Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Minggu, 10 April 2011

Menikmati Kebosanan


*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
ANDA SEDANG mengalami kebosanan, jenuh dan “bete” karenanya? Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :”Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”
Pak Tua :”Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan,mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu :”Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua :”Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu :”Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua :”Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”
Tamu :”Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua:”Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu :”Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”
Pak Tua :”Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”
Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua :”Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu :”Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”
Pak Tua :”Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu :”Contohnya?”
Pak Tua :”Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”
Lalu Tamu itu pun pergi.


Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :”Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”
Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)


Jadi apa salah saya menikmati hidup ini dengan kekanak-kanakan?
Aku ingin dekat KEKASIHku karena KEKASIHku itu pemaaf, tidak pendendam, suka memberi, mudah iba. aku ingin dekat KEKASIHku dan belajar apa yang KEKASIHku perbuat.
Aku ingin mudah melupakan kesalahan orang lain, mengganggap orang lain selalu berniat baik padaku, mecintai orang lain lebih daripada mencintai diriku sendiri, memberi kepada orang lain sehingga lupa akan kebutuhanku sendiri.
Apa salah aku hanya berfikir secara anak kecil yang tidak punya prasangka pada manusia lain?


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/menikmati-kebosanan/10150206032131042

Peliharalah Dengan Bersungguh-Sungguh


"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." - [QS. At Tahrim 66:6]
Menjaga Diri dan Keluarga Dari Api Neraka
Seorang muslim diajar supaya mendisiplinkan keluarganya, sanak saudaranya dalam perihal kewajipan kepada Allah serta mengajar apa yang disuruh dan dilarang dengan harapan tidak pula diri sendiri dan keluarganya menjejaki alam neraka.
Sebagaimana yang diketahui umum antara kita yang islam sentiasa mendidik diri, anak-anak serta kaum kerabat lain dalam ibadah kepada Allah, sesama manusia dengan istiqamah agar ahli keluarga dapat meninggalkan jauh-jauh segala kemungkaran, disebabkan kemungkaran yang dilakukan terjerumuslah diri dalam neraka yang tidak terperi pula azabnya.
Orang-orang Islam wajib percaya dengan apa yang di Firman oleh Allah dan Sabda Nabi, oleh itu haruslah ia menjalankan kewajipan mendidik kepada kaum kerabatnya terlebih dahulu jika tidak mahu seperti menepuk air di dulang terpercik ke muka sendiri. Umat manusia hari ini lebih teruja untuk membicarakan keaiban orang lain dari memperbetulkan keadaan keluarga yang masih tunggang-langgang dalam mencari keredhaan Allah.
Sebagaimana Sabda Rasulullah Salallahualihiwasallam:
Hak anak terhadap orang tua, hendaklah orang tua memberikan nama yang baik, mengajarkannya tulis menulis dan menikahkan bila telah baligh. Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak yang lebih baik daripada mendidiknya dengan didikan yang baik.
"Perintahlah anak-anakmu sholat jika sudah berumur 7 tahun, dan pukullah jika umur 10 tahun dan masih meninggalkan sholatnya, serta pisahkanlah tempat tidur mereka." [Hadis]
Sedar atau tidak, umat Islam hari ini lebih besar peratusannya untuk mengambil tahu hal aib orang lain dari menjalankan apa yang terdahulu diperintah oleh Allah dan para rasulnya. Jika ingin menyelamatkan keluarga dari api neraka hendaklah setiap orang-orang mempelajari dan mengikuti Rasulullah.
Islam mendorong para pemelukya menjadi pandai dan berkualiti dalam segenap perkara dengan mempelajari ilmu yang benar agar dapat pula mengajar kepada orang lain sebagaimana Rasulullah, para Sahabat, Tabiin dan Tabiut Tabiin yang sering kali di contohi oleh seluruh umat Islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
[Surah At-Tahrim 66: Ayat ke 6]

 

 

http://www.iluvislam.com/design/e-kad/2036-peliharalah-dengan-bersungguh-sungguh.html

Taqwa dan Alam Sekitar


Melakukan kebaikan terhadap alam sekitar yang menjadi elemen utama alam ini adalah sebahagian daripada tuntutan untuk menjadi hamba yang bertakwa dan diredhai Allah.
Jaga Alam Sekitar
Sebagai orang Islam, kita perlu memahami bahawa segala usaha untuk memelihara atau membaik pulih alam sekitar adalah sama halnya dengan usaha menjaga agama. Ini adalah kerana segala kemungkaran dan dosa mencemari dan memusnahkan alam sekitar sebenarnya mengganggu intipati hidup beragama kerana secara tidak langsung menodai kewujudan manusia di muka bumi ini.
Perbuatan merosakkan alam sekitar adalah sama seperti menafikan sikap adil dan ihsan, sedangkan kedua-dua sikap ini merupakan perintah Allah yang perlu dilaksanakan.
Perbuatan mencemar dan merosakkan alam sekitar juga menodai fungsi kekhalifahan yang telah dibebankan kepada manusia. Ini kerana bumi bukan milik manusia untuk dia berbuat sesuka hati tetapi bumi ini adalah milik Allah yang dipinjamkan kepada manusia yang kemudiannya dituntut untuk menjalankan segala perintah Allah di atasnya.
Oleh hal yang demikian manusia perlu ingat bahawa ia dilantik sebagai khalifah Allah di atas muka bumi yang juga milik Allah. Maka tidak sepatutnya manusia bertindak seperti raja yang seolah-olah tidak akan diminta pertanggungjawabkan di atas segala yang telah dikerjakannya.
Ilmu etika atau akhlak (tasawuf) adalah satu bidang ilmu yang sangat berkait rapat dengan alam sekitar.
Sememangnya kod etika pemeliharaan dalam bahasan etika atau akhlak dianggap sebagai salah satu rukun tasawuf.
Sebagaimana definisi oleh golongan tasawuf bahawa 'kejujuran berserta kebenaran, dan etika (akhlak) berserta ciptaan,' sudah pasti alam sekitar adalah sebahagian daripada ciptaan yang dinyatakan tersebut.
Allah s.w.t juga telah berfirman di dalam al-Quran:
إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ
"Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya (berbuat kebaikan)"
(Surah An-Nahl 16: Ayat ke 128)

 

 

http://www.iluvislam.com/design/facebook/2039-taqwa-dan-alam-sekitar.html

Perjalanan Dunia Destinasi Akhirat


Kehidupan dunia adalah sementara yang merupakan persinggahan yang pasti dilalui. Dunia ibarat lapangan peperiksaan kita selepas menempuh satu pengajian yang lama ketika berada di alam roh dan rahim. Peperiksaan ini harus ditempuhi sama ada kita bersedia atau sebaliknya.
Bagi mereka yang peka dan tahu apa yang harus dilakukan, semestinya telah membuat persediaan rapi dari awalnya lagi, agar setiap jawapan yang dicoret akan menghasilkan nilai yang tinggi, dan seterusnya mendapat tempat di menara gading iaitu Syurga.
Aturlah kehidupan dari sekarang, jangan terlopong kekosongan antara liang-liang usia meninggalkan bekas kekotoran akibat perbuatan tangan sendiri. Degil kekotoran sukar dibasuh, apatah lagi menanggalkan jejaknya.
Kadang-kadang terasa lemah, dan rasa tidak bermakna untuk menyampai dan mengajak kepada kebaikan, kerana dirasakan kita tidak mampu mengubah apa-apa, sedangkan perubahan tersebut bukannya sekejap, tapi kadang-kadang memakan masa bertahun-tahun.
Manusia yang bertemu Allah swt dengan membawa hati yang sejahtera adalah manusia yang mempersembahkan pita rakaman kepada segala ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah swt semasa menunaikan kewajipan hidup di dunia. Kejayaan di dunia hanya sebuah perjalanan, bukannya destinasi abadi kita. Carilah Dia.
Bagaimanakah Caranya?
Ilmu Tauhid adalah ilmu mengenal Allah swt. Dengan memahami ilmu sains, kefahaman kita kepada Allah swt akan menjadi lebih berkesan, sebagaimana contoh orang purba pun pandai membuat rumah, tetapi dengan sains dan teknologi, teknik membuat rumah menjadi lebih berkesan dan menghasilkan rumah yang jauh lebih baik. Kalau pemikiran kita terbuka kepada manhaj ilmu sains (akal rational), insha-Allah, kewujudan Allah swt akan menjadi lebih bermakna pada kita sebagai muslim dan mukmin.
Kesubjektifan sesuatu perkara diukur dari pengetahuan asal dan pengalaman yang telah dilalui oleh seseorang. Sebagaimana Allah swt mengajar Nabi Nuh as supaya berdoa memohon daripada meminta sesuatu yang tidak diketahui kesan dan akibatnya, begitu juga kita perlu kembalikan pengharapan bagi proses mencerahkan pemahaman agama kita kepada Allah swt. Sudah terang lagi bersuluh, jika Allah swt mahukan kebaikan ke atas seseorang itu, maka akan Allah swt berikan kefaqihan dan kesahihan dalam beragama.
Analoginya, kita melatih kanak-kanak secara perlahan (gradual proses) untuk memahami sesuatu. Berkembangnya pemikiran kanak-kanak bermakna dia mendapat penambahbaikan dari segi pemahaman pada kehidupan. Kiranya kita boleh berinteraksi dengan situasi itu, maka adalah sama situasinya dengan kemajuan untuk mengenal Allah swt, bagi orang dewasa. Ia bekembang dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi, dengan syarat, ada keterbukaan orang yang beranggapan itu.
Kalau dilihat sebagai 'instruction manual', penulis kira kesemua sistem ini akan menerangkan bagaimana hendak mendapatkan manfaat terbaik dari sesuatu, iaitu dengan mengenalnya dan menggunakannya. Apabila telah mengenalnya barulah timbul rasa hormat dan kemahuan menjaga mengikut panduan yang diberikan. Oleh itu tujuan hidup lebih kepada mengenal-Nya dan kemudian mengabdikan diri kepada-Nya setelah mengenal.
Awal agama itu ialah mengenal Tuhan. Islam adalah agama wahyu. Bukan berlandaskan rasional akal dan kajian saintifik semata-mata, namun Islam amat menggalakkan penganutnya menggunakan seluruh anugerah akal demi membangunkan tamadun manusia.
Ilmu dan pengetahuan menjadikan Adam terpilih untuk memimpin bumi ciptaan Allah. Faqih dalam agama adalah asas dan tunjang, juga bertindak sebagai pengawal kepada gelojohnya nafsu dan pemikiran yang tersasar.
Muhasabah
Sibukkanlah diri dengan amal yang memberi saham kepada kita, usah dikira habuannya di dunia, lebih penting menjadi baucer kita bertemu Tuhan di destinasi terakhir kelak, yaumul akhirah. Tiada pelaburan yang lebih baik berbanding pelaburan akhirat. Allah swt berfirman yang bermaksud:
"Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya. Iaitu, kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, serta kamu berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kamu; yang demikian itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui" (As-Saff,61:10-11)


Anak Sekecil itu, Berkelahi Dengan Waktu


Matahari masih tampak unjuk gigi disore terik nan cerah ini. Semilir angin berhembus sepoi- sepoi dari candela kamarku. Merayu mataku untuk terpejam sementara waktu. Apalagi posisi candela kamarku berhadapan dengan pohon- pohon bambu. Tapi rayuan itu tak aku tanggapi, karena aku harus berburu dengan waktu di jam belajarku ini. Hanyalah waktu ini yang aku punya untuk belajar pelajaran sekolah, antara jam 14.00 sampai jam 16.00 wib.

Umurku 9 tahun, dan aku sekarang duduk di bangku kelas tiga SD. Jadi, masuk sekolah mulai jam 07.00 berakhir jam 13.00 wib, hanya ada waktu satu jam untuk kubuat istirahat. Setelah jam belajar usai, kehidupan malamku pun dimulai.

@@@

“tang,…tatang” panggil ibuku dari dapur..
“ya buuu, aku segera membantu” sahutku sekenanya. Karena sudah jam 16.00, aku harus membantu mencari nafkah bapak ibuku. Demi sekolahku dan demi sesuap nasi buat keluargaku.
“mentimun dan terongnya dikupas, cuci dan tiriskan. Jangan lupa sayur kulbis dan kemanginya juga, untuk timun dan terongnya, kamu potong dan taruh di ember plastic”perintah ibuku.

Ku melakukan instruksi yang dikatakan ibu. Terkadang, pisaupun melukai tanganku. Mungkin aku kurang hati- hati, ataupun mengantug. Setelah usai, seperti biasanya aku menata piring, mangkok dan gelas ke keranjang. Dan kutaruh alat- alat makan itu kedalam gerobak dorong.

Sementara ibu memasak nasi dan mengukus bebek serta ayam sejak tadi siang, bapakku mempersiapkan tenda lipat yang terbuat dari terpal. Bapak ibuku adalah pedagang makanan, yang membuka stand mulai jam 17.00 sampai jam 24.00, tapi kalu sudah habis sebelum jam itu, kamipun bisa pulang.

@@@

Pukul 16.30 aku dan ayahku berangkat sambil mendorong gerobak yang berisi perlengkapan dagangan kami. Tempat mangkal kami terletak di terminal condongcatur, sleman. Aku membantu mendirikan tenda, walaupun hanya bertugas menarik terpal dan mengikat talinya. Dalam kurun waktu 30 menit, tenda kamipun sudah siap pakai. Berbagai macam hidanganpun sudah kami sajikan diatas meja gerobak, ku tata piring, gelas dan mangkuk di rak sebelah gerobak, agar memudahkan ibu jika melayani para pembeli nanti.

Hidangan yang kami sajikan terdiri dari, nasi putih biasa, nasi uduk, tahu, tempe, lele, ayam, bebek, nila, dan bawal. Ditambah terong dan mentimun. Semua itu dibeli bapak dari pasar tadi pagi, jadi semua menu masih fresh. Itulah mengapa warung makan kami selalu laris.

Setelah semua beres, kamipun tinggal menunggu pembeli. Aku bertugas menerima tamu, mempersilahkan duduk, memberikan kertas dan pena agar pembeli yang mau pesan bisa menuliskan di kertas, makanan dan minuman apa yang mau di pesan. Setelah aku dapat pesanan makanan, kertas tadi aku serahkan ke ibu. Karena ibu bertugas mengambilkan nasi dan mengulak sambal. Kertas tadipun di taruh disamping ibu biar bapak bisa melihat pesanannya. Karena bapak mempunyai tugas mencuci lele, nila ataupun bawal serta menggorengnya. Kalau jenis bebek dan ayam tidak perlu dicuci, karena sudah dikukus oleh ibu ketika dirumah. Jadi, jika ada yang pesan tinggal menggorengnya saja.

Selain bertugas dalam pelayanan pembeli, aku juga mempunyai tanggung jawab membersihkan bekas- bekas para tamu, mulai dari piring, mangkuk, gelas yang telah kotor dan mencucinya. Terkadang, aku menemukan pembeli yang super jorok dan gak punya hati sama makanan. Makanan yang mereka makan berceceran dismpingnya piring. Hal ini yang membuatku tidak suka, karena susah untuk membersihkannya. Karena tempat warung kami ini lesehan dan menggunakan tikar sebagai lantainya.

Tidak jarang ibu memarahiku gara- gara aku salah memberi minuman atau nasi yang bukan pada pemesannya. Biasanya hal itu terjadi ketika aku sudah ngantug. Aku antar saja pesanan ke pembeli tanpa melihat kertas yang tercantum pesanan mereka. Begitulah rutinitasku setiap malam. Jam tidurku tidak seperti anak- anak seusiaku. Seusai membantu orang tuaku membereskan barang dagangan, akupun lekas pulang. Tak begitu lama setelah menaruh kepala diatas bantal, akupun langsung terlelap. Mungkin hanya hitungan detik. Factor capek, letih, lelah dan kantuk adalah penyebabnya. Akupun harus bangun pagi-pagi sekali untuk membantu ibu mencuci peralatan masak yang kami gunakan tadi malam sebelum berangkat sekolah.

Dengan sekolah ini, aku berjanji pada diriku untuk merubah kehidupan kami menjadi lebih baik. Suatu saat nanti jika aku sudah sukses, aku akan membuatkan rumah makan yang permanent untuk bapak ibuku. Mereka tidak usah bekerja, hanya memantau saja karena sudah mempunyai karyawan.


NB:kisah ini dibuat oleh penulis karena terinspirasi ketika makan malam di terminal condong catur  dua jam yang lalu. penulis bertemu dengan seoarang anak kecil yang usianya sekitar 9 tahun dan membantu bapaknya berjualan di terminal condong catur. Penulis melihat wjah si bocah ini melas banget ketika dimarahi ibunya karena memberikan nasi uduk ke pembeli yang pesan nasi putih biasa..sungguh kasian anak kecil itu, dijam istirahatnya, ia harus berkelahi dengan waktu demi perjuangan hidup mereka.
Wahai para pembaca, bersyukurlah selalu atas segala nikmat Tuhan yang diberikan kepadamu….


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/anak-sekecil-itu-berkelahi-dengan-waktu/10150205077636042

Sejenak Dalam Tafakkur


*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Saudaraku,
Sudahkah kita sejenak berfikir dan merenung, bahwa begitu besar rasa ketergantungan kita terhadap apa yang tersedia di alam ini? Ketika kita hendak bernafas, yang kita butuhkan adalah asupan oksigen yang cukup untuk memenuhi paru-paru. Ketika kita hendak melihat dengan jelas, yang kita butuhkan adalah cahaya yang cukup untuk dapat menerangi objek yang ingin kita lihat. Ketika kita hendak berjalan, kita butuh landasan untuk berpijak dan melangkah, dimana daratan bersedia membentangkan punggungnya untuk kita pijak dan kita pun bukan berjalan di awang-awang. Sungguh, semua yang kita butuhkan itu bukanlah muncul dengan sendirinya, melainkan Allah SWT- lah yang telah mengadakannya dan menundukkannya untuk kita, para makhluk-Nya.

Allah SWT sudah bentangkan malam untuk kita beristirahat dan siang sebagai sarana bagi kita untuk mengais karunia-Nya, untuk menjemput rezeki yang sudah ditetapkan-Nya. Allah tundukkan lautan, sehingga kapal-kapal besar dapat berlayar mengarungi samudera-Nya. Allah hiasi kedalamannya dengan segala keindahan luar biasa, yang membuat banyak mata terbelalak dan hati berdecak kagum, hingga sesungguhnya bibir-bibir dan hati kecil manusia tak akan mampu berbohong dan tak kuasa berucap selain pujian akan ke Maha Besaran-Nya atas keindahan segala ciptaan-Nya.

Saudaraku,
Sekiranya kita menyadari segala kebesaran Allah itu, maka sudah tentu kita akan merasa kecil dan malu. Sekiranya kita senantiasa yakin dan menyadari dalam banyak waktu, bahwa diri kita adalah hamba dan Allah SWT adalah dzat yang wajib kita sembah, maka pasti kita tidak akan mau untuk berpaling dari-Nya. Sekiranya diri kita hanya berharap rahmat dan keridhoan-Nya, maka tak akan banyak hati yang akan terluka saat dihina dan dicerca serta lari dari menuju selain kepada-Nya.
Sekiranya kita menyadari, bahwa sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita, mendengar perkataan dan bisikan hati kita, maka sudah tentu kita akan merasa gentar juga takut sekiranya setiap perbuatan buruk kita segera ditampilkan-Nya di hadapan makhluk-makhluk-Nya. Begitu kasihnya Allah SWT, sebesar apapun kejelekan diri kita, namun Dia masih bersedia menutupinya hingga kini.

Saudaraku,
Tidakkah kita rindu untuk menggapai ridho Allah semata? Dalam setiap pekerjaan yang kita buat, dalam setiap perkataan yang kita ucap, dalam setiap denyutan jantung dan dalam setiap tarikan nafas kita? Tidakkah kita rindu untuk senantiasa berupaya meneladani Rasul-Nya, sebagai bagian dari pengakuan rasa cinta kita, dimana ucapan beliau jauh dari ghibah, dari kata-kata dusta dan menghina, juga merendahkan orang lain? Tidakkah kita rindu untuk senantiasa mendapat hidayah dan petunjuk dari-Nya, di setiap jejak langkah hidup kita? Sehingga semua terarahkan dengan baik dan bermanfaat juga bermakna, bagi diri dan lingkungan, dunia dan akhirat.

Saudaraku,
Mari bersama kita luruskan niat, kita perbaiki ikhtiar dan usaha, juga tak pernah lepas bermohon dan berserah diri kepada Allah SWT agar semua hal yang kita rajut dan anyam di atas permukaan bumi ini dilakukan semata-mata karena-Nya dan untuk mencari keridhoan-Nya.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/sejenak-dalam-tafakkur/10150203726471042

Tersenyumlah Untuk Hidup!


*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Meski setebal apapun mendung melintasi langit, namun sinar mentari tak pernah kehilangan cirinya. Ia senantiasa menghadirkan sinarnya untuk dibagi. Ia senantiasa tegar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sumber penerang di hari ini. Ia tak pernah menunda bersinar hingga esok, meskipun ia dapati mendung menghalangi keindahan sinarnya. Setiap tumbuhan kembali terjaga dari tidurnya. Kembang-kembang kembali bermekaran ceria menyambut harinya. Burung-burung terbang dan berkicau dengan merdunya. Semua hadir tanpa rasa sedih, gelisah, dan amarah. Semua ceria untuk menjelang setiap detik anugerah-Nya.
Saudaraku,
Sudahkah kita berniat bahwa hari ini akan kita hiasi dengan senyum ceria dan kebahagiaan? Sudahkah kita bertekad untuk menyongsong hari ini dengan rasa optimis dan semangat hidup yang akan kita bagi dan tularkan? Dan sudahkah kita menjadikan berbaik sangka sebagai modal bagi kita untuk meneruskan perjalanan ini?

Saudaraku,
Begitu sia-sia rasanya perjalanan hidup jika setiap detiknya tidak pernah kita hargai dan syukuri. Begitu menyiksanya perjalanan hidup jika setiap ujian yang menerpanya kita hadapi dengan kemarahan dan wajah yang muram. Dan begitu berat rasanya langkah hidup jika kita tak mau berbagi sedikitpun. Kesedihan tidak akan mengembalikan segala yang hilang menjadi kembali. Tangisan penyesalan akan terasa hampa tanpa kesungguhan usaha untuk bangkit dari kelalaian diri. Setiap nasehat hanya akan menjadi penghias belaka jika sedikitpun tak diniatkan untuk dilakoni. Semua usaha akan terasa sia-sia jika sedikitpun tak berserah diri kepada-Nya.
Tersenyumlah atas anugerah hidup hari ini. Bersyukur dan berbaik sangkalah bahwa Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali. Sebut setiap asma-Nya dengan penuh kerendahan hati. Besarkan Dia dalam setiap aktifitas dan detik perjalanan ini. Jangan engkau halangi senyuman itu jika akan tersungging di ujung bibirmu hanya karena kegundahan yang tak jelas asal usulnya. Jangan engkau gantikan keceriaan diri dengan kesuraman hati yang engkau tampakkan lewat wajah yang bermuram durja.

Saudaraku,
Berbagilah hari ini. Berbagilah untuk setiap kebahagiaan yang engkau rasakan di hati. Tak perlu kau ukur dengan besar atau kecilnya nilai berbagi itu. Berbagilah walau sekedar berwajah ceria dan sepatah kata sapa dan salam. Tetaplah berbagi dan tersenyum dalam rangka mensyukuri segala anugerah-Nya hari ini. Tetaplah berbagi dan tersenyum layaknya mentari yang tak menunda hadirnya meski mendung menyelimuti indah sinarnya hari ini.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/tersenyumlah-untuk-hidup/10150203718241042