Tuhan...saat aku menyukai seorang
teman, ingatkanlah aku bahwa ada sebuah akhir sehingga aku tetap bersama yang
tidak pernah berakhir.
Tuhan...jika aku hendak mencintai
seseorang temukanlah aku dengan orang yang mencintaiMU agar bertambah kuat
cintaku padaMU.
Tuhan...ketika aku sedang jatuh
cinta jagalah cinta itu agar tidak melebihi cintaku padaMU.
Tuhan...ketika aku berucap aku cinta
padamu biarkanlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut padaMU agar aku tak
jatuh dalam cinta yang bukan karenaMU.
Sebagaimana orang bijak berucap "Mencintai
seseorang bukanlah apa-apa. Dicintai seseorang adalah sesuatu. Dicintai oleh
orang yang kau cintai sangatlah berarti. Tapi, dicintai oleh Sang Pencipta
adalah segalanya."
Untaian kalimat di atas saya terima
lewat sms dari seseorang yang sudah saya anggap adik saya. Untuaian kalimat
yang seakan menusuk ulu hati saya, teringat bahwa selama beberapa bulan yang
lalu begitu saya dibutakan oleh cinta yang semu. Yah, cinta telah melumpuhkan
logika saya dan memainkan emosi saya dengan begitu mudah hem....terima kasih
de' telah mengingatkan saya kepada Sang Pemilik Cinta
Cinta...
Saya pernah dibuat mabuk kepayan
oleh yang namanya cinta, entah kapan saya mulai berkenalan dengannya, dengan
yang namanya cinta yang membuat saya seperti bukan diri saya kata orang-orang
terdekat saya. Cinta yang membuat saya rela melanggar prinsip yang bertahun-tahun
saya bertahankan, yang telah membuat saya buta dan tuli dan mampu melakukan
sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan, membenarkan sesuatu atas
nama cinta. Intinya cinta tidak membuat saya berubah menjadi lebih baik tetapi
sebaliknya.
Cinta yang dulu saya kenal membuat
saya mudah sekali menangis sampai mata saya sembab, entahlah kalau dikumpulkan
mungkin air mata saya sudah seember lebih hehehe lebay.com :) cinta itu membuat
saya mampu terbangun tengah malam dan membuat kesadaran saya terkumpul penuh
saat HP saya berdering karena telfon dari seseorang bahkan membuat saya rela
begadang sampai pagi menjelang hanya untuk berbincang-bincang dengannya.
Padahal jika alerm pukul 03.00 wib berbunyi yang membangunkan saya untuk
bertemu Sang Pemilik Jiwa sering saya matikan dan terlelap kembali, kalaupun
terbangun dan tahajut curhat saya ke DIA tidak selama saya berbincang-bincang
dengan seseorang itu. Duh...separah itu cinta membutakan saya saat itu.
Dan kini, bagaimana kabarnya cinta
itu? dimana seseorang yang dulu selalu ada untuk saya? semua sudah tidak ada
lagi bersama saya. Sedangkan DIA yang selalu saya nomor sekiankan, yang selalu
saya datangi hanya ketika saya membutuhkanNYA, DIA tidak pernah beranjak
menjauh dari saya bahkan ketika saya sendirian DIA yang selalu menemani saya,
menghapus air mata saya, mengobati luka hati saya. DIAlah yang menggantikan apa
yang hilang dari saya dengan yang lebih baik, jauh lebih baik dari yang saya
harapkan. Tidak ingin lagi diri ini terjerumus pada cinta yang seperti itu
lagi, saya ingin mengenal cinta yang datangnya hanya dari DIA dan kepada DIA
saya persembahkan.
Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum bukanlah sebuah hal yang mudah.
Apalagi jika Anda diminta secara mendadak atau tiba-tiba untuk berbicara di
depan forum. Reaksi selanjutnya bisa dipastikan, perut mulas, kaki dan tangan
gemetaran, jantung berdetak kencang, dan waktu serasa berjalan sangat lambat.
Nah, inilah gejala dari adanya nervous, gugup atau grogi.
Gugup umumnya diawali dengan munculnya keringat dingin maupun hangat, perut
terasa melilit, kaki dan tangan gemetaran, otak serasa blank, dan mulut pun
serasa berat sekali untuk terbuka sehingga bicara pun menjadi tidak lancar.
Trus bagaimanakah cara mengatasi grogi di depan umum? Berikut beberapa kiat
untuk mengatasi grogi saat berbicara di depan umum ;
1. Mempersiapkan mental dengan cara membangun rasa percaya diri dan
mengendalikan rasa takut serta emosi.
Inilah modal awal agar sukses bicara didepan umum. Caranya dengan istirahat
dan tidur yang cukup menjelang waktu berbicara di depan umum, melakukan
relaksasi atau senam ringan untuk menurunkan ketegangan mental dan
mengantisipasi kelelahan, misalnya dengan cara memegan ujung kaki sambil
berdiri membungkuk selama beberapa detik, menarik napas yang panjang dan dalam
serta menahannya beberapa detik, kemudian mengeluarkan napas pelan-pelan, juga
minum segelas air putih untuk mempersiapkan vokal.
Khusus untuk mengatasi kaki yang gemetaran, usahakan pada saat tampil anda bergerak,
anda dapat menyiasatinya dengan berjalan menuju white board untuk menulis atau
menuju hadirin untuk berdialog.
2. Siapkan bahan jika tidak tampil mendadak. ini dapat menumbukan rasa
percaya diri karena anda merasa yakin dengan apa yang anda sampaikan.
3. Berusahalah konsentrasi dan tenang pada saat akan maju dan fokuskan pada
pokok pikiran apa yang anda sampaikan, juga pada kata kuncinya. Jangan
memaksakan diri untuk mengeluarkan apa yang anda hafalkan, ini hanya akan
menambah ketegangan dan rasa grogi jika pada saat akan maju ada sedikit saja
ada yang terlupa.
4. Jangan mengharuskan diri tampil sempurna pada tiap kesempatan karena
hanya akan mempercepat timbulnya rasa grogi ketika sedikit saja kekurangan Anda
tampak. Yakinlah semua orang mempunyai kekurangan dan tidak semua orang mampu
berbicara dengan baik di depan umum.
5. Yakinlah bahwa Anda tidak harus sepenuhnya menguasai seluruh hadirin.
Fokuskan perhatian pada mereka yang tertarik dengan apa yang anda sampaikan.
biarkan saja kalau ada yang tidak menaruh perhatian pada apa yang anda
sampaikan.
6. Usahakan melewati sebelah kiri pendengar saat Anda menuju ke panggung
atau tempat anda menyampaikan pidato. Ini akan menstimulasi otak kanan para
pendengar sehingga lebih mudah menerima apa yang anda sampaikan
7. Jangan lupa untuk berdoa sebelum berbicara di depan umum agar tidak
grogi, tidak nervous, dan sukses.
Yang perlu Anda tekankan dalam diri Anda adalah bahwa berbicara di depan
umum bukanlah hal yang sangat menegangkan. Anda tidak akan dicela dan dijauhi
hanya karena penampilan anda tidak sempurna saat di depan forum. Jadi
berusahalah selalu tenang dan rileks.
Dan lebih penting lagi, bukan pada bagaimana penampilan anda tetapi pada apa
yang anda sampaikan sehingga anda harus mempunyai tujuan dan sasaran yang jelas
dan terarah. Ingatlah, sebagian besar pendengar menginginkan anda berhasil
dalam menyampaikan pesan.
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:
مَثَلُ الْـجَلِيْسِ الصَّالـِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ
الْكِيْرِ. فَحَامِلُ الْـمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ
مِنْهُ،
وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا
أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً
“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual
minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia
akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi
engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai
besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya
bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa teman dapat
memberikan pengaruh negatif ataupun positif sesuai dengan kebaikan atau
kejelekannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan teman bergaul
atau teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi. Bila duduk dengan
penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana
tersebut dalam hadits. Paling minimnya engkau dapati darinya bau yang harum
yang akan memberi pengaruh pada jiwamu, tubuh dan pakaianmu. Sementara kawan
yang jelek diserupakan dengan duduk di dekat pandai besi. Bisa jadi beterbangan
percikan apinya hingga membakar pakaianmu, atau paling tidak engkau mencium bau
tak sedap darinya yang akan mengenai tubuh dan pakaianmu.
Dengan demikian jelaslah, teman pasti akan memberi pengaruh kepada
seseorang. Dengarkanlah berita dari Al-Qur`an yang mulia tentang penyesalan
orang zalim pada hari kiamat nanti karena dulunya ketika di dunia berteman
dengan orang yang sesat dan menyimpang, hingga ia terpengaruh ikut sesat dan
menyimpang.
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ
مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا
خَلِيلاً.
لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya,
seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.
Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan
itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika
Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong
manusia.” (Al-Furqan: 27-29)
Tidak perlu engkau bertanya tentang (siapa) seseorang itu, namun tanyalah
siapa temannya
Karena setiap teman meniru temannya
Bila engkau berada pada suatu kaum maka bertemanlah dengan orang yang
terbaik dari mereka
Dan janganlah engkau berteman dengan orang yang rendah/hina niscaya engkau
akan hina bersama orang yang hina
Karenanya lihat-lihat dan timbang-timbanglah dengan siapa engkau berkawan. Dampak Teman yang Jelek
Ingatlah, berteman dengan orang yang tidak baik agamanya, akhlak, sifat, dan
perilakunya akan memberikan banyak dampak yang jelek. Di antara yang dapat kita
sebutkan di sini:
1. Memberikan keraguan pada keyakinan kita yang sudah benar, bahkan dapat
memalingkan kita dari kebenaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ. قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ
إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ. يَقُولُ أَئِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ. أَئِذَا
مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا
وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَدِينُونَ. قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ.
فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ.
قَالَ تَاللهِ إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ. وَلَوْلاَ نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ
مِنَ الْمُحْضَرِينَ
Lalu sebagian mereka (penghuni surga) menghadap sebagian yang lain sambil
bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya aku
dahulu (di dunia) memiliki seorang teman. Temanku itu pernah berkata, ‘Apakah
kamu sungguh-sungguh termasuk orang yang membenarkan hari berbangkit? Apakah
bila kita telah meninggal dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang,
kita benar-benar akan dibangkitkan untuk diberi pembalasan.” Berkata pulalah
ia, “Maukah kalian meninjau temanku itu?" Maka ia meninjaunya, ternyata ia
melihat temannya itu di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala. Ia pun
berucap, “Demi Allah! Sungguh kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau
tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret ke
neraka.” (Ash-Shaffat: 50-57)
Dengarkanlah kisah wafatnya Abu Thalib di atas kekafiran karena pengaruh
teman yang buruk. Tersebut dalam hadits Al-Musayyab bin Hazn, ia berkata,
"Tatkala Abu Thalib menjelang wafatnya, datanglah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Beliau dapati di sisi pamannya ada Abu Jahl bin Hisyam dan
Abdullah bin Abi Umayyah ibnil Mughirah. Berkatalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam, ‘Wahai pamanku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, kalimat yang
dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.’ Namun kata dua teman Abu Thalib
kepadanya, ‘Apakah engkau benci dengan agama Abdul Muththalib?’ Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus meminta pamannya mengucapkan
kalimat tauhid. Namun dua teman Abu Thalib terus pula mengulangi ucapan mereka,
hingga pada akhirnya Abu Thalib tetap memilih agama nenek moyangnya dan enggan
mengucapkan Laa ilaaha illallah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Teman yang jelek akan mengajak orang yang berteman dengannya agar mau
melakukan perbuatan yang haram dan mungkar seperti dirinya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman tentang munafikin:
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
“Mereka menginginkan andai kalian kafir sebagaimana mereka kafir hingga
kalian menjadi sama.” (An-Nisa`: 89)
3. Tabiat manusia, ia akan terpengaruh dengan kebiasaan, akhlak, dan
perilaku teman dekatnya. Karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah
seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat1.” (HR. Abu Dawud dan
At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)
4. Melihat teman yang buruk akan mengingatkan kepada maksiat sehingga
terlintas maksiat dalam benak seseorang. Padahal sebelumnya ia tidak terpikir
tentang maksiat tersebut.
5. Teman yang buruk akan menghubungkanmu dengan orang-orang yang jelek, yang
akan memudaratkanmu.
6. Teman yang buruk akan menggampangkan maksiat yang engkau lakukan sehingga
maksiat itu menjadi remeh/ringan dalam hatimu dan engkau akan menganggap tidak
apa-apa mengurangi-ngurangi dalam ketaatan.
7. Karena berteman dengan orang yang jelek, engkau akan terhalang untuk
berteman dengan orang-orang yang baik/shalih sehingga terluputkan kebaikan
darimu sesuai dengan jauhnya engkau dari mereka.
8. Duduk bersama teman yang jelek tidaklah lepas dari perbuatan haram dan
maksiat seperti ghibah, namimah, dusta, melaknat, dan semisalnya. Bagaimana
tidak, sementara majelis orang-orang yang jelek umumnya jauh dari dzikrullah,
yang mana hal ini akan menjadi penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari
kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ تَعَالَى
فِيْهِ، إِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
“Tidak ada satu kaum pun yang bangkit dari sebuah majelis yang mereka tidak
berzikir kepada Allah ta’ala dalam majelis tersebut melainkan mereka bangkit
dari semisal bangkai keledai2 dan majelis tersebut akan menjadi penyesalan bagi
mereka." (HR. Abu Dawud. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu
dalam Ash-Shahihah no. 77) Demikian… Semoga ini menjadi peringatan!
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ RABBANAA AATINAA FID DUN-YA HASANAH, WAFIL-AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA
'ADZAABAN NAAR
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al Baqarah:
201)
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ALLAAHUMMA RABBANAA AATINAA FID DUN-YA HASANAH, WAFIL-AAKHIRATI HASANAH,
WAQINAA 'ADZAABAN NAAR
"Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (Muttafaq
'alaih)
Manfaat doa ini sangat luar biasa. Kandungannya mencakup kebaikan yang
diinginkan setiap insan sejak di dunia hingga akhirat. Kebaikan di dunia
mencakup setiap yang diinginkan dari masalah dunia berupa kesehatan, tempat
tinggal yang luas, rizki yang banyak dan halal, istri shalihah, anak shalih,
ilmu bermanfaat, amal shalih, ibadah khusu', kendaraan yang nyaman, nama baik
dan lainnya.
Sedangkan kebaikan di akhirat yang tertinggi adalah masuk surga dan mendapat
ridla Allah serta kenikmatan-kenikmatan yang mengirinya berupa rasa aman dari
huru-hara yang mengerikan di padang mahsyar, diringankan hisab dan lainnya.
Maknanya juga meminta agar diselamatkan dari siksa-siksa dan penderitaan yang
ada di kubur, padang mahsyar, dan di neraka.
Sedangkan maksud diselamatkan atau dipelihara dari siksa neraka adalah
dimudahkan untuk menjauhi jalan yang menghantarkan ke neraka berupa menjauhi
maksiat dan dosa serta meninggalkan perkara syubuhat dan haram.
Qasim bin Abdurrahman berkata, "siapa yang diberi kalbu yang selalu
bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, dan jasad yang sabar dan tangguh, maka
dia telah diberi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta di pelihara
dari siksa neraka."
Karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam banyak berdoa
dengannya dan sangat menganjurkan umatnya untuk membaca doa ini. Dari Anas bin
Malik radliyallah 'anhumengatakan, "doa yang paling sering
dibaca Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah; اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (HR.
Bukhari dan Ahmad)
Anas bin Malik biasa berdoa dengan doa ini saja dan ketika melantunkan
beberapa doa pasti beliau memasukkan doa ini di dalamnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Abu Nu'aim, Abdussalam bin
Syadad –yakni Abu Thaluth- berkata, aku pernah bersama Anas, lalu Tsabit
berkata kepadanya, "sesungguhnya saudara-saudaramu meminta agar engkau
mendoakan mereka. Lalu Anas berdoa, "Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah
kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka." Merasa kurang, mereka meminta agar didoakan lagi ketika
mereka akan beranjak pergi, lalu Anas berkata, "jika Allah sudah
memberikan untuk kalian kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta
memelihara kalian dari siksa nereka, berarti Dia telah memberikan untuk kalian
seluruh kebaikan."
Al Qadli Iyadh rahimahullah mengatakan, Nabi shallallahu
'alaihi wasallam banyak berdoa dengan ayat ini (al Baqarah: 201)
karena mengandung seluruh isi doa dari urusan dunia dan akhirat." Kapan dibacanya?
Pada dasarnya doa ini boleh dibaca kapan saja khususnya pada saat-saat yang
mustajab, seperti di sepertiga malam terakhir, di antara adzan dan iqamah, di
sore hari Jum'at, dan lainnya. Namun, ada beberapa kondisi khusus yang
dianjurkan untuk membacanya, di antaranya:
1. Doa ketika berada di antara rukun Yamani dan Hajar
Aswad ketika Thawwaf. (HR. Abu Dawud, Ahmad, al Baghawi dalam Syarh as Sunnah
dari Abdullah bin as Saaib).
2. Boleh dibaca setelah membaca tasyahhud kedua
berdasarkan keumuman hadits, dalam Shahihain dan lainnya, Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda, "kemudian silahkan dia berdoa yang
dia suka." Juga berdasarkan riwayat Umair bin Sa'd yang menyatakan bahwa
Abdullah bin Mas'ud mengajari kami bacaan tasyahhud dalam shalat kemudian
berkata, "jika salah seorang kamu selesai baca tasyahhud hendaknya dia
berdoa . . . (salah satunya doa di atas)." (Fath al Baari: 2/239)
Pelajaran dari doa ini
1. Jangan-lah berdoa kepada Allah hanya kebaikan dunia saja, khususnya
ketika di tempat-tempat dan waktu-waktu yang mustajab. Doa dalam Al Baqarah:
201 adalah pujian dari Allah bagi orang-orang beriman dan celaan atas
orang-orang musyrik. Orang-orang beriman meminta kebaikan di dunia dan akhirat.
Sedangkan orang-orang musyrikin doanya hanya sebatas kebaikan dunia semata,
mereka lupa terhadap akhirat.
2. Tidak boleh juga meminta hanya kebaikan di akhirat dan melupakan
kehidupan dunianya. Dari sahabat Anas, pernah pada suatu hari Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallammenjenguk salah seorang shabatnya yang dalam kondisi
sangat lemah dan kurus. Lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya
padanya, "apakah kamu telah berdoa dan meminta sesuatu kepada Allah?"
dia menjawab, Ya Rasulullah aku telah berdoa, "Ya Allah jika aku kelak
akan disiksa di akhirat, maka segerakanlah di dunia ini." lalu
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata padanya,
"Subhanallah, engkau tidak akan kuat terhadap siksa Allah. jangan
begitu, tapi berdoalah: اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (HR. al
Baghawi dalam Syarh as Sunnah dan Ahmad dalam al
Musnad)
"Kamu (wahai
umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat
manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik, dan melarang
daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman
kepada Allah (dengan sebenar-benar iman)." – (Surah ali-Imran, ayat 110) 17 Golongan Mendapat Hidayah Disebut
Dalam Al-Quran 1-Satu kewajipan pada Allah SWT yang perlu disempurnakan. Surah
Al-Lail, ayat : 12. "Sesungguhnya tanggungan Kamilah memberi hidayah petunjuk (tentang
yang benar dan yang salah)." 2-Hidayah terdapat dimana-mana dan dapat menyelamatkan manusia.
Surah Taha, ayat 10 dan 20. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada isterinya:
"Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawa
kepada kamu satu cucuhan daripadanya, atau aku dapat di tempat api itu:
penunjuk jalan.
Lalu ia mencampakkannya, maka tiba-tiba tongkatnya itu menjadi seekor ular
yang bergerak menjalar. 3-Hidayah tidak akan diberi kepada kaum yang telah disesatkan. Surah
An-Nahl, ayat : 37. Jika engkau (wahai Muhammad) terlalu tamak (inginkan mereka beroleh
hidayah petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada
orang-orang yang berhak disesatkanNya; dan tiadalah bagi mereka sesiapapun yang
dapat memberikan pertolongan. 4-Hidayah daripada Allah SWT adalah amat benar. Surah Al-Baqarah,
ayat : 120 dan Surah Ali Imran, ayat : 73. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau
suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut ugama mereka (yang telah
terpesong itu). Katakanlah (kepada mereka): "Sesungguhnya petunjuk Allah
(ugama Islam itulah petunjuk yang benar". Dan demi sesungguhnya jika
engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka sesudah datangnya (wahyu yang
memberi) pengetahuan kepadamu (tentang kebenaran), maka tiadalah engkau akan
peroleh dari Allah (sesuatupun) yang dapat mengawal dan memberi pertolongan
kepada mu. Dan (mereka berkata lagi): "Janganlah kamu percaya melainkan kepada
orang-orang yang mengikut ugama kamu". Katakanlah (wahai Muhammad):
"Sesungguhnya petunjuk yang sebenar benarnya ialah petunjuk Allah".
(Mereka berkata pula: "Janganlah kamu percaya) bahawa akan diberi kepada
sesiapa seperti apa yang telah diberikan kepada kamu, atau mereka akan dapat
mengalahkan hujah kamu di sisi Tuhan kamu". Katakanlah (wahai Muhammad):
"Sesungguhnya limpah kurnia itu adalah di tangan Allah, diberikanNya
kepada sesiapa yang dikehendakiNya; dan Allah Maha Luas limpah kurniaNya, lagi
Meliputi pengetahuanNya. 5-Hidayah akan membawa ke Jalan Yang Lurus. Surah Al-Anam, ayat :87
dan 88. Dan (Kami juga lebihkan darjat) sebahagian daripada datuk nenek mereka,
dan keturunan mereka, dan mereka, dan keturunan mereka, dan saudara-saudara
mereka; dan Kami telah pilih mereka, serta Kami tunjukkan mereka ke jalan yang
lurus. Yang demikian itu ialah petunjuk Allah, yang dengannya Ia memimpin
sesiapa yang dihendakiNya dari hamba-hambaNya; dan kalau mereka sekutukan
(Allah dengan sesuatu yang lain) nescaya gugurlah dari mereka, apa yang mereka
telah lakukan (dari amal-amal yang baik). 6-Hidayah daripada Allah SWT memerlukan penjelasan daripada Allah
SWT. Surah An-Nisa', ayat : 115. Dan sesiapa yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata
kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut jalan yang
lain dari jalan orang-orang yang beriman, Kami akan memberikannya kuasa untuk
melakukan (kesesatan) yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan
memasukkannya ke dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah
seburuk-buruk tempat kembali. 7-Hidayah akan mudah diterima jika tidak ada perkara yang
menghalang. Surah Al-Kahfi, ayat : 57. Dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang diberi ingat
dengan ayat-ayat Tuhannya, lalu ia berpaling daripadanya dan lupa akan apa yang
telah dilakukan oleh kedua tangannya; sesungguhnya (disebabkan bawaan mereka
yang buruk itu) Kami jadikan tutupan berlapis-lapis atas hati mereka,
menghalang mereka daripada memahaminya, dan (Kami jadikan) pada telinga mereka
penyumbat (yang menyebabkan mereka pekak). Dan jika engkau menyeru mereka
kepada petunjuk, maka dengan keadaan yang demikian, mereka tidak sekali-kali
akan beroleh hidayah petunjuk selama-lamanya. 8-Orang yang mendapat hidayah akan bertambah ketaqwaan atau perasaan
takut kepada Allah SWT. Surah Muhammad, ayat : 17. Dan (sebaliknya) orang-orang yang menerima petunjuk (ke jalan yang
benar), Allah menambahi mereka dengan hidayah petunjuk, serta memberi kepada
mereka (dorongan) untuk mereka bertaqwa. 9-Hidayah tidak akan diberikan kepada mereka yang memiliki sifat
zalim. Surah Al-Qasas, ayat : 50. Kemudian, kalau mereka tidak dapat menerima cabaranmu (wahai Muhammad),
maka ketahuilah, sesungguhnya mereka hanyalah menurut hawa nafsu mereka; dan
tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang menurut hawa nafsunya dengan
tidak berdasarkan hidayah petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak memberi
pimpinan kepada kaum yang zalim (yang berdegil dalam keingkarannya). 10-Tidak semua manusia yang akan mendapat Hidayah daripada Allah
SWT, hanya mereka yang dipilih oleh Allah SWT sahaja yang akan mendapat hidayah
daripada Allah SWT. Surah Al-An'am, ayat : 35. Dan jika perbuatan mereka berpaling (daripada menerima apa yang engkau
bawa wahai Muhammad) terasa amat berat kepadamu; maka sekiranya engkau sanggup
mencari satu lubang di bumi (untuk menembusi ke bawahnya) atau satu tangga
untuk naik ke langit, supaya engkau dapat bawakan mukjizat kepada mereka,
(cubalah lakukan jika engkau sanggup). Dan sekiranya Allah menghendaki,
tentulah ia himpunkan mereka atas hidayah petunjuk. (Tetapi Allah tidak
menghendakinya), oleh itu janganlah engkau menjadi dari orang-orang yang jahil. 11-Golongan mereka yang terpilih untuk mendapat hidayah Allah SWT.
Surah Al-A'raf ayat 178 dan Surah Al-Isra' ayat 97. Sesiapa yang diberi petunjuk oleh Allah (dengan sebab persediaannya)
maka dia lah yang beroleh petunjuk; dan sesiapa yang disesatkan oleh Allah
(dengan sebab keingkarannya) maka merekalah orang-orang yang rugi. Dan sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah maka dia lah yang
sebenar-benarnya berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya
maka engkau tidak sekali-kali akan mendapati bagi mereka, penolong-penolong
yang lain daripadaNya. Dan Kami akan himpunkan mereka pada hari kiamat (dengan
menyeret mereka masing-masing) atas mukanya, dalam keadaan buta, bisu dan
pekak; tempat kediaman mereka: neraka Jahannam; tiap-tiap kali malap julangan
apinya, Kami tambahi mereka dengan api yang menjulang-julang. 12-Golongan yang memperolehi pengajaran daripada kisah-kisah Nabi
serta kitab-kitab yang Allah SWT utuskan. Surah Al-Hadid ayat 26. Dan demi sesungguhnya! Kami telah mengutus Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim,
dan Kami jadikan pada keturunan keduanya orang-orang yang berpangkat Nabi dan
menerima Kitab-kitab ugama; maka sebahagian di antara mereka: orang yang
beroleh hidayah petunjuk, dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasik – derhaka 13-Golongan yang hatinya tidak tertawan dengan tawaran dunia yang
merugikan. Surah Al-Baqarah ayat 16. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan meninggalkan
petunjuk; maka tiadalah beruntung perniagaan mereka dan tidak pula mereka beroleh
petunjuk hidayah. 14-Golongan yang menyembah Allah SWT dan tidak mengikut hawa nafsu.
Surah Al-An'am ayat 65, 55 dan 56. Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran satu persatu (supaya
jelas jalan yang benar), dan supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa. Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah
mereka yang kamu sembah yang lain dari Allah". Katakanlah lagi: "Aku
tidak akan menurut hawa nafsu kamu, kerana kalau aku turut, sesungguhnya
sesatlah aku, dan tiadalah aku dari orang-orang yang mendapat hidayah
petunjuk". Katakanlah: "Dia lah yang berkuasa menghantar kepada kamu azab
seksa (bala bencana), dari sebelah atas kamu, atau dari bawah kaki kamu, atau
Ia menjadikan kamu bertentangan dan berpecah-belah – berpuak-puak, dan Ia
merasakan sebahagian daripada kamu akan perbuatan ganas dan kejam sebahagian
yang lain". Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat keterangan
(yang menunjukkan kebesaran Kami) dengan berbagai cara, supaya mereka
memahaminya. 15-Golongan yang tidak membunuh anak dan tidak menghalalkan apa yang
Allah SWT haramkan.Surah Al-An'am ayat 140. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka kerana
kebodohan, lagi tidak berpengetahuan (sedang Allah yang memberi rezeki kepada
sekalian makhluknya), dan juga (rugilah orang-orang yang) mengharamkan apa yang
telah dikurniakan oleh Allah kepada mereka, dengan berdusta terhadap Allah.
Sesungguhnya sesatlah mereka, dan tiadalah mereka mendapat petunjuk. 16-Bersedia dan redha dengan pemberian dan dugaan Allah SWT. Surah
Al-An'am ayat 82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan
kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan
merekalah orang-orang yang mendapat hidayah petunjuk. 17-Golongan yang tidak mengharapkan balasan sesama manusia. Surah
Yasin ayat 20 dan 21. Dan (semasa Rasul-rasul itu diancam), datanglah seorang lelaki dari
hujung bandar itu dengan berlari, lalu memberi nasihat dengan katanya:"
Wahai kaumku! Turutlah Rasul-rasul itu - "Turutlah orang-orang yang tidak meminta kapada kamu sesuatu
balasan, sedang mereka adalah orang-orang mandapat hidayah petunjuk".
مَّنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ
عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ
حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
"Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah(Allah), maka
sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang
siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya
sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami
tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (Surah Al-Isra 17: Ayat 15)
Bebaskan diri dengan syariat (baca betul-betul), bukan "dari
syariat" . Menjadi hamba Allah dengan erti kata sebenar... itulah hakikat
kemerdekaan diri kita. Dan untuk cuba menjelaskannya, mari kita ikuti tulisan
ini...
Seorang isteri memberitahu dia terpaksa menipu suaminya setiap kali ingin
balik kampung menziarahi orang tuanya. Menurutnya dia terpaksa berbuat demikian
kerana suaminya tidak berapa suka dia menemui kedua ibu-bapanya. Jadi, tidak
ada jalan lain baginya selain 'curi-curi' balik di belakang suami. Alasan yang
sering diberikan, kerja banyak di pejabat atau sekali-sekala terpaksa 'out
station'.
Cerita di atas saya dengar dari mulut seorang sahabat. Dan dia mendengar
luahan isteri itu menerusi radio dari sebuah stesyen yang diminati ramai. Saya
tanyakan padanya, bagaimana respon orang ramai yang mendengar? Beliau menjawab,
"hampir semua menyokong. Malah memberi galakan untuk dia terus berbuat
demikian."
Saya diam. Sekali imbas, memang patut siisteri berbuat demikian. Tetapi
kemudiannya, saya terfikir... logik kita tidak semestinya sama dengan syariat
Allah. Seringkali apa yang kita fikirkan patut, tidak patut pada pandangan
Allah.
Apabila dirujuk kepada syariat, apapun alasan dan hujahnya, dia tidak boleh
berbuat demikian. Walaupun tegahan suami patut atau tidak patut, ada alasan
atau semata-mata emosi, tetapi itu bukan alasan untuk siisteri mengengkari
suaminya. Isteri yang solehah akan mematuhi suaminya walaupun dengan kepatuhan
itu dia terpaksa membelakangkan ibu-bapanya. Walaupun kepatuhan itu tidak
menutup pintu perundingan, namun apabila suami membuat sesuatu keputusan maka
isteri wajib mematuhinya.
Moral kisah di atas ialah dalam apa juga keadaan, seorang Islam tidak boleh
memandai-mandai dalam membuat keputusan. Baik kita sebagai isteri, suami ,
pemimpin ataupun rakyat, wajib merujuk kepada syariat dalam setiap perlakuan,
keputusan dan pertimbangan. Percayalah pada setiap sekecil-kecil perkara hingga
kepada sebesar-besarnya, hukum syariat yang lima – wajib (halal), haram, sunat,
makruh dan harus sentiasa memantau kita.
Apakah sekecil-kecil perkara yang boleh dijadikan contoh? Katalah menguap.
Itu satu contoh yang sangat kecil, Bagi sesetengah orang menguap hanyalah soal
remeh. Tetapi sebenarnya tidak begitu. Menguap itupun tertakluk pada lima
hukum. Menguap boleh jadi wajib, boleh jadi haram, sunat, makruh atau harus.
Bagaimana ya?
• Menguap jadi wajib sekiranya dengan tidak menguap boleh memudaratkan tuan
punya badan. Katalah kita terlalu mengantuk... menguap adalah tindakan biologi
seseorang yang mengantuk. Tetapi oleh kerana kita malu (di khalayak ramai atau
di majlis-majlis tententu), kita menahan diri untuk menguap sehingga ke tahap
yang boleh memudaratkan (jatuh pengsan atau sakit kepala). Maka ketika itu
wajib kita menguap. Wajib ertinya, perlu menguap dan diberi pahala. Sekiranya
tidak menguap jatuh dosa.
• Menguap jatuh haram sekiranya kita pura-pura menguap untuk menyakitkan
hati orang lain. Katalah semasa mendengar satu ceramah, kita bosan dan benci
pada penceramahnya. Lalu kita pura-pura menguap untuk 'memberitahu' penceramah
kita benci atau bosan. Menguap ketika itu menjadi isyarat untuk 'menghalau'
atau menyuruh sipencermah sakit hati dan berhenti. Pada waktu itu menguap jatuh
haram. Dibuat berdosa, ditinggalkan berpahala.
• Menguap hukumnya sunat jika dilakukan mengikut sunnah Rasulullah, yakni
dengan menutup mulut dan membaca taawwuz . Kerika itu berdoa kelihatan sopan
dan tertib sekali. Bukan sahaja indah dipandang mata manusia, tetapi disukai
oleh Allah. Dengan menguap seperti itu, hukumnya sunat. Sangat digalakkan dan
diberi pahala.
• Menguap hukumnya harus dalam mana-mana posisi tubuh. Harus menguap dalam
keadan berdiri, duduk atau berbaring. Tidak semestinya menguap mesti dalam keadaan
duduk. Ertinya, boleh menguap dengan 'gaya bebas'. Harus hukumnya.
• Bila menguap jatuh makruh? Perbuatan makruh, walaupun tidak haram, tetapi
ntidak disukai Allah dan hodoh pada pandangan manusia. Menguap jatuh makruh
sekiranya dilakukan tanpa sopan misalnya membuka mulut lebar-lebar tanpa
menutupnya. Hingga dengan itu kelihatan begitu buruk dan cela dipandang orang.
Allah tidak suka cara menguap begitu. Kebencian Allah ke atas perkara-perkara
makruh, walaupun tidak berdosa tetapi elok sangat ditinggalkan. Malah, jika
ditinggalkan berpahala pula.
Ya, tujuan saya bukan untuk menjelaskan prinsip dan soal-soal kaedah menguap
sebenarnya. Tetapi apa yang ingin saya paparkan, sekiranya dalam soal
sekecil-kecil seperti menguap itupun ada lima hukum yang menyuluh, tegasnya da
kemungkinan mendapat pahala dan dosa, redha atau murka Allah... apalagi dalam
soal-soal yang lebih besar seperti soal makan-minum, berpakaian, mengatur
famili, mengatur sistem kewangan dan ekonomi, pendidikan, budaya, hiburan
hinggalah kepada urusan pentadbiran dan pemerintahan negara.
Anehnya, ramai manusia termasuk orang Islam masakini seolah-olah ingin lepas
bebas daripada syariat. Apa yang difikir, dipertimbangkan dan diputuskannya
tidak langsung dikaitkan dengan syariat. Semuanya berasaskan logik akal dan
dorongan emosi. Pada pendapat saya, pada hemat aku.... Begitulah yang kerap
kita dengar. Bila diperingatkan hidup mesti berpandukan syariat, tidak kurang
yang merasakan itu seolah-olah mengikat. Tidak merdeka. Ketinggalan zaman. Terlalu
ideal. Begitu sesetengah pihak membuat tanggapan.
Bebas daripada syariat, bererti bebas dariapada Allah. Dan bebas daripada
Allah bererti terikat dengan hawa nafsu. Hawa nafsu akan membawa kepada
kemusnahan diri dan orang lain. Bebas tapi terbabas. Kembali kepada cerita
isteri dan suami di awal tulisan ini... jika suami merujuk kepada syariat, dia
tidak akan 'sekejam' itu. Bukankah syariat menetapkan ibu dan bapa mertua
berkedudukan sama seperti ibu dan bapa kita kita sendiri? Seorang suami perlu
mentaati, mengasihi bahkan menyayangi ibu dan bapa mertuanya dengan sepenuh
hati. Berpandukan syariat sisuami tidak akan menjadi pemisah kasih-sayang anak
(isterinya) dengan bapa dan ibunya (ibu dan bapa mertuanya).
Berpandukan syariat juga, seorang isteri tidak boleh 'mencuri-curi'
menziarahi ibu-bapanya kerana membuat sesuatu tanpa izin suami (dalam konteks
ini keluar rumah) adalah haram hukumnya. Walaupun hati sangat ingin, tetapi
kawallah keinginan itu kerana Allah demi mematuhi suami. Ingatlah, ketika itu siisteri
bukan mematuhi suami secara membuta tuli, tetapi hakikatnya mematuhi Allah.
Ingatlah, kepatuhan kita kepada suami akan menjadikan kita isteri yang solehah,
dan isteri yang solehah akan dapat menyelamatkan kedua ibu-bapanya kerana itu
merupakan 'amal jariah' yang berterusan pahalanya untuk kedua ibu-bapa kita.
Pemikiran berasaskan Tauhid (Tauhidic Mindset) perlu ada pada setiap kita.
Bila pemikiran Tauhid ini kukuh secara otomatik kita akan merujuk kepada
syariat dalam apa jua kelakuan dan tindakan. Bila kita yakin Allah Maha
Bijaksana, tergamakkah kita mendahului 'kebijaksanan' kita dengan
membelakangkan kebijksanan-Nya? Bahkan kita akan sentiasa memastikan
kebijaksaan kita yang kecil dan kerdil ini tunduk kepada kebijaksanaan-Nya yang
tiada bandingan dan tandingan itu. Hati akan sentiasa terdetik, apa 'kata'
Allah dalam setiap situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi.
Seorang sahabat, pernah menghadiahkan saya sebuah buku 'Halal Dan Haram
Dalam Islam' karangan Dr. Yusuf Qaradhawi – dan saya merasa buku yang sarat
ayat Quran dan hadis itu sangat berguna sebagai teman rapat dalam kehidupan.
Menurut ulama, iman itu bukan sekadar kepercayaan dan keyakinan, tetapi
tindakan dan kepatuhan. Sungguhpun kekadang kita belum nampak 'hikmah' dan
kebaikan di sebalik hukum syariat – dan ketika itu hati kita bertanya, kenapa
begitu, tidak begini?
Yakinlah, bahawa saat itu sebenarnya akal kita 'tidak sampai' buat
menjangkau kejituan dan kemurnian syariat. Bukan syariat itu tidak indah,
tetapi akal dan hati kita yang rabun atau buta... seperti kelelawar yang tidak
dapat melihat pada waktu siang. Bukan siang yang tidak cerah, tetapi mata
kelawar yang tidak mampu menatapnya! Jadi setiap kali terasa begitu katakan
pada diri, "ya allah, aku tidak nampak lagi di mana hikmah-Mu menetapkan
demikian. Ilmuku yang terbatas tidak mampu menjangkau ilmu-Mu yang Maha Luas.
Tetapi aku tetap yakin... Engkau Maha Benar yang Allah. Syariat-Mu tetap benar,
betul dan baik." Ingat selalu, terikat dengan syariat itulah kemerdekaan
yang sebenarnya!
Kadangkala,
Kita terpaku mencari jawapan kehidupan,
Berlari dan terus berlari,
Mengharapkan penghujung yang sejati,
Tercungap-cungap mencari nafas ketenangan hakiki,
Lantas kita berhenti sebentar,
Refleksi diri yang kian gentar,
Bertanya semula kepada kalbu yg keletihan,
Apa yang engkau lari-larikan?
Apabila hakikatnya,
Kebahagiaanmu tersuluh di depan mata,
Kemuliaanmu terpancar hatta di celah-celah kota,
Walau dunia penuh pancaroba,
Dirimu sentiasa menanti masa,
Mencari, dan terus mencari.
...Kerdipan Yang Hilang...
Kilauan kerdipan mereka laksana bulan yang hadir pada malam hari, menerangi
seluruh pelosok dunia dengan kecantikan budi pekerti dan akhlak yang terpuji.
Ketika Allah menciptakan mereka, kesemuanya harus menjadi seorang yang
istimewa. Dikurniakan dengan bahu yang cukup kuat untuk menampung fatamorgana
dunia. Namun, harus cukup lembut untuk memberikan ketenangan dan kebahagiaan.
Meskipun dilitupi dengan 'selendang islami' dan hijab kemuliaan, mereka
dikurniakan Allah dengan kekuatan dalaman yang abadi, cukup kuat untuk
melahirkan anak dan menahan mehnah tribulasi yang seringkali datang daripada
anak itu..
Allah menguji mereka dengan kekerasan dan kesengsaraan agar dirinya tetap
tabah ketika orang lain sudah menyerah. Mengasuh keluarganya meskipun ditemani
dengan penat lelah yang tidak pernah henti walau sesaat.
Allah memberikan kefahaman dan sifat penyayang yang tinggi kepada mereka,
demi menahan kerenah anak-anak yang sering menyakitkan hati mereka, tetapi
tetap jua anak itu disayangi tanpa kurang walaupun sedikit.
Allah memberinya kekuatan untuk 'mendukung' suaminya yang dilanda kegagalan
dan kesusahan. Melengkapi 'tulang rusuk' kebahagiaan yang selama ini dicari.
Dikurniakan air mata untuk dititiskan. Namun, ramai yang tidak tahu,
titisan-titisan itulah yang telah banyak melahirkan 'lautan ibrah' yang luas
terbentang buat tatapan sanubari.
Itulah mereka. Insan-insan yang bergelar WANITA.
Kalianlah pencorak masa hadapan dunia. Tidak ada insan selain Nabi Adam yang
melihat dunia ini tanpa bermula daripada rahim seorang insan yang bergelar
wanita. Keluarkanlah nama-nama yang tersemat di lubuk pemikiran kita, hebat
ataupun tidak insan tersebut. Mereka semua melalui alam rahim yang sama seperti
kita semua, diasuh dan dijaga dengan penuh kasih sayang. Daripada saat kita
merangkak, berjalan sehinggalah mampu berlari, insan-insan ini tidak pernah
meninggalkan kita.
Maka, adakah sesiapa yang berani merendah-rendahkan kaum ini ?
Ya. Kita yang bergelar ar-rijal (lelaki).
Mengakulah betapa kesengsaraan akan menimpa dirimu tanpa belaian kasih dan
sayang daripada kaum yang bergelar wanita ini.
Mengakulah betapa hati-hatimu sentiasa teruji hatta hanya dengan mendengar
bingkisan suara mereka yang penuh kelunakan.
Sedangkan Adam sunyi tanpa Hawa. Apakah agaknya yang tiada di Syurga ?
Masihkah kita tidak ingin mengaku kehebatan mereka yang bisa melentur
peribadimu secara total?
Tetapi,
Mengapa golongan ini juga yang engkau permain-mainkan maruahnya?
Kenapa mereka juga yang engkau siul-siulkan di tengah jalan itu?
Kenapa srikandi-srikandi ini juga yang engkau rosakkan akhlak dan
peribadinya?
Diri kita fitrahnya dilahirkan sebagai seorang pemimpin. Untuk membimbing
kaum hawa ini satu obligasi, bukan ilusi.
Dirimu adalah Qowwamun (Pelindung) kepada wanita, bukannya perosak.
Mengajak mereka berdua-duaan di tempat gelap itu bukan 'melindungi' namanya.
Bicara manis dan romantis di telefon dan SMS itu pula hanyalah 'insuran'
palsumu. Sedangkan sijil nikahmu dengannya pun belum ada, betapa beraninya
dirimu mengatakan akan mendaki Gunung Everest dan merentas lautan api demi
meraih cintanya.
Cinta? Itu sesuatu yang agak panjang untuk kita bincangkan.
Apa yang penting, cinta kepada insan itu terletak pada pembentukan Baitul
Muslim mu. Bukan pada hubungan-hubungan palsu yang kita 'jaga' dan sanjungi
itu.
Cinta itu juga Islam. Maka, keadaannya perlulah Islam, pengakhirannya
perlulah Islam, bukannya disaluti dengan nafsu yang bergejolak.
Maka, bertanyalah semula kepada diri kita. Adakah kita sedang 'memimpin'
cinta kita ke arah syurga? Ataupun ke arah neraka?
Duhai dikau yang bergelar srikandi.
Dirimu pada dasarnya dicipta dengan penuh kemuliaan. Dikurniakan dengan
sesuatu yang mustahil dimiliki oleh ayah, adik, dan abangmu.
Ketahuilah betapa suara lunakmu bisa menggegarkan dunia.
Sedarilah betapa pandangan dan peribadimu melahirkan ibrah yang menggunung.
Dirimu begitu berharga sebagai penenang hati-hati yang sedang gundah gulana.
Dirimu lebih kuat daripada yang apa engkau sangkakan.
Sedangkan sebuah kerajaan pun boleh jatuh disebabkan seorang wanita. Apatah
lagi untuk menghancur-luluhkan kehidupan seorang lelaki yang berpenyakit
hatinya.
Engkau ibarat mawar yang berduri. Sentiasa berdiri menahan bayu cabaran yang
mendatang. Hatta kumbang datang untuk membinasa, duri dahanmu tetap bersedia,
tetap tidak pernah hilang harga diri, meski dipujuk dan dirayu oleh nafsu
sendiri. Melainkan syariat yang memberi.
'Facebook' dan blog itu bukan tempat manifestasi kecantikan paras rupamu.
Nilai maruahmu begitu tinggi untuk ditayangkan kepada yang bukan hak.
Jangan! Jangan digadaikan untuk sesuatu yang tidak setaraf dengan nilai
harga dirimu ya ukhti.
Kecantikanmu bukan pada paras rupa, tetapi lebih kepada akhlak dan
peribadimu yang suci itu.
Seorang wanita solehah dalam kalangan kalian itu hakikatnya lebih baik
daripada 70 orang lelaki soleh. Tidak hairanlah sekiranya dirimu mendapat
pengiktirafan 'sebaik-baik perhiasan dunia, adalah wanita yang solehah'.
Wanita solehah itu,
Teguh menjunjung syariat Allah. Dia tidak akan pernah membiarkan dirinya
menjadi busur panahan syaitan. Diperalatkan untuk mengumpan kaum Adam yang
kadangkala terlalu gopoh dengan hawa nafsu masing-masing.
Wanita solehah itu,
Sentiasa tenang jiwa sanubarinya. Mengingati Allah di saat suka dan duka.
Ya. Hatta diuji dengan ujian yang boleh sahaja membuatkan insan lain
tersungkur jatuh. Tetapi bukan engkau, kerana kelebihanmu terletak pada
ketenangan dan kesucian hatimu di sisi Allah SWT.
Betapa tingginya darjatmu di sisi Islam.
Betapa mulianya kedudukanmu di sisi para suami yang mencintaimu kelak.
Maka, mengapa perlu berfikir dua kali apabila Allah arahkan untuk menutup
aurat ya ukhti?
Mengapa perlu ditayangkan perhiasan-perhiasan yang tidak berhak dipandang
oleh lelaki-lelaki ajnabi itu ya ukhti?
Bukannya kalian tidak tahu..hati ar-rijal (lelaki) itu mudah sahaja bergetar
melihat diri kalian semua. Mencari kesempatan yang kini ada daripada kalian
yang memberinya dengan mudah. Kemudian terlahirlah pelbagai kemaksiatan yang
bertunjangkan kepada satu masalah keimanan kita kepada Allah SWT.
Pandangan Allah ataupun pandangan manusia. yang mana satukah agaknya
prioriti utama yang kita jadikan sebagai pemandu tindak laku kita di dunia ini?
Wahai srikandi-srikandi syurga.
Bukanlah artis-artis dunia yang menjadi idola kalian.
Bukan juga yang terlari daripada landasan matlamat yang hakiki.
Kalian menjadi sayap kiri kepada kebangkitan Islam di dunia ini,
bersama-sama berjuang dengan para Muslimin.
Sejarah mencatatkan banyak jejak-jejak srikandi yang begitu tabah lagi halus
peribadinya. Mengapa bukan mereka yang menjadi contoh ikutan utama?
Sesetengah orang pernah berkata, sejarah itu ibarat pentas bermain wayang.
Dibaca dan kemudian diulang, dan diulang, dan diulang. Berapa kali
pengulangankah agaknya yang diperlukan oleh diri kita untuk menyedari kehebatan
para mujahidah Islam dahulu kala?
Kesetiaan pengorbanan Siti Khadijah Binti Khuwailid hampir lupus dek zaman
'futuristik' muda-mudi.
Kebijaksanaan Aisyah Binti Abu Bakar seolah-olah sesuatu yang benar-benar
luar biasa bagi kita semua.
Ketabahan Fatimah, Mashitah dan Siti Hajar pula nampaknya hanya dipelajari
dengan titisan air mata. Kesayuan dan kesedihan yang selalu tidak mempunyai
penyusulan.
Ya ukhti.
Sumayyah mengukir sejarah kerana kemantapan akidahnya kepada Allah SWT,
meskipun pada saat itu Islam belum lagi melakar dua pertiga dunia. Tetapi kisah
dirinya benar-benar membuatkan kita sebak.
Kita pula? Apa sejarah yang ingin kita lukiskan dalam kehidupan kita ini?
Kita tahu dan kita percaya. Tidak mustahil untuk kita membentuk semula
peribadi insan-insan yang luar biasa ini. Cuma persoalannya, siapa?
Tidak kira yang lelaki mahupun wanita. Kita wajar mencontohi kehebatan
mujahidah-mujahidah islam ini dengan mengambil ibrah daripada lembaran
perjuangan mereka yang tidak pernah gentar menghadapi musuh, kerana diri
merekalah contoh wanita solehah yang terbaik buat kita semua.
Merekalah...
Kerdipan yang hilang itu.
Ya Rijal dan Nissa.
Janganlah kita biarkan kerdipan itu pergi begitu sahaja. Carilah kilauannya
yang terang itu. Kesemuanya sudah tersuluh, cuma menunggu masa untuk kita
memakai 'kaca mata' iman dan Islam kita.
Marilah kita sama-sama menukar paradigma kita. Meletakkan sesuatu itu di
landasan yang hakiki, lantas mampu membuat keputusan dengan minda yang mustanir
(cemerlang). Insya Allah, suatu masa nanti, pasti kerdipan yang hilang itu akan
kembali menerangi kegelapan dunia. " Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-Nya dan
rahmat-Nya, bahawa Ia menciptakan untuk kamu (wahai kaum lelaki), isteri-isteri
dari jenis kamu sendiri, supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya,
dan dijadikan-Nya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas
kasihan".(Ar-Rum 30:21)
Ada yang bertanya mengapa diri tertanya-tanya juga, kenapa cinta selepas
kahwin (yang usianya telah bertahun-tahun) tidak sehangat dulu. Dulu, berpisah
terasa rindu... tetapi kini lain sekali. Walaupun masih ada rasa rindu, tetapi
tidak lagi sehangat dulu. Rinxdu itukan buah cinta, jika tidak ada rindu
ertinya tidak ada buah cinta. Cinta yang tidak berbuah, tentulah cinta yang
layu!
Bila berjauhan, ada juga berkirim sms, tetapi tidaklah sekerap dulu. Sekadar
bertanya, apa khabar di sana? Macam mana anak-anak? Atau sekadar minta doanya.
Tidak ada lagi kalimah cinta berbunga-bunga. Atau pujuk rayu yang sayu-sayu.
Ah, biasa-biasa sahaja.
Betulkah selagi cinta itu diburu, ia akan indah. Tetapi bila ia telah
dimiliki, keindahannya akan pudar sedikit demi sedikit. Kata orang tua dahulu,
bila jauh (masih belum dimiliki) berbau bunga, bila dekat (sudah hari-hari di
sisi) keharumannya tiada lagi. Ah, begitukah adat dunia?
Kata sesetengah lelaki (entah species mana), wanita kelihatan cantik selagi
tidak menjadi isteri kita. Setelah menjadi isteri, kecantikannya akan hilang.
Jika semua lelaki berpandangan begitu, rosaklah dunia. Ini semua gara-gara
nafsu yang tidak pernah puas dengan apa yang ada. Kehendaknya tidak terbatas.
Kerenahnya tidak kenal puas. Melayani nafsu bagai meminum air laut, semakin
diminum semakin haus.
Kata orang itulah sebabnya lelaki berpoligami. Dia tidak cukup dengan satu.
Hujjah itu salah sama sekali. Jika lelaki itu rakus nafsu, bukan setakat dua,
tiga dan empat, bahkan lima, enam, tujuh wanita sekalipun dia tidak akan pernah
puas. Lihat sahaja Tiger Woods yang mengaku berselingkuh dengan 120 wanita!
Poligami bukan untuk maladeni (melayan) nafsu lelaki ini , tetapi kerana ada
hikmah lain yang lebih murni.
Kita tinggalkan lelaki yang bersifat 'jantan' itu. Mari kita bicarakan soal
wanita pula. Wanita yang telah menjadi isteripun ada salahnya. Selepas sahaja
dia bergelar isteri, semuanya menjadi terlalu 'murah'. Tidak semahal seperti
sebelum kahwin dahulu. Malunya sudah kurang. Tidak pandai 'jual mahal' untuk
mendapat perhatian suami.
Jika dulu puas berbedak, berhias sebelum bertemu suami, setelah berkahwin
lain pula ceritanya. Bau badan tidak dijaga, asyik 'mendedah aurat' (maksudnya
berpakaian tidak sempurna) tanpa mengira masa dan tempat. Bila setiap masa
terdedah, di mana indahnya? Ingat selalu, seni memikat hati suami. Apa salahnya
menggoda suami sendiri?
Kalau dahulu suapan makanan pun dijaga, dibuat penuh tertib dan kecil-kecil.
Menguyah makanan pun tidak kedengaran bunyinya. Sunggup sopan, persis gadis
pingitan. Maaf, lepas beberapa bulan berkahwin, kesopanan dan ketertiban itu
semakin mengurang. Cara duduk, tidak dijaga lagi. Menguap tanpa menutup mulut.
Suaranya... tidak semerdu, ketawa, ha.. ha.. ha.. berdekah-dekah. Mana hilang
malunya?
Jangan terkejut jika kita 'menjual' terlalu murah, orang akan meragui
kualitinya. Suami akan berhenti 'memburu' anda jika anda terlalu jinak dan murah.
Ini bukan bermaksud untuk mendorong anda menjadi terlalu liar atau terlalu
mahal... tetapi belajarlah malu-malu seperti mula-mula kahwin dahulu.
Insya-Allah, suami anda akan menjadi pemburu yang merancang seribu satu taktik
dan strategi untuk memikat dan mendapatkan kasih-sayang anda. Biar dia menjadi
pemburu cinta mu!
Jika isteri berjaya mengekalkan rasa malu, dia akan dapat mengekalkan sifat,
kelakuan dan personaliti yang menarik perhatian suami. Dia akan dirindui bila
jauh, akan disayangi bila dekat. Dia dilihat cantik sebelum bergelar isteri dan
akan menjadi lebih cantik selepas itu. Sesungguhnya, malu itu satu perhiasan
dalaman sama seperti permata yang menjadi hiasan luaran.
Ya, seperti permata. Ia selalu disimpan dalam bekas yang cantik. Diletakkan
dalam almari dan dikunci. Hanya sekali-sekali dibuka dan untuk orang yang
tertentu sahaja. Permata tidak dipamerkan merata-rata atau dibiarkan terdedah
sentiasa. Jika terdedah sentiasa, itu bukan permata, itu hanya kaca. Maka
begitulah dengan malu. Ia akan mendorong siisteri mengekalkan keanggunan,
perhiasan diri dan kejelitaannya.
Belajarlah dari bulan mengambang. Bulan hanya mengambang sekali-sekala...
Bulan tidak mengambang setiap malam... kerana dengan mengambang sekali-sekala
itulah pungguk jadi perindu, manusia tertunggu-tunggu. Begitulah isteri yang
masih malu, suami akan menjadi perindu.
Bagaimana pula gaya seorang perindu? Ah, memburu cinta perlu bergaya. Jika
yang diburu itu indah, yang memburu juga akan memperindahkan dirinya. Kita
tidak akan menyentuh permata dengan tangan yang kotor. Kita tidak akan tega
mengusapnya dengan tangan yang berbau. Yang indah perlu disentuh dengan yang
indah jua. Yang harum perlu ditantang dengan yang harum juga.
Jadi bagaimana? Ya, bukan untuk para isteri sahaja, untuk suami juga perlu
ada malunya. Jika anda inginkan isteri anda berhias, anda bagaimana? Tegakah
kita asyik berkain pelikat, berbaju T dengan perut 'boroi', rambut kusut tak
bersikat tetapi mengharap isteri tampil sebagai ratu untuk melayan kita? Maaf, kalau
itulah 'umpannya' anda akan dapat 'ikan' yang begitu juga.
Ingat selalu hukum pantulan, apa yang kita berikan akan kita terima semula
sebagai balasan. Jika buruk yang kita tampilkan, maka yang buruk juga akan
datang sebagai balasan. Begitulah juga dengan hukum tarikan, yang baik akan
menarik yang baik, yang cantik akan menarik yang cantik.
Suami inginkan isteri berubah, tetapi kenapa anda berada ditakuk lama juga?
Ingat, perubahan andalah yang akan merubah orang lain. Ubahlah penampilan diri.
Kalau isteri jadi penggoda, anda harus jadi pemikat. Bagaimana ya? Jangan tanya
bagaimana, jika kita sudah ada kemahuan. Kemahuan akan menyebabkan anda
memperoleh pelbagai cara. Kata orang, dunia akan menyediakan jalan kepada orang
yang mempunyai tujuan.
Jadi, bertanyalah dengan diri, mana minyak wangi yang menjadi daya pemikat
isteri waktu mula bertemu dahulu? Mana kata-kata manis yang menjadi madah cinta
waktu bercanda dulu? Mana wajah prihatin, muka simpati dan empati serta
senyuman yang ikhlas ketika mula-mula bersama dulu? Carilah, kita tidak terlalu
tua untuk itu. Apakah ada had usia untuk melakukan suatu kebaikan?
Usahakan semula segalanya dengan membina semula rasa malu. Dan ingat bahawa
rasa malu itu ada kaitan dengan iman. Iman dan malu lazim berlaziman. Jika
terangkat iman, terangkatlah juga rasa malu. Sebab itu kata hukama, "bila
kau hilang malu lakukanlah segalanya." Maksudnya, bila rasa malu hilang,
kita tidak akan fikir haram dan halal lagi... semuanya dilanggar tanpa
segan-silu lagi. Antara ciri isteri yang solehah ialah isteri yang mengekal
rasa malunya terhadap suami sehingga hidung suami tidak mencium sesuatu yang
busuk dan mata suami tidak akan terpandang sesuatu yang buruk padanya.
Ya, diantara perbezaan insan dengan haiwan, selain insan punya fikiran ialah
rasa malu. Malu itu sesuatu yang sangat berharga, ia adalah perhiasan di depan
orang yang kita sayangi. Bahkan dalam Islam, malu dan iman sering disinonimkan.
Ertinya, untuk mencari semula rasa yang malu yang dulu, samalah seperti
menyusur semula jalan iman. Jika kita temui iman, maka secara automatik akan
ada rasa malu.
Rasulullah SAW sendiri sangat menghargai sifat malu. Sehinggakan baginda
akan berhias dan bersedia lebih daripada kebiasaannya apabila Sayidina Usman
datang menemuyinya. Kenapa? Ini kerana sayidina Usman adalah seorang sahabat
yang begitu terkenal dengan sopan santun dan malunya.
Inilah malu yang bertempat dan tepat pula masanya. Justeru, suburlah rasa
cinta dalam rumah-tangga dengan menyuburkan semula rasa malu.
Dia pahlawan yang dimuliakan wajahnya
Dia puteri dari zuriat yang mulia
Ali pewaris keberanian dan kebenaran
Fatimah titipan kesabaran dan kesucian
Persandingan itu...
di pelamin kemiskinan
Fatimah...
Puteri terpuji, isteri teruji,
Suami di medan jihad,
Kau bermandi keringat,
Jauh-jauh mencari air...di padang pasir
Disengat sinar mentari,
Sedikit pun tidak kau kesali,
Untuk suami, kerana Ilahi.
Ali...
Pahlawan unggul, ilmuan tersohor,
Syair setajam senjata,
Gagah sekukuh kota,
Kau kunci gedung nubuwwah,
Kau fakir yang pemurah,
Kau wira di sebalik selimut hijrah,
Berkorban nyawa untuk Rasulullah.
Ali dan Fatimah...
Subuh itu mereka berdua bertemu Nabi,
Lalu diluahkan ketandusan upaya,
Betapa tenaga seakan tak mampu lagi,
Untuk menanggung beban keluarga,
Sudilah kiranya dihadiahkan seorang sahaya.
Tersenyum Rasulullah mendengar rintihan,
Lalu diberikan zikir sebagai gantian,
Tiga kalimat sarat keberkatan,
Subhannallah, Alhamdulillah, Alllah hu Akbar,
Lalu esoknya mereka datang lagi...
Bersama satu kelapangan dan kekayaan hati,
Cukuplah kami tak perlu apa-apa lagi!
Mereka miskin harta tapi kaya jiwa,
Sering berpisah tapi tak gundah,
Mereka bercinta kerana Allah.
Indahnya mempelai di pelamin kemiskinan,
Bila bersanding dua kemuliaan..
Seorang lelaki bergelar karamallahuwajhah,
seorang wanita yang az zahrah!
Pada Hari Raya Aidil Adha yang lalu, isteri saya tidak memasak hidangan di pagi
raya kerana untuk kali ini, kami inginkan dia bersama-sama bersolat di masjid
berhampiran. Mudah-mudahan dia dapat menghayati keseronokan suasananya. Tidak
perlu sibuk-sibuk mengacau lodeh atau menghiris ketupat sebagai juadah di meja
hingga terkocoh-kacah ke masjid.
Belum pun jam 9.00 pagi, solat dan khutbah sudah selesai. Kami terus
berkunjung ke restoran mamak. Mudah-mudahan ada beriyani ayam atau kambing yang
terhidang buat santapan kami di pagi itu. Namun kesemua restoran mamak tidak
membuka perniagaan. Kalau restoran mamak tidak dibuka, kami tidak berharap ada
restoran Melayu yang berniaga pada hari raya. Kisah di restoran
Setelah puas berpusing-pusing mencari kedai makan, kami singgah ke sebuah
restoran makanan segera. Tidak ramai pengunjung kelihatan di situ melainkan
tiga meja dipenuhi dengan pelanggan. Tetapi apabila saya melangkah ke kaunter,
saya dapati hanya satu kaunter sahaja yang dibuka kerana hanya ada seorang
sahaja petugas. Cepat-cepat saya berbaris di belakang tiga orang pelanggan. Tidak
sampai seminit, ada tiga orang pelanggan lagi di belakang saya.
Hangat hati mula terasa. 'Kenapa hanya ada seorang petugas di restoran
antarabangsa ini? Mana yang lain? Mengapa pengurus membenarkan mereka bercuti?
Bukankah pada hari cuti umumlah lebih ramai para pengunjung yang akan datang
menjamu selera?'
'Mengapa gadis yang bertugas lambat sangat melayani pelanggan di hadapannya?
Dua lagi pelanggan di hadapan tentu akan membuat pesanan untuk
sekurang-kurangnya 3-4 orang. Kalau seorang pelanggan mengambil masa lima
minit, tentu dua orang akan mengambil masa 10 minit. Wah! Lama sangat, tu!'
Hati saya mengarang cerita yang tak tentu fasal akibat naik darah.
Belum pun lima minit terpacak menanti giliran membuat pesanan, dua orang
wanita muncul dari arah tempat duduk lalu terus menghimpit ke kaunter. Mereka
adalah ibu dan anak berdasarkan wajah mereka yang serupa. Air muka mereka
kelihatan keruh.
Si ibu terus membebel. Leterannya disambut oleh si anak. Saya mengagak yang
mereka tidak puas hati dengan kelewatan mendapat pesanan setelah lama menanti.
Sesekali saya terdengar perkataan 'perkhidmatan pelanggan' disebut-sebut oleh
si ibu. Kata-kata itu disahut oleh si anak yang tidak kurang becoknya. Dalam
diam, saya mengiyakan kata-kata mereka. Memang sepatutnya petugas itu
dibahasakan. Pengurus restoran ini patut meletak jawatan!
Saya nampak si gadis yang bertugas mula hilang seri senyumannya. Malah,
wajahnya sudah mencebir akibat dileteri. Kalau saya memakai kaca mata ketika
itu, pasti saya nampak air mata yang bertakung di tubir matanya. Dia hampir
menjerit meminta rakannya di dapur segera menyiapkan pesanan. Dan, dari tempat
saya berdiri, saya nampak hanya seorang sahaja petugas yang menjadi tukang
masak di dapur.
'Alahai, kasihannya mereka.' Detik hati saya. 'Apa kata kalau gadis itu
adalah anak saya?'
Tiba-tiba, saya mula berasa kasihan terhadap kami semua sebagai pelanggan
kerana menyombong lalu berpegang pada prinsip the customer is always right
pada waktu sebegitu. Kasihan kerana kami marah pada sesuatu yang tidak akan
mengubah keadaan. Kami tetap akan lambat menerima pesanan kerana kurangnya
kakitangan yang bertugas. Lainlah jika kami bersingsing lengan dan turun ke
dapur untuk memasak sendiri pesanan! Sombong dan meyombong
Menyombong, bukannya sombong. Sombong adalah sikap kekal yang sebati dalam
diri seseorang, sementara menyombong hanyalah lakonan. Kita selalu berlakon
membawa watak orang yang sombong. Beraksi sombong untuk mempertahankan hak atau
kehendak kita. Menyombong kerana mempunyai persepsi, orang lain tidak boleh
memperkotak-katikkan kita kalau mempamerkan wajah serius dengan cebik bibir dan
suara yang mendatar.
Sebab itu di jalanraya, ada di antara kita menyombong dengan tidak
mengangkat tangan pun kepada pemandu di belakang bila hendak berpindah ke
lorongnya. Tidak mahu kelihatan toya kerana berlemah-lembut. Menyombong kerana
takut dihon oleh pemandu itu kalau kita berperangai molek. Di kompleks
membeli-belah, apabila adik promosi telefon bimbit tampil menghulur brosur,
kita buat-buat tak nampak akan kehadirannya. Menyombong kerana takut termakan
ayat-ayatnya lalu terbeli telefon bimbit ketiga.
Pendek kata, bila kita berdepan dengan seseorang yang tidak kita kenali,
maka lakonan sombong itu kita pamerkan sebagai defense mechanism atau
mekanisme pertahanan agar orang lain segan dengan kita. Soalnya, mengapa kita
defensif dengan menyombongkan diri? Ia berpunca daripada pengalaman-pengalaman
buruk yang pernah kita alami.
Pengalaman dipermain, diperlekeh atau ditipu menjadikan kita lebih
berprasangka terhadap seseorang yang baru dikenali. Su'u dzan, atau
bersangka buruk terhadap seseorang akan menjadikan kita serik untuk membuka
hati dan perasaan dengan mudah. Kita sanggup berperangai bengis dan berhati
kering supaya orang yang berdepan dengan kita tidak berpeluang memanipulasi
diri kita.
Memilih sikap menyombongkan diri sebagai cara kita berhati-hati ini
sememangnya bagus. Tetapi, apabila lakonan ini sebati di dalam diri, ia sudah
menjadi karektor. Apabila ia menjadi karektor, ia adalah peribadi diri. Kerana
ia bukan lagi lakonan untuk menyombong, ia sudah menjelma sebagai sikap sombong
diri. Topeng sudah melekat menjadi kulit wajah!
Kita tidak akan sedar dengan sikap buruk ini kerana setiap kali bercermin,
kita akan lihat diri kita yang sama, iaitu yang baik dan elok. Sedangkan, bila
orang lain melihat kita, mereka nampak diri kita yang hodoh. Ketika itu,
meskipun kita berasa diri kita hanya berlakon sombong, sebenarnya orang lain
yang melihat akan nampak diri kita yang benar-benar sombong kerana kita sudah
menjiwai watak buruk itu. Justeru itu, kita perlu mengamalkan sikap husnul
dzan atau bersangka baik bila berdepan dengan orang lain,
kerana ia akan memulihkan kita daripada penyakit yang tumbuh akibat terlalu
bersandiwara di pentas dunia!
Hatiku resah,
Melihat sekuntum mawar hilang serinya,
Layunya dipetik tangan-tangan nakal,
Dikasari dengan kejam,
Adakah layaknya layanan seperti itu kepadamu?
Namun, adakah itu salah tangan-tangan yang memetikmu,
Atau dirimu terlalu mekar indah di taman,
Sehingga membangkitkan nafsu yang melihat. Mawarku, Tintaku tiada hentinya di sini, Kau terlalu cantik, Sehingga Allah menurunkan wahyu kepadamu, An Nisa' menjadi saksi peraturan kepadamu, Bahawa dirimu berhak dilindungi lelaki soleh. Mawarku,
Usah kau pamerkan perhiasaanmu,
Usah kau megahkan kecantikanmu,
Kerana dirimu sememangnya perhiasaan dunia,
Setiap inci tubuhmu bakal menjadi santapan durjana,
Sekiranya kau biarkan kecantikan dirimu terdedah. Mawarku, Biarlah kau umpama mutiara terlindung, Hanya dimiliki oleh insan yang ditakdirkan olehNya, Allah itu adil dan saksama, Walaupun kau insan lemah, Namun imanmu jangan dibiarkan lemah. Mawarku,
Jangan biarkan kelopakmu gugur menyembah bumi,
Lindungilah dirimu dengan shauqahmu,
Balutilah dirimu dengan sifat malu,
Jagalah akhlak dan imanmu,
Peganglah pada prinsip yang satu Innallahhama'ana..