Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Selasa, 11 Januari 2011

Aku, Kau dan Mereka Dalam Berkeyakinan


Bismillahirohmanirohim

Berbicara tentang keyakinan tentu sudah tak asing lagi bagi kita semua, setiap insan pasti punya keyakinan, baik itu atas adanya tuhan ataupun atas tiadanya tuhan.
Melihat dari makna keyakinan itu berdasarkan Wikipedia Indonesia, maka keyakinan bermakna suatu sikap yang di tunjunkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran.
Seperti halnya segala sesuatu di alam semesta ini pastilah membutuhkan proses sebelum mencapai hasil, tidak ada satupun di alam ini yang terjadi atau menghasilkan sesautu tanpa melalui sebuah proses terlebih dahulu, maka seperti halnya segala sesuatu yang ada di alam ini, untuk mencapai sebuah keyakinanpun pastilah akan memutuhkan proses juga.
Dan setiap keyakinan pasti akan membutuhkan pengetahuan atau data-data yang menunjang mengenai sesuatu yang akan di yakini, begitu juga dalam keyakinan beragama.
Sedangkan pengetahuan sendiri dipengaruhi oleh berepa hal, di antaranya adalah pengalaman, tingkat pendidikan, lingkungan, media, serta informasi. Sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi keyakinan itu sendiri.
Yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah kita tidak begitu memperhatikan bagaimana sesorang itu mencapai keyakinannya, akan tetapi lebih cenderung kepada apa yang mereka yakini saat itu sehingga pada akhirnya kita akan menyalahkan seseorang atas apa yang mereka yakini.
Padahal sangat logis apabila dengan usaha yang telah mereka lakukan dan dengan cara yang mereka lakukan dalam mencari kebenaran saat itu hingga mereka mencapai suatu tahapan yang telah mereka yakini sebagai sesuatu yang benar, maka akan sangat tidak adil apabila kita menyalahkan keyakinan mereka sebagai sebuah hasil dari proses pencarian yang telah mereka lakuakan dengan kerja keras dan dengan segala kemampuan yang telah dimilikinya.
Dan sangat logis juga kemungkinan terjadi yaitu apa yang kita yakini benar adanya saat ini akan berubah pada esok hari, sesuai dengan pengetahuan yang baru yang mungkin baru kita dapatkan atupun temukan dan biasanaya sering kita sebut dengan mendapat hidayah.



Akan tetapi yang sering kali terjadi adalah kita masing-masing sibuk untuk menghakimi dan saling menyalahkan satu sama lain yang di sebabkan dari hasil keyakinan yang berbeda dari sebuah proses dan tingkat pengetahuan ataupun pengalaman hidup yang berbeda dalam jalan mencari kebenaran tersebut, meskipun bahkan sangat mungkin kita yang menghakimi keyakinan orang lain tersebut  saat ini, pada keesokan harinya akan memiliki keyakinan yang sama dengan mereka yang sebelumnya kita hakimi keyakinanya apabila mungkin ada pengetahuan yang baru yang kita dapatkan yang menunjang kita untuk meyakini keyakinannya.
Yang misalnya mereka yang pada akhirnya menjadi Muallaf dan juga tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang menjadi Murtad karena informasi-informasi yang salah yang mereka dapatkan.
Sebuah contoh :
Apabila ada sekelompok orang di sebuah pulau yang tak terjangkau oleh peradaban saat ini dan oleh informasi mengenai sebuah ajaran, lalu dengan informasi yang mereka miliki, dan pengalaman selama mereka hidup di pulau itu hingga pada akhirnya mereka berkesimpulan dan meyakini bahwa sebuah pohon yang paling besar dan tumbuh di tengah-tengah kampung, mereka anggap sebagai Tuhan mereka dan merekapun menyebahnya, lalu apakah serta merta kita akan mengatakan mereka sesat? pada hal sejauh yang mereka tahu adalah seperti itu. Dan kita menhakimi mereka dengan pengetahuan yang kita yakini terbaik pada saat ini yang bahkan begitupun mereka yang di kepulauan terpencil itu yang meyakini bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah yang terbaik dengan segala usaha yang mereka lakukan dengan kondisi mereka pada saat itu.
Begitupula dengan saudara-saudara kita yang mungkin mendapatkan informasi yang berbeda, penjelasan yang berbeda, pengalaman yang berbeda, pendidikan yang berbeda, keadaan yang berbeda dan pemahaman yang berbeda namun sama2 berada dalam satu jalan yaitu mencari kebenaran, akan tetapi kita menghukumi mereka dengan apa yang kita ketahui dan yang kita anggap benar adanya. Bukankah itu suatu tindakan yang tidak adil adanya? Bahkan sesorang yang mendapatkan informasi yang sama pun sangat mungkin untuk memahaminya secara berbeda?
Akan sangat bijak apabila kita menghormati dan menghargai apa yang orang lain yakini namun dari pada itu, kitapun melakukan apa yang kita yakini benar saat ini sambil terus berproses mencari kebenaran yang sejati dan tidak lupa untuk selalu meminta petunjuk dan ampunan kepada Allah SWT agar apabila dalam hasil usaha kita dalam meyakini kebenaran masih jauh dari yang Allah inginkan, maka semoga kita akan diberi ampunan oleh-Nya dan diberi petunjuk, agar kita mampu untuk mencapai kebenaran yang sejati dan apabila apa yang kita yakini dan amalkan saat ini telah sesuai dengan yang Allah inginkan, maka semoga Allah senantiasa menjaga kita di jalan yang telah kita lalui tersebut.
Wallahu a'lam


http://www.facebook.com/notes/melati/aku-kau-dan-mereka-dalam-berkeyakinan/174022225969494

" Menyorot Perayaan Valentine’s Day "


Cinta adalah sebuah kata yang indah dan mempesona yang hingga sekarang belum ada yang bisa mendefinisikan kata cinta itu sendiri. Meskipun demikian setiap insan yang memiliki hati dan pikiran yang normal tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya. Maha suci Dzat Yang telah menciptakan cinta.
Jika kita berbicara tentang cinta, maka secara hakikat kita akan berbicara tentang kasih sayang; jika kita berbicara tentang kasih sayang, maka akan terbetik dalam benak kita akan suatu hari yang setiap tahunnya dirayakan, hari yang selalu dinanti-nantikan oleh orang-orang yang dimabuk cinta, dan hari yang merupakan momen terpenting bagi para pemuja nafsu.
Sejenak membuka lembaran sejarah kehidupan manusia, maka disana ada suatu kisah yang konon kabarnya adalah tonggak sejarah asal mula diadakannya hari yang dinanti-nantikan itu. Tentunya para pembaca sudah bisa menebak hari yang kami maksud. Hari itu tak lain dan tak bukan adalah “Valentine Days” (Hari Kasih Sayang?).
  • Definisi Valentine Days


Para Pembaca yang budiman, mari kita sejenak menelusuri defenisi Valentine Days dari referensi mereka sendiri! Kalau kita membuka beberapa ensiklopedia, maka kita akan menemukan defenesi Valentine di tiga tempat :
  • Ensiklopedia Amerika (volume XIII/hal. 464) menyatakan, “Tanggal 14 Februari adalah hari perayaan modern yang berasal dari dihukum matinya seorang pahlawan kristen yaitu Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M”.
  • Ensiklopedia Amerika (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, “Yaitu sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)”.
  • Ensiklopedia Britania (volume XIII/hal. 949), “Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama”.
  • Sejarah Singkat Valentine Days
Konon kabarnya, sejak abad ke-4 SM, telah ada perayaan hari kasih sayang. Namun perayaan tersebut tidak dinamakan hari Valentine. Perayaan itu tidak memiliki hubungan sama sekali dangan hari Valentine, akan tetapi untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus. Acara ini berbentuk upacara dan di dalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan ke kotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya.
Sementara itu, pada 14 Februari 269 M meninggalkan seorang pendeta kristen yang bernama Valentine. Semasa hidupnya, selain sebagai pendeta ia juga dikenal sebagai tabib (dokter) yang dermawan, baik hati dan memiliki jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang. Dengan sifat-sifatnya tersebut, nampaknya mampu membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap penderitaan yang mereka rasakan, karena kezhaliman sang Kaisar. Kaisar ini sangat membenci orang-orang Nashrani dan mengejar pengikut ajaran nabi Isa. Pendeta Valentine ini dibunuh karena melanggar peraturan yang dibuat oleh sang Kaisar, yaitu melarang para pemuda untuk menikah, karena pemuda lajang dapat dijadikan tentara yang lebih baik daripada tentara yang telah menikah. Valentine sebagai pendeta, sedih melihat pemuda yang mabuk asmara. Akhirnya dengan penuh keberanian, ia melanggar perintah sang Kaisar. Dengan diam-diam ia menikahkan sepasang anak muda. Pendeta Valentine berusaha menolong pasangan yang sedang jatuh cinta dan ingin membentuk keluarga. Pasangan yang ingin menikah lalu diberkati di tempat yang tersembunyi. Namun rupanya, sang Kaisar mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh pendeta tersebut, dan kaisar sangat tersinggung hingga sang Pendeta diberi hukuman penggal oleh Kaisar Romawi yang bergelar Cladius II. Sejak kematian Valentine, kisahnya menyebar dan meluas, hingga tidak satu pelosok pun di daerah Roma yang tak mendengar kisah hidup dan kematiannya. Kakek dan nenek mendongengkan cerita Santo Valentine pada anak dan cucunya sampai pada tingkat pengkultusan !!

Ketika agama Katolik mulai berkembang, para pemimipin gereja ingin turut andil dalam peran tersebut. Untuk mensiasatinya, mereka mencari tokoh baru sebagai pengganti Dewa Kasih Sayang, Lupercus. Akhirnya mereka menemukan pengganti Lupercus, yaitu Santo Valentine.
Di tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi pihak gereja. Dua tahun kemudian, sang Paus mengganti tanggal perayaan tersebut menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan dan pengkultusan kepada Santo Valentine. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”
Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang tersebut menjadi semacam rutinitas ritual bagi kaum gereja untuk dirayakan. Biar tidak kelihatan formal, mereka membungkusnya dengan hiburan atau pesta-pesta.
  • Hukum Islam tentang Perayaan Valentine Days
Dalam Islam memang disyari’atkan berkasih sayang kepada sesama muslim, namun semuanya berada dalam batas-batas dan ketentuan Allah -Ta’ala- . Betapa banyak kita dapatkan para pemuda dan pemudi dari kalangan kaum muslimin yang masih jahil (bodoh) tentang permasalahan ini. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang tidak mau peduli dan hanya menuruti hawa nafsunya. Padahal perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Days) haram dari beberapa segi berikut :
  • Tasyabbuh dengan Orang-orang Kafir
Hari raya –seperti, Valentine Days- merupakan ciri khas, dan manhaj (metode) orang-orang kafir yang harus dijauhi. Seorang muslim tak boleh menyerupai mereka dalam merayakan hari itu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy-rahimahullah- berkata, “Tak ada bedanya antara mengikuti mereka dalam hari raya, dan mengikuti mereka dalam seluruh manhaj (metode beragama), karena mencocoki mereka dalam seluruh hari raya berarti mencocoki mereka dalam kekufuran. Mencocoki mereka dalam sebagaian hari raya berarti mencocoki mereka dalam sebagian cabang-cabang kekufuran. Bahkan hari raya adalah ciri khas yang paling khusus di antara syari’at-syari’at (agama-agama), dan syi’ar yang paling nampak baginya. Maka mencocoki mereka dalam hari raya berarti mencocoki mereka dalam syari’at kekufuran yang paling khusus, dan syi’ar yang paling nampak. Tak ragu lagi bahwa mencocoki mereka dalam hal ini terkadang berakhir kepada kekufuran secara global”.[Lihat Al-Iqtidho’ (hal.186)].
Ikut merayakan Valentine Days termasuk bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang kafir. Rasululllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,



مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. [HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (4031) dan Ahmad dalam Al-Musnad (5114, 5115, & 5667), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (19401 & 33016), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (1199), Ath-Thobroniy dalam Musnad Asy-Syamiyyin (216), Al-Qudho’iy dalam Musnad Asy-Syihab (390), dan Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhob (848). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr (24)].
Seorang Ulama Mesir,Syaikh Ali Mahfuzh-rahimahullah- berkata dalam mengunkapkan kesedihan dan pengingkarannya terhadap keadaan kaum muslimin di zamannya, “Diantara perkara yang menimpa kaum muslimin (baik orang awam, maupun orang khusus) adalah menyertai (menyamai) Ahlul Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi, dan Nashrani dalam kebanyakan perayaan-perayaan mereka, seperti halnya menganggap baik kebanyakan dari kebiasaan-kebiasaan mereka. Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu membenci untuk menyanai Ahlul Kitab dalam segala urusan mereka…Perhatikan sikap Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seperti ini dibandingkan sesuatu yang terjadi pada manusia di hari ini berupa adanya perhatian mereka terhadap perayaan-perayaan, dan adat kebiasaan orang kafir. Kalian akan melihat ,ereka rela meninggalkan pekerjaan mereka berupa industri, niaga, dan sibuk dengan ilmu di musim-musim perayaan itu, dan menjadikannya hari bahagia, dan hari libur; mereka bermurah hati kepada keluarganya, memakai pakaian yang terindah, dan menyemir rambut anaka-anak mereka di hari itu dengan warna putih sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi, dan Nashrani. Perbuatan ini dan yang semisalnya merupakan bukti kebenaran sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits shohih, “Kalian akan benar-benar mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga andai mereka memasuki lubang biawak, maka kalian pun mengikuti mereka”. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi, dan Nashrani”. Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka”. [HR. Al-Bukhoriy (3456) dari Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu-]“.[Lihat Al-Ibda’ fi Madhorril Ibtida’ (hal. 254-255)]
Namun disayangkan, Sebagian kaum muslimin berlomba-lomba dan berbangga dengan perayaan Valentine Days. Di hari itu, mereka saling berbagi hadiah mulai dari coklat, bunga hingga lebih dari itu kepada pasangannya masing-masing. Padahal perayaan seperti ini tak boleh dirayakan.Kita Cuma punya dua hari raya dalam Islam. Selain itu, terlarang !!.
  • Pengantar Menuju Maksiat dan Zina
Acara Valentine Days mengantarkan seseorang kepada bentuk maksiat dan yang paling besarnya adalah bentuk perzinaan. Bukankah momen seperti ini (ValentineDays) digunakan untuk meluapkan perasaan cinta kepada sang kekasih, baik dengan cara memberikan hadiah, menghabiskan waktu hanya berdua saja? Bahkan terkadang sampai kepada jenjang perzinaan.


Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman dalam melarang zina dan pengantarnya (seperti, pacaran, berduaan, berpegangan, berpandangan, dan lainnya),
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا 
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32) 
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
لَايَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Jangan sekali-sekali salah seorang kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali bersama mahram”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4935), dan Muslim dalam Shohih-nya (1241)] .
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يِمَسَّ امْرَأَةً لَاتَحِلُّ لَهُ
“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (486). Di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah (226)]
  • Menciptakan Hari Rari Raya
Merayakan Velentine Days berarti menjadikan hari itu sebagai hari raya. Padahal seseorang dalam menetapkan suatu hari sebagai hari raya, ia membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena menetapkan hari raya yang tidak ada dalilnya merupakan perkara baru yang tercela. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami sesuatu yang tidak ada di dalamnya, maka itu tertolak” [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih -nya (2697)dan Muslim dalam Shahih -nya (1718)]
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. [HR. Muslim dalam Shahih -nya (1718)]
Allah -Ta’ala- telah menyempurnakan agama Islam. Segala perkara telah diatur, dan disyari’atkan oleh Allah. Jadi, tak sesuatu yang yang baik, kecuali telah dijelaskan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Demikian pula, tak ada sesuatu yang buruk, kecuali telah diterangkan dalam Islam. Inilah kesempurnaan Islam yang dinyatakan dalam firman-Nya,
“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS.Al-Maidah :3 ).
Di dalam agama kita yang sempurna ini, hanya tercatat dua hari raya, yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha. Karenanya, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingkari dua hari raya yang pernah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada para sahabat Anshor,
قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِيْ الجَاهِلِيَةِ وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحَرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Saya datang kepada kalian, sedang kalian memiliki dua hari, kalian bermain di dalamnya pada masa jahiliyyah. Allah sungguh telah menggantikannya dengan hari yang lebih baik darinya, yaitu: hari Nahr (baca: iedul Adh-ha), dan hari fithr (baca: iedul fatri)”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1134), An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (3/179), Ahmad dalam Al-Musnad (3/103. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (1134)] .
Syaikh Amer bin Abdul Mun’im Salim-hafizhahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, “Jadi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang mereka -dalam bentuk pengharaman- dari perayaan-perayaan jahiliyyah yang dikenal di sisi mereka sebelum datangnya Islam, dan beliau menetapkan bagi mereka dua hari raya yang sya’i, yaitu hari raya Idul Fithri, dan hari raya Idul Adh-ha. Beliau juga menjelaskan kepada mereka keutamaan dua hari raya ini dibandingkan peryaan-perayaan lain yang terdahulu “.[Lihat As-Sunan wa Al-Mubtada’at fi Al-Ibadat (hal.136), cet. Maktabah Ibad Ar-Rahman, 1425 H]
Sungguh perkara yang sangat menyedihkan, justru perayaan ini sudah menjadi hari yang dinanti-nanti oleh sebagian kaum muslimin terutama kawula muda. Parahnya lagi, perayaan Valentine Days ini adalah untuk memperingati kematian orang kafir (yaitu Santo Valentine). Perkara seperti ini tidak boleh, karena menjadi sebab seorang muslim mencintai orang kafir.


http://www.facebook.com/notes/melati/-menyorot-perayaan-valentines-day-/174017445969972

“ Bagaimana memilih Sahabat “


Suatu hari Rosululloh kedatangan seseorang yang menanyakan tentang sahabat yang Shahih (baik). Beliau Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam menjawab: “ Sebaik-baik dia antara kamu ialah dia yang mengingatkan kamu kepada Alloh Azza wa Jalla, ucapannya menambah ilmumu dan perbuatannya mendorongmu beramal untuk Akhirat “. (HR. Al-Hakim, Tirmidzi dari Ibnu Amru bin Ash). Pertanyaan serupa, pernah diajukan oleh Nabiyulloh Isa Alaihi’ Sallam: “ Wahai Rosululloh Isa Alaihi’ Sallam: Siapa yang dapat dijadikan teman duduk? “ Jawab Isa Alaihi’ Sallam: “ Dia yang ucapannya menambah ilmu, dan menasihatimu, serta dapat mengingatkan kamu kepada Alloh Tabarokta wa Ta’ala dan amalannya dapat mendorongmu beramal untuk Akhirat “.
Memilih sahabat, merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang, bila peruntukannya pada hal yang melalaikan, bersift gebyar, hura-hura dan kecenderungan pada jalan kefasikan. Namun akan terasa sulit, bila memilih mereka yang dapat menuntun kepada jalan kebenaran dan keimanan. Sampai-sampai secara khusus Rasululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam mengingatkan: “ Kepribadian seseorang seiring dengan karakter kawan akrabnya. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih kawan (Sahabat) “. (HR. Ahmad).
Serta dalam hadistnya yang lain, Nabi Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam secara tegas menyatakan: “ Persahabatan yang baik merupakan sebagian dari Iman “. (HR. Al-Hakim, Ad-Dailami dari Aisyah’). Bentuk persahabatan yang baik tidak bercirikan llai, gebyar, hura-hura dan mengantar kepada jalan kefasikan dan kemungkaran, itulah yang disebut sebagai “ Persahabatan yang baik “.
Yakni persahabatan yang akan mempersubur tumbuhnya iman dan mengantarkan kita selamat di dunia hingga kampung akhirat. Insya Alloh Ta’ala. bijaklah memilih sahabat dengan mengambil mereka yang berkriteria antara lain sebagai berikut:
  • Memilih sahabat yang berakal dan bertakwa juga beriman serta berTauhidnya benar.
  • Cari yang memiliki Aqidah & Akhlak baik dan rajin beribadah dengan benar.
  • Mencari sahabat yang menyukai kebenaran dan keadilan.
  • Menjauhi orang yang selalu berbuat kefasikan dan kemungkaran serta kedzholiman.
  • Jauhi yang cinta kepada dunia.



  • Hindari yang suka berbuat dosa, maksiat dan kedustaan.
  • Jauhi mereka yang berbuat buruk. Karena ditegaskan oleh Nabi Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam: “ Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan bergaul dengan orang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik daripada berdiam dan berdiam adalah lebih baik daripada berbincang (ngobrol) yang buruk “. (HR. Al-Hakim).
  • Ali Radhiyallohu’ anhu Wajhah Berpesan: “ Saudaramu yang sebenarnya adalah yang bersamamu, yang sanggup berkorban demi kebahagiaanmu, kalau ada sesuatu yang menimpamu ia sanggup meninggalkan siapapun untuk bersamamu “.
Wallohu’ Ta’ala A’lam, Sekian, Semoga Alloh selalu merahmati kita dengan ilmu yang hakiki, Amien…!. Pesan Kami: Ingat 5 sebelum 5 yakni: “ Kehidupanmu sebelum datang matimu, Kesehatanmu sebelum datang sakitmu, Waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu, Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, Kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu “. (HR. Muslim).


http://www.facebook.com/notes/melati/-bagaimana-memilih-sahabat-/174016689303381

“ Majalah Playboy Mengundang Azab “


INNA LILLAHI WAINNA ILAHI ROJI’UN, itulah kalimat pertama yang pantas diungkapkan dengan terbitnya majalah Palyboy, karena hati nurani telah mati.

Al Qur'an adalah firman Alloh yang salah satu unsur di dalamnya mengandung sejarah perjalanan hidup umat manusia. Salah satu diantaranya adalah kisah umat Nabi Luth as yang melakukan penyimpangan seksual dengan prilaku homo (orang barat menghaluskannya dengan nama Gay). Jika kita merujuk pada kitab suci Taurot dan Injil, hukuman bagi pelaku homoseksual adalah dibunuh. Tetapi orang-orang Barat dengan dalih HAM dan sejenisnya akhirnya melegalkan perbuatan durjana tersebut dan fenomena ini menyimpulkan bahwa kitab suci mereka telah diwarnai oleh arus HAM, demokrasi dan berbagai jenis kebebasan lainnya hasil ciptaan otak manusia.
Keingkaran umat tersebut akhirnya mengundang azab Alloh berupa diturunkannya hujan batu panas dan diakhiri dengan dibalikkannya tanah tempat berpijak mereka. Hingga hari ini jejak sejarah umat Nabi Luth dapat kita saksikan di Yordania.
Di Indonesia, pola hidup seperti ini juga mulai digandrungi dengan berkiblat ke Barat, dalihnya adalah modernisasi, HAM dan sejenisnya yang memang sengaja dihembuskan oleh orang-orang yang ingin merusak tatanan kehidupan rumah tangga Islami yang jelas tanggung jawabnya dengan jalur pernikahan. Manusia memang mahluk yang paling banyak membantah sebagaimana firman-Nya:
Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (QS Al Kahfi [18] : 54)
Didukung dengan dana yang begitu besar, (Yahudi dan Nasrani) mencoba merusak akhlak sebagian besar penduduk Indonesia yang notabene muslim ini dengan terbitnya majalah Playboy. Aneh bin ajaib, ketika lembaga-lembaga pendidikan dengan bercucuran keringat dan darah membangun manusia-manusia yang ber-IMTAQ dan ber-IPTEK, tapi segelintir orang menghancurkannya di sisi yang lain demi uang dan popularitas. Dan pemerintah lamban sekali menangani masalah ini dengan berbagai dalih. Bisa jadi hal itu karena uang dan tekanan dari pihak-pihak tertentu, atau mereka juga sudah tidak peduli lagi akan agamanya.
Al Qur'an telah melarang kita untuk mendekati zina, apalagi melakukannya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Israa [17] : 32), dan Rasululloh juga telah menjelaskan dengan sabdanya :
“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Alloh dan yang melanggarnya adalah bagaikan suatu kaum yang mengadakan undian untuk naik sebuah kapal (perahu), maka jadilah sebagian mereka di atas dan sebagian yang lain di bawah. Lalu orang-orang yang ada di bawah, jika mereka hendak mengambil air maka harus melewati orang-orang yang di atas mereka, maka mereka berkata ‘seandainya kami melubangi kapal ini, maka kami tidak menggangu orang yang ada di atas kami.’ Jika penumpang kapal itu membiarkan apa yang mereka inginkan (melubangi kapal), maka semuanya akan binasa, tetapi jika mereka yang di atas mencegahnya, maka selamatlah dan selamatlah semuanya” (HR Bukhori)[1]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Alloh s.w.t telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya maka kemaluanlah yang menentukannya terjadi atau tidak (Bukhori - Muslim, Kitab Jami'ush Shahih, Hadis No 1550)
Ketika legalisasi prilaku homo (termasuk freesex, lesbi, pembuatan VCD porno dan sejenisnya) diterapkan di Barat, maka Alloh dengan kuasa-Nya langsung menurunkan azab berupa AIDS. Barat yang dijadikan kiblat ternyata memiliki penduduk dengan tingkat kehancuran moral yang cukup mengerikan. Ketika agama memberikan tuntunan hidup agar manusia tidak tersesat, manusia malah lebih memilih kesesatan daripada ketentraman. Mari kita lihat sisi kehidupan AS dengan slogan kebebasannya.
Di AS, sebagai negara sekuler yang paling berpengaruh di dunia, ternyata kerusakan moral dan tingkat kejahatan sangat mengerikan disaat jalan keluarnya belum ditemukan. Berdasarkan penelitian Andrew L. Sapiro dalam bukunya yang berjudul “We Are Number One” berbagai kasus kejahatan dikemukakan, antara lain sebagai berikut:
1. Tiap tahun telah terjadi kasus pembunuhan 20.000 jiwa. Artinya tiap 25 menit terjadi satu kasus pembunuhan
2. 21% wanita Amerika telah melakukan pelacuran sebelum usia 14 tahun
3. Setiap 10 gadis Amerika berumur 15 – 19 th, seorang dari mereka telah hamil di luar nikah.
4. Pada tahun 1992 anak-anak yang terkena AIDS 400.000 orang dan golongan dewasa pun 400.000 orang.
5. Sejuta kejahatan setiap tahun akibat narkoba dan separuh penghuni penjara pencandu narkotika.[2]
Yakinlah bahwa jika penerbitan majalah Playboy tidak dihentikan maka “perahu” ini akan tenggelam. Anehnya segelintir umat Islam tidak peduli lagi rambu-rambu kitab sucinya. Alloh memerintahkan kepada kita untuk menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran. Ada enam ayat yang tercantum dalam Al Qur'an, diantaranya adalah firman Alloh :
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran [3] : 104) 
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh..”. (QS Ali Imran [3] : 104)

Hadirnya majalah Playboy (dan berbagai kemaksiatan lainnya) telah mengundang azab Alloh berupa Tsunami, banjir, gempa, kelaparann, kekeringan dan sejenisnya. Akanlah semua ini dibiarkan…?. Dan maraknya segala jenis kemaksiatan tersebut menunjukkan bahwa manusia memang mahluk yang paling banyak membantah kepada Tuhannya. Oleh karena Alloh berfirman :
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya. (QS Al Anfaal [8] : 25)
Di sisi lain Rasululloh telah bersabda, bahwa kelak umat Islam akan mengikuti perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagaimana sabdanya:
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasululloh s.a.w bersabda: Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehinggakan mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasululloh, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (Bukhori - Muslim, Kitab Jami'ush Shahih, Hadis No 1557)
Sepanjang sejarah Islam (dan umat lain), kaum Yahudi memang tak henti-hentinya melakukan makar, kegaduhan dan huru-hara terhadap Islam dan umatnya, sehingga pada abad ke-13 muncul sebuah pameo di kalangan para ulama bahwa “jika terjadi suatu peristiwa besar (huru-hara), periksalah orang-orang Yahudi, niscaya Anda akan menemukan jawabannya”.[3]
Dalam menanggapi kebejatan umat Yahudi, Kardinal Marie Del Vaal mengatakan “terbukti sudah bahwa tangan-tangan Yahudilah yang senantiasa ada di belakang penerbitan dan distribusi setiap buku vulgar dan porno serta majalah yang penuh perzinaan dan menggiring manusia pada penyelewengan. Itulah sepak terjang manusia yang sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan” [4]
Kebejatan moral manusia ini ternyata didukung oleh kitab “hitam” umat yahudi yang bernama Talmud dengan salah satu ayatnya :
Sesungguhnya berzina dengan orang non Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan itu tidak ada hukumannya, karena orang non Yahudi adalah keturunan binatang (Talmud, hal 234).
Padahal kitab Talmud itu hanyalah ucapan para rabi Yahudi yang sangat membenci umat Islam dan Kristen.

WAllohu a’lamu bimuradih


http://www.facebook.com/notes/melati/-majalah-playboy-mengundang-azab-/174013215970395