Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Jumat, 07 Januari 2011

“ Ridha “


Sehubungan dengan apa yang tidak disukainya, seorang hamba bisa menempati salah satu dari dua derajat ini, ridha dan sabar. Ridha adalah yang lebih utama. Adapun sabar, hukumnya wajib bagi setiap insan yang beriman. Mereka yang ridha adalah yang dapat menghayati hikmah dan kebaikan Dzat yang mendatangkan ujian. Mereka tidak berburuk sangka kepada-Nya. Disaat yang lain menghayati beta[a Dia Maha Agung, Maha Mulia dan Maha Sempurna. Ia terhanyut dalam persaksian atas semua itu, sehingga ia tidak lagi merasakan derita. Hanyasanya, Cuma mereka yang benar-benar berma’rifah dan bermahabah (mencintai Alloh SWT) saja yang dapat mencapai tingkatan ini.
            Mereka (bahkan) dapat menikmati musibah yang menimpa, karena mereka tahu bahwa musibah itu datang dari Dzat yang dicintainya. Sabar berbeda dengan ridha. Sabar adalah menahan diri dari amarah dan kekesalan ketika merasa sakit sambil berharap derita itu segera hilang. Sementara ridha adalah berlapang dada atas ketetapan Alloh SWT dan membiarkan keberadaan sakit, walau pun ia merasakannya. Keridhaannya meringankan deritanya. Karena hatinya dipenuhi oleh ruh yakin dan ma’rifah. Bila ridha semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita.


            Anas bin Malik RA meriwayatkan dari Rasululloh SAW beliau Rasul SAW bersabda: “ Sesungguhnya jika Alloh mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha niscaya akan mendapatkan ridha-Nya. Barangsiapa yang kesal dan benci niscaya Ia akan mendapatkan murka-Nya “. (HR. Tirmidziy, dalam Kitab Az-Zuhud Juz.VII/No.77 dengan Sanad/Jalur Hasan Gharib dan Imam As-Suyuthiy menghasankannya dalam Kitab Al-Jami’ As-Shaghir Juz.II/No. 459).
            Al-Imam Ibnu Mas’ud berkata: “ Sesungguhnya Alloh SWT dengan keadilan dan ilmu-Nya (menjadikan kesejahteraan dan kegembiraan pada yakin dan ridha, serta menjadi kesusahan dan kesedihan pada keraguan dan kekesalan dan kemurkaan “. Alloh SWT berfirman:   “ Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Alloh; Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu “. (QS. Taghaabuun: 11). Berkenaan dengan ayat diatas, ‘Alqamah berkata, “ ini tentang musibah seseorang yang mengerti bahwa musibah itu datang dari Alloh, lalu ia pasrah kepada Alloh SWT dan ridha “.
            “ Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “.                                   (QS. An-Nahl: 97). Abu Mu’awiyah Al-Aswar menjelaskan maksud kehidupan yang baik adalah ridha dan qana’ah. Suatu ketika Ali bin Abi Thalib mendaapati ‘Ady bin Hatim tengah bersedih, beliau bertanya, “ Mengapa kamu bermuram durja? “ ‘Ady menjawab,       “ Apa tidak boleh, sedangkan dua anakku baru saja terbunuh, pun mataku baru saja tercungkil?” Ali bertutur “ Wahai ‘Ady, barangsiapa ridha terhadap ketetapan Alloh maka sesungguhnya ketetapan Alloh itu tetap terjadi, dan dia mendapat pahala. Dan baransiapa tidak ridha terhadap ketetapanNya, sesungguhnya ketetapan-Nya tetap terjadi dan amalah orang itu pun terhapus “.
            Adalah Abu Darda’ mengunjungi seseorang yang menjelang ajal sambil memuji Alloh, Abu Darda’ berujar, “Anda benar Sesungguhnya jika Alloh menetapkan sesuatu, Dia senang jika diridhai “. Hasan Al-Bashri berkata, “ Barangsiapa ridha terhadap bagiannya, Alloh akan meluaaskan dan memberkahinya. Begitu pula sebaliknya “. Umar bin Abdul Aziz berkata, “ Aku tidak lagi memiliki kebahagian selain menerima apa yang ditakdirkan bagiku”. Beliau pernah juga ditanya, “ Apa yang paling Anda senangi?”, beliau menjawab, “ Semua yang ditetapkan oleh Alloh SWT “.
            Abdul Wahid bin Zaid berkata. “ Ridha adalah pintu Alloh yang terbesar syurga dunia, dan tempat istirahatnya para ahli ibadah “. Sebagian ulama berkata, “ Di akhirat nanti, tidak ada derajat yang lebih tinggi dari pada yang dimiliki oleh orang-orang yang ridha kepada Alloh segala situasi. Maka barangsiapa dianugerahi ridha sungguh ia telah mendapatkan derajat yang paling utama “. Suatu pagi seorang Arab Badui mendapati banyak unta-untanya pada mati. Berkatalah ia,


 “ Tidak! Demi Alloh -yang aku adalah hambaNya-, kalaulah bukan karena kedengkian orang-orang yang dengki, niscaya aku tidak akan senang menerima cobaan paada unta-untaku ini, juga terhadap tidak terhadinya sesuatu yang telah ditetapkan Alloh SWT “.


http://www.facebook.com/notes/melati/-ridha-/173683962669987

“ Kemuliaan Seorang Pendidik “


Bismillahirrohmannirrohim
Syair/PUisi tentang “ ILMU “
Setiap langkah berpijak
Di situ telapak terbekas
Ibarat air mengalir mencari muara
Tiada lelah terbawa angin
Adanya, hidup tiada menjadi kelabu


Tidak... bukan materi yang sedikit banyak pergi
Bukan ilusi yang berimajinasi
Terjebak buasnya dunia fana
Ilmu adalah serangkaian makna tanpa batas

Satu rajut tangan lebih bermanfaat
Daripada setumpuk ucapan kosong yang buta
Ilmu, pendidikan lorongnya
Penuj liku dan duri satu  demi satu lalu pasti
Menanti mimpi, harapan pasti
Menyongsong senja pagi berseri
Keutamaan Menjadi Guru
          Nyanyian Umar Bakri, mengungkap sosok seorang guru/pendidik yang tabah dan tekun mendidik serta mengasuh muridnya, dengan penghasilan sekedar penyambung hidupnya. Orang ramaipun menyatakan bahwa guru adalah pahlawan, pejuang yang tulus ikhlas tanpa tanda jasa.
          Di hadapan Alloh SWT, guru adalah tergolong orang-orang karena iffahnya (memelihara diri dari minta-minta), lalu disangka kaya oleh orang-orang kurang perhatian (jahil), lantaran tidak sempat leluasa berniaga karena kesibukannya pada jalan Alloh SWT, yakni mengajar dan mendidik anak yang menjadi tanggung-jawabnya. {QS. Al-Baqarah (2): 273}.
          Diantara keutamaan menjadi guru/pendidik, adalah:
1)   Memiliki sifat iffah (memelihara diri dari minta-minta), yang dihargai dan dihormati kedudukannya oleh Alloh. Dan Alloh perintahkan kepada para aqniya (murid/masyarakat/pejabat) memberikan perhatian khusus kepada mereka. {QS. Al-Baqarah (2): 273}.



2)   Alloh SWT memberi balasan untuk guru/pendidik yang mendidik dan mengajarkan kebaikan atau pelajaran yang bermanfaat, sama seperti orang-orang yang melakukannya. Rasululloh SAW bersabda:                   “ Barangsiapa yang mengunjukkan/mengajarkan kebaikan, pahalanya sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu “.                    (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab Faidul Qadir, Juz. 6, Hal. 127, Penulis: Al-Imam Al-Manawy Rahimahulloh).
3)   Alloh SWT, para Malaikat, penghuni langit dan bumi bersholawat (mendo’akan) para pendidik yang mengajarkan kebaikan. Rasululloh SAW bersabda: “ Sesungguhnya Alloh, Malaikat-malaikat-Nya, penghuni langit dan penghuni bumi, hingga semut dalam lubangnya dan ikan dalam lautan, bersholawat (mendo’akan) para pendidik manusia kepada kebaikan “. (Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 380).
4)   Para guru dan pendidik senantiasa akan mendapatkan pahala dari Alloh sebagai imbalan dari hasil pendidikan dan pembinaannya, meskipun dia sudah mati/wafat. Rasululloh SAW bersabda:
“ Sesungguhnya dari antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang tetap dia peroleh pahalanya, walaupun dia sudah wafat, adalah: Ilmu yang diajarkan dan disebarluaskannya; anak yang shaleh yang ditinggalkannya; atau mushaf/pegangan misalkan buku-buku/                      al-qur’an/kitab-kitab yang ditinggalkannya; atau masjid yang dibangunnya; atau rumah untuk ibnus sabil yakni anak yatim piatu/panti jompo yang dibangunnya; atau saluran air yang dibuatnya; atau shadaqah yang dikeluarkannya dari harta kekayaannya pada waktu hidupnya (shadaqah jaariyah), itu semua dia akan mendapatkan pahalanya setelah dia wafat “. (HR. Ibnu Majah dan                 Al-Baihaqy dari Aba Hir dalam Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 381).
Sejalan hadist tersebut, Alloh SWT. Menegaskan dengan firman-Nya sebagai berikut: “ Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa saja mereka telah kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata “. {QS. Yaasiin (36): 12}.
Hubungan Profesi Guru dengan Dakwah
Perintah Dakwah dan Tabligh (Pengajaran), adalah merupakan perintah yang tidak hanya ditunjukan kepada para Nabi dan Rasul Alloh SWT, melainkan juga ditunjukan kepada segenap ummatnya, lebih-lebih para guru dan pendidik. Perintah Dakwah dan Tabligh, banyak kita jumpai dalam Al-Qur’an, antara lain:
1)   “ Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’izhah hasanah, dan bermujadah-lah dengan mereka dengan cara yang lebih baik,… “. {QS. An-Nahl (16): 125}.



2)   …” dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus “.                                        {QS. Al-Hajj (22): 67).
3)   … “ dan serulah mereka keapad (jalan) Rabbmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang musyrik “.
4)   “ Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung “. {QS. Ali-Imran (3): 104}.
5)   “ Kamu adalah ummat yang terbai yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar “. {QS. Ali-Imran (3): 110}.
Guru dan Pendidik adalah Da’i dan Muballigh, yang mendakwahkan dan menyampaikan ilmu Alloh SWT, karena pada hakikatnya segenap ilmu baik dan berguna bagi manusia, adalah merupakan anugerah Alloh kepada manusia, untuk menunjang tugas dan fungsinya sebagai hamba Alloh dan Khalifah fil Ardh.
Guru/Pendidik yang berhasil mendidik dan mengarahkan anak didiknya ke jalan yang diridhai Alloh, sehingga menjadi seorang shaleh dan bahkan mampu mengembangkan dan menyebarluaskan ilmunya, dijanjikan oleh Rasululloh SAW dengan banyak balasan yang tak terhingga sebagai berikut: “ Barangsiapa yang membimbing/mendidik orang kepada petunjuk Alloh dan Rasul-Nya, niscaya dia mendapatkan pahala sejumlah pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak akan dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu; dan barangsiapa yang mengajak/membimbing kepada kesesatan, niscaya ia mendapat dosa sejumlah dosa orang-orang yang mengikutinya, dengan tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka                itu “. (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah dalam Kitab Mukhtashar Shahih Muslim, Penulis: Al-Imam Muslim, Hal: 492).
Sebagai Guru, Pendidik dan sekaligus sebagai Da’i, maka hendaklah memiliki akhlak dan sifat-sifat sebagai berikut:
a)   Senantiasa mengharap ridho Alloh, berbuat dan beramal dengan tulus ikhlas karena Alloh SWT.
b)   Berdaya ingat kuat, bijak, cerdas, berpandangan luas dan jauh kedepan, mampu menganalisir cepat dan tepat serta mampu menerapkan dengan baik.
c)   Penyantun, penuh kasih sayang, lemah lembut dan ramah.
d)   Bersahabat dan tidak kasar dan bengis/kejam.


e)   Berani dan sportif, tidak pengecut dan membabi buta.
f)      Shiddiq, benar dalam ucapan, sikap dan perbuatan, tepat dalam janji.
g)   Tawadhu’, tidak angkuh dan ‘ujub (membangakan diri).
h)   Pemaaf, menahan amarah dan berlaku ihsan.
i)     Memelihara sumpah setia.
j)     Sabar,  tabah dan ulet.
k)   Iffah dan kiram (menjaga kehormatan diri).
l)     Wara’ dan Qana’ah (Menjaga perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh dan merasa cukup dengan apa yang diperoleh).
m) Adil meskipun terhadap diri dan keluarga.
n)   Tidak mengungkit dan tidak sombong.
o)   Memelihara kemulian diri.
p)   Berlapang dada daan tidak ceroboh (‘ajalah).
q)   Bertekad bulat, berkeyakinan kuat dan tawakkal.
r)    Berpihak kepada yang benar dan memperjuangkannya.
s)   Sederhana, tidak berlebihan.
t)     Selalu optimis, tidak putus asa. (dikutip dari Agenda Dakwah/Agenda Mukmin, Terbitan: Qisty Saufa Abadi, Hal: 30-31 dengan perbaikan).
 “ Puisi Teruntuk Guruku “
Guru,
Engkau adalah pahlawan
Pahlawan tanpa tanda jasa


Yang tidak pernah lelah memberikan ilmumu
Terhadap murid-muridmu

Engkau selalu berjuang
Untuk mendidik kami
Mencerdaskan anak bangsa
Demi mencapai prestasi yang gemilang

Guru,
Tugas engkau sungguhlah mulia
Kami sungguh membutuhkan engkau
Karena tanpa engkau
Kami bukanlah apa-apa

Guru,
Terima kasih atas ilmu yang engkau berikan
Kami berjanji
Akan menjalankan amanat engkau
Untuk menjadi penerus bangsa dan agama
Yang unggul dalam segala bidang
Yang berpendidikan dan agamis/beriman…


Terima kasih guru atas
Ilmu yang kau berikan…
Semoga Alloh membalas segala jasa-jasamu
Yang tidak begitu terhingga.
Wallohu’ Ta’ala a’lam bish Showab. Washallallaahu’ ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahhbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil’ Alamien.
Maha Benar Alloh SWT dan Maha Agung.
Wabillahit taufiq was sadaad …


http://www.facebook.com/notes/melati/-kemuliaan-seorang-pendidik-/173678422670541

Pengakuan Aktivis Gender!


”Coba perhatikan, Rahmat. Saya juga baru menyadari belakangan ini. Saya sudah terseret makin jauh. Dulu saya tertarik, karena selalu dikatakan, bahwa kita mengembangkan sikap terbuka, kritis, rasional, tidak partisan.


 Tapi, ketika sudah masuk ke lingkungan ini, kita tidak punya pilihan, kita juga dididik sangat partisan. Jika dulu orang Muslim bangga mengutip Imam Syafii, Imam Ghazali, dan sebagainya, maka sekarang yang dibangga-banggakan adalah ilmuwan-ilmuwan orientalis. Katanya, kritis. Bahkan, karya-karya para ulama itu diakal-akali agar sesuai dengan pikiran mereka.
Yang tanpa sadar, kita disuruh membenci sesama Muslim, pelan-pelan kami mau tidak mau harus mengambil jarak dari aktivitas keislaman dan komunitas Muslim. Coba kamu perhatikan, pernah nggak kamu lihat Kemi shalat berjamaah ke masjid, aktif dalam majlis-majlis taklim, mengajar mengaji anak-anak, shalat tahajut, puasa sunnah, dan sebagainya. Lihat, siapa teman-teman dekatnya! Ingat nggak kata Ali bin Abi Thalib, siapa teman kepercayaan kamu, itulah kamu.
Perhatikan juga apa yang selalu diomongkan dia. Dia tidak lagi bicara tentang aqidah Islam, bahwa iman itu penting, kesalehan itu penting. Tidak bicara tentang bahaya kemusyrikan dan kemurtadan. Padahal, sejak kecil di pesantren, dia sudah diajarkan kitab-kitab Tauhid yang membahas masalah syirik. Bahkan, kata syirik, kafir, itu sudah dicoret dari kosakata dia. Syirik dan iman dianggap sama saja. Mukmin dan tidak mukmin dianggap sama. Islam dan bukan Islam disama-samakan. Padahal, al-Quran jelas-jelas membedakan derajat orang mukmin dengan derajat orang kafir.
Saya kadang bertanya, mengapa saya menjadi begini. Bahkan, di kepala saya yang ada bukan lagi bagaimana memahami al-Quran dengan baik dan benar, tetapi bagaimana agar al-Quran bisa saya gunakan untuk mendukung pemahaman saya tentang Pluralisme, liberalisme, toleransi, dan sebagainya. Teman saya sampai berusaha keras untuk meraih gelar doktor dengan membuat metodologi Tafsir yang sesuai dengan pemikiran Pluralisme.
Semua itu tidak terjadi seketika. Perlu waktu panjang. Sedikit demi sedikit, pikiran dibelokkan. Tanpa sadar. Perasaan dan pikiran dibelokkan. Saya suatu ketika bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa saya tidak lagi mencintai saudara-saudara saya di Palestina? Bahkan, hati saya mulai condong pada kaum Yahudi. Saya suka melihat kemenangan Yahudi; yang saya lakukan adalah mencari-cari kelemahan orang Palestina dan kelebihan orang Yahudi. Malah, saya sama sekali sudah tidak peduli dengan masalah umat Islam di Kasmir, Moro, Afghanistan, Irak, dan sebagainya. Saya menganggap semua itu adalah komoditas kaum fundamentalis untuk mencari popularitas.
Yang lebih saya kedepankan adalah isu-isu yang dibawa oleh negara-negara Barat, seperti isu radikalisme Islam, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Padahal, berapa ratus ribu bahkan jutaan penduduk sipil di negara-negara Muslim itu yang dibunuhi? Saya sudah menganggap bahwa mereka itu semua berhak dibunuh, karena mereka bagian dari kaum fundamentalis. Tidak ada diantara kami yang habis-habisan mengutuk pembunuhan manusia-manusia Muslim itu.


Hanya sesekali keluar pernyataan, agar tidak terlalu dianggap antek Barat. Tapi, coba kalau ada satu saja orang bule yang tewas dibunuh oleh satu kelompok Islam, atau ada bom meledak di suatu tempat yang menewaskan puluhan orang, maka kami akan habis-habisan mengutuk.
Yang lain, ini yang menyadarkan saya, tiba-tiba tertanam dalam diri saya, perasaan benci pada syariat Islam, dan bahkan benci dengan kemenangan satu partai Islam dalam Pemilu. Saya benci sekali kalau ada orang ngomong syariat. Bahkan, saya pernah memberi masukan teman-teman Kristen agar mereka mengeluarkan pernyataan yang menolak syariat. Saya pernah bingung, kenapa saya bisa menjadi begini. Saya mengenakan kerudung, tetapi isi kepala saya sama sekali tidak suka dengan kerudung. Saya benci sekali kalau ada orang Islam atau organisasi Islam yang mencoba membatasi pakaian.
Bahkan saya pernah ikut merancang demonstrasi menentang RUU Pornoaksi dan Pornografi. Saya benar-benar termakan paham kebebasan. Saya benci MUI, yang menurut saya sok Islam sendiri. Saya mendukung Lia Eden, saya mendukung Ahmadiyah, saya benci semua orang Islam. Bahkan, pernah saya membenci ayah saya sendiri, karena saya melihat dia bersama para kyai di daerah saya mendatangi DPR, meminta agar tayangan-tayangan porno dan tidak senonoh dihentikan penayangannya. Saya benci itu semua.
Kamu tahu Rahmat, karena untuk membuktikan saya sudah benar-benar menyatu dengan paham kebebasan, saya mendukung hak wanita untuk menjadi pelacur. Saya menentang penutupan komplek-komplek WTS di berbagai kota. Melacur saya anggap sebagai hak asasi wanita. Menjadi gigolo juga hak asasi. Yang penting tidak mengganggu hak orang lain. Hak-hak kaum homo dan lesbi juga saya perjuangkan. Sebab saya sudah dicekoki paham kebebasan, bahwa mereka adalah manusia.
Saya tidak tahu, mengapa saya menjadi seperti ini. Semua pergaulan, kuliah, diskusi, kegiatan, sepertinya sudah diatur sedemikian rupa, sampai saya tidak sadar, bahwa saya telah menjadi korban dari sebuah skenario besar. Saya korban. Kemi juga korban. Entah dia sadar atau tidak.
Bayangkan Rahmat, saya ini wanita, perempuan. Sampai karena sudah begitu merasuknya paham kesetaraan gender dalam diriku, saya tidak lagi mengakui laki-laki berhak memimpin rumah tangga. Saya benci jika dikasihani. Pernah saya naik bus, ada seorang laki-laki memberikan tempat duduknya karena kasihan saya berdiri, saya bentak dia. Saya mau suami saya yang nanti melayani saya, menyediakan minum buat saya, mengasuh anak saya, dan kalau perlu membawakan tas saya. Entah kenapa di kepala saya tertenam kebencian dan dendam kepada laki-laki, karena mereka telah menindas kaum saya selama umur manusia.
Suatu ketika, saya merenungkan semua itu dengan serius. Mengapa saya menjadi begini? Mengapa jadi begini? Itulah pertanyaan saya beberapa bulan terakhir ini. Saya sadar, tetapi saya tidak tahu, bagaimana saya akan keluar dari jeratan ini. Sudah terlalu jauh… Saya sulit keluar….Rahmat, entah bagaimana ujungnya perjalanan saya ini….”


”Saya sedih …. hati saya sangat perih… ingat ayah saya, Ibu saya, adik-adik saya…Saya dulu ingin membuktikan kepada mereka, bahwa saya bisa mandiri, saya bisa bebas, saya mau merdeka, saya tidak mau diatur lagi dengan berbagai belenggu. Saya minggat dari rumah, kuliah di satu kampus Islam Jakarta, lalu terakhir terseret ke kampus ini, karena ada beasiswa…Entahlah… sampai kapan saya akan terus seperti ini. Terkadang saya frustrasi…”
”Saya juga tidak tahu… ini sindikat atau tidak. Yang jelas, saya sudah tidak punya teman, tidak punya komunitas, malu untuk bergaul dengan sesama Muslimah. Pikiran saya yang sudah terjerat. Untuk membuang jerat-jerat pikiran ini tidak mudah. Saya sadar ini salah, tetapi saya seperti tidak berdaya untuk melawannya. Belum lagi, instruksi dan program-program yang rutin. Saya sering tak sadar menghujat-hujat Islam sendiri, memaki-maki umat Islam sendiri. Semua itu berjalan begitu saja tanpa bisa saya hindari. Saya sudah terjerat; terjerat oleh pikiran saya sendiri, terjerat oleh lidah saya sendiri! Saya sadar, saya geram, karena tidak berdaya untuk melepaskan diri dari semua keterjeratan ini… Saya tidak mampu… Padahal, di depan laki-laki saya selalu mencoba tampil perkasa, saya tidak mau dipandang rendah. Tapi, kenyataannya, saya tidak berdaya melawan pikiran saya sendiri…”.


http://www.facebook.com/notes/melati/petikan-novel-kemi-1-pengakuan-aktivis-gender/173480496023667

Sandal Kulit Sang Raja


Bismillaahirrahmanirrakhiim....

Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.”
Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.


Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.” Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut “Sandal“.
************************************************************
Renungan:
Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri,bukan dengan jalan mengubah dunia itu atau bahkan malah menyesali takdir yg telah terjadi dalam kehidupannya.
Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan diri kita sendiri.
Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu? Dan satu satunya lapisan kulit pelindung hati kita yang aman dari segala macam bahaya dan ujian kehidupan adalah iman dan takwa .Dengan iman dan takwa yang ada dalam diri kita..Insya Allah akan menjadi benteng yang kokoh dr terjangan dan hempasan  badai kehidupan ini. Wallahu a"lam...


http://www.facebook.com/pages/Melati/155563401129024?v=wall#!/notes/melati/sandal-kulit-sang-raja/172772336094483

3 Hari, 2 Nafas, 2 Pilihan, 2 Tempat


A'uudzubillaahi minasysyaythaanirrajiim
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Washshalaatu was-salaamu'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina
Muhammadin wa'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

 3 Hari, 2 Nafas, 2 Pilihan, 2 Tempat

HIDUP KITA CUMA DALAM 3 HARI
Semalam ~ Sudah menjadi sejarah..
Hari Ini ~ Apa yang sedang kita lakukan..
Esok ~ Hari yang belum pasti..

Hisablah diri pada hari pertama..
Semoga hari yang kedua kita lebih baik,
Karena mungkin ajal kita pada hari yang kedua..

HIDUP KITA CUMA DALAM 2 NAFAS
Nafas Naik..
Nafas Turun..
Hargailah nafas naik karena udara yang di hirup adalah pemberian Allah Ta'ala secara gratis dan carilah keridhaan-Nya dalam menggunakannya..
Bertobatlah dalam nafas turun karena mungkin itu nafas yang terakhir keluar dari tubuh bersama nyawa dan roh untuk meninggalkan dunia yang fana ini..

HIDUP KITA CUMA ADA 2 PILIHAN


Hidup dalam keredhaan Allah..
Hidup dalam kemurkaan Allah..

HIDUP YANG ABADI CUMA ADA 2 TEMPAT

Kekal di dalam neraka..
Kekal di dalam syurga..

Ingatlah siksa neraka itu amat mengerikan dan kita hanya diyakinkan oleh keyakinan kita kepada Rukun Iman.. Rukun Iman itu ada 6 dan apabila hilang salah satu daripadanya maka hilanglah ia..
Keindahan syurga itu maha hebat.. Tidak terbayang oleh fikiran kita dan untuk mendapatkannya mari mengamalkan Rukun Islam yang 5 itu dan tiangnya adalah sholat..
Amat sukar untuk dipercayai bagi yang ingin ke syurga tetapi tidak sholat, bagaikan seorang yang ingin naik pesawat, tetapi tidak mempunyai boarding pass..
Dan mereka yang sengaja melalaikan sholat, bagaikan ingin mengirim sepucuk surat lewat kantor pos tanpa memberikan cap pos.. Apabila ditanya bagaimana surat itu bisa sampai pada si penerima, lalu dia pun berkata cap pos akan diberikan kemudian.. (???!!!!). Hal yang terjadi adalah surat tidak akan pernah sanpai pada si penerima.. 
Oleh itu, tidakkah kita semestinya bersyukur atas segala nikmat yang ALlah kurniakan kepada kita???
Sekurang-kurangnya Allah Ta'ala telah memberi udara secara cuma-cuma untuk kita berdzikir mengingati-Nya setiap detik. Dan bila ajal menjemput.. dalam keadaan jiwa yang tenang, lalu masuk ke dalam syurga dalam keadaan kita ridha dan Allah Ta'ala meridhai.. amin ya Allah..
Semoga kita semua berbahagia + sejahtera senantiasa..
Di dunia juga di akhirat kelak serta di dalam rahmat Allah SWT!!!


Amin..
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
"Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu" (QS. Al-Baqarah 2 : 45)
Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan Segala Kemuliaan. Curahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, juga kepada para keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam. Amiin.

Wallahu'alam bishshawab, 
Wabilahi Taufik Wal Hidayah, 
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


http://www.facebook.com/notes/melati/3-hari-2-nafas-2-pilihan-2-tempat/173248186046898