Mengenai Saya
Laman
Senin, 29 November 2010
Yang Pernah Kusakiti
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti..
Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri,
untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.
Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,
Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita.
Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu.
Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini.
Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu.
Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini.
Maka maafkanlah aku..
Apakah engkau harus terus memegang kata: “tidaklah mudah untuk memaafkan.”
Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku?
Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?
Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu.
Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah.
“Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.”
Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita:
“ Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel. Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas."
Dan aku pun tersenyum mendengar kisahmu.
Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?”
Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!”
Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu.
Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu?
Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah SWT pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”
Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu.
Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya.
Dulu, kita berdua begitu baik ada ikatan yang tak terelakan.
Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?
Sedari awal, aku telah memaafkanmu.
Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku.
Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita.
Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.
Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul.
Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi.
Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai.
Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian.
Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf.
Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga.
Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati.
Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?
Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi.
Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina.
Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.
Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.
Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini.
Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk.
Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?
Sholat jamaah bersama, engkau imamku dan aku makmummu..
Ngaji bersama, engkau simak bacaanku dan kau benarkan tajwidnya..
Mencari ilmu bersama, ke negeri ujung jakarta dan ujung surabaya..
Kau bangunkan aku ditiap 1/3 malam utk begadang bersama Rabb kita..
Semua itu.., tidakkah menjadi sedikit obat utk memberi kata maaf..???
Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan.
Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti.
Maka, bukalah pintu maafmu itu..
Tidak ada derita yg abadi..
Sama halnya tidak ada bahagia yg abadi..
Tidak akan ada derita, dan kebahagiaan yg abadi hnya kita dapat di surga.
Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku memohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-yang-pernah-kusakiti/174448189250503
Jangan Bilang Cinta, Jika...
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Ya, jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai. Jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. ? Kalimah sakti? itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkorban, berani membela, berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.
Saudariku.., tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?
Jangan bilang cinta kepada Allah, jika...
Jika kita masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: ?Aku cinta kepada Allah Swt.?, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.
Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat. Ke sekolah nggak pake kerudung dan pakaian jilbab (pakaian terusan?buat anak SMA sebenarnya bisa disambung pakaian atas putih dan bawah abu-abu).
Sebaliknya, malah pake rok. Meski rok itu menutupi lutut, tapi kan nggak disebut pakaian muslimah. Padahal, Allah memerintahkan lho untuk mengenakan busana muslimah buat wanita, sebagaimana dalam firmanNya: 'Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ?Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka?.. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.?(QS al-Ahzab: 59)
Nah, kapan mengenakan jilbab? Yang pasti kalo seorang muslimah pergi keluar rumah. Atau kalo pun di dalam rumah, saat ada tamu asing (bukan mahrom?tentu laki-laki). Sebab memang tujuannya juga adalah untuk menutup auratnya. Oya, untuk bisa disebut mengenakan busana muslimah, maka seorang muslimah harus mengenakan jilbab lengkap dengan kerudungnya. Begitu deh, secara singkatnya.
Bagi anak laki juga sama. Kalo keluar rumah atau kalo di dalam rumah tapi ada wanita bukan mahrom nggak boleh tuh dipamerin dengkulmu dan udelmu. Karena aurat laki-laki tuh dari pusar sampe lutut. Wah, kayaknya udah pada paham deh. Soalnya nih pernah kita pelajari waktu SD dulu. Tul nggak? Ini sekadar ngingetin aja, gitu lho..^.^
Oya, itu baru kita bahas kewajiban menutup aurat, sementara kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada kita banyak banget. Sebut saja tentang sholat, puasa, zakat, pengaturan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik, hukum, sampe pemerintahan. Itu baru pokok-pokoknya, belum cabangnya dari situ. Wah, kalo ditulis bisa ngabisin jatah 100 halaman di note ini. But, intinya nih, jangan bilang cinta kepada Allah kalo kita doyan menolak kewajiban yang diperintahkanNya, malah berani mengamalkan apa yang diharamkanNya.
Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw,Jika...
kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya:
"kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).? (QS an-Najm: 2-4)
Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.? (HR Ahmad)
Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw.
Seperti kasus pelecehan terhadap Rasulullah saw. yang dilakukan media-media Eropa dalam bentuk kartun yang salah satunya menggambarkan bahwa Muhammad saw. sumber inspirasi kekerasan. Gambarnya adalah sosok lelaki dengan tampang garang dan sorbannya berbentuk bom. Ditulisin di situ dengan jelas dalam bahasa Arab kalimat Muhammad saw. Waduh, kaum Muslimin marah dengan protes baik secara lisan maupun tulisan justru wajar. Karena cintanya kepada Rasulullah saw. Yang parah tuh kalo kita diem aja, terus pura-pura bijak dengan mengatakan bahwa kartun itu sebagai bentuk evaluasi buat umat Islam.
Nggak marah apalagi protes. Aneh banget kan? Macam mana pula tuh orang? Ngakunya sih Muslim.
Tokoh intelektual pula di di negeri ini. Sadar Pak! Jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw. jika hanya mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian besar ajarannya yang lain. Kalo kita cinta kepada Rasulullah saw. berarti harus mengambil seluruh ajaran yang dibawanya. Bukan dipilih-pilih sesuai kehendak hawa nafsu kita. Karena Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah saw. sebagaimana firmanNya:"Apa yang datang (diajarkan) Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.? (QS al-Haysr : 7)
Oke, boleh bilang cinta kepada Rasulullah saw., asalkan kita berani pula untuk menaati segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Bohong besar banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah saw. tapi nggak pernah melaksanakan tuntunan ajarannya. Betul ndak?
Jangan bilang cinta sama ortu,Jika...
Jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu?
Buktikan kecintaan kita kepada ortu kita adalah dengan berbakti kepadanya. Menghormati mereka, menghargai mereka, menolong mereka, dan membuat mereka bahagia dengan adanya kita. Keberadaan kita yang udah dilahirkan ini bukan menjadi beban mereka. Kasihan ibu kita, sejak mengandung kita, melahirkan kita, merawat dan membesarkan kita, ia tak pernah mengeluh. Ayah kita juga sama. Mencari nafkah dengan semangat untuk keluarganya.
Cinta mereka sepenuh hati buat kita. Sudah terbukti kok. Karena sampe sekarang aja, meski kita bandel, ibu dan ayah kita tetap mendoakan agar kita mendapat petunjuk sambil terus membimbing kita (meski kadang menurut kita terlihat seperti orang yang cerewet). Tuh, gimana nggak penuh cinta. Jadi, kitanya sendiri nih yang kudu membuktikan bahwa kita cinta kepada ibu dan ayah kita dengan cara berbakti kepadanya. Itu sebabnya, jangan bilang cinta kalo kita tak menghargainya, tak berbakti kepada mereka. Oke?
Jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin, jika...
Jika kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum Muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin.
Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? Bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama Muslim tapi dengan sesama kaum Muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah. Kalo gitu caranya, jangan bilang cinta kepada kaum Muslimin. Sadar ye akhi wa ukhti...
Jangan bilang cinta kepada diri sendiri,jika...
Jika kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).
Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.
Itu sebabnya, ada larangan bunuh diri, larangan mengkonsumsi narkoba, larangan mentato badan, larangan mempertontonkan aurat di muka umum dll. Iya kan? Oke deh, moga renungan sederhana ini bisa ngingetin kita untuk mengevaluasi kehidupan kita: Apa benar kita udah cinta banget sama Allah, RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan cinta kepada diri kita sendiri jika kita masih berperilaku yang justru menggambarkan bentuk pengkhianatan terhadap cinta yang kita ikrarkan?
Semoga kita menjadi orang-orang yang benar-benar mencintai Allah Swt., RasulNya, ortu kita, kaum Muslimin, dan diri kita sendiri. Nah, itu harus dibuktikan dalam pikiran dan perbuatan sesuai tuntunan ajaran Islam. Oke? Semangat!
Barakallahufik..jabat erat dan salam hangat
Wassalamualaikum
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-jangan-bilang-cinta-jika/174466652581990
"Waktu Yang Sesuai Untuk Bersedekah"
Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata:
"Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam
lalu bertanya: "Ya Rasulullah! Sedekah manakah yang paling besar
pahalanya!."
Nabi
Shalallahu 'Alaihi Wa sallam menjawab:
"Sedekah yang engkau berikan,
sedangkan engkau pada waktu itu masih sehat dan sebenarnya engkau bakhil
(merasa sayang untuk menyumbangkan harta), karena engkau takut menjadi fakir
dan berangan-angan menjadi lebih kaya lagi. Maka janganlah engkau
melambat-lambatkan sedekah sehingga apabila roh sampai dikerongkongan lalu
ketika itu engkau berkata: "Untuk si fulan ini sekian, si fulan ini
sekian.Dan sebenarnya harta engkau pada ketika itu memang akan berpindah milik
kepada orang lain."
- (HR. BUkhari dan Muslim).
Mengeluarkan harta untuk
sumbangan adalah perkara yang sangat sulit untuk seseorang, melainkan kalau
pengeluaran harta itu dalam bentuk kewajiban seperti zakat atau dalam bentuk
kesadaran yang mendalam sehingga penyumbang merasakan bahwa harta yang disumbangkan
itu adalah sebagai simpanan yang kekal yang akan diberikan ganjaran yang
berlipat ganda pada hari kiamat nanti.
Banyak orang yang kaya, tetapi
ada kalangan mereka yang tidak mau menyumbang. Dia takut menjadi fakir
atau simpanan hartanya berkurang, sehingga ia senantiasa berusaha untuk
menambah kekayaan yang sudah ada.
Ketika hati sangat terpaut dengan
harta dan sangat mencintainya, maka itulah waktu yang paling baik untuk ia
menyumbang. Saat dimana ia akan berhadapan dengan godaan syetan dan hawa nafsu
yang selalu menakutinya terjerumus ke jurang kefakiran. Maka siapa yang mampu
melawan hawa nafsunya pada saat itu berarti ia telah meraih kejayaan yang
sangat besar.
Lain halnya dengan seseorang yang
sedang sakit keras, ketika nyawa dirasakan sudah tidak lama lagi akan terpisah
dari badan, tanda-tanda kematian pun dirasakan semakin dekat dari masa ke masa.
Saat dimana putuslah harapannya untuk memiliki atau menguasai harta lebih lama
lagi, maka mudah baginya berkata: "Harta ini untuk si fulan, harta itu
untuk si fulan."
Padahal masa sudah terlambat dan
wasiat yang boleh diluluskan oleh Syara' pada waktu itu tidak boleh lebih dari
sepertiga harta yang ditinggalkannya.
Syukurlah kalau ahli waris
yang mewarisi harta itu mengerti membuat sedekah jariah sebagai amal shaleh
yang dikirim ke alam kubur dari masa ke masa. Kalau mereka tidak berbuat
demikian atau sebaliknya malah digunakan untuk berbuat kemaksiatan, maka si
mayitlah yang menanggung letih mencari harta dengan membanting tulang dan
memeras keringat pada waktu hidupnya dahulu dan dia pula yang akan dihisab di
hadapan Allah Ta'ala. sedangkan ahli warisnya bersenang-senang hati mewarisi
harta yang telah ditinggalkan oleh orang tua mereka dengan cuma-cuma saja.
"Do'a bisa menolak taqdir"
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu
’Alaihi Wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah Ta’aala telah
tentukan bisa berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa
seseorang.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ
إِلَّا الْبِرُّ (الترمذي)
Bersabda Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam:
“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan)
Allah Ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang)
umur seseorang selain (perbuatan) baik.”
(HR Tirmidzi 2065)
Subhanallah…! Masya Allah, laa quwwata illa
billahi..
Betapa luar biasa kedudukan do’a dalam ajaran Islam.
Dengan do’a seseorang bisa berharap bahwa taqdir yang Allah Ta’ala tentukan
atas dirinya berubah. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi siapapun
yang selama ini merasa hidupnya hanya diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu.
Ia akan menjadi orang yang optimis.
Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan
hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus
asa dari rahmat Allah Ta'ala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a
yang tulus kepada Allah Ta'ala Yang Maha Berkuasa.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala;
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى
أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَى
رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا
تُنْصَرُونَ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah ta’aala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada
Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian
kamu tidak dapat ditolong (lagi).”
(QS Az-Zumar 53-54)
Demikianlah, hanya orang yang tetap berharap kepada
Allah Ta'ala saja yang dapat bertahan menjalani kehidupan di dunia
betapapun pahitnya taqdir yang ia jalani. Ia akan senantiasa menanamkan dalam
dirinya bahwa jika ia memohon kepada Allah Ta'ala dalam keadaan apapun,
maka derita dan kesulitan yang ia hadapi sangat mungkin berakhir dan bahkan
berubah. Insya Allah.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah kenal Allah
Ta'ala dengan sendirinya akan meninggalkan kebiasaan berdo’a dan memohon kepada
Allah Ta'ala. Ia akan terjatuh pada salah satu dari dua bentuk ekstrimitas.
- Pertama,
ia akan mudah berputus asa.
- Kedua,
ia akan lari kepada fihak lain untuk menjadi
sandarannya demi merubah keadaan. Padahal begitu ia bersandar kepada sesuatu
selain Allah Ta'ala , termasuk bersandar kepada dirinya sendiri maka pada saat
itu pulalah Allah Ta'ala akan mengabaikan
orang itu dan membiarkannya berjalan mengikuti
situasi dan kondisi yang tersedia. Sedangkan orang tersebut dinilai sebagai
seorang yang mempersekutukan Allah Ta'ala dengan yang lain. Berarti orang
tersebut telah jatuh ke dalam kategori seorang musyrik…!
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ
الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan
diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka
Jahannam dalam keadaan hina dina.”
(QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah
berhenti meminta kepada-Nya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan
yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah Ta'ala yang pedih. Maka
Rasulullah Shalallahu ’Alaih Wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala murka kepadaNya.”
(HR Ahmad 9342).
Janganlah kita berputus asa dari Rahmat Allah Ta'ala. Bila kita merasa taqdir yang Allah Ta'ala tentukan bagi hidup kita tidak memuaskan, maka tengadahkanlah kedua tangan dan berdo’alah kepada Allah Ta'ala. Allah Ta'ala Maha Mendengar dan Maha Berkuasa untuk mengubah taqdir kita. Barangkali di antara do’a yang baik untuk diajukan sebagai bentuk harapan agar Allah Ta'ala mengubah taqdir ialah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.”
(HR Muslim 4897)
Di setiap selesai shalat kita tentunya berdoa, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Doa juga bisa kita panjatkan kapan saja dan dimana saja.(di tempat yg semestinya)
Kita dapat merasakan kekuatan doa yang kita panjatkan, karena doa itu merupakan sumber kemuliaan sejati yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-Nya.
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda (yang artinya)
“Doa itu adalah ibadah” Kemudian beliau membaca: Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
(HR. Titrmidzi)
Berdoa dilakukan dengan kerendahan hati, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena kita lemah di hadapan-Nya. berdo'a merupakan perbuatan yang mulia. Betapapun banyaknya kebaikan seseorang bila tidak diiringi dengan kerendahan hati untuk memohon dan merasa butuh kepada Allah melalui doa, maka orang itu tidak akan memperoleh ganjaran atas segenap kebaikannya tersebut. Demikian diriwayatkan oleh istri Rasulullah Shalallahu ’Alaih Wa sallam, Aisyah Radhiyallahu ’anha.
Berkata Aisyah Radhiyallahu 'anha (yang artinya);
“Ya Rasulullah, di masa jahiliyyah Ibnu Jud’an menyambung tali silaturrahim dan memberi makan kepada orang miskin. Apakah hal itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya?”
Rasulullah menjawab:
“Semua itu tidak akan memberikan manfaat baginya karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun berdoa:
”Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari kiamat.”
(HR Muslim)
Sumber kemuliaan seseorang terletak pada kerajinan dan kesungguhannya berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu 'laihi Wa sallam menggambarkan kegiatan berdo'a sebagai perkara yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda:(yang artinya)
”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada do'a.”
(HR Ibnu Majah).
Berdoa dengan hati yang sungguh-sungguh mengharapkan dikabulkannya doa oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala merupakan salah satu syarat terkabulnya doa kita.
Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda:(yang artinya)
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan di-ijabah dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima do'a dari hati yang lalai dan main-main.”
(HR Tirmidzi).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (yang artinya);
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku kabulkan permohonan yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku. Maka hendaklah ia memenuhi
(segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu dalam kebenaran".
(QS.Al-Baqarah[2]:186).
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam, bersabda;
"Uddu'aa'u silahul mu'minin",
(Do'a itu adalah senjata mukmin.)
"Ad-du'aa'u mukhkhul 'ibadah",
(Do'a itu adalah otaknya ibadah).
(HR. Ibnu Hibban dan Tirmidzi).
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala (yang artinya);
"Minta tolonglah kamu kepada Allah dengan bersikap sabar dan mengerjakan shalat, sesungguhnya shalat itu amat berat dirasakan, kecuali bagi orang-prang yang khusuk".
(QS.Al-Baqarah [2]:45).
Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.
http://www.facebook.com/notes/memetik-hikmah-disetiap-kata-kejadian/doa-bisa-menolak-taqdir/178215498871360
Langganan:
Postingan (Atom)
