Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Minggu, 10 April 2011

Perjalanan Dunia Destinasi Akhirat


Kehidupan dunia adalah sementara yang merupakan persinggahan yang pasti dilalui. Dunia ibarat lapangan peperiksaan kita selepas menempuh satu pengajian yang lama ketika berada di alam roh dan rahim. Peperiksaan ini harus ditempuhi sama ada kita bersedia atau sebaliknya.
Bagi mereka yang peka dan tahu apa yang harus dilakukan, semestinya telah membuat persediaan rapi dari awalnya lagi, agar setiap jawapan yang dicoret akan menghasilkan nilai yang tinggi, dan seterusnya mendapat tempat di menara gading iaitu Syurga.
Aturlah kehidupan dari sekarang, jangan terlopong kekosongan antara liang-liang usia meninggalkan bekas kekotoran akibat perbuatan tangan sendiri. Degil kekotoran sukar dibasuh, apatah lagi menanggalkan jejaknya.
Kadang-kadang terasa lemah, dan rasa tidak bermakna untuk menyampai dan mengajak kepada kebaikan, kerana dirasakan kita tidak mampu mengubah apa-apa, sedangkan perubahan tersebut bukannya sekejap, tapi kadang-kadang memakan masa bertahun-tahun.
Manusia yang bertemu Allah swt dengan membawa hati yang sejahtera adalah manusia yang mempersembahkan pita rakaman kepada segala ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah swt semasa menunaikan kewajipan hidup di dunia. Kejayaan di dunia hanya sebuah perjalanan, bukannya destinasi abadi kita. Carilah Dia.
Bagaimanakah Caranya?
Ilmu Tauhid adalah ilmu mengenal Allah swt. Dengan memahami ilmu sains, kefahaman kita kepada Allah swt akan menjadi lebih berkesan, sebagaimana contoh orang purba pun pandai membuat rumah, tetapi dengan sains dan teknologi, teknik membuat rumah menjadi lebih berkesan dan menghasilkan rumah yang jauh lebih baik. Kalau pemikiran kita terbuka kepada manhaj ilmu sains (akal rational), insha-Allah, kewujudan Allah swt akan menjadi lebih bermakna pada kita sebagai muslim dan mukmin.
Kesubjektifan sesuatu perkara diukur dari pengetahuan asal dan pengalaman yang telah dilalui oleh seseorang. Sebagaimana Allah swt mengajar Nabi Nuh as supaya berdoa memohon daripada meminta sesuatu yang tidak diketahui kesan dan akibatnya, begitu juga kita perlu kembalikan pengharapan bagi proses mencerahkan pemahaman agama kita kepada Allah swt. Sudah terang lagi bersuluh, jika Allah swt mahukan kebaikan ke atas seseorang itu, maka akan Allah swt berikan kefaqihan dan kesahihan dalam beragama.
Analoginya, kita melatih kanak-kanak secara perlahan (gradual proses) untuk memahami sesuatu. Berkembangnya pemikiran kanak-kanak bermakna dia mendapat penambahbaikan dari segi pemahaman pada kehidupan. Kiranya kita boleh berinteraksi dengan situasi itu, maka adalah sama situasinya dengan kemajuan untuk mengenal Allah swt, bagi orang dewasa. Ia bekembang dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi, dengan syarat, ada keterbukaan orang yang beranggapan itu.
Kalau dilihat sebagai 'instruction manual', penulis kira kesemua sistem ini akan menerangkan bagaimana hendak mendapatkan manfaat terbaik dari sesuatu, iaitu dengan mengenalnya dan menggunakannya. Apabila telah mengenalnya barulah timbul rasa hormat dan kemahuan menjaga mengikut panduan yang diberikan. Oleh itu tujuan hidup lebih kepada mengenal-Nya dan kemudian mengabdikan diri kepada-Nya setelah mengenal.
Awal agama itu ialah mengenal Tuhan. Islam adalah agama wahyu. Bukan berlandaskan rasional akal dan kajian saintifik semata-mata, namun Islam amat menggalakkan penganutnya menggunakan seluruh anugerah akal demi membangunkan tamadun manusia.
Ilmu dan pengetahuan menjadikan Adam terpilih untuk memimpin bumi ciptaan Allah. Faqih dalam agama adalah asas dan tunjang, juga bertindak sebagai pengawal kepada gelojohnya nafsu dan pemikiran yang tersasar.
Muhasabah
Sibukkanlah diri dengan amal yang memberi saham kepada kita, usah dikira habuannya di dunia, lebih penting menjadi baucer kita bertemu Tuhan di destinasi terakhir kelak, yaumul akhirah. Tiada pelaburan yang lebih baik berbanding pelaburan akhirat. Allah swt berfirman yang bermaksud:
"Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya. Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta kamu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui" (As-Saff,61:10-11)


Anak Sekecil itu, Berkelahi Dengan Waktu


Matahari masih tampak unjuk gigi disore terik nan cerah ini. Semilir angin berhembus sepoi- sepoi dari candela kamarku. Merayu mataku untuk terpejam sementara waktu. Apalagi posisi candela kamarku berhadapan dengan pohon- pohon bambu. Tapi rayuan itu tak aku tanggapi, karena aku harus berburu dengan waktu di jam belajarku ini. Hanyalah waktu ini yang aku punya untuk belajar pelajaran sekolah, antara jam 14.00 sampai jam 16.00 wib.

Umurku 9 tahun, dan aku sekarang duduk di bangku kelas tiga SD. Jadi, masuk sekolah mulai jam 07.00 berakhir jam 13.00 wib, hanya ada waktu satu jam untuk kubuat istirahat. Setelah jam belajar usai, kehidupan malamku pun dimulai.

@@@

“tang,…tatang” panggil ibuku dari dapur..
“ya buuu, aku segera membantu” sahutku sekenanya. Karena sudah jam 16.00, aku harus membantu mencari nafkah bapak ibuku. Demi sekolahku dan demi sesuap nasi buat keluargaku.
“mentimun dan terongnya dikupas, cuci dan tiriskan. Jangan lupa sayur kulbis dan kemanginya juga, untuk timun dan terongnya, kamu potong dan taruh di ember plastic”perintah ibuku.

Ku melakukan instruksi yang dikatakan ibu. Terkadang, pisaupun melukai tanganku. Mungkin aku kurang hati- hati, ataupun mengantug. Setelah usai, seperti biasanya aku menata piring, mangkok dan gelas ke keranjang. Dan kutaruh alat- alat makan itu kedalam gerobak dorong.

Sementara ibu memasak nasi dan mengukus bebek serta ayam sejak tadi siang, bapakku mempersiapkan tenda lipat yang terbuat dari terpal. Bapak ibuku adalah pedagang makanan, yang membuka stand mulai jam 17.00 sampai jam 24.00, tapi kalu sudah habis sebelum jam itu, kamipun bisa pulang.

@@@

Pukul 16.30 aku dan ayahku berangkat sambil mendorong gerobak yang berisi perlengkapan dagangan kami. Tempat mangkal kami terletak di terminal condongcatur, sleman. Aku membantu mendirikan tenda, walaupun hanya bertugas menarik terpal dan mengikat talinya. Dalam kurun waktu 30 menit, tenda kamipun sudah siap pakai. Berbagai macam hidanganpun sudah kami sajikan diatas meja gerobak, ku tata piring, gelas dan mangkuk di rak sebelah gerobak, agar memudahkan ibu jika melayani para pembeli nanti.

Hidangan yang kami sajikan terdiri dari, nasi putih biasa, nasi uduk, tahu, tempe, lele, ayam, bebek, nila, dan bawal. Ditambah terong dan mentimun. Semua itu dibeli bapak dari pasar tadi pagi, jadi semua menu masih fresh. Itulah mengapa warung makan kami selalu laris.

Setelah semua beres, kamipun tinggal menunggu pembeli. Aku bertugas menerima tamu, mempersilahkan duduk, memberikan kertas dan pena agar pembeli yang mau pesan bisa menuliskan di kertas, makanan dan minuman apa yang mau di pesan. Setelah aku dapat pesanan makanan, kertas tadi aku serahkan ke ibu. Karena ibu bertugas mengambilkan nasi dan mengulak sambal. Kertas tadipun di taruh disamping ibu biar bapak bisa melihat pesanannya. Karena bapak mempunyai tugas mencuci lele, nila ataupun bawal serta menggorengnya. Kalau jenis bebek dan ayam tidak perlu dicuci, karena sudah dikukus oleh ibu ketika dirumah. Jadi, jika ada yang pesan tinggal menggorengnya saja.

Selain bertugas dalam pelayanan pembeli, aku juga mempunyai tanggung jawab membersihkan bekas- bekas para tamu, mulai dari piring, mangkuk, gelas yang telah kotor dan mencucinya. Terkadang, aku menemukan pembeli yang super jorok dan gak punya hati sama makanan. Makanan yang mereka makan berceceran dismpingnya piring. Hal ini yang membuatku tidak suka, karena susah untuk membersihkannya. Karena tempat warung kami ini lesehan dan menggunakan tikar sebagai lantainya.

Tidak jarang ibu memarahiku gara- gara aku salah memberi minuman atau nasi yang bukan pada pemesannya. Biasanya hal itu terjadi ketika aku sudah ngantug. Aku antar saja pesanan ke pembeli tanpa melihat kertas yang tercantum pesanan mereka. Begitulah rutinitasku setiap malam. Jam tidurku tidak seperti anak- anak seusiaku. Seusai membantu orang tuaku membereskan barang dagangan, akupun lekas pulang. Tak begitu lama setelah menaruh kepala diatas bantal, akupun langsung terlelap. Mungkin hanya hitungan detik. Factor capek, letih, lelah dan kantuk adalah penyebabnya. Akupun harus bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ibu mencuci peralatan masak yang kami gunakan tadi malam sebelum berangkat sekolah.

Dengan sekolah ini, aku berjanji pada diriku untuk merubah kehidupan kami menjadi lebih baik. Suatu saat nanti jika aku sudah sukses, aku akan membuatkan rumah makan yang permanent untuk bapak ibuku. Mereka tidak usah bekerja, hanya memantau saja karena sudah mempunyai karyawan.


NB:kisah ini dibuat oleh penulis karena terinspirasi ketika makan malam di terminal condong catur  dua jam yang lalu. penulis bertemu dengan seoarang anak kecil yang usianya sekitar 9 tahun dan membantu bapaknya berjualan di terminal condong catur. Penulis melihat wjah si bocah ini melas banget ketika dimarahi ibunya karena memberikan nasi uduk ke pembeli yang pesan nasi putih biasa..sungguh kasian anak kecil itu, dijam istirahatnya, ia harus berkelahi dengan waktu demi perjuangan hidup mereka.
Wahai para pembaca, bersyukurlah selalu atas segala nikmat Tuhan yang diberikan kepadamu….


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/anak-sekecil-itu-berkelahi-dengan-waktu/10150205077636042

Sejenak Dalam Tafakkur


*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Saudaraku,
Sudahkah kita sejenak berfikir dan merenung, bahwa begitu besar rasa ketergantungan kita terhadap apa yang tersedia di alam ini? Ketika kita hendak bernafas, yang kita butuhkan adalah asupan oksigen yang cukup untuk memenuhi paru-paru. Ketika kita hendak melihat dengan jelas, yang kita butuhkan adalah cahaya yang cukup untuk dapat menerangi objek yang ingin kita lihat. Ketika kita hendak berjalan, kita butuh landasan untuk berpijak dan melangkah, dimana daratan bersedia membentangkan punggungnya untuk kita pijak dan kita pun bukan berjalan di awang-awang. Sungguh, semua yang kita butuhkan itu bukanlah muncul dengan sendirinya, melainkan Allah SWT- lah yang telah mengadakannya dan menundukkannya untuk kita, para makhluk-Nya.

Allah SWT sudah bentangkan malam untuk kita beristirahat dan siang sebagai sarana bagi kita untuk mengais karunia-Nya, untuk menjemput rezeki yang sudah ditetapkan-Nya. Allah tundukkan lautan, sehingga kapal-kapal besar dapat berlayar mengarungi samudera-Nya. Allah hiasi kedalamannya dengan segala keindahan luar biasa, yang membuat banyak mata terbelalak dan hati berdecak kagum, hingga sesungguhnya bibir-bibir dan hati kecil manusia tak akan mampu berbohong dan tak kuasa berucap selain pujian akan ke Maha Besaran-Nya atas keindahan segala ciptaan-Nya.

Saudaraku,
Sekiranya kita menyadari segala kebesaran Allah itu, maka sudah tentu kita akan merasa kecil dan malu. Sekiranya kita senantiasa yakin dan menyadari dalam banyak waktu, bahwa diri kita adalah hamba dan Allah SWT adalah dzat yang wajib kita sembah, maka pasti kita tidak akan mau untuk berpaling dari-Nya. Sekiranya diri kita hanya berharap rahmat dan keridhoan-Nya, maka tak akan banyak hati yang akan terluka saat dihina dan dicerca serta lari dari menuju selain kepada-Nya.
Sekiranya kita menyadari, bahwa sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita, mendengar perkataan dan bisikan hati kita, maka sudah tentu kita akan merasa gentar juga takut sekiranya setiap perbuatan buruk kita segera ditampilkan-Nya di hadapan makhluk-makhluk-Nya. Begitu kasihnya Allah SWT, sebesar apapun kejelekan diri kita, namun Dia masih bersedia menutupinya hingga kini.

Saudaraku,
Tidakkah kita rindu untuk menggapai ridho Allah semata? Dalam setiap pekerjaan yang kita buat, dalam setiap perkataan yang kita ucap, dalam setiap denyutan jantung dan dalam setiap tarikan nafas kita? Tidakkah kita rindu untuk senantiasa berupaya meneladani Rasul-Nya, sebagai bagian dari pengakuan rasa cinta kita, dimana ucapan beliau jauh dari ghibah, dari kata-kata dusta dan menghina, juga merendahkan orang lain? Tidakkah kita rindu untuk senantiasa mendapat hidayah dan petunjuk dari-Nya, di setiap jejak langkah hidup kita? Sehingga semua terarahkan dengan baik dan bermanfaat juga bermakna, bagi diri dan lingkungan, dunia dan akhirat.

Saudaraku,
Mari bersama kita luruskan niat, kita perbaiki ikhtiar dan usaha, juga tak pernah lepas bermohon dan berserah diri kepada Allah SWT agar semua hal yang kita rajut dan anyam di atas permukaan bumi ini dilakukan semata-mata karena-Nya dan untuk mencari keridhoan-Nya.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/sejenak-dalam-tafakkur/10150203726471042

Tersenyumlah Untuk Hidup!


*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Meski setebal apapun mendung melintasi langit, namun sinar mentari tak pernah kehilangan cirinya. Ia senantiasa menghadirkan sinarnya untuk dibagi. Ia senantiasa tegar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sumber penerang di hari ini. Ia tak pernah menunda bersinar hingga esok, meskipun ia dapati mendung menghalangi keindahan sinarnya. Setiap tumbuhan kembali terjaga dari tidurnya. Kembang-kembang kembali bermekaran ceria menyambut harinya. Burung-burung terbang dan berkicau dengan merdunya. Semua hadir tanpa rasa sedih, gelisah, dan amarah. Semua ceria untuk menjelang setiap detik anugerah-Nya.
Saudaraku,
Sudahkah kita berniat bahwa hari ini akan kita hiasi dengan senyum ceria dan kebahagiaan? Sudahkah kita bertekad untuk menyongsong hari ini dengan rasa optimis dan semangat hidup yang akan kita bagi dan tularkan? Dan sudahkah kita menjadikan berbaik sangka sebagai modal bagi kita untuk meneruskan perjalanan ini?

Saudaraku,
Begitu sia-sia rasanya perjalanan hidup jika setiap detiknya tidak pernah kita hargai dan syukuri. Begitu menyiksanya perjalanan hidup jika setiap ujian yang menerpanya kita hadapi dengan kemarahan dan wajah yang muram. Dan begitu berat rasanya langkah hidup jika kita tak mau berbagi sedikitpun. Kesedihan tidak akan mengembalikan segala yang hilang menjadi kembali. Tangisan penyesalan akan terasa hampa tanpa kesungguhan usaha untuk bangkit dari kelalaian diri. Setiap nasehat hanya akan menjadi penghias belaka jika sedikitpun tak diniatkan untuk dilakoni. Semua usaha akan terasa sia-sia jika sedikitpun tak berserah diri kepada-Nya.
Tersenyumlah atas anugerah hidup hari ini. Bersyukur dan berbaik sangkalah bahwa Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali. Sebut setiap asma-Nya dengan penuh kerendahan hati. Besarkan Dia dalam setiap aktifitas dan detik perjalanan ini. Jangan engkau halangi senyuman itu jika akan tersungging di ujung bibirmu hanya karena kegundahan yang tak jelas asal usulnya. Jangan engkau gantikan keceriaan diri dengan kesuraman hati yang engkau tampakkan lewat wajah yang bermuram durja.

Saudaraku,
Berbagilah hari ini. Berbagilah untuk setiap kebahagiaan yang engkau rasakan di hati. Tak perlu kau ukur dengan besar atau kecilnya nilai berbagi itu. Berbagilah walau sekedar berwajah ceria dan sepatah kata sapa dan salam. Tetaplah berbagi dan tersenyum dalam rangka mensyukuri segala anugerah-Nya hari ini. Tetaplah berbagi dan tersenyum layaknya mentari yang tak menunda hadirnya meski mendung menyelimuti indah sinarnya hari ini.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/tersenyumlah-untuk-hidup/10150203718241042

Sabtu, 09 April 2011

Kita Tidak Hidup Sendirian di Dunia Ini


*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Saudaraku,
Kita hidup bukanlah untuk tujuan rendah. Sekedar tidur, terjaga, lalu mereguk segala kenikmatan dunia yang ada tanpa pertimbangan kebaikan. Begitu rendahnya nilai hidup ini jika kita hanya disibukkan oleh perlombaan dalam hal mengumpulkan harta benda, namun akhirnya melupakan kehadiran orang-orang di sekeliling yang tak beruntung dalam banyak sisi kehidupan, terlebih lupa untuk terus menetapi kebenaran dan upaya untuk terus berada dalam ketaatan kepada Allah.

Duhai Saudaraku,

Terjagalah! Jangan sampai segala kemudahan hidup yang kita peroleh saat ini malah memalingkan diri kita untuk terus mendekat kepada-Nya.
Terjagalah! Jangan sampai segala kemudahan itu malah mengantarkan diri kita menjadi pribadi yang tidak empati dan peduli sesama, jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, rasa cinta serta meniadakan keberadaan orang-orang di sekeliling selain dari diri kita.


Saudaraku,
Cobalah sejenak luangkan waktu. Cobalah sejenak berbagi rasa dengan orang-orang yang sebenarnya begitu dekat dengan diri kita, namun tanpa disadari seringkali terabaikan. Cobalah sejenak melepaskan diri dari kesibukan yang tiada menyisakan sedikitpun waktu untuk kehidupan sosial, berbagi dengan banyak anggota masyarakat dalam gagasan dan cita-cita bersama untuk sebuah perbaikan lingkungan. Sesungguhnya, manusia tidaklah hidup sendiri di dunia ini. Setiap pribadi pasti membutuhkan sinergi satu sama lain. Dan sesungguhnya setiap pribadi pasti saling melengkapi dalam hal kekurangan dan kelebihan yang dimiliki.


Saudaraku,
Bersyukurlah, ketika Allah telah menganugerahkan Anda kepekaan rasa dalam banyak sisi kehidupan, disaat banyak pribadi hanya memikirkan dirinya sendiri, lebih disibukkan dengan urusan-urusan yang sebenarnya tidak begitu penting, jauh dari bakti dan peruntukkan kebaikan, terlebih sibuk dengan urusan yang melalaikan dari mengingat kebesaran Allah. Namun janganlah tertipu dan menjadi angkuh, seraya membanding-bandingkan amal pribadi dan orang lain. Akan tetapi, kembalikanlah segalanya kepada Allah, dzat yang sejatinya berkuasa atas segala sesuatu seraya terus bermohon hidayah bagi diri dan orang lain.
Semoga, setiap detik yang telah kita lalui, setiap senyum yang kita beri, dan setiap langkah yang menghiasi hari, bernilai kebaikan dan membuat Allah SWT ridho kepada kita.
Semoga kita mampu menjaga niat dalam setiap amal, usaha kebaikan yang telah langgeng berjalan, tentu dengan memohon bantuan dan kekuatan dari-Nya semata.

Wallahu a’lam


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/kita-tidak-hidup-sendirian-di-dunia-ini/10150203729401042

Benarkah Aku Mencintai-Mu?


*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Saudaraku,
Bayangkanlah tatkala waktu yang berputar saat ini akhirnya terhenti. Bayangkanlah tatkala kepala kita semua akhirnya tertunduk menyesali setiap detik yang telah berlalu dan jiwa pun menjerit meminta kembali untuk diberi kesempatan berbuat kebaikan. Saat-saat dimana gelak tawa akan berganti dengan tangisan. Saat-saat dimana diri kita akhirnya terjaga dari tidur panjang penuh mimpi yang tidak kita sadari selama ini.

Saudaraku,
Rasa cinta yang tulus akan membangkitkan semangat dalam hati. Rasa cinta yang tulus akan memicu setiap sel darah kita bekerja maksimal hingga anggota tubuh mempersembahkan yang terbaik untuk sesuatu yang kita cintai. Semua bergerak tanpa sebuah paksaan dan berlaku layaknya sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging hingga rasa letih hampir tak pernah kita pedulikan. Peluh yang mengalir, darah yang mengucur, semua malah menjadi hiasan yang manis dalam bingkai sebuah bentuk dari cinta itu sendiri.

Namun alangkah teririsnya hati, tatkala begitu banyak kenyataan jika rasa cinta hanya tinggal sebuah rasa, sebuah kata tanpa wujud dari rasa dan cinta itu sendiri dan kita pun salah menempatkannya. Begitu berat rasanya untuk mengatakan ini, bahwa cinta yang benar akan melahirkan kesungguhan berbuat, kemantapan hati tanpa diembeli rasa bimbang dan keraguan. Cinta yang mengalir yang bukan sekedar mengandalkan logika rasional-[karena sesungguhnya akal itu terbatas]-melainkan sudah dibekali keyakinan iman yang menhunjam jauh di dasar relung hati.
Saudaraku,
Tidak takutkah kita jika sekiranya perkataan cinta kita selama ini adalah dusta? Tidak takutkah kita jika sekiranya kata cinta yang terucap selama ini tidak lain hanya sekedar pemanis kata, tanpa makna dan hakikat mencintai itu sendiri? Cukupkah bagi kita berkata tanpa amal, mengaku tanpa bukti dan mencintai tanpa pengorbanan?



Ya Allah Ya Rabbiy…
Jadikanlah cinta kami kepada-Mu merupakan sebenar-benarnya bentuk cinta sejati…
Bukan hanya di lidah, namun jauh terhunjam dan mencengram di relung hati..
Sehingga tiada yang lain yang kami cari..
Dan tiada kami bergerak, menggeliat, berkata dan berucap
selain agar Engkau ridho dan mengasihi kami


Ya Allah Ya Rabbiy…
Jadikanlah orang-orang yang kami kasihi saat ini..
sebagai perantaraan bagi kami untuk semakin mencintai dan mendekati-Mu dalam arti sebenarnya dan bukan malah sebaliknya…


Ya Allah Ya Rabbiy…
Bangunkanlah kami dari tidur panjang ini
Sehingga kami tersadar dan mendapati, bahwa sesungguhnya Engkaulah maksud dan tujuan kami dan ridho-Mu lah yang kami cari…


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/benarkah-aku-mencintai-mu/10150203712706042

Sederhana dalam Ibadah


*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Ada seorang pemuda, sebut saja si Fulan. Dulu dia seorang yang rajin beribadah. Kalau masalah shalat wajib berjama’ah jangan ditanya, dia tidak pernah ketinggalan mengerjakannya. Shalat malam?! dia pun ahlinya. Baca Al-Qur’an?! sudah berkali-kali khatam. Puasa senin-kamis?! itu rutinitas mingguannya. Menghadiri pengajian?! Lha wong ustadznya saja sangat dekat dengan dia karena saking rajinnya menghadiri pengajian.
Namun itu cerita dulu. Sekarang si Fulan telah berubah. Alhamdulillah tidak sampai berubah “180 derajat”. Tapi ibadah-ibadah yang dulu dia geluti sekarang hampir semuanya dia tinggalkan. Lho kenapa ya?!


Mengenal Penyakit Futur
Mungkin yang sekarang menimpa si Fulan -atau orang yang sejenisnya- adalah rasa futur dalam mengerjakan ibadah. Futur adalah suatu masa dimana seseorang yang tadinya begitu bersemangat tiba-tiba menjadi lemah, seolah semangatnya itu lenyap ditelan waktu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Setiap amal perbuatan itu memiliki puncak semangatnya, dan setiap semangat memiliki rasa futur.” (HR.Ahmad)


Hindari Sikap Berlebihan
Salah satu hal yang menjadikan ajaran Islam ini sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah dilarangnya sikap berlebihan dalam beribadah dan tercelanya perbuatan tersebut.

Banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya kisah tiga orang sahabat yang mendatangi rumah istri-istri Rasulullah demi menanyakan bagaimana beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam beribadah. Setelah mereka bertiga diberitahu tentang hal tersebut mereka merasa minder, lalu berkata, “Kita ini siapa dibandingkan dengan Rasulullah?! padahal beliau seorang yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.”
Kemudian salah seorang dari mereka bertiga berkata, “Kalau begitu aku akan shalat malam terus menerus (dan tidak tidur).”
Yang satunya lagi berkata, “Adapun aku, aku akan berpuasa seharian penuh dan tidak berbuka.”
Yang lainnya lagi berkata, “Kalau aku, aku akan memisahkan diri dari wanita dan tidak akan menikah selamanya.”
Kemudian Rasulullah mendatangi mereka seraya bertanya, “Apakah kalian yang tadi berkata demikian dan demikian?!. Adapun aku, demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada Allah di antara kalian. Akan tetapi bersamaan dengan itu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat dan aku pun tidur. Aku pun menikah dengan para wanita. Dan siapa saja yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seseorang yang berlebih-lebihan dalam agama kecuali akan terkalahkan.” (HR. Bukhari)
Bahkan Rasulullah sendiri saja terkadang tidak memperpanjang shalatnya, sebagaimana yang dituturkan oleh Abu ‘Abdillah Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku pernah shalat bersama Nabi. Shalat beliau tidak lama, demikian pula dengan khutbahnya.” (HR. Muslim). Al-Imam An-Nawawi menerangkan bahwa maksudnya adalah shalatnya tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar.


Sedikit Asal Rutin, Itu Kuncinya
Untuk ibadah-ibadah yang hukumnya tidak wajib, kita boleh untuk tidak mengerjakannya secara menyeluruh. Bahkan yang terbaik dalam beramal adalah mengerjakan yang kita bisa meskipun tidak banyak asal dengan syarat : RUTIN.
Inilah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya, “Amalan yang paling dicintai adalah yang rutin walaupun sedikit.” (Muttafaq ‘alahi)
Rasulullah juga pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash, “Wahai ‘Abdullah, janganlah kau menjadi seperti orang itu. Dulu ia rajin qiyamul lail, namun kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih)


Harus Sesuai Syari’at
Sebuah pemahaman yang patut dimengerti oleh setiap muslim adalah bahwa amalan itu hanya dapat diterima jika memenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas hanya karena Allah, dan (2) mengikuti apa yang telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kalau salah satu keduanya tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.
Sah-sah saja kita beramal dengan berbagai macam ibadah selagi kita mampu, namun yang perlu diperhatikan juga ialah amalan-amalan tersebut hendaknya bersumber dari 2 syarat tadi. Jika amalan yang kita kerjakan selama ini ternyata hanya sekedar ‘produk buatan’ manusia saja (tidak sesuai dengan syariat, membuat ibadah baru), apalagi ditambah dengan ketidak-ikhlasan kita, maka yakinilah bahwa amalan tersebut pasti tertolak.

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang membuat-buat ajaran baru yang bukan berasal dari kami maka ia tertolak.” (HR.Muslim)
Dan masih ingat dengan kisah 3 orang sahabat tadi?! Bukankah amalan-amalan yang mereka lakukan itu semuanya baik bila kita melihatnya dengan sekilas saja (shalat semalam suntuk dengan tidak tidur, puasa seharian penuh dengan tidak berbuka, dan bersikeras untuk tidak menikah) ?! Akan tetapi Rasulullah membencinya disebabkan ketidaksesuaian amalan-amalan tersebut dengan syari’at Islam.
Betapa indahnya perkataan seorang ‘Abdullah bin Mas’ud terkait masalah ini, “Sederhana dalam mengikuti Sunnah itu jauh lebih baik daripada berlebih-lebihan dalam mengerjakan amalan-amalan baru yang tidak pernah dicontohkan Nabi.”


Jangan Disalahpahami !
Apa yang baru saja kami paparkan bukanlah pembelaan untuk mereka yang bermalas-malasan dalam beribadah dan bukan pula celaan bagi mereka yang berusaha memperbanyak amalan shalih. Jangan sampai ada dari kita yang malah memandang sinis orang-orang yang rajin beribadah seraya mengatakan, “Jadi orang Islam itu ga usah fanatik kayak gitu lah.”
Tapi mari kita sama memperbanyak amalan shalih sebagai bekal kita menuju kehidupan akhirat kelak. Beribadahlah sesuai kesanggupan. Mari sama-sama berangkat ke masjid selama masih diberi kesanggupan oleh Allah. Yuk sama-sama mengaji agar kita bisa kenal agama. Ayo shalat malam selagi kita masih sehat wal ‘afiat. Kalau ada rezeki maka infakkan fi sabilillah, dan tabung untuk bisa berangkat haji ke tanah suci. Begitu juga dengan ibadah yang lainnya, kerjakan selagi mampu dan jangan memaksakan diri. Rutinkanlah ibadah tertentu yang patut Anda banggakan nanti dihadapan Allah. Serta jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar kita dan saudara-saudara kita tetap diberi ke-istiqomah-an dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut.

Dan bagi Anda yang sanggup melakoni segala macam ibadah, bersyukurlah. Karena sesungguhnya kesanggupan Anda tersebut tidak lain adalah anugerah dari Allah Ta’ala, bukan semata-mata karena kekuatan fisik Anda.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/sederhana-dalam-ibadah/10150203696756042