Mengenai Saya
Laman
Kamis, 13 Januari 2011
Life Is Beautifull
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Hidupmu indah...
Bila kau tahu jalan mana yg benar…
Harapan itu ada... ada dan nyata...
Bila kau percaya...
Hmmm.. sebuah lagu yg optimis, penuh kecerian dan membangkitkan harapan.. Bukankah memang begitu seharusnya kita memandang hidup ini?? Disaat kesulitan menghadang, yakinlah bahwa pertolongan Alloh itu pasti kan datang..Lagipula pasti ada hikmah dibalik setiap cobaan yg Alloh berikan.. atau anggap saja itu ujian tanda sayang.. yg akan memberikan kita kunci menuju surga ketika berhasil melewatinya dg sabar dan ikhlas..
Seringkali dalam hidup, kita (saya terutama) menganggap diri sebagai manusia paling menyedihkan di dunia. Menjalani hidup yg kacau, tanpa kendali. Membuat sikap pesimis semakin menjadi-jadi.. Seolah semua hal dalam hidup adalah buruk dan bagaikan persoalan tanpa jalan keluar..
Berlebihan... berlebihan dalam memandang masalah yg datang menghadang, yg sebenarnya tak sebegitu rumit ketika coba dilihat dg pikiran dan hati yg lebih jernih...
Masalah, peroblem, persoalan atau apapun-lah namanya adalah suatu hal yg harus dihadapi dan diselesaikan.. bukan hanya untuk dipikirkan, diratapi, dan ditangisi.. apalagi jika kemudian malah lari.. Kau pikir bisa menjalani semuanya dg mudah??! Hidup butuh perjuangan, non!!
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Alloh orang2 yg berjihad diantara kamu, dan belum nyata orang2 yg sabar.”
Malu...
Malu-lah kepada anak2 yg hidup di kolong jembatan dan perlu susah payah mengais rizki hanya untuk mendapat sesuap nasi...
Malu-lah kepada para korban bencana yg kehilangan harta benda dan sanak saudara..
Malu-lah kepada saudara kita di Palestina, Irak, Afghan yang jelas2 lebih menderita...
Persoalan hidup yg mereka hadapi jelas jaauuuuhhh lebih berat dari apa yg saya alami.. mereka mengeluh, menangis, meratapi nasib.. wajar? wajar bagi mereka dengan segala problema dan keterbatasan yg ada.. dimana nyawa seakan amat murah harganya...
Tapi saya?? Alloh telah memberikan banyak hal dalam hidup saya, yg takkan terhitung dan terlukiskan dg kata2.. hanya saja, terkadang saya lupa, atau malah sengaja melupakannya??
“Fabiayyi alaa i robbikuma tukadzibaan…”
Lalu nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan..??
Hhhhhhh….
Saya berjanji helaan nafas kali ini bukanlah satu bentuk keluhan lagi..
Ini hanya satu bentuk upaya untuk menenangkan diri, meyakinkan hati bahwa hidup memang indah...
Terutama ketika kita menjalaninya hanya untuk meraih ridho Alloh semata...Amin dan semoga.
Barakallahufikum
Wassalam…
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-life-is-beautifull/184234214938567
Akhwat Kok Gitu…?
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Kemaren pas iseng2 surfing ke google.. Nemu salah satu postingan di blog orang yang intinya menyiratkan kekecewaan mendalam dari sang penulis akan sosok2 yg mendapat panggilan ‘akhwat’. Dan agak risih juga ketika panggilan tersebut hanya diidentikkan dengan jama’ah tertentu yg akhirnya membuatnya malas dan bahkan antipati mengikuti kegiatan2 yg diadakan jama’ah yg dimaksud.
Ia juga mengkritik betapa anggota jamaah tersebut terlalu berkutat dalam simbol2 dan sibuk membenahi sisi luar saja, tanpa berbanding lurus dg ruhiyahnya.. Saya rasa tidak ada yg kaget ketika ia menyebut secara eksplisit bahwa yg dimaksud adalah komunitas Tarbiyah…
Hmmm.. postingan tersebut benar2 berkesan di hati saya dan gak munafik dalam beberapa hal saya sepakat dg sang penulis. Tapi, merasa sebagai salah satu “tertuduh”, saya jd pengin memberi tanggapan yg murni hasil pemikiran saya sendiri.. Perlu dicatat, sama sekali bukan representasi dari akhwat (baik yg dipanggil maupun merasa sebagai) lain loh..
Saya sendiri sering bertanya2 sampai batasan apa seseorang kemudian pantas mendapat ‘gelar’ akhwat (terlepas dari makna aslinya).. karena jilbab lebarnya?? Karena dia ikut liqo’ pekanan?? Karena ia aktif dalam kegiatan2 keIslaman?? Entahlah… Menurut saya, tampilan2 fisik memang tak bisa digunakan sebagai ukuran ketakwaan seseorang.
Tak jarang keluar celetukan seperti ini:
“Akhwat koq ketawa cekakakan di jalan??”
“Akhwat koq gak jaga pandangan??”
“Akhwat koq keluar malem??”
“Akhwat koq cair banget interaksi ma lawan jenis??”
“Akhwat-ikhwan koq sering sms-an mesra..??”
bahkan yg lebih ekstrim, “Akhwat koq pacaraaaaan???!!!! –walo gak pernah mau ngakuin klo si dia itu pacar, calon suami lebih tepatnya. hehew...--
Menurut saya..Sebenarnya, itu semua tergantung pada pribadi masing2. Hidup adalah pilihan. Apakah akan mengikuti aturan yg ada atau berjalan melenceng dari yg sudah ditentukan. Kekecewaan terhadap sebagian anggota jama’ah bukan berarti menjadi justifikasi untuk men-cap buruk sebuah jama’ah secara keseluruhan.. Setiap manusia berhak dinilai sebagai diri sendiri tanpa embel2 kelompoknya.. Bukankah di yaummil akhir kelak Allah akan menghisab kita secara individual??
Tentang keharusan seorang ‘akhwat’ untuk begini dan begitu… Menurut saya, setiap kita membutuhkan proses dalam belajar.. belajar memperbaiki diri.. belajar menjadi muslimah sejati... Tapi kelakuan yg masih jahilliah sekalipun tidak menghapus kewajiban seorang muslimah untuk berjilbab bukan?? Sama seperti kewajiban sholat. Dan kita semua tahu bahwa jilbab yang benar ialah yg menutup aurat sepenuhnya dan tidak membentuk lekuk tubuh. Amat aneh bagi saya jika seseorang memutuskan untuk tidak berjilbab secara benar hanya kerena merasa kelakuannya masih nggak beres, sama anehnya dengan orang2 yg berpikir bahwa "tidak sepantasnya seorang akhwat memakai pakaian takwanya secara sempurna jika tidak bisa mencerminkan sosok akhwat sejati".
Tentu saja proses belajar itu tidak selamanya bisa jadi pembenaran. Jika benar2 belajar, tentu akan ada perbaikan akhlaq dan perilaku dari hari ke hari. Tapi, jika dalam sebuah kasus, ada seorang muslimah berjilbab lebar melakukan hal kurang pantas dan memang tidak berupaya memperbaiki diri, apa lantas kita akan menyuruhnya untuk menanggalkan jilbab lebarnya??!! Berhak-kah kita mengatakan, “Kamu nggak pantes pake jilbab ini, ganti aja ma yg lebih mini..” . Hmmm, begitukah??!! Berjilbab secara benar adalah kewajiban SETIAP MUSLIMAH, terlepas apakah dia komit terhadap agamanya ataupun tidak!!
Kemudian soal mengapa harus mengikuti halaqoh beserta wajibat2 yg dibebankan… Kita memang bisa melakukan ibadah2 individu tanpa di-opyak2 murobbi sekalipun… Tapi yakinkah kondisi keimanan akan terus tetap terjaga?? Dengan adanya halaqoh, kita punya keluarga baru, saudara2 yg saling mengingatkan juga pembimbing yg mengarahkan kita menuju perbaikan, Insya Allah.. Mengetahui amal saudara yang jauh lebih baik otomatis akan membuat kita malu dan terpacu untuk berbuat lebih baik lagi..
Mengurangi keikhlasan?? Entahlah, tapi saya tetap percaya kita diharuskan untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Layaknya Umar ra yang merasa malu terhadap Abu Bakar ra yg begitu dermawan, sehingga memutuskan untuk menyerahkan separuh harta miliknya untuk perjuangan kaum muslimin. Tapi ternyata Abu Bakar berkorban lebih dari dirinya, seluruh harta miliknya ia serahkan… Salah satu hal yg membuat Umar tak henti mengagumi sahabatnya tercinta. Saya yakin niat kedua sahabat yg mulia ini murni hanya karena Alloh dan Rasul-Nya, tinggal bagaimana kita menjiwai semangat mereka dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata…
Murobbi gak beda ma mak comblang??
Bisa iya, bisa tidak… mungkin itu salah satu peran yg diambil murobbi, tapi bukan hanya itu kan?? Lagipula seorang murobbi dengan kepahamannya, tentu akan menjadi mak comblang syar’i. Memang hak untuk menikahkan seorang anak ada pada ayahnya, dan keberadaan murobbi dalam proses ini pun sama sekali tidak menghilangkan hak itu.. Tapi, kalau mau jujur, masih sedikit orang tua yang memiliki pemahaman baik dalam menentukan kriteria menantu idaman.
Di keluarga saya, hanya dg rajin sholat (walo gak di awal waktu), sering membaca alquran, dan bersikap sopan, itu sudah cukup membuat seseorang dianggap sholih. Dan kriteria “mapan” menjadi hal yg amat menentukan.. Lagipula, yakinkah orang tua akan bisa menyelenggarakan proses ta’aruf syar’i, jika mereka bahkan belum paham seperti apa sesungguhnya konsep ta’aruf itu?? Bagi anak yg memang memiliki keluarga yg sudah terbina saya yakin prosesnya akan langsung ditangani oleh abi-umminya..
Satu lagi, panggilan ‘akhwat’ memang identik dengan muslimah yang sudah terbina, tapi bukan berarti hanya milik komunitas tarbiyah saja.. Bukankah Salafi, HT,MR juga jama’ah lain menggunakan istilah2 akhwat, ikhwan, akhi, ukhti.?? Dan saya rasa penggunaan istilah2 semacam itu tidak bisa disebut sebagai penggunaan simbol belaka.. Kitab suci kita saja berbahasa arab, apa salahnya kita coba menggunakannya dalam kehidupan sehari2 semampu kita??
Tapi, saya setuju dengan pendapat penulis bahwa tidak sepantasnya kita membanggakan panggilan ‘akhwat’. Toh, itu hanyalah istilah.. Bukan… bukan ‘gelar’ itu yang hendak kita raih.. bukan nilai tinggi dihadapan sesama manusia yg coba kita cari.. melainkan ridho Allah dan ampunan dari-Nya.. hanya itu.. hanya itu…!! Silahkan di feedback. saya tunggu sharingnya yach...! Sekali lagi, INGAT..BUKAN BERDEBAT !
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam..
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-akhwat-kok-gitu/184146851613970
"Kening Hitam"
Kau tentu pernah bertemu dengan lelaki berkening hitam. Hitam tidak secara keseluruhan, melainkan hanya pada bagian kening tengah atas di antara dua alis, persis dibawah ujung rambut bagian depan. Tepatnya, bagian kening yang digunakan untuk mencium sajadah setiap kali solat.
Apa yang kau pikirkan ketika melihat lelaki berkening hitam seperti itu ? Tentu kau akan berkesimpulan, bahwa lelaki tersebut adalah lelaki yang alim, lelaki yang rajin mencium sajadah, lelaki yang tak pernah meninggalkan solat lima waktu, lelaki yang rajin bangun malam-malam untuk tahajud dikala orang lain molor di tempat tidur.
Lelaki berkening hitam tidak hanya ditemukan di masjid-masjid. Kau bisa menemukan di kampus, di kantor, pasar tradisional, kantor pos, bahkan mungkin di mal-mal. Bisa jadi dia seorang dosen, kyai, mahasiswa, pedagang, sopir angkutan kota, atau profesi lainnya.
Dan tahukah kau, malam ini, Markum, seorang pelajar berotak pas-pasan sebuah SMA swasta di Jakarta, saat ini tengah memikirkan keningnya yang tidak hitam. Markum bingung luar biasa. Bukan apa-apa, belakangan ini dia tak pernah meninggalkan solat lima waktu. Dia selalu mengerjakan solat sunat, baik sunat bakdiah maupun sunat qobliah. Bahkan, setiap kali solat, Markum sengaja menekan-nekan bagian ujung keningnya supaya bisa hitam. Namun, tetap saja tidak pernah menjadi hitam.
Kau tentu paham maksudnya. Markum ingin sekali punya kening hitam, seperti kening lelaki berkening hitam yang ia temukan di berbagai tempat. Keinginan punya kening hitam ini bermula ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Elliza. Elliza adalah gadis cantik berkerudung, putri tunggal seorang guru agama di sekolahnya. Hanya saja, Elliza bersekolah di ibtidaiyah.
Pertemuan Markum dengan Elliza terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu Markum mengantar Pak Habiburahman Saerozi, guru pendidikan agama Islam lulusan Mesir yang tak lain wali kelasnya, pulang dari mengajar. Pak Habib menyuruh Markum mampir sebentar untuk minum.
Markum, dengan senang menuruti kemauan Pak Habib yang baik hati. Saat itulah Markum melihat Elliza, yang membawa minuman untuknya. Pak Habib pun memperkenalkan Markum pada putrinya itu, dan juga keponakan laki-lakinya, serta istrinya. Istri Pak Habib perempuan Mesir. Berwajah Arab dengan hidungnya yang mancung. Wajah Elliza mirip sekali dengan ibunya.
Saat bertemu itulah Markum merasa tertarik ingin menjadikan Elliza seorang teman dekat. Tetapi tentu tidak mudah mewujudkan keinginannya itu. Markum pun melakukan berbagai usaha. Di antaranya adalah, menjadi cowok yang alim. Cowok yang tekun ibadah.
Kau tentu sulit membedakan, siapakah di antara anak-anak lelaki yang rajin ibadah atau tidak? Dan Markum berkesimpulan, bahwa lelaki yang bisa disebut alim adalah lelaki yang rajin solat. Lalu, bisakah orang lain menentukan apakah seorang cowok seperti dirinya rajin solat atau tidak. Hmmm… lihat saja keningnya!
Markum selalu membayangkan seandainya keningnya bisa menjadi hitam, seperti seoarang lelaki yang rajin solat. Pak Habib, guru agamanya yang sangat baik hati itu, keningnya hitam. Keponakan laki-laki Pak Habib, keningnya juga agak hitam. Kenapa kening Markum tidak bisa hitam?
Selain berkening hitam, masih menurut Markum, lelaki yang bisa dicirikan sebagai orang alim, adalah lelaki yang berjenggot. Tetapi janggut Markum tak tumbuh jenggot. Licin. Seperti kepala profesor yang botak. Seandainya jenggotnya lebat, ditambah lagi keningnya menghitam, oh… Markum pasti akan senang sekali. Sayang beribu-ribu sayang, semua itu hanya mimpi.
Untuk mewujudkan keinginannya, Markum pun berencana melakukan berbagai cara. Salah satunya, setiap malam, Markum akan menempelkan jidatnya di lantai, dengan kedua kaki berada di posisi atas, menempel di tembok. Namun untuk melakukannya tidak semudah yang dibayangkan. Masalahnya, orang-orang rumah selalu iseng bertanya padanya, mengapa ia melakukan hal itu.
”Bang Markum, Abang lagi ngapain?” tanya salah satu adiknya, ketika Markum mulai menempelkan keningnya di lantai, dengan posisi kedua kaki menempel di dinding.
Markum pun menjawab, bahwa ia sedang olahraga senam.
”Senam apa?!!”
Senam apa? Markum jadi bingung. Tapi Markum tidak hilang akal, ”Ini namanya senam keseimbangan!” jawabnya kemudian. Adiknya yang bertanya mengangguk-angguk. Di kemudian hari, setiap kali Markum melakukan hal yang sama, yakni ’senam keseimbangan’ itu, adiknya latah ikut-ikutan.
Setelah kurang lebih dua minggu melakukan kegiatan seperti itu, tidak disangka-sangka, kening adiknya menjadi hitam! Boleh jadi, kening itu sering menempel di lantai, menjadi tumpuan beban tubuhnya yang berada di atas saat melakukan gerakan senam asal-asalan itu.
Meskipun begitu, tidak bagi Markum. Kening Markum ya tetap begitu-begitu saja. Tidak hitam sama sekali seperti kening adiknya. Mengetahui keningnya menjadi hitam, adiknya menjadi marah pada Markum.
”Bang, ini kening Markam kok jadi item?” protes Markam, adiknya Markum.
”Salah kamu sendiri! Kenapa ikut-ikutan senam itu?”
”Wah, gimana dong, Bang? Markam jadi malu nih…”
”Biarkan saja. Nanti juga hilang sendiri!”
Benar saja, setelah tidak lagi melakukan senam itu, kening Markam tidak jadi hitam. Tapi aneh bagi Markum, meskipun masih melanjutkan gerakan-gerakan senam itu keningnya masih juga belum hitam.
Suatu malam, saat tengah sendirian di kamarnya, Markum pun menatap keningnya di cermin, sambil tangannya memegang pisau dapur. Apakah yang hendak Markum lakukan??!
”Kenapa keningku masih tetap nggak bisa hitam?” tanya Markum pada dirinya sendiri.
Markum meraba-raba ujung keningnya itu, membayangkan seandainya bisa menjadi hitam. Lalu ia tatap pisau di tangan kanannya, dan menempelkannya di kening. Rupanya, Markum berniat untuk melukai keningnya dengan pisau, agar menjadi luka. Dengan begitu, kemungkinan kening menjadi hitam bisa terwujud dari luka keningnya nanti. Demikian pikir Markum.
Belum sempat melukai keningnya, Ibunya membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, membuat Markum terkejut.
”Markum! Kamu lagi ngapain?”
”Eee… eee….” Markum gugup. Ibunya menatap pisau dapur di tangan Markum dengan tatapan menyelidik.
”Bu, Markum lagi mencukur jenggot…” ucap Markum kemudian, sambil mengarahkan bagian pisau yang tajam ke dagunya. Ibunya bertambah bingung.
”Cukur jenggot? Memangnya kamu punya jenggot?!”
”Baru mulai tumbuh, Bu.”
”Kalau kamu mau mencukur jenggot, kenapa nggak pakai cukur jenggot Ayah?”
Markum terdiam, lalu menurunkan pisaunya.
”Tunggu sebentar ya, akan Ibu ambilkan.”
Ibu Markum keluar. Tak lama kemudian ibu Markum sudah kembali sambil memberikan alat cukur pada Markum. Setelah itu ibu Markum keluar lagi. Markum memegangi alat cukur jenggot itu, lalu menatap wajahnya di cermin sambil menempelkan cukur jenggot ke dagunya. Apa yang akan ia cukur, sementara dagunya tak tumbuh jenggot?
Pekan berikutnya, ketika keningnya masih belum bisa jadi hitam, Markum mendapat undangan dari Pak Habib. Pak Habib mengundang Markum berkenaan perpisahan Pak Habib yang sudah tidak lagi mengajar di sekolah Markum. Pak Habib pindah mengajar di sekolah lain.
Ini merupakan kesempatan emas buat Markum. Markum merasa menjadi sangat terhormat. Markum tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Sebelum berangkat ke rumah Pak Habib, Markum mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Pikir Markum, di rumah Pak Habib nanti, Markum tidak hanya bertemu dengan Pak Habib saja. Ada istrinya, sepupunya, dan tentu saja putrinya yang cantik, Elliza!
Markum berpikir keras bagaimana ia bisa mempersiapkan diri sebaik mungkin. Aha! Markum punya akal. Markum yakin usahanya kali ini tidak akan gagal, yakni bagaimana membuat keningnya menjadi hitam. Kening seorang laki-laki alim. Markum meraih spidol di meja belajarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Markum memoles keningnya dengan spidol itu. Hitam!!
Kini kening Markum benar-benar hitam, layaknya kening laki-laki yang rajin solat! Dengan bangga, Markum pun segera berangkat ke rumah Pak Habib. Tak peduli orang-orang di rumah pada keheranan, Markum dengan percaya diri siap menghadapi undangan Pak Habib dan keluarganya.
Di rumah Pak Habib, Markum disambut dengan ramah. Menurut Markum, keluarga Pak Habib tidak bersikap aneh seperti orang-orang di rumahnya, soal keningnya yang hitam. Markum duduk di dekat Pak Habib, di antara sepupu Pak Habib, istrinya, dan Elliza. Mereka bercakap-cakap seputar kehidupan dan kegiatan masing-masing.
“Keluarga Pak Habib sekarang sudah tahu, bila keningku ini hitam,” ucap Markum dalam hati, ketika tengah bersama-sama keluarga Pak Habib.
Betapa bangganya Markum, memperlihatkan keningnya yang hitam di depan Pak Habib sekeluarga. Pasti Pak Habib dan keluarga sekarang tahu, bahwa dirinya lelaki yang alim, karena berkening hitam.
Menjelang maghrib, sebelum makan malam, Pak Habib mengajak semua orang untuk solat maghrib. Dengan semangat empat lima, Markum bangkit dan segera mengambil air wudlu. Ini pertama kalinya bagi Markum, solat berjamaah dengan keluarga Pak Habib.
Saat selesai mengambil wudlu, Markum merasakan sesuatu yang aneh. Air di lantai kamar mandi menjadi hitam. Markum mendapati telapak tangannya juga hitam. Markum menatap wajahnya di cermin kamar mandi, dan keningnya yang tadi hitam perlahan luntur. Markum mengusap keningnya. Tidak lagi hitam!
Markum pusing, karena saat itu ia tidak akan mampu mengembalikan hitam di keningnya. Markum kebingungan. Bila kau menjadi Markum, tentu kau juga akan bingung. Tapi aku yakin, kau tentu tak akan bertindak sebodoh Markum.
Dan tahukah kau, siapakah Markum sesungguhnya? Markum tak lain adalah aku!
Mengingat kejadian itu, aku suka tersenyum sendiri. Aku tidak mau menceritakan bagaimana sikap Pak Habib dan keluarganya waktu itu, setelah melihat aku tak lagi berkening hitam. Aku malu menceritakannya.
Kau tak perlu risau, sekarang aku sadar. Aku tak harus berkening hitam. Tetapi aku semakin rajin solat. Hanya Tuhan yang tahu. Tanpa ada tanda-tanda pada diriku, atau terlihat oleh manusia lainnya, bahwa aku lelaki yang sering mencium sajadah, baik siang maupun tengah malam.
http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/kening-hitam/183433648342958
"Tunggu Aku Di SurgaNya"
Syifa, seorang perempuan shaliha yang tak hanya sekedar cantik, perhiasan iman dan keshalihannya menghiasi setiap langkahnya. Syifa cukup terkenal dikalangan aktivis,bisa dibilang mobilitasnya lumayan tinggi. Syifa mulai memasuki sebuah fase yang sering dialami setiap wanita. Usianya memasuki angka duapuluh lima tahun,hatinya mulai dihiasi rasa rindu yang tak bisa diurai dengan logika.
Perlahan Syifa menyusun kepingan-kepingan keinginannya dan mengumpulkan segenap kekuatan. Ia menemui murabbinya.
“ Mbak Hasna, saya ingin menikah. Tolong carikan saya calon ya Mbak…”
“ InsyaAllah dik,, biodata dan foto adik sudah disiapkan?”
“ Sudah mbak, ini biodata saya..”
“ Oke, adik jangan lupa terus berdoa ya…”
Dengan wajah penuh semangat dan azzam yang kuat, Syifa melangkah meninggalkan rumah Hasna. Sejak itu ia tak pernah berhenti berdoa. Setiap malam ia semakin rajin berkhalwat dengan Rabbnya. Sujudnya semakin panjang menghiasi setiap shalatnya.
“ Ya Rabb, hamba menyerahkan semua padaMu. Engkaulah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba. Hamba hanya ingin seorang lelaki shalih. Yang kan mencintai hamba dengan kecintaanNya padaMu. Yang kan selalu membuat hamba iri dengan ketaatannya padaMu. Hamba ingin seorang lelaki shalih,, yang kan melepas hamba dengan ridha dan keikhlasannya ketika hamba berpulang kepadaMu.. “ Itulah sepenggal doa Syifa..
Hari berganti hari, belum ada kabar dari mbak Hasna. Disatu sisi Syifa gelisah, disatu sisi dia terus berusaha menenangkan dan menguatkan hatinya.
Baru beberapa ia menyerahkan biodatanya, sedangkan diluar sana mungkin ada yang telah menunggu bertahun-tahun. “Ah… harus tetap semangat..!” bisiknya dalam hati.
***
Di tempat lain, sesosok laki-laki shalih, sedang bermunajah di penghujung malam. Hatinya menangis pilu. Beberapa kali hatinya terluka, lamarannya beberapa kali ditolak. Sedangkan usia semakin menunjukkan angka yang semakin tua, belum lagi orangtua yang semakin iba melihatnya tak kunjung bersanding dengan bidadari. Keinginan untuk menikah pun tak bisa dibenddung lagi. Ia tak tahu harus berikhtiar apalagi. Ia hanya bisa mengadukan pada RabbNya, memohon segenap kekuatan dan semangat yang sempat padam.
“ Nak, bapak dan ibu selalu mendoakan kamu. Mungkin yang kemarin-kemarin memang belum yang terbaik buat kamu…”.
Ia, Ahmad, tak kuasa menahan haru ketika teringat ucapan ibunya. Sebagai seorang laki-laki, ia cukup ideal. Ia laki-laki yang shalih, mapan dan dari keluarga yang baik.
Suatu hati, ketika ia beranjak dari tempat duduknya, setelah mengikuti kajian yang diadakan IKADI, ada seorang sahabat menyapanya.
“ Assalammu’alaykum.. Ahmad, apa kabar?”
“ Wa’alaykumsalam, Adit, Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana Dit?”
“ Alhamdulillah, baik. Aku sekarang sudah hampir punya dua anak. Istriku sedang hamil anak yang kedua. Kamu gimana? Sudah menikah?”
Ahmad yang tadinya ceria menyambut sapaan Adit kini berubah sedih. Adit mengajaknya duduk dibawah pohon besar dekat masjid. Pohon rindang yang lumayan menyejukkan. Kemudian Ahmad menceritakan semua kegagalannya menjemput bidadarinya.
“ Ahmad, saudaraku, kamu harus tetep semangat. Aku yakin bidadarimu tidak jauh lagi. Oh iya, kebetulan, adik-adik istriku beberapa ada yang meminta tolong untuk dicarikan suami. Gimana kalo kamu aku bantuin nyari juga? Siapa tahu jodoh?”
“ Bener nih Dit? Kamu serius?”
“ Ya iya lah Mad, urusan begini gak boleh lah main-main.”
Tidak menunggu lama, beberapa hari kemudian Ahmad silaturahim ke rumah Adit. Adit adalah suami Hasna, guru ngaji Syifa. Adit dan Hasna memberikan beberapa amplop tertutup yang isinya biodata muslimah.
Ahmad mengambil satu dan kemudian ia istikharah. Tiga hari kemudian, Ahmad menyampaikan kemantapannya dengan muslimah yang pertama kali dia ambil biodatanya. Biodata yang menuliskan nama Syifa. Hasna pun menyampaikan kepada Syifa hingga proses ta’aruf pun terjadi.
***
Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Keluarga Syifa maupun Ahmad sangat bahagia dan sangat merestui keduanya untuk menikah. Pertemuan keluargapun digelar, kedua keluarga memilih untuk menggelar pernikahan yang sederhana. Semua keluarga terlibat mempersiapkan pernikahan mereka. Termasuk Hasna dan Adit, yang menjadi orang terdekat Syifa dan Ahmad.
Seperti sebuah mimpi yang akan menjadi kenyataan bagi Syifa dan Ahmad. Beberapa waktu lalu mereka masih dalam kegundahan, menanti siapakan belahan jiwa mereka. Beberapa waktu lalu semua masih terbungkus rahasia dan diselaputi misteri. Sekarang? Tak terasa sampai di dua hari menjelang pernikahan.
“ Astaghfirullah, undangan buat temen-temen di kampus ketinggalan…” gumam Syifa. Dengan secepat kilat Syifa bersiap-siap menuju kampusnya. Ia akan menyampaikan undangannya ke teman-teman rohisnya dikampus.
“ Mau kemana nduk? Kok buru-buru gitu?” tiba-tiba ibu menhampirinya.
“ Mau nganter undangan ke temen-temen di kampus Bu, ketinggalan gitu.”
“ Nitip ke teman kamu aja Nduk, siapa gitu, kamu jaga kondisi biar gak kecapekan, kan kemaren udah muter-muter..”
“ InsyaAllah gapapa Bu, sungkan kalo nitip-nitip gitu. Syifa berangkat dulu ya..”
Syifa akhirnya berangkat ke kampusnya naik angkot. Jam satu siang, udara kota Malang sedang panas-panasnya tapi Syifa masih bersemangat. Saat turun dari angkot, menuju gerbang kampusnya ia melihat seorang anak kecil yang lucu sekali. Mirip ketika ia masih kecil dulu, pipinya chubby dan imut. Anak kecil itu begitu aktif, namun tiba-tiba anak kecil itu terlepas dari genggaman ibunya yang sedang merespon sapaan seorang wanita. Anak itu berlarian. Syifa melihat sebuah sedan melaju cepat ke arah anak kecil itu. Reflek Syifa berlari dan mendorong anak itu… Braaaaaakkkk…..!!!
Syifa tertabrak,terlempar jauh, bermeter-meter. Tubuhnya terguling hebat. Suasana menjadi riuh, banyak orang berdatangan mengerumuni tubuh Syifa yang berlumuran darah. Syifa tak sadarkan diri. Ia dilarikan kerumah sakit terdekat. Kondisi Syifa semakin kritis. Dokter sedang berusaha menyelamatkannya . keluarganya mulai berdatangan, ibu, ayah, adik, kakak dan beberapa paman dan bibinya. Mereka tak bisa menahan isak tangis sedihnya.
Syifa masih koma, tak sadarkan diri. Ibunya mencoba untuk tegar, dipakaikannya jilbab pada putrinya yang shaliha. Ibu Syifa ingin putrinya tetap cantk dalam balutan jilbabnya, jilbab pink kesayangannya. Tak lama kemudian Ahmad dan kedua orangtuanya datang. Ibu Ahmad yang masuk ke ruang ICU, Ahmad dan bapaknya menunggu diluar. Ibu Ahmad tak sanggup menahan airmata pilunya, dia mencium kening calon menantunya yang tergeletak tak berdaya.Ahmad pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia lebih banyak diam.
***
Hari ini harusnya Syifa menjadi seorang pengantin. Syifa masih tergolek lemah di ruang ICU, sesekali ia merespon kehadiran orang-orang didekatnya dengan kedipan matanya yang sayu. Dengan hati perih, Ahmad memasuki ruang ICU ditemani ibunya. “ Ibu, Ahmad punya satu permintaan. Tolong ijinkan Ahmad menikah dengan Syifa sekarang ya Bu…” Entah seperti kenapa, ibu Ahmad yang terlanjur mencintai calon menantunya itu mengiyakan permintaan anaknya.
Setelah keinginan Ahmad disampaikan kepada semua keluarga. Pernikahan pun segera disiapkan. Ibunya Syifa dan Ibunya Ahmad mendandani Syifa hingga ia nampak begitu cantik dengan gaun pengantin yang sudah dipersiapkan untuk hari bahagianya.
Suasana begitu haru, ayah Syifa sendiri yang akan menikahkan putrinya dengan Ahmad. “ Saya nikahkan putrid saya Syifa Nur Putri Himawan binti Arief Himawan dengan engkau Ahmad Indrawan bin Husein dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai…” “ Saya terima nikahnya Syifa Nur Putri Himawan binti Arief HImawan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai..” Dan saksi-saksi pun berkata, “Sah..!”. Doa barokahpun mengalir menyambut perjanjian suci dua hati.
Hanya ada Ahmad dan Syifa di ruang ICU, Ahmad menggenggam tangan Syifa, mencium kening istrinya dan mendoakannya. Syifa meresponnya dengan senyuman. Ahmad bahagia sekali. “ Dik Syifa, emm bolehkan aku panggil Dik Syifa? Aku senang sekali akhirnya kita berdua dipertemukan Allah. Dik Syifa bahagia kan? Oh iya, aku hafal Ar Rahman loh.. aku bacain buat kamu ya…” Ayat demi ayat surah Ar Rahman mengalun menghiasi suasana romantis dua hati yang sedang mensyukuri kebersamaan mereka. Mungkin terlihat seperti kebersamaan yang sepi, namun dua hati mereka sedang berdialog dengan cinta yang tak bisa terlukiskan oleh tinta. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Dan, ketika sampai di ayat yang terakhir, tangan Syifa menggenggam erat tangan Ahmad.
“ Dik Syifa mau bilang sesuatu?”, tanya Ahmad sembari mendekatkan telinganya. Namun tak terdengar apa-apa. Ahmad mencoba melihat gerak bibir istrinya yang terlihat lemah. “ Iya Syifa, aku insyaAllah ridho… sudah, syifa istirahat ya….” Syifa pun pelan-pelan kembali menggerakkan bibirnya, seakan mengucapkan sesuatu. Terdiam, pelan-pelan Syifa tersenyum dan menutup matanya untuk selamanya.
Ahmad tak kuasa menahan airmatanya. Istri yang dicintainya telah pergi. Ahmad teringat dengan sebuah hadist, istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi) “ Tunggu aku di surga ya Dik Syifa…” ucap Ahmad dengan senyum dan airmata yang bersamaan.
http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/tunggu-aku-di-surganya/183150798371243
"Tentang bulan Safar."
Al-Qur'an meninggikan martabat dan
memuliakan bulan-bulan tertentu dengan janji fadilat berganda atas mukmin yang menjauhi
kemungkaran dan kemaksiatan sesama manusia , apa lagi terhadap Allah Subhanahu
Wa Ta'ala. Namun, anggapan Safar sebagai bulan sial dengan mengadakan berbagai
acara ritual untuk menolak bala' antara adat, budaya dan amalan khurafat serta
takhayul masih membelenggu beberapa umat Islam.
Amalan mandi Safar untuk tolak bala'
dan menghapus dosa dikatakan berkait dengan kepercayaan penganut Hindu melalui
ritual Sangam yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di
sungai.
Tiada amalan istimewa atau tertentu
yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar baik berdasarkan ayat-ayat
Al-Quran, sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam, sahabat maupun para
salafushshalihin (para tabie). Amalan sunat di bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan
sunat harian yang diamalkan sepanjang waktu di bulan-bulan yang lain.
Kepercayaan mengenai perkara sial
atau bala' pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang
jahiliyah sebelum kedatangan Islam. Malah upacara mandi sungai atau pantai di
bulan Safar berpuncak dari kepercayaan nenek moyang terdahulu dan ada kaitan
dengan upacara keagamaan Hindu.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa
sallam bersabda (yang artinya) :
"Tiada wabah dan tiada
keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan
diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor
singa."
(HR. Bukhari).
Pergerakan matahari dari siang
hingga malam mengakibatkan adanya pergantian dari hari ke hari, minggu ke
minggu, bahkan bulan ke bulan. Dan sampailah kita pada Bulan Shafar. Bulan
Safar (Shofar, Sapar) adalah salah satu bulan yang ada di Kalender Hijriah atau
Kalender Islam.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
inna fii ikhtilaafi allayli
waalnnahaari wamaa khalaqa allaahu fii alssamaawaati waal-ardhi laaayaatin
liqawmin yattaquuna
Artinya:
"Sesungguhnya pada pertukaran
malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi,
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Yunus [10]:6).
Adapun urutan bulan dalam tahun
islam sendiri antara lain:
1. Muharram
2. Safar
3. Rabiul Awal
4. Rabiul Akhir
5. Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulkaidah
12. Dzulhijjah
Bulan Safar adalah bulan kedua
setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun
Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).
Menurut bahasa Safar berarti kosong,
ada pula yang mengartikannya kuning. Sebab dinamakan Safar,
karena kebiasaan orang-orang Arab
zaman dulu meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka (sehingga kosong)
untuk berperang ataupun bepergian jauh.
Ada pula yang menyatakan bahwa nama
Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini oleh
orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu, yakni penyakit safar yang bersarang
di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya.
Itulah sebabnya mereka menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh dengan
kejelekan. Pendapat lain menyatakan bahwa Safar adalah sejenis angin berhawa
panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi
sakit.
Menganggap sial bulan Shafar
sekaligus termasuk salah satu jenis tathayyur yang terlarang. Itu termasuk
amalan jahiliyyah yang telah dibatalkan (dihapuskan) oleh Islam. Menganggap
sial bulan Shafar termasuk kebiasaan jahiliyyah. Perbuatan itu tidak boleh.
Bulan (Shafar) tersebut seperti kondisi bulan-bulan lainnya. Padanya ada
kebaikan, ada juga kejelekan. Kebaikan yang ada datangnya dari Allah, sedangkan
kejelekan yang ada terjadi dengan taqdir-Nya.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu bahwa
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda:
“Tidak
ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada
kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.”
[HR.
Al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad (II/327)]
Hadits ini telah disepakati keshahihannya.
Kepercayaan atau mitos/tahayul
tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam;
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
'Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi bersabda,
“Tidak
ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka
pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala
(bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”
Namun kepercayaan bahwa Safar bulan
sial atau bulan bencana masih saja dipercaya sebagian umat. Padahal, Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wa sallam sudah menegaskan mitos itu tidak benar.
Kesialan, naas, atau bala bencana
dapat terjadi kapan saja, tidak hanya bulan Safar, apalagi khusus banyak
terjadi pada bulan Safar. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan
qul lan yushiibanaa illaa maa kataba
allaahu lanaa huwa mawlaanaa wa'alaa allaahi falyatawakkali almu/minuuna
Artinya
Katakanlah: "Sekali-kali
tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.
Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus
bertawakal."
(QS. At-Taubah [9]:51)
Awal mula kesyirikan yang menganggap
bahwa adanya hari dan bulan yang baik dan yang buruk berawal dari adat
jahiliyah yang mereka terima dari tukang-tukang sihir ( kahin ). Dan bulan shafar
ini mereka masukan ke dalam bulan yang penuh dengan malapetaka. Beberapa jenis
keyakinan syirik yang bertentangan dengan Islam yang terjadi pada bulan Safar
adalah:
1. Masyarakat Arab
Jahiliyah menganggap bulan shafar sebagai bulan penuh kesialan.
( Shahih Bukhari no. 2380 dan Abu
Dawud no. 3915 ).
2. Masyarakat Arab
Jahiliyah juga meyakini adanya penyakit cacing atau ular dalam perut yang
disebut shafar, yang akan berontak pada saat lapar dan bahkan dapat membunuh
orangnya, dan yang diyakini lebih menular dari pada Jarab ( penyakit kulit /
gatal ).
( Shaih Muslim : 1742, Ibnu
Majah : 3539 )
3. Keyakinan masyarakat
Arab Jahiliyah bahwa pada bulan shafar tahun sekarang diharamkan untuk
berperang dan pada shafrar tahun berikutnya boleh berperang.
( Abu Dawud : 3913, 3914 ).
4. Keyakinan sebagian
mereka yang menganggap bahwa umrah pada bulan-bulan haji termasuk bulan Muharam
( shafar awal ) adalah sebuah kejahatan paling buruk di dunia.
( Bukhari no. 1489, Muslim :
1240, 1679 ).
5. Sebagian orang-orang
di India yang berkeyakinan bahwa tiga belas ( 13 ) hari pertama bulan shafar
adalah hari naas yang banyak diturunkan bala’. ( Ad-Dahlawi, Risalah Tauhid )
6. Keyakinan sebagian
umat Islam di Indonesia bahwa pada setiap tahun tepatnya pada hari rebo wekasan
Alloh menurunkan 320.00 ( tiga ratus dua pulun ) malapetaka atau bencana.
( Al-Buni dalam Kitab
Al-Firdaus serta Faridudin dalam Kitab Awradu Khawajah dan tokoh-tokoh sufi
lainnya ).
7. Mengenai rebo
wekasan ini mereka juga berkeyakinan tidak boleh melakukan pekerjaan yang
berharga atau penting seperti pernikahan, perjalanan jauh, berdagang dan
lain-lain, jika tetap dilakukan maka nasibnya akan sial.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
qaaluu thaa-irukum ma'akum a-in
dzukkirtum bal antum qawmun musrifuuna
Artinya:
Utusan-utusan (para Rasul) itu
berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu
diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang
melampui batas".
(QS. Yaa Siin [36]:19).
Islam tidak mengenal adanya hari
atau bulan naas, celaka, sial, malang dan yang sejenis. Yang ada hanyalah bahwa
setiap hari dan atau bulan itu baik, bahkan dikenal hari mulia (Jum’at) dan
bulan mulia (seperti bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah). kalaupun memang ada
kenaasan atau kejadian yang kurang baik itu adalah takdirNya. tidak ada
hubungannya dengan bulan yang tidak baik.
Wallahu'alam bishshawab.
Satu Sholawat, Satu Malaikat
Di antara pahala orang yang membaca
sholawat bahwa setiap sholawat yang dibacanya itu akan diganti oleh Allah
dengan seorang malaikat. Malaikat ini lah yang selalu membaca sholawat untuk
dirinya sampai hari kiamat. Dengan banyak membaca sholawat maka banyak pula
malaikat yang membaca sholawat untuk dirinya.
Dengan demikian, curahan rahmat dan
pahala akan semakin banyak ia terima, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi
terhadap kesejahteraan kehidupannya di dunia maupun di akhirat.
Rasulullah saw, bersabda :
"Barangsiapa bersholawat
untukku karena mengagungkan aku, maka Allah Ta;ala mengganti kalimat sholawat
dengan satu malaikat yang memiliki sepasang sayap, satu sayap berada di timur
dan sayap yang satunya lagi berada di barat sedang kedua kakiknya berada di
bawah Arsy. Alah berfirman pada malaikat itu,
"Bersholawatlah kalian untuk
hambaKu, sebagaimana ia bersholawat untuk NabiKu".
Malaikat itu pun akhirnya
bersholawat untuk orang tersebut sampai hari kiamat.
Abu Hurairoh meriwyatkan, Rasulullah
Saw, bersabda :
"Ketika orang mukmin membaca
sholawat kepadaku, maka malaikat maut akan menggenggamnya dengan izin Allah, ia
menyampaikannya ke makamku. Katanya, "Ya Muhammad, bahwasanya Fulan bin
Fulan umatmu telah membaca sholawat kepadamu".
Maka aku pun berkata,
"Katakanlah kepadanya, dariku 10 sholawat. Dan sampaikan pula padanya,
'Engkau wajib memperoleh syafaat'".
Kemudian malaikat maut itu naik ke
Arsy seraya berkata, " Wahai Tuhanku, bahwa Fulan bin Fulan telah
bersholawat kepada kekasihMu (Nabi Muhammad) satu kali".
Lantas dijawab, "Sampaikanlah
padanya dariku 10 sholawat. Kemudian setiap huruf sholawat tersebut dijadikan
malaikat 360 kepala. Setiap kepala terdapat 360 wajah. Setiap wajah terdapat
360 mulut. Setiap mulut terdapat 360 lidah yang semuanya berbicara memuji
kepada Allah dengan menggunakan 360 bahasa, yang semua pahalanya diperuntukkan
bagi seorang mukmin yang bersholawat kepada Nabi Muhammad saw hingga hari
kiamat."
Allahumma Sholli wa Sallim wa Baarik
'ala Sayyidina Muhammad, wa 'ala aalihi wa sohbihi ajma'iin.. Amiiin.
Lelaki Peminta Ma’af
Sejumlah pelayan sibuk berlalu lalang melayani tamu yang sedang singgah di sebuah restoran. Di salah satu meja terdapat seorang lelaki bersama rekan-rekannya sedang asyik menikmati makanan yang disajikan oleh restoran tersebut. Tak sedikit makanan yang dipesan kala itu, mengingat orang-orang yang hadir adalah para pebisnis handal yang sedang sibuk mengadakan sebuah pertemuan penting.
Menjelang akhir pertemuan, sedikit makanan masih tersisa di piring lelaki itu. Sesaat sebelum dia dan rekan-rekan bisnisnya pergi meninggalkan restoran, disempatkannya ke dapur belakang untuk menemui koki yang telah membuatkan makanan untuk disantapnya tadi bersama rekan-rekannya, suatu hal yang tak lumrah dilakukan oleh banyak orang. Kepada koki tersebut ia hanya berkata,
“Pak maaf, makanan yang Anda buat tadi bukannya tidak enak, tapi saya masih kenyang karena saya sempatkan untuk makan dulu sebelum berangkat ke sini tadi, sehingga makanan yang Anda buat dan dihidangkan untuk saya jadi tidak habis. Sekali lagi, saya mohon maaf Pak. Saya hanya tidak ingin membuat Bapak merasa sakit hati karena makanan yang Anda buat tidak saya habiskan tadi.”
Koki restoran pembuat makanan tersenyum mendengar apa yang disampaikan oleh lelaki itu, sambil berdecak kagum ternyata masih ada lelaki rendah hati yang menemuinya walau sekedar untuk meminta maaf. Bagi koki tersebut, adalah hal biasa melihat makanan yang dibuatnya tidak dihabiskan oleh pengunjung restoran karena berbagai alasan, tapi tak pernah ada yang menemui dirinya walau sekedar untuk meminta maaf seperti halnya yang dilakukan lelaki tadi.
Sungguh santun lelaki peminta maaf tersebut, di tengah kesibukannya dalam mengurus bisnis, dia sempatkan untuk menemui sang koki yang tak lebih hanya pembuat makanan sebuah restoran, sekedar untuk meminta maaf. Sebuah hal remeh yang hampir tidak pernah diperhatikan dan dilakukan oleh para pebisnis besar lainnya, bahkan oleh kita sekalipun.
Tapi siapa sangka, justru karena kesantunan dan kerendahan hatinya dalam menghargai orang lain, membuat bisnis yang dijalankannya tumbuh dan berkembang pesat hingga sekarang. Dialah pendiri National atau yang saat ini lebih dikenal dengan nama Panasonic, sang pengusaha besar kelas dunia asal Jepang yang menjadi teladan bagi banyak orang. Konosuke Matsushita, sang lelaki peminta maaf tersebut.
http://www.facebook.com/notes/hembusan-nafas-kehidupan/lelaki-peminta-maaf/178256988874714
Rabu, 12 Januari 2011
“ MELINTASI BATAS “
Senja merah
Saksi bisu gemuruh di dada
Begitu kuat mengguncang
Mengiring
Langkah… menuju Satu
arena.
Meski tak kupaham apa
maknanya
Egoku ini tetap berjalan
Kadang… sejenak langkah
terhenti
Sekedar mencari-cari
pembenaran diri Tapi…
ketika ada yang berteriak
lantang ini toleransi
Langkah pun terayun lagi
Bersama gumpalan ragu yang
menggelayuti
Perlahan… senjapun merayap
pergi
Kutatap langit malam
Terlihat bulan tertawa lepas
Sepertinya mengejekku
tentang kadar keimanan
Binatang kecilpun menjerit
keras
Agar lembar Wala’ (Loyalitas) Bara’ (Pelepasan Diri) aku
buka… duh!
Seketika langkahku terhenti
dan bergumam lirih
“ Ya Alloh, ampuni hamba “
Yang sering terbelenggu
pandang dunia
Hamba mengerti…
Ketegaran hati tentukan jalan
setelah mati
Menuju samudra nikmat tak
bertepi
Ataukah kubangan api yang
abadi
Teguhkan nyali… ya Alloh
Kuatkan tulang belulang kaki
Hingga mampu melintasi
Sunnah Nabi yang Engkau
Ridhoi
Luruskanlah pandang mata ini
Agar nanti tak kujumpai, siksa
yang teramat pedih
Bimbinglah kami
Berjalan sampai ke tepi
Ya… tepi samudra-MU
Hamba percaya pintu ampunan
lebar terbuka
Bagi yang bertaubat
Dan kuat menggenggam
Syari’at
http://www.facebook.com/notes/melati/-melintasi-batas-/174504479254602
“ Engkaulah Cahaya Syurgaku “
Ada senandung cinta ketika aku dalam buaianmu
Ada damai di hati ketika aku dalam dekapanmu
Sungguh, engkaulah melodi hidupku,
Lembut suaramu membuat aku selalu merindukanmu
Setiap kata terurai bagaikan syair penyejuk kalbu
Setiap tetesan air susumu adalah hidupku
Setiap tetesan darahmu adalah semangat jiwaku
Setiap tetesan keringatmu adalah masa depanku
Ibu…
Ketika pagi menyongsong siang
Engkau bekerja membanting tulang
Tak peduli panas menggarang demi anak/ananda tersayang
Ketika petang menjelang
Engkau panjatkan do’a yang tak terbilang
Mengiringi hidupku hari ini dan mendatang
Sungguh, engkaulah lambing ketegaran hidup
Kokoh jiwaku karena cintamu
Damai hidupku karena kasih sayangmu
Ibu…
Apa yang dapat kubagi untukmu?
Aku tak punya apa-apa ibu
Kecuali cinta, cinta, cinta
Dan cintaku hanya padamu
Ibu…
Sungguh,
Engkaulah pahlawanku
Engkaulah ‘Cahaya Syurgaku’
http://www.facebook.com/notes/melati/puisisyair-tema-engkaulah-cahaya-syurgaku-/174502355921481
Langganan:
Postingan (Atom)
