Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Senin, 06 Desember 2010

Inilah Sang Wanita Penghuni Surga


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


============================
 Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”
Aku menjawab, “Ya”
Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’
Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’
Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi.
Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.
Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya” Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst”
Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?
Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?
Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.
Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki


kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.
Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.
Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi mereka petunjuk -.
Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.
 Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah satunya adalah dengan doa. Baik doa yang dipanjatkan sendiri, maupun meminta didoakan orang shalih yang masih hidup. Dan dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.
Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.”
Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.
Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.


Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???
Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.”
Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.
Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya.
Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)
Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.
Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.



Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?
Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam. 

Barakallahufikum..jabat erat dan salam hangat
Wassalamualaikum

http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-inilah-sang-wanita-penghuni-surga/173450536016935

Bedanya Aku ( Perempuan ) dan Dia ( Laki-laki )


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
=============================

Bedanya laki-laki dan wanita itu secara kasat mata *jah, bahasane* kan mah bisa secara fisik. Tapi kalo soal hati, sifat, dan perasaan' in generally' lebih terlihat lagi perbedaannya.
Jadi, menurut Uncle *jaaah, berasa om sendiri * John Gray dalam bukunya Men Are From Mars, Women Are From Venus ( Dari buku ini pula munculnya inspirasi note icha berjudul Janji Venus..:) ), perbedaan mendasar antara lelaki dengan wanita dapat digambarkan sebagai berikut :
(Bagi yang merasa tersungging, eh, tersinggung, especially yang bergender laki-laki, mohon maap yak kalo ada yang salah, Allah aja mau maapin kita, mosok anda ndak mau maapin dakuh, kalo misalnya emang beneran salah, ya salahin aja si Om John Gray itu, jangan salahin aku, okeh? *ckckckck, icha icha.... :D*)
And hereeee iiittttt isssssssss..... *jeng jeng jeeeeng, backsoundmodeON* :




1. Laki-laki : Sense of self dinilai dari PRESTASI
Maksudnya apa yah? *doengs!*, Mungkin laki-laki ituh cenderung menilai seseorang dari prestasinya. O yeah? Hmm, sedikit ada kebenaran, aku punya beberapa temen yang suka ama perempuan, pas ditanya,
"Kenapa?"
"Kok bisa"
Jawaban yang sering terdengar selain, "Dia cantik..", itu adalah... "Abis dia pinter sih..". Hoh, jadi demikian? Jadi minder, aku kan nggak pinter, tapi 'cerdas', saking cerdasnya ampe bikin orang-orang seteerrrres gara-gara ke'cerdas'an-ku..xixixi :p.

Wanita : Sense of self dinilai dari KEMAMPUAN MEMBINA HUBUNGAN.
 Maksudnya? Nah loooh. Beda dengan laki-laki yang cenderung (walaupun nggak semuanya yah, kan  tergantung orangnye juga), perempuan atau wanitah atau gadis remaja yang lucu dan imut kaya aku ( tuing-tuing!), cenderung menilai seseorang dari kemampuan seseorang itu untuk membina hubungan. Maksudnya membina hubungan? Maksudnya orangnya sejenis friendly or easy going, bukan yang jutek dan tertutupt. Baru mungkin loh ya.. .

2. Laki-laki : Berorientasi pada TUGAS.
Maksudnya apa ya?  Pas dirikuh googling buat nyari the definition of orientation *jiah gaya*, nemu nih satu : Orientasi adalah suatu “kompas” proses yang dijalani seseorang pada suatu aspek kehidupan tertentu dalam hidupnya. Definisinya hampir “kabur” dengan definisi visi. Namun sebagai sedikit penggambaran, bahwa Orientasi adalah “visi mini” yang menjadi pedoman untuk menggapai sebuah visi yang sebenarnya.
Okeh, berarti maksudnya Berorientasi pada tugas itu, Laki-laki cenderung lebih mengutamakan tugas, pekerjaan, dll yang sejenis itu lah. Jadi, tujuan hidupnya yang pertama dan utama tuh terfokus pada satu hal, dan itu adalah TUGAS. Hmm.. bener gak tuh?




Wanita :  Lebih berorientasi pada HUBUNGAN.
Beda ama laki-laki yang berorientasi pada tugas, wanita malah berorientasi pada hubungan, terbukti kan lebih banyak kuantitas wanita yang menikah muda daripada laki-laki? *kok nyambungnya ke situ ya?  *.

3. Laki-laki : Mandiri
Yaiyalah, laki-laki memang harus dan entah bagaimanapun caranya kuduuu mandiri, karena mereka lah para calon pemimpin masa depan *tsaaaah, ngagaya!*. Tapi sekali lagi, tergantung dari tiap individu juga.

Wanita : Saling tergantung.
Oya? Masa sih? Hmm, nggak juga.. sekali lagi dakuh tekankan, tergantung tiap individunya.
Banyak kok 'Wonder Woman' di luar sana yang mandiri *cieeeeh*, tapi diriku kayaknya belum salah satu diantaranya, heheh. Tapi gak sepenuhnya salah, mungkin memang udah sifat perempuan kali yee.

4. Laki-laki : Minta bantuan dapat diartikan sebagai LEMAH.
Lagi-lagi tergantung tiap individunya. Kalo yang punya sifat kayak yang disebutin di atas berarti dia orangnya gengsi-an *sotoymodeON*. Aku punya banyak temen laki-laki yang malah seneng banget minta tolong, dikit-dikit nyerocos:
"Cha tolongin ini... Cha tolongin itu..."
Hmm, mungkin karna mereka masih remaja kali ya.. *lagilagidirikusotoy*.

Wanita : Minta bantuan berarti MENGHORMATI ORANG YG DIMINTAI BANTUAN.
Yang pasti kalo diriku mah kagak segan-segan deh nerima bantuan .


 Tapi terkadang suka gak pingin dibantu juga kalo ngerjain sesuatu karna takut nggak sesuai dengan apa yang aku inginkan, dan orang-orang banyak bilang kalo yang kayak gitu berarti diriku 'Perfectsionist', hmm apa ya perfeksionis itu ? Pas googling mah katanya sih mah Orang yang ingin segala sesuatunya sempurna.. Hmm, oya? Gak juga ah, kan nobody's perfect in this world *halah*.

5. Laki-laki : Fokus pada TUJUAN.
Bisa jadi bener, bisa jadi nggak. Tapi pernah suatu hari,ketika dakuh masih SMA, kakakku bilang:
"Icha hebat ( senengnye dipuji kakak ), bisa mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu, kalo kakak gak bisa seperti itu, kalo udah fokus satu, yawdah fokus aja satu itu."
Ya kurang lebih seperti itu lah. Hahah. Alasannya sepele beliau ngomong begitu, soale waktu itu diriku sms-an sambil ulangan fisika, hebat kan?  hahaha..:D

Wanita : Menikmati PROSES.
 Bagaimana pun hasilnya nanti yang penting kan proses dalam mencapai hasil tersebut. Contohnya daku, aku amat sangat menikmati my develope process to be an akhwat sejati yang cantik, baik hati, tidak sombong, pintar, dan shalihah *haha*, apa jawaban sodara sodari..? katakan dengan serempak: AMIIINNNN. Makaseh..;).

6. Laki-laki : Bersaing
Untuk mencapai tujuan... Para lelaki akan bersaing dengan saingannya........Dengan cara apapun.... Wew.. serem amat. Gak juga ah, aku yang perempuan juga suka bersaing, tapi secara sehat loh yaa..

Wanita : Bekerjasama
Yap, yang ini juga betul. Kita cenderung bekerjasama dengan asas kekeluargaan *pelajaranPKNmodeON*.


Tapi ada kalanya aku nggak mau kerjasama, misalnya pada saat UTS atau UAS *yaiyalaaaah*  , bukan apa-apa, soale kasian orang yang kerjasama ama aku, nilainya bisa-bisa dapet ponten kursi kebalik, heheh.

7. Laki-laki :  Mengandalkan kemampuan analisis
Katanya mah sih, laki-laki otak kirinya yang lebih dominan alias lebih banyak pakai LOGIKA, makanya mereka kurang peka dan nggak perasa. Itulah salah satu rahasia kenapa LAKI-LAKI JARANG NANGIS. Heheh. Tapi gak seru ah, aku lebih suka ngeliat laki-laki yang suka nangis karna rindu dengan Rabb-Nya *uooooh, manteb*.

Wanita : Mengandalkan kemampuan INTUISI.
Wanita cenderung menggunakan perasaan dan emosi dalam menilai sesuatu..,sehingga wanita itu lebih perasa, halus, lembut. Dan memang sudah seharusnya wanitah punya sifat-sifat tersebut, karena mereka lah para calon ibu dan istri *tsaaaah*, nggak kebayang kan kalo wanita mengandalkan kemampuan instuisi, nggak peka dan nggak perasa, bisa-bisa sekali kesel ama anaknya, tuh anak digorok *hiii, naudzhubillahi min dzalik*, ato entah berapa banyak wanita yang durhaka ama suaminya, walaupun jaman sekarang, tak jarang dua fenomena itu terjadi. Ckckckck...

8. Laki-laki : Cara pikir Linear: fokus pada satu hal dalam satu waktu, dan terkotak-kotak
Seperti yang sudah dijelaskan di atas.. idem.. idem..
Wanita : Multi-tasking : berkutat dengan hal-hal kecil dalam satu waktu, dan sambung-menyambung (seperti gulungan benang)
Heheeh.. bener-bener.. sebagai contoh tadi, aku bisa kan sms-an sambil ulangan, wekekekek. Contoh umumnya aja, liat aja Para Ibu Rumah Tangga, mereka bisa kan masak sambil nyuapin anaknya, sambil nyuci, sambil nyapu , sambil ngepel, yoah gak tuh?
Beda ama laki-laki yang kalo misalnya nyuci mobil ya udah nyuci mobil aja, nggak pake acara sambil makan rujak, minum kopi, en' nonton tipi..iya kan? ngaku ajalah para cowok..*hehehe...:P  *.


9. Laki-laki : Bertindak Merasa lebih baik dengan menyelesaikan masalahnya.
Dengan kata lain, laki-laki itu harus jantan. Ada masalah ya harus dihadepin.. begituh.. ya gak ?? Itulah salah satu alasan mengapa laki-laki kalo ada masalah bukan dibicarain baik-baik tapi langsung baku hantam, heheh..

Wanita : Berbicara Merasa lebih baik dengan membicarakan masalahnya.
Kalo ada masalah diriku juga cenderung lebih suka dibicarain. Lebih plooooongggsss... No Action, Talk Only, halah! Itu kenapa kalo wanita itu suka cekcok perang mulut kan, beda ama lak-laki yang langsung dezziiiggghhh ala jet lee! 

10. Laki-laki : Saat STRESS : cenderung menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan atau menarik diri.
Betul.. betul.. kayak adekku, dia kemaren ada masalah izin buat kabur dari rumah sementara, alasannya mah mau nenangin diri.. anak yang aneh.. kabur kok bilang-bilang, wekekek.
Wanita : Saat STRESS : Semakin terlibat dengan orang lain, lebih banyak berbicara agar dapat didengarkan dan dimengerti.
 Betul banget, khususnya untuk diriku. Kalo aku stress makanya suka nyari orang buat tempat cerita, pinginnya didengerin dan dimengerti *cieeeh*, malesnya lagi, kalo dapet tempat cerita yang malah nasehatin panjang lebar, gak salah sih, tapi kan plis dong! Aku lagi butuh mencurahkan, bukan dicurahkan *halah*.

11. Laki-laki :  Kebutuhan utama: dihormati (dipercaya, diterima, dihargai, dikagumi, diteguhkan, didukung)
Iya bangeeeeetttt... setuju dah!
Wanita : Kebutuhan utama: di-ayom-(diperhatikan secara lembut, dimengerti, dihormati, dilindungi, diteguhkan, penghiburan). 
Iyalah... udah fitrah tiap individu kaleee.. Laki-laki begeneh, wanita begituh...


12. Laki-laki : Kata-kata digunakan untuk menyampaikan fakta dan informasi.
 Iya, laki-laki jarang bicara. Talk Less Do More, *jiaaaaah*. Makanya, laki-laki itu jarang nge-gosip, beda ama wanita yang mulutnya udah kayak ikan cue' ngomongin orang, dih, naudzhubillahi min dzalik. Tapi gak dikit juga laki-laki yang bawel, dan aku nggak suka banget ngeliatnya.

Wanita : Kata-kata merupakan sesuatu yang alami, sama halnya seperti bernafas.
Makanya jadi sering ngomongin orang. Alangkah baiknya apabila sifat yang dimiliki wanita ini digunakan untuk menyerukan amar ma'ruf nahi munkar, menasehati kawan-kawan yang masih tersesat di belantara dunia *tsaaaah, bahasane!*, pilih Icha jadi kontak Ustazah anda! Coblos nomor 27 ! *hahahaha =))*.
Naaaah, gimana.gimanaaaa...? udah terlihat kan beberapa sifat laki-laki dan wanita 'in generally' menuruuuut, Om John Gray VS diriku sendiri. Jadi jangan protes yak...
Gak ada debat kusir, gak ada tawar menawar, kritik dan saran seperti biasa : Ditampung ama gayung..:P :D

Barakallahufikum..jabat erat dan salam hangat
Wassalamualaikum

http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-bedanya-aku-perempuan-dan-dia-laki-laki-/175925672436088

Ternyata Aku Belum Dewasa


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
===========================

Hheu, judulnya itu loh, akhirnyaaa... nyadar juga kaw, cha..! , ups, bukan maksudnya belum dewasa dalam arti umur ya, kalo soal umur sih, hmmm... emang sih belum bisa dibilang dewasa dalam arti sebenarnya, tapi dibilang anak-anak pun sudah lama masa itu pergi *tsaaah*. Remaja. Oke deh, mungkin itu status yang tepat untuk diriku saat ini.
Belum dewasa saat ini mau lebih kutekankan pada hal SIKAP. Ya, sikap. Kenapa belum dewasa? Well, manusia udah bisa dibilang dewasa semenjak dia sudah baligh, tapi belum tentu orang yang sudah baligh itu benar-benar bisa disebut 'dewasa'.
Trus kenapa kamu ngejudge diri kamu tuh belum dewasa, cha?
Hmm, jadi gini nih ceritanya...
Tadi, pas istirahat siang jam 10, aku kan nemenin temenku yang mau ke kamar mandi. Otomatis ngelewatin mushalla, dimana sebelum mushalla itu ada Mading DKM untuk organisasi Rohis mahasiswa. Nah, pas aku liat tuh mading, beuuuuh, rasanya semangadh pisan, soale beberapa hari yang lalu, aku en' anak-anak Rohis yang lain sibuk siapin bahan-bahan untuk mading yang bakal ngangkat tema Palestina. Aku serius deh, seneng buangep, pas dari hari Senin yang lalu udah bawa bahan-bahan yang ada buat ditempelin di mading, tapi apa daya, kakak yang megang kunci madingnya sakit, dan baru masuk hari Kamis.


Hari Kamis pun, aku udah sms Mas'ulah-nya, minta kakak yang megang tuh kunci jangan pulang dulu, soale anak-anak teknik memang pulang lebih awal dari biasanya. Tapiiiiiiiiiii... pas aku ketemu mas'ulahnya, beliau berkata kakak yang megang kuncinya sudah pulang!!! WHAT?! Shock banget, sedih, kecewa, padahal aku udah semangat banget pingin nempel tuh mading, biar orang-orang, warga satu kampus tau tentang Palestina. Yawdah, karena udah frustasi, capek, sedih, dan kecewa, semua tuh bahan-bahan mading kukasih ke mas'ulahnya, biar dia aja yang ngurus.
 Pamflet yang awalnya kusaranin difotokopi biasa aja, tapi dia kekeuh mau di print warna, karna udah sebel saranku gak didenger, dan mas'ulahnya pun tipe orang yang agak memaksakan kehendak, yawdah kukasih tuh semua bahan-bahan mading ke dia. Terserah mau diapain. Aku mau pulang pun dia cuma bilang "makasih..", dan gak merhatiin karena perhatiannya terfokus pada cewek cakep yg sedang diajaknya ngobrol di situ. Huftt.. Mangkel banget, mbok ya didengerin bentar aja! Hhiks...
Nah, hari ini... huaaaaaahhhhh... sedih banget pas liat mading! Beberapa artikel yang udah kukasih cuma ditempel 1 biji! bayangin, sebuah mading cuma ditempel 1 artikel! Yang lainnya cuma berupa gambar-gambar dan ayat. Yaa Allah! Sedih banget... hhiks... Gimana warga kampus mau tahu dan bisa tersentuh untuk peduli kepada saudara-saudara kita di palestina kalo propaganda di mading cuma gitu doang???? Alasannya artikel-artikel yang kukasih gak sesuai dengan konsep yang dibikin oleh kakak divisi syiar. What?!
Hiks, sedih... alasannya sepele banget... trus kenapa? Bahasan tentang Palestina kan bersifat universal, gak ada konsep pun sebenernya gak masalah. Ok deh, gak salah mereka bikin konsep, tapi bukan berarti yang gak sesuai dengan konsep jadi dibiarin gitu aja, padahal hal itu pun merupakan info! Ah... kecewa....
Aku yang yang biasanya gak enakkan dan gak bisa marah, tadi berubah menjadi Icha yang penuh kekesalan, dan pundung! Udah capek, mading jadinya gak sesuai dengan apa yang tadinya kubayangkan, lagi dapet 'tamu' pula, kakak ktingkat di Rohis gak dengerin pendapatku, dicuekkin, gimana aku gak sensi???? Makanya tadi aku diem aja. Stress! Ampe mas'ulahnya nanya,
"Icha kenapa? Kok diem aja? Gak kayak biasanya..."
Kujawab aja, "Gapapa..."
Yaiyalaaaah... gimana gak kesel. Omongan gak didenger, kayak pendapatku ditanggepin "hmmm.." doang udah beres. Apalagi aku orangnya kagak enakkan dan merasa bahwa "Aku ini adek tingkat", makanya kagak berani protes ke kakak-kakak  itu. Huff, hiks... serius pingin nangis banget!


Mas'ulahnya pun panikkan, ada masalah dikit langsung yang gimanaaa gitu, ngeliatnya juga jadi capek sendiri, kurang tegas dan kurang bisa mengambil sikap, jadi kayak bingung sendiri, aaah.. andai aku bisa berkata ke dia segampang aku nulis di MP ini... T___T.
Kadang suka berpikir,
"Aku pingin keluar dari Rohis!", karena entah kenapa berada di Rohis membuat aku tambah pusing, Rohis sekarang gak sesuai dengan apa yang kubayangkan sebelum pada akhirnya aku memutuskan untuk bergabung di organisasi itu. Dan aku berpikir, mending dakwah sendiri, lebih enak, gak ada yang ngatur-ngatur, gak terkekang dengan status "adek tingkat" dimana aku jadi gak bebas untuk berpendapat dan mengkritik.
Tapi kenyataannya kan gak segampang itu! Gabung di Rohis kan gak sekedar dakwah, tapi belajar berorganisasi juga. Belajar mendengar dan didengar orang. Belajar hidup bermasyarakat dan bersosialiasi, dan hal itu gak mungkin kan kulakukan kalo aku cuma sendiri!
Ya, itulah, mengapa aku berpendapat, bahwa aku belum dewasa, karena pikiranku pun masih pendek, masih mengedepankan emosi tanpa berpikir terlebih dahulu. Gak sesuai dikit langsung pundung, ngambek. Untung aja aku bukan tipe orang yang bisa marah lama-lama, kalo nggak, hiiii... naudzhubillah deh!
Tapi ya mungkin itulah pelajarannya dari peristiwa yang baru kualami. Gak semua bisa berjalan lancar sesuai harapan. Inilah ujian dalam dakwah, dalam berorganisasi. Kita berhubungan dengan orang lain, makhluk sosial, kan karakter semua orang itu berbeda, dan di sinilah tantangannya, dimana jika ada orang yang berbeda dengan kita, apakah kita masih bisa bertahan? Dari peristiwa ini aku belajar, aku bercermin, aku memang belum dewasa... Pikiranku masih pendek. Masih gampang pundung, gampang ngambek. Layaknya anak kecil yang merengek untuk dibelikan balon, dan menangis jika permintaannya tidak dituruti.
Ya, lagi-lagi aku belajar. Ya, belajar. Belajar tak sekedar akademik dengan nilai-nilai bagus. Yang lebih penting belajar dalam proses kehidupan. Ini jauh lebih berat. Apalagi kalo udah terjun di masyarakat, berbaur dengan orang banyak, menyesuaikan diri dengan karakter orang-orang yang beraneka ragam dan tentu tak jarang tak sesuai dengan diri kita. Tapi lagi-lagi kukatakan, ini belajar, proses belajar. Belajar memahami orang lain, belajar menjadi pemimpin yang baik, belajar agar bisa diterima orang banyak, dan tentunya tadi...
BELAJAR UNTUK MENJADI LEBIH DEWASA...I hope, I can...
Allahumma Aamiin...



Barakallahufik
Wassalamualaikum

http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-ternyata-aku-belum-dewasa/174722662556389

Terpaut 6 Tahun Emang Kenapa ?


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
==============================

Begini loh *hmm, mikir,darimana ya mulainya*, apa pendapat kalian tentang orang-orang yang menikah dan umur antara keduanya terpaut cukup jauh?
Eiiiitttt...jangan protes dulu ah, mentang-mentang aku belum cukup umur masalah begini, tapi kan ini pertanyaan, dan sedikit pendapat tentu saja *kritis mode ON ^ ^*
Kenapa kok icha tiba-tiba nanya kek gitu?
Hari ini, berchat-chat ria dengan seorang akhi fillah *sapa hayooo :p*--> sepupuku di jakarta, ia mengatakan bahwa beliau ndak tau akan nikah dalam waktu dekat ato nggak, yang ia katakan hanya, "Wallahu A'lam"


Kenapa?
Karena katanya calonnya (yang wallahu a'lam juga benar-benar jodohnya atau tidak), masih kelas 2 SMA, sedangkan dia sendiri sudah berumur 21 jalan 22, lantas kenapa?
Umur anak kelas 2 SMA itu berarti 16, jalan 17, sedangkan sepupu tersebut 21, mereka berjarak 5 tahun,dan apakah itu salah?
Oke deh, 5 tahun itu masih bisa dibilang wajar, tapi gimana dengan orang-orang yang terpaut lebih dari itu? belasan tahun misalnya, apakah salah?
Aku cuma heran, kok jaman sekarang kayaknya masih banyak orang yang menganggap pernikahan dengan jarak umur yang terpaut jauh itu aib, memalukan, dan sejenis itu? Padahal kalo kita flashback ke jaman dulu, jaman-jaman ayah ibu kita, mungkin itu sudah dianggap menjadi hal yang lumrah, yang wajar, beda dengan jaman sekarang yang bahkan tak jarang teman-temanku sendiri tertawa kalo ada yang bilang kalo orangtua dari salah satu teman kita berjarak cukup jauh.
Sebagai contoh, waktu itu lagi pelajaran Bahasa Inggris, terus entah bagaimana tiba-tiba teman-temanku yang memang lagi pada ngumpul di mejaku berdiskusi tentang pernikahan, temanku Akbar, bercerita tentang Ayah Ibu nya yang berpaut umur 10 tahun. Terus Nanda bercerita tentang Ibunya yang nikah ketika berumur 19 tahun. Diskusi yang lumayan seru, dimana saat itu aku jadi penengah, hahah...
Ya, teman-temanku itu masih belum bisa nerima kalo mereka nanti misalnya berjodoh dengan orang yang umurnya terpaut lumayan jauh dengan mereka.
Yang ada nanti dibilang,
"Ih..sukanya ama yang tua-tua.."
Yang tua dibilangnya,
"Ih...pedofil..suka ama anak kecil.."
Dan, hohohoo, aku hanya bisa tertawa mendengarnya .
Pernah juga denger percakapan 2 anak SMA (kelas 2 atau 3 mungkin),di dalam sebuah angkot, waktu itu aku hanya berperan sebagai pendengar yang baik, karna suara mereka pun cukup keras dan mengundang orang untuk mendengarnya ^ ^.



Jadi, perempuan yang satu minta dicariin cowok ama temennya yang satu lagi. Terus cewek yang diminta nyariin cowok buat temennya itu nawarin kakaknya, kalimat yang ku ingat meluncur dari cewek tersebut adalah,
"Gue nggak mau ama yang tua-tua banget, maksimal kuliah tingkat awal lah, jangan ampe yang seumuran ama kakak gue.."
Oalah, mbakyu....
Terus tadi juga sempet chat ama kakakku, beliau bercerita tentang nenek beliau yang menikah dengan kakek beliau dan terpaut jarak 17 tahun! Subhanallah...............
Nenek beliau pun menikah umur 14 tahun saat itu.
Pendapatku tentang masalah ini, hmm..ya biasa-biasa aja sih, emang ada masalah? mau jarak setaun, 2 taun, 5 taun,6 taun,10 taun, kalo memang sudah jodoh dan ketentuan dari Allah ya mau gimana,ya nggak?
Malah aku pernah liat di tipi, kakek berumur 80 tahun, menikah dengan wanita berumur 30-an, subhanallah bayangkan saja,beda umur mereka udah kayak jarak umur seorang kakek dengan cucunya...
 Contoh yang paling utamanya aja deh, teladan kita Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam jaraknya dengan Bunda Khadijah berapa? 15 tahun, dan Bunda Khadijah lebih tua dari beliau. Terus, Rasulullah dengan Bunda Aisyah, berapa tahun coba jaraknya?
Dan itu kan bukan sesuatu yang dilarang, kalo dilarang agama, nah! Baru lah boleh dianggap aib, memalukan, dan sejenisnya...begitu, sodara sodari..^ ^
Masalahnya itu yang tua mau ndak nungguin yang muda, itu saja, hehehe...
Kalo aku pribadi sih lebih ngutamain yang lebih tua dariku daripada yang seumuran *hha*. Why? Karna aku anak sulung, makanya aku pingin ngerasain bagaimana mempunyai seorang kakak *hhe* .
Yawiss itu saja lah, afwan jiddan kalo ada kata-kata yang salah dan ndak berkenan di hati, nulis ni tulisan nggak ada maksud apa-apa, hanya ingin berekspresi melalui kata-kata *halah* :p

Barakallahufik


Wassalamualaikum

http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-terpaut-6-tahun-emang-kenapa-/173946619300660