Mengenai Saya
Laman
Kamis, 23 Desember 2010
Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka’bah
kisah nyata beberapa tahun silam,,semoga bisa menjadi bahan renungan kita semua..
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.
Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya.
Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.
Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.
“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.
Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.
Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.
Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.
“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.
“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”
“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”
Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.
Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.
“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.
Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.
Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.
Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.
“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.
Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.
http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/tujuh-kali-naik-haji-tidak-bisa-melihat-kabah/178981045454885
Jihad Nya Seorang Wanita
Apabila disebut perkataan ‘jihad’,
apakah yang terlintas di dalam fikiran kita? Serta-merta tergambar kesungguhan
berkorban yang akan menimbulkan semangat berjuang hingga ke titisan darah yang
terakhir! Semangat ini memang baik dan perlu dipupuk bertepatan dengan
ketetapan Islam serta kehendak Allah SWT.Hakikat jihad menurut syara’ ialah
seorang muslim menyerahkan tenaganya untuk mempertahan dan menyebarkan Islam
bagi mencapai keredaaan Allah. Dari sini nanti akan terbentuk sebuah masyarakat
Islam dan seterusnya akan terbina negara Islam yang sehat.
Jihad mesti berterusan hingga ke
hari qiamat. Martabat jihad yang paling rendah ialah jihad di dalam hati dan
yang paling tinggi ialah berperang di atas jalan Allah. Mengorbankan waktu,
harta dan kepentingan diri sendiri demi kebaikan Islam serta ummatnya juga
dikira sebagai jihad. Begitu juga dengan menyeru kearah kebaikan dan mencegah
kemungkaran serta memperjelaskan hakikat keEsaaan Allah juga merupakan
sebahagian dari pada jihad.
Bagimanakah kedudukan wanita dalam
jihad?
Jawapan kepada persoalan ini mesti
benar-benar difahami supaya sumbangan kita dalam jihad akan menguntungkan Islam.
Oleh itu, kita perlu menyingkap kembali lembaran sejarah Rasulullah SAW untuk
mengambil iktibar tentang persoalan jihad bagi kaum wanita.
Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan
Ath-Thabrani, pada suatu hari seorang wanita bernama Zainab yang bergelar Khatibatin-nisa’
(wanita yang pintar berpidato) datang menemui Rasulullah SAW lalu berkata:
"Aku telah diutus oleh kaum wanita kepada engkau. Jihad yang diwajibkan
oleh Allah ke atas kaum lelaki itu, jika mereka luka parah, mereka mendapat
pahala. Dan jika mereka gugur pula, mereka hidup disisi Tuhan mereka dengan
mendapat rezeki. Manakala kami kaum wanita, sering membantu mereka. Maka apakah
pula balasan kami untuk semua itu?"
Bersabda Rasulullah
SAW:"Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui daripada kaum wanita,
bahawasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala
orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi adalah sangat sedikit sekali
daripada golongan kamu yang dapat melakukan demikian.
"Pada ketika yang lain,
Rasulullah SAW pernah ditanya: "Wahai Rasulullah, perempuan manakah yang
baik?"Baginda menjawab: "Perempuan yang menggembirakan suaminya
apabila si suami memandangnya, mentaati suami apabila diperintah dan tidak
menyalahi suaminya baik mengenai diri peribadinya, harta kekayaannya atau
dengan apa yang dibenci oleh suaminya."
Pada dasarnya, kaum wanita disamakan
dengan kaum lelaki dalam tanggungjawab agama sama ada mengenai aqidah, ibadah
dan muamalah, kecuali tanggungjawab yang khusus yang sesuai dengan fitrah
(nature) kaum wanita. Begitu juga dengan tanggungjawab jihad yang diwajibkan
kepada kaum lelaki tidak diwajibkan kepada kaum wanita. Seandainya kaum wanita
berupaya pergi bersama-sama kaum lelaki ke medan pertempuran, tidaklah ditolak
oleh Islam. Bagaimanapun tugas ini hanya dianggap sebagai sumbangan tambahan.
Kita perlu jelas jihad yang paling
utama dan dituntut kepada setiap wanita ialah taat kepada suami dan mengakui
hak suami, manakala jihad di luar rumah adalah sumbangan tambahan bagi mereka
yang berbuat demikian.
Bagaimanakah pendirian kita?Kita
mesti menyakini bahawa berjihad di barisan hadapan oleh kaum lelaki manakala
jihad kaum wanita sebagai tulang belakang adalah ketetapan Allah SWT yang Maha
Adil, semata-mata demi kemakmuran alam ini. Kita perlu memahami firman Allah
yang bermaksud:"Dan orang lelaki dan perempuan (yang beriman) sebahagian
mereka (adalah) penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar." (At-Taubah : 71)
"Dan tidak sepatutnya bagi lelaki
yang mukmin dan wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menentukan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang
urusan mereka. Dan sesiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sesungguh-nya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." (Al-Ahzab :
36)
Sekarang sudah tiba masanya untuk
kaum wanita menanamkan azam dan mengumpulkan kekuatan bagi menumpukan diri
melaksanakan sepenuhnya jihad sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan
Rasul-Nya.Tingkat kekuatan yang utama ialah kekuatan iman. Iman yang kuat dapat
mengekang hawa nafsu yang sentiasa mengganas serta melemahkan keazaman. Dengan
ini, barulah jihad yang ingin kita laksanakan menjadi kenyataaan.
Firman Allah:"Adapun yg rasa
takut maqam Tuhannya, mencegah diri drpd menurut hawa nafsu syurgalah tempat
kembalinya.
" (An-Nazi’at :
40-41)"Apakah kamu mengira bahawa kamu akan dibiarkan (begitu saja) sedang
Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang yang berjihad di antara kamu dan
tidak mengambil wali (teman rapat) yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang
yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(At-Taubah : 16)
Sudut-sudut jihad wanita
- Menjadikan rumahtangga tempat yg bahagia utk keluarga b’kumpul.
- Mewujudkan suasana Islam dalam proses pendidikan dan pembesaran anak-anak.
- Menyempurnakan segala urusan rumah tangga menurut syara’ dengan penuh keikhlasan semoga akan beroleh keberkatan.
- Mengajak kaum wanita lain memahami prinsip-prinsip Islam dan cara hidup yang Allah tetapkan.
- Memerangi perkara-perkara bid’ah, khurafat serta pemikiran yg salah dan adab-adab yg buruk yg mengusai wanita masa kini.
- Menyertai rancangan kemasyarakatan yang berfaaedah untuk umat manusia amnya, seperti tadika, menjaga anak-anak yatim, kelab pemudi, sekolah-sekolah dan bantuan untuk keluarga miskin.
Sebagai kesimpulan, sekali lagi
perlu dijelaskan dalam diri kita bahawa jihad yang utama bagi wanita adalah
wajib bagi semua muslimah dalam batas kemampuan yang telah Allah kurniakan.
Manakala jihad tambahan yang Allah anugerahkan bersama keistimewaan tertentu
tidak boleh membatalkan jihad yang utama. Jihad utama mesti dilaksanakan
dahulu.
Kisah Monyet Dan Angin
Bismillaahirrahmanirrakhiim....
Sahabat, ada cerita tentang seekor monyet yang sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede.
Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.
Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik.
Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin Topan duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss…. Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatnya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin Tornado. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengnya. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.
Terakhir, angin Bahorok. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.
Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil. Nggak banyak omong, angin Sepoi-Sepoi langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet....!!
*****************************************************
Sahabat, Dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah Boleh jadi ketika kita Diuji dengan kesusahan…
Dicoba dengan penderitaan… Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya...
Tapi ketika kita diuji dengan kenikmatan... kesenangan dan kekayaan,
jangan sampai kita terlena kayak si monyet tadi ...Karena keenakan jatuhpun tidak nyadar...
Kita mesti tetap hati-hati...mesti selalu tawadlu dan istiqomah...mesti slalu berbagi dengan orang lain
kETIKA KITA DIATAS,USAHAKAN SELALU UNTUK MELIHAT YANG DI BAWAH...
Jika kita selalu bisa saling berbagi, tolong menolong ,saling perduli dalam suka dan duka dengan orang lain...
maka hiduppun akan semakin terasa mudah,nyaman,indah dan damai...insya Allah
Ayoolah mulai dari sekarang,dari diri kita sendiri,,keluarga dan orang lain di sekitar kita.
UJIAN YANG PALING SUKA DILUPAKAN ADALAH PADA SAAT KITA DIBERI BANYAK KENIKMATAN......
Semoga bermanfaat...
Belajar Menjadi Lebih Baik
Sri Setyowati
http://www.facebook.com/notes/melati/kisah-monyet-dan-angin/170099869695063
Rabu, 22 Desember 2010
PASANGAN
”Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum : 21)
Sahabat Hikmah...
Dalam memilih pasangan dan
berkeluarga
Tentu kita ingin mendapatkan yang
terbaik.
Tetapi kadang kita hanya ingin
mempunyai pasangan yang terbaik.
Tetapi diri kita belum baik...
Apakah kita akan mendapatkannya ?
Padahal yang namanya PASANGAN harus
SESUAI satu dengan lainnya.
”Dan segala sesuatu Kami ciptakan
berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” ( QS Adz Dzariyaat :
49)
Masalah jodoh sudah ditentukan oleh
Allah.
Bila kita baik, maka pasangan
kitapun akan baik.
Bila kita tidak baik, maka pasangan
kitapun akan tidak baik pula.
Laki-laki yang sholeh menjadi
pasangan wanita yang sholehah.
Wanita yang sholehah menjadi
pasangan laki-laki yang sholeh.
Tidak mungkin laki-laki sholeh
memilih isteri yang masih mengumbar aurat.
Dan tidak mungkin wanita sholehah
akan memilih suami yang tidak sholat.
LEBAH yang baik akan
mendatangi BUNGA yang banyak madunya.
LALAT yang paling menjijikkan akan
mendatangi BANGKAI yang sudah busuk baunya.
Jadi marilah perBAIKi diri, niscaya
pasangan kitapun akan BAIK.
Jadilah wanita sholehah dan
laki-laki sholeh,
niscaya pasangan kita pun akan sama.
”Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS An Nur:26)
Wallahu a'lam bi showab
Semoga menjadi HIKMAH
@}~ ...Menjaga Lisan... ~{@
Imam Al-Ghazali mengemukakan ada 14 macam bahaya lidah yang harus diperhatikan manusia.
Pertama, perkataan yang tidak bermanfaat yang bisa membuat hati kasar.
Kedua, mereka yang banyak omong, maka ia banyak bohong.
Ketiga, omong kosong. Padahal ciri-ciri orang beriman (QS 23:3) adalah mereka yang senantiasa menghindarkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.
Keempat, menyebabkan pertengkaran dan dendam.
Kelima, banyak bicara akan menimbulkan permusuhan antarkelompok dan golongan.
Keenam, mereka yang berbohong dengan mengaku sebagai pakar suatu bidang.
Ketujuh, ucapan yang mengandung hujatan dan cacian.
Kedelapan, ucapan yang mengutuk seseorang atau satu golongan.
Kesembilan, ungkapan syair atau nyanyian porno yang membangkitkan nafsu kebinatangan seseorang.
Kesepuluh, senda gurau dengan memperolok-olok orang lain. Rasulullah bersabda: ''''Sesungguhnya mereka yang menertawakan teman-temannya, mereka akan jatuh ke dalam neraka, lebih jatuh dari bintang surya.''''
Kesebelas, mengejek orang lain. Allah berfirman: ''''Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan (menertawakan) kaum yang lain. Boleh jadi (yang ditertawakan itu) lebih baik dari mereka (yang menertawakan). Jangan pula sekelompok wanita menertawakan kelompok wanita yang lain, boleh jadi (yang diperolok-olok itu) lebih baik dari mereka dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,'''' (QS 49: 11).
Kedua belas, membuka rahasia orang lain.
Ketiga belas, berjanji palsu.
Keempat belas, bersumpah palsu. Semua itu akan merusak nilai-nilai amanah. Rasulullah bersabda: ''''Waspadalah terhadap pembohong! Sebab pembohong dan orang-orang yang dzalim sama-sama dalam neraka.'''' (HR Ibnu Majah)
Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah: ''''Apa penyebab terbesar orang masuk neraka?'''' Nabi menjawab: ''''Karena lidah dan kemaluannya.'''' (HR Turmudzi). Mudah-mudahan kita semua dapat mengendalikan diri.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-menjaga-lisan-/10150104696721042
PASANGAN
”Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum : 21)
Sahabat Hikmah...
Dalam memilih pasangan dan
berkeluarga
Tentu kita ingin mendapatkan yang
terbaik.
Tetapi kadang kita hanya ingin
mempunyai pasangan yang terbaik.
Tetapi diri kita belum baik...
Apakah kita akan mendapatkannya ?
Padahal yang namanya PASANGAN harus
SESUAI satu dengan lainnya.
”Dan segala sesuatu Kami ciptakan
berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” ( QS Adz Dzariyaat :
49)
Masalah jodoh sudah ditentukan oleh
Allah.
Bila kita baik, maka pasangan
kitapun akan baik.
Bila kita tidak baik, maka pasangan
kitapun akan tidak baik pula.
Laki-laki yang sholeh menjadi
pasangan wanita yang sholehah.
Wanita yang sholehah menjadi
pasangan laki-laki yang sholeh.
Tidak mungkin laki-laki sholeh
memilih isteri yang masih mengumbar aurat.
Dan tidak mungkin wanita sholehah
akan memilih suami yang tidak sholat.
LEBAH yang baik akan
mendatangi BUNGA yang banyak madunya.
LALAT yang paling menjijikkan akan
mendatangi BANGKAI yang sudah busuk baunya.
Jadi marilah perBAIKi diri, niscaya
pasangan kitapun akan BAIK.
Jadilah wanita sholehah dan
laki-laki sholeh,
niscaya pasangan kita pun akan sama.
”Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita
yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS An Nur:26)
Wallahu a'lam bi showab
Semoga menjadi HIKMAH
Langganan:
Postingan (Atom)
