkat kecekapan dan produktiviti. Tetapi adakah ini adil bagi
pekerja mereka?
Bila difikirkan, situs jaringan sosial yang membuatkan pengguna menggunakan gajet tangan mereka secara berterusan. Sekilas pandang ini boleh memberi kemudaratan. Bila individu dapat 'diheret' dari kehidupan mereka untuk bekerja (luar dari masa bekerja) sudah cukup buruk, mengeluarkan mereka dari suasana sekeliling akan lagi memburukkan keadaan.
Adakah kita akan bergantung kepada teknologi untuk berhubung dengan orang lain walaupun beliau berada tidak jauh dari diri kita? Inilah aspek di mana imbangan perlu wujud. Tak akan ada sesiapa yang mahu ke stadium dan dikelilingi oleh penonton yang bersorak bagi satu gol yang dijaringkan sedangkan pada masa yang sama mereka juga sibuk menghantar teks laporan kerja kepada majikan.

Menguruskan Gajet Anda

Gajet-gajet ini dicipta dengan niat yang baik iaitu menyenangkan komunikasi antara satu sama lain. Seperti juga makanan, terlebih penggunaan akan membawa kepada kemudaratan. Memilih keutamaan pada masa yang sesuai adalah kunci bagi penggunaan telefon pintar.
Seseorang itu mesti bertindak bijak bergantung pada situasi. Bila seseorang itu hadir di majlis pengkebumian, adakah beliau perlu menjawab e-mel atau hantaran Twitter. Kalau berbuat sedemikian sudah tentu beliau akan dianggap tidak sensitif dan tidak hormat terhadap keluarga simati. Tambah buruk lagi, ini akan mendatangkan kemarahan ahli keluarga individu yang meninggal dunia itu.
Tetapi pada seminar di mana penceramahnya membuatkan anda 'mengantuk', jelingan terhadap perkara terkini yang muncul di telefon anda akan membuat hari anda lebih 'ceria'. Belajar menjauhkan diri dari gajet anda juga merupakan satu pendekatan yang baik. Seseorang itu harus belajar 'menyimpan' gajet kesayangannya ketika melakukan aktiviti seperti senaman, menunaikan ibadat serta keperluan agama ataupun ketika makan bersama keluarga.
Berikan masa bagi telefon kesayangan anda untuk 'berehat' . Ini akan membolehkan anda memberi tumpuan kepada kerja-kerja lain yang juga memerlukan perhatian sepenuhnya. Juga cuba elak daripada bertindak membalas dan memberi respons untuk e-mel yang diterima berkaitan dengan kerja sebelum masuk tidur. Kalau anda berbuat demikian, ia akan memberi impak yang signifikan terhadap kesihatan fizikal dan juga mental kerana ini akan mengurangkan masa rehat.

Cabaran Berterusan

Perkembangan teknologi akan terus rancak. Begitu juga permintaan untuknya. Ini akan membawa cabaran baru bagi setiap individu. Keupayaan menimbang serta membuat keputusan yang baik bagi mencapai imbangan kerja dan kehidupan sememangnya diperlukan. Ini memerlukan perubahan sikap selain dari proses pembelajaran dan percubaan.
Tetapi perkara ini adalah sesuatu yang mesti dan memang perlu dilakukan. Sememangnya hidup ini adalah lebih bermakna daripada hanya menjawab e-mel dan melayari laman Facebook.


http://www.iluvislam.com/berita/malaysia/2010-telefon-pintar-popular-tetapi-bawa-kesan-buruk.html

Pemuda Yang Ikhlas Dengan Cinta


Pada zaman dahulu, ada seorang jejaka yang sangat suka membaca dan selalu menghabiskan masanya di perpustakaan pada waktu lapang. Dia amat suka membaca novel dan buku cerita. Pada suatu hari, dia telah terjumpa sebuah novel yang ada tertulis pada kulit novel itu nama dan alamat seorang gadis di salah satu muka suratnya. Tertulis di situ : "Catrina, ikhlas dan perlukan sahabat."
Tergerak hati jejaka untuk mengutus surat kepada si gadis misteri itu. Setelah pulang ke rumah, jejaka itu menulis surat untuk memberitahu niat ingin berkawan dengan gadis itu. Beberapa hari kemudian si jejaka mendapat balasan daripada gadis tersebut bahawa dia juga bersetuju untuk berkawan dengan si jejaka.
Hari betukar minggu dan minggu bertukar bulan. Persahabatan mula bertukar kepada perasaan sayang. Namun begitu mereka masih belum pernah bersua muka. Si jejaka ingin sekali bertemu si gadis misteri dan begitu juga dengan si gadis. Walaupun kedua-keduanya masih belum melihat rupa masing-masing, tetapi perasaan sayang tetap berbuku di hati.
Pada suatu hari, si jejaka dipanggil oleh bala tentera untuk pergi ke medan perang. Si jejaka merasa amat susah hati kerana dia bimbang sekiranya dia mungkin tidak dapat berjumpa dengan si gadis kesayangannya. Maka diutuskannya sepucuk surat berbunyi, "kalau Allah panjangkan jodoh kita, dan andai kamu masih sayang padaku, kita berjumpalah di stesen keretapi pada hari perang diumumkan tamat nanti. Aku akan memakai pakaian tenteraku dan membawa sekuntum mawar berwarna merah. Aku akan mengenali kamu sekiranya kamu juga memegang sekuntum bunga mawar merah. Setelah itu izinkanlah aku membawamu untuk makan malam dan bertemu orang tuaku."
Maka pergi lah jejaka ke medan perang dengan tenang setelah mengutuskan surat itu...
Beberapa bulan kemudian...
Pada hari pengumuman perang tamat, si jejaka pergi ke stesen keretapi yang dijanjikan sambil memegang sekuntum bunga mawar merah di tangannya. Diperhatikannya seorang demi seorang gadis yang berada di stesen keretapi itu sekiranya ada yang turut memegang bunga mawar merah sepertinya.
Tiba-tiba, si jejaka ternampak seorang gadis yang agak berisi, sedikit hitam dan berjerawat mukanya duduk di kerusi roda sambil melihat sekeliling seolah-olah mencari seseorang. Kakinya kudung dan tangannya cacat sebelah. Sebelah lagi tangannya memegang sekuntum bunga mawar berwarna merah. Si jejaka sangat terkejut melihat keadaan fizikal dan wajah gadis pujaannya selama ini amat berbeza dari imaginasinya, namun dia memberanikan diri menghampiri gadis tersebut.
"Catrina?"
Gadis itu melihat ke arah si jejaka dan tersenyum ceria. Si jejaka terus menghulurkan bunga mawar kepada si gadis dan berkata, "aku amat merinduimu. Terimalah bunga ini dan pelawaanku untuk makan malam bersama kedua ibu bapaku. Orang tuaku tidak sabar-sabar lagi untuk bertemu denganmu," kata jejaka itu.
Si gadis itu tersenyum lagi dan berkata, "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi ada seorang gadis cantik jelita memberikan bunga ini kepadaku sebentar tadi. Dia memintaku memberitahu kamu bahawa dia sedang menunggu kamu di restoran di hadapan stesen ini sekiranya kamu mempelawaku makan malam dan bertemu orang tuamu."
----------TAMAT------------
Berapa ramaikah manusia yang sesuci hati jejaka ini? Dia melihat kepada hati dan bukan kepada rupa. Dia telah mengotakan janjinya dan tetap berpegang kepada perasaan sayang walaupun pada mulanya dia menjangkakan gadis cacat itu adalah Catrina. Masihkah lagi wujud lelaki seikhlas dan seluhur hati pemuda itu?


http://www.iluvislam.com/tazkirah/remaja-a-cinta/2008-pemuda-yang-ikhlas-dengan-cinta.html