Cinta, suka di awal namun duka di akhir. Mungkin itulah yang aku rasakan
saat mengalaminya dulu. Berawal dari cinta palsu yang dihembuskan setan padaku
hingga berakhir hampir dengan kemurtadan. Sebuah tipu daya setan yang sangat
halus. Tapi untunglah Allah menolong dan menyelamatkan aku, walau dengan cara
yang menyakitkan, tapi aku sadar itulah yang terbaik untukku.
Pertemuan kami bermula saat perjalananku ke sebuah toko buku ternama untuk
mencari buku materi ujian adikku. Tak kusangka, di situ aku bertemu dengan
seorang gadis muda yang cantik dan mempesona. Nike, namanya. Seorang mahasiswi
tingkat akhir program diploma sebuah universitas negeri yang menyambi kerja
sebagai pramuniaga di toko buku tersebut.
Melalui seorang teman yang saat itu bersamaku, aku berkenalan dengan
Nike. Dari informasi yang kudapat, Nike berbeda keyakinan denganku, dia lebih
memilih ikut ayahnya yang nonmuslim daripada ikut ibunya yang muslimah. Entah
apa alasannya sehingga dia lebih condong kepada ayahnya daripada ibunya itu.
Perlu kujelaskan sedikit tentang diriku di sini. Kenalkan, namaku Didik,
seorang laki-laki muda asal Semarang, Jawa Tengah. Saat pertama kali
mengenal Nike, aku adalah mahasiswa tingkat empat di sebuah kampus negeri
ternama di Jakarta. Namun sekarang aktivitasku tak lagi di sana, melainkan di
kota lain yang jauh dari keramaian ibu kota sambil coba mengadu nasib dengan
berwirausaha.
Selama kuliah, aku aktif di berbagai kegiatan, mulai dari badan eksekutif
mahasiswa (BEM), unit kegiatan mahasiswa (UKM), hingga aktif di lembaga dakwah
kampus (LDK). Khusus yang terakhir aku sebut, yaitu lembaga dakwah kampus, aku
benar-benar tertarik menerjuninya hingga dari situlah aku mengerti tentang
aneka ragam pergerakan dakwah (harokah), beserta karakteristik dan
seluk-beluknya.
Tidak cukup sampai disitu, berbagai kajian keislaman pun aku ikuti,
tausiah-tausiah para da’i ternama, ta’lim-ta’lim rutin dan berbagai pengajian
kelompok tak jarang aku datangi demi sebuah ilmu yang ingin kupahami. Tapi dari
semua kajian tersebut, ada kajian yang benar-benar membuatku tertarik, yaitu
kajian tentang cinta dan rindu, serta kaitannya dengan tipu daya setan atau jin
di dalamnya. Sungguh suatu ilmu yang sangat bermanfaat sekali bagiku.
“Cinta itu indah, tapi tidak setiap cinta mengandung keindahan.
Berhati-hatilah terhadap cinta palsu yang menjanjikan keindahan, karena
hakikatnya ia hanya melenakan dan menghancurkan. Bila tidak pada tempatnya,
cinta akan menjadi senjata setan untuk mengelabui manusia. Apalagi jika cinta
melampaui batas-batas yang dibenarkan, pasti bukanlah cinta namanya, melainkan
nafsu yang ditunggangi setan. Dan kalau dibiarkan, cinta yang berbalut nafsu
tidak akan membuat sang pecintanya menjadi lebih baik, tapi justru akan
menjerumuskan sang pecintanya dalam kemungkaran dan kebatilan yang menyesatkan.
Maka untuk itulah Rasulullah mengajarkan cinta yang suci dengan menganjurkan
umatnya untuk menikah, bukan mengumbarnya dengan cinta palsu. Rasul juga menyuruh
umatnya untuk menundukkan pandang ketika bertemu lawan jenis, bukan menatap
sepuasnya. Semua itu dilakukan untuk menjaga agar umatnya tidak mendekati zina
dan menjaga cintanya yang murni sesuai dengan koridor syariah. “
Kira-kira seperti itulah ilmu yang kudapatkan tentang cinta dan rindu dari
kajian yang kuikuti beberapa kali itu.
Bukanlah seorang muslim namanya jika hidup tanpa ujian. Hal itu dibenarkan
oleh firman Allah dalam Al-Qur’an yang mengatakan bahwa apakah seorang muslim
dianggap telah beriman padahal belum ditimpakan suatu ujian kepadanya, dan
melalui Nike inilah Allah hendak menguji aku setelah aku mendapatkan ilmu
tentang cinta dan rindu. Ibarat anak sekolah, setelah diberi ilmu dan
pelajaran, pasti ada sederet ujian yang harus diikuti, agar diketahui layak
atau tidakkah anak tersebut naik ke kelas berikutnya. Seperti itulah yang aku
hadapi, dan ternyata aku gagal dalam ujian tersebut!
Awal mula kedekatanku dengan Nike hanya ingin mengajaknya untuk bisa
mengenal Islam lebih jauh. Pelan-pelan aku coba mengenalkan istilah-istilah
Islam sambil kutunjukkan pula penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebisa
mungkin aku selalu menjaga pandang dan jarak saat berkomunikasi dengannya, agar
setan tak mudah mengambil celah dari setitik lemah iman dalam hatiku.
Tak terpikir sedikitpun olehku untuk bisa bermain hati dengannya. Hingga
suatu ketika perasaan suka dan kagum bermetaforfosis menjadi cinta. Suatu
perasaan yang tak seharusnya aku turuti karena hanya akan mengundang murka
Allah dalam kehidupanku selanjutnya.
Sungguh pintar setan dalam menyesatkan manusia. Pelan-pelan diajaknya
manusia dalam kebaikan, tapi pelan-pelan pula setan menggiringnya dalam
kesesatan, menyelipkan keburukan dalam kebaikan. Halus, benar-benar halus tipu
dayanya, nyaris tak terlihat. Padahal sejatinya itu adalah perangkap setan
untuk menjerumuskan manusia. Dan itulah yang aku alami. Bermula dari niat untuk
mengajak Nike pada kebaikan, tapi justru berakhir dengan kesesatan pada diriku.
Dengan dalih agar aku bisa menjelaskan Islam lebih dalam ke Nike, tanpa
kusadari intensitas pertemuan kami makin hari makin meningkat, terlebih setelah
kami sama-sama saling mencintai. Dilema yang kurasakan, satu sisi aku seorang
aktivis dakwah yang tahu tentang hukum-hukum berkomunikasi dengan lawan jenis,
tapi di sisi lain aku ingin mengajaknya agar bisa memahami Islam lebih jauh
lagi.
Aku tahu bahwa cinta harus diraih dengan perjuangan. Cinta harus tumbuh
menembus semua penghalang yang menghadang. Kelopaknya tak boleh mekar mewangi
jika hanya untuk menjadi layu dan pupus. Ia harus selalu disiram agar
akar-akarnya kuat menghujam jiwa. Ia harus dirawat agar bunga-bunga rindunya
selalu merekah indah laksana mawar merah nan anggun, dan ia harus dijaga agar
rimbun daun kasih sayangnya selalu sejuk diterpa angin asmara yang
menghembusnya. Cinta harus dipupuk sepanjang masa dengan pupuk perhatian
dan kesetiaan. Dan cinta harus dipelihara dengan embun kepedulian dan
ketulusan, bukan dengan kebohongan dan pengkhianatan. Tentu cinta tersebut
adalah cinta yang hakiki, cinta sejati yang berada dalam naungan ridho ilahi,
bukan cinta palsu yang kurasakan saat itu.
Niatku benar, tapi carakulah yang salah. Aku tahu bahwa cinta suci
seharusnya terbingkai indah dalam satu ikatan pernikahan. Tapi aku terjebak
dalam lingkaran setan yang menyesatkanku. Aku ingin mengajaknya segera menikah,
tapi di sisi lain aku terkendala dengan perbedaan keyakinan di antara kami.
Pernah kuajak dia untuk menjadi muallaf, tapi dia belum siap, karena masih
harus belajar lebih banyak lagi. Pernah juga dia berucap bahwa tak ingin dia
pindah keyakinan hanya karena alasan pernikahan, tapi dia ingin pindah
keyakinan karena memang ada kemantapan dalam hati, bukan yang lain. Akupun tak
bisa memaksa atau menyalahkannya.
Dengan sabar aku coba menunggunya hingga ia siap, namun kesabaranku
ternyata dalam koridor yang salah. Lagi-lagi dengan dalih karena ingin
mengajarkan Islam kepadanya, akhirnya kamipun sering diskusi dan berbincang
bersama seputar masalah agama, bahkan lebih dari itu, kami jadi sering
bercerita, bercanda dan memadu kisah, meskipun mulanya aku minta agar
didampingi pihak ketiga, tapi ternyata hal itu tak berlangsung lama. Aku pun
berpikir, sudahlah tak mengapa tak didampingi, yang penting aku tidak berbuat
yang tak semestinya dengannya. Sehingga kamipun jadi semakin akrab, akrab dan
akrab.
Agar tidak jenuh kalau hanya lewat telepon atau di rumah saja dalam
berkomunikasi, aku jadi sering pergi berdua dengannya. Masih dengan dalih
mengajarkan Islam padanya, aku coba ajak dia ke masjid, karena ingin
mengenalkan fungsi masjid dan menunjukkan ibadah-ibadah yang biasa dilakukan di
masjid, agar dia menjadi lebih paham. Di sinilah pintarnya setan menjebakku.
Membungkus kesesatan dalam kebaikan melalui kebodohanku. Padahal seharusnya hal
demikian tidak boleh kulakukan mengingat hubungan kami yang masih harom karena
belum menjadi mahrom.
Bahkan demi menjaga perasaan Nike dan menghormatinya, tak jarang pula aku
antar dia ke tempat peribadatannya. Aku hanya berprinsip untukmu agamamu dan
untukku agamaku. Toh aku berkeyakinan, bahwa kelak dia pasti akan menjadi
muallaf kalau aku sabar membimbingnya, jadi kubiarkan saja dia menjalani
ritual ibadahnya sebelum akhirnya dia memeluk Islam nantinya. Dan tanpa
kusadari, dari situlah aku mulai terjerumus dalam jebakan setan.
Cinta yang kurasakan lama-lama semakin terpatri kuat dalam lubuk hatiku.
Pelan-pelan aku jadi berubah. Sholat yang dulu rajin kulaksanakan di awal
waktu, kini molor bahkan mulai sering kutinggalkan. Al-Qur’an yang dulu selalu
kubaca, kini hampir tak pernah lagi terjamah olehku. Dan puasa yang seharusnya
kulakukan untuk mengekang nafsu liarku, justru kini aku abaikan. Aku
benar-benar menjadi laki-laki yang kufur. Aku berubah. Aku terpengaruh oleh
keadaan karena kebodohan dan kelemahan imanku sendiri.
Hingga suatu ketika ibuku mengetahui hubunganku dengan Nike. Aneh, ibu
mengetahuinya bukan dari siapa-siapa, tapi justru dari mimpi dalam tidurnya.
Pernah suatu siang, tiba-tiba ibu bertanya padaku, “Nike nggak sholat ya?”,
bagai disambar petir, pertanyaan ini tentu mengagetkanku. Aku diam tak
berkutik, hanya bisa menjawab, “Ya”, karena memang itulah kenyataannya.
Tentu hal ini membuat ibu kecewa padaku.
Perlu diketahui, bahwa ibu adalah sosok wanita yang taat, hari-harinya
selalu diisi dengan kebaikan dan ibadah pada Allah. Sehingga dengan perubahan
yang kualami, tentu ibu mengetahui gelagat buruk yang terjadi padaku itu.
*****
“Lamar aku mas!” pinta Nike suatu hari kepadaku.
Permintaan Nike tersebut tentu memberi kebahagiaan tersendiri bagiku. Tak
sabar rasanya aku meminangnya, tapi lagi-lagi kendala agama menghalangi
langkahku. Nike masih belum siap untuk menjadi muallaf, bahkan dengan tegas dia
malah berani memintaku untuk pindah dan mengikuti keyakinannya. Cinta harus
berkorban, dan aku harus tunjukkan pengorbananku kalau memang aku mencintai
dia, begitu yang pernah dia ucapkan padaku.
Sebuah permintaan yang berat, bahkan sangat-sangat berat. Permintaan
Nike sungguh memporakporandakan hatiku, hingga tak sanggup kuberkata apa-apa.
Aku terdiam. Aku membisu. Mau menangis tak bisa, mau berontak pun tak kuasa.
Cinta telah membelengguku dan menghilangkan akal sehatku. Dan hampir saja aku
menjadi murtad hanya karena cinta palsu yang kurasakan. Bodoh, benar-benar
bodoh yang telah kulakukan itu!
Karena kompleksnya masalah yang kami alami, aku jadi sering bertengkar hebat
dengannya, entah di rumah, di jalan atau dimanapun kami berada. Jika selisih
paham muncul, pasti pertengkaran hebatlah yang terjadi. Tak tanggung-tanggung
sampai banyak orang yang melihat lalu berusaha meleraikan kami. Hampir-hampir
tak ada rasa malu yang kumiliki. Tak ada yang mengalah karena jiwa muda kami
yang sama-sama keras dan temperamen. Padahal sejatinya setanlah yang pasti
berada di tengah-tengah kami saat emosi membakar jiwa kami, tapi aku tak mau
peduli akan hal itu.
Kami stress. Kami sama-sama tertekan dengan keadaan yang kami hadapi. Dia
belum merasa mantap untuk menjadi muallaf dan aku juga tak merasa mantap untuk
melepaskan Islam dari hidupku. Kata seorang teman, hubungan kami tak lebih dari
cinta yang dipaksakan. Tapi aku tak mau mendengar pendapat itu. Bagiku, cinta
harus diperjuangkan dan dipertahankan, apapun konsekuensinya. Aku juga tak mau
tahu, bahwa ada orang tua di belakang kami. Aku seperti tak mau tahu dengan
perasaan mereka yang tentu tak ingin anaknya menikah dengan orang yang beda
agama. Tidak dengan orang tuaku, tidak pula dengan orang tua Nike. Orang tua
kami sama-sama tak merestui hubungan kami, tapi aku terus memaksakan kehendak,
bahwa cinta harus diperjuangkan.
Tak tahu apa yang harus kulakukan, aku jadi terpuruk, benar-benar terpuruk.
Walau laki-laki, aku sempat menangis pula pada Allah sambil meminta petunjuk
dan pertolonganNya untukku. Aku berdoa yang sekilas mirip dengan doa
istikhoroh, meskipun dengan doa yang agak memaksa dan tidak seharusnya aku
panjatkan,
“
Ya Allah, karena kebodohan hamba, hamba kini terperangkap dalam duka
dan nestapa. Karena kesalahan hamba pula, kini hamba terjebak dalam luka dan
gelisah. Hamba mohon padaMu ya Robb, agar Engkau tenangkan hati hamba, Engkau
bantu selesaikan masalah yang hamba alami.
Ya Allah, sekiranya Nike baik untuk hamba, maka dekatkan dia untuk
hamba, satukan hidup kami dalam ikatan suci pernikahan. Jadikan dia wanita yang
Engkau beri hidayah sehingga dia menjadi wanita muslimah yang taat kepadaMu.
Percantik dirinya dengan akhlak mulia duhai Robb, dan perindah hatinya dengan
iman dan Islam yang Engkau hembuskan di kalbunya.
Ya Robb, namun sekiranya ia buruk untuk hamba, maka rubahlah keburukan
itu menjadi kebaikan untuk hamba. Dan sekiranya dia bukan jodoh hamba, maka
jadikan dia jodoh hamba untuk menemani hidup hamba. Hamba butuh Kun fayakunMu
ya Robb, karena Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan hamba yakin bahwa
Engkau sanggup merubah dirinya dan mengabulkan doa hamba.”
Doa tersebutlah yang selalu aku panjatkan. Ibu yang mendengar doaku hanya
bisa mengingatkanku, bahwa kalau berdoa jangan mendikte dan memaksa Allah.
Memang Allah Maha atas segala sesuatu, tapi bukan berarti kita, manusia, berdoa
dengan memaksakan kehendak, karena Allah jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk
hamba-hambaNya.
Mendengar ibu berkata demikian, aku sempat emosi dan menegur ibu. Salah yang
kulakukan tapi aku tak sadar bahwa aku salah dan akupun tak mau disalahkan,
baik salah dalam doaku maupun salah karena telah emosi kepada ibu.
Sungguh aku telah menjadi laki-laki yang durhaka dan bodoh. Bodoh dalam ilmu
yang kumiliki dan bodoh dalam cinta yang menyesatkanku. Seolah percuma ilmu
tentang cinta dan rindu yang kudapatkan tempo hari dalam kajian-kajian yang
pernah kuikuti.
Dalam tangis doaku, aku coba kembali menjadi aku yang dulu, tapi semua
sia-sia, aku tak bisa. Aku selalu kalah dengan perasaanku apalagi saat bayangan
wajah Nike selalu menghantuiku. Aku ternoda oleh cinta, aku terkekang oleh hawa
nafsuku sendiri.
Aku menjadi orang yang putus asa. Ilmu agama yang kupunya seolah tak bisa
lagi membendung sikap burukku. Aku terkalahkan oleh hawa nafsu dan kebodohanku
sendiri. Cinta yang merasuk di jiwaku, benar-benar membuatku gelap mata. Ingin
rasanya aku akhiri semuanya tapi aku tak kuasa.
Begitu juga dengan Nike, ingin rasanya Nike akhiri semuanya, tapi diapun tak
kuasa. Mau melangkah tak bisa, mau mundur pun tak mampu. Semua benar-benar
membuat kami tak berkutik. Sekali lagi kami terjebak dalam lingkaran setan yang
sangat menyesatkan.
Lelah yang kami rasakan, hingga akhirnya membuat hubungan kami mulai renggang.
Walau demikian kami masih tetap berkomunikasi meski dengan frekuensi yang
sangat jarang, dan sekalinya berkomunikasi pasti pertengkaran yang selalu
terjadi di antara kami. Tak kuat menghadapi semua itu, aku pun pasrah dan
menyerah pada takdir.
Puncaknya, entah firasat apa yang kurasakan, di suatu malam aku bermimpi
akan hal yang sangat aneh. Aku melihat Nike begitu mesra hingga melakukan
hubungan suami istri dengan seorang laki-laki. Tak lama lalu kulihat pula
ibunya begitu sibuk menyiapkan beraneka ragam makanan yang tertata rapi di
teras rumah Nike, seolah siap dihidangkan untuk para tamu.
Merasa bermimpi yang tak wajar, aku terbangun. Aku terkejut dengan
mimpi tersebut, karena memang seumur hidupku baru kali itu aku bermimpi aneh
begitu. Aku yakin bahwa ada hal buruk yang sedang terjadi di belakangku,
sepertinya Nike sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Pagi tiba, aku beranikan
diri untuk menelepon ke rumah Nike dan menanyakan apa yang telah terjadi. Ayah
Nike yang mengangkat telepon dan berkata,
“Maaf Mas Didik, Nike sudah menikah dengan teman kantornya, semoga mas
Didik bisa menerima keadaan ini. Terima kasih atas kebaikan Mas Didik selama
ini, semoga Mas Didik menemukan wanita yang terbaik untuk mas Didik nantinya.”
Tak sanggup aku mendengar apa yang baru saja disampaikan ayah Nike.
Telepon kututup dan kumatikan. Aku
menangis. Aku hancur, sangat-sangat hancur. Seolah hidupku tak berarti lagi.
Kuliahku berantakan. Pekerjaanku pun kacau. Hari-hariku penuh dengan duka dan
air mata.
Hingga akhirnya dua hari kemudian,
Brrraaaakkkk…
Aku kecelakaan. Masih dalam duka yang kurasakan karena kehilangan Nike, aku
tertimpa musibah. Sebuah mobil antar jemput menabrakku dari belakang . Wajahku
luka penuh darah, kakiku bengkak tak bisa berjalan, dan sepeda motor yang
kukendarai pun hancur diterkam mobil. Aku pingsan tak sadarkan diri dan harus
segera dioperasi di bagian wajah serta kepalaku.
Kini setelah sadar, aku berusaha ikhlas atas apa yang kualami, seraya
memohon ampun pada Allah atas apa yang telah kulakukan selama ini.
Mungkin inilah akibat dosa yang seringkali kukerjakan, melalaikan Allah
dalam kehidupanku. Allah menegur serta menyelamatkanku dengan kasih sayangNya
agar aku kembali padaNya. Ya, aku ditegur dengan cara Allah yang tak pernah
kusangka sebelumnya, yaitu dengan kecelakaan. Dan aku diselamatkan Allah juga
dengan caraNya yang luar biasa, menikahkan Nike dengan laki-laki lain, sehingga
imanku tetap terjaga, walau akhirnya aku mesti mengulang kembali syahadatku,
syahadat penyesalan.
Kini aku harus merangkai kembali puing-puing nafasku yang terseok. Menata
kembali hari-hariku yang tersisa dan menyusun kembali masa depanku yang hancur
karena kebodohanku sendiri. Sungguh aku harus berbenah, menjadikan masa laluku
sebagai pelajaran untuk tak kuulang kembali di masa yang akan datang dan
menjadikan pengalaman burukku sebagai hikmah berharga dalam setiap sisa-sisa
keping kehidupanku . Berharap bahwa Allah berkenan ampuni setiap langkah
kelamku.
Dalam penyesalan hidup yang kurasakan kini, aku hanya bisa berkata,
“Maafkan hamba duhai Robb…”
http://www.facebook.com/notes/hembusan-nafas-kehidupan/syahadat-kedua-cinta-terlarang/182185331815213