Mengenai Saya
Laman
Minggu, 13 Maret 2011
Andai Aku Mati Sekarang
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Andai aku mati sekarang,
adakah yang merasa kehilangan atas diriku?,
adakah yang menangis pilu mengantarkan mayatku?,
adakah yang mendoakan aku setiap kali mereka mengenangku?,
adakah yang ziarah ke nisanku?,
aku… menangis rasanya bila harus memikirkan hal itu,
namun aku tak mau tak memikirkannya,
karna hal ini akan pasti terjadi padaku kelak.
Kini aku tak memiliki orang yang begitu tulus mencintaiku seperti keluargaku
mamaku,
papaku,
adikku,
Ya Allah… hamba tak mau merasakan apa-apa
hamba hanya ingin menyebut namamu saja sebagai pengganti aduan hamba.
Hamba kini ingin mengumpulkan amalan yang banyak untuk bekal hamba pulang ke dekapan kasih sayangmu
Ya Robb…
Hamba jadikan sabar sebagai penakhluk semua kebencian dihati ini.
Hamba jadikan sedekah untuk menghancurkan kesombongan dan kekikiran hamba. Hamba jadikan sholat hamba sebagai pelindung hari-hari hamba yang penuh dengan orang-orang yang benci atas kehadiran hamba.
Hamba jadikan doa sebagai penghibur hati, bahwa ada kekuatanMu yang sangat luar biasa, yang sanggup mengalahkan kerisauan dalam diri.
Hamba jadikan diam sebagai benteng diri, dari kata-kata penuh dosa, janji-janji penuh dusta.
Hamba sepenuhnya yakin, bila hamba tetap pada pendirian ini, pada kesabaran yang sudah semestinya.
Hamba akan mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dariMu Ya Allah… dan
Hamba tak perlu lagi berputus asa dengan keadaan duniawi yang telah merenggut kelapangan dari hidup hamba ini.
Allah…
Hamba mohon berilah hamba kesabaran yang tak habis-habisnya
Hamba mohon ampunkanlah segala dosa
Hamba mohon berilah hamba kekuatan untuk mengahadapi kenyataan yang tak selalu menyenangkan ini
Hamba mohon jagalah hamba dari pengaruh hati yang menggebu
Hamba mohon terimalah segala amalan hamba
Yang
Hanya untuk meraih kasih sayangMu
Hamba beramal
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/andai-aku-mati-sekarang/10150146437321042
Catatan dari Diaryku (seri 70) : Lengser Keprabon :D
Tak selamanya kita mengalami kesuksesan. Kegagalan adalah hal yang pasti pernah kita alami dalam hidup, namun tinggal kita bisa apa tidak menyikapi kegagalan itu. Jika putus asa, maka itu sama saja kita menyerah sebelum bertanding, sebab hidup harus dihadapi. Namun jika kita bangkit dan melupakan kegagalan itu, maka ia hanyalah sebuah bentuk kesuksesan yang tertunda saja. Cuma masalah waktu.
Aku pun mengalami hal itu juga. Dalam berorganisasi, tidak selamanya aku sukses, meski alhamdulillah nisbat kesuksesannya lebih banyak dari kegagalannya.
Kala akhir masa khidmahku sebagai pak menhan, dan sebagai pengurus periode 2000-2001, idaroh kembali menggelar hajat tahunannya, yaitu pemilihan kembali pengurus baru.
Kali ini, para senior pesantren, dan seluruh fungsionaris Idaroh, ingin mencoba sistem baru. Sebagai penyegaran tentunya, dan juga sebagai latihan bagi seluruh santri.
Akhirnya mulai dari tata cara pemilihan, sampai bentuk organisasi, kami menggunakan sistem negara, sistem parlemen. Ada Fraksi-Fraksinya, ada DPR-nya juga ada MPR-nya, yang mendapat amanat untuk menunjuk serta memilih ketua Idaroh yang baru. Sebelum nanti ketua Idaroh menyusun format kabinetnya.
Ternyata gawe kami kali ini, di samping meriah, berlangsung lebih lama dari biasanya. Tiga hari tiga malam. Biasanya sih cuma beberapa jam saja, memilih ketua atas dasar vooting dari beberapa calon yang diajukan dadakan. Namun kali ini digarap serius.
Alhasil, dalam pemilihan dan rapat di ruang pertemuan pesantren, Aula Imam Bukhori, aku mendapat amanat sebagai ketua MPS, majelis permusyawaratan santri, atau dalam istilah kami, majlisul istisyar. Bawah kami adalah DPS, atau majlisun Nuwwab. Komentar teman-teman waktu itu adalah, saiki pak menhan-e dadi Amin Rais :D
Akhirnya kami masuk pada acara utama, yaitu pemilihan Ketua Idaroh (Rois Aam) yang baru. Ada tiga calon yang diajukan oleh seluruh fraksi, hanya saja satu calon mengundurkan diri. Dan sebelum diadakan pemilihan umum Rois Aam, masing-masing Fraksi saling mengadakan lobi dan membentuk koalisi.
Nah, fraksiku, sebagai fraksi dengan anggota seluruh santri senior, ternyata tak melakukan lobi apa-apa. Kami hanya berkumpul duduk santai bersama calon dari fraksi kami sembari yakin bahwa calon yang memang datang dari kelas kami, akan menang. Apalagi ada Amin Rais-nya :D. Aku sendiri yakin, dan bilang, tak perlu lobi, fraksi kelas satu, itu kelas yang aku jadi wali kelas di situ. Pasti deh mereka akan ikut gurunya, sombong sekali aku kala itu. :-S
Dan saat pemilihan, ternyata jago kami kalah. Entah mengapa saat itu aku sangat gusar dan marah, fraksi kami berkali-kali melancarkan interupsi pada majlis istisyar, dan aku lupa kalau aku sendiri ketua majlis :-D
Ada kesalahan fatal memang saat pemilihan Rois Aam itu, yakni calon kami waktu duduk di depan hadirin, lupa melepas kalung mainan yang dipakainya secara iseng kala duduk-duduk santai dengan kami. Nah, tentu saja hal ini dipandang negatif oleh para junior. Kok calonnya kalungan? Yang pasti calon kami kalah dengan menyakitkan, hanya selisih satu suara.
Sebelumnya, hampir saja egoku muncul. Aku mau memaksakan kehendak pribadi dengan ingin membatalkan hasil pemilihan yang sah itu, tentu saja menggunakan rekayasa. Untung saja tidak jadi.
Alhasil, pada sore hari, saat pelantikan, dan penyerahan mandat oleh MPS pada ketua baru, dengan hati sesak dan memaksakan untuk legawa, aku berpidato dan memimpin majlis, hanya saja dengan nada penuh emosi. Sangat tak bagus sekali. Aku masih ingin calonku yang jadi. Bukan ketua lama yang terpilih kembali.
@ @ @
Pelajaran hidup sangat besar yang secara pribadi ku ambil adalah :
@ Seorang pemimpin yang baik, dia tak lalai dan selalu waspada dengan kemungkinan apapun. Mengganggap remeh sebuah masalah, akan membuatnya bisa kehilangan kendali, dan menggagalkan segala rencana yang disusunnya.
@ Keculasan manusia, seseorang jika terlalu lama merasakan nikmatnya kekuasaan, dan dia tidak punya kontrol moral yang baik, maka dia cenderung diktator dan memaksakan kehendak.
@ Terkadang, sedalam apapun ketaqwaan seseorang, dan dia diuji dengan kekuasaan, sementara Allah tidak Menjaganya, maka semua ketaqwaan itu akan sirna seketika. Sebab dia mendahulukan kepentingan nafsu dan mengedepankan egonya.
@ Arogansi dan kesombongan, adalah penyakit terparah seorang pemimpin yang bisa menghancurkannya kapan saja. Lahir batin.
@ Seseorang yang mengalami masa surut, dan dia tidak rela dengan kenyataan itu, terkadang bisa mendorongnya melakukan segala hal untuk membuatnya tetap ingin bertahan, meski tahu hal itu salah. Jika dia tidak mengaktifkan kontrol moralnya, maka cara terkeji sekalipun pasti dia lakukan. Al-Ghoyah tubarrirul wasilah.
@ Apapun keputusan majlis, suara mayoritas, kita tetap harus menghormatinya dan melaksanakannya, meski hal itu bertentangan dengan pendapat pribadi kita. Tunduk pada pemimpin yang telah disepakati, adalah kewajiban. Meski pemimpin itu tidak cocok dengan nurani kita.
@ Sebuah kesalahan besar jika saat kita tak cocok dengan pemimpin tadi, lantas membuat oposisi yang tidak konstitusional. Sebab itu sama saja dengan memecah belah kekompakan dan menyulut api fitnah yang lebih panjang. Dalam lingkup yang lebih luas, kadang terjadi pemberontakan. Nah dalam fiqih, hal ini disebut Bughot, yang mempunyai hukum khusus.
@ Kalau selamat sih masih untung. Coba jika pemimpin yang baru ternyata wataknya lebih buruk dari dari watak kita. Dan dia lebih kuat, maka tentu malapetaka yang bertumpuk pasti akan kita alami. Jika tidak dipakai lagi dalam formasi, ya disingkirkan secara pelan-pelan. Dalam lingkup politik lebih tinggi, sampai terkadang dibunuh.
@ Sekali lagi, kebijakan dan kebajikan adalah kontrol dari semua itu. Pemimpin yang baik harus sadar, bahwa ada saatnya dia akan turun dari jabatannya, dan itu hukum alam. Maka dia harus mempersiapkan segalanya dengan baik.
Akhir catatan, dari seluruh lima seri catatan dari diaryku tentang kepemimpinan dan politik, terdapat sebuah pelajaran besar. Bahwa uji coba hati yang paling besar adalah dalam kekuasaan. Hubbul Jah. Sangat sedikit sekali, sepanjang sejarah kemanusiaan, orang yang lolos dari jebakan maut permainan nafsu dan setan dalam dunia perpolitikan dan kepemimpinan.
Makanya, nasehat abadi Abuya, Guru besar kami, pada seluruh muridnya adalah, jangan sekalipun terlibat politik praktis. Jika tidak ada Inayah Ilahiyah yang menjagamu, maka kamu pasti terjatuh dalam jurang kehancuran sehancur-hancurnya, wal iyadzu billah.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/catatan-dari-diaryku-seri-70-lengser-keprabon-d/10150146103971042
MASALAH ... OH ,,,MASALAH....
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Banyak orang stress begitu menghadapi masalah, karena mereka beranggapan hidup itu bebas dari masalah… padahal sesungguhnya karena ada masalahlah orang baru bisa bertahan hidup, dan karena ada masalah jugalah seseorang baru dapat menghargai hidupnya.
Bila kita dapat melihat masalah sebagai sebuah keindahan.. maka hidupmu akan indah! tetapi bila kita melihat masalah sebagai beban hidup yang hanya menghalangi kita, maka hidup ini pun terasa penuh beban.
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•
Bila tidak ada masalah bagaimana bisa mendapat kebijaksanaan? Karena ada masalah baru bisa muncul Pencerahan.
nah gimana kita menghadapinya? maka membutuhkan suatu ketenangan bathin, dan kejernihan bathin… perlahan tapi pasti dapat melihat semua benang merah dari permasalahan yang ada, dan mencoba menguraikan benang yang kusut itu.Kalo emang masih kusut jangan khawatir, ambil gunting dan gunting aja… beres kan… hahahhaa…
Jangan karena satu masalah dan kita membuat masalah yg baru,
jangan karena satu masalah membuat kita menderita selamanya,
jadikan masalah sebagai tantangan untuk diselesaikan, jadikanlah masalah sebagai batu loncatanmu untuk sebuah kesuksesan.
Bila lari dari masalah sesungguhnya didepan sana masalah yang lebih besar akan menghadang dirimu…
bila tidak lari dari masalah, maka bila ada masalah yang timbul lagi kemudian, setidaknya kau sudah jauh lebih kuat, lebih tegar dan lebih bijak dalam melihat smeua duduk permasalahannya.
Sesungguhnya 90% masalah itu muncul dari dalam diri sendiri,
muncul dari cara berpikir kita,
muncul dari ketidaktahuan kita,
muncul dari keserakahan dan kesombongan kita,
muncul dari sifat kita yang kurang bijaksana,
muncul dari sifat kita yang kurang memiliki cinta kasih dan kasih sayang
muncul dari semua kekhilafan manusia……
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jadi………
mau dibawa kemana hidupmu? kau sendiri yang menentukan!
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/masalah-oh-masalah/10150145452751042
Letakkan Cinta Pada Nikmat Yang Benar
Nafsu
_baik_
jika itu diletakkan
pada waktu dan tempat yg tepat.
_buruk_
jika itu diperturutkan
dengan tampa mempertimbangkan dampaknya.
nafsu dapat membangun kebaikan.
namun tak kalah seringnya nafsu itu membinasakan.
letakan-lah nafsu_mu,
'waktu' kau jatuh tak berdaya.
'tempat'kan ia di titik rasa jemu_mu.
maka nafsu itu akan menjadi pembangkit dan pendorong semangat_mu.
"tak semua nafsu itu buruk."
Ketika DUNIA memberi 1000 alasan untuk
membuat kita menangis, mengeluh dan menyerah.
Tunjukkan-lah bahwa kita punya
1001 alasan untuk dapat tersenyum, bersyukur dan sukses.
Buktikan, bahwa dunia ini ...
Terlalu hina untuk membuat kita menangis.
Terlalu murah untuk membuat kita bersedih.
Terlalu lemah untuk membuat kita putus asa.
Tersenyum-lah ...
krn kita mendapat kesempatan untuk belajar.
"Bahwa Cinta itu Fitrah"
karena ia fitrah,
maka kebeningannya harus selalu kita jaga.
fitrah'nya cinta
akan begitu mudah mengantarkan seseorang
memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah,
bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian bagi yg di kasihi'nya.
lantas apa yg perlu kau cemaskan ??
: takut kehilangan cinta. jika tak meng-kotor-Nya?
_cinta itu suci, maka jagalah_
tak perlu layaknya dongeng.
pangeran menjemput sang putri dengan kereta kencanaNya.
tak perlu lah seperti kisah romeo dan juliet.
yang berani mati hanya dengan mengatas namakan cinta semu makhluk-Nya.
cukuplah ia..
seekor lebah,
yg sentiasa memuji keagungan-Nya.
memasuki taman larangan dengan sopan santun_nya.
dan bertemu dengan mawar liar berduri yg terjaga oleh tuannya.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/letakkan-cinta-pada-nikmat-yang-benar/10150144823591042
Catatan dari Diaryku (88) : Sholat Polyphonic :D
Heu.. Rupanya tantangan untuk sholat khusyu' semakin hari semakin berat. Beberapa tahun lalu, nggak jauh kok, 5 tahunan lah, di masjid-masjid yang bertebaran di Makkah, di dinding-dindingnya, masih bersih dari pamflet-pamflet selain pamflet kata-kata islami.
Sekarang, menjadi pemandangan biasa sekali ada pamflet yang berbunyi (artinya) : "Matikan HP saat sholat". Kalau masjid di tanah air bagaimana? Apa ya sama kayak gitu juga? Banyak pamflet larangan mengaktifkan hp?
Memang, sekarang ini sering sekali kita dengar hape berbunyi saat tengah-tengah kita sholat. Yang otomatis mengganggu konsentrasi kekhusyuan sholat kita. Mbok ya di silent lah sebelum sholat, biar tidak mengganggu jamaah yang lain.
Lah gimana mau khusyu', apalagi yang potongannya suka melamun kayak aku gini. Tengah-tengah baru saja bisa menikmati bacaan surat sang imam, eh tiba-tiba dari samping hp seorang jamaah berteriak-teriak nyaring, "Tak gindong kemana-mana, tak gindong kemana-mana".. Jadi inget almarhum Mbah Surip deh :-D
@ @ @
Khusyu', sebenarnya itulah inti daripada sholat. Khusyu' sendiri bermakna terpusatnya seluruh pikiran, jiwa, raga, dan ruh pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Memi'rajkan ruh ke hadirat-Nya.
Dalam sebuah hadits yang arti umumnya, bahwa sholat kita itu dihitung dengan seberapa khusyu'nya. Jadi, semakin khusyu', maka semakin berkualitas sholat kita dan semakin besar peluang diterima.
Malah sebagian Ulama' menjadikan Khusyu' sebagai syarat sah sholat. Sholat yang tidak ada khusyu'nya sama sekali dianggap tidak sah.
Waduh, berat donk? Bagaimana tuh jalan keluarnya, apalagi buat orang model kita yang sholatnya masih syukur njungkir saja? Sederhana, setidaknya, saat takbir, hati kita sepenuhnya ingat Allah. Dan jika setelah itu imajinasi kita ke mana-mana, semoga Allah mengampuninya.
Nah, sholat Khusyu' ini juga yang memberikan efek positif pada kita untuk tak melakukan hal-hal yang tak baik. Jadi, kalau sehari-hari kita ini masih nakal, padahal kita tidak telat sholat 5 waktu, maka yang perlu dikoreksi lagi, adalah kekhusyu'an sholat kita.
Dan kiat sholat khusyu' itu cukup banyak, di antaranya, dengan melupakan sejenak seluruh problem hidup kita. Saat sholat pandangan memandang lurus ke tempat sujud. Berkonsentrasi penuh pada bacaan sholat dan sebagainya (bisa kita temukan di buku-buku kiat sholat bagus).
Pada akhirnya, yang mesti diperhatikan sekali lagi adalah kekhusyu'an sholat kita. Sudah seberapa khusyu'kah kita? Sudah bisakah seperti para orang terdahulu yang sampai saking khusyu'nya tidak terasa kalau dia kerobohan rumahnya, atau tak terasa saat kakinya diamputasi (waktu sholat) atau malah sampai dibuat bertengger burung karena dikira kayu.
Kalau saja waktu subuh kita orang ini saat sholat masih suka ngantuk apalagi tertidur, maka perlu dipegang lagi tuh tengkuk kita orang, perlu ditepuk, biar bisa sholat khusyu'...
So, yuk bersama membenahi sholat kita :-)
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/catatan-dari-diaryku-88-sholat-polyphonic-d/10150144091256042
JANGAN PUTUS ASA
Ketika semua serba salah, sebagaimana biasanya
Ketika jalan yang kau tempuh terasa mendaki
Ketika uang hanya sedikit, sedangkan utang melilit
Dan kau ingin tersenyum, tetapi kau terpaksa mengeluh
Ketika urusan terasa agak membebanimu
Istirahat kalau perlu, tapi jangan berhenti
Hidup ini aneh bila tanpa lekuk dan liku
Seperti yang kadang-kadang kita alami
Dan banyak kegagalan yang kita jumpai
Ketika semestinya kita berhasil, ada saja yang menghalangi
Namun jangan menyerah kendati gerak maju tampak lambat
Siapa tahu berhasil pada usaha berikutnya
Keberhasilan adalah sisi lain kegagalan
Seperi tinta perak dibalik awan keraguan
Dan kau tak pernah dibalik awan keraguan
Dan kau tak pernah tahu seberapa dekat tujuanmu
Mungkin sudah dekat ketika bagimu terasa jauh
Maka tetaplah berjuang bahkan ketika hantaman semakin keras
Ketika segalanya tampak sangat buruk
Kau tetap tak boleh berhenti
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Clinton Howell
(DONT QUIT)
Gagal lagi, gagal lagi, dan gagal lagi. Hal seperti ini pun akan memungkinkan kita putus asa. Anda telah mencoba, Anda telah bersabar, dan Anda telah berusaha, namun kegagalan dan kegagalan yang menemui Anda. Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti sesorang yang sedang mencari suatu tempat tetapi tidak mengetahui harus lewat mana.
Jika jalan yang Anda ketahui sedikit, maka Anda akan cepat berhenti karena tidak ada jalan lagi yang bisa ditempuh. Tetapi jika Anda mengetahui banyak jalan, maka Anda mencoba jalan yang lainnya sampai menemukan jalan yang benar. Semakin banyak jalan yang Anda ketahui dan energi Anda masih cukup maka kemungkinan untuk bergerak terus masih sangat memungkinkan.
Jalan yang dimaksud disini adalah ide. Saat Anda gagal dengan satu ide, maka Anda bisa mencoba ide yang lain. Ide tersebut bisa Anda dapatkan baik dari ide sendiri maupun ide dari orang lain. Agar bisa menghasilkan ide sendiri maka diperlukan kreativitas. Sementara untuk mengetahui ide dari orang lain, maka yang diperlukan adalah menuntut ilmu.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/jangan-putus-asa/10150143977486042
Penerangan….
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang memberi pasokan listrik untuk melayani masyarakat. Dengan adanya listrik, maka segala kemudahan dapat dirasakan oleh semua orang. dengan adanya penerangan juga manfaat yang dapat dirasakan orang banyak.
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Memberikan penerangan pAda jalan-jalan yg gelap, merupakan berkah yg dapat dirasakan oleh sesama.
Dahulu sebelum listrik masuk desa, banyak sekali tempat-tempat yang gelap. Ada banyak orang yang dengan iklas membuat obor di depan rumahnya dan sepanjang jalan sekitar rumahnya agar orang yang melintasi jalan. Setelah listrik masuk desa juga masih ada yang dengan swadaya membuat lampu penerangan jalan yang rela menerangi jalan sekitarnya dengan mengambil sumber listrik dari rumahnya… sehingga memberikan manfaat bagi siapapun…. Inilah pahlawan yang berjasa dalam ‘penerangan’.
Memberikan penerangan kepada mereka yang berjalan di kegelapan juga merupakan berkah yang tidak terkira.
Tugas para kaum ulama dan kita semua, juga sama memberikan penerangan kepada mereka yang berjalan di tengah ketidaktahuan, ditengah kegelapan, ditengah kebimbangan… Sebuah pelita hati yang telah menyala akan mampu menerangi kegelapan bathin. dan bila ada seseorang yang memiliki pelita hati, ia pun dapat menerangi orang lain yang berada di sekitarnya. akibatnya bila semua orang menyalakan pelita hatinya juga… teranglah dunia…
Setelah semua orang yang memiliki penerangan di hatinya dapat melihat dengan jelas, berjalan dengan tenang dan nyaman. maka percayalah mereka akan dapat menjalani jalan hidupnya sendiri tanpa perlu dituntun, tanpa perlu dikhawatirkan lagi.
Mereka dengan sendirinya akan berjalan aman kemana juga, berjalan mantap dengan tenang kemana juga. Selalu bertemu dan berjumpa dengan orang-orang yang selalu ceria dalam menjalani hari-harinya. Demikian juga Ia menjadi sumber penerangan bagi yang lainnya dan terus teranglah dunia kita…..
“Teranglah Jalanmu!”
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/penerangan/10150137223351042
Ketika Cinta Tiba
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Doakanlah aku di sholat malammu,Rembulan di langit hatiku. Saat ini usia saya sudah menginjak umur 23 tahun. Sebagai seorang laki-laki, tentu saja sudah harus bersiap-siap untuk menyongsong kehidupan baru menuju mahligai pernikahan. Sebuah fase kehidupan yang menurut cerita teman-teman begitu indah dan mengasyikkan. Dan kini, “provokasi” kearah pernikahan itu begitu gencar dihembuskan oleh teman-teman saya. Saya menghargainya, tapi saya tetap punya rencana tersendiri kapan waktunya.Jangan ditanya, apakah saya tidak ingin cepat-cepat menikah. Terus terang, saya ingin menyegerakannya karena itulah jalan untuk menggenapkan separuh dien. Dan saya yakin, para lelaki lainnya juga berpikiran begitu, tak jauh beda dengan saya.
Siapa yang tidak ingin segera berjihad, berkarya dan berdakwah bersama belahan hatinya.Kadang, ada yang meledek “Kapan kamu menikah”. Ketika mendapati pertanyaan semacam ini, saya hanya tersenyum saja. Rumusnya begitu. Tak perlu ditanggapi berlebihan, apalagi dengan rasa amarah. Tak ada gunanya. Lebih baik, pendam diam-diam dalam hati, sambil serius untuk melangkahkan kakinya menuju pernikahan itu. Kalau memang sudah siap, itulah saatnya “Ucapkan Cinta”.Tapi, bagaimana ketika cinta itu datang tiba-tiba dan kita belum siap (ini berlaku untuk para lelaki). Kalau belum siap untuk menikah, sangat rawan kalau kita ucapkan cinta. Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang perempuan kalau harus menunggu dalam penantian.Sobat. Yang terpenting bagi kita saat ini adalah berbuat yang terbaik untuk diri dan lingkungan sekitar kita. Jangan ucapkan cinta kalau kita belum siap. Lebih baik, menyibukkan diri dulu dengan aktivitas yang bermanfaat sekaligus menyiapkan bekal yang cukup untuk menyambut “bidadari itu”. Kalau saatnya sudah tepat, baru ucapkan cinta. Percayalah, dengan cara seperti ini, insyallah kita akan bisa meraih impian-impian kita.Jangan terlena dengan bayangan-bayangan yang masih semu. Sekarang saatnya kita berbuat yang terbaik, dan bekerja maksimal sepanjang yang kita bisa. Insyallah, ketika kita serius dalam menjalani hidup dengan niat suci. Insyallah, Allah SWT akan memberikan yang terbaik pula kepada hambanya.
Mengenai siapa jodoh kita, hal itu tak begitu penting. Yang terpenting adalah visi yang sama, karena itulah yang akan menyatukan dua insan menuju karya-karya besar dan kelanggengan hidup. Kemudian, bagi para perempuan sholehah, bersabarlah. Karena kesabaran terbukti membuahkan hasil yang tidak disangka-sangka. Kalau memang tak kuasa menahan kesabaran. Contohlah Khatijah, dengan begitu, Insyallah akan manis akhirnya.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/ketika-cinta-tiba/10150143149451042
Merangkai Kata Cinta Atas Nama-Nya
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Ketika hamba hamba Allah yang beriman, mendeklarasikan Akad di hadapan Allah, dihadapan manusia, juga penghuni langit yang menjadi saksi akad itu, maka di saat itu Allah menurunkan ketentraman di hati mereka, bentuk kententraman itu adalah timbulnya rasa kasih dan rasa sayang diantara mereka.
Inilah yang disebut CINTA. Pada jejak ini Cinta itu telah halal, telah Allah ridhoi,tumbuh, mekar dan bersemi indah di jiwa-jiwa mereka.Tapi perjalanan menikmati cinta ini, adalah kehidupan, adalah nafas panjang, maka harus ada bekal, karena dengan bekal itu, kita berharap,sampai dengan selamat kedermaga Cinta kita, yaitu Surga Allah, berkumpul kembali dengan istri kita, dengan anak cucu kita.
Dijejak kehidupan inilah, kita mencoba mempersiapkan bekal, terus belajar, merangkai Kata Cinta di hati dan jiwa istri kita, juga suami kita…..
Tentu dengan cara yang sesuai syariat…
Inilah sebagian Rangkaian Kata Cinta seorang Suami terhadap Istrinya
1. Istri membutuhkan Perhatian dan Romantisme
Percayalah, perhatian dan romantisme adalah sesuatu yang melegakan seorang istri. Antum tak perlu menjadi seorang pujangga untuk menaklukan istri antum.
Tetapi berilah sedikit perhatian dalam aktivitasnya, seperti
“ duh..Mujahidahku seharian ikut liqo..capek ya…..sini abi pijitin ya…”!
Atau….
“Ummi sayang, abi belikan es lilin ya..”!
Kalimat seperti ini akan menjadi “Ajaib” di telinga istri antum. Kenapa ? Karena kalimat seperti itu menyentuh sisi emosional dan perasaannya, serta merawat kasih sayangnya.
Ingatlah kuantitas menjadi penting bagi seorang istri, karena istri membutuhkan perhatian kecil dengan kuantitas yang sering.
Jadi jangan segan untuk menatapnya ketika engkau akan berangkat kerja, dengan sinar matamu yang penuh kekaguman padanya, misalnya, atau membelikannya es krim atau juga menyeduhkan secangkir jahe hangat ketika tamu bulanannya datang .
Semua itu satu tujuan, agar cinta dihati istri kita terus bersemi indah di langit jiwanya.
2. Biarkan Istri kita mengeluarkan “sampah” emosinya.
Setiap istri membutuhkan bicara, karena bicara adalah bagian dari kehidupannya, berbicara membuat istri tenang, dan terawatt sisi kewanitaannya, dan secara ajaib menyelesaikan masalah-masalahnya.
Dengan bicara maka sesungguhnya istri kita sedang mengeluarkan “sampah” emosinya, disinilah peranan suami, untuk menjadi “TELINGA” untuk mendengar dan memahaminya.Salah satu bentuk perhatian suami kepada istrinya adalah, ketika istrinya bicara maka pertahankanlah kontak mata dengan istrinya, ini akan membuat istri merasa nyaman dan diperhatikan.
3. Saling mengisi kekurangan dengan saling menyesuaikan harapan.
Ketidak sempurnaan adalah suatu yang wajar dalam sebuah pernikahan sebab demikianlah sifat dunia dan isinya. Oleh sebab itu obat untuk menyelesaikan ketidak sempurnaan itu adalah dengan saling menyesuaikan harapan.
Sebagai contoh Pernikahan saya yang telah memasuki usia delapan tahun masih saja penuh dengan usaha-usaha menyesuaikan harapan, mulai dari bagaimana mencari tipe rumah kontarakan, mengatur dekorasi rumah, anggaran belanja dan pendidikan anak.
Nah disisi ini istri pasti memiliki nilai “ideal” versinya, maka kita mencoba menjembatani dengan berusaha minimal dekat dari nilai “ideal” yang ada dalam versi istri kita. Maka jembatan itu bernama komunikasi dari hati kehati, hingga istri kita paham, dan memahami jika ikhtiar yang kita lakukan belum mendekati apa yang menjadi impiannya itu, tapi komunikasi yang dilakukan oleh kita diawal, membuat tak ada kecewa di hati istri kita.
Inilah yang saya maksud dari kalimat Saling mengisi kekurangan dengan saling menyesuaikan harapan.
Inilah sebagian Rangkaian Kata Cinta seorang Istri terhadap Suaminya
1. Suami Membutuhkan “penghargaan”
Suami memiliki ciri khas,nah jika cirri khas ini berhasil kita “kuasai” maka akan mengalir terus empati dan rasa sayang suami kepada istrinya.
Ciri khas itu adalah bahwa suami membutuhkan” penghargaan”.
Penghargaan ini kadang sering dilupakan oleh kebanyakan para istri, padahal penghargaan itu bisa dalam hal yang sederhana, tapi memberikan efek yang luar biasa.
Misalkan ketika seorang suami menelepon istrinya, maka ucapan “terima kasih” atas kesediaannya menelepon itu, akan menimbulkan inovasi-inovasi baru di jiwa suami untuk selalu berdekatan dengan istrinya.
Inovasi-inovasi inilah hasil positif dari penghargaan itu.
2.Melihat dan memahami kapan suami siap menjadi “pendengar” kita
Ini adalah tahapan yang sulit mungkin bagi seorang istri, ketika “sampah” emosinya ingin segera dikeluarkan, tapi kondisi saat itu tidak memungkinkan sang suami untuk mendengarkannya, jika kita tidak memahami hal ini, maka yang ada adalah kesalahpahaman dan pertengkaran.
Disini dibutuhkan pemahaman, bahwa suami mungkin sedang letih karena aktivitas kantor telah menguras fisik dan emosinya, maka mungkin ketika ia baru selesai mandi atau makan malam misalnya, mungkin saja ia masih letih sehingga ia tak siap menjadi pendengar yang baik, lagi-lagi disinilah dibutuhkan penglihatan seorang istri. Raut wajah dan tatapan mata suami kita, adalah bahasa yang bisa kita mengerti, apakah dia letih, atau ceria.
Maka biarkanlah suami kita sejenak, mengembus nafas, setelah itu sapalah dia dengan cinta, misalkan dengan seperti ini.
“ abi, ummi mau curhat ya, semoga tidak mengurangi kebahagiaan abi hari ini..”
Percayalah disaat itu, seorang suami akan bertenaga menjadi pendengar yang baik
Juga menjadi factor untuk menyelesaikan problema kita.
Merangkai Kata Cinta dalam NamaNya…
“Delapan tahun engkau menemani hari-hariku
Dalam gelap malam, juga cerahnya pagi
Maka jika engkau menemukan ku tak sesuai mimpimu selama ini
Percayalah sesungguhnya aku sedang belajar merajut mimpi itu….
Maka temani aku dalam ketaatan padaNya
Selalu bersama tak jemu berdoa kepadaNya
Agar hari ini aku bisa menjadi suamimu yang lebih baik dari hari kemarin
Dan agar esok hari engkau menemukanku sebagai suamimu yang lebih baik dari hari ini……….!
Semoga goresan kata ini adalah doa
Menjadi penyubur cinta kita sayang…..
Selamanya aku mencintaimu.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/merangkai-kata-cinta-atas-nama-nya/10150137235156042
Sabtu, 12 Maret 2011
Wanita: Antara Pembela dan Pencela (1)
Bismillaahirrahmanirrakhiim.....
Sepuluh Kaidah Penting Menjaga dan Membela Kehormatan Wanita
Ada beberapa kaidah penting dalam rangka menjaga dan membela kehormatan wanita, antara lain:
Kaidah Pertama: Perbedaan Antara Laki-Laki dan Perempuan
a. Wajib bagi setiap muslim untuk meyakini adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, karena Allah sendiri yang telah menciptakan manusia telah membedakannya, Allah berfirman:
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنْثَى
“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (QS. Ali Imran: 36)
Secara tegas ayat di atas menafikan adanya persamaan antara laki-laki dan perempuan. Dan Allah menjadikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena adanya hikmah yang sangat agung. Dengan perbedaan inilah Allah menggantungkan taklif kepada masing-masing dari kaum laki-laki dan perempuan sesuai dengan kekhususan yang ada pada diri mereka masing-masing. Di bawah ini ada beberapa contoh perbedaan dalam hukum syar’i antara laki-laki dan perempuan:
1. Laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangga, dialah yang diberi kewajiban untuk mencari nafkah, membimbing anggota keluarga dengan segala kebaikan, menjaga mereka dari segala kejahatan dan sebagainya, Allah berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa: 34)
2. Tugas kenabian dan risalah hanya dibebankan kepada kaum laki-laki tidak kepada perempuan, firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ القُرَى
“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109)
3. Tanggung jawab umum hanya dibebankan kepada kaum lelaki seperti, kepemimpinan, pengadilan dan kehakiman, wali nikah dan tugas-tugas lain yang menyangkut kepentingan umum.
4. Banyak sekali kewajiban-kewajiban syar’i yang hanya dibebankan kepada kaum laki-laki seperti; jihad, menghadiri shalat jama’ah di masjid, shalat Jum’at, azan, iqomat, hak cerai, penisbatan anak juga kepada bapaknya dan lain-lain.
5. Pada sebagian hukum laki-laki memiliki hak dua kali lipat melebihi wanita, seperti dalam hak waris, memberikan persaksian, diyat, aqiqah dan lainnya.
b. Setiap muslim baik laki-laki ataupun perempuan, mereka dilarang mendambakan apa yang menjadi kekhususan dari yang lainnya. Seorang laki-laki tidak boleh memimpikan sesuatu yang menjadi kekhususan perempuan begitu juga sebaliknya. Karena ini berarti tidak rela dengan takdir yang digariskan oleh Allah kepada mereka, Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa: 32)
c. Jika Allah melarang hanya sekedar mendambakan apa yang dimiliki oleh jenis lain dari laki-laki dan perempuan apalagi bagi mereka yang secara terang-terangan menolak adanya perbedaan antara kedua jenis ini bahkan mendakwahkan persamaan antara laki-laki dan perempuan.
Oleh karena itu gerakan yang ingin menyamakan antara kaum laki-laki dan perempuan sangat bertentangan dengan syar’i, akal sehat dan juga fitrah manusia itu sendiri. Di samping juga merupakan bentuk kezaliman terhadap wanita itu sendiri, karena secara sadar ataupun tidak telah memberikan beban dan tanggung jawab kepada kaum wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya dan jauh di atas kemampuan yang diberikan Allah kepadanya. Padahal Allah sendiri Dzat Yang Maha Adil tidaklah membebani seseorang melainkan menurut kemampuan mereka.
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Kaidah Kedua: Kewajiban Berhijab Dengan Maknanya yang Umum
Hijab secara umum berarti: menutup aurat. Dan ini berlaku secara umum baik laki-laki ataupun perempuan, besar maupun kecil. Oleh karena itu seorang laki-laki dilarang menampakkan auratnya di hadapan laki-laki lain, seorang wanita juga tidak boleh menampakkan auratnya di hadapan wanita lain lebih-lebih lagi antara lawan jenis kecuali antara suami istri. Ada beberapa ajaran Islam yang menegaskan akan pentingnya hal ini dalam rangka menjaga kesucian manusia, antara lain:
* Islam melarang anak-anak untuk tidur bersama di satu tempat tidur, karena dikhawatirkan terjadi sentuhan dan gesekan yang akan menimbulkan syahwat atau sebagian mereka saling melihat aurat sebagian yang lain.
* Seorang laki-laki dilarang shalat dengan baju yang tidak ada lengannya.
* Islam melarang laki-laki dan perempuan untuk telanjang bulat baik dalam ibadah seperti thawaf dan shalat (meskipun dilakukan pada waktu malam hari dan tidak ada orang lain yang melihat) maupun di luar ibadah.
* Islam melarang laki-laki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki.
* Islam melarang laki-laki dan perempuan untuk berdua-duaan tanpa adanya mahram.
* Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk sama-sama menundukkan pandangan, dll.
Ini semua diajarkan Islam dalam rangka menyucikan jiwa setiap muslim dan muslimah dari hal-hal yang tidak terpuji dan mendidik mereka untuk selalu memiliki sifat malu, dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ »
Dari Imran ibnu Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sifat malu tidaklah mendatangkan kecuali sesuatu yang baik.” (HR. Al-Bukhari no. 5652 Muslim no. 53)
Kaidah Ketiga: Kewajiban Berhijab Dengan Maknanya yang Khusus
Diwajibkan kepada semua wanita muslimah untuk berhijab dengan hijab yang syar’i yang menutupi semua anggota badannya -termasuk di dalamnya wajah dan kedua telapak tangan- dan menutupi semua perhiasan yang dia pakai dari pandangan laki-laki lain. Kewajiban ini berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, berupa:
* Dalil dari al-Qur’an.
* Dalil dari as-Sunnah.
* Ijma’ amaliy dari wanita muslimah yang selalu memakai hijab sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai runtuhnya daulah islamiyah dan terpecah menjadi Negara-negara kecil di pertengahan abad ke-14 H.
* Dalil dari atsar yang shahih.
* Qiyas yang shahih.
* Kaidah “Mengambil manfaat dan mencegah kerusakan”
1. Dalil dari Al-Qur’an
Di antara ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang kewajiban hijab adalah:
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا * وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللهِ عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 53)
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 30-31)
وَالقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nuur: 60)
Berdasarkan dalil-dalil di atas dalam berhijab wanita muslimah hendaknya:
* Tetap tinggal di rumah, karena dengan hal tersebut seorang wanita akan terhindar dari pandangan kaum laki-laki dan terhindar dari ikhtilath (bercampur) dengan mereka.
* Memakai pakaian yang syar’i yang menutup anggota tubuhnya -termasuk di dalamnya wajah, kedua telapak tangan dan kedua kaki- dan menutupi perhiasan yang dipakai.
* Tidak melembutkan ucapan di hadapan laki-laki lain.
* Tidak bertabarruj.
* Jika ada laki-laki lain yang memiliki keperluan hendaknya mereka memintanya dari balik hijab.
* Menundukkan pandangan dari laki-laki lain.
* Tidak menampakkan perhiasan di hadapan laki-laki lain atau mengundang hasrat mereka dengan memukulkan kaki ke tanah agar terdengar perhiasan yang dipakainya.
2. Dalil Dari Sunnah
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ الرُّكْبَانُ يَمُرُّونَ بِنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُحْرِمَاتٌ فَإِذَا حَاذَوْا بِنَا سَدَلَتْ إِحْدَانَا جِلْبَابَهَا مِنْ رَأْسِهَا عَلَى وَجْهِهَا فَإِذَا جَاوَزُونَا كَشَفْنَاهُ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Dahulu orang-orang yang berkendaraan sering melewati kami di saat kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berihram. Jika mereka mendekati kami, maka salah seorang di antara kamipun langsung menurunkan jilbabnya dari kepalanya untuk menutup wajahnya dan jika mereka telah berlalu kamipun membukanya kembali.” (HR. Abu Daud no. 1562dan imam Ahmad no. 22894)
عن أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما قالت: كنا نغطي وجوهنا من الرجال، وكنا نمتشط قبل ذلك
Dari Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kami menutup wajah-wajah kami dari pandangan kaum lelaki dan kami menyisir rambut sebelum (melakukan ihram).” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2485 dan Al-hakim dan beliau berkata: Hadits ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim dan disepakati imam Adz-Dzahabi)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلَ لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Semoga Allah memberikan rahmat kepada wanita-wanita dari kaum muhajirin generasi pertama, ketika Allah menurunkan ayat: “dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” maka mereka langsung menyobek baju mantel mereka dan menggunakannya sebagai kain penutup badan mereka.” (HR Al-Bukhari no. 4387)
عن عَائِشَةَ قَالَتْ: لَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْفَجْرَ فَيَشْهَدُ مَعَهُ نِسَاءٌ مِنْ الْمُؤْمِنَاتِ مُتَلَفِّعَاتٍ فِي مُرُوطِهِنَّ ثُمَّ يَرْجِعْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ مَا يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Dahulu wanita-wanita muslimah ikut menghadiri shalat Subuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan tertutup oleh baju kurung mereka. Kemudian mereka kembali ke rumah mereka dan tidak ada seorangpun yang mengetahui mereka.” (Muttafaq ‘alaih)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
Dari Abdullah (ibnu Mas’ud) radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang wanita adalah aurat, maka apabila dia keluar setan akan selalu mengintainya. Dan keadaan dia yang paling dekat dengan rahmat Tuhannya adalah dengan tinggal di rumahnya.” (HR. At-Turmudzi no. 5093 dan dia berkata: Hadits ini hasan gharib)
-bersambung insya Allah-
http://www.facebook.com/notes/melati/wanita-antara-pembela-dan-pencela-1/186324924739224
Kisah Inspiratif bag:4 {Ketika Cinta- NYA,Tiada tertandingi}
Dialog Zanimra dan Raja
Abdullah dibangunkan oleh sebuah ketukan dipintu kamarnya, seorang pelayan masuk dengan seragam yang rapi dan sisiran rambut yang licin. Pelayan itu menyampaikan undangan Raja untuk sarapan di ruang makan pribadinya.
“Hmm, hanya aku sendiri?” Lalu Abdullah bergegas mempersiapkan dirinya. Dalam perjalanan menemui Raja, Abdullah menyempatkan diri untuk menengok keadaan Zanimra, tapi Abdullah tak menemukan Zanimra dikamarnya.
Raja menyambut Abdullah dengan secangkir teh sajian pagi yang masih hangat.
“Assalammualaikum Baginda.”
“Walaikum salam Abdullah, duduklah dan temani aku.”
“Terima kasih Baginda.” Setelah duduk, Abdullah dan Raja menyantap hidangannya. Setelah selesai Raja memulai pembicaraan tentang Zanimra.
“Baiklah Abdullah, aku telah lama mengenalmu, kau seperti ayahku sendiri. Kau laki-laki yang jujur dan adil. Ceritakan padaku tentang Zanimra dan apa pendapatmu.”
“Terima kasih atas kepercayaan Baginda. Bulan amatlah cantik dan bercahaya, semua orang yang memandangnya akan mengagumi dan memuji. Sedangkan matahari, tak satupun yang memandangnya atau memuji keindahannya, tapi cahaya bulan masihlah kalah dari cahaya matahari.” Raja tertegun mendengar perumpaan yang diajukan Abdullah.
“Jadi, Zanimra tak secantik Aelia, tapi cahayanya jauh lebih terang. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu memiliki penilaian demikian.”
Abdullah lalu menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju istana. Ketika Abdullah selesai dengan penuturannya Raja berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dengan gusar. Abdullah memahami reaksi rajanya. Kemudia Raja kembali duduk dan memandang tajam Abdullah.
“Apakah kebenaran yang kau katakan tadi hai Abdullah?”
“Demi Allah, begitulah adanya Baginda.”
“Masyaallah, tak mungkin usia gadis itu sama seperti Aelia!”
“Memang usia Zanimra tiga tahun lebih tua.”
“Tidak Abdullah, Zanimra seharusnya jauh lebih tua, bahkan mungkin lebih tua dari usiamu!” Abdullah tersenyum geli, ada rasa bersalah dalam hatinya karena Raja tampak gusar menyadari kelebihan Zanimra. Seperti dugaannya, Raja dengan mudah dapat menangkap kelebihan yang dimiliki Zanimra, cahaya yang tidak dimiliki Putri Aelia itulah yang membuat Ali merasa yakin akan keputusannya.
“Baiklah, dimanakah dia sekarang?”
“Maaf Baginda, pagi ini saya belum sempat menemui Zanimra.”
“Hem, perintahkan dia untuk bergabung bersamaku setelah makan siang untuk berkeliling kota.”
“Titah Baginda akan saya laksanakan.”
“Sekarang kau boleh pergi, terima kasih Abdullah, Assalammualaikum.”
“Terima kasih kembali, walaikum salam.” Abdullah bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Baginda mengerutkan dahinya, dia merasa takjub dengan penuturan Abdullah. Untuk seorang gadis seusia Zanimra jalan pikirannya sangatlah unik dan tak biasa. Yang paling membuat Raja heran adalah kepercayaan diri dan ketenangan Zanimra.
Tepat setelah makan siang Abdullah dan Zanimra menghadap Raja. Disana Raja dan Putri Aelia telah menunggu.
“ Assalammualaikum Zanimra, selamat datang di kerajaan kami.” Sambut Raja dengan ramah.
“Walaikum salam, saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas undangan Baginda.” Sahut Zanimra dengan senyum. Dari cara bicara Zanimra, Raja dapat menangkap ketenangan dan kepercayaan diri yang amat kuat.
“Bagaimana menurutmu tentang kerajaanku Zanimra?”
“Subhanallah. Seperti yang telah tersohor, kerajaan Baginda adalah kerajaan yang makmur dan kaya.”
“Dan bagaimana menurutmu istanaku?”
“Subhanallah, Allah menurunkan keindahan yang mengagumkan diistana ini.”
“Apa yang menurutmu paling indah di istana ini?”
“Sejauh yang dapat saya temui sepanjang hari ini, Putri Aelia adalah keindahan utama dunia yang Allah turunkan di istana ini.” Raja dan Putri Aelia terkejut mendengar jawaban yang tak terduga dari Zanimra.
“Mengapa demikian?”
“Karena belum pernah saya temui suatu keindahan dari ciptaan Allah yang lebih indah dari Putri Aelia.” Jawab Zanimra kembali dengan jujur tanpa ada kesan nada menjilat.
“Ah, jujurkah kau atau sekedar memujiku Zanimra?” Sahut Putri dengan senyum yang semakin membuatnya menyilaukan.
“Demi Allah, sesungguhnya saya memuji Allah atas kebesaran-Nya yang nampak padamu Putri. Maha Suci Allah yang MenciptakanMu.” Putri merasa malu mendengar jawaban Zanimra.
“Apa yang akan kau lakukan jika kau memiliki kecantikan seperti yang dimiliki adikku Zanimra?” Tanya Raja kemudian.
“Saya akan sangat takut.” Raja dan Putri kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Zanimra.
“Sungguh kau gadis yang aneh, dari seluruh gadis dimuka bumi mengharapkan kecantikan seperti Aelia, tapi kau malah sebaliknya. Katakan padaku alasanmu.” Pinta Raja kemudian.
“Saya takutkan, karena dengan kecantikan itu akan bertambah beban saya dalam perjuangan melawan tipu daya setan dan nafsu saya sendiri. Dengan kecantikan yang demikian, akan sulit bagi saya menghindar dari berbagai pujian. Dan sesungguhnya pujian adalah sangat jahat bagi jiwa, karena ia sungguh memabukkan dan dapat mengikis iman. Dari pujian pulalah tumbuh rasa kesombongan, dan sesungguhnya ‘kesombongan’ adalah sebab terkutuknya iblis hingga akhir jaman. Sungguh saya takutkan hal itu terlebih lagi segala pujian itu Hanya Milik Allah.”
Mendengar jawaban Zanimra, Raja tersenyum getir, ujarnya kemudian,
“Demi Allah, Hai Abdullah, sungguh aku melihat apa yang kau lihat dari gadis ini.” Putri memandang Zanimra dengan rasa semakin enggan.
“Baiklah Zanimra, kurasa Abdullah telah menyampaikan undanganku kepadamu untuk menemaniku berkeliling kota kerajaan.”
“Betul Baginda, terima kasih atas undangannya, saya merasa sangat terhormat.”
“Baiklah, mari kita berangkat sekarang.”
Akhirnya Raja beranjak dari singgasananya diikuti Abdullah, Zanimra dan beberapa petinggi kerajaan, sedangkan Putri tinggal di istana.
Selama perjalanan Raja terus memperhatikan tingkah laku Zanimra, seperti yang dikatakan Abdullah, Zanimra lebih banyak diam sepanjang perjalanan dan mimik wajahnya selalu berubah-ubah seperti layaknya seseorang yang sedang menikmati drama panggung. Raja seperti melihat dirinya sendiri pada Zanimra. Sama halnya dengan dirinya, bagi Zanimra setiap kejadian kecilpun yang dia temui dimanapun dirasakan sangat menarik baginya. Dari kejadian-kejadian kecil itu dapat diambil banyak pelajaran dan hikmah kehidupan. Hal inilah yang pertama kali diajarkan ayahnya pada Raja sebagai dasar kepemimpinan seorang Raja. Pada sore hari rombongan Raja kembali ke istana kecuali Abdullah, dia harus tinggal di kota untuk menyelesaikan beberapa urusan hingga malam. Setibanya di istana, dengan rasa penasaran Raja akhirnya bertanya pada Zanimra.
“Zanimra, selama perjalanan aku memperhatikanmu. Kulihat pikiranmu selalu sibuk dengan perubahan demi perubahan yang kulihat dari mimik wajahmu dan gerakan bibirmu yang terus menerus. Maukah kau ceritakan padaku mengapa kau demikian?”
“Pikiran saya terus sibuk karena mata saya tak henti-hentinya menangkap hal-hal yang menarik terjadi sepanjang perjalanan ini. Bibir saya selalu bergerak karena timbul oleh rasa tasbih kesyukuran atau istighfar ketakutan dari segala sesuatu yang saya lihat.”
“Sesungguhnya aku mengerti apa maksudmu karena Zanimra, yang sebenarnya ingin kuketahui, siapakah yang mengajarkanmu untuk berbuat demikian?”
“Saya mendapatkan hikmah tersebut dari Allah melalui kitab-Nya Al-Qur’an Baginda.”
“Sungguh Al-Qur’an telah mengajarkanmu suatu kebijakan.”
“Tidakkah Al Qur’an mengajarkan hal yang sama pada Baginda?” Baginda tertegun, dia menyadari bahwa sesungguhnya Raja jarang benar-benar membaca Al Qur’an. Kesibukannya dalam menjalani kerajaan membuatnya hampir tidak sempat untuk membaca kitabullah itu. Semua ilmu yang dia dapat dalam kepemimpinan dan kerajaan dia pelajari dari ayahnya dan petinggi negara serta pengalaman hidupnya.
“Sungguh aku malu padamu Zanimra, tapi ketahuilah kesibukanku sebagai raja seringkali menahanku darinya.”
“Masyaallah, sungguh dalam Al-Qur’an terdapat obat bagi semua penyakit dan petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
Q.S Al An’Aam : 155. Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan ini, penuh keberkatan, hebat kegunaannya. Karen itu ikutilah petunjuk Tuhan di dalamnya, dan bertaqwalah menjauhi larangan-Nya, semoga kamu diberi rahmat.”
“Tapi Zanimra, Al-Qur’an adalah sebuah kitab agama, apa yang bisa kutemui didalamnya tentang cara menjalankan suatu pemerintahan bernegara?”
“Sungguh Nabi Muhammad adalah pemimpin yang menyatukan seluruh tanah Arab dalam waktu yang sangat singkat dan Beliau adalah jendral perang yang luar biasa, pembimbing Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an. Qur’an bukanlah kitab yang mengatur hablum minallah (hubungan antara Tuhan dan manusia) saja, tapi juga mengatur hablum minan-naas (hubungan antar sesama manusia).”
“Zanimra, seperti yang kau lihat, walau bagaimanapun aku berhasil membawa kerajaan ini dalam kemakmuran. Apakah menurutmu yang kuperbuat belum cukup?”
“Saya akui kerajaan ini sangat makmur dengan kekayaan yang berlimpah, tapi apakah ini saja yang Baginda kejar?” Tanya Zanimra dengan sangat hati-hati. Baginda mengernyitkan alisnya,
“Apa maksudmu kemakmuran ini tidak cukup bagi rakyatku? Kerajaanku walau kecil adalah kerajaan kaya dan rakyatku hidup dalam kemakmuran.”
“Benar sekali, saya akui demikian adanya. Tapi seberapa kekalkah kehidupan dunia ini Baginda? Apakah terlupa dari ingatan, bahwa tujuan akhir manusia adalah negeri Akhirat? Manakah yang lebih baik, kehidupan dunia atau akhirat?” Baginda terhenyak dengan pertanyaan Zanimra. Zanimrapun melanjutkan,
“Kekayaan dan kemakmuran yang ada pada dunia ini pada saatnya akan ditinggalkan, lalu kepada siapakah kita akan dikembalikan? Sungguh apa yang Baginda raih saat ini hanyalah keberhasilan dunia yang bersifat sementara. Apakah hanya sampai sini akhir perjalanan Baginda?”
“Zanimra!” kecam Raja tiba-tiba. Dia terkejut dengan keberanian Zanimra dalam mengajukan pernyataan yang mempertanyakan kebijaksanaannya dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Maafkan saya jika saya menyinggung perasaan Baginda, saya hanya berbicara sebagai seorang hamba Allah. Kerajaan ini adalah kerajaan mayoritas perpenduduk Islam, tapi sangat disayangkan jika roda pemerintahan jauh dari Islam itu sendiri. Saya sungguh sedih, saya datang dari kerajaan Hindu, kebebasan kami dalam menjalankan ibadah beragama sangat terbatas, tapi alhamdulillah, kebanyakan muslim yang berada dinegeri saya jauh lebih mencerminkan ke-Islamannya daripada dikerajaan ini.”
“Zanimra, sungguh berani kau menyampaikan kritik tajam padaku. Tidak adakah sedikit rasa takutpun padamu terhadap Raja seperti aku ini?”
“Demi Allah saya menghormati Baginda sebagai seorang pemimpin, tapi hanya pada Allah sajalah seluruh makhluk itu harus takut, karena Allah adalah Raja dari segala raja.
Qur’an Surat Al Mu’minuun:116. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) `Arsy yang mulia.”
Kembali Raja tergagap, tak terbayang olehnya ada seorang gadis biasa yang begitu berani pada seorang Raja seperti dirinya.
“Dan bolehkah saya bertanya pada Baginda, takutkah Baginda kepada Allah?”
“Tentu saja aku takut!”
“Sesungguhnya seorang pemimpin seperti Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah di hari Perhitungan nanti. Apakah dalih Baginda jika Allah bertanya pada Baginda dengan apakah dan bagaimanakah Baginda memimpin rakyat? Mengapa rakyat yang Baginda pimpin jauh dari jalan Allah sedangkan mereka beragama Islam?” Mendengar pertanyaan Zanimra tubuh Raja bergetar hebat.
“Lihatlah disekeliling Baginda, para wanita dari rakyat baginda berjalan dengan setengah telanjang di hampir seluruh penjuru kota. Padahal kita tahu perintah dari Allah, dalam Surat An-Nuur:31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “
Para laki-laki memakai jubah sutra hingga menyapu tanah. Sungguh seperti inikah ajaran Islam? Memakai perhiasan emas hampir diseluruh bagian tubuh yang nampak,
Diriwayatkan daripada al-Bara’ bin Azib r.a katanya: Rasulullah s.a.w memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara … Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus” (Hadis sahih Bukhari-Muslim)
Tidakkah Baginda sadari, keadaan rakyat dan keluarga Baginda sangat sedikit sekali yang patuh pada perintah Allah dalam Al Qur’an maupun dalam hadis Rasulullah yang telah saya sebutkan. Astaghfirullah…Kebanyakan orang yang saya temui selama saya berada disini melanggarnya.”
Bibir Raja terkatup rapat. Bagai dihantam badai yang amat keras, saat itu jiwa baginda terombang-ambing amat keras. Pikirannya bergelut amat hebat, kata-kata Zanimra bagaikan sebuat hantaman dasyat yang membuatnya terbangun dari mimpi. Keterkejutannya membuat raja tak mampu menerima bahwa yang dikatakan Zanimra adalah benar,
“Sungguh kau gadis yang sangat berani Zanimra, tak tahukah kau berada dikerajaanku?”
“Saya lebih takut kepada Allah jika saya berdiam diri melihat seorang yang saya kagumi terbelenggu dalam keadaan lupa wahai Baginda.”
“Aku selalu meminta Abdullah pergi setiap kali dia mulai berbicara tentang hal ini, mengapa kau pikir aku mau mendengarkanmu?” Zanimra tersenyum sedih.
“Yang manakah teman yang baik bagi Baginda? Seorang teman yang mengingatkan Baginda atau seorang teman yang tak ambil perduli akan keselamatan Baginda dari kecelakaan yang sesungguhnya dan kekal?” Baginda terhenyak mendengar pertanyaan Zanimra tanpa bisa manjawab.
“Apa kau pikir aku ini sungguh celaka dan bukan Raja yang bijak.”
“Baginda adalah raja yang bijak, hanya saja baginda lupa… bahwa baginda adalah juga seorang hamba Allah dan Baginda pemimpin dari berjuta hamba Allah yang lainnya, renungkanlah peringatan penuh kasih dari Allah dalam Al-Qur’an;
Surat Yunus: (7) Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, (8) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.
Surat Ali Imran:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
“Baginda yang bijak, Anda lupa, bahwa akhirat adalah tujuan sesungguhnya dari manusia, dan sebagai Raja, kepemimpinan Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya. Saya sekedar mengingatkan, berhati-hatilah menanti datangnya panggilan Allah di hari kiamat nanti;
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t menggenggam bumi pada Hari Kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya kemudian berfirman: Akulah Raja! Di manakah raja-raja bumi?” (Sahih Bukhari-Muslim)
Surat An Nahl 93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
Raja menjadi amat gusar, sebagian hatinya mengakui kebenaran kalimat Zanimra, tapi sebagian hatinya merasa tersinggung.
“Hentikan pembicaraan ini Zanimra, ijinkanlah aku berpikir. Sejujurnya perkataanmu seperti menamparku dengan sangat keras. Berilah aku ruang untuk bernafas. Pergilah sekarang, hadirlah pada jamuan malam kerajaan nanti.”
“Terima kasih Baginda, maafkan saya telah merepotkan, insyaallah saya akan hadir dijamuan kerajaan malam nanti. Assalammualaikum.” Zanimra akhirnya meninggalkan Raja.
“Ah Abdullah, bukan saja gadis itu memporak-porandakan jiwa adikku, sekarang dia juga memporak-porandakan jiwaku!” gumamnya dengan galau pada diri sendiri. Selama hidupnya Raja berpikir bahwa dirinya telah menjadi Raja yang baik, karena keberhasilannya dalam membawa rakyatnya dalam kemakmuran duniawi. Urusan kenegaraan dan agama baginya adalah hal yang berbeda. Dia tidak pernah berpikir sebagaimana yang dituturkan Zanimra, baginya akhirat masihlah sekedar dongeng sebelum tidur yang tidak pernah dipikirkannya secara serius. Lisannya selalu berkata dia muslim dan takut kepada Allah, tapi kenyataannya dia sangat jauh dari Islam, sangat jauh dari Al Qur’an dan alpa akan keberadaan Allah.
Hatinya terpukau penuk kekeruhan, dia tak menyangka seorang gadis biasa dapat berkata dengan lantang tentang kesalahannya. Sunnguh gadis itu tak takut pada dirinya, tapi dia takut pada Tuhan-Nya.
Raja menggapai sebuah Al-Qur’an yang berdebu disudut meja kerjanya, dibukanya secara acak, matanya tertumbuk pada sebuah surat yang berbunyi,
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S Al An-‘Aam:32)
Tiba-tiba dadanya menjadi berat, hatinya berkecamuk antara pengakuan diri dengan kesombongannya sebagai Raja, ia masih tidak rela menerima bahwa gadis biasa yang lebih muda itu benar perkataannya. Akhirnya Raja menenggelamkan diri pada badai dihatinya yang tiba-tiba berkecamuk.
Selendang Kebesaran Raja
Makan malampun tiba, semua tamu undangan dan petinggi negara telah hadir dan duduk dimejanya masing-masing. Mereka serentak berdiri menghormati kehadiran Raja, Permaisuri dan Putri Aelia. Setelah ketiga orang utama tersebut duduk, yang lainnyapun kembali duduk. Raja menyapu ruangan dengan seksama, dia terhenyak ketika mendapati sebuah kursi masih kosong.
“Siapakah yang belum hadir disini?” Tanya Raja lantang. Para tamu dan petinggi kerajaan saling berbisik dan melihat ke kanan kiri mereka. Lalu Putri Aleia berbisik pada Raja,
“Zanimra yang belum hadir.” Raja sangat gusar dibuatnya.
“Pelayan, cepat cari gadis itu dan bawa dia kemari!” Titah Raja kemudian, dia merasa terhina dengan kejadian itu.
Tak lama kemudian Zanimra muncul dengan langkah yang cepat. Serta merta seluruh pandangan tertuju tajam padanya. Zanimra berhenti disebelah kursinya, lalu dengan sangat tenang dia berkata,
“Beribu maaf atas keterlambatan saya Baginda.”
“Apa alasan dari keterlambatanmu ini Zanimra?”
“Sekali lagi saya minta maaf, sewaktu saya sedang bersiap untuk hadir disini, saya mendengar adzan tanda waktu shalat tiba, maka dari itu saya shalat terlebih dahulu.”
“Tidak tahukah bahwa dirimu telah menghinaku, dengan menghinaku kau juga menghina seluruh kerajaan ini?”
“Sungguh bukan maksud saya berbuat demikian.”
“Zanimra, bukankah kau tahu bahwa shalat terakhir (Isha) sangat panjang waktunya? Mengapa tidak kau tangguhkan dulu, tidakkah kau menghormati undanganku ini?”
“Demi Allah, bukan maksud saya menghina Paduka, tapi…”
“Zanimra? Ketahuialah, terlambat dari undangan makan seorang Raja berarti telah mengina Raja dan seluruh rakyatnya!”
“Astaghfirullah, sekali lagi saya minta maaf dan Demi Allah saya tidak bermaksud menghina siapapun. Jika Baginda masih murka juga, maafkan jika saya bertanya, Masya Allah, apakah Baginda menganggap diri Baginda lebih tinggi dari pada Allah?”
Serta merta seluruh ruangan riuh rendah mendengar pertanyaan Zanimra yang sangat berani. Tak urung Raja membelalakkan matanya, begitupun Putri Aleia dan Permaisuri.
“Zanimra! Apa maksud dari perkataanmu itu?!!” Tanya Raja dengan nada meninggi. Zanimra memandang tepat kearah Raja lalu berkata dengan merendahkan suaranya tanpa rasa takut.
“Maaf Baginda, saya mendengar dua panggilan secara bersamaan, yang satu datang dari seorang pemimpin yang saya hormati, dan yang satu lagi datang dari Tuhan yang saya takuti. Jika saya memilih untuk memenuhi panggilan dari Baginda, maka sama saja saya meletakkan keberadaan Baginda diatas Allah.”
“Astagfirullah!!!” Teriak Raja kemudian. Tubuhnya menggigil karena rasa terkejut yang hebat. Serta merta keadaan menjadi riuh rendah, para petinggi kerajaan sangat terkejut dengan keberanian tamu undangan Raja tersebut.
“Berani sekali kau terhadap Raja!” Teriak beberapa orang petinggi kemudian dengan geram. Suasanapun menjadi riuh rendah dengan ucapan keheranan.
Ditengah suasana yang kritis itu masuklah Abdullah bersamaan dengan Ali. Mereka tertegun melihat keadaan ruangan yang sedemikian rupa, terlebih lagi ketika melihat sosok Zanimra yang masih berdiri dan Raja yang juga berdiri dengan tatapan tajam kearah Zanimra.
“Kau benar-benar tidak menghormati Raja! Bersyukurlah jika Raja tidak menghukummu!” Teriak seorang petinggi lagi. Abdullah dan Ali yang mendengar teriakan itu menjadi panik.
“Diamlah kalian!” Teriak Raja kemudian menggelegar keseluruh ruangan, serta merta seluruh ruangan menjadi sunyi. Raja menatap Zanimra dalam-dalam, tak ada rasa takut atau gusar sedikitpun terpancar dimata Zanimra.
“Baiklah Zanimra.” Lanjut Raja kemudian,
“Sekarang apa usulmu? Apakah sebaiknya sekarang sebaiknya kami semua meninggalkan meja makan ini dan shalat terlebih dahulu?”
“Tidak, Baginda.” Keadaan menjadi riuh rendah kembali mendengar jawaban ‘tidak’ dari Zanimra.
“Bukankah kita harus mendahulukan shalat diatas apapun?”
“Sungguh Baginda, Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah juga Maha Bijaksana.
“Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila makanan dihidangkan kepada kamu sedangkan sembahyang hendak didirikan, maka hendaklah kamu makan terlebih dahulu. Janganlah kamu terburu-buru hinggalah kamu selesai makan.” (Sahih Bukhari-Muslim)
Saya melaksanakan shalat terlebih dahulu karena saya jauh dari meja ini sehingga saya belum melihat hidangan ini tersaji. Sedangkan Baginda dan yang lain telah berada disini, maka sebaiknyalah Baginda makan terlebih dahulu.”
“Mengapa demikian? Apa alasannya?”
“KarenaAllah ingin hambanya menghadap dengan sepenuh hati tanpa memikirkan makanan yang telah terhidang dimeja atau merasakan perut yang terus menggoda.”
“Siapakah diantara kalian yang tahu akan hadis dan ketentuan ini?” tanya Baginda kemudian kepada semua yang hadir. Dari 70 orang yang ada hanya sembilan belas orang yang mengangkat tangannya termasuk Ali dan Abdullah. Pada saat itu kehadiran Abdullah dan Ali baru sisadari. Mata Putri Aelia langsung tertumbuk pada Ali, hatinya kecut ketika dilihatnya Ali tengah memandang Zanimra sambil tersenyum.
Raja masih tetap berdiri mematung, tiba-tiba air mata meleleh membasahi pipinya. Pemandangan itu sangat mengejutkan seluruh penghuni ruangan. Dia menyadari betapa dia telah membiarkan diri dan rakyatnya begitu jauh dari Islam, dari 70 orang petinggi yang hadir, tidak ada setengahnya yang mengetahui akan kesalahan mereka, dan meskipun mereka tahu, mereka tetap melanggarnya karena lebih takut kepada dirinya daripada kepada Allah.
“Hai Zanimra, sungguh apa yang kau katakan sore tadi dan malam ini adalah benar adanya. Demi Allah aku bertobat!” Katanya kemudian dengan gemetar.
“Makanlah kalian semua, setelah itu adakan shalat Isha berjama’ah.”
Akhirnya makan malam berlangsung dengan sangat sunyi karena Raja nampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya terus tertunduk lesu.
Setelah shalat Raja mengumpulkan semua orang di Balai Kerajaan lalu memperkenalkan Zanimra sebagai tamu undangannya.
“Wahai orang-orang kepercayaanku, sesungguhnya Zanimra ini adalah cahaya matahari yang singgah dikerajaan ini untuk membagikan cahayanya. Hormatilah dia sebagai tamu istimewa dan kasihilah dia sebagai salah satu anggota keluarga besar kerajaan ini.” Lalu baginda menyampirkan selendang kebesarannya pada Zanimra sebagai tanda penghormatan dan pengakuan Raja. Selendang kebesaran Raja adalah pengakuan kerajaan bagi Zanimra sebagai salah seorang anggota keluarga kerajaan. Melihat hal itu Abdullah dan Ali saling memandang, keduanya mengucap syukur dan pujian kepada Allah tak henti-henti. Dengan demikian Raja telah mengakui keberadaan Zanimra dan merestui hubungannya dengan Ali.
Dilain pihak Putri Aelia menggigil hebat menahan gejolak yang berkecamuk di dalam jiwanya. Raja menyadari hal itu, lalu dengan perlahan dia mengisyaratkan Permaisurinya untuk membawa Putri Aleia keruangan lain.
“Zanimra, selamat bergabung sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan, kedudukanmu di kerjaan ini adalah setaraf dengan bangsawan tertinggi.”
“Alhamdulillah, subhanallah…segala puji bagi Allah. Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan kepadamu Baginda.”
“Ali, Abdullah dan Zanimra. Ikutlah denganku.” Lalu Raja meninggalkan singgasananya menuju ruangan tempat Putri Aelia dan Permaisurinya berada.
Disana Putri Aelia tengah menyembunyikan wajahnya dipelukan Permaisuri. Menyadari kedatangan Raja dia melepaskan diri dari pelukan Permaisuri dan berdiri dengan tegar, tampak sekali dari wajahnya, Putri Aelia berusaha sekuat tenaga membendung air matanya. Harga diri sebagai seorang Putri masih dia pertahankan hingga saat-saat terakhir. Tapi Raja sangat mengenal adiknya. Ia mendekati adiknya lalu membelai kepalanya dengan lembut.
“Adikku Aelia. Maafkan Aku.” Bisik Raja kemudian.
“Percayakah kau bahwa Aku akan menyakitimu?” tanyanya lagi pada adiknya yang dijawab gelengan lemah oleh Putri Aelia.
“Apakah menurutmu keputusanku ini keji dan tidak adil bagimu?” Lagi-lagi Putri Aelia menggeleng.
“Relakah kau menerima keputusanku?” Kali ini Putri mengangguk
“Aku tahu dari tatapan matamu bahwa sejak kedatanganmu bersama dengan Zanimra, kau telah mengakui kekalahanmu. Hanya saja kau tak mau menerimanya. Saat ini akupun tak berdaya untuk menolak kenyataan bahwa Zanimra dengan telak telah melumpuhkan aku didepan rakyatku sendiri. Aku harus mengakui bahwa Ali memiliki alasan yang kuat dan Zanimra telah membuktikan dirinya.”
“Sudahlah Kak, aku mengerti.” Kata Putri dengan lemah, lalu dia memandang nanar kearah Ali dan Zanimra.
“Kuucapkan selamat bagi kalian berdua. Maafkan aku yang selama ini menyusahkan kalian.” Kata putri dengan nada datar dan pandangan yang dingin. Dengan langkah pasti dia berbalik. Ali menundukkan kepalanya, Zanimra lalu membisikan sesuatu pada Ali.
“Ada sesuatu yang ingin kau katakan Zanimra?” Tanya Baginda ketika melihatnya.
“Maaf, Baginda. Jangan berburuk sangka dahulu. Jika diijinkan, saya ingin menyusul Putri Aelia untuk berbicara padanya.”
“Apakah kau pikir itu bijak? Sedangkan karenamulah dia hancur. “Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan membuat adikku itu lebih hancur?”
“Tidak Baginda.”
“Lalu? Kau akan merelakan Ali padanya?”
“Tidak juga.”
“Mengapa? Karena kau takut kau yang akan hancur?”
“Bukan karena itu Baginda.”
“Jelaskan padaku.”
“Karena bukan saya ataupun Ali yang membuat Putri hancur, tapi rasa cintanya itulah yang membuat dia demikian. Meskipun Putri mendapatkan Ali, rasa cintanya tetap akan membakarnya dalam derita.”
“Apa dalihmu tentang itu?”
“Pernahkan Baginda mendengar pepatah atau syair-syair masyur tentang cinta?”
“Katakan padaku.”
“Cinta, tawanya sehari tangisnya seribu tahun.”
“Banyak manusia setuju bahwa cinta itu memang begitu adanya, Cinta butuh pengorbanan dan penuh penderitaan. Dan masih banyak pepatah lain yang melukiskan kepedihan cinta.”
“Ya, aku mengerti. Lalu?”
“Sesungguhnya anggapan kebanyakan manusia itulah yang telah menyesatkan arti dari cinta hakiki yang sesungguhnya. Cinta menjadi bumerang karena manusia sangat salah menilai tentang cinta. Cinta bagi kebanyakan manusia bukan lagi sekedar perasaan hati, tapi sudah menjadi tuhan yang menguasai tubuh dan jiwa, hidup dan mati mereka. Kecelakaan apakah yang lebih besar daripada menuhankan yang lain selain Allah?”
Raja untuk kesekian kalinya dibuat diam oleh Zanimra.
“Ijinkanlah Zanimra berbicara dengan Putri Aelia, Baginda.” Pinta Ali dan Abdullah hampir berbarengan. Akhirnya Rajapun menganggukan kepalanya dan Zanimrapun melangkah pergi
“Zanimra…” Panggilan raja yang tiba-tiba menghentikan langkah Zanimra.
”Terima Kasih.” Lanjut Raja. Zanimra menganggukan kepala lalu bergegas pergi.
Sebaiknya kita kembali ke Balai Kerajaan, tamu yang lain masih menunggu.” Ujar Raja sambil melangkah. Ali dan Abdullah mengikuti dibelakangnya.
Cinta Yang Hakiki
Dari salah seorang dayang Zanimra mengetahui bahwa Putri pergi ke danau dibelakang istana. Sesampai disana Zanimra menemukan Putri Aelia sedang duduk dengan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam disela lututnya. Cahaya lentera membias redup disepanjang tepian danau, kunang-kunang terbang berkeliling dengan indahnya. Tapi keindahan itu tak dapat mengalahkan kecantikan putri yang tengah kalut hatinya.
“Assalammualaikum.” Salam Zanimra dengan hati-hati. Putri Aelia tersentak dan melihat kearah Zanimra dengan sangat tajam. Tampak pipinya yang putih mulus basah degan air mata.
“Apa tujuanmu kemari? Ingin melihatku menangis? Atau ingin mengejek kekalahanku?” Tanyanya ketus.
“Apakah seburuk itu tabiat saya dimata Putri?”
“Tidak perlu bersopan santun saat ini, aku sungguh muak.”
“Baiklah, maafkan aku.” Putri tidak menjawab, dia hanya membuang muka.
“Putri, aku tahu kau marah dan benci padaku. Maka dari itu aku datang kemari untuk kau caci dan kau maki agar lega hatimu.”
“Apa kau juga ingin aku membunuhmu?” sahut Putri Aelia semakin ketus.
“Apa kau ingin melakukannya?”
“Tidak, Aku lebih ingin membunuh diriku sendiri.”
“Astaghfirullah…” bisik Zanimra pelan mendengar keputus asa-an Putri.
“Putri, pukulah aku jika itu bisa meringankan bebanmu.”
“Zanimra! Mengapa kau seperti ini? Dari pertama kali aku bertemu denganmu sebenarnya aku telah menyadari aku telah kalah, semakin hari aku bersamamupun aku semakin tahu dirimu dan apa yang kuketahui malah membuatku kagum padamu!
Ya! Aku membencimu karena kau sungguh beruntung! Aku membencimu karena kau lebih dari aku!”
“Putri…aku mengerti akan perasaanmu…” Tiba-tiba Putri Aelia memotong perkataan Zanimra dengan nada yang amat tinggi.
“Jangan kau mengatakan padaku bahwa kau mengerti akan perasaanku! Tahu apa dirimu tentang hancurnya hatiku?”
“Sesungguhnya aku tidak selalu seperti sekarang ini. Hanya karena Kasih Allah-lah aku bisa kembali untuk menyembah Allah. Lembaran kehidupanku memiliki coretan-coretan hitamnya sendiri. Kehilangan demi kehilangan aku rasakan beberapa kali. Kehancuran dan kegelapan kuhadapi dengan amarah dan kebencian. Jadi, aku memang tahu akan apa yang kau rasakan karena aku pernah sepertimu sekarang ini.”
“Aku memang tak seberuntung dirimu! Bahagiakah kau sekarang karena membuatku begitu iri padamu?”
“Sesungguhnya Putri tidak perlu iri, tidakkah putri menyadari bahwa yang ada padaku sebenarnya dapat diraih oleh semua orang, sedangkan kelebihan yang ada pada dirimu hanya dirimulah yang dapat meraihnya?”
“Apa maksudmu?”
“Apa yang kumiliki dapat juga kau miliki, tapi kelebihan yang kau miliki tak akan pernah dapat aku raih selama hidupku didunia ini. Sesungguhnya kau tak perlu mengeluh karena Allah Maha Adil.”
“Benarkah Allah Maha Adil? Dimanakah keadilan yang kau lihat itu?”
“Putri, kau bisa menjadi aku yang sekarang ini. Merubah jalan pikiran, merubah tingkah laku dapat dilakukan semua orang jika mereka benar-benar berusaha. Tapi, apakah orang bisa merubah dirinya menjadi secantik dirimu?”
“Jika kecantikan yang kumiliki ini dapat kugadaikan demi mendapatkan Ali, maka aku akan senang melepaskannya!”
“Jikapun kau menggadaikan kecantikanmu dan mendapatkan Ali, kau tetap tak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
“Bagaimana tidak? Jika hidupku adalah Ali?”
“Karena Ali yang akan kau dapatkan bukanlah Ali yang sekarang ini kau kenal.”
“Dengan kata lain kau berkata bahwa Ali tak akan pernah mencintaiku walaupun telah kugadai kecantikanku?”
“Putri, walaupun wajah dan tubuhku dapat menghibur hati Ali, tapi bukanlan wajah atau tubuhku yang membuat Ali mencintaiku.”
“Sungguh lidahmu licin seperti Ali, tutur katamupun tak ubahnya seperti tutur katanya. Berbaik hatilah padaku Zanimra, katakan kepadaku apa yang membuat Ali mencintaimu?”
“Yang membuat Ali mencintaiku adalah karena caraku mencintainya.”
“Bagaimana caramu mencintainya hai Zanimra?”
“Aku mencintainya karena Ali mencintai Allah.”
“Allah….Allah…selalu itu yang terucap dibibirmu dan Ali, sebegitu besarkah cinta kalian pada-Nya, bagaimana jika Allah memisahkan kalian berdua, apakah kau masih mencintai Allah?”
“Ya,”
“Mengapa?”
“Karena kami percaya apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hambanya.”
“Mengapa kau sepasrah itu?”
“Karena Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana.”
“Zanimra, jika kau mencintai Ali, tidakkah kau akan merasa sakit jika Allah mengambil Ali darimu?”
“Tentu.”
“Lalu kau masih berpikir Allah mencintaimu?”
“Ya.”
“Mengapa? Bukankah Allah telah membuat hatimu sakit?”
“Karena aku masih memiliki cinta kepada Allah. Dengan mengingat Allah maka jiwaku merasa tenang.”
“Sungguh kau dusta! Kau tak mengerti cinta! Kau tak mencintai Ali sebesar aku mencintainya! Dan mengapa Ali masih memilihmu?!” Teriak Putri Aelia dengan geram.
Zanimra tertegun sedih karena merasa kasihan pada Putri Aelia yang sedemikian marahnya sehingga buta akan kebenaran. Dengan lembut Zanimra menjawab.
“Tidakkah kau bisa mengambil kesimpulan wahai Putri yang cerdas, cinta yang terjalin diantara kami dikarenakan kecintaan kami kepada Allah. Cinta kami kepada Allah diatas cinta kami kepada apapun atau siapapun, bahkan diatas cinta kami berdua.” Zanimra menarik nafas lalu melanjutkan,
“Cinta dunia bukanlah yang kami kejar, kami merasa cukup dan tenang dengan keduniaan yang kami dapatkan, karena Allah telah menetapkan takarannya sedari mula kita diciptakan. Akan tetapi kami tak akan pernah merasa cukup dengan rasa rindu dan cinta kami kepada Allah dan hari kemudian. Kami berdua memiliki tujuan yang sama dalam hidup, untuk bersama berjuang dijalan Allah dan menjadi hambaNya.”
“Apapun yang aku lakukan didunia ini hanya karena Allah, aku mencintai Alipun juga karena Allah. Jika Allah mengambil Ali, maka aku percaya itu yang terbaik bagi diriku. Aku mencintai Allah bukan karena Ali, tapi aku mencintai Ali karena Allah.”
“Sungguh jika benar demikian, cintamu pada Ali palsu! Dan ketetapan Allah itu kejam dan keji!”
“Astaghfirullah………” Mata Zanimra berkaca mendengar kalimat Putri. Kesedihannya bertambah melihat syaitan semakin menguasai hati rapuh Putri Aelia.
“Sungguh Putri, Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
“Jika memang demikian. Mengapa Allah memberikan aku begitu banyak derita padahal aku selalu berbuat baik pada sesama.”
“Karena cinta yang kau kenal adalah salah.”
“Apa maksudmu?”
“Putriku yang bijak, kekalkah diri kita ini?”
“Tidak.”
“Kekallah kecantikanmu hingga akhir jaman?”
“Tidak.”
“Kekalkah Ali?”
“Tidak.”
“Tidakkah kau mengerti juga? Apapun yang kita dapati didunia ini tidaklah kekal dan memiliki akhir. Hanya Allah yang Maha Pengasihlah yang Kekal, maka dari itu Allah Maha Mengetahui dan Mengerti akan ciptaan-Nya. Masihkah kau tak mengerti?”
“Zanimra, jangan cemooh kecerdasanku. Aku telah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang amat aku cintai berulang kali, ayahku, bundaku, dan kini Ali. Mengapa Allah mempertemukan aku dengan Ali jika aku tak bisa memilikinya. Tidak perdulika Allah jika hal itu akan menghancurkan jiwaku? Bagaimana aku bisa percaya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Mengerti akan ciptaan-Nya jika kepedihan hatiku ini tak tertahankan dan terjadi berulang-ulang?”
“Sesungguhnya Engkau telah menjawab pertanyaanmu sendiri duhai Putri yang Cantik.” Putri Aelia terhenyak lalu menatap Zanimra dengan tajam.
“Apa maksudmu?”
“Putri, Kau merasakan pilu dan sakit yang sangat dalam karena kehilangan mereka yang kau cintai, sekarang aku bertanya padamu.” Zanimra merapatkan dirinya lalu memegang lembut wajah Putri Aelia dan berkata lirih penuh kesungguhan.
“Apakah Engkau akan merasakan sakit jika yang kau cintai itu KEKAL?”
“Tidak.”
“Adakah makhluk atau benda dibumi ini yang kekal?”
“Tidak…” Putri Aelia terperangah dengan jawabannya sendiri, kemarahan diwajahnya tiba-tiba pecah dan luruh. Mata yang semula penuh kebencian dan kekecewaan kini berkaca-kaca. Pertanyaan Zanimra seperti tamparan yang membuatnya tersadar dari mimpi buruk yang panjang.
“Dan siapakah yang kekal dan tak akan meninggalkanmu?”
Bibir Putri bergetar tak mampu menjawab pertanyaan Zanimra, dengan lembut Zanimra berbisik,
“Laa illaa haillallaah.” Lalu ia melanjutkan,
“Apakah kejam dan keji jika Allah memintamu untuk mencintai Dirinya Yang Maha KEKAL?”
“T…i…dak…” Jawab Putri Aelia semakin melambat, airmatanya yang menggenang dipipinya bergulir membasahi pipinya yang putih dengan derasnya. Zanimra semakin melembutkan suaranya melanjutkan pertanyaannya.
“Mengapa wahai Putri yang bijak?”
Tangis Putri pecah hingga tubuhnya bergetar hebat,
“Duhai Zanimra, karena Allah ingin Menjagaku dari rasa sakit yang amat sangat seperti yang telah dan tengah kurasakan ini.” Jawab Putri Aelia dengan terbata disela isak tangisnya.
“Alhamdulillah….subhanallah…tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.
Q.S. Al Baqarah : 165. Dan diantara manusia itu ada yang mempertuhankan sesuatu yang lain daripada Allah sebagai tuhan-tandingan; dicintainya seperti mencintai Allah. Orang yang beriman hanya mencintai Allah semata…”
Zanimra bertasbih penuh rasa syukur akan kebersaran Allah tuhan semesta alam.
“Duhai Zanimra, aku telah hidup dalam kesesatan yang nyata dengan mata buta dan telinga yang tuli.” Tangisnya semakin menjadi, Putri Aelia menjatuhkan dirinya pada pelukan Zanimra.
“Sungguh Cinta Hakiki hanyalah pada Allah semata. Kasihilah manusia karena Allah, maka hidupmu akan tenang.”
Setelah tangisnya sedikit reda, Putri Aelia berkata lirih,
“Sungguh sekarang aku mengerti mengapa Ali mencintaimu, karena Ali percaya kau akan menjaga cintanya kepada Allah.”
“Dan begitupun sebaliknya Putri, aku mencintai Ali karena dia akan menjadi pemimpin yang baik bagiku untuk menuju cinta Allah.”
“Zanimra…bernjanjilah padaku satu hal.”
“Jika aku bisa. Insyaallah”
“Ajari aku bagaimana mencintai Allah dan panggilah aku adik karena begitu ingin aku mengikat tali persaudaraan denganmu.”
“Insyaallah, aku sendiripun sedang belajar unutk mencintai Allah, duhai Putri,”
“Katakan padaku, apa yang pertama kali harus kulakukan untuk menunjukan rasa cintaku kepada Allah.” Zanimra tersenyum penuh haru, ditariknya selendang yang tersampir dibahu putri. Dengan halus Zanimra menutup rambut dan pundak putri hingga nampak wajahnya yang putri saja dari balik selandang itu.
“Kepatuhan akan Perintah-Nya adalah tanda cinta kita pada Allah.”
“Sungguh ajaib cinta kepada Allah wahai Zanimra, seluruh badai dalam jiwaku luruh berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan yang nyata dalam sekejap. Sekarang aku mengerti mengapa kau selalu terlihat tenang.” Putri Aelia menggengam erat tangan Zanimra lalu menariknya setengah berlari menuju balai kerajaan.
Setibanya disana, berpuluh mata tertuju pada dua sosok wanita itu. Seluruh penghuni ruangan amat terkejut melihat penampilan baru Putri Aelia dengan kerudungnya. Kulitnya tubuh yang putih bersinar kini penuh tertutup, rambutnya yang panjang dan hitam legampun tersembunyi dibalik kerudung putihnya. Sedangkan disudut lain, Abdullah dan Ali tersenyum penuh haru. Sedangkan Raja tertegun keheranan seperti yang lain, melihat perubahan Putri Aelia yang begitu cepat.
Dengan tenang dan anggunnya Putri Aelia melangkah mendekati singgasana Raja.
“Wahai Aelia adikku, sungguh sekarang kau mengejutkan aku. Apa yang terjadi padamu?”
“Duhai kakakku Raja dari negri ini, aku mendapat cahaya matahari ditengah malamku yang gelap dan penuh badai.”
“Dan bagaimanakah keadaanmu saat ini?”
“Terang dan damai dengan sirnanya kegalapan dari jiwaku.”
“Sungguh, cahaya matahari yang bagaimanakah yang kau telah dapatkan?”
“Cahaya Cinta yang Hakiki.”
“Cinta Hakiki?” Tanya Raja penasaran,
“Cinta yang sama yang dimiliki Zanimra.”
“Maksudmu Ali?” Raja tampak agak terkejut,
“Bukan.” Jawab Putri Aelia mantap,
“Bukankah cinta yang dimiliki Zanimra adalah Ali?”
“Benar duhai Kakakku Raja dari negri ini, tapi yang kudapati adalah cinta diatas cinta Zanimra pada Ali.”
“Dan siapakah itu?” Raja tertegun.
“Cinta kepada Allah.” Jawab putri dengan rasa haru, Raja tersenyum bahagia dan bertasbih penuh syukur.
“Terima kasih kuucapkan padamu Zanimra, sungguh akupun merasa malu padamu dan Ali. Kecintaan kalian pada Allah menyadarkan aku betapa selama ini aku memimpin negriku dengan kecintaan pada dunia semata. Jikalah Allah bukan Tuhan Yang Maha Pengasih, tak akan didatangkan Ali dan dirimu untuk membuka mataku.”
“Kerajaan ini adalah kerajaan Islam, tapi penduduknya kebanyakan melupakan Tuhannya. Sungguh celaka diriku dihari akhir nanti jika aku masih memimpin kerajaanku seperti sekarang ini. Allah akan menghukumku dengan sangat pedih karena kesombonganku dan kelalaianku sebagai seorang pemimpin.”
Raja kemudian memanggil Ali.
“Ali abdul Jabbar bin Abdullah, menghadaplah kepadaku.”
Alipun keluar dari sela-sela kerumunan petinggi kerajaan.
“Apakah Kau dengar dengan jelas apa yang kukatakan barusan Ali?”
“Ya! Baginda, dan saya berterima kasih atas pujian Baginda, Alhamdulillah.”
“Apakah kau setuju dengan yang kukatakan?”
“Ya, saya setuju Baginda.”
“Kalau begitu, bersediakah kau membantuku menata kembali kerajaan ini di jalan Allah?”
“Insyaallah, sebagai seorang muslim saya berkewajiban kepada tanah air, saya bersedia.”
“Baiklah, sebagai pemimpin kerajaan ini kuperintahkan dirimu tinggal di istana sebagai Penasihat Utamaku.” Lalu raja mengalihkan pandangannya pada Zanimra,
“Zanimra.”
“Saya Baginda.”
“Sungguh kau adalah satu-satunya wanita yang berani menentangku di atas meja makanku sendiri. Kukagumi keberanianmu dan kukagumi kecerdasanmu. Entah apa yang kau lakukan sehingga dalam sekejap adikku tak mau melepaskan tangannya darimu. Begitu cepat kau rubah kebencian dengan kecintaan.”
“Segala Puji hanya bagi Allah. Sungguh Allah-lah yang Maha Kuasa dalam menentukan perubahan, saya hanyalah seorang hamba yang hina dari-Nya. Atas Kasih dan Kuasa Allah sajalah Putri menemukan kebahagiaan pada cintanya yang hakiki.”
“Sungguh kau telah mengajarkan aku apa itu kesombongan Zanimra! Dan aku sungguh hamba yang celaka karena kesombonganku kepada Allah. Kupikir selama ini aku Raja yang bijak, tapi ternyata pujian rakyat dan kerajaan tetanggaku membuat aku lupa bahwa aku ini hanyalah seorang hamba yang hina dari Tuhan-Nya.” Mata Raja berkaca-kaca, dengan lembutnya terdengar suara Ali melantunkan ayat-ayat dari Al-Qur’an, Al Hadid : 20-23;
20. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
21. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu (sukses yang telah kamu capai). Dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”
“Astagfirullah……” tiba-tiba Raja tersungkur dan bersujud dilantai sambil menangis. Serentak seluruh penghuni ruangan hingar bingar penuh keterkejutan. Ali, Abdullah dan Zanimra ikut bersujud diikuti oleh Putri Aelia yang kembali menangis. Satu demi satu bangsawan yang hadir menundukan dirinya. Rasa hormat dan rakyat pada Raja sangatlah besar karena kebaikan budinya dan kebijaksanaannya selama ini, mereka merasa takjub melihat junjungannya tersungkur mencium tanah dengan tubuh gemetar ketakutan. Perasaan Raja terbias menembus nurani pengikutnya, satu demi satu merekapun turut menjatuhkan diri kelantai dan bersujud.
Pada hari itu, nama Allah diagungkan dan pada hari itulah kerajaan Andimarsedonia diberkahi. Raja merayakan pernikahan Ali sebagai hadiah bagi Ali dan Zanimra. Zanimra diangkat sebagai Penasihat umum kaum wanita kerajaan. Semenjak hari itu kerajaan Andimarsedonia menjalankan roda pemerintahan dibawah panji bendera Islam secara menyeluruh. Pembimbingan akhlak diutamakan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sungguh Cinta yang Hakiki dan kekal kebahagiaannya hanyalah cinta kepada Allah semata. Allahuakbar.
Sahabat fillah,,,
selesailah cerita di atas, begitu panjang, penuh makna penuh motifasi
betapa cerita di atas mulai dari wal awal hingga akhir adalah pelajaran tentang mentauhid kan ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA,,
betapa hati ini bergetar kala awal2 membaca kisah tersebut
Subhanallah walhamdulillah wala ilaa haillah allahu akbar
Laa haulaa walaa quwwata illahbillahil 'aliyyi 'adzim,,
Ya ALLAH,, lindungilah kami dari fitnah dunia yang kadang melalikan hati kami mengingat MU,,
condong kan hati ini hanya kepada MU..
Penuhi cinta hati ini hanya terhadap MU,
tempat kan rasa cinta kami dalam keridhaan MU
YA ALLAH,,lindungi kami para wanita dalam perantauan,,
semoga kami tetap teguh memegang kokoh hijab kami karena MU
Ya ALLAH ,,tiada daya kekuatan selain kepunyaan MU
kami berlindung pada MU,, dari segala godaan syaithan yang akan senantiasa menjauhkan kami dari MU,,
amien Ya Rabb,,
http://www.facebook.com/notes/melati/kisah-inspiratif-bag4-ketika-cinta-nyatiada-tertandingi/187209014650815
Langganan:
Postingan (Atom)
