Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Senin, 10 Januari 2011

Seuntai Kata Peran Orang Tua


Bismillahirrohmanirrohim


Seuntai Kata
Peran Orang tua
            Pendidikan adalah kata kunci untuk perbaikan. Tidak ada perbaikan tanpa proses pendidikan. Hal ini telah sama diketahui oleh bangsa-bangsa. Oleh karena itu, di hampir setiap Negara, lembaga-lembaga pendidikan didirikan sebanyak-banyaknya dan dikembangkan sedemikian rupa. Di negeri kita, program wajib beljar (wajar) berlansung 9 tahun. Enam tahun di pendidikan dasar (SD) dan tiga tahun di pendidikan menengah pertama (SLTP). Bahkan, karena taraf hidup yang semakin baik, tidak sedikit di antara rakyat yang mengenyam pendidikan sampai tingkat tinggi. Akan tetapi, jika kita perhatikan kondisi keagamaan para pelajar dan mahasiswa kita, sungguh membuat hati kita terenyuh. Tidak sedikit di antara mereka yang terjatuh dalam penyalahgunaan narkoba, terlibat dalam tawuran antara pelajar/mahasiswa, menyaksikan VCD porno, larut dalam pergaulan bebas, dan serentet tindak criminal lainnya.
            Yang lebih parah dari itu adalah, banyak pelajar dan mahasiswa kita yang tidak menjaga shalatnya dengan benar. Padahal shalat adalah tiangnya Islam dan amal yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak. Siapa yang meninggalkannya maka ia telah meninggalkan Islam. Fenomena itu semua kian meyakinkan kita bahwa soal pendidikan anak tidak bisa dipercayakan sepenuhnya kepada sekolah/kampus. Karena, sekolah-sekolah/kampus-kampus tersebut hanyalah memperhatikan aspek intelektualitas saja. Sedangkan aspek keimanana dan akhlak, hampir tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Hasilnya, banyak sarjana yang pinter namun keblinger dan malas ibadah terutama sholat.
            Peran orang tua dalam mengantarakan anak menuju keshalihan tetaplah paling dominan. Ini adalah kewajiban dan keharusan setiap orang tua yang kelak akan ditanya oleh Alloh Azza wa Jalla, Rasululloh Shallallahu’ Alaihi wa Sallam bersabda: “ Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan ditanya (kelak) tentang orang-orang yang dipimpinnya. Pemerintah adalah pemimpin, seorang laki-laki (ayah) adalah pemimpin dalam keluarganya, seorang wanita (ibu) bertanggungjawab atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya “. (HR. Bukhari dan Muslim yakni Muttafaqun’ Alaih dengan Sanad Shahih).
            Sikap orang tua yang kurang peduli terhadap pendidikan anak, atau merasa telah lepas tanggung jawabnya dengan menyekolahkan mereka, jelas suatu sikap yang tidak bisa diterima. Bagaimanapun juga, peran orang tua sangat istemewa dan penting sekali. Kepenatan dalam mendidik anak adalah amal shalih yang sangat mengundang pahala. Sekian Risalah yang saya buat ini, semoga bermanfaat dan kita ambil Ibroh (pelajaran) yang bermakna dari Risalah tulisan ini, Wallohu’ Azza wa Jalla A’lam bish Showab, Barakallohu’ fiikum.


http://www.facebook.com/notes/melati/seuntai-kata-peran-orang-tua/174003539304696

Resiko Mencabut Kebaikan


Bismillaahirrahmanirrakhiim....


Sahabat, setiap kebaikan sekcil apapun pasti akan dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan yang setimpal bahkan akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Akan tetapi bentuk balasan kebaikan itu tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita tetapi Allahlah yang Maha Tahu bentuk balasan apa yang saat ini dan yang akan datang yang amat sangat kita butuhkan.
Maka konsisten dengan segala bentuk kebaikan adalah keberuntungan dan kebahagiaan, menghentikannya adalah awal sebuah penderitaan
Ini adalah kisah nyata seorang hamba Allah bernama Ibnu Jad'aan dengan kedermawanannya yang terjadi kira-kira seratus tahun yang lalu di Saudi Arabia.
Dia (Ibnu Jad'aan) mengatakan selama musim semi dia sering pergi keluar. Dia menemukan unta-untanya dalam keadaaan sehat dan baik. Unta-unta betina memiliki susu yang penuh seolah-olah memancar keluar sewaktu-waktu. Setiap kali seekor anak unta mendakati ibunya, air susu akan mengalir dengan melimpah dan penuh berkah.
Tatkala aku (Ibnu Jad'aan) melihat salah satu dari untaku dan anaknya, aku teringat tetanggaku yang miskin yang memiliki tujuh orang anak perempuan. Jadi aku berkata pada diriku, demi Allah aku akan memberikan unta ini dan anaknya sebagai sedekah kepada tetanggaku , karena aku teringat Firman Allah di dalam QS Al-Imran : 92.
لَن تَنَالُواْ ٱلۡبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىۡءٍ۬ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ۬
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan [yang sempurna], sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”
“Dan yang paling aku cintai diantara hewan ternakku adalah unta betina ini. Jadi aku membawanya dan mengetuk pintu tetanggaku. Aku berharap dia mau menerima sebagai sedekah dariku. Ku lihat wajahnya yang sendu menjadi ceria akan kebahagiaan datang dan tak mampu berkata apapun”.


Setelah itu tetangganya mendapatkan manfaat dari susunya, unta tersebut dapat pula membantunya bekerja membawa kayu, dan saat unta melahirkan anak, sebagian bisa dijualnya. Tetangga miskin itu mendapatkan berkah atas unta yang diberikan.
Musim semi berlalu, musim panas yang kering datang dan orang Badui mulai mencari air dan rumput. Kami mengumpulkan barang-barang kami dan meninggalkan tempat kami untuk mencari air dan masuk kedalam ”duhool” atau 'lubang' di bumi, yang terletak di bawah tanah dan mengarah ke sumber air di bawah tanah. Orang badui sangat mengenal baik tempat seperti ini.
Aku (yakni Ibnu Jad'aan) masuk ke dalam salah satu lubang untuk membawa air buat diminum. Ketiga putranya menunggunya di luar. Namun Ibnu Jad’aan tidak kembali. Mereka menunggunya satu, dua dan tiga hari dan akhirnya menjadi putus asa.
Mereka berfikir mungkin bapaknya telah mati digigit ular. Putranya tidak berusaha menolong (naadzubillah min dzalik), bahkan sebaliknya berusaha membagi warisan dengan serakah.
Lalu mereka pulang ke rumah dan membagi harta warisan. Mereka teringat bahwa sang ayah (Ibnu Jad'aan) memberikan unta betina ke tetangga miskin. Mereka beranjak ke tetangga tersebut dan mengatakan kepadanya untuk meminta kembali atau dengan diambil secara paksa.
Tetangga miskin itu sedih dan akan melaporkannya kepada Ibnu Jad’aan, tapi ketiga anaknya memberitahukan bahwa ia telah meninggal dan menceritakan kejadiannya.
Tetangga miskin itu berkata: "Demi Allah aku akan mencari tempat tersebut, ambillah unta betina ini dan lakukan apapun yang kamu mau dan aku tidak berharap untamu kembali kepadaku!"
Ketiga anak yang serakah ini membawa untanya pergi. Sepeninggal mereka, si tetangga miskin itu pergi berusaha melihat tempat lubang tersebut. Dengan membawa tali, menyalakan obor, dan kemudian ia melangkah masuk kedalamnya. Ia merayap namun terguling dan dalam keadaan gelap ia merasakan adanya uap air yang mendekat dan tiba-tiba dia mendengar suara seorang lelaki merintih dan mengerang.
Ia berusaha mencari ke arah suara tersebut dan tangannya menggapi tangan orang itu (Ibnu Jad'aan). Tetangga miskin itu memeriksa dan mendapatinya masih bernafas. Dipapahnya keluar dan diberikannya minuman.
Dia membawa ke rumahnya dengan digendong keatas punggungnya, sementara anak-anaknya tidak ada satupun yang tahu. Setelah pulih, dia kemudian bertanya kepada Ibnu Jad’aan: "Katakan kepadaku, demi Allah, selama seminggu kamu berada di bawah tanah tetapi tidak meninggal ”


"Saya akan ceritakan sesuatu yang aneh ..." Ibnu Jad’aan menjelaskan: "... ketika aku berada di dalam sana, aku tersesat, aku berkata : lebih baik aku tinggal dekat yang ada airnya sehingga aku bisa minum. Namun kelaparan tidak punya belas kasihan dan air sudah mulai habis. Lalu setelah tiga hari kelaparan, aku terbaring dan menyerah diri kepada Allah dan meletakkan semua urusan di tanganNya. Tiba-tiba aku merasakan kehangatan tuangan susu ke mulutku. Aku terduduk di tengah-tengah kegelapan dan aku melihat sebuah panci datang menghampiriku. Aku minum darinya dan kemudian ia pergi! Hal ini terjadi tiga kali dalam sehari, tetapi dua hari terakhir ini berhenti dan aku tidak tahu apa yang terjadi. "
Tetangganya kemudian memberitahukan kepadanya: "Jika anda tahu alasannya Anda pasti akan kagum! Putra anda berfikir bahwa anda telah meninggal dan mereka datang kepadaku dan untuk mengambil unta betina yang Allah (Subhaanahu Wa Ta'Aala) telah berikan susunya kepada Anda!"
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS: At Talaaq, 2-3)
 
Jika kita belum mampu memberikan Yang Terbaik, mari kita belajar Meng-Abadikan Yang Tersisa.


http://www.facebook.com/notes/melati/resiko-mencabut-kebaikan/173751115996605

Aku Bahagia


“Sudah dua belas tahun kita menikah, tapi belum sedikitpun kita bahagia”, kata seorang suami kepada istrinya.
“Maksud ayah?”, sahut istrinya bingung karena tak seperti biasa suaminya bersikap seperti ini.
“Maafkan aku bu, nggak seperti keluarga lainnya yang hidup bahagia dan mapan, selama ini aku belum bisa bahagiakan kamu dan anak-anak, apalagi pekerjaanku seperti ini, hanya seorang tukang sampah keliling di kampung ini”, terang suaminya menjelaskan.
“Maksud ayah, aku dan anak-anak tidak bahagia? Kata siapa begitu? Tidak seharusnya ayah berkata seperti itu. Aku merasa bahagia walaupun keadaan kita susah seperti ini. Ayah seharusnya bersyukur, karena ini adalah nikmat yang diberikanNYA untuk kita. Banyak orang yang bergelimang harta tapi hidupnya tidak bahagia, banyak orang yang kaya tapi hatinya selalu dirundung duka. Mending kita hidup seperti ini Yah, yang penting hati kita tenang dan bahagia. Masih bisa makan walau seadanya, masih bisa menyekolahkan anak-anak walaupun bukan di sekolah yang mahal, dan ayah bisa mengatur waktu untuk beribadah tidak disibukkan dengan urusan dunia. Anggap pekerjaan ayah ini adalah ibadah karena membuat kampung kita jadi bersih.
Tentang pekerjaan Ayah, Ayah boleh bekerja sebagai tukang sampah, tapi bukan berarti pekerjaan yang ayah jalani adalah sampah. Ayah memang mengambil sampah dari masyarakat, tapi bukan berarti ayah adalah sampah masyarakat. Tangan ayah boleh kotor karena sampah, tapi yang penting tangan ayah tidak pernah berbuat kotor atau dosa.
Biarlah orang memandang ayah rentan terkena penyakit, tapi yang penting ayah tidak membuat orang berpenyakit, apalagi itu penyakit hati. Biarlah juga orang lain menghina ayah, tapi yang penting ayah tidak pernah menghina mereka. Jadi ayah harus tetap bersyukur ya dan ikhlas menjalani ini semua.”, jawab istrinya berusaha menenangkan hati suaminya.
“Ya sayang, kamu memang wanita terbaik yang dianugerahkanNYA untukku. Terima kasih ya istriku, ibu dari anak-anakku, hatiku sekarang bisa sedikit lebih tenang.”, sambung suaminya sambil melempar senyum kecilnya.
Istrinya juga ikut tersenyum melihat suaminya tersenyum tanda berkurang kemurungannya. Oh indahnya hidup bila bisa saling menyejukkan dan mengingatkan, apalagi jika dibumbui dengan rasa ikhlas dan syukur, pasti hidup akan terasa jauh lebih indah lagi jadinya.


http://www.facebook.com/notes/hembusan-nafas-kehidupan/aku-bahagia/177301022303644

Sebaik-baik Perpisahan


Sahabat Hikmah yang tercinta…
Izinkan saya kembali belajar menulis dan berlatih berbagi lagi….
Dalam sebuah pelatihan di sebuah perkantoran di bilangan Jakarta Timur, saya terkesima..
Beberapa hadirin juga terlihat terpukau dan beberapa tak kuasa menahan tetesan air mata…
Suasana memang sangat mendukung sekali..ruangan yang nyaman dan sejuk, diiringi instrumentalia yang sangat lembut sehingga kata kata dari sang Ustadz sungguh menjadi sangat berpengaruh..
Teringat, sungguh benar perkataan mulia Rosulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam:
"Wa inna minal bayaani lasihran", "Sesungguhnya sebagian dari perkataan itu benar-benar dapat menyihir (memberi pengaruh kuat)." (HR Bukhori, at Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)
Paparan yang disampaikan oleh sang Ustadz di kantor (smoga Allah memberikan keberkahan dan pahala melimpah dan menjadikan ilmunya al’ilm yuntafa’ubih bagi beliau) adalah kisah-kisah saat-saat terakhir sebelum baginda wafat. Kisah ini, mungkin sebagian dari sahabat yang pada saat kecil mengaji kitab klasik (kuning) sering mendengarnya…Kisah yang senantiasa menarik bagi pencinta khusnul khotimah..sebaik-baik akhir…kisahnya adalah sebagai berikut ini:
Suatu hari Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. Mereka berkumpul mengelilingi beliau.
Rasul berkata : ”Wahai para shahabat hari ini, aku tawarkan kepada kalian. Barangsiapa di antara kalian pernah aku sakiti. Maka sekaranglah saatnya kalian mengqishash diriku ( membalasnya )”
Para sahabat hening, tak ada satupun yang mampu bersuara.....
Rasul mengulangi lagi perkataannya ” Wahai shahabat, kalau kalian pernah merasa aku sakiti silahkan kali ini saatnya kalian membalasnya...”
Para sahabat makin tertunduk...menangislah mereka...mereka merasa sebentar lagi masa-masa indah bersama Rasul tercinta akan berakhir....
Untuk ketiga kalinya Rasulullah berkata ” Silahkan siapa yang mau mengqishas diriku ”......
Tiba-tiba muncullah Ukasah Radliyallahu 'anhu dan berkata.


“ Saya ya Rasul…..saya akan mengqishas Anda ya Rasulullah…..”
Umar Radliyallahu 'anhulangsung mencabut pedangnya sambil berkata “ Apa yang akan kamu lakukan wahai Ukasah…pedang Umar yang menebas kepalamu kalau engkau berani menyakiti Rosulullah “
Baginda yang agung tersenyum “ Biarkan Ukasah ya Umar………. “
Abu Bakar Radliyallahu 'anhu pun maju, sambil berkata “ Wahai Ukasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah “
Akan tetapi Rasul pun melarang Abu Bakar membelanya..
Kemudian Ukasah berkata : ” Pada saat aku mengiringi engkau berperang, cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul....”.
Para sahabat terdiam menahan amarah................. akan tetapi Rasulullah dengan tersenyum mempersilahkan Ukasah mengambil cambuknya
Tidak cukup sampai di situ...Ukasah berkata : ”Ya rasul, dulu sewaktu cambukmu mengenai punggungku...cambukmu saat itu langsung mengenai kulit punggungku, karena punggungku pada waktu itu tidak tertutup kain....untuk itu aku ingin kali ini, punggungmu dibuka juga ya Rasulullah..”
Para sahabat makin geram dengan permintaan Ukasyah.
Rasul tetap tersenyum dan kemudian membuka kain yang dikenakannya...
Pada saat punggung baginda tercinta terbuka.... maka seketika itu juga Ukasyah menubruk punggung Rasulullah...,kemudian dia memeluk dan mencium punggung yang kemilau itu. Sambil menangis sesenggukan Ukasyah berkata
” Wahai Rasul Allah....maafkan aku.....aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuhmu untuk yang terakhir kali...dan Aku ingin tetap bersama-sama Engkau Ya Rasul sampai di akhirat kelak."
Dan rasul pun berkata ” Doamu Insya Allah dikabulkan Allah wahai Ukasyah ”
Dalam kisah yang lain malaikat Izrail pun kemudian datang mengucap salam.....
...serta menyampaikan salam dari Allah swt, bahwa Allah rindu bertemu dengan Rasulullah.


malaikat pun minta izin untuk mencabut ruh mulia beliau..............
"Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah.
Irji’i ila rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah.
Fadkhuli fi ’ibadi. Wadkhuli jannatii..."
"Wahai jiwa yang tenang...
Kembalillah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhoi-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku.
Dan masuklah ke dalam surga-Ku."
( Qs Al Fajr : 27-30)..
Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa aalihi ashhabihii ajma'iin
Sahabat semua milikilah selalu azam untuk memiliki akhir yang sebaik-baiknya..
Semoga kita semua nanti bisa bereuni di salah satu taman dari taman-taman surga-Nya
Semoga kita bisa berkunjung, bertatap dan berjumpa wajah dengan orang yang paling kita sayangi, kita cintai Baginda Rosul dan juga para sahabat....Amin 3x.

Mufti Arkan .


http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/sebaik-baik-perpisahan/495362055848

1 X Sholat JAMA’AH di MASJID = 5 Hari Shalat SENDIRI ?


Sahabat Hikmah…
Agar HIDUP BERKUALITAS...
Kita harus menjadikan UMUR kita lebih BERKULALITAS ...
Dengan melakukan IBADAH yang BERKUALITAS.
Salah satunya adalah dengan shalat BERJAMA'AH di MASJID.
Mengapa demikian ?
Karena shalat fardlu sehari semalam adalah 5 kali.
Kita bisa menggandakan dengan cara CERDAS, yaitu

 1 X shalat berjama’ah di Masjid = 5 hari shalat sendiri
Karena sekali shalat berjama’ah di Masjid pahalanya 25 derajat dibanding shalat sendiri. Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:  “Shalatnya seorang pria berjamaah pahalanya 25 derajat dibanding sendirian di rumah atau di pasar, yang demikian itu karena jika ia berwudhu dengan sempurna kemudian ia keluar rumah dengan satu tujuan shalat berjamaah di masjid, maka setiap langkahnya mengangkat satu derajat dan diampuni satu dosanya, dan selama ia di majelis shalat tanpa hadats didoakan para malaikat, “Ya Allah, ampunilah ia dan rahmatilah ia”, dan dianggap mengerjakan shalat sepanjang menunggu waktu shalat” (HR Bukhari Muslim).
Bahkan rumusannya bisa  berubah:

1 X  Sholat JAMA’AH > 5 Hari Shalat SENDIRI 
Karena dalam hadits lain yang masyhur adalah lebih utama 27 derajat.
Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda "Shalat Jamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibanding shalat sendiri"
(H.R. Bukhari Muslim dll.).


Fadhilah Shalat BERJAMA’AH di MASJID:
1. Mendapat naungan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat
 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Subhanahu wa Ta'ala di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya)......dan seseorang yang hatinya selalu terpaut pada masjid" (Muttafaqun Alaihi)
Berkata Imam An-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas yaitu "Orang mempunyai rasa cinta yang dalam terhadap masjid dan kontinyu dalam melaksanakan shalat berjama'ah di dalamnya bukan berarti selalu tinggal didalam masjid" (lihat syarah An-Nawawi 7 : 121)

2. Akan lebih dicintai oleh Allah.
Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 "Shalat seseorang bersama seorang lebih utama dari shalat sendiri, dan shalat bersama dua orang lebih utama dari shalat bersama seorang, semakin banyak mereka berjamaah semakin dicintai Allah" (H.R. Ahmad, Abu Dawud).

3. Mendapat keutamaan berjalan dan pulang ke/dari  Masjid.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat ?" Para shahabat berkata : "Tentu, Ya Rasulullah", Beliau bersabda " ....dan memperbanyak langkah menuju ke masjid ..." (HR. Muslim).
Pengangkatan derajat artinya kedudukan yang tinggi di Syurga (lihat syarah An-Nawawi 3 : 141).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa yang menuju ke masjid untuk shalat berjama'ah maka setiap langkahnya menghapuskan dosa dan ditulis padanya satu kebaikan baik ketika ia pergi maupun ia kembali" (HSR. Ahmad).
Syaratnya berangkat dari rumah sudah menyempurnakan wudlu.


Diriwayatkan dari Utsman bin Affan berkata "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya kemudian berjalan untuk melaksanakan shalat fardu bersama dengan manusia atau secara berjama'ah atau di dalam masjid maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengampuni dosa-dosanya" (HR. Muslim)

3. Mendapat keutamaan menunggu shalat.
Rasululah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Apabila salah seorang dari kalian duduk untuk menunggu shalat di masjid maka dia senantiasa dalam keadaan shalat selama ia tidak berhadats (dan) para malaikat akan mendo'akannya : "Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia" (HR. Muslim)

4. Mendapat keutamaan berada di shaf pertama.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Kalau seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian niscaya mereka akan melakukannya" (HR. Bukhari)

5. Mendapat keutamaan berada di shaf sebelah kanan.
Diriwayatkan dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang berada pada shaf sebelah kanan" (HR.Abu Daud dan Ibnu Majah).
Dan adalah para shahabat menyukai untuk senantiasa berada di bagian kanan shaf apabila mereka shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Al-Bara' Radhiyallahu 'anhu berkata :



"Kami apabila shalat di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih kami sukai untuk kami berada di sebelah kanan beliau karena beliau menghadapkan wajahnya (pertama kali) kepada kami (saat salam)" (HSR. Abu Daud)

6. Mendapatkan keutamaan mengucapkan amin bersama para malaikat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Apabila imam mengucapkan "ghairul maghduubi 'alaihim waladdhaliin" maka katakanlah "Amin" karena barang siapa yang aminnya bertepatan dengan aminnya para malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu " (HR. Bukhari)

7. Mendapatkan pembebasan dari api neraka dan dari kemunafiqan.
 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Barang siapa yang shalat selama empat puluh hari secara berjama'ah dan selalu mendapatkan takbir pertama, maka di tetapkan baginya dua pembebasan : Pembebasan dari api neraka dan pembebasan dari kemuniqan" (HHR. Tirmidzi).

8. Mendapat Penerangan dari Allah atas kegelapan akhirat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Karuniailah mereka yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan sinar yang sempurna di hari kiamat"  (H.R. Abu Dawud & Trimidzi).

9. Mendapatkan keutamaan shalat ’Isya dan shalat Shubuh  berjama'ah.
Dalam riwayat Utsman
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :



"Barang siapa shalat Isya' dengan berjamaah, maka ia seperti mendirikan shalat selama setengah malam, barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka ia laksana shalat semalam suntuk" (H.R. Muslim dll.)

Hukum shalat BERJAMA’AH di MASJID:
Hukum shalat Jamaah menurut mazhab Syafi'i : Fardlu kifayah, yaitu apabila tidak ada seorang pun yang mendirikan jamaah dalam satu kampung, maka seluruh kampung mendapatakn dosa.
Mazhab Hanbali bahkan mengatakan shalat jamaah adalah fardlu ain, wajib bagi setiap muslim, karena kuat dan banyaknya dalil yang memerintahkan shalat jamaah.
Mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan shalat jamaah selain shalat jum'ah hukumnya sunnah mu'akkadah (Sunnah yang mendekati wajib, sangat ditekankan).
Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda "Wahai umatku, shalatlah di rumah-rumah kalian, karena yang paling utama shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat fardlu" (H.R. Bukhari Muslim).

Bagaimana dengan WANITA?
Sebaik-baik seorang wanita adalah shalat di rumahnya, berdasarkan hadits:
Dan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
”Sebaik-baik masjid bagi kaum wanita adalah didalam rumahnya.” (HR. Ahmad)
Bagi seorang wanita yang ingin shalat di masjid untuk melakukan shalat berjama’ah diperbolehkan bagi mereka yang sudah tua dan dimakruhkan bagi yang masih muda karena dikhawatirkan adanya fitnah. Tetapi dengan syarat:
Pertama, ada izin dari suami atau wali (jika belum nikah). Dalilnya sabda Nabi SAW : “Jika isteri-isterimu meminta izin ke masjid-masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR Muslim, Bukhari, Ahmad, dan Ibn Hibban).
Kedua, tidak memakai wangi-wangian, atau semisalnya yang dapat menimbulkan mafsadat bagi wanita. Sabda Nabi SAW :


Janganlah kamu melarang wanita-wanita hamba Allah pergi ke masjid-masjid Allah, tapi hendaklah mereka keluar tanpa wangi-wangian.” (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Darimi, dan Baihaqi).
Mana yang lebih utama bagi wanita, sholat di masjid atau di rumah?
Ada dua pendapat:
Pertama, yang lebih utama sholat di rumah, baik sholat sendiri (munfarid) atau sholat jamaah. Ini pendapat Ibnu Qudamah (Al-Mughni, 3/443).
Kedua, yang lebih utama sholat di rumah, jika sholatnya sholat jamaah, bukan sholat sendiri. Ini pendapat Ibnu Hazm (Al-Muhalla, 4/197) dan ulama Syafi’iyah seperti Imam Nawawi. (Al-Majmu’, 4/198).
Kedua pendapat itu dalilnya sama, yaitu sabda Nabi SAW : “Janganlah kamu melarang isteri-isterimu ke masjid-masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (wa buyutuhunna khair lahunna). (HR Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Thabrani).
Pendapat pertama mengambil keumuman lafal “dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka” (wa buyutuhunna khair lahunna). Jadi menurut pendapat pertama ini, shalat di rumah baik shalat jamaah maupun shalat sendiri, lebih utama daripada shalat jamaah di masjid.
Sedang pendapat kedua, tidak memberlakukan hadis itu secara umum, namun mengkhususkan hanya untuk sholat jamaah, bukan sholat munfarid (sendiri). Imam Nawawi menyatakan : “Adapun wanita, maka sholat jamaah mereka di rumah lebih utama [daripada jamaah di masjid]… Sholat berjamaah wanita lebih utama daripada hadirnya wanita [sholat berjamaah] di masjid-masjid.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, 4/197-198).

Wallahu a'lam bishshowab.


http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/1-x-sholat-jamaah-di-masjid-5-hari-shalat-sendiri-/494831335848