Mengenai Saya
Laman
Kamis, 17 Maret 2011
Catatan Khusus: JANGAN BOHONG DI DUNIA MAYA
Sebenarnya tulisan ini, sudah pernah aku muat, tapi dulu, lama sekali, dan aku kira tidak banyak sahabat-sahabat baru yang punya waktu membongkar tumpukan catatan-catatanku, maka ada baiknya, aku posting lagi, dengan beberapa editan.
Aku pernah membaca cerita menarik di harian Okaz ( koran dengan oplah terbesar di Saudi Arabia). Cerita tentang sepasang suami istri di Yordania, yang lagi bertengkar hebat.
Singkat cerita, keduanya pun pisah ranjang dan tidak tinggal serumah lagi. Untuk mengusir kesepian dan kejenuhan, keduanya mencoba mencari hiburan dengan masuk ke alam dardasyah (dunia chatting). Keduanya pun berhasil menemukan pasangan masing-masing di dunia maya.
Sang istri curhat pada 'pasangan'-nya tentang problem hidupnya, begitu juga sang suami pada cewek chat-nya.
Mereka pun akhirnya (setelah lama hubungan maya dengan pasangan masing- masing) sepakat melakukan kopdar. Pikir sang istri, pasti cowok chat-ku ini orang baik banget, udah begitu perhatian ama aku. Sang suami juga berpikir sama, cewek chat-ku ini pasti lebih baik dari istriku dulu, dan lebih cantik.
Hari pertemuan pun ditentukan, tempatnya di bandara, masing-masing memakai baju dengan warna yang telah disepakati. Sang istri datang duluan di bandara menunggu cowok chat-nya. Di sisi lain,sang suami berpacu jantung, bagaimana wajah calon istri keduanya.
Waktu berjalan merayap, setelah hampir 1 jam, sang istri dari kejauhan melihat pria berjalan ke arahnya dengan tanda pengenal yang disepakati. Sementara di saat yang sama, sang suami yang juga mau kopdar, melihat tanda cewek chat-nya di kursi pengunjung. Dia pun berlari ke arah wanita itu. Di tempat lain, sang istri melihat ada pria bergegas mendekat kepadanya.
Dan setelah dekat dan bertemu, yang terjadi adalah keterkejutan yang luar biasa, ternyata teman cewek chat si suami itu, adalah istrinya sendiri ! Si istri pun tak kalah kagetnya setelah tahu cowok chat-nya adalah suaminya sendiri.
Yang terjadi setelah itu adalah tragedi, pertengkaran memalukan terjadi di bandara dengan hebat, masing-masing merasa dibohongi oleh pasangan chat-nya.
Percekcokan itu, berakhir dengan perceraian memilukan yang membuat sang istri seketika pingsan di tempat.
Satu kisah di antara jutaan kisah yang terjadi berawal dari dunia maya.
Sebenarnya, perbedaan antara dunia nyata dengan dunia maya tipis sekali, itu jika kita mau dengan cermat memperhatikan.
Kadang orang menjadikan dunia maya sebagai pelarian dari dunia nyata, dia anggap hanya iseng saja, yang tanpa sadar justru dia masuk pada masalah baru.
Sebab bagaimanapun, semua pelakunya adalah manusia yang punya hati.
Aku pribadi sama sekali tidak yakin jika usai chat kita merasa biasa saja, pasti terkadang ada perasaan bahagia, sedih, marah, kagum, cemburu, bahkan jatuh cinta. Bukti dari itu, tidak sedikit di antara kita yang kepikiran usai chat. Makan tidak enak, tidur tidak tenang, dan sebagainya. Atau sebaliknya, tergantung keadaan psikologi kita.
Istilah Kehidupan di dunia maya pun tidak beda jauh dengan dunia nyata, di sana juga ada istilah cyber crime, kriminalitas. Polisinya juga ada. Bedanya hanya semuanya bermain di khayalan kita, namun persamaannya (dan ini poin yang paling penting) sama-sama berpengaruh pada psikologi, perasaan dan kinerja hati kita.
Kita bisa iri pada teman maya kita, sombong pada mereka, bahkan benci dan dendam, yang secara tidak sengaja malah mengotori hati kita. Sayangnya, kita banyak mengabaikan hal ini, ah, cuma dunia maya, nggak beneran.
Suatu sikap yang bisa berubah menjadi pedang bermata dua. Dan yang paling membahayakan bagi proses pembersìhan hati dan jiwa kita saat di dunia maya, adalah BERBOHONG.
Sumber dari segala kehancuran kita, adalah sikap bohong. Nabi sendiri pernah berkata, bahwa seorang mukmin itu tidak berbohong, (wa in zanaa wa in saroq) walau berzina walau mencuri. Karena iman dan kebohongan tidak pernah bersatu.
Tetapi kebanyakan di antara kita, lebih memilih berbohong saat di dunia maya. Kita tega membohongi teman kita (di saat yang sama,dia pun tega bohongin kita) Dan tak jarang kebohongan itu malah membahayakan, merugikan dan mengecewakan bagi kita atau teman kita.
Sebenarnya,apa sih sulitnya jujur?dan sudah jadi hukum alam, kejujuran tidak pernah merugikan.
Memalukan jika kita mengaku muslim,tapi kita tega membohongi saudara muslim. Kita semua pasti tahu, salah satu tanda sikap hipokrit (munafik) adalah, saat berbicara selalu berbohong.
Akhir catatan, yang perlu dituntut dari kita, adalah mawas diri. Proses penjernihan hati dan jiwa untuk mencapai tingkat ma'rifatullah tidaklah mudah. Jalan cukup terjal, apalagi jika kita terjun ke dunia maya,bersiap-siaplah untuk lebih ekstra hati,jika kita tidak ingin jiwa kita menjelaga pelan-pelan tanpa kita pernah terasa. Wallohu a'lam (*)
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-catatan-khusus-jangan-bohong-di-dunia-maya-/10150147853771042
@}~~ Ketika Bidadari Turun Ke Bumi ~~{@
♥●♥_◕_♥●♥
Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.
Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?
♥●♥_◕_♥●♥
Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2. Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)
Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi.
jika kau mau dan mampu menjadi sepertinya,,, satukan niat yg bersih, lakukan, dan istiqomahlah,,, :-)
♥●♥_◕_♥●♥
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-ketika-bidadari-turun-ke-bumi-/10150149421396042
Ada Saat - Saat Ketika Resah Tak Menemukan Jawabnya...
Bismillaahirrahmanirrakhiim......
Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya.
Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah.
Di saat kesendiriaan tak sanggup kita tanggungkan,
sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga,
ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih :
"Kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir??”
Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggamanNya.
Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam,
dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih.
Kita mencoba merenung sejenak secara jujur,
apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepadaNya,
sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan dan bahkan mungkin kesombongan kita terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba.
Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri?
Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk semua orang?
Cobalah bertanya sejenak pada hati nurani, tanpa perlu menitikkan airmata duka.
Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai suami atau istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?
Cobalah untuk bertanya.
Cobalah! Cobalah! Cobalah! Dan tahan dulu kerisauan itu…….
Sudahkah kita bertanya pada hati nurani…….penantian itu, apakah sebabnya tak kunjung berakir??
KADANG IA ADALAH UJIAN
Allah memberikan ujian kepada hamba-hambaNya agar dengan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimanannya dan orang-orang yang benar-benar mencintaiNya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika ingin naik kelas. Sesungguhnya Allah tidak akan member ujian yang melebihi batas kesanggupan hambaNya.
“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)
Pertanyaannya, apakah yang kita hadapi sekarang merupakan ujian dari Allah??
Wallahu ‘Alam bisshowab. Yang bisa mengetahui adalah diri kita sendiri. Nurani kita yang dapat meraba. Karena itu, bertanyalah pada hati nuranimu.
Selebihnya, ada beberapa hal yang dapat kita catat. Jika sudah bersungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu tetapi belum datang-datang juga. Jika sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidup. Kalau sudha berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh tetapi tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau sudah didesak oleh kerinduan sembari disaat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh merupakan ujian…..
Obat menghadapi ujian adalah sabar. Sabar dalam menanti takdir. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berdoa dan sabar dalam memegangi kebenaran. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang mendapat pertolongan Allah.
BARANGKALI KITALAH PENYEBABNYA
Betapa banyak orang yang menunda pernikahan dengan berbagai macam alasan. Untuk seorang laki-laki, kadang-kadang karir menjadi alasan. Karir yang belum seberapa menjadikan niat dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang banyak agar bisa menyenangkan istrinya kelak. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan melurukan niat.
Bagaimana mungkin mendapatkan pendamping yang bisa mencintai dengan sederhana jika menjadikan gemerlap kemapanan sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang menerima dengan sepenuh hati dan tidak ada cinta untuk wanita lain kecuali untuk istrinya sementara meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat pernikahan? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang terjaga jika mendekatinya dengan cara menggodanya?? Jika ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, pasti tak bisa didapatkan dengan : “Hai cowok……godain kita, dong”
Diluar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhoi tak jarang karena kita sendiri penyebabnya. Begitu banyak wanita yang menunda pernikahannya karena alasan kuliah atau alasan masih muda atau bahkan karena ingin mengejar karir. Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya tapi…dengan alasan karir, masih muda, ingin mengejar cita, tidak mau terkekang, masih ingin kuliah ia menolak semua ajakan serius.Sampai semua keinginan telah tercapai, saat karir sudah mapan, kuliah sampai S3, cita sudah tergenggam; sampai ia tersadar bahwa usianya sudah tak terlalu muda lagi, sampai ia merasakan betapa sepinya hidup. Sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangatlah sulit, sesulit menaklukkan hatinya ketika ia masih muda dulu.
Ketika mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Menunda-nuda pernikahan tanpa alasan syar’i dan akhirnya benar-benar takut melangkah si saat hati sudah benar-benar gelisah tetapi tak kunjung ada yang mau serius.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus berlanjut. Bila di usia-usia dua puhan tahun menunda pernikahan karena takut dengan ekonomi yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan. Mereka menginginkan pendamping dengan criteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak criteria semakin sedikit pula yang masuk criteria. Ketika menetapkan criteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan. Sementara wanita memiliki ambang batas usia, masalah yang dihadapi bukan soal criteria tapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengan wanita yang lebih tua.
Ya….ya….ya….kadang kita sendirilah penyebabnya. Kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu sendiri penyebabnya, beristigfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan segala urusan kita. Aminnnnn….
ADA YANG TAK BISA KITA INGKARI
Kadang, ada perasaan kepada sesorang. Seperti Mughits…(salah seorang sahabat Rasulullah) yang selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata mengawasi, hati mencari-cari dan telinga merasa indah ketika mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayam di dada. Bukan karena terlalu menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnul Qayyim Al Jauziyah dari sebuah Bukunya, “Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta”
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti- kadang sampai membuat badan kurus kering—sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Merasa yakin dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tidak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.
Kita bisa menengok sejarah betapa para salafush-shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak lebih indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Marilah kita membedakan antara menjaga pandangan dengan mengendalikan perasaan dan mengingkari perasaan.
Di atas semua itu, Allah akan senantiasa membuka pintuNya untuk kita. Ketuklah pertolonganNya dengan do’a. di saat merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan,
“Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits” (Qs. Al Anbiya : 89)
Panjatkanlah doa saat merasa gelisah oleh rasa sepi mencekam. Panjatkan doa saat merasa membutuhkan hadirnya seorang pendamping, saat hati dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula doa saat hati merasa dekat denganNya, saat dalam perjalanan ketika Allah jadikan doa mustajabah dan saat mustajab lainnya.
Wallahu A’lam
Memanfaatkan Waktu Luang
Kasman berasal dari kelas bawah. Ibunya
buta huruf dan bekerja sebagai pedagang kain kecil-kecilan. Ayahnya seorang
juru tulis. Untuk menghidupi 7 anaknya penghasilan mereka sangatlah kurang.
Ia dilarang ibunya bersekolah. Tapi ia jalan terus karena ia ingin sukses dan ia haus akan ilmu pengetahuan. Untuk bisa membiayai sekolahnya sendiri Kasman bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia rajin menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju. Dari sana ia mendapatkan makan, pakaian bekas dan uang untuk membiayainya sekolah Di HIS (Holland Inlandsche School) yaitu Sekolah Dasar untuk Pribumi pada masa Penjajahan Belanda di Indonesia.
Setelah itu dengan tetap bekerja sebagai pembantu ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
Kasman benar-benar menyukai bekerja keras. Ketika Jepang datang iapun bekerja keras dengan masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air). Di sana ia mengikuti latihan-latihan militer dengan disiplin yang sangat ketat ala Jepang.
Sejak sekolah ia tidak puas dengan ilmu yang didapat di sekolah. Ia masuk Muhammadiyah dan banyak belajar agama Islam dan belajar berpidato di sana. Pulang sekolah ia sering berlatih pidato/presentasi. Intinya ia merasa waktu itu sangat berharga dan ia selalu meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Ketika di PETA ia menjadi Komandan PETA di Jakarta. Di sana komandan sering berpidato. Kasman menyelipkan ajaran-ajaran agama ketika berpidato.
Ketika Indonesia merdeka ia menjabat sebagai Jaksa Agung dan kemudian Menteri Muda Kehakiman. Tahun 1955-1959 ia menjadi anggota Konstituante (Badan Pembuat Undang-Undang Dasar).
Pada tahun 1955 Kasman juga menjadi Presiden direktur Gloria Trading Company di Glodok. Tahun itu juga ia mendirikan pabrik Rajut PT Gloria Knitting di Ancol, Jakarta Utara. Kedua perusahaan yang dipimpinnya inipun sukses pada masa kepemimpinannya. Kuncinya hanya satu, Kasman tidak mau waktu terbuang sia-sia. Ia selalu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat.
Jadi walaupun berasal dari kelas bawah Kasman Singodimedjo bisa sukses juga. Apalagi buat orang yang tidak berasal dari kelas bawah. Yang penting adalah memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat jangan terbuang sia-sia.
Bagaimana dengan anda?
Ia dilarang ibunya bersekolah. Tapi ia jalan terus karena ia ingin sukses dan ia haus akan ilmu pengetahuan. Untuk bisa membiayai sekolahnya sendiri Kasman bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia rajin menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju. Dari sana ia mendapatkan makan, pakaian bekas dan uang untuk membiayainya sekolah Di HIS (Holland Inlandsche School) yaitu Sekolah Dasar untuk Pribumi pada masa Penjajahan Belanda di Indonesia.
Setelah itu dengan tetap bekerja sebagai pembantu ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
Kasman benar-benar menyukai bekerja keras. Ketika Jepang datang iapun bekerja keras dengan masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air). Di sana ia mengikuti latihan-latihan militer dengan disiplin yang sangat ketat ala Jepang.
Sejak sekolah ia tidak puas dengan ilmu yang didapat di sekolah. Ia masuk Muhammadiyah dan banyak belajar agama Islam dan belajar berpidato di sana. Pulang sekolah ia sering berlatih pidato/presentasi. Intinya ia merasa waktu itu sangat berharga dan ia selalu meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Ketika di PETA ia menjadi Komandan PETA di Jakarta. Di sana komandan sering berpidato. Kasman menyelipkan ajaran-ajaran agama ketika berpidato.
Ketika Indonesia merdeka ia menjabat sebagai Jaksa Agung dan kemudian Menteri Muda Kehakiman. Tahun 1955-1959 ia menjadi anggota Konstituante (Badan Pembuat Undang-Undang Dasar).
Pada tahun 1955 Kasman juga menjadi Presiden direktur Gloria Trading Company di Glodok. Tahun itu juga ia mendirikan pabrik Rajut PT Gloria Knitting di Ancol, Jakarta Utara. Kedua perusahaan yang dipimpinnya inipun sukses pada masa kepemimpinannya. Kuncinya hanya satu, Kasman tidak mau waktu terbuang sia-sia. Ia selalu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat.
Jadi walaupun berasal dari kelas bawah Kasman Singodimedjo bisa sukses juga. Apalagi buat orang yang tidak berasal dari kelas bawah. Yang penting adalah memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat jangan terbuang sia-sia.
Bagaimana dengan anda?
Cita-cita
"Cita
cita yang tinggi tidak menjamin kita dapat meraih kesuksesan. Tetapi orang yang
sukses pasti memiliki cita cita yang tinggi!!"
Setiap orang, apapun profesinya, baik
sebagai karyawan, seniman, CEO, olahragawan, wirausahawan ataupun profesional,
pasti pernah memiliki cita-cita tinggi, dan tentu mengharapkan itu dapat
diperjuangkan menjadi kenyataan, yaitu sebuah KESUKSESAN.
Namun perlu diingat, di setiap perjuangan ada 2 kemungkinan hasil akhir yaitu: sukses atau gagal.
Contoh: di bidang olahraga, setiap atlet pasti memiliki cita-cita untuk menjadi juara / meraih medali emas. Mereka menyiapkan diri secara matang, berjuang keras dalam persaingan yang keras dan ketat. Tapi toh akhirnya, juara pertama alias peraih medali emas hanyalah satu orang.
Jadi tepat sekali kalimat ini: "mempunyai cita-cita yang tinggi tidak menjamin kita bisa meraih kesuksesan".
Mungkin saja, kita telah berjuang dengan segenap kekuatan pikiran, tenaga, waktu, dan pengorbanan lainnya untuk meraih cita-cita. Tapi semuanya ternyata harus kandas di tengah jalan, tidak tercapai, dan gagal.
Sayangnya, begitu banyak orang yang langsung larut dalam kekecewaan, down, frustasi, depresi bahkan putus asa ketika mengalami kegagalan..
Padahal kenyataannya adalah:
Tidak menjadi juara pertama, bukan berarti kita gagal total.
Tidak tercapainya target yang kita tentukan, di bidang apapun bukan berarti dunia runtuh!
Asalkan proses perjuangan kita telah maksimal, juga dilakukan secara jujur/halal, maka di setiap hasil pencapaian, sukses atau gagal, pasti ada nilai pembelajaran yang bisa didapat. Karena gagal bukan berarti selamanya kita gagal. Jika sukses, juga bukan berarti kita akan terus sukses! Pembicara tersohor Robert H. Schuller pernah mengatakan, "Success is never ending, failure is never final."
Maka, untuk mencapai sukses yang berkualitas, mari berani menentukan cita-cita yang bernilai untuk diperjuangkan. Dengan cita cita yang tinggi, hidup pasti terasa lebih bergairah, hidup pasti akan lebih bersemangat! Tidak perlu takut gagal. Kemarin gagal, hari ini kita belajar. Hari ini kita gagal, besok kita bangkit kembali!!
Namun perlu diingat, di setiap perjuangan ada 2 kemungkinan hasil akhir yaitu: sukses atau gagal.
Contoh: di bidang olahraga, setiap atlet pasti memiliki cita-cita untuk menjadi juara / meraih medali emas. Mereka menyiapkan diri secara matang, berjuang keras dalam persaingan yang keras dan ketat. Tapi toh akhirnya, juara pertama alias peraih medali emas hanyalah satu orang.
Jadi tepat sekali kalimat ini: "mempunyai cita-cita yang tinggi tidak menjamin kita bisa meraih kesuksesan".
Mungkin saja, kita telah berjuang dengan segenap kekuatan pikiran, tenaga, waktu, dan pengorbanan lainnya untuk meraih cita-cita. Tapi semuanya ternyata harus kandas di tengah jalan, tidak tercapai, dan gagal.
Sayangnya, begitu banyak orang yang langsung larut dalam kekecewaan, down, frustasi, depresi bahkan putus asa ketika mengalami kegagalan..
Padahal kenyataannya adalah:
Tidak menjadi juara pertama, bukan berarti kita gagal total.
Tidak tercapainya target yang kita tentukan, di bidang apapun bukan berarti dunia runtuh!
Asalkan proses perjuangan kita telah maksimal, juga dilakukan secara jujur/halal, maka di setiap hasil pencapaian, sukses atau gagal, pasti ada nilai pembelajaran yang bisa didapat. Karena gagal bukan berarti selamanya kita gagal. Jika sukses, juga bukan berarti kita akan terus sukses! Pembicara tersohor Robert H. Schuller pernah mengatakan, "Success is never ending, failure is never final."
Maka, untuk mencapai sukses yang berkualitas, mari berani menentukan cita-cita yang bernilai untuk diperjuangkan. Dengan cita cita yang tinggi, hidup pasti terasa lebih bergairah, hidup pasti akan lebih bersemangat! Tidak perlu takut gagal. Kemarin gagal, hari ini kita belajar. Hari ini kita gagal, besok kita bangkit kembali!!
Pernikahan yang Agung
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
===========================
Sekelumit tentang kehidupan rumah-tangga Sayyidatina Fatimah az-Zahra dgn Imam Ali bin Abi Thalib, semoga bisa diambil hikmah nya buat kita semua :
Rasulullah SAW bersabda kepada para peminang Fatimah: " Fatimah milik Allah SWT dan menjadi ketetapan Allah SWT untuk menikahkannya kepada siapapun." (Kitab ar-Raudhatul Fa'iq bin Saad al-Misri) . Pada kitab Nuzhatul Majalis dan as-Suyuthi kitab Tadhirul Khawas, meriwayatkan bahwa Rasul Allah SAW bersada:
"Jibril As mengabarkan kepadaku bahwa: Allah SWT telah menikahkan Fatimah dengan Ali di langit, disaksikan 40.000 Malaikat dan bidadari menghiasi Fatimah dengan gaun pengantin dari permata dan memerintahkan kepadaku agar segera menikahkannya di bumi."
Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai Fatimah, aku nikahkan kau dengan orang yang pertama beriman kepada Allah SWT & kepadaku."
[Sawaiq Muhriqah hal 85- Kifayah Al-talib hal 298- Dhakair Al-Uqba hal 29].
Imam Ali dipinjami sebuah kamar berukuran kecil di belakang rumah Sahabat Al-Haris ra. Adanya berita perkawinan itu, Imam Ali As meratakan batu-batu tajam di kamarnya hingga kejalan umum, lalu menimbuninya dengan pasir halus. Al-Haris ra datang dengan heran lalu bertanya:
Haris : " Mengapa kau rapikan tanah sedemikian itu, padahal sebelumnya kakimu tak peduli akan ketajaman batu¬batu itu..?"
Ali : " Putri Nabiku akan tinggal bersamaku di sini."
Haris : " Gunakan kamarku wahai Ali."
Ali : " Kami Ahlul Bait diwajibkan oleh Allah SWT hidup setara dengan rakyat miskin."
Doa Rasulullah SAW pada saat menikahkan Imam Ali dengan Sy Fatimah az-Zahra:
" Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya. Merakhmati dan memberkati keduanya. Meningkatkan kualitas keturunannya. Menjadi pembuka pintu rakhmat, Sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi seluruh umat manusia."
50 hari setelah pernikahannya, Rasul SAW baru mengizinkan Ali As membawa pulang Fatimah. Sebelumnya Ummu Salamah berkunjung ke Imam Ali lalu bertanya:
US : " Wahai Ali.. bukankah Fatimah telah menjadi istrimu..?"
I. Ali : " Benar, wahai Ummul Mukminin"
US : " Mohonlah pada Rasul untuk membawanya kerumahmu"
Ali : " Aku tak patut bersuara sebelum Nabiku bersabda "
Ummu Salamah ra dan para Sahabat ra mengisahkan rasa belasnya terhadap Imam Ali As dan Fatimah As kepada Rasulullah SAWW dan memohon agar keduanya diizinkan hidup bersama. Kemudian Cintailah siapapun yang mencintainya. Musuhilah siapapun yang memusuhinya. Dan hindarkanlah semuanya dari segala siksa dan api neraka.
Setelah pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra r.a., Imam 'Ali r.a. tinggal bersama isterinya di sebuah rumah yang sungguh amat sederhana. Sebagian besar perkakas rumah tangganya terbuat dari tembikar (tanah Hat). Namun, Rasulullah s.a.w. merasa bangga, tenang dan bahagia serta penuh kasihsayang sebagai ayah kepada puteri belahan hati beliau sendiri. Suasana yang penuh kesejahteraan dan keserasian itu lebih disemarakkan lagi oleh kelahiran dua orang cucu beliau s.a.w., Al-Hasan dan Al-Husain — radhiyallahu 'anhuma, dua orang putera Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a. yang dipandang sebagai pewaris ilmu dan hikmah kebijakan beliau serta sebagai orang yang mempunyai kesamaan ciri dan kekhususan dengan beliau s.a.w. kecuali dalam hal kenabian.
Di dalam rumah ahlu -bait Rasulullah s.a.w. itulah Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu anhuma — dibesarkan di bawah naungan beliau. Betapa puas perasaan beliau menyaksikan kesentosaan dan keserasian hidup putra-putri dan cucu-cucunya. suasana demikian itu oleh beliau dirasakan sebagai hiburan yang menghilangkan kelelahan dan meringankan kesukaran-kesukaran berat yang dihadapinya sehari-hari dalam menjalankan tugas da'wah dan memimpin perjuangan ummat untuk menegakkan kebenaran Allah di muka bumi.
Di dalam rumah yang diliputi suasana kebahagiaan itu Rasulullah sering duduk berbincang-bincang dengan mereka. Imam Ali r.a. duduk di sebelah kanan dan Fatimah Az-Zahra r.a. duduk di sebelah kiri beliau. Sedang dua orang cucu befiau, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhuma — duduk di atas pangkuan beliau s.a.w. Secara bergantian beliau menciumi kedua orang cucunya itu. Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka semua dan mohon kpd Allah Swt agar berkenan menjauhkan mereka dari segala macam noda dan kotoran hidup serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.
Sungguhlah, seumpama orang yang benar-benar beriman dipersilakan memilih: Manakah yang lebih disukai, dunia dengan segala kesenangan dan kegemerlapannya ataukah butir-butir gandum yang ditumbuk oleh Rasulullah s.a.w. bersama Imam 'Ali r.a.; orang itu pasti lebih suka memilih butir-butir gandum itu!
Jadi, di manakah sesungguhnya letak kemiskinan dan kemelaratan? Di dalam rumah yang sering menjadi tempat turunnya wahyu Ilahi, tempat Rasulullah s.a.w. bersama Imam 'Ali dan Fatimah Az-Zahra r.a. bersama-sama menumbuk gandum, di rumah tempat Rasulullah bersama ahlu-baitnya biasa minum air dengan cawan tembikar; ataukah di dalam istana-istana kaum bangsawan dan kaum hartawan Persia/Rumawi yang penuh dengan bau busuk perzinaan, arak dan kemaksiatan?!
Fatimah Az-Zahra hidup mendampingi suaminya, Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a., yang tidak mempunyai apa pun juga selain hati dan pedang, ilmu dan iman. Isteri yang setia dan ikhlas itu menepung sendiri hingga tapak tangannya membengkak, menimba air sendiri hingga bajunya basah kuyup, menyapu rumah dan halaman hingga pakaiannya berdebu. Ia tidak hidup sebagaimana Asiyah binti Mazahim, wanita pendamping Fir'aun yang mempunyai piramid dan bengawan Nil, seorang permaisuri yang hidup serba dilayani oleh beratus-ratus budak pembantu dan tidak pernah bekerja selain melarang dan menyuruh. Cobalah kita bayangkan: Manakah di antara dua orang isteri itu yang lebih bahagia hidupnya, lebih tenteram hatinya dan lebih cerah keadaannya?!
Seandainya alat-alat rumah tangga kepunyaan Fatimah Az-Zahra r.a. seperti batu gilingan gandum, sapu, wadah air yang terbuat dari kulit dan lain sebagainya; masih ada hingga zaman kita dewasa ini, perkakas-perkakas itu barangkali akan dikeramatkan dan dikunjungi oleh manusia dari berbagai pelosok dunia, baik mereka yang beragama Islam maupun yang beragama lain! Mungkin mereka akan menilai barang-barang itu lebih berharga dari pada seribu bengawan Nil serta seribu piramid!
Apakah sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Muhammad Rasulullah dan keluarganya bagi kepentingan ummat manusia sedunia ? Ummat manusia telah mendapat tuntunan untuk memperoleh kebajikan, rahmat Allah dan kemuliaan abadi; yakni mereka telah mendapat petunjuk serta hidayat untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah swt melalui agama yang benar. Di akhirat kelak mereka akan memperoleh syafa'at (pertolongan) dan kebahagiaan, khusus bagi mereka yang dicintai beliau dan mereka yang mencintai beliau.
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-pernikahan-yang-agung/199540116741310
Ada Banyak Kenikmatan yang Terus Mengalir
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualiakum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Ada banyak kenikmatan yang terus mengalir ; Nikmat Kehidupan, Nikmat kesehatan , Nikmat Pendengaran , Nikmat Penglihatan , Nikmat Kedua Tangan dan Kaki , Nikmat Air dan Udara serta Nikmat Makanan. Nikmat keharmonisan keluarga, nikmat harta, kendaraan, dan lain sebagainya.
Dan yang paling agung dari semua itu adalah Nikmat Rabbaniyah, yakni nikmat Iman dan Agama Islam.
Apakah anda ingin mata anda dibeli dengan harga 1 juta dollar ?
Apakah Anda ingin menjual kedua telinga Anda dengan harga 1 juta
dollar ?
Apakah Anda ingin kedua kaki Anda dibeli dengan 1 juta dollar ?Apakah Anda Ingin kedua tangan anda dibeli dengan 1 juta dollar? Apakah anda ingin menjual hati anda, berapa juta dollar?
Saya yakin anda tdk mau menjual anggota tubuh anda berapapun mahalnya !
Syukuri nimat Allah dari sekarang, betatapun kecilnya. Karena siapa yg tidak besyukur ketika mendapat sedikit, ia tidak akan bersyukur ketika mendapat banyak.
Ingatlah betapa banyak harta yang ada di tangan kita ,namun kita jarang bersyukur.
Barakallahufik..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-ada-banyak-kenikmatan-yang-terus-mengalir/199538596741462
Tidurlah Seperti Tidurnya Pengantin
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullhi wabarakatuh
-----------------------------------------------------
Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata: Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Apabila mayit — atau beliau katakan, seorang dari kamu sekalian- telah dikubur, maka datanglah kepadanya dua malaikat besar yg hitam kebiru-biruan. Yang satu bernama Munkar, dan yang lain Nakir. Keduanya berkata, "Apa yang telah kamu katakan tentang orang ini?" Maka dia katakan seperti yang senantiasa dia katakan, "Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya."
Kedua malaikat itu berkata, "Kami telah tahu, bahwa kamu berkata seperti itu." Kemudian kuburnya dilapangkan seluas 70 hasta kali 70 hasta, kemudian diterangi ruangannya, dan dikatakan kepadanya: "Tidurlah."
Maka mayit itu bertanya, "Bisakah aku pulang kepada keluargaku, sehingga aku ceritakan kepada mereka?" Tapi kedua malaikat itu menjawab, "Tidurlah seperti tidurnya pengantin, yang tidak bisa dibanguanan kecuali oleh orang yang paling dkintainya."
Demikianlah, sampai kelak dia dibangkitkan Allah dari tempat berbaringnya itu dihari kiamat.
Adapun orang munafik, dia berkata, Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku mengatakannya pula, tapi saya tidak tahu." Maka kedua malaikat itu berkata, "Kami telah tahu kamu berkata seperti itu."
"Maka dikatakanlah kepada bumi: "Gulunglah dia." Maka digulungnya dia sampai berantakan tulang-belulangnya. Demikianlah dia selalu disiksa, sampai Allah membangkitkannya kelak dari tempat berbaringnya itu." (Kata AtTirmidzi, hadits ini hasan-gharib. Isnadnya hasan: Zhilal Al-Jarinah fi Takhrij karya Ibnu Abi Ashim (864) dan Ash-Shahihah (1391) karya Al-Albani ).
Demikian pula, Abu Dawud telah meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah masuk ke kebun korma milik Bani Najjar. Di sana beliau mendengar suara sesuatu. Beliau terkejut, maka beliau bertanya, "Siapa penghuni kubur-kubur ini?"
Para sahabat menjawab, "Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang meninggal di masa jahiliyah."
Maka beliau berkata, "Berlindunglah kamu sekalian kepada Allah dari siksa kubur dan fitnah dajjal."
Mereka bertanya, "Kenapa begitu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Sesunggulmya apabila orang mukmin telah diletakkan di dalam kuburnya, maka datanglah satu malaikat kepadanya, lalu berkata, "Apa yang telah kamu sembah?" Jika Allah memberinya hidayah, maka dia menjawab, "Aku menyembah Allah."
Lalu ditanya, "Apa yang telah kamu katakan tentang orang ini?" Dia jawab, "Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya."
Hanya itu yang ditanyakan kepadanya, lalu dibawa ke sebuah rumah, yang semula akan diberikan kepadanya di dalam neraka. Tapi dikatakan, "Inilah yang semula akan diberikan kepadamu di dalam neraka, tetapi Allah telah memelihara dan merahmatimu, maka Dia ganti dengan sebuah rumah untukmu di dalam surga."
Mayit itu berkata, "Biarkan aku pergi memberitahuu keluargaku." Tapi dikatakan kepadanya, "Diamlah."
Adapun orang apabila telah diletakkan di dalam kuburnya, maka datanglah kepadanya satu malaikat. Orang kafir itu dibentaknya seraya ditanya, "Apa yang telali kamu sembah?" Dia jawnb, "Saya tidak tahu. Saya dulu hanya mengatakan seperti yang dikatakan orang-orang." Oleh karena itu dia dipukul dengan palu-palu besi antara kedua telinganya. Maka dia berteriak dengan teriakan yang terdengar oleh seniva makhluk, selain jin dan manusia.
Lalu bagaimana tidurnya para pengantin..?? yaitu sama sekali tidak berasa, tahu-tahu hari sudah pagi.
Begitulah gambaran orang yg mati didalam kubur dan baik amalnya ketika didunia,, dia menunggu didalam kubur hingga hari kiamat seperti tidurnya seorang pengantin. Wallahualam bi showab..
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-tidurlah-seperti-tidurnya-pengantin/199259610102694
Kita...,Adalah Saudara Rasulullah SAW
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
=============================
Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang.
Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang engkau. “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh,” kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar laksana bulan purnama. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari di Madinah berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, “Adakah air pada kalian?”
Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain sibuk memeriksa kantong mereka, “Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah.” Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.
Kudengar suaramu yang indah, “Bawakan padaku wadah yang masih basah.” Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudhu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat Abdullah bin Mas’ud pun mereguk sepuas-puasnya.
Dan sahabat Billa bin Rabbah mengumandangkan iqomat: Qad qamatish shalah, qad qamatish shalah…
Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anam. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku laksana taburan mutiara.
Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.
Kudengar kau berkata, “Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?”
Kami jawab serempak, “Malaikat, ya Rasulallah.”
“Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?” jawabmu.
“Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah.”
“Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?”
“Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah.”
“Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.”
Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Air yang mengalir dari jemarimu tadi, dan sempurnanya kitab suci Al-quran yg diturunkan kepadamu adalah mukjizat terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tidak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kau puji itu, ya Rasulallah? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak:
“Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku.”
Kami terkejut. “Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?”
Kau menjawab, “Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka (QS. Al-Baqarah; 3)”.
Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata dengan tatapan mata yang sayu dan setitik airmata yang jatuh, “Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku.”
Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah…
Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, “Barangsiapa yang datang kepadaku dengan membawa shalawat kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat.”
Ya wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah.
Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah.
Yaa Rasulullah, engkau mencintai kami semua padahal kami adalah umatmu yang datang setelah 1400 tahun engkau tiada. Engkau menganggap kami adalah saudaramu-saudaramu padahal engkau tidak pernah melihat kami sebelumnya, sehingga para sahabatmu mencemburui kami.
Padahal siapalah kami ya Rasulullah..?? kami hanyalah umatmu akhir zaman yg kadang sering lalai dari sunahmu. kami hanyalah umatmu yang sering bermaksiat kepada Allah dan sering mengabaikan sunah-sunahmu.
Tetapi menjelang detik-detik sepeninggalmu engkau masih sanggup berkata," ummatii..ummatii..ummatii..."!.
Yaa Rasul, betapa engkau mencintai kami melebihi dirimu sendiri. Betapa engkau mengasihi kami lebih dari seorang ibu menyayangi anak kandungnya. Padahal engkau tidak pernah melihat kami seorangpun.
Lalu, pantaskah diri ini..
Pantaskah diri ini..
Pantaskah diri ini menerima syafaatmu..???
Pantaskah diri ini minum di telagamu kelak..??
Pantaskah diri ini menjadi tetanggamu di surga..??
Pantaskah diri ini kau sebut saudaramu..??
Ya rasulullah, subuh ini akan menjadi subuh terindah disepanjang hariku..!
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/note.php?note_id=160571077304881&id=137365446278178&ref=mf
Rabu, 16 Maret 2011
Membaca Al Fatihah Mesti Benar!!
Sebagai salah satu rukun sholat, Al Fatihah
mempunyai kedudukan khusus sebagai sebuah surat Al Qur’an. Dia akan selalu
dibaca di tiap raka’at…dengan demikian Al Fatihah bisa dikatakan sebagai bacaan
WAJIB dalam sholat. Oleh karenanya, kita MESTI MEMPERHATIKAN dg baik+benar
bacaan Al Fatihah, jangan sampai salah!
Hal ini aku uraikan, karena ternyata ada salah satu ayat dalam surat Al Fatihah, yg jika dibacanya ’salah’, maka maknanya akan sangat berbeda…dan malah bisa menjerumuskan kita dalam jurang kemusyrikan.
Ayat yg dimaksud adalah ayat 5, (5) Iyyaa Kana’budu Wa Iyyaa Kanasta’iin. Ayat ini mempunyai arti “kepada Engkau-lah (ALLOH SWT) kami menyembah dan kepada Engkau (ALLOH SWT) kami meminta pertolongan”
Perhatikan bagian yg dicetak miring!! Apabila bagian tersebut dibaca Iya (disebut tanpa tasydid), artinya adalah ‘matahari’. Dengan demikian, artinya menjadi “kepada mataharilah yang kami sembah dan kepada matahari kami meminta pertolongan”!!!!
‘Mengerikan’ bukan? Kita berniat menyembah dan meminta pertolongan hanya kepada ALLOH SWT, namun karena salah tajwid (kurang tasydid), sembahan kita ‘melenceng’ … menjadi matahari…seperti halnya kaum Mesir, yg menyembah Ra, dewa matahari.
Naudzubillah…
Hal ini aku uraikan, karena ternyata ada salah satu ayat dalam surat Al Fatihah, yg jika dibacanya ’salah’, maka maknanya akan sangat berbeda…dan malah bisa menjerumuskan kita dalam jurang kemusyrikan.
Ayat yg dimaksud adalah ayat 5, (5) Iyyaa Kana’budu Wa Iyyaa Kanasta’iin. Ayat ini mempunyai arti “kepada Engkau-lah (ALLOH SWT) kami menyembah dan kepada Engkau (ALLOH SWT) kami meminta pertolongan”
Perhatikan bagian yg dicetak miring!! Apabila bagian tersebut dibaca Iya (disebut tanpa tasydid), artinya adalah ‘matahari’. Dengan demikian, artinya menjadi “kepada mataharilah yang kami sembah dan kepada matahari kami meminta pertolongan”!!!!
‘Mengerikan’ bukan? Kita berniat menyembah dan meminta pertolongan hanya kepada ALLOH SWT, namun karena salah tajwid (kurang tasydid), sembahan kita ‘melenceng’ … menjadi matahari…seperti halnya kaum Mesir, yg menyembah Ra, dewa matahari.
Naudzubillah…
Sholat Isya, Di Awal Atau Di Akhir Malam?
Bismillah,
Sebuah pertanyaan saya baca di sebuah tempat. Isinya adalah (lebih kurang sebagai berikut) “Sholat Isya lebih baik (dilakukan segera) setelah adzan atau sebelum tidur?”
Jawaban yg diberikan untuk pertanyaan tersebut adalah “khusus untuk sholat isya, (jika) dilaksanakan makin malam (maka) makin baik.”
Hal ini menarik, karena saya memang pernah membaca (walau sekilas) mengenai ‘perbedaan’ perlakuan terhadap sholat Isya. Jika 4 waktu sholat lainnya (Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Magrib) hendaknya SEGERA didirikan, atau dengan kata lain, di awal waktu (tentunya setelah waktunya masuk), maka di artikel tersebut disebutkan sholat Isya akan lebih baik dilakukan di akhir2 malam.
“Ah, apa benar? Dalil apa yg mendasari hal ini?”
Pertanyaan di atas, saya yakin akan muncul. Hal yg sama pernah saya alami saat saya baru tahu hal ini. Terlebih, seingat saya, artikel pembahasan hal ini (sholat Isya diakhirkan) tidak ada dalil yg cukup kuat. Walhasil, saya coba cari referensi terkait hal ini.
Alhamdulillah, saya temukan referensi hal ini.
Ternyata sholat Isya dilakukan di akhir (malam) itu sifatnya SUNNAH, BUKAN WAJIB. Harap diperhatikan hal ini, terutama penekanan pada SUNNAH-nya.
Ada beberapa dalil mengenai hal ini:
- “Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu sebagian besar malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no. 638)
- “Rasululloh SAW mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)
- “Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Sebenarnya, sholat Isya pun HENDAKNYA didirikan DI AWAL (sesegera mungkin). Namun, mendirikan Isya di akhir, sebagaimana dalil2 di atas, SIFATNYA SUNNAH. Rasululloh SAW, seperti yg telah saya garis bawahi dan tebalkan, tidak mewajibkan sholat Isya di akhir karena akan memberatkan umat beliau.
Ada dalil lain yg perlu diperhatikan mengenai penyebab sholat Isya didirikan di akhir (malam).
“Adalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)
Dari hadits di atas, bisa kita lihat bahwa (seperti saya tulis di awal) pada dasarnya SEMUA SHOLAT HENDAKNYA DIDIRIKAN DI AWAL WAKTU. Khusus untuk Isya, apabila Rasululloh SAW melihat para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul di awal waktu (misalkan waktu Isya di jam 19.15, lalu jam 19.20-19.30 para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul, maka Rasululloh SAW akan segera mengimami dan bersama-sama (berjama’ah) mendirikan sholat Isya. Demikian juga sebaliknya, jika sahabat dan jama’ah ‘terlambat’ berkumpul (barangkali karena kesibukan atau hal2 lain), maka sholat Isya didirikan Rasululloh SAW dan sahabat dan jama’ah di akhir waktu.
Sebuah pertanyaan saya baca di sebuah tempat. Isinya adalah (lebih kurang sebagai berikut) “Sholat Isya lebih baik (dilakukan segera) setelah adzan atau sebelum tidur?”
Jawaban yg diberikan untuk pertanyaan tersebut adalah “khusus untuk sholat isya, (jika) dilaksanakan makin malam (maka) makin baik.”
Hal ini menarik, karena saya memang pernah membaca (walau sekilas) mengenai ‘perbedaan’ perlakuan terhadap sholat Isya. Jika 4 waktu sholat lainnya (Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Magrib) hendaknya SEGERA didirikan, atau dengan kata lain, di awal waktu (tentunya setelah waktunya masuk), maka di artikel tersebut disebutkan sholat Isya akan lebih baik dilakukan di akhir2 malam.
“Ah, apa benar? Dalil apa yg mendasari hal ini?”
Pertanyaan di atas, saya yakin akan muncul. Hal yg sama pernah saya alami saat saya baru tahu hal ini. Terlebih, seingat saya, artikel pembahasan hal ini (sholat Isya diakhirkan) tidak ada dalil yg cukup kuat. Walhasil, saya coba cari referensi terkait hal ini.
Alhamdulillah, saya temukan referensi hal ini.
Ternyata sholat Isya dilakukan di akhir (malam) itu sifatnya SUNNAH, BUKAN WAJIB. Harap diperhatikan hal ini, terutama penekanan pada SUNNAH-nya.
Ada beberapa dalil mengenai hal ini:
- “Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu sebagian besar malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no. 638)
- “Rasululloh SAW mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)
- “Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Sebenarnya, sholat Isya pun HENDAKNYA didirikan DI AWAL (sesegera mungkin). Namun, mendirikan Isya di akhir, sebagaimana dalil2 di atas, SIFATNYA SUNNAH. Rasululloh SAW, seperti yg telah saya garis bawahi dan tebalkan, tidak mewajibkan sholat Isya di akhir karena akan memberatkan umat beliau.
Ada dalil lain yg perlu diperhatikan mengenai penyebab sholat Isya didirikan di akhir (malam).
“Adalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)
Dari hadits di atas, bisa kita lihat bahwa (seperti saya tulis di awal) pada dasarnya SEMUA SHOLAT HENDAKNYA DIDIRIKAN DI AWAL WAKTU. Khusus untuk Isya, apabila Rasululloh SAW melihat para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul di awal waktu (misalkan waktu Isya di jam 19.15, lalu jam 19.20-19.30 para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul, maka Rasululloh SAW akan segera mengimami dan bersama-sama (berjama’ah) mendirikan sholat Isya. Demikian juga sebaliknya, jika sahabat dan jama’ah ‘terlambat’ berkumpul (barangkali karena kesibukan atau hal2 lain), maka sholat Isya didirikan Rasululloh SAW dan sahabat dan jama’ah di akhir waktu.
Berilmu dan Menuntut Ilmu Itu Janganlah Ber-kacamata Kuda!
Bismillah,
Judul artikelnya mungkin sedikit sarkas (kasar), tapi ijinkan saya bercerita dahulu sebelum akhirnya anda tahu mengapa saya memilih kata-kata itu sebagai judul artikel.
Saudara-saudaraku, sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu, baik yang disebut ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Pada dasarnya Islam tidak membeda-bedakan ilmu dunia dan/atau ilmu akhirat, karena Islam adalah ajaran yg menyeluruh (terintegrasi) sehingga tidak ada perbedaan. Dikotomi pendidikan ini justru dibuat oleh manusia, yg pada akhirnya malah mengerdilkan posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Seringkali kita merasa ilmu yg kita pelajari sudah mencukupi untuk berpendapat. Bahkan kita menjadi berani untuk ‘menghakimi’ sikap seseorang hanya berdasar ilmu yg kita miliki, padahal sebenarnya orang tersebut mempunyai juga dasar utk sikap/tindakan yg dia lakukan.
Contoh yg paling mudah adalah bersentuhan kulit dg lawan jenis bukan mahram. Saya yakin mayoritas kaum muslim Indonesia, terutama yg hanya tahu madzhab Syafi’i akan menganggap orang2 di Mekkah, yg sedang haji, lantas sering bersentuhan (secara tidak sengaja) sholatnya tidak sah karena aksi sentuh kulit tersebut. Mereka tidak tahu (atau untuk kasus lebih ekstrim, tidak mau memahami) pendapat lain yg ‘membolehkan’ sentuh kulit untuk kasus2 tertentu.
Kita bisa lihat juga untuk masalah sholat Jum’at dan hari Raya. Bagi yg tidak tahu bahwa BOLEH tidak sholat Jum’at, mereka akan menganggap dirinya lebih baik (takabur) dan menganggap orang yg tidak sholat Jum’at sebagai orang yg sesat.
Contoh lain adalah pendapat seorang ulama yg beranggapan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Dia menggunakan dalil Qur’an sebagai pijakan pendapatnya. Padahal sudah jelas, secara ilmu pengetahuan dan teknologi, matahari-lah yg menjadi pusat tata surya.
Pengetahuan yg tidak memadai, cenderung menutup diri terhadap pendapat lain, serta keras kepala dan taklid buta menjadikan kaum muslim Indonesia seperti kuda yg diberi kacamata. Dia hanya mau melihat apa yg dia lihat, beranggapan hanya jalan/pendapat dia yg paling benar, tanpa mau melihat atau mau tahu pendapat lain.
Kondisi ini terkadang diperparah dengan sikap para ulama, yg karena tidak mau kehilangan pengikut/jama’ah, dia lantas menyalahkan pendapat ulama lain. Jika sudah demikian, maka bentrokan antar jama’ah bisa terjadi karena keyakinan mereka terhadap ulamanya masing-masing.
Pendapat ulama di atas, yg menganggap bumi sbg pusat tata surya memperlihatkan bahwa ybs tidaklah mampu menerjemahkan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ybs terlalu membaca secara harfiah ayat2 Al Qur’an tanpa (maaf) berpikir panjang untuk mengetahui apa makna di balik ayat2 tersebut.
Dan ulama-ulama inilah yg membuat umat Islam ‘tidak mampu’ bersaing dg kelompok lain, terutama di bidang teknologi.
Semoga kita dicerahkan pikirannya, sehingga mau menerima pendapat/ilmu dari orang lain.
Judul artikelnya mungkin sedikit sarkas (kasar), tapi ijinkan saya bercerita dahulu sebelum akhirnya anda tahu mengapa saya memilih kata-kata itu sebagai judul artikel.
Saudara-saudaraku, sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk menuntut ilmu, baik yang disebut ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Pada dasarnya Islam tidak membeda-bedakan ilmu dunia dan/atau ilmu akhirat, karena Islam adalah ajaran yg menyeluruh (terintegrasi) sehingga tidak ada perbedaan. Dikotomi pendidikan ini justru dibuat oleh manusia, yg pada akhirnya malah mengerdilkan posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Seringkali kita merasa ilmu yg kita pelajari sudah mencukupi untuk berpendapat. Bahkan kita menjadi berani untuk ‘menghakimi’ sikap seseorang hanya berdasar ilmu yg kita miliki, padahal sebenarnya orang tersebut mempunyai juga dasar utk sikap/tindakan yg dia lakukan.
Contoh yg paling mudah adalah bersentuhan kulit dg lawan jenis bukan mahram. Saya yakin mayoritas kaum muslim Indonesia, terutama yg hanya tahu madzhab Syafi’i akan menganggap orang2 di Mekkah, yg sedang haji, lantas sering bersentuhan (secara tidak sengaja) sholatnya tidak sah karena aksi sentuh kulit tersebut. Mereka tidak tahu (atau untuk kasus lebih ekstrim, tidak mau memahami) pendapat lain yg ‘membolehkan’ sentuh kulit untuk kasus2 tertentu.
Kita bisa lihat juga untuk masalah sholat Jum’at dan hari Raya. Bagi yg tidak tahu bahwa BOLEH tidak sholat Jum’at, mereka akan menganggap dirinya lebih baik (takabur) dan menganggap orang yg tidak sholat Jum’at sebagai orang yg sesat.
Contoh lain adalah pendapat seorang ulama yg beranggapan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Dia menggunakan dalil Qur’an sebagai pijakan pendapatnya. Padahal sudah jelas, secara ilmu pengetahuan dan teknologi, matahari-lah yg menjadi pusat tata surya.
Pengetahuan yg tidak memadai, cenderung menutup diri terhadap pendapat lain, serta keras kepala dan taklid buta menjadikan kaum muslim Indonesia seperti kuda yg diberi kacamata. Dia hanya mau melihat apa yg dia lihat, beranggapan hanya jalan/pendapat dia yg paling benar, tanpa mau melihat atau mau tahu pendapat lain.
Kondisi ini terkadang diperparah dengan sikap para ulama, yg karena tidak mau kehilangan pengikut/jama’ah, dia lantas menyalahkan pendapat ulama lain. Jika sudah demikian, maka bentrokan antar jama’ah bisa terjadi karena keyakinan mereka terhadap ulamanya masing-masing.
Pendapat ulama di atas, yg menganggap bumi sbg pusat tata surya memperlihatkan bahwa ybs tidaklah mampu menerjemahkan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ybs terlalu membaca secara harfiah ayat2 Al Qur’an tanpa (maaf) berpikir panjang untuk mengetahui apa makna di balik ayat2 tersebut.
Dan ulama-ulama inilah yg membuat umat Islam ‘tidak mampu’ bersaing dg kelompok lain, terutama di bidang teknologi.
Semoga kita dicerahkan pikirannya, sehingga mau menerima pendapat/ilmu dari orang lain.
Arti Dari SWT, SAW, AS, dan RA
Bismillah,
Selaku kaum muslim, kita seringkali menemukan istilah-istilah SWT, SAW, AS, dan RA pada saat mempelajari Islam. Apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut?
SWT adalah singkatan dari Subhanallahu Wa ta’ala yang mempunyai arti “Engkau yang Maha Suci ya ALLOH Dan Maha Tinggi”. Kita biasa mengucapkan hal ini apabila nama ALLOH telah disebutkan. Karenanya kita akan jumpai tulisan ALLOH SWT.
SAW adalah kependekan dari Shallallahu `alaihi Wa Sallam, yang disunnahkan kepada kita untuk mengucapkannya pada saat menyebut atau mendengar nama Rasululloh SAW. Arti dari istilah ini adalah “Semoga ALLOH SWT memberikan shalawat dan salam kepadanya”. Karenanya kita akan banyak dapatkan tulisan Rasululloh SAW.
AS sendiri adalah kependekan dari Alaihis Salam yang bermakna “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadanya”. Kita akan dapati di akhir nama para Nabi dan Rasul.
RA adalah istilah untuk menyingkat lafaz Radhiyallahu `anhu/`anha / `anhum. Biasanya digunakan dan diberikan kepada para sahabat Rasululloh SAW. Maknanya adalah “Semoga ALLOH SWT meridhoinya”. Ada beberapa ketentuan mengenai hal ini. Apabila di bagian akhir `anhu itu berarti satu orang laki-laki. Sementara jika kata terakhirnya adalah `anhum maka ini berarti banyak (jamak) dan sedangkan jika kata terakhirnya adalah `anha maka ditujukan untuk seorang wanita.
Semoga bermanfaat
Selaku kaum muslim, kita seringkali menemukan istilah-istilah SWT, SAW, AS, dan RA pada saat mempelajari Islam. Apa yang dimaksud dengan istilah-istilah tersebut?
SWT adalah singkatan dari Subhanallahu Wa ta’ala yang mempunyai arti “Engkau yang Maha Suci ya ALLOH Dan Maha Tinggi”. Kita biasa mengucapkan hal ini apabila nama ALLOH telah disebutkan. Karenanya kita akan jumpai tulisan ALLOH SWT.
SAW adalah kependekan dari Shallallahu `alaihi Wa Sallam, yang disunnahkan kepada kita untuk mengucapkannya pada saat menyebut atau mendengar nama Rasululloh SAW. Arti dari istilah ini adalah “Semoga ALLOH SWT memberikan shalawat dan salam kepadanya”. Karenanya kita akan banyak dapatkan tulisan Rasululloh SAW.
AS sendiri adalah kependekan dari Alaihis Salam yang bermakna “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadanya”. Kita akan dapati di akhir nama para Nabi dan Rasul.
RA adalah istilah untuk menyingkat lafaz Radhiyallahu `anhu/`anha / `anhum. Biasanya digunakan dan diberikan kepada para sahabat Rasululloh SAW. Maknanya adalah “Semoga ALLOH SWT meridhoinya”. Ada beberapa ketentuan mengenai hal ini. Apabila di bagian akhir `anhu itu berarti satu orang laki-laki. Sementara jika kata terakhirnya adalah `anhum maka ini berarti banyak (jamak) dan sedangkan jika kata terakhirnya adalah `anha maka ditujukan untuk seorang wanita.
Semoga bermanfaat
Sholat Isya, Di Awal Atau Di Akhir Malam?
Bismillah,
Sebuah pertanyaan saya baca di sebuah tempat. Isinya adalah (lebih kurang sebagai berikut) “Sholat Isya lebih baik (dilakukan segera) setelah adzan atau sebelum tidur?”
Jawaban yg diberikan untuk pertanyaan tersebut adalah “khusus untuk sholat isya, (jika) dilaksanakan makin malam (maka) makin baik.”
Hal ini menarik, karena saya memang pernah membaca (walau sekilas) mengenai ‘perbedaan’ perlakuan terhadap sholat Isya. Jika 4 waktu sholat lainnya (Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Magrib) hendaknya SEGERA didirikan, atau dengan kata lain, di awal waktu (tentunya setelah waktunya masuk), maka di artikel tersebut disebutkan sholat Isya akan lebih baik dilakukan di akhir2 malam.
“Ah, apa benar? Dalil apa yg mendasari hal ini?”
Pertanyaan di atas, saya yakin akan muncul. Hal yg sama pernah saya alami saat saya baru tahu hal ini. Terlebih, seingat saya, artikel pembahasan hal ini (sholat Isya diakhirkan) tidak ada dalil yg cukup kuat. Walhasil, saya coba cari referensi terkait hal ini.
Alhamdulillah, saya temukan referensi hal ini.
Ternyata sholat Isya dilakukan di akhir (malam) itu sifatnya SUNNAH, BUKAN WAJIB. Harap diperhatikan hal ini, terutama penekanan pada SUNNAH-nya.
Ada beberapa dalil mengenai hal ini:
- “Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu sebagian besar malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no. 638)
- “Rasululloh SAW mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)
- “Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Sebenarnya, sholat Isya pun HENDAKNYA didirikan DI AWAL (sesegera mungkin). Namun, mendirikan Isya di akhir, sebagaimana dalil2 di atas, SIFATNYA SUNNAH. Rasululloh SAW, seperti yg telah saya garis bawahi dan tebalkan, tidak mewajibkan sholat Isya di akhir karena akan memberatkan umat beliau.
Ada dalil lain yg perlu diperhatikan mengenai penyebab sholat Isya didirikan di akhir (malam).
“Adalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)
Dari hadits di atas, bisa kita lihat bahwa (seperti saya tulis di awal) pada dasarnya SEMUA SHOLAT HENDAKNYA DIDIRIKAN DI AWAL WAKTU. Khusus untuk Isya, apabila Rasululloh SAW melihat para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul di awal waktu (misalkan waktu Isya di jam 19.15, lalu jam 19.20-19.30 para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul, maka Rasululloh SAW akan segera mengimami dan bersama-sama (berjama’ah) mendirikan sholat Isya. Demikian juga sebaliknya, jika sahabat dan jama’ah ‘terlambat’ berkumpul (barangkali karena kesibukan atau hal2 lain), maka sholat Isya didirikan Rasululloh SAW dan sahabat dan jama’ah di akhir waktu.
Sebuah pertanyaan saya baca di sebuah tempat. Isinya adalah (lebih kurang sebagai berikut) “Sholat Isya lebih baik (dilakukan segera) setelah adzan atau sebelum tidur?”
Jawaban yg diberikan untuk pertanyaan tersebut adalah “khusus untuk sholat isya, (jika) dilaksanakan makin malam (maka) makin baik.”
Hal ini menarik, karena saya memang pernah membaca (walau sekilas) mengenai ‘perbedaan’ perlakuan terhadap sholat Isya. Jika 4 waktu sholat lainnya (Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Magrib) hendaknya SEGERA didirikan, atau dengan kata lain, di awal waktu (tentunya setelah waktunya masuk), maka di artikel tersebut disebutkan sholat Isya akan lebih baik dilakukan di akhir2 malam.
“Ah, apa benar? Dalil apa yg mendasari hal ini?”
Pertanyaan di atas, saya yakin akan muncul. Hal yg sama pernah saya alami saat saya baru tahu hal ini. Terlebih, seingat saya, artikel pembahasan hal ini (sholat Isya diakhirkan) tidak ada dalil yg cukup kuat. Walhasil, saya coba cari referensi terkait hal ini.
Alhamdulillah, saya temukan referensi hal ini.
Ternyata sholat Isya dilakukan di akhir (malam) itu sifatnya SUNNAH, BUKAN WAJIB. Harap diperhatikan hal ini, terutama penekanan pada SUNNAH-nya.
Ada beberapa dalil mengenai hal ini:
- “Suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendirikan shalat ‘atamah (isya`) sampai berlalu sebagian besar malam dan penghuni masjid pun ketiduran, setelah itu beliau datang dan shalat. Beliau bersabda: “Sungguh ini adalah waktu shalat isya’ yang tepat, sekiranya aku tidak memberatkan umatku.” (HR. Muslim no. 638)
- “Rasululloh SAW mengakhirkan shalat isya hingga malam sangat gelap sampai akhirnya Umar menyeru beliau, “Shalat. Para wanita dan anak-anak telah tertidur.” Beliau akhirnya keluar seraya bersabda, “Tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang menanti shalat ini kecuali kalian.” Rawi berkata, “Tidak dikerjakan shalat isya dengan cara berjamaah pada waktu itu kecuali di Madinah. Nabi beserta para sahabatnya menunaikan shalat isya tersebut pada waktu antara tenggelamnya syafaq sampai sepertiga malam yang awal.” (HR. Al-Bukhari no. 569 dan Muslim no. 1441)
- “Kami menanti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat isya (‘atamah), ternyata beliau mengakhirkannya hingga seseorang menyangka beliau tidak akan keluar (dari rumahnya). Seseorang di antara kami berkata, “Beliau telah shalat.” Maka kami terus dalam keadaan demikian hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu para sahabat pun menyampaikan kepada beliau apa yang mereka ucapkan. Beliau bersabda kepada mereka, “Kerjakanlah shalat isya ini di waktu malam yang sangat gelap (akhir malam) karena sungguh kalian telah diberi keutamaan dengan shalat ini di atas seluruh umat. Dan tidak ada satu umat sebelum kalian yang mengerjakannya.” (HR. Abu Dawud no. 421 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Sebenarnya, sholat Isya pun HENDAKNYA didirikan DI AWAL (sesegera mungkin). Namun, mendirikan Isya di akhir, sebagaimana dalil2 di atas, SIFATNYA SUNNAH. Rasululloh SAW, seperti yg telah saya garis bawahi dan tebalkan, tidak mewajibkan sholat Isya di akhir karena akan memberatkan umat beliau.
Ada dalil lain yg perlu diperhatikan mengenai penyebab sholat Isya didirikan di akhir (malam).
“Adalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat zhuhur di waktu yang sangat panas di tengah hari, shalat ashar dalam keadaan matahari masih putih bersih, shalat maghrib saat matahari telah tenggelam dan shalat isya terkadang beliau mengakhirkannya, terkadang pula menyegerakannya. Apabila beliau melihat mereka (para sahabatnya/jamaah isya) telah berkumpul (di masjid) beliau pun menyegerakan pelaksanaan shalat isya, namun bila beliau melihat mereka terlambat berkumpulnya, beliau pun mengakhirkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 565 dan Muslim no. 1458)
Dari hadits di atas, bisa kita lihat bahwa (seperti saya tulis di awal) pada dasarnya SEMUA SHOLAT HENDAKNYA DIDIRIKAN DI AWAL WAKTU. Khusus untuk Isya, apabila Rasululloh SAW melihat para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul di awal waktu (misalkan waktu Isya di jam 19.15, lalu jam 19.20-19.30 para sahabat dan jama’ah sudah berkumpul, maka Rasululloh SAW akan segera mengimami dan bersama-sama (berjama’ah) mendirikan sholat Isya. Demikian juga sebaliknya, jika sahabat dan jama’ah ‘terlambat’ berkumpul (barangkali karena kesibukan atau hal2 lain), maka sholat Isya didirikan Rasululloh SAW dan sahabat dan jama’ah di akhir waktu.
Berbagai Motivasi Orang Beribadah
Bismillah,
Saudara-saudaraku, banyak sekali motivasi orang beribadah. Dari berbagai pengalaman dan cerita, saya merangkum beberapa di antaranya.
Sekedar gugur kewajiban
Ini adalah tingkatan paling bawah (menurut saya). Yg penting sudah selesai mengerjakan, selesai urusan. Tidak dipikir apakah saat ibadah dia bersungguh-sungguh atau apakah ALLOH SWT menerima ibadahnya.
Mencari pahala
Percaya atau tidak, masih banyak di antara kita, bahkan yg sudah tua, menjadikan pahala sebagai tujuan beribadahnya. Tidak heran, jika ada yg berhitung dengan teliti untuk ibadahnya di bulan Ramadhan ini.
Dia berhitung seperti ini. “Saya tidak sholat wajib selama 1 tahun. Berarti saya ketinggalan sholat wajib sebanyak 365x5 = 1825. Di bulan Ramadhan ini, sholat wajib dihitung 10x. Berarti jika saya sholat wajib sebulan penuh (sebanyak 150 kali) dan ditambah sholat sunnah (yg nilainya dianggap sama dg sholat wajib) sebanyak 30 kali, maka saya lunas sudah hutang sholatnya.”
Atau ada juga yg lebih ekstrim. Dia naik haji lalu berhitung bahwa sholat di Masjidil Haram nilainya 100 ribu kali daripada di tempat lain. Otomatis, dia berkesimpulan tidak perlu sholat lagi karena masih punya tabungan.
Berharap surga
Mirip dengan di atas, motivasi ini juga sudah menjadi ‘makanan’ dan tujuan bagi kebanyakan orang. Terlebih jika para ulama dan da’i ikut ‘mengompori’ dengan dalil2 ttg imbalan surga. Klop sudah!
Saya tidak menyalahkan saudara2 saya yg masih menggunakan kedua motivasi atas utk ibadah. Hanya saja, menurut saya, orang yg beribadah karena kedua motivasi di atas mirip dg anak TK/SD yg berharap mendapat imbalan usai berbuat kebaikan.
Motivasi lain yg bisa kita temukan adalah:
Takut neraka
Ada juga orang yg beribadah karena takut dengan neraka. Dia sholat karena takut masuk neraka Saqor. Dia beriman (menjadi muslim) karena takut neraka jahanam.
Orang yg beribadah seperti ini, menurut saya, seperti budak/pembantu. Dia beribadah karena takut dihukum majikannya. Sama seperti motivasi di atas, saya tidak menyalahkan orang yg beribadah karena alasan ini.
‘Berdagang’ dengan ALLOH SWT
Motif ini mirip dg motif mencari pahala. ‘Landasan’ mereka melakukan ini karena menurut mereka ALLOH SWT sendiri ‘menawarkan’ hal ini.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? - (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, - niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash Shaff(61):10-12)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah(2):261)
“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak,” (Al Hadiid(57):11)
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.”(Al Hadiid(57):18)
Adapun menurut saya, motif yg ‘baik’ dan sebaiknya diikuti adalah motif CINTA dan BUKTI BERSYUKUR KEPADA ALLOH SWT.
Jika kita melihat kepada kehidupan Rasululloh SAW, hamba-Nya yg ma’sum dan dijamin masuk surga, beliau tetap banyak beribadah (dan sholat malam). Ketika ditanya oleh istrinya (Aisyah), beliau menjawab bahwa ibadah tersebut dilakukan karena rasa syukur kepada ALLOH SWT.
Jadi, apa motif ibadah anda?
http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/berbagai-motivasi-orang-beribadah/197858920233764
Islam Dan Alam Sekitar
Bismillah,
Islam sebagai agama yang sempurna, dia memperhatikan banyak aspek kehidupan, bahkan yang terkecil sekalipun. Aspek kehidupanpun tidak hanya berkaitan dengan manusia semata, namun juga dengan lingkungan/alam sekitar.
ALLOH SWT sudah menegaskan bahwa KEBANYAKAN manusia akan banyak berbuat kerusakan di muka bumi ini, dengan berbagai macam polah tingkahnya. Kita bisa lihat pada ayat-ayat berikut ini:
AL BAQARAH(2):11,“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
AL BAQARAH(2):30,“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
AL BAQARAH(2):205,“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”
AL MAA-IDAH(5):32,“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.“
Islam sebagai agama yang sempurna, dia memperhatikan banyak aspek kehidupan, bahkan yang terkecil sekalipun. Aspek kehidupanpun tidak hanya berkaitan dengan manusia semata, namun juga dengan lingkungan/alam sekitar.
ALLOH SWT sudah menegaskan bahwa KEBANYAKAN manusia akan banyak berbuat kerusakan di muka bumi ini, dengan berbagai macam polah tingkahnya. Kita bisa lihat pada ayat-ayat berikut ini:
AL BAQARAH(2):11,“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
AL BAQARAH(2):30,“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
AL BAQARAH(2):205,“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.”
AL MAA-IDAH(5):32,“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.“
AL A’RAAF(7):56,“Dan janganlah kamu membuat
kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya
dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
HUD(11):116,“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”
Ayat-ayat di atas secara tidak langsung memperlihatkan bahwa secara perlahan tapi pasti, manusia akan berbuat kerusakan (kecil dan besar) terhadap bumi, yang akan berakibat kepada kerusakan dan ketidakseimbangan alam. Di jaman modern ini, ketidakseimbangan alam ini kian terasa dengan adanya efek pemanasan total. Salju dan es mencair, mengakibatkan permukaan air laut meluap. Belum lagi ditambah dengan penebangan hutan yang semena-mena, membuat paru-paru dunia kian berkurang dan tingkat pencemaran meningkat dengan tajam.
Kondisi ini diperparah dengan pengeboran dan penggalian serta eksplorasi bumi yang kian tidak memperhitungkan faktor ‘ketangguhan’ bumi. Emas, minyak, dan berbagai barang tambang, semua dikeruk sebesar-besarnya.
Laut juga tidak luput dari bahaya kerusakan yang diakibatkan oleh manusia.
Dan sekali lagi, Islam sudah memperingatkan mengenai hal ini. Jika ayat-ayat di atas dianggap masih belum rinci berbicara mengenai kerusakan alam, maka ayat berikut akan menggambarkan dan menjelaskan secara gamblang. Perhatikan ayat berikut:
AR RUUM(30):41,“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Sayangnya, alam lingkungan seakan luput dari kaum muslim, terutama abad ini. Tidak ada fikih atau aturan agama ataupun fatwa yg secara resmi dikeluarkan oleh para ulama terkait dengan kondisi alam lingkungan ini. Padahal Islam (melalui Al Qur’an) sudah memberitahu dan mengingatkan hal ini berabad lampau.
Dengan kata lain, para ulama mesti memikirkan fiqh al bi’ah (fikih lingkungan) sebagai upaya memberi jawaban (dari sisi Islam) terhadap krisis ekologi yang telah berlangsung secara sistematis akibat keserakahan manusia dan kecerobohan penggunaan teknologi.
Bagi kita, muslim ‘kebanyakan’, tidak ada yg tidak bisa kita kerjakan berkaitan dengan kelestarian alam. Setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal berikut:
1. Tidak membuang sampah sembarangan
2. Menanam pohon di depan halaman (jika ada) untuk mengurangi tingkat polusi
3. Tidak boros dalam menggunakan energi (hemat energi). Al Isra(27):17,“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
4. Menggunakan air seperlunya, sekalipun untuk berwudlu.
Sudah siapkah kita melestarikan alam? Ayo mulai dari sekarang!
HUD(11):116,“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.”
Ayat-ayat di atas secara tidak langsung memperlihatkan bahwa secara perlahan tapi pasti, manusia akan berbuat kerusakan (kecil dan besar) terhadap bumi, yang akan berakibat kepada kerusakan dan ketidakseimbangan alam. Di jaman modern ini, ketidakseimbangan alam ini kian terasa dengan adanya efek pemanasan total. Salju dan es mencair, mengakibatkan permukaan air laut meluap. Belum lagi ditambah dengan penebangan hutan yang semena-mena, membuat paru-paru dunia kian berkurang dan tingkat pencemaran meningkat dengan tajam.
Kondisi ini diperparah dengan pengeboran dan penggalian serta eksplorasi bumi yang kian tidak memperhitungkan faktor ‘ketangguhan’ bumi. Emas, minyak, dan berbagai barang tambang, semua dikeruk sebesar-besarnya.
Laut juga tidak luput dari bahaya kerusakan yang diakibatkan oleh manusia.
Dan sekali lagi, Islam sudah memperingatkan mengenai hal ini. Jika ayat-ayat di atas dianggap masih belum rinci berbicara mengenai kerusakan alam, maka ayat berikut akan menggambarkan dan menjelaskan secara gamblang. Perhatikan ayat berikut:
AR RUUM(30):41,“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Sayangnya, alam lingkungan seakan luput dari kaum muslim, terutama abad ini. Tidak ada fikih atau aturan agama ataupun fatwa yg secara resmi dikeluarkan oleh para ulama terkait dengan kondisi alam lingkungan ini. Padahal Islam (melalui Al Qur’an) sudah memberitahu dan mengingatkan hal ini berabad lampau.
Dengan kata lain, para ulama mesti memikirkan fiqh al bi’ah (fikih lingkungan) sebagai upaya memberi jawaban (dari sisi Islam) terhadap krisis ekologi yang telah berlangsung secara sistematis akibat keserakahan manusia dan kecerobohan penggunaan teknologi.
Bagi kita, muslim ‘kebanyakan’, tidak ada yg tidak bisa kita kerjakan berkaitan dengan kelestarian alam. Setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal berikut:
1. Tidak membuang sampah sembarangan
2. Menanam pohon di depan halaman (jika ada) untuk mengurangi tingkat polusi
3. Tidak boros dalam menggunakan energi (hemat energi). Al Isra(27):17,“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
4. Menggunakan air seperlunya, sekalipun untuk berwudlu.
Sudah siapkah kita melestarikan alam? Ayo mulai dari sekarang!
@}~~ Kuntum Cintanya ~~{@
“De’… de’… Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.
Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.
“De… Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.
Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.
“Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
“Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.
Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.
“Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.
“A’ lihat aku…,” pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama....” bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-kuntum-cintanya-/10150148838296042
KECANTIKAN...!!!!
♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Setiap wanita pasti ingin kelihatan cantik dan menarik bukan?, tapi jangan terlalu memfokuskan mempercantik fisik saja, toh wajah yang cantik tapi bila tidak didukung dengan kecantikan hati dan sikap, sama saja boong. Memang gak bisa dimunafikan bahwa kecantikan memang aset bagi seorang wanita. Tapi yang perlu diketahui, pada dasarnya semua wanita itu cantik. Tapi bila didukung aura positif dari sikap dan prilaku yang baik dan santun, akan semakin terpancar aura cantiknya. Pernah gak kita sadari bahwa betapa pentingnya sikap yang baik itu, itu sangat mempengaruhi dalam diri kita.
Sering lia perhatikan, mungkin juga teman2 pernah perhatikan. Ada seorang wanita, bila kita lihat orangnya mungkin tidak menarik(maaf bukan lia menjelek-jelekkan) tapi orang-orang suka berteman dengan dia dan dia juga disukai oleh banyak orang, kalau kita pikir apa yang menyebabkan orang senang berteman dan menyukai dia, ternyata jawabannya sangat simple, dia orangnya ramah, suka tersenyum dengan orang lain, tutur katanya baik dan sopan, orangnya menyenangkan, suka membantu teman-temannya yang kesusahan. Terbuktikan bahwa kecantikan fisik bukan satu-satunya modal untuk bisa disenangi dan disukai oleh orang, ada hal lain yang sebenarnya lebih penting dari sekedar kecantikan lahiriah.
Begitu juga sebaliknya, mungkin orang tertarik untuk mengenalnya karena melihat wajahnya yang cantik, tapi bila sikapnya menyebalkan, egois, keras kepala, sombong, angkuh dan pemarah, gak ada yang mampu bertahan lama berteman dengan orang seperti itu dan perlahan-lahan akan mundur satu persatu dan bisa jadi lama-lama gak ada yang mau berteman dengannya karena sikapnya seperti itu. Inilah timbal baliknya. Jadi jangan pernah merasa minder bila merasa diri gak cantik atau gak menarik, jangan takut orang gak ada yang mau mendekati dan berteman dengan kita. Jadilah diri sendiri, apapun kekurangan yang ada pada diri kita, terima dan syukuri rahmat Allah yang terindah untuk kita. Karena kecantikan akhlak dan budi pekerti itu lebih hakiki dari pada kecantikan fisik yang suatu saat bila kita tua nanti, akan luntur dan pudar dimakan waktu. Semoga cerita ini bisa menginspirasi para perempuan dibelahan bumi manapun untuk tetap jadi diri sendiri..
♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/kecantikan/10150148618231042
Selasa, 15 Maret 2011
☺Suatu Kisah Kehidupan☺
Hidup ini sekarang koq banyak ribetnya ya??..apa-apa gak boleh, dikit-dikit diprotes..ada apa sebenarnya dengan kita??, apa yang sebenarnya ingin kita cari didunia ini ya??.
itu adalah suatu tanda tanya besar yang sampai sekarang gak mampu untuk kujawab. Semua orang punya hak untuk berpendapat..semua orang berhak untuk mempunyai kesempatan..semua orang punya hak untuk memilih yang terbaik dalam hidupnya dan semua orang juga mempunyai hak untuk bahagia. Namun mengapa disaat seseorang mempunyai kesempatan untuk membuktikan dirinya bahwa dia bisa, mengapa disaat seseorang bahagia dengan kehidupan dan pilihan hidupnya, mengapa disaat seseorang ingin menunjukkan kemampuannya, namun disisi lain orang-orang pada memprotesnya dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal..
♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Mengapa ??. Apakah manusia-manusia sekarang sudah tidak bisa lagi menerima kemenangan orang lain dan tidak bisa menerima kekalahan dirinya?, apakah manusia-manusia sekarang sudah tak bisa lagi berfikir dengan akal sehat tanpa mementingkan keegoisannya pribadi??. Setidaknya kita mampu untuk menerima kekalahan diri dengan ikhlas dan berusaha untuk semakin memperbaiki diri, bukannya dengan menghujat, memprotes dan lain sebagainya. Bukankah Allah sudah menciptakan kita dengan segala kelebihan dan keistimewaan daripada makhluk lainnya dimuka bumi, mengapa kita tidak menunjukkan segala kelebihan-kelebihan lainnya yang kita punya. Dari pada bisanya hanya menjelek-jelekkan
orang lain, yang ada rugi diri sendiri.
Aku jadi ingat dengan sebuah pesan dimasa kecilku dulu, pesan dari seorang yang ku panggil kakek :
Melangkahlah dimuka bumi ini dengan baik dan bijak
lakukan yang patut untuk dilakukan
hindari perbuatan itu bila dilarang
berbuatlah yang kamu senangi dan menyenangkan semua orang
jangan melakukan hal yang merugikan banyak orang
perbanyaklah ibadah dan sedikitkan yang membawa mudharat
Ingatlah bahwa suatu saat bumi ini akan berhenti berputar..
Subhanallah..
Pesan ini tentunya bukan dimaksudkan buat menakut-nakutkan aku, namun agar aku lebih mengingat Allah swt..karena ALLAH-lah satu-satunya penolong kita.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/suatu-kisah-kehidupan/10150148611026042
BETAPA INDAHNYA BERUMAH TANGGA
Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...
Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang di sukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan. Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).
Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.
Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.
Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.
Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi "perang" hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu uaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..". Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.
Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya" demikian jawabannya.
Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.
Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung. Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.
Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad. Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada':
"Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah ).
Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan : "...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:187)
Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)
Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya. Begitu juga sebaliknya.
Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.
Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Akhirya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan.Meski riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman
Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan. Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.
Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world "Akhirat". Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian.
Allahumma Aamiin.
Alhamdulillahirrobbil"alamiin.......
Langganan:
Postingan (Atom)
