Mengenai Saya
Laman
Sabtu, 19 Maret 2011
UNTUKMU BUNDA
Ingin kuberikan sesuatu yang istimewa di hari ini Bunda
Sesuatu yang masih dalam angan ku
Menggantung di wajah langit senja
Ku persembahkan untuk senyummu
Bertahun sudah pengharapanmu tak pernah surut
Larut dalam do'a dan pujian
Tanpa rasa gundah atau kecewa
Kau gantungkan semua keinginan hanya pada DIA
Bunda..
Senyum tulusmu selalu membayang di pelupuk mataku
Menghampar jelas di dalam benakku
Meneduhkan kegersangan hati
Bagai mendapat setetes embun nirwana
Bunda..
Hari ini yang teristimewa
Untuk mengenang kembali masa kecilku
Saat aku masih bermanja padamu
Dalam dekapan hangatmu aku tertidur
Waktu berlalu begitu cepat bunda
Lihatlah hamparan langit di penghujung senja
Tersenyum takzim pada ketulusan
Yang tak berbatas ruang dan masa
Semua hanya untukmu bunda
Rabbighfili waliwaalidayya...
Do'a ini untukmu bunda
Ku ingin mengumpulkan senyummu dalam bingkai emas
Yang kusimpan dalam ruang teristimewa di hatiku
Dan selalu kutaburi dengan do'a di hari-hari ku
>>>*<<<
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/untukmu-bunda/10150151121351042
[ Catatan Khusus ] : KRITERIA MEMILIH JODOH YANG BAIK :D
Catatan berikut, bisa jadi serius bisa jadi nggak serius. Sebab catatan ini aku buat setelah berkali-kali mendapat request yang aku sendiri sampai sekarang masih selalu saja bingung jika ditanya perihal request ini.
Kriteria memilih jodoh, nah, heee... :D
Permasalahannya itu karena aku sendiri belum menikah. Belum juga final menentukan pilihan siapa yang akan menjadi pendampingku kelak (silakan berdoa pada Tuhan YME untuk menjadi pendampingku yah, huehehe.. Ge er abis :D).
Alhasil, jika aku ditanya, Kamu ingin Istri yang bagaimana? Maka jawabanku bermacam-macam. "Yang Pasti, aku tidak pasang kriteria macam-macam, pokoke iso macak iso masak" :D ... Yang penting bisa bersolek yang cantik buat suami, dan bisa masak. Itu salah satu jawabanku :D :p
Kan nggak lucu, kalau suami capek-capek dari luar dalam keadaan lapar, pengen makan enak, tapi ternyata di meja makan cuma ada semangkuk mie rebus, sama sepiring telor goreng, mana gorengannya amburadul lagi :D
Kritikan pedas nih buat para cewek masa kini. Kok bisa jadi sangat aneh kalau sekarang teramat banyak wanita yang tidak bisa masak. Alasannya karena sibuk kuliah, sibuk karir. Padahal dua alasan itu mentah. Kami saja yang sibuk belajar masih bisa masak, bahkan terlatih masak saat di pondok.Karena, salah satu rahasia keharmonisan rumah tangga, adalah kecakapan istri dalam hal masak-memasak. Jadi, bisa dianalisa, salah satu faktor banyaknya perceraian akhir-akhir ini, karena ketidakmampuan istri dalam tata boga.
So, mulai sekarang bagi mbak-mbak, ukhti-ukhti, neng-neng, yang nggak bisa masak, belajar masak yah, mumpung belum telat, beli resep-resep masakan, praktekin, liat acara-acara Farah Queen, atau Rudi Khoiruddin. Atau belajar dari Ibu masing-masing. Aib wanita tidak bisa masak, sangat aib.
Ntar kalau masakanmu keasinan, bagaimana perasaanmu saat dikatain suami, "De', kok sedap banget masakannya, kamu tambahin upilmu ya" :D
Nggak lucu kan kalau suamimu akhirnya suka makan di warung terus kecantol mbak-mbak pelayan warungnya hanya gara-gara dia lebih pinter ngulek sambel terasi daripada kamu, nah lho.
Pada dasarnya, bagi wanita, dalam hal memilih jodoh, yang perlu menjadi penilaian utama adalah kesalehan dia. Jangan langsung melihat dia sudah kerja atau belum? Kesalahan pandangan ini.
Jangan khawatir deh ntar makan apa, pasti makan nasi, nggak mungkin makan batu.
Makanya, kalau ada mbak-mbak konsultasi padaku tentang calon jodohnya, maka pertama kali yang aku suruh lihat adalah sholatnya, beres 5 waktu tidak? Kalau beres, maka insyaallah semuanya baik. Sebab dia nanti akan menjadi pemimpin, imam bagi keluarganya itu. Dan penentuan imam yang paling penting adalah ketekunan sholat dia.
Kedua, akhlak dan tatakramanya. Cari suami yang mempunyai perangai bagus. Sebab itu berhubungan dengan interaksi sosial dia dengan keluarga mertuanya nanti. Karena lembaga pernikahan adalah lembaga yang mempertemukan dan menyambung dua keluarga, sebagaimana diketahui.
Dua hal ini yang menurutku terpenting. Sedang kriteria-kriteria tambahan lainnya, semisal ganteng, pintar, kaya, adalah kriteria pendukung dan penyempurna.
Sebab, sebagaimana inti dari semua nash-nash hadits Rosul seputar tata cara memilih jodoh, baik calon suami, ataupun calon istri, penekanannya adalah pada kebaikan agama calon suami atau calon istri.
Karena tentu saja jika agamanya baik, maka dia punya rasa khosy-yah, rasa taqwa pada Allah yang mendorongnya untun bertanggung jawab. Dan di antara bentuk bertanggung jawab bagiku, adalah bahwa calon istri itu juga kudu pinter masak, huehehe :D.
Karena tentu saja orang-orang model ini, adalah orang-orang yang bijak menghadapi hidup, yang tidak mudah goncang dengan keadaan yang sulit, mampu bersabar. Juga sebaliknya, saat keadaan enak, dia tidak mudah lalai dan terlena. Karena kemampuannya mensyukuri nikmat Penciptanya.
Kemampuan menjaga keseimbangan psikologinya, akan berdampak langsung dan nyata pada kemampuannya menjaga keseimbangan biduk rumah tangganya.
Bukan lantas catatan ini lalu diartikan, wah kalau gitu cari suami yang ahli agama saja, dari pesantren saja, yang aktif di Liqo'-Liqo' aja. Bukan begitu, tidak jaminan itu. Tetapi tadi adalah kriteria umum, dan bukan harus cari suami dari kalangan-kalangan agamis. Boleh dari kalangan apa saja, yang penting sholatnya baik, akhlaknya baik.
Pada akhirnya, di samping menyelidiki kandidat calon suami, bagaimana agamanya, bagaimana moralnya. Hendaknya sebelum memutuskan pilihan melalui musyawarah keluarga, juga tak lupa istikhoroh pada Allah Ta'ala.
Maa Khoba man Istakhoro, wa Maa Nadima man istasyaro.. Orang yang istikhoroh, tak akan kecewa, dan yang meminta pendapat, tak akan menyesal.
So akhir catatan, pintar-pintar lah memilih calon suami juga calon istri, sebab ini adalah keputusan terkrusial seumur hidup, menentukan kebahagiaanmu selamanya. Apalagi dengar-dengar katanya sekarang makin sulit mencari menantu baik. Wallahu A'lam.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-catatan-khusus-kriteria-memilih-jodoh-yang-baik-d/10150151654596042
@}~~ ARIGATO GHOZAIMASU ~~{@
Di mobil, perjalanan ketika suamiku baru menjemput aku di eki (stasiun) setelah tiba dari perjalanan ke luar kota. “Mas,... tadi abang (panggilan untuk putra sulung kami) jadi latihan karate khan ?”, tanyaku.
“Jadi koog, tau ngga dek, tadi abang waktu mas bangunin tidur siang bilang apa ?. Masa’ abang baru aja melek langsung bilang gini, “Abi, okoshitekurete arigatou nee”. (Abi udah bangunin abang makasih yaa…).
“Anak itu emang udah nihonjin (orang Jepang) banget kog perasaan”, komentar suamiku lebih lanjut. Aku hanya tersenyum, sambil membayangkan si abang.
“Iyaa bener juga, masa’ cuman perkara dibangunin dari tidur siang aja begitu melek masih sempet-sempetnya inget untuk bilang arigato (terimakasih), kataku dalam hati.
Aku lantas teringat kejadian beberapa hari yang lalu sepulang dari kampus membawa sisa camilanku yang tidak habis kumakan di lab. Abang menyambutku sambil bertanya, “Ummi, kore tabete ii ?” (Ummi, ini boleh abang makan ?).
Ketika melihatku mengangguk si abang lantas berkata “Ummi, arigatou nee… oishii mono katte kurete, arigatou” . (Ummi, makasih yaa udah beliin abang makanan enak).
Deeg,… aku tersenyum kecut sambil melihat camilan yang mungkin sudah tidak sampai sepertiga lagi isinya. “Duuh,… kesindir anak kecil niih”, gumamku. Padahal camilan itu bukanlah makanan yang mewah atau enak sekali, dan kurasa cukup sering aku membelikan anak-anak panganan kecil semacam itu. Tapi entah mengapa, apresiasi yang diberikan seakan-akan melebihi apa yang diterimanya. Hhmm…khas nihonjin (orang Jepang).
Memang begitulah salah satu budaya yang baik dari orang Jepang, lidah mereka terasa ringan untuk mengucapkan terima kasih. Jangankan untuk hal-hal yang besar, untuk hal-hal sepele saja orang Jepang mudah sekali memberikan apresiasi.
Contoh yang sering dijumpai adalah bila kita masuk ke sebuah toko, walaupun kita tidak membeli sesuatu, katakanlah hanya sekedar window shopping, saat kita keluar dari toko, pelayan akan langsung memasang senyum dan mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) sambil sedikit membungkukkan badannya. Bagi orang Jepang kata-kata “Terima kasih” lazim diucapkan sampai tiga kali. Pertama, disaat mereka menerima barang atau bantuan jasa. Kedua, selang beberapa hari kemudian biasanya orang Jepang akan telfon untuk mengucapkan terima kasih atau pada kasus terhadap orang yang dihormati, biasanya mereka akan mengirimkan kartu pos tertulis ucapan terima kasih. Ketiga, saat jumpa kembali, mereka akan spontan mengatakan “Senjitsu domo arigatou” (Terima kasih yaa untuk kejadian waktu itu).
Duh indahnya,… bila menerima perlakuan baik, mereka akan benar-benar mengingat dan menghargai. Belum lagi kebiasaan mereka berbalas hadiah, bila kita memberikan sesuatu hadiah, jangan heran bila selang beberapa hari mereka akan mengirimkan hadiah balasan sebagai ungkapan terima kasih.
Coba mari kita buka lembaran hadist, sebenarnya Rasulullah SAW manusia agung yang dirahmati Allah, 14 abad yang lampau telah mengajarkan kita untuk berlaku serupa. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadist yang bersumber dari Hadath Asy’as ra. Rasulullah SAW bersabda :
“Orang-orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah ialah orang-orang yang paling banyak bersyukur/berterima kasih pada orang-orang “. (Al-Mu’jam Al Kabir Lit-Tabrani).
Lantas mengapa kadang kita masih saja sulit untuk mengapresiasikan kebaikan orang-orang di sekeliling kita?.
Saya teringat keluhan seorang kawan muslimah beberapa waktu yang lalu, “Bu Na, suami saya tuh kalau ke orang lain perasaan gampang banget deh bilang ‘Jazakumulloh khoiron katsiroo” (Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan lebih baik dan banyak). Tapi, misalnya kalo saya abis masak besar untuk menjamu temen-temen suami, trus nyuci setumpuk piring kotor, atau ngebuatin suami teh manis, hhmm… boro-boro ada ucapan singkat ‘terima kasih’, suami bisa noleh sambil senyum aja sudah bagus banget, eeh,…yang ada suami terus aja asyik melototin monitor”. “Eeeh, bukannya saya ngga ikhlas lho yaa… tapi khan seneng aja kalo suami tuh menghargai pekerjaan kita, jadi semangat gitu mau ngapa-ngapain”, tutur kawan tersebut.
Sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali saya mendengar curhat yang senada. Memang benar juga, kadang saya amati, para bapak acapkali memandang apa yang sudah dikerjakan isteri adalah kewajiban yang sudah sepatutkan dikerjakan.
Padahal, sebenarnya tidak sedikit hal-hal yang dikerjakan isteri itu adalah justru merupakan kewajiban suami. Hanya karena rasa sayang terhadap suami, atau niatan beramal dengan harapan mendapat pahala yang lebih dari Allah, maka tugas-tugas suami lantas diambil alih, dan bila sudah keterusan, lama-kelamaan suami menganggap itu adalah sudah kewajiban isteri. Sehingga yang dulu awalnya hati selalu bersyukur, ucapan terima kasih senantiasa terucap tatkala isteri membantu meringankan tugas, lambat laun akan terlena, maka hilanglah sudah ucapan-ucapanterima kasih dan do’a “jazakillah khoir” itu.Coba anda ingat, kapankah terkahir kali anda mengucapkan kata-kata mesra ungkapan terima kasih penuh do’a pada isteri anda?. Bila anda sudah lupa, tunggu apa lagi? alihkan sejenak pandangan anda dari layar monitor ini. Lantas segeralah buzz atau telfon isteri anda, dan katakanlah… insyallah sepulang anda kerja, isteri anda akan menyambut dengan mesra dan penuh kehangatan.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-arigato-ghozaimasu-/10150152595771042
MEREKA MENGAJARKAN KITA
Bismillaahirrahmanirrakhiim....
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kita jujur pada teman, dia berdusta pada kita. Saat dia telah berjanji pada kita, dia mengingkarinya. Saat kita memberikan perhatian, dia tidak menghargainya. Hal yang sangat mengecewakan adalah kita dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan.
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi ! Sebenarnya hal-hal yang kita alami sedang mengajari kita. Saat teman kita berdusta pada kita atau tidak menepati janjinya pada kita atau dia tidak menghargai perhatian yang kita berikan, sebenarnya dia telah mengajari kita agar kita tidak berperilaku seperti dia.
Bila kita dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajari kita untuk menjadi orang yang arif dan santun, kita telah membantunya saat dia dalam kesulitan.
Hal yang menyakitkan adalah saat kita mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintai kita atau dia yang kita sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajari kita untuk RIDHA menerima takdir-Nya.
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kita alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin, atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajari kita untuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajari kita untuk tidak berperilaku seperti itu.
Mungkin ALLAH menginginkan kita bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kita bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupan kita dan kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita.
http://www.facebook.com/notes/melati/mereka-mengajarkan-kita/188565054515211
Pemuda & Ayahnya yang Berubah Menjadi Himar
Bismillahirrahmanirrakhim.....
Dalam terik panas mentari yang memancar menyinari tanah Baitul Haram, seorang ulama zuhud yang bernama Muhammad Abdullah al-Mubarak keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana dia lekat melihat seorang pemuda yang asyik membaca sholawat dalam keadaan ihram. Malah di Padang Arafah dan di Mina pemuda tersebut hanya membasahkan lidahnya dengan sholawat ke atas Nabi."Hai saudara," tegur Abdullah kepada pemuda tersebut. "Setiap tempat ada bacaannya tersendiri. Kenapa saudara tidak membanyakkan doa dan sholat sedangkan itu yang lebih dituntut? Saya lihat saudara asyik membaca sholawat saja."
"Saya ada alasan tersendiri," jawab pemuda itu.
"Saya meninggalkan Khurasan, tanah air saya untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Apabila kami sampai di Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit kuat. Dia telah menghembuskan nafas terakhir di hadapan saya sendiri. Dengan kain sarung yang ada, saya tutup mukanya. Malangnya, apabila saya membuka semula kain tersebut, rupa ayah saya telah bertukar menjadi himar. Saya malu. Bagaimana saya mau memberitahu orang tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya begitu hodoh sekali?
"Saya terduduk di sisi mayat ayah saya dalam keadaan kebingungan. Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat seorang pemuda yang tampan dan baik akhlaknya. Pemuda itu memakai tutup muka. Dia lantas membuka penutup mukanya apabila melihat saya dan berkata,
"Mengapa kamu susah hati dengan apa yang telah berlaku?"
"Maka saya menjawab, "Bagaimana saya tidak susah hati sedangkan dialah orang yang paling saya sayangi?"
"Pemuda itu pun mendekati ayah saya dan mengusap wajahnya sehingga ayah saya berubah wajahnya menjadi seperti sediakala. Saya segera mendekati ayah dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan yang baru terbit pada malam bulan purnama.
"Engkau siapa?" tanya saya kepada pemuda yang baik hati itu.
"Saya yang terpilih (Muhammad)."
"Saya lantas memegang jarinya dan berkata, "Wahai tuan, beritahulah saya, mengapa peristiwa ini bisa terjadi?" Rahasia sholawat 100 kali
"Sebenarnya ayahmu seorang pemakan harta riba. Alloh telah menetapkan agar orang yang memakan harta riba akan ditukar wajahnya menjadi himar di dunia dan di akhirat. Alloh telah menjatuhkan hukuman itu di dunia dan tidak di akhirat. "
Semasa hayatnya juga ayahmu seorang yang istiqamah mengamalkan sholawat sebanyak seratus kali sebelum tidur. Maka ketika semua amalan umatku ditontonkan, malaikat telah memberi tahu keadaan ayahmu kepadaku. Aku telah memohon kepada Alloh agar Dia mengizinkan aku memberi syafaat kepada ayahmu. Dan inilah aku datang untuk memulihkan semula keadaan ayahmu."
Subhanallah....
Allohumma sholli ala Muhammad
Allohumma sholli alaihi wassalim
http://www.facebook.com/notes/melati/pemuda-ayahnya-yang-berubah-menjadi-himar/188269501211433
Manusia seperti apakah kita?
Bismillaahirrahmanirrakhiim....
Bilamana anda menemukan anti virus H1N1 apa yang akan anda lakukan? Maka sebagian besar akan menjawab :" Saya akan jadikan peluang untuk memulai bisnis anti virus dengan harga yang tentu saja menguntungkan sehingga saya dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan saya.Seorang penemu metode pengajaran atau keilmuan membuat hak paten atas hasil karyanya, otomatis siapapun yang memanfaatkan metodenya harus membayar royalti padanya sebagai bentuk penghargaan atas hasil karyanya.
Suatu ketika Al Banna berbincang-bincang dengan seorang kawan yang berprofesi sebagai trainer dari lembaga terkenal di Indonesia, mereka berbicara panjang lebar mengenai metode pembelajaran training dengan inovasi nya. Dia menyeletuk " Pak Al Banna anda tidak takut ilmu nya saya pakai karena anda mengeluarkan semua trik2 untuk metode pembelajaran yang betul2 fresh dan sangat menarik untuk diterapkan."
Al Banna menjawab " Ooo..ngak masalah karena semua apa2 ilmu yang ada di kepala saya bukan milik saya kalo anda mau memanfaatkannya silakan gratis....jadi saya tidak akan pernah sakit hati bilamana anda menggunakan metode saya dan anda menghasilkan sesuatu untuk anda, cukuplah buat saya bilamana ilmu itu bisa bermanfaat buat orang lain.
Selama ini kita selalu berpikir keuntungan secara materi, apa yang saya dapatkan dari itu...? itulah pertanyaan yang sering muncul di benak kita. Tapi kita tidak pernah berpikir kemanfaatan apa yang dapat kita berikan buat orang lain.
Agama ini mengajarkan kepada kita bahwa Ilmu hanyalah milik Allah maka kita sebagai orang yang diijinkan Allah untuk mendapatkan ilmu tersebut sebaiknya untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain tanpa berharap mendapat sesuatu berupa keuntungan materi untuk diri kita. Ilmu di ibaratkan seperti air. Bilamana sebuah kolam selalu dimasukkan air tanpa dialirkan maka air tersebut akan keruh dan kotor begitu pula dengan otak kita, bila ilmu tersebut tidak segera dialirkan maka otak kita akan rusak dengan pikiran2 kotor sehingga menjauhkan diri kita dari Allah.
Dalam diri manusia terdapat 2 jenis sifat binatang antara lain :
1. Hewan Ternak ( Bahima ): Nafsu keinginan untuk hidup dg makan dan minum, Syahwat keinginan akan
berkembang biak.
2.Hewan Buas ( Shiba ) : Amarah, iri,dengki, keinginan untuk berkuasa.
Oleh karena itu Islam mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan sifat hewani yang ada dalam diri kita dengan berpegang teguh atas ajaran agama Islam.Agar kita tidak terjerembab dalam kenistaan yang dalam. Banyak orang-orang yang terjatuh dalam lingkaran ini, hanya orang-orang yang berpegang pada agama yang dapat selamat. Dengan kita membuat hak paten atas ide atau ilmu yang kita miliki maka sama hal nya kita telah memutuskan tali rantai keberkahan atas ilmu tersebut. Sehingga di akhirat kita tidak akan mendapatkan apa2.
Entah ini sengaja atau tidak disengaja, hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan dan wajar dilakukan setiap orang.Padahal dalam esensi ibadah hal ini dapat menjerumuskan kita sehingga tidak mendapatkan keberkahan atas ilmu tadi.
Sistem pendidikan kita hanya mengajarkan anak untuk menjadi "pandai" bukan menjadi" baik", sedangkan dalam hal ilmu agama sekolah hanya mengajarkan islam secara ilmu bukan pesan2 agama secara substansial.Oleh karena itu banyak orang yang paham agama tapi tidak pandai dalam mengamalkan ajaran tersebut dengan baik.
Tuntutan kita terhadap anak2 kita adalah agar mereka mendapatkan nilai yang baik di sekolah, untuk mendukungnya kita tidak segan2 memasukkan anak2 kita ke kursus bimbingan belajar,bahasa inggris,kumon dll, bagaimana dengan agamanya?Apakah hanya cukup dimasukkan ke TPA ? Semua yang kita lakukan atas anak2 kita atas dasar materi dan dunia itu sangat penting dalam kehidupan mereka.
Semoga kita semua sadar bahwa ada yang lebih penting bagi anak2 kita yaitu AGAMA, bilamana kita memasukkan nilai agama itu dengan benar maka insya Allah mereka akan selamat dunia dan akhiratnya, karena AGAMA bukan urusan akhirat saja melainkan juga urusan dunia. Selama ini kita hanya beranggapan AGAMA adalah urusan akhirat.
Agama mengajarkan kepada kita untuk berkomitmen agar kita menjadi "hamba Allah" yang utuh bukan hamba bagi yang lainnya.Oleh karena itu setiap hari kita selalu berkomitmen " Iyyakana' budu......"
Semoga kita semua dapat menjadikan agama sebagai pegangan hidup kita dan kita dapat menjadi manusia yang seutuhnya yang diharapkan agama "Manusia yang berakhlaq mulia dan memiliki rasa malu". ( definisi manusia dari 12 kitab Tafsir Al Qur'an yang masyhur di dunia ).
http://www.facebook.com/notes/melati/manusia-seperti-apakah-kita/187631741275209
Jangan Salah Cara dalam Mencintai Nabi Kita!
Oleh: Badrul Tamam
Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam termasuk
ushul iman (pokok keimanan) yang bergandengan dengan cinta kepada
Allah 'Azza wa Jalla. Allah telah menyebutkannya dalam satu ayat
dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada
kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.
قُلْ
إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan
Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasik"." (QS. Al Taubah: 24)
Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna
kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam. Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih
menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat
baik dan membantunya. Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan
seorang mukmin.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara
kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia
seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Ibnu Baththal, makna hadits ini adalah orang
yang sempurna imannya pasti tahu bahwa hak Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam lebih utama baginya daripada hak bapaknya, anaknya, dan seluruh
manusia. Karena melalui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita
terselamatkan dari neraka dan diselamatkan dari kesesatan."
Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan
beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya.
Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang
mukmin.
Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya
terhadap dirinya sendiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menafikan
kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas
segala-galanya.
Maka wajib mendahulukan dan mengutamakan
kecintaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas kecintaan
kepada diri sendiri, anak, kerabat, keluarga, harta, dan tempat tinggal serta
segala sesuatu yang sangat dicintai manusia.
Memang setiap orang berhak untuk mengklaim
dirinya sebagai pencinta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun
klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti
sunnahnya), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya.
Al Qadli 'Iyadl rahimahullah, berkata:
"di antara bentuk cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup
bersamanya, . . . "
Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al
Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan,
sebagai firman Allah Ta'ala:
قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku." (QS. Ali Imran: 31)
Karenanya klaim cinta kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari
kelahiran beliau. Namun, perilaku banyak menyimpang dan tidak sesuai dengan
tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Sejarah Peringatan Maulid Nabi
Dalam sejarah pun, motivasi orang-orang yang
mula-mula melakukan peringatan maulid Nabi, yaitu pengikut mazhab Bathiniyyah
tidak didasari rasa cinta kepada beliau, tapi untuk tujuan politis.
Pelopor pertama peringatan maulid Nabi shallallahu
'alaihi wasallam adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal
dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah pada pertengahan abad ke empat
Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir
pada tahun 362 H.
. . motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan
maulid Nabi, mazhab Bathiniyyah, tidak didasari rasa cinta kepada beliau, tapi
untuk tujuan politis.
Perayaan maulid diadakan untuk menarik simpati
masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk
untuk mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang
sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.
Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan
bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun.
Beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang
rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya
adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih
parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan
Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad
(Natal), dan hari Khamisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).
Fakta sejarah peringatan maulid yang tidak
ditemukan pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan masa
tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini,
menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam
bid'ah haram.
Tak dipungkiri, di antara ulama ada yang
menganggapnya sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik), selama tidak
dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar
al Atsqalani dan as-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi
adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat
walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.
Keabsahan peringatan maulid Nabi bagi mereka
disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik
permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumentasinya
melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat
maupun secara tersirat dalam Al Quran dan al Sunnah, dan diperkuat dengan
kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang
disyariatkannya suatu ibadah.
Hujjah Pendukung Peringatan Maulid
Para pendukung maulid berusaha mencari dalil untuk
melegitimasi bolehnya peringatan maulid tersebut, antara lain:
Pertama: Sikap Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari
Asyura. Puasa tersebut adalah ungkapan syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla
atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam pun menyerukan untuk berpuasa pada hari tersebut.
Peringatan maulid Nabi, menurut Ibn Hajar dan
as-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam ke muka bumi.
Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya. Mereka
menganggapnya sebagai alasan yang dipaksakan, mengingat dasar suatu ibadah
adalah adanya dalil yang memerintahkannya dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam, bukan pada logika, analogi dan istihsan.
Puasa 'Asyura termasuk sunnah yang telah
dipraktikkan dan diserukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sebaliknya, beliau telah
mewanti-wanti ummatnya dari membuat-buat bid'ah, seperti dalam sabdanya,
"Jauhilah amalan yang tidak aku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah
sesat." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa
mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan nikmat terbesar yang
tercurah pada umat ini adalah diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, Al
Qur'an menyebut pengutusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
sebagai nikmat,
لَقَدْ
مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ
أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberikan karunia
kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di
tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri." (QS. Ali Imran:
164).
Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran
beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut
dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan
menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura' berbeda dengan status
umatnya. Beliau adalah musyarri' (pembuat syariat), adapun umatnya
hanya muttabi' (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan
dianalogikan dengan beliau.
Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk
syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang
empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka
adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dan sangat antusias mengerjakan berbagai kebaikan.
. . sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada
Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak
ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, . .
Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan
rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi’ul Awwal saja? Bukankah
bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba’ pada
sunnahnya?
Kedua: Nabi memeringati hari
kelahirannya dengan berpuasa.
Sebagian beralasan dengan puasa seninnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang merupakan hari kelahirannya.
Ketika beliau shallallahu 'alaihi wasallam ditanya mengenai puasa
Senin, beliau pun menjawab, “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari
aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR.
Muslim). Ini menunjukkan bolehnya memeringati hari kelahirannya.
Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah puasa pada tanggal yang
diklaim sebagai kelahirannya, 12 Rabi'ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah
puasa pada hari Senin. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid diadakan tiap
pekan, bukan sekali setahun.
Selain itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin setiap pekan, tapi juga hari Kamis.
Alasan beliau, "Keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada
hari Senin dan Kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah
sedang aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).
Sehingga berdalih dengan puasa Senin tanpa hari
Kamis termasuk pemaksaan dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat
diterima, mestinya peringatannya dilakukan dalam bentuk puasa, bukan
berfoya-foya dan makan-makan.
Ketiga: Peringatan maulid Nabi
dianggap sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Anggapan ini lahir dari
klasifikasi sebagian ulama terhadap bid'ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan
bid’ah sayyi’ah (jelek) atau dhalalah (sesat).
Alasan ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa
peringatan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat
diterima sebagai bid'ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi shallallahu
'alaihi wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan
yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan diyakini
oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
أَمَّا
بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى
مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad
Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan
(bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).
Ibnu Mas’ud radliyallah 'anhu berkata,
“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), janganlah
membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah
adalah sesat.” (HR. ath-Thabrani dan al Haitsami).
Abdullah bin ‘Umar radliyallah 'anhu menyatakan,
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”
(Al Ibanah al Kubra libni Baththah, 1/219).
Keempat: Peringatan Maulid
merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam.
Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang
pentingnya mengenal sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid'ah dipoles
menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan
untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah
pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu
tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup
bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid
merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang
Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui
natalan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ
تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka
dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud serta
dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
. . upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan
salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang
merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui natalan.
Mengenal sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau
seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya
kepada anak-anak mereka setiap waktu.
Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan
meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi
perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.
Wallahu A’laa wa A’lamu bis-shawab
Keajaiban Sebuah Kelembutan
Kelembutan memberikan pengaruh besar dalam sebuah rumah tangga. Anugrah Allah yang satu ini, yang biasanya menjadi hak milik para istri, akan selalunya memberikan sebuah kebahagiaan. Kelembutan berarti berarti bersabar memahami orang lain, Kelembutan berarti ikhlas dalam senyum menerima apapun yang terjadi dan mewujudkannya dalam sikap yang terbaik, kelembutan berarti membalas betapapun sakitnya perlakuan orang lain dengan sebuah pembalasan yang justru dapat membahagiakannya. Kelembutan juga berarti menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan orang lain tanpa harus menyakiti.
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh SAW yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh SAW tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau SAW membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh SAW. Subhanallah...
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata. Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata "aku ingin.." sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia. Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan. Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah "gengsi" yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita. Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata'ala. Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan. Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri. Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak. Sungguh, kedengaran berat sepertinya. Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita. Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan.
http://voa-islam.com/muslimah/article/2011/02/28/13529/keajaiban-kelembutan/
Jumat, 18 Maret 2011
Mau Masuk Surga, Tempuhlah Jalannya!
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah
menjanjikan surga bagi hamba-hamba yang taat kepada-Nya. Shalawat dan salam
semoga terlimpah kepada Rasulullah yang telah menjelaskan semua jalan ke surga
dan menyuruh umat untuk menempuhnya, juga kepada para keluarga dan sahabatnya.
Allah telah menyiapkan surga bagi para hamba yang
takwa. Kenikmatannya tak ada bandingannya. Allah menggambarkannya sebagai
kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbersit dalam
hati hamba. Maka bayangan seseorang tentang kenikmatan surga tak akan pernah
sama persis dengan hakikatnya.
Sesungguhnya semua yang ada di dunia tidak akan
bisa menyamai sedikit saja dari kenikmatan surga. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menjelaskan,
مَوْضِعُ
سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Satu tempat di surga yang sebesar cambuk
lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad
dan lainnya dari Sahal Bin Sa’id al-Sa’idi)
وَاللَّهِ
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ
هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan
akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke
laut, -hendaknya dia melihat, apa yang didapatkannya.” (HR. Muslim)
Maksudnya, bahwa bila pendeknya waktu dunia dan
kenikmatannya yang fana dibandingkan dengan abadinya akhirat dan
kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel pada jari tangan
seseorang setelah dicelupkan di laut dengan banyaknya air laut, sungguh tidak
sebanding. (Lihat Syarah Shahih Muslim milik Imam Nawawi)
Dalam riwayat Thabrani yang disebutkan Syaikh
Wahid Abdul Salam Bali dalam Shifat al-Jannah, perhiasan penghuni
surga yang paling rendah kualitasnya lebih baik daripada seluruh perhiasan
penduduk surga.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
juga pernah menjelaskan tentang beberapa macam pahala yang akan diberikan
kepada orang yang mati syahid, beliau bersabda; “Dikepalanya dipakaikan
mahkota kebesaran yang mana satu mutiara Yakutnya lebih baik daripada dunia
seisinya.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Maka siapa yang mengetahui keutamaan kenikmatan
akhirat (surga) yang kekal dan tidak akan punah dibandingkan kenikmatan dunia
-seindah dan sebanyak apapun itu- yang pasti akan hilang dan punah, maka dia
tidak akan mengutamakan yang fana atas yang abadi. “Apa yang di sisimu akan
lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. Al-Nahl: 96)
Orang berakal pasti akan mengutamakan kebaikan
akhiratnya dan menempuh jalan yang bisa menghantarkan ke sana dengan tetap
melaksanakan kebutuhan materi dan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,
وَابْتَغِ
فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ
الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ
فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Apa Amalan Ahli Surga?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullaah
menyatakan bahwa tidak mungkin mengungkap semua amalan-amalan ahli surga dengan
rinci. Namun secara global amalan ahli surga semuanya masuk kategori ketaatan
kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan itu teringkas dalam iman dan takwa, yang
mencakup amal batin dan dzahir.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا
وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Barang siapa taat kepada Allah dan
Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang
besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa’:
13-14)
Berikut kami paparkan beberapa amalan ahli surga
yang beliau rahimahullaah sebutkan secara rinci dalam Majmu’
Fa tawanya: 2/387-388:
Amalan-amalan ahli surga: iman kepada Allah, Para
malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman
kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruknya.
Amalan ahli surga: Bersyahadat Laa Ilaaha
Illallah (Tiada Tuhan yng berhak diibadahi kecuali Allah) dan Muhammad
rasulullah (Nabi Muhammad adalah utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan
zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah. Engkau beribadah kepada
Allah seolah-olah meliha-Nya, dan jika tidak bisa, maka yakinilah bahwa Dia melihatmu.
Di antara amalan-amalan ahli surga: Berbicara
jujur, menunaikan amanat, menepati janji, birrul walidain (berbakti kepada
orang tua), menyambung hubungan kerabat, berbuat baik kepada tetangga, anak
yatim, orang miskin, dan yang menjadi tanggungannya dari kalangan manusia atau
binatang.
Di antara amalan ahli surga lainnya: Ikhlas
beribadah kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada
Rasul-Nya, takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya, kembali
kepada-Nya, bersabar menetapi hukum-Nya, dan menyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Di antara amalan ahli surga: Suka membaca
Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, meminta dan berharap
kepada-Nya.
Di antara ahli surga: Beramar ma’aruf (menyuruh
orang berbuat kebaikan), bernahi munkar (melarang orang dari berbuat buruk),
berjihad di jalan Allah dalam memerangi orang kafir munafikin.
Di antara amalan ahli surga: Adil dalam semua
urusannya, adil terhadap semua makhluk sampai terhadap orang kafir, dan
amalan-amalan yan serupa.
Di antara amalan ahli surga: Menyambung tali
persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang pelit
kepadamu, memaafkan orang yang menzalimimu, karena Allah menyediakan surga bagi
orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang tetap berinfak dalam kondisi
lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah menyukai
orang-orang yang senantiasa berbuat baik. Wallahu’ Ta’ala a’lam.
All About Love: Makin Asyik Bicara Cinta
By: Ria Fariana
Love , cinta, liebe , atau menjadi deretan huruf
apapun ia dan dalam bahasa apapun, selalu saja indah dan asyik untuk
dibicarakan. Iya nggak sih?
Bo’ong banget kalo kamu sampe menggelengkan
kepala. Bahkan topik inilah yang paling universal untuk dibicarakan atau pun
dinikmati. Apalagi untuk remaja-remaji seusia kamu, kayak nggak ada tema lain
yang mendominasi pembicaraan selain love and love mulu. Iya apa iya?
Sobat muda, cinta emang indah dan nikmat untuk
dibicarakan atau pun dirasakan. Cinta ternyata ibarat dua sisi mata pisau yang
tajam. Bila tak benar menggunakannya bukan tak mungkin kita malah akan terluka
karenanya.
Seperti kata Kahlil Gibran neh bahwa di balik
sayap indah cinta, waspadalah ada terselip sebilah pisau tajam untuk
mencabikmu. Ciee…nggak usah bingung bagi kamu yang nggak ngeh dengan bahasa
kiasan Bung Gibran ini.
Ketika kamu jatuh cinta, dunia terasa indah dan
berbunga-bunga. Kamu jadi rajin ke sekolah, rajin belajar, suka tersenyum,
nyapa kiri-kanan, dll. Tapi semua itu akan berubah banget ketika kamu dapetin
orang yang kamu cintai dengan tulus ternyata tidak membalas cintamu.
Hiks…langit seakan runtuh. Lagu Pupus-nya Dewa 19 didendangkan
berulang-ulang. Emang enak bertepuk sebelah tangan? Kamu pun merasa jadi orang
paling merana sedunia dan selalu terbayang gimana caranya gantung diri di pohon
tomat. Tapi apa iya sih, cinta cuma sebatas itu?
….Ketika kamu jatuh cinta, dunia terasa indah dan berbunga-bunga. Tapi semua
itu akan berubah banget ketika orang yang kamu cintai ternyata tidak membalas
cintamu….
What is love?
Apa cinta itu? Bila ada sepuluh orang kamu tanya
tentang pertanyaan ini, akan ada sepuluh jawaban pula yang bakal disodorkan.
Bahkan para filsuf dan pemikir dari jaman baheula hingga jaman kiwari masih
pada kebingungan untuk mendefinisikan tentang cinta ini. Bahkan ada yang
bilang, cinta tidak untuk didefinisikan karena it’s all about feeling (duilee..
sampe segitunya)
Tapi ada satu hal yang kita pasti sepakat, bahwa
semua makluk hidup pasti mempunyai cinta. Induk ayam saja rela mengais-ngais
tanah demi mendapat seekor cacing demi disuapkannya pada mulut anaknya. Belum
lagi kalo kamu berusaha mendekati anak ayam yang masih imut, jangan salahkan
bila kamu bakal diterjang sama induknya. Semua itu karena dorongan naluri, rasa
cinta.
Apalagi yang namanya manusia, keberadaan naluri
mencintai dan dicintai ini sudah built-up diberi dari sononya. Karena rasa ini
adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis atau bahasa kerennya,
gharizah nau’. Bisa kamu bayangkan bila seorang suami tidak mencintai istri dan
anaknya, maka ia tak akan mau bersusah payah bekerja mencari nafkah. Begitu
juga seorang ibu, tanpa cinta tak mau ia merasakan lelahnya mengandung sembilan
bulan lamanya, sekitnya melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya, menyusui
hingga dua tahun, dan mendidik serta membesarkan anak-anaknya.
Tanpa cinta, tak mungkin Rasulullah Muhammad SAW
menghabiskan seluruh hidupnya untuk berpikir dan berbuat demi umatnya. Bahkan
di saat detik-detik akhir kehidupannya saat sakaratul maut menjelang, tahu
nggak apa yang diingat beliau tercinta ini? ‘umati…umati’ (umatku…umatku).
Bukan menyebut nama anak-anaknya, bukan pula menyebut nama istri-istrinya,
apalagi menyebut harta yang memang tidak beliau punya, tapi Rasulullah menyebut
umatnya. Termasuk kita yang hidup ribuan tahun jaraknya dari beliau pun sudah
disebut dalam lisan sucinya.
Betapa beliau mengkhawatirkan umatnya dengan
penuh cinta. Malu nggak sih kita bila mengingat ini, sedalam apa balasan cinta
kita untuk Rasulullah SAW? Maka sungguh indah senandung lagu milik Bimbo dengan
penggalan lirik seperti ini:
‘Rindu kami padamu, ya Rasul, rindu tiada
terperi. Berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini’.
….Semua terjadi dengan begitu teratur, begitu indah, dan begitu setia. Tentu
dari Yang Mahamemiliki cinta itu sendiri, Allah SWT….
Siapa sih yang nggak merasa cinta pada sosok
mulia ini? Pasukan perang Tabuk rela menjadikan tubuhnya sebagai tameng anak
panah demi menyelamatkan sang Nabi tercinta. Tubuh dan nyawa mereka tak ada
artinya dibandingkan dengan keselamatan sang Rasul mulia. Bahkan ketika
mendengar berita tentang isu wafatnya Rasul, semua sahabat menangis
tersedu-sedu. Dan ketika mendapati beliau masih hidup tetapi dengan luka
sekujur tubuh, para sahabat lega meski masih merasa sedih dengan terlukanya
sosok yang dicintai. Ingin rasanya mereka menjadi pengganti rasa luka itu
selama bisa mengurangi rasa sakit yang diderita Rasulullah akibat tusukan
pedang dan anak panah. Semua itu mereka lakukan karena cinta.
Bila kita mau menoleh pada hal lain barang
sejenak, akan kita dapati matahari yang bersinar tanpa syarat ke bumi, hujan
pun turun untuk membasahi ladang gersang, dan tanah yang masih juga menumbuhkan
tanaman buat manusia.
Semua itu terjadi dengan begitu teratur, begitu
indah, dan begitu setia. Dari siapa? Tentu dari Yang Mahamemiliki Cinta itu
sendiri; Allah SWT.
Perwujudan cinta
Lalu bagaimana dengan kita? Dengan apa kita harus
membalas semua rasa cinta yang pernah, sedang, dan akan terus kita rasakan
hingga akhir hayat kita itu? Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang
jalan, kasih anak sepanjang galah. Kamu pasti tahu dong, beda panjang jalan dan
galah. Jauh banget kan? Kalau kasih ibu saja sepanjang itu, lalu bagaimana
dengan kasih dan cinta Muhammad saw. pada umatnya? Lalu bagaimana lagi dengan
kasih dan cinta Allah SWT pada kita? Sungguh, seandainya seluruh pohon di bumi
ini dijadikan pena dan air laut sebagai tintanya tetap tak bisa melukiskan
sedalam dan sejauh apa cinta Allah pada kita.
Pernahkah kita merasakan dengan sadar cinta Allah
dalam setiap tarikan dan hembusan nafas? Dalam setiap langkah yang kita buat,
dalam setiap detik waktu yang terlewat, pernahkah itu kita sadari? Semua itu
ibarat matahari, yang karena terbiasanya kita dengan sinarnya kita jadi lupa
pada jasanya.
….Pernahkah kita merasakan dengan sadar cinta Allah dalam setiap tarikan dan
hembusan nafas? Dalam setiap langkah yang kita buat, dalam setiap detik waktu
yang terlewat….
Bayangkan bila sedetik saja Allah menarik pasokan
oksigen untuk kita hirup, makhluk seisi dunia bisa kelabakan. Tapi Allah begitu
sayang dan cinta terhadap kita sehingga tak peduli orang yang durhaka
terhadap-Nya juga diberi pasokan oksigen yang sama dengan mereka yang taat.
Meski tentunya ada konsekuensi juga kan? Mereka yang taat jelas tempat
kembalinya di akhirat; surga. Begitu pun dengan yang durhaka sudah dintentukan
tempatnya; neraka.
Sobat muda muslim, pernah nggak kamu dicintai
oleh orang lain yang begitu tulus mencintaimu tanpa pamrih? Apa yang ingin kamu
lakukan? Kamu pasti berusaha membalas ketulusannya dan berusaha mencintainya
dengan tulus pula.
Lalu, bagaimana dengan membalas ketulusan Allah
dan rasulNya yang sudah begitu mencintai kita tanpa pamrih? Yaitu dengan
berusaha menjalankan perintaNya dan menjauhi laranganNya.
BTW, kalo kamu sedang jatuh cinta, apa sih yang
akan kamu lakukan demi si dia? Kalo si dia nggak suka liat kamu pakai baju
merah, pasti kamu nggak bakal pakai baju itu demi menyenangkan hatinya meski
sebetulnya kamu setengah mati suka warna merah. Jika si dia suka banget makan
bakso kamu pasti berusaha setengah mati bisa mentraktirnya makan bakso meski
kamu lagi kanker alias kantong kering. Kenapa bisa begitu? Karena cinta identik
dengan ketaatan. Identik dengan keinginan untuk membahagiakan. Itu pulalah yang
ingin kita lakukan bila ingin membalas cinta Allah dan RasulNya. Wajar dan
sangat adil kan?
Bentuk riilnya?
Ketika kamu melaksanakan shalat lima waktu dan
puasa Ramadhan, kamu sedang melakukan sebentuk bukti riil cinta kepada-Nya.
Tapi itu belum cukup, karena Islam bukan hanya agama ritual saja. Ketika kamu
menutup aurat, kamu melakukannya karena cinta. Ketika kamu patuh dan sopan pada
orang tua, sayang pada yang lebih muda, ringan tangan pada saat orang lain
membutuhkanmu, bersedia mendengar keluh kesah kesedihan teman yang lagi
durundung duka, itu semua juga sebagian bukti cinta.
Ketika kamu menasihati temanmu untuk tidak
berpacaran dan tidak suka membolos, itu juga bukti cinta. Ketika kamu tahu
menjalankan syariat Islam adalah wajib dan kamu mendakwahkannya pada yang lain,
itu juga bentuk cinta. Bahkan tersenyum pun (asal bukan senyum yang TP alias
tebar pesona yah) itu juga bentuk kecintaan kita pada sesama.
Jangan mentang-mentang kamu udah ngaji duluan,
lalu merasa sok bener sendiri tanpa mau membagi cintamu itu dengan
mendakwahkannya. Emang surga milik kamu sendiri? Nggak kan? Alangkah enaknya
surga itu bila kita bisa menghuninya beramai-ramai. Bukankah kamu lebih suka
rumahmu didatangi banyak temanmu daripada bengong sendirian nggak ada yang
diajak ngomong. Tul nggak?
Cuekin aja kalo ada temanmu yang suka becanda
bilang ‘Enak lho masuk neraka bisa ketemu bintang film macam Britney Spears,
J-Lo, Mas Nunu alias Keanu Reeves or Brandon’. Anggap saja mereka adalah
orang-orang yang membutuhkan sentuhan cintamu dalam bentuk dakwah, amar makruf
nahi munkar. Jangan benci mereka dan jangan pula dijauhi. Sentuh akal dan
perasaannya sehingga mereka dapat memperoleh hidayah dan ‘terjerumus’ dalam
cinta; Islam.
Karena cinta
Yup, benar sekali bahwa semua kejadian di dunia
ini tidak pernah terlepas dari yang namanya cinta. Mulai dari nongolnya kamu di
dunia ini adalah hasil pertautan cinta ibu-bapakmu sampai kamu bisa beriman dan
berislam hingga hari ini juga karena cintanya Rasul terhadap umatnya, juga
cinta Allah terhadap hambaNya. Cinta bukan melulu Tejo yang naksir Surti, tidak
selalu sang putri yang menunggu pangeran idaman datang meminang. Tapi cinta
adalah kehidupan itu sendiri.
….Semua kejadian di dunia ini tidak pernah terlepas dari yang namanya cinta.
Karena cinta adalah kehidupan itu sendiri….
Pernahkah kamu menikmati setiap aliran cinta yang
merambati tubuhmu di saat kamu menarik nafas segar di pagi hari, merasakan
sejuknya embun yang menetes di wajahmu, dan bugarnya badan untuk memulai
beraktivitas? Bila belum, cobalah. Pejamkan matamu dan rilekskan pikiranmu.
Maka biarkan ada yang bening mengaliri sanubarimu. Oksigen yang terhirup, embun
yang lembut, sinar mentari yang hangat, tubuh yang sehat, iman yang kuat dan
pikiran yang mantap, itu semua ada karena cinta.
So , kamu-kamu udah pada ngeh kan, bahwa cinta
bukan melulu seperti yang kamu pahami selama ini, sekadar hubungan
taksir-menaksir antar lawan jenis.
Cinta ternyata bisa begitu luas dan indah. Semoga
artikel cinta ini bisa membuka hati dan akalmu tentang makna cinta itu sendiri.
Sehingga kamu pun bisa melangkah dengan mantap di kehidupan dengan menaburkan
sebanyak mungkin cinta kepada sesama.
Bukan cinta sempit yang sulit dibedakan dengan
nafsu, tapi lebih mengarahkan arti cinta kepada kebenaran itu sendiri, yakni
Al-Islam. Agama yang selama ini menjadi pilihan hidup kita. Nggak berlebihan
kan? Bahkan tulisan ini pun dibuat juga karena cinta kami pada kamu, sang calon
pemegang tongkat estafet dakwah di masa depan. Sungguh, betapa indah dan ringan
semua hal bila kita mendasarkannya karena cinta. Yakinlah ^_^
Ada Apa di Hari Jum'at?
Besok hari adalah hari Jum'at yang dimulai dari
tenggelamnya matahari di kamis sore ini. Hari yang penuh kemuliaan dan
diagungkan di dalam Islam. Tahukah kita apa saja yang terdapat di dalamnya?
Berikut ini beberapa keutamaan yang terdapat di dalam hari Jum'at.
Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam
(pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Pada hari itu terdapat lima kejadian yang besar, yaitu
diciptakannya Adam, diturunkannya ke bumi, dan diwafatkannya, pada hari itu
terdapat satu waktu mustajabah untuk berdoa yang pasti dikabulkan, dan pada
hari Jum’at pula kiamat akan terjadi. Oleh karenanya, pada hari tersebut para
malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan merasa khawatir di hari
Jum’at (akan terjadi kiamat).
Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam
(pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Ringkasnya, hari Jum’at memiliki
keutamaan yang tidak dimiliki hari lain. Kedudukannya di bandingkan dengan hari
lain, seperti bulan Ramadlan terhadap bulan yang lain dan waktu ijabah doa pada
hari itu sebagaimana lailatul qadar pada bulan Ramadlan.
Hari Jum’at menjadi cermin bagi kualitas amal
sepekan seorang hamba, sebagaimana Ramadlan yang menjadi cerminan amal
setahunnya. Jika amalnya pada hari Jum’at tersebut baik, seolah-olah
menggambarkan amalnya pada pekan tersebut juga baik. Sebagimana Ramadlan, jika
ibadah di dalamnya baik, baik pula amalnya pada tahun tersebut, begitu juga
sebaliknya.
Jika amalnya pada hari Jum’at tersebut
baik, seolah-olah menggambarkan amalnya pada pekan tersebut juga baik.
Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat ibadah
yang wajib dan sunnah yang tak diperoleh di selainnya. Di antaranya shalat
Jum’at, bersuci dan memakai wewangian dan pakaian terbagus yang dimiliki ketika
menghadiri jum’atan, membaca surat Al Kahfi, bershalawat untuk Rasulullah, dan
amal-amal shalih lainnya.
Karenanya, seorang hamba hendaknya menjadikan
hari Jum’at sebagai hari ibadah dan meliburkan diri dari kegiatan duniawi,
bukan hari Ahad yang menjadi hari ibadah orang Nashrani.
Karenanya, seorang hamba hendaknya
menjadikan hari Jum’at sebagai hari ibadah dan meliburkan diri dari kegiatan
duniawi,
bukan hari Ahad yang menjadi hari
ibadah orang Nashrani.
Di hari Jum’at ada penghapusan dosa
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya,
dari Salman dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bertanya kepadaku, “apakah kamu tahu hari Jum’at itu?” aku menjawab, “hari
Jum’at adalah hari Allah mengumpulkan Nabi Adam.” Beliau menjawab,
لَكِنِّي
أَدْرِي مَا يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَا يَتَطَهَّرُ الرَّجُلُ فَيُحْسِنُ طُهُورَهُ
ثُمَّ يَأْتِي الْجُمُعَةَ فَيُنْصِتُ حَتَّى يَقْضِيَ الْإِمَامُ صَلَاتَهُ
إِلَّا كَانَ كَفَّارَةً لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ
مَا اجْتُنِبَتْ الْمَقْتَلَةُ
“Tapi aku mengetahui apa hari jum’at itu.
Tidaklah seseorang menyempurnakan bersucinya, lalu mendatangi shalat Jum’at,
kemudian diam hingga imam selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan
menjadi penghapus dosa antara Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia
menjauhi dosa besar.”
. . . kemudian diam hingga imam
selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan menjadi penghapus dosa antara
Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia menjauhi dosa besar.”
Masih dalam Al Musnad, dari Atha' al
Khurasani, dari Nubaisyah al Hudzaliy bahwa dia meriwayatkan dari Rauslullah shallallahu
'alaihi wasallam, "Bahwasanya jika seorang muslim mandi pada hari
Jum'at, lalu datang ke masjid dan tidak menyakiti seseorang; dan jika dia
mendapati imam belum datang di masjid, dia shalat hingga imam datang; dan jika
ia mendapati imam telah datang, dia duduk mendengarkan khutbah, tidak berbicara
hingga imam selesai melaksanakan khutbah dan shalatnya. Maka (balasannya)
adalah akan diampuni semua dosa-dosanya pada Jum'at tersebut atau akan menjadi
penebus dosa Jum'at sesudahnya."
Dari Abu Darda', Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ
اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَبِسَ ثِيَابَهُ وَمَسَّ طِيبًا إِنْ كَانَ
عِنْدَهُ ثُمَّ مَشَى إِلَى الْجُمُعَةِ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ وَلَمْ يَتَخَطَّ
أَحَدًا وَلَمْ يُؤْذِهِ وَرَكَعَ مَا قُضِيَ لَهُ ثُمَّ انْتَظَرَ حَتَّى
يَنْصَرِفَ الْإِمَامُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Siapa mandi pada hari Jum'at, lalu
memakai pakaiannya (yang bagus) dan memakai wewangian, jika punya. Kemudian
berjalan menuju shalat Jum'at dengan tenang, tidak menggeser seseorang dan
tidak menyakitinya, lalu melaksanakan shalat semampunya, kemudian menunggu
hingga imam beranjak keluar, maka akan diampuni dosanya di antara dua Jum'at."
(HR. Ahmad dalam Musnadnya)
Dalam Shahih Al Bukhari, dari Salman radliyallah
'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لَا
يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ
وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا
يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا
تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ
الْأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at
dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak
wangi yang di rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak
memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan
shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan dengan seksama
ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi)
antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
bahwa pengampunan dosa dari satu Jum'at
ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan
yang disebutkan dalam hadits, antara lain mandi, . . .
*Keterangan: bahwa pengampunan
dosa dari satu Jum'at ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan
melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits, antara lain mandi,
membersihkan diri, memakai minyak atau wewangian, memakai pakaian terbagus,
berjalan ke masjid dengan tenang, tidak melangkahi dan memisahkan antara dua
orang yang duduk bersebelahan, tidak menyakitinya, shalat nafilah, tidak bicara
dan tidak melakukan sesuatu yang sia-sia selama khutbah hingga selesai shalat.
Dan masih ada satu syarat lagi, yaitu selama dia tidak melakukan dosa besar di
hari itu.
Kepatuhan Kepada Suara Kebenaran Hati Nurani
Ketika banyak hal terjadi dalam hidup, maka hati nurani menjadi filter bagi kita.Saat harus memilih, manusia memiliki kebebasan hakiki sebagai manusia. Di sini pulalah hati nurani berbicara untuk menjaga langkah kita dari kesesatan. Suara kebenaran yang selalu di usungnya menjadikan dia menjadi raja bagi yang mengangkatnya sebagai raja. Dia menjadi alarm bagi pribadi yang mematuhi dan rajin berkonsultasi kepadanya.
Kepatuhan atau penyangkalan kita kepada suara Hati nurani, yang selalu menyerukan sesuatu yang baik, akhirnya menjadi pengukir jalan nasib kita selanjutnya. Bisa saja manusia pintar dalam menyusun kata untuk berdalih atau berbohong, namun kebenaran dari hati nuraninya sendiri tak akan pernah bisa disangkalnya. Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran itu, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal figur tuhan dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK". Dengan kata lain, sebenarnya hal tersebut secara tidak langsung menyangkal pendirian mereka sendiri. Bukankah hati nurani adalah salah satu dari kewujudan kuasa Allah subhanahu wata'ala juga.
" Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran dari hati nurani mereka sendiri, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal Allah subhanahu wata'ala dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK" atas kuasa Allah."
Apakah kita pernah merasa terpenjara, walaupun sebenarnya kita bebas? ternyata penyangkalan kita terhadap suara hati nurani sudah cukup sangat memenjarakan kita dalam sempitnya pemikiran dan dunia kita sendiri. Kenyamanan dan kesenangan dunia tidak lagi terasa, karena beratnya pikiran dan langkah yang terasa seperti terkekang dan sangat terbatas.
Ternyata, sebagai manusia ternyata kita benar-benar tidak akan bisa terlepas dari kefitrahan kita sebagai figur ciptaan Sang Maha Pencipta. Artinya, dalam kondisi harus membuat pilihan yang terbebas sekalipun, hati nurani yang membawa pesan moral dan tetap berusaha memagari. Manusia tidak akan pernah 100% menjadi individu yang bebas. Namun ketika kita berusaha selalu mentaati kebenaran yang dibisikkannya, maka hal tersebut akan memberikan kita kebebasan yang benar-benar bebas.
http://www.voa-islam.com/muslimah/article/2011/03/02/13558/kepatuhan-kepada-suara-kebenaran-hati-nurani/
4 Hal yang Lebih Baik Daripada Dunia dan Seisinya
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji Allah yang menjanjikan
surga bagi hamba yang bertakwa. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada
Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Sesungguhnya kebaikan hamba di dunia dan akhirat
berporos pada takwa. Sehingga Allah Ta’ala memerintahkannya dalam banyak
firman-Nya dengan beragam cara, salah satunya menjanjikan pahala besar bagi
para hamba yang bertakwa. Tujuannya, agar mereka semakin semangat
menjalankannya.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ
الْعَظِيمِ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan
menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)
Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di
dalam tafsirnya Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan,
takwanya seorang hamba kepada Rabb-Nya merupakan tanda kebahagiaan dan alamat
keberuntungannya. Dan Allah telah menetapkan pahala takwa yang sangat banyak
yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Dan dalam ayat ini bahwa orang yang
bertakwa kepada Allah mendapatkan empat hal, dan setiap bagiannya adalah lebih
baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya:
Pertama, al-Furqan: yaitu ilmu
dan petunjuk yang dengannya dia bisa membedakan antara hidayah dan dhalalah
(kesesatan), hak dan batil, halal dan haram, orang-orang yang bahagia dan
orang-orang yang sengsara.
Anugerah ini, seperti yang dinukil Ibnu Katsir
dari Ibnu Ishaq , adalah menjadi sebab datangnya pertolongan, keselamatan
dirinya, dan solusi bagi dirinya dari segala urusan dunia dan kebahagiaannya di
akhirat.
Kedua dan ketiga, Takfir
Sayyiat (penghapusan kesalahan) dan Maghfirah Dunub (ampunan
dosa). Keduanya, ketika dipisah memiliki makna sama. Namun ketika dikumpulkan, Takfir
Sayyiat berarti penghapusan dosa-dosa kecil, sedangkan Maghfirah Dunub
yakni penghapusan dosa-dosa besar.
Keempat, ganjaran besar dan
pahala yang banyak bagi orang yang bertakwa dan lebih mengutamakan keridhaan
Allah daripada hawa nafsunya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah,
وَاللَّهُ
ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Anfal: 29) Menurut Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam Aisar Tafasirnya,
adalah surga dan kenikmatannya.
Sungguh besar pahala yang akan didapatkan oleh
orang yang menjalankan ketakwaan, yaitu mereka yang melaksanakan
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Yaitu mereka yang ikhlash
dalam seluruh amalnya, benar-benar ittiba’ (mengikuti) utusan Allah, berakhlak
baik, berkata benar, semangat dalam kebaikan, berlomba meraih fadhilah,
beribadah dengan keyakinan berada di hadapan-Nya dan disaksikan oleh-Nya, dan
benar-benar takut kepada Allah dengan penuh kesadaran bahwa selalu mengawasinya
dan melihatnya di masa saja dan kapan saja. Allahu Ta’ala a’lam.
BAHAGIALAH (setiap hari!!!)
Banyak di antara kita menunggu datangnya hari libur. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang dinanti-nanti. Kita akan merasa sangat senang dan bahagia ketika datang hari tersebut. Bahkan pada hari Jum’at sore sudah tercium aromanya. Lalu bagaimana dengan hari-hari yang lainnya (senin-jum’at). Apakah berarti hari Senin sampai dengan Jum’at kita tidak bahagia?..atau mungkin sedikit bahagianya dibandingkan hari Sabtu Minggu?
Sayang sekali kalau kita hanya berbahagia hanya kurang lebih 2 hari dalam satu minggu. Itu berarti kita merasa bahagia selama 8 hari dalam satu bulan. Atau kalau kita mau konversi kan lagi, berarti hanya 96 hari dari 365 hari yang kita miliki dalam satu tahun. Itupun kalau kita kalau semua hari sabtu-minggu kita benar-benar berbahagia.
Dan ternyata, ada juga yang tidak bisa betul-betul bahagia sekalipun pada hari Sabtu-Minggu. Sering kita lihat hari Sabtu-Minggu di isi oleh banyak keluarga dengan bepergian, misal menginap di vila. Ada pendapat menarik, alasan bepergian,di antaranya adalah karena jenuh atau daripada bertengkar di rumah. Karena tidak mampu menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga, sehingga daripada bermasalah di rumah lebih baik bepergian, menginap di luar kota. Lalu kalau begini kapan bahagianya?
Dalam tulisan saya sebelumnya menguraikan, pada dasarnya yang diinginkan manusia adalah kebahagiaan dan menolak penderitaan atau musibah. Namun kadang konsep-konsep yang ditawarkan juga beragam. Sebagian beranggapan kebahagiaan itu seperti komoditas : misal membelinya melalui rumah, mobil mewah, baju baru, kosmetik, bahkan operasi plastik. Ada juga yang mencarinya dengan keterkenalan, kekayaan, uang, tabungan, jabatan, nama baik, jaim dan sebagainya (Gede Prama, 2006). Dan ada juga yang mencarinya dengan obat-obatan, minum-minuman dan segala perbuatan tercela lainnya (kami berlindung kepada Tuhan dari hal-hal sedemikian)
Namun fakta empiris dan semua ajaran suci mengatakan bahwa itu semua adalah kebahagiaan yg seperti ini yang dibeli atau datang dari luar (ekstrinsik) maka sifatnya akan datang dan pergi, tidak berakar, keropos, mudah diterbangkan angin, begitu komoditinya hilang maka kebahagiaannya menjadi hilang. Apalagi ketika kebahagiaan atau kesenangan yang dicari asimetri dengan ajaran suci. Maka yang didapat hanyalah kemuraman.
Ada juga yang bahagianya tergantung orang lain. Orang lain mampu membuat sedih dan bahagia pada diri kita. Pada dasarnya ketika ini terjadi, kita sudah memberikan saklar kebahagiaan kita pada orang lain. Bukan kita yang memutuskan bahagia atau tidak, melainkan orang lain. Mereka yang menguasai saklar, mereka yang memutuskan. Mestinya jangan sembarangan kita berikan saklar keputusan penting kita pada orang lain.
Ditemukan juga fakta menarik yang banyak terjadi pada menimpa kita semua. Yaitu ketika komoditinya tidak hilang, komoditinya masih melekat dalam dirinya, masih kita punyai, namun kebahagiannya telah pergi. Orang itu masih punya rumah mewah, masih punya mobil bagus, kaya dan keluarga lengkap serta sehat, namun anehnya dia merasa tidak bahagia.
Sebagai contoh sederhana misalnya, dahulu ketika sebagian dari kita masih kekurangan, belum punya kendaraan, berangkat kerja di antar sampai ditepi jalan. Kemudian bersalaman dengan hangat, disertai cium dan peluk istri-anak, rasanya seperti guyuran air terjun wisata yang percikan air dan embunnya segar menerpa wajah kita. Namun paradok dengan masa lalu, setelah kendaraan bagus dimiliki, justru hilang ”rasa” itu. Dengan alasan nyuci mobil, mengecek oli, atau memanaskan mesin sepertinya sudah tidak sempat lagi kehangatan itu kita rasakan. Tidak sempat lagi alasannya. Rasa ”bahagia” itu sudah hilang tanpa harus komoditinya hilang terlebih dahulu.Bahagia adalah merupakan putusan kita dalam memilih. Dengan komoditi yang ada atau komoditi yang sama, kita bisa memutuskan memilih bahagia atau tidak bahagia. Dengan sarana atau tanpa sarana atribut dunia kita bisa bahagia. Kita bisa memilih bahagia hari ini atau juga tidak berbahagia hari ini. Komoditi / Faktor eksternal memang dapat mempengaruhi kebahagiaan kita, namun tetap pada akhirnya kita yang memutuskan.
Maka putuskanlah anda untuk berbahagia, karena dengannya semua fikiran, perasaan dan tindakan Anda akan berfokus kepada yang membahagiakan (Mario Teguh,2010)
PUTUSKANLAH untuk BERBAHAGIA......
Waktu yang terbaik untuk berbahagia adalah hari ini...dan pada suatu hari di surga nanti..
Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini...dan pada salah satu taman dari taman di surga kelak
Metode agar mendapat Kebahagiaan yang bertambah-tambah adalah dengan bersyukur..
Mengawetkan kebahagiaan adalah dengan lapang hati, ridho & merasa cukup....
Cara tercepat mendatangkan kebahagiaan adalah dengan memberikan kebahagiaan pada sesama..
Atau MEMUTUSKAN UNTUK TIDAK BAHAGIA...???
Cara terbaik untuk menghilangkan kebahagiaan adalah dengan berma’siyat pada-Nya..
Cara menunda kebahagiaan adalah dengan memilih hari tertentu untuk bahagia..
Cara termudah merusak kebahagiaan adalah dengan menyakiti sesama…
Cara tersulit untuk berbahagia adalah dengan serakah & mementingkan diri sendiri…
Putuskanlah sendiri SEKARANG juga untuk menyelimuti hidup kita dengan kebahagiaan…
Pancarkan & bagi kebahagiaan kita SETIAP HARI pada semesta….
BAHAGIALAH di DUNIA..
BAHAGIA pula di SURGA..
http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/pelajaran-hari-ke-2-bahagialah-setiap-hari/10150111827605849
Mengenali Peluru-peluru Syaithan
Untuk mencapai keberhasilan,
kita harus dapat mengenali dan waspada terhadap tipu daya syaithan
karena syaithan selalu mencari kesempatan untuk menyerang
dan merasuk hati manusia.
Menurut Imam Ghazali , syaithan sering masuk dan memanfaatkan hal-hal berikut :
1. Perasaan marah
2. Hawa nafsu
3. Perasaan tamak dan dengki
4. Kenyang
5. Cinta kepada perhiasan dan harta benda
6. Bergantung kepada manusia
7. Bertindak terburu-buru dan terburu nafsu
8. Cinta kepada uang
9. Pelit
10. Fanatik terhadap mazhab dan kelompok
11. Berpikir mengenai zat, sifat, dan af’al atau perbuatan Allah tanpa ilmu
12. Sikap mudah berburuk sangka terhadap orang-orang islam
Semoga bermanfaat
http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/mengenali-peluru-peluru-syaithan/491623320848
Dusta yang Mana Lagi ( ? )
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
==============================
Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi "fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban" (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat bahasa sastra yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?".
Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta"; bukan kata "ingkari",. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.
Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Sarjana atau Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.
Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan! Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah–baik anda dustakan atau tidak–semua ni’mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!
"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini" ( QS 102:8 )
Sudah siapkah anda menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???
Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI’MATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).
Tidak patutkah anda bersyukur kepadaNYA, Mari mengucap Alhamdulillah sebagai bagian dari rasa syukur kita .
Barakallhufikum
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-dusta-yang-mana-lagi-/200265876668734
Munafik? No Way, lah yoww!!
"Rencana jahat apabila ada pada diri seseorang maka akan kembali akibatnya kepadanya. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakanya sendiri." (Fa'athir : 43)
=========================================
'MUNAFIK' ,tujuh huruf tiga suku kata, tapi dahsyat! Tak cukup di pandang, hanya dengan dua bola mata.Heheh.. Lantas mau di pandang dengan apa lagi jenk? 'Mata hati' gitu..
Karena hanya dengan membuka mata hati lah, kita dapat mendeteksi keberadaan sifat yang paling menakutkan ini. Bahkan junjungan kita yang mulia Rosulullah saw sangat menghawatirkan keberadaan sifat ini diantara umatnya (kita juga termasuk umatnya bukan?).
Sabda Rosulullah :"Aku tidak khawatir umatku dari mu'min maupun musyrik, sebab yang mu'min telah di jaga oleh imannya. Sedang si musyrik telah di belenggu kekafirannya. Namun yang aku takutkan atas kalian adalah keberadaan seorang munafik yang pandai berbicara tentang apa-apa yang kamu ketahui namun dia berbuat apa-apa yang kamu ingkari." (Shahih Bukhari)
Nah! karena itulah, sifat yang satu ini sungguh sangat menakutkan. Karena pengaruh sifat ini terhadap orang di sekitarnya dapat mengubah yang mukmin menjadi musyrik, jika kita tidak pandai untuk mengenali sifat ini dari awal.
Dalam sabda Rosulullah saw yang lain, beliau memberikan 4 tanda kemunafikkan pada diri seseorang.Sabda Rosulullah :
"Empat hal yang menjadikan tanda kemunafikkan.
Dan jika salah satunya ada pada diri seseorang maka dia telah menyandang sebagian tanda (karakter) tersebut sehingga ia meninggalkannya. Yaitu: 1. jika berbicara ia berbohong, 2. jika berjanji ia mengingkari, 3. jika bekerja sama akan menipu, 4. jika bermusuhan akan bertindak aniyaya (fajir)." (Shahih Bukhari)
Maka dari itu sahabat, kita harus lebih waspada dan hati-hati. Bukan berarti kita berprasangka buruk pada orang, hanya saja lebih tingkatkan kewaspadaan dengan orang seperti ini. Jika kau tidak mau jatuh dan terjerumus bersama kemunafikkanya. Upst! atau jangan-jangan, kita juga termasuk orang yang munafik?! Atau malah.. selama ini kita tidak pernah merasa atau menyadari, bahwa sebenarnya kemunafikkan telah menjadi sifat dasar kita?? (astaghfirullah)Selain dari sifat munafik ini, ada satu lagi sifat yang tak kalah seremnya.Yaitu sifat 'JAHIL'.
"Berkata sam' un: "Beritahulah diriku tanda-tandanya orang yang jahil?" Rosulullah saw menjawab: "Jika kau temani, dia akan merepotkanmu. Jika engkau jauhi, dia akan mencelamu. Bila memberimu sesuatu, dia akan mengungkit-ungkit. Jika kau memberi sesuatu, dia akan mengingkari. Jika kau berbicara tentang sesuatu rahasia, dia akan mengkhianatimu. Bila memberi tahu sesuatu hal yang rahasia padamu, ia akan menuduhmu yang bukan-bukan. Bila merasa cukup, dia berlaku sombong dan kasar. Jika butuh sesuatu dia akan meremehkan nikmat Allah tanpa merasa berdosa. Jika senang dia akan melampaui batas. Jika di timpa kesedihan dia segera putus asa. Kalau tertawa terbahak-bahak. Jika menangis akan menjerit-jerit. Dia selalu menjelekkan orang baik. Serta tidak mencintai Allah dan tidak mengikuti aturan-Nya. Juga tidak merasa malu kepada Allah. Jarang menyebut nama-Nya. Jika kau di anggap merelakanya, dia akan memujimu dengan pujian yang tidak ada padamu. Dan jika marah kepadamu, dia akan mencacimu dengan sesuatu kejelekan yang tidak pernah engkau lakukan. Itulah perilaku orang jahil." (Shahih Bukhari)
Nah lho..?? gimana sahabat, adakah ciri-ciri diatas menjadi sifatmu? ataukah orang-orang yang ada di sekitarmu? atau malah, aku sendiri juga punya ciri-ciri diatas? hmmm (weh.. kalau itu mah rahasiaku! ) heheh.. :b
Semoga kita semua dapat menghindari sifat-sifat buruk ini (Munafik, jahil) atau sifat-sifat buruk yang lainnya.
"Tunjukkan kami jalan-Mu ya Rabbi.. Tuntun dan bimbinglah langkah kami.. Luruskan niat dan teguhkanlah iman di hati.. Rahmat dan Hidayah-Mu Ya Illahi."
"Apa saja yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (An-Nissa : 79)
=========================================
"Allah SWT tidak menilai rupa atau harta kalian, Tapi Allah menilai hati dan perbuatan kalian. Wahai manusia! Aku tinggalkan padamu (sesuatu), jika kalian berpegang padanya, tidak akan tersesat selamanya : Kitab Allah (AL-Qur'an) dan Itrahku Ahlul Baitku." (Shahih Bukhari)
..:: Jagalah Hati lentera hidup ini, jagalah Hati cahaya Illahi ::..
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/munafik-no-way-lah-yoww/10150150369606042
Kamis, 17 Maret 2011
Catatan Khusus: JANGAN BOHONG DI DUNIA MAYA
Sebenarnya tulisan ini, sudah pernah aku muat, tapi dulu, lama sekali, dan aku kira tidak banyak sahabat-sahabat baru yang punya waktu membongkar tumpukan catatan-catatanku, maka ada baiknya, aku posting lagi, dengan beberapa editan.
Aku pernah membaca cerita menarik di harian Okaz ( koran dengan oplah terbesar di Saudi Arabia). Cerita tentang sepasang suami istri di Yordania, yang lagi bertengkar hebat.
Singkat cerita, keduanya pun pisah ranjang dan tidak tinggal serumah lagi. Untuk mengusir kesepian dan kejenuhan, keduanya mencoba mencari hiburan dengan masuk ke alam dardasyah (dunia chatting). Keduanya pun berhasil menemukan pasangan masing-masing di dunia maya.
Sang istri curhat pada 'pasangan'-nya tentang problem hidupnya, begitu juga sang suami pada cewek chat-nya.
Mereka pun akhirnya (setelah lama hubungan maya dengan pasangan masing- masing) sepakat melakukan kopdar. Pikir sang istri, pasti cowok chat-ku ini orang baik banget, udah begitu perhatian ama aku. Sang suami juga berpikir sama, cewek chat-ku ini pasti lebih baik dari istriku dulu, dan lebih cantik.
Hari pertemuan pun ditentukan, tempatnya di bandara, masing-masing memakai baju dengan warna yang telah disepakati. Sang istri datang duluan di bandara menunggu cowok chat-nya. Di sisi lain,sang suami berpacu jantung, bagaimana wajah calon istri keduanya.
Waktu berjalan merayap, setelah hampir 1 jam, sang istri dari kejauhan melihat pria berjalan ke arahnya dengan tanda pengenal yang disepakati. Sementara di saat yang sama, sang suami yang juga mau kopdar, melihat tanda cewek chat-nya di kursi pengunjung. Dia pun berlari ke arah wanita itu. Di tempat lain, sang istri melihat ada pria bergegas mendekat kepadanya.
Dan setelah dekat dan bertemu, yang terjadi adalah keterkejutan yang luar biasa, ternyata teman cewek chat si suami itu, adalah istrinya sendiri ! Si istri pun tak kalah kagetnya setelah tahu cowok chat-nya adalah suaminya sendiri.
Yang terjadi setelah itu adalah tragedi, pertengkaran memalukan terjadi di bandara dengan hebat, masing-masing merasa dibohongi oleh pasangan chat-nya.
Percekcokan itu, berakhir dengan perceraian memilukan yang membuat sang istri seketika pingsan di tempat.
Satu kisah di antara jutaan kisah yang terjadi berawal dari dunia maya.
Sebenarnya, perbedaan antara dunia nyata dengan dunia maya tipis sekali, itu jika kita mau dengan cermat memperhatikan.
Kadang orang menjadikan dunia maya sebagai pelarian dari dunia nyata, dia anggap hanya iseng saja, yang tanpa sadar justru dia masuk pada masalah baru.
Sebab bagaimanapun, semua pelakunya adalah manusia yang punya hati.
Aku pribadi sama sekali tidak yakin jika usai chat kita merasa biasa saja, pasti terkadang ada perasaan bahagia, sedih, marah, kagum, cemburu, bahkan jatuh cinta. Bukti dari itu, tidak sedikit di antara kita yang kepikiran usai chat. Makan tidak enak, tidur tidak tenang, dan sebagainya. Atau sebaliknya, tergantung keadaan psikologi kita.
Istilah Kehidupan di dunia maya pun tidak beda jauh dengan dunia nyata, di sana juga ada istilah cyber crime, kriminalitas. Polisinya juga ada. Bedanya hanya semuanya bermain di khayalan kita, namun persamaannya (dan ini poin yang paling penting) sama-sama berpengaruh pada psikologi, perasaan dan kinerja hati kita.
Kita bisa iri pada teman maya kita, sombong pada mereka, bahkan benci dan dendam, yang secara tidak sengaja malah mengotori hati kita. Sayangnya, kita banyak mengabaikan hal ini, ah, cuma dunia maya, nggak beneran.
Suatu sikap yang bisa berubah menjadi pedang bermata dua. Dan yang paling membahayakan bagi proses pembersìhan hati dan jiwa kita saat di dunia maya, adalah BERBOHONG.
Sumber dari segala kehancuran kita, adalah sikap bohong. Nabi sendiri pernah berkata, bahwa seorang mukmin itu tidak berbohong, (wa in zanaa wa in saroq) walau berzina walau mencuri. Karena iman dan kebohongan tidak pernah bersatu.
Tetapi kebanyakan di antara kita, lebih memilih berbohong saat di dunia maya. Kita tega membohongi teman kita (di saat yang sama,dia pun tega bohongin kita) Dan tak jarang kebohongan itu malah membahayakan, merugikan dan mengecewakan bagi kita atau teman kita.
Sebenarnya,apa sih sulitnya jujur?dan sudah jadi hukum alam, kejujuran tidak pernah merugikan.
Memalukan jika kita mengaku muslim,tapi kita tega membohongi saudara muslim. Kita semua pasti tahu, salah satu tanda sikap hipokrit (munafik) adalah, saat berbicara selalu berbohong.
Akhir catatan, yang perlu dituntut dari kita, adalah mawas diri. Proses penjernihan hati dan jiwa untuk mencapai tingkat ma'rifatullah tidaklah mudah. Jalan cukup terjal, apalagi jika kita terjun ke dunia maya,bersiap-siaplah untuk lebih ekstra hati,jika kita tidak ingin jiwa kita menjelaga pelan-pelan tanpa kita pernah terasa. Wallohu a'lam (*)
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-catatan-khusus-jangan-bohong-di-dunia-maya-/10150147853771042
Langganan:
Postingan (Atom)
