Hidup adalah Pilihan... Aku telah memilih untuk tidak menjadi insan biasa. Memang hakku untuk menjadi LUAR BIASA. Aku mencari kesempatan, bukan menunggu kesempatan. Aku tidak ingin menjadi insan yang terkungkung dan terpenjara, direndahkan dan dihinakan oleh pihak yang berkuasa. Aku siap menghadapi risiko, merealisasikan impian agung yang dijanjikan.
Terlalu murah jikalau aku dihargai dengan HARTA, Terlalu rendah jikalau aku dihargai dengan TAHTA, dan terlalu hina jikalau aku dihargai dengan WANITA. Aku yakin... Kenikmatan mencapai impian, Aku tidak akan menjual harga diriku, Tidak juga kemuliaan dakwahku, hanya untuk mendapatkan Harta, Tahta, dan Wanita.
Aku tidak akan merendahkan diri, Pada sembarang kekuasaan dan kekuatan dzalim yang terus mengancam. Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, gagah, dan berani. Aku berfikir dan bertindak dari diri sendiri, Untuk meraih izzatul islam wal muslimiin. Dengan berani menegakkan kembali Khilafah Islamiyah, dan
berkata "Tsumma takuunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah, Allahu Akbar...!!!" Segalanya ini memberikan makna seorang insan sejati.
Kecintaan kepada istri, tanpa disadari banyak menggiring suami ke bibir
jurang petaka. Betapa banyak suami yang memusuhi orang tuanya demi membela
istrinya, dan bahkan di era sekarang betapa banyak singa – singa berubah
menjadi anjing – aning yang menggembala domba. Betapa banyak suami yang berani
menyeberangi batasan-batasan syariat karena terlalu menuruti keinginan istri,
dan tidak sedikit juga yang lalai dalam I’dad lil jihad hanya karena isteri
ingin di temani. Malangnya, setelah hubungan kekerabatan berantakan, karir
hancur, harta tak ada lagi yang tersisa,cita – cita meraih syahadah pupus,
banyak suami yang belum juga menyadari kesalahannya.
Cinta kepada istri merupakan tabiat seorang insan dan merupakan anugerah
Ilahi yang diberikan-Nya kepada sepasang insan yang menyatukan kata dan hati
mereka dalam ikatan pernikahan.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian
istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah (cinta) dan
rahmah (kasih sayang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta
kepada para istrinya, yang beliau nyatakan dalam sabdanya:
“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian,[1] para wanita (istri) dan minyak
wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”[2]
Namun yang disayangkan, terkadang rasa cinta itu membawa seorang suami
kepada perbuatan yang tercela. Karena menuruti istri tercinta, ia rela
memutuskan hubungan dengan orang tuanya. Ia berani melakukan korupsi di tempat
kerjanya. Ia enggan untuk turun berjihad fi sabilillah ketika ada seruan jihad
berkumandang. Ia bahkan siap menempuh segala cara demi membahagiakan istri
tercinta walaupun harus melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika
sudah seperti ini keadaannya, berarti cintanya itu membawa madharat baginya. Ia
telah terfitnah dengan istrinya,Yang lebih berbahaya lagi bila cinta kepada
istri lebih dia dahulukan dari segala hal.Bahkan lebih dia dahulukan daripada
Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya dan agama-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah mengancam dalam firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara,
istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan,
perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang
kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta
berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah:
24)
Karena adanya dampak cinta yang berlebihan seperti inilah, Allah Subhanahu
wa Ta’ala nyatakan bahwa di antara istri dan anak, ada yang menjadi musuh bagi
seseorang dalam status dia sebagai suami atau sebagai ayah. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan
anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah
kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)
Musuh di sini dalam arti si istri atau si anak dapat melalaikan sang suami
atau sang ayah dari melakukan amal shalih khususnya amaliyah jihadiyah.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan jangan
pula anak-anak kalian melalaikan kalian dari berdzikir/mengingat Allah.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
(Al-Munafiqun: 9)
Mujahid berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi
musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” Yakni, cinta
seorang lelaki/suami kepada istrinya membawanya untuk memutuskan silaturahim,
meninggalkan jihad fie sabilillah atau bermaksiat kepada Rabbnya. Si suami
tidak mampu berbuat apa-apa karena cintanya kepada si istri kecuali sekedar
menuruti istrinya.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 8/111)
Beliau juga berkata: “Kecintaan kepada istri dan anak membawa mereka untuk
mengambil penghasilan yang haram, lalu diberikan kepada orang-orang yang
dicintai ini.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/94)
Selain itu, istri dan anak dapat memalingkan mereka dari jalan Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan membuat mereka lamban untuk taat kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an, 12/116)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Ayat ini umum, meliputi
seluruh maksiat yang dilakukan seseorang karena istri dan anak.” (Al-Jami’ li
Ahkamil Qur`an, 18/93-94)
Setelah mengingatkan keberadaan mereka sebagai musuh, Allah Subhanahu wa
Ta’ala memerintahkan: فَاحْذَرُوْهُمْ (maka hati-hati/waspadalah kalian dari
mereka). Berhati-hati di sini, kata Ibnu Zaid, adalah berhati-hati menjaga
agama kalian. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 8/111)
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Berhati-hatinya kalian dalam
menjaga diri kalian disebabkan dua hal. Bisa jadi karena mereka akan membuat
kemudaratan/bahaya pada jasmani, bisa pula kemadharatan pada agama. Kemudaratan
tubuh berkaitan dengan dunia, sedangkan kemudaratan pada agama berkaitan dengan
akhirat.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/94)
Lantas, bagaimana bisa seorang istri yang merupakan teman hidup yang selalu
menemani dan mendampingi, dinyatakan sebagai musuh? Dalam hal ini, Al-Qadhi Abu
Bakr ibnul ‘Arabi rahimahullah telah menerangkan: “Yang namanya musuh tidaklah
mesti diri/individunya sebagai musuh. Namun dia menjadi musuh karena
perbuatannya. Dengan demikian, apabila istri dan anak berperilaku seperti
musuh, jadilah ia sebagai musuh. Dan tidak ada perbuatan yang lebih jelek
daripada menghalangi seorang hamba dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
(Ahkamul Qur`an, 4/1818)
Di dalam tafsirnya terhadap ayat di atas, Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir
As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala kepada kaum mukminin agar tidak tertipu dan terpedaya oleh istri dan
anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya
musuh, ia menginginkan kejelekan bagimu. Dan tugasmu adalah berhati-hati dari
orang yang bersifat demikian. Sementara jiwa itu memang tercipta untuk
mencintai istri dan anak-anak. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menasehati
hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membuat mereka terikat dengan
tuntutan istri dan anak-anak, sementara tuntutan itu mengandung perkara yang
dilarang secara syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan mereka untuk
berpegang dengan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya, dengan
menjanjikan apa yang ada di sisi-Nya berupa pahala yang besar yang mencakup
tuntutan yang tinggi dan cinta yang mahal. Juga agar mereka lebih mementingkan
akhirat daripada dunia yang fana yang akan berakhir.
Karena menaati istri dan anak-anak menimbulkan kemudaratan bagi seorang
hamba dan adanya peringatan dari hal tersebut, bisa jadi memunculkan anggapan
bahwa istri dan anak-anak hendaknya disikapi secara keras, serta harus
diberikan hukuman kepada mereka. Namun ternyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala
hanya memerintahkan untuk berhati-hati dari mereka, memaafkan mereka, tidak
menghukum mereka. Karena dalam pemaaafan ada kemaslahatan/kebaikan yang tidak
terbatas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghabun: 14)
[Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 868]
Demikianlah keberadaan seorang wanita, baik statusnya sebagai istri atau
bukan, merupakan fitnah terbesar bagi lelaki. Karena itulah Allah Subhanahu wa
Ta’ala mendahulukan penyebutan wanita ketika mengurutkan kecintaan kepada
syahwat (kesenangan yang diinginkan dari dunia).
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (Ali
‘Imran: 14)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan
dunia ini berupa ragam kelezatan, dari wanita, anak-anak, dan selainnya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala memulai penyebutan wanita karena fitnahnya yang paling
besar. Sebagaimana dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang paling berbahaya bagi
lelaki daripada fitnah wanita.”[3] (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/15)
Mungkin timbul pertanyaan, bila istri dapat menjadi musuh bagi suaminya,
apakah juga berlaku sebaliknya, suami dapat menjadi musuh bagi istrinya?
Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi rahimahullah menjawab permasalahan ini: “Sebagaimana
seorang lelaki/suami memiliki musuh dari kalangan anak dan istrinya, demikian
pula wanita/istri. Suami dan anaknya dapat menjadi musuh baginya dengan makna
yang sama. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: مِنْ أَزْوَاجِكُمْ (di antara
istri-istri kalian atau pasangan hidup kalian) ini sifatnya umum, masuk di
dalamnya lelaki (suami) dan wanita (istri) karena keduanya tercakup dalam
seluruh ayat.” (Ahkamul Qur`an, 4/1818)
Dengan demikian, janganlah kecintaan seorang suami kepada istrinya dan
sebaliknya kecintaan istri kepada suaminya membawa keduanya untuk melanggar
larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berbuat maksiat, menghalalkan apa yang
Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan atau sebaliknya, mengharamkan untuk dirinya
apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan karena ingin mencari keridhaan
pasangannya. Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditegur
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika beliau sempat mengharamkan apa yang Allah
Subhanahu wa Ta’ala halalkan karena ingin mencari keridhaan istri-istri
beliau.[4]Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan hal itu dalam Al-Qur`an: “Wahai
Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, karena
engkau mencari keridhaan (kesenangan hati) istri-istrimu? Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”[5] (At-Tahrim: 1)
Nasehat kepada Istri
Karena engkau –wahai seorang istri– dapat menjadi fitnah bagi suamimu, maka
bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai engkau menjadi
musuh dalam selimut baginya. Jangan engkau jerat dia atas nama cinta, hingga ia
terjaring dan tak dapat lepas darinya. Akibatnya, yang ada di pikirannya
hanyalah bagaimana mencari ridhamu, mengikuti kemauanmu, walaupun hal itu
bertentangan dengan syariat.
Bertakwalah engkau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadilah istri yang
shalihah dengan membantu suamimu agar selalu taat kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rasul-Nya. Semestinya engkau tidak suka bila ia melakukan perkara
yang melanggar syar’i karena ingin menyenangkan hatimu, apalagi sampai
melalaikan dari jihad fie sabilillah. Keberadaanmu di sisinya, sebagai teman
hidupnya, jangan menjadi penghalang baginya untuk menjadi hamba yang bertakwa
dan menjadi anak yang shalih bagi kedua orang tuanya dan menjadi mujahid untuk
menegakkan dien ini serta menjaga kehormatan ummatnya.
Cintailah suamimu, syukurilah dengan cara engkau semakin taat kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan kewajibanmu dengan sebaik mungkin, dan
mencurahkan segala kemampuanmu untuk memenuhi haknya sebagai suami.
Zuhud terhadap dunia, jangan engkau abaikan. Sehingga engkau tidak menuntut
suamimu agar memenuhi kenikmatan dunia yang engkau idamkan. Pautkan selalu
hatimu dengan darul akhirat agar engkau tidak menghamba pada dunia yang tidak
kekal.
Catatan Akhir
Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (no. 3317) membawakan
asbabun nuzul (sebab turunnya) surah At-Taghabun ayat 14 di atas, dari riwayat
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala ada yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini, beliau menyatakan: “Mereka adalah
orang-orang yang telah berislam dari penduduk Makkah dan mereka ingin
mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun istri dan anak mereka
enggan ditinggalkan mereka. Ketika mereka pada akhirnya mendatangi Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melihat orang-orang yang lebih dahulu
berhijrah telah tafaqquh fid dien (mendalami agama), mereka pun berkeinginan
untuk memberi hukuman kepada istri dan anak-anak mereka. Allah Subhanahu wa
Ta’ala lalu menurunkan ayat[6]:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan
anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah
kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)
Mungkin kalian tau musuh yang jauh di sana, dan mungkin juga kalian bisa
mengalahkan musuh yang lebih kuat dari kalian… tapi bisakah kalian mengalahkan
musuh terdekat kalian ( orang yang kalian cintai ) untuk jihad fie sabilillah
li I’la I kalimatillah??!
Demikianlah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita
untuk selalu mencari keridhaan-Nya di jalan jihad ini. Amin.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Maktab AK 56
__________________________________
[1] Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi, dan shalat) dinyatakan termasuk
dari dunia, maknanya: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan
bahwa dicintakan kepada beliau di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita
dan minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi sedangkan yang ketiga
(shalat) termasuk perkara agama.
[2] HR. Ahmad (3/128, 199, 285), An-Nasa’i (no. 3939) kitab ‘Isyratun Nisa`
bab Hubbun Nisa`.
[3] HR. Al-Bukhari dan Muslim
[4] Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
terjaga dari terus berbuat dosa. Ketika beliau jatuh dalam kesalahan
sebagaimana wajarnya seorang manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menegur
Nabi-Nya sebagai penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau.
Sehingga beliau pun bertaubat dari kesalahannya.
[5] Yakni Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat mengharamkan madu atau
mengharamkan Mariyah budak beliau.
[6] Dan terhadap keinginan mereka untuk menghukum istri dan anak-anak
mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:
إِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghabun: 14)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk memaafkan istri dan
anak-anak mereka.
Jika bayi bisa lahir secara alami, mengapa harus disesar? Ternyata, bayi
lahir sesar lebih beresiko mengalami berbagai gangguan kesehatan dibandingkan
bayi lahir normal. Apa saja gangguan itu? Dr.Erick Fransisco Kan, M.Med, Sp.A
dari Siloam Hospital Karawaci membeberkannya.
1. Gangguan pernapasan
TTNB (Transient Tachypnea of the New Born) adalah gangguan pernapasan yang
paling sering dikhawatirkan terjadi pada bayi sesar. Gangguan ini terjadi
akibat cairan yang memenuhi paru-paru janin selama berada dalam rahim tidak
terkompresi mengingat bayi sesar tinggal "terima jadi". Padahal,
proses persalinan per vaginam melewati jalan lahir inilah yang memungkinkan
cairan yang memenuhi paru-paru semasa janin berada dalam rahim dipompa habis
keluar.
Selain itu, proses kompresi juga terjadi berkat kontraksi rahim ibu secara
berkala. Kontraksi yang lama-kelamaan semakin kuat ini akan menekan tubuh bayi,
sehingga otomatis cairan dalam paru-parunya ikut keluar. Nah, pada bayi sesar,
kedua proses kompresi tadi tidak terjadi dengan sempurna.
2. Rendahnya sistem kekebalan tubuh
Data berdasarkan evidance base memang belum ada. Namun pada proses
persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan
luar melalui proses yang berlangsung lama dan melibatkan kontraksi selama
berjam-jam. Saat lahir pun, mulut bayi tidak tertutup sehingga banyak kuman
yang masuk ke dalam mulut, bahkan sampai ke pencernaan. Imbasnya, bayi
mengalami kontak alami dengan mikroba floral dalam jalan lahir ibunya yang
kemudian berkoloni di ususnya. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan dan
pematangan sistem kekebalan tubuhnya.
3. Rentan alergi
Baik dari kondisi "kotor" di jalan lahir yang tidak dilalui si
bayi yang dilahirkan secara sesar, maupun tertundanya pemberian ASI sesegera
mungkin, membuat risiko alergi pada bayi jadi lebih tinggi. Belum lagi paparan
antibiotik yang biasanya diberikan kepada bayi sesar sebagai langkah
berjaga-jaga dari kemungkinan infeksi, juga meningkatkan risiko alergi.
4. Emosi cenderung rapuh
Meski belum terbukti melalui penelitian ilmiah, kondisi psikologis bayi
sesar diduga cenderung lebih rapuh dibanding bayi yang dilahirkan secara
normal. Faktanya, bayi yang lahir normal memang dihadapkan pada kondisi tidak
nyaman dimana ia harus melewati jalan lahir yang sempit dan berliku disertai
tekanan hebat akibat kontraksi rahim. Perjuangan inilah yang diyakini dapat
melatih mental si kecil sejak dini. Boleh jadi faktor ini memberi kontribusi
tersendiri terhadap kepribadian si anak kelak.
Akan tetapi pola asuh yang diberikan orangtua dan bagaimana pengaruh
lingkungan terbukti lebih ikut memberi warna apakah seseorang lebih tahan
banting atau tidak ketika menghadapi stres kehidupan.
5. Terpengaruh anestesi
Kondisi ini mungkin saja terjadi. Karenanya, tim dokter yang terdiri dari
dokter kebidanan dan kandungan, dokter anak, dan dokter anestesi harus
berhitung secermat mungkin agar pembiusan pada bayi berpengaruh seminim
mungkin. Untuk itu, umumnya anestesi yang digunakan adalah anestesi spinal yang
berdosis rendah. Penggunaan bius total membuat bayi terlihat agak ngantuk karena
dikeluarkan saat masih di bawah pengaruh anestesi.
6. Minim peluang IMD
Bayi sesar kurang mendapatkan kesempatan untuk menjalani IMD alias inisiasi
menyusu dini. Ini karena kondisi bayi sesar berbeda dari kondisi bayi lahir
normal yang bisa langsung ditempelkan di dada ibunya dengan refleks yang cukup
kuat untuk mencapai payudara ibu. Sementara pada persalinan sesar, hal yang tak
bisa segera dilakukan mengingat bayi biasanya langsung dipasangi infus dan
selang oksigen guna membantu pernapasannya. Si ibu pun umumnya masih dalam
keadaan "teler" akibat pengaruh obat anestesi.
Bunda kalo memang tdk dlm keadaan memaksa / alasan kesehatan...mending lahir
dgn normal...lebih cepat pulihnya juga :)
KISAH CINTA Ali bin Abi thalib
dan Fathimah Azzahra adalah
salah satu kisah cinta yang penuh
romantika dan keberkahan
dari Allah. Bahkan Rasulullah
pernah bersabda ” Allah
menyuruh menikahkan
Fatimah dengan Ali
” (Diriwayatkan oleh Thabrani).
Sosok Ali adalah lelaki
sebenarnya, sifat baiknya
melebihi matahari waktu
dhuha. Menyibak semua
masalah. Istananya hanya
gubuk tua. Pedang berkilau
harta kekayaannya. Begitulah
seorang pujangga
menggambarkan sosok Ali
dalam syairnya.
Sementara Fatimah Azzahra
adalah teladan bagi wanita.
Ayahnya adalah manusia
terbaik yang diciptakan Allah
sebagai rahmat bagi alam
semesta, dan Ibunya adalah
sebaik-baik wanita..Setiap
langkahnya selalu
memancarkan cahaya.
Saat meminang Fatimah, Ali
menjual sebagian barang
miliknya, termasuk rompi
perang. Inilah yang menjadi
mas kawin Ali kepada Fatimah.
Semuanya bernilai 480 dirham.
Dari jumlah itu, Rasulullah
menyuruh menggunakan 2/3
nya untuk membeli wangi-
wangian dan 1/3 nya untuk
membeli pakaian.
Kehidupan rumah tangga
mereka sangat sederhana.
Sebuah rumah tanpa
perabotan apapun. Hanya
beralas tidur kulit domba, satu
bantal berisi serabut korma.
Bahkan fatimah pernah
menggadaikan kerudungnya
kepada seorang Yahudi
Madinah untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangganya.
Namun Maha Suci Allah yang
telah menjaga kebersihan
rumah tangga Fatimah secara
fisik dan ruhani.
Ali ra. berkata, ” Aku menikah
dengan fatimah. Kami tidak
memiliki alas tidur kecuali
selembar kulit domba. Malam
hari kami pergunakan sebagai
alas tidur dan siang harinya
kami jemur. Kami tidak
memiliki pembantu, pekerjaan
rumah tangga ditangani oleh
fatimah. ketika fatimah pindah
kerumahku, Rasulullah
membawakan selimut, bantal
kulit berisi serabut kurma, dua
gilingan tepung, satu gelas,
dan kantong susu. Saking
seringnya menggiling tepung,
sampai berbekas pada tangan
Fatimah, dan saking seringnya
membersihkan rumah sehingga
pakaiannya penuh debu, dan
saking seringnya menyalakan
tungku sampai pakaiannya
penuh arang ” (dikutip dari 35
Shiroh Shahabiyah, Mahmud
Al-Mishri)
Ketimun (Cucumis sativus L) ternyata bukan hanya untuk lalapan atau
buah rujak yang paling sederhana. Buah hijau muda ini ternyata berfungsi
sebagai obat dan bahan kosmetika tradisional yang sangat ampuh dan telah
terbukti.
Dengan kandungan protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang,
vitamin A, B1, C dan E, ketimun sanggup menyelesaikan banyak masalah kesehatan
dan kecantikan. Beberapa khasiat ketimun ialah:
1. Ketimun yang kaya serat berguna untuk melancarkan buang air
besar, menurunkan kolesterol, dan menetralkan racun. 2. Ketimun dengan kandungan kaliumnya yang tinggi, memiliki khasiat
meringankan penyakit hipertensi, terutama akibat hipersensitivitas terhadap
natrium seperti garam dapur, petsin atau soda kue. 3. Ketimun dapat memberikan rasa sejuk dalam mulut untuk mengurangi
rasa sakit pada tenggorokan atau luka sariawan. 4. Irisan ketimun dapat membuat mata terlihat cerah dan berbinar.
Caranya, tempelkan saja irisan timun selama 20 menit pada tiap kelopak mata dan
lihat hasilnya. 5. Ketimun dapat memperlancar buang air kecil sehingga dapat
mengurangi beban kerja jantung dan menurunkan tekanan darah. 6. Ketimun adalah bahan penyegar yang dingin, obat pembersih dan
pelembab sekaligus bagi semua jenis kulit wajah. Irisan ketimun maupun sari
ketimun dapat ditempelkan pada wajah secara rutin untuk menghambat hadirnya
keriput dan membuat kulit makin lembut. 7. Ketimun terkenal efektif menghilangkan jerawat ringan. Tempelkan
irisan ketimun di bagian wajah yang berjerawat dan jerawat biasanya cepat
sekali hilang. 8. Ketimun yang sifatnya dingin, dapat juga dipakai untuk mengobati
gigitan serangga, gatal-gatal karena tumbuhan dan ‘memadamkan’ kulit yang
terbakar matahari. Bagian tubuh yang tersiram air panas-pun jika dibalut dengan
parutan daging ketimun, akan dengan cepat terobati.
Kukenal kau didunia maya, tepatnya jejaring sosial Facebook, atau yang biasa
disebut FB. Pesona yang kau tawarkan dalam profil dan interaksi sungguh
mengusik hati, membuatmu tenar dan dipuja-puja bejibun akhwat. Profilmu
mengalahkan tokoh terkenal sekalipun, dengan title jihad dan perjuangan,
seakan-akan kau adalah mujahid sejati yang menjadi banyak idaman mujahidah.
Namamu sungguh bagus, menjadikan engkau mudah dikenal. Tausiyah-tausiyahmu yang
indah, perhatianmu yang membuncah, komentar-komentarmu bagai telaga sejuk bagi
kegersangan batin. Kau semakin membuat akhwat-akhwat terkagum-kagum karena foto
profilmu yang begitu memikat, meskipun aku tahu sebenarnya itu foto yang kau
ambil dari internet.
Aku semakin terlena dibuatnya, apalagi saat kau mampu menjawab puluhan
pertanyaan dengan menggunakan dalil, ah kau begitu hebat, tidak hanya cerdas,
tapi sangat cemerlang otakmu. Kau penuhi wallku dengan dalil-dalil penyejuk
hati, kau dorong aku agar menutup aurat secara rapat, akupun sangat menyukai
caramu, aku semakin menyukai pribadimu. Kaulah ikhwan yang menjadi idola akhwat
facebooker, namun aku yang kau hujani perhatian melimpah.
Hingga disuatu sore itu, akupun terpana lalu tertegun saat engkau tawarkan
ta’aruf, ‘beruntungnya aku’ batinku saat itu. Ikhwan yang menjadi rebutan itu
memilihku, bermodalkan GR dan rasa percaya diri yang tinggi, akhirnya aku
menerimamu.
Tapi sesaat kemudian aku dikejutkan oleh pengaduan beberapa akhwat tentang
perangaimu. Diantara mereka berkata, “Ukhti, kamipun juga barusan ditawarkan
ta’aruf, Alhamdulillah Allah memberikan petunjuk pada kami.”
Aku terganga tidak percaya, namun mereka sodorkan bukti-bukti itu.
Ikhwan apakah kau ini, memperdaya akhwat dengan kedok islam, ternyata kau
adalah JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.
Profilmu palsu, komentar-komentarmu bermodalkan copas, perhatian yang kau
tabur adalah perhatian basi untuk memperdaya para akhwat, jurus gombalisasi kau
lancarkan pada banyak akhwat.
Kini aku sadar akan bahaya gombal warning dunia maya.
Terinspirasi dari curhat teman maya.
Wanita muda itu terlihat kusut dan lusuh. Air
matanya terus berjatuhan, isaknya sangat memilukan, pekat batinnya terpancar
dari wajahnya yang penuh beban. Semua penyesalannya ditumpahkan di hadapanku.
Dia masih sangat muda, belum genap tiga puluh
tahun usianya, pernah terjatuh dan menduakan Allah serta bermaksiat. Kini
nuraninya tersadar, menggedor-gedor pintu hatinya agar bertaubat.
“Aku sungguh hina dan buruk, masa lalu yang penuh
kejahiliyahan, menduakan-Nya, dan meninggalkan segala perintah-Nya,” jeritnya
lirih.
Kubiarkan wanita muda itu menangis beberapa
menit. Setelah agak tenang, kubacakan ayat indah dari Sang Ghaffar padanya.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah
(pula) kamu bersedih hati, sesungguhnya kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya) jika kamu orang-orang beriman” (Ali Imran 139)
“Apakah aku harus mati saja saat ini?” Tanyanya
pilu, seakan ayat yang kusebutkan belum mampu menenangkan batinnya yang
porak-poranda.
“Kematian adalah sesuatu yang pasti, namun
matilah dengan cara yang Allah ridhai. Simaklah firman-Nya dalam surat An-Nisa’
ayat 78: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapati kamu, meskipun kamu
di dalam benteng yang tinggi dan kokoh,” kucoba memotivasinya.
“Otak ini telah beku, dihimpit rasa yang
menusuk-nusuk. Aku benar-benar putus asa dengan hidupku,” keluhnya lagi dalam
tangis.
Beberapa saat kemudian, kucoba menenangkan agar
tangisnya sedikit reda. “Sesungguhnya, tiada berputus asa dari Rahmat Allah,
melainkan kaum yang kafir,” ujarku mengutip surat Yusuf ayat 87.
Tangisnya terdiam sesaat, namun benteng hatinya
tak cukup kokoh menahan gejolak jiwanya. “Apakah Allah akan mengampuni dosaku
yang seluas samudera?” keluhnya lagi.
“Duhai jiwa, ketahuilah janji-Nya dalam ayat-ayat
cinta yang indah: ‘Dan Dialah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya dan
memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Itulah
janji Allah dalam surat Asy-Syura ayat 25, wahai jiwa yang renta, apakah engkau
memahaminya?” tanyaku padanya.
Lagi-lagi dia sesenggukan dalam tangis panjang,
nuraninya mengajak pada kebenaran, hidayah-Nya meresap dengan pelan dalam lubuk
hati.
“Duhai jiwa, sebuah hadits dari sang kekasih
Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, begini sabdanya,
“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di
kerongkongan.” Adakah engkau meyakininya?” ujarku memotivasi.
Dia tampak manggut-manggut mendengar
penjelasanku, wajahnya sedikit berubah, air matanya tidak separah sebelumnya.
“Nasihati aku satu ayat lagi,” pintanya.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui
batas pada diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari Rahmat
Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah
yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” jawabku sambil menyitir surat Az
Zumar ayat 153.
Dia terdiam, tangisnya pelan-pelan reda, wajahnya
terlihat cerah, menyala optimis jiwanya.
“Aku akan menjemput taubat pada Rabb yang Maha
Pengampun dan Maha Penyayang,” bisik wanita muda itu penuh tekad kuat di
depanku.
Aku pun larut dalam tangis hening, aura
kesyukuran bergurat lembut dalam hati, menyaksikan hamba yang sedang berusaha
mendekat-Nya.
“Berkah Allah atasmu wahai jiwa yang sedang
menuju kesucian taubat,” doaku lirih.
Duhai jiwa yang keropos imannya Saatnya engkau bangkit dari keterlenaan dunia Rengkuh iman yang dulu menyala di dada Diri yang penuh lumpur dosa dan nista Butuhkan suntikan religi membara Reguk manisnya sujud cinta Di atas taubatan nashuha.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat
dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Riya’ merupakan syirik khafi (samar), yakni
syirik yang bersifat rahasia,- semoga Allah melindungi kita darinya -.
Sedangkan seseorang lebih tahu terhadap dirinya sendiri dibandingkan orang lain
dalam masalah ini.
بَلِ
الْإِنسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas
dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 14)
Maka siapa yang mengintrospeksi dirinya dan
merasa diawasi oleh Rabb-Nya dalam keadaan sepi atau ramai, akan selamat dari
penyakit yang berbahaya ini. Dan di antara tanda riya yang paling jelas adalah
pelakunya sengaja menampakkan amal-amak shalihanya di tengah-tengah manusia dan
sengaja membicarakan kebaikan serta ketaatannya untuk mendapatkan pujian dan
sanjungan mereka.
Meninggalkan Amal Karena Takut Riya’
Seorang hamba tidak boleh meninggalkan amal hanya
karena takut riya’. Itu termasuk jerat-jerat tipu daya setan. Karena setan,
pada satu kondisi berusaha menjerumuskan seorang hamba ke dalam riya untuk
merusak amalnya. Atau pada kondisi yang lain menipunya dengan meninggalkan amal
karena takut riya’ supaya tidak melakukan amal shalih. Padahal dia
diperintahkan untuk beramal dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan dengan
berharap ridha Allah dan meninggalkan godaan setan dan tipu dayanya. Maka siapa
yang sudah berazam menjalankan satu ibadah lalu meninggalkannya karena takut
riya’, sebenarnya dia telah berbuat riya’. Karena dia meninggakan amal karena
manusia. Tetapi jika meninggalkannya untuk dikerjakan saat sendirian, maka ini
dianjurkan kecuali pada amal-amal wajib.
Meninggalkan amal karena takut riya’ sebenarnya adalah riya’, karena
dia meninggakan amal karena manusia.
Terapi Riya’
Terapi untuk menyembuhkan riya’ banyak macamnya.
Yang paling utama adalah tekad tulus untuk berhenti dari riya’ dan
meninggalkannya. Selanjutnya banyak mengingat hari akhir dan ancaman pedih bagi
orang yang berbuat riya’. Seorang hamba harus meyakini bahwa kebaikan dan
keburukan ada di tangan Allah Ta’ala. Sementara yang sempurna memujinya dan
menghinakannya adalah Allah Ta’ala yang tiada sekutu bagi-Nya. Karena itu
hendaknya ia mengintrospeksi dirinya, menghitung aib, kesalahan, dan
kekurangannya. Juga memperbanyak ibadah siri (yang bersifat rahasia) seperti
shalat malam, bershadaqah dengan sembunyi-sembunyi, dan menangis sendirian
karena takut kepada Allah.
Orang yang ingin selamat dari riya’ juga harus
meminta tolong kepada Allah Ta’ala untuk merealisasikan keikhlasan dan berdoa
dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallau 'alaihi wa sallam,
yaitu:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan
syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu
terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad dan Shahih
Abi Hatim serta yang lainnya, shahih). Wallahu Ta’ala a’lam.
Orang yang ingin selamat dari riya’ juga harus meminta tolong kepada
Allah Ta’ala untuk merealisasikan keikhlasan dan berdoa dengan doa yang
diajarkan oleh Nabi shallallau 'alaihi wa sallam
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi
kita Muhammad berserta keluarga dan para sahabatnya.
Dalam kehidupan dunia, seringkali kita melakukan hal-hal dengan otomatis,
mekanis dan mengandalkan kekuatan akal pikiran saja. Kehidupan manusia yang
selalu berpacu dengan waktu seolah-olah menjauhkannya dengan sebuah karunia
besar dalam jiwanya. Kesibukan yang tiada henti telah melenakan dan
membuat manusia hanya mengandalakan kekuatan mata indra.
Padahal, dalam keadaan seperti apapun, hati manusia yakin bahwa banyak hal-hal
yang tidak kasat mata, namun memiliki kedalaman makna. Sebagai contoh, dalam
pekerjaan mereka setiap hari yang seabrek dan full deadline. Sebagian dari
merekapun tak mampu memahami makna dari pekerjaan itu sendiri, tidak mampu
memberi arti dari berbagai kesibukan itu. Dan hasilnya, mereka hanya
menghabiskan hari tanpa tahu untuk apa mereka lakukan semua itu.
Namun bagi sebagian lain, mereka memilih untuk menggunakan "mata"
ketiga mereka dalam menyelesaikan kepenatan dalam hidup. Merekapun berlomba mengasah
kejernihan hati. Sebagai hasilnya mereka dapat melihat semua hal dengan
ketajaman mata hatinya. Ketika seseorang berhasil menjaga kejernihan hatinya,
maka kepekaan mata batinnya akan lebih tajam. Pada saat itu mereka dapat
memaknai lebih dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan. Pekerjaan tidak
hanya dimaknai sebagai sebuah kewajiban atau kebutuhan, tapi lebih dari itu,
pekerjaan adalah bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala.
Karena ketajaman mata hati itu pula, jika seseorang mennggunakannya saat dia
diposisikan untuk mengambil keputusan-keputusan penting, maka yang keluar
adalah keputusan sesuai suara hati.Dan hal tersebut, insyaallah akan lebih
dekat dengan kebenaran.
Tantangan dalam hidup yang terus menerus datang sampai kita meninggal nanti,
seringkali berwujud sebagai godaan yang seringkali dapat mengotori kejernihan
hati kita. Seperti adanya sikap egoisme, mementingkan hawa nafsu, mengikuti
ambisi meraih kekayaan atau kekuasaan dengan menghalalkan segala cara,
memperturutkan emosi-emosi negatif seperti amarah, dendam, benci dan iri hati,
dll. Hal tersebut juga dapat menjadikan kejernihan hati menjadi terkotori. Hati
yang terbelenggu cahaya kejernihannya tidak dapat memancar ke permukaan. Inilah
yang dapat melemahkan ketajaman mata hati seseorang sehingga tidak mampu
menembus pandangan yang jauh ke depan.
...Mata hati, sebuah "alarm" dan penasehat setia kita, bahkan saat
kita membiarkan diri kita untuk tidak setia kepada kebenaran, dia akan tetap
mengusulkan langkah kebaikan untuk kita tempuh, dan sisanya tergantung pilihan
diri kita sendiri, mengikuti langkahnya atau menjadi pembangkang atasnya...
Dengan demikian untuk melatih ketajaman mata hati, berusahalah menghindari
hal-hal yang dapat membelenggu kejernihan hati seperti berbagai pengaruh
negatif dan daya tarik materialisme duniawi tersebut. Karena kalau hal-hal
negative itu dibiarkan, dapat menjadikan kita semakin sulit mendengarkan
bisikan hati. Menjadikan kita akan lebih mempercayai atau mengandalkan
kemampuan otak serta produk-produk pikiran atau akal semata. Inilah yang akan
melahirkan ketidakseimbangan antara kemampuan nalar dengan hati nurani.
Mengakibatkan tidak tajamnya kemampuan mata hati, sehingga melahirkan berbagai
masalah dalam kehidupan.
Melihat dengan mata hati, akhirnya, menjadi wujud kuatnya relasi kita dengan
Allah Azza wa Jalla.Ketika manusia tidak lagi menemukan celah kemana lagi dia
harus melangkah, maka karunia "mata" itu memberikan sebuah keterangan
yang tentunya menjadikan kita pribadi yang lurus. Semua itu akan terjadi jika
orang tersebut selalu dapat memelihara kejernihan hatinya. Hal tersebut juga
akhirnya memberikan hak kepada manusia untuk memiliki kekuatan pandangan mata
hati yang tajam, yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu yang tidak
tercapai oleh nalar.
...Melihat dengan mata hati, akhirnya, menjadi wujud kuatnya relasi kita
dengan Allah Azza wa Jalla.Ketika manusia tidak lagi menemukan celah kemana
lagi dia harus melangkah, maka karunia "mata" itu memberikan sebuah
keterangan yang tentunya menjadikan kita pribadi yang lurus...
Kekuatan ketajaman mata hatinya benar- benar melebihi kekuatan pandangan
matanya yang sebenarnya, yang tentunya sangat terbatas dalam jarak serta
jangkauan. Penglihatan yang begitu tajam dari mata hatinya dan nasehat yang
dimunculkan bagi orang yang menyediakan jeda waktu untuk konsultasi kepadanya,
serta merta akan mendidik dan menggiring orang tersebut untuk selalu patuh
dalam kebenaran.Mata hati, sebuah "alarm" dan penasehat setia kita,
bahkan saat kita membiarkan diri kita untuk tidak setia kepada kebenaran, dia
akan tetap menemani kita, dan sisanya tergantung pilihan diri kita sendiri,
mengikuti nasehatnya atau menjadi pembangkang atasnya.
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam
tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan
pekerjaan tersebut.
”Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup
memelihara kebiasaan yang baik.”
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang
mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki
sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.
Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya
sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
”Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup
punya inisiatif sedikit saja.”
Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu
menjawab: “Mengapa?” Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak
marah-marah.”
”Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu
tidak marah-marah.”
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya
berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan
tumbuh dengan subur.” Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku,
tapi aku sedang membina anakku.”
”Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia
rajin bekerja.”
Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke
dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab: “Cari mulai
dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke
dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih
memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung
rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”
”Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan
segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan
meloncat-loncat.”
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir
jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir
jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari
kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si
katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
”Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari
kemalasan saja.”
Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan
berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada
yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa:
“Karena barang bawaan saya sedikit.”
”Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak
serakah dan memiliki secukupnya saja.”
Nikmati saja hidupmu, wahai sahabat…
Usahlah engkau bersedih dan mengeluh,
engkau di dunia ini tak akan selamanya,
esokpun engkau akan berpulang,
kembali padaNya... menemuiNya,
Usah engkau risaukan duniamu,
akhirat yang abadi lebih mulia,
bersiaplah engkau untuknya,
Tak perlu banyak bicara,
lakukan saja yang engkau bisa,
ada Dia yang selalu melihatmu,
ada Dia yang selalu mendengar doa-doamu,
ada Dia yang setia menemanimu,
Yakinlah, engkau tak pernah sendiri lagi,
engkau bahagia bersamaNya, bukan?
Rasakanlah kehadiranNya yang setiap saat dekat denganmu,
bahkan ia lebih dekat dari urat nadimu sekalipun,
Lalu...Apalagi alasanmu untuk bersedih?
Apa lagi alasanmu untuk dapat menumpahkan keluhmu?
Apa lagi alasanmu untuk pamerkan kecengenganmu?
Apa lagi alasanmu untuk tidak berbuat, saat kesempatan berbuat begitu luas
terbuka?
ia ada untuk engkau isi,
kesempatan itu untuk engkau taklukkan,
So, jangan pernah ragu lagi,
engkau sudah sangat kuat bersamaNya,
engkau sangat luar biasa dalam bimbinganNya,
engkau mampu taklukkan egomu,
engkau mampu runtuhkan kelumu,
engkau mampu robohkan karang kesombonganmu itu,
engkau mampu berlemah lembut,
engkau bisa berkasih sayang,
engkau akan selalu memiliki jiwa yang lapang,
untuk kembali menerbitkan senyumanmu,
senyuman terindah yang engkau miliki,
Yakinlah bahwa engkau mampu,
maka engkau benar-benar mampu, wahai sahabatku…
Semangat berjuang!
gigih berdoa,
jangan pernah engkau lupa, ada Dia bersamamu,
Semoga engkau selalu ingat,
ada yang mengharapkan kebaikan-kebaikanmu,
kenanglah saat-saat engkau menderita,
maka engkau akan mampu berbagi di saat bahagiamu
sumbangkanlah walau sepotong senyumanmu,
sampaikanlah walau sebait nasehatmu,
bagilah walau satu kata motivasimu hari ini,
maka engkau akan bahagia…
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah
dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial
keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan
barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi
kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah
karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu
sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali
inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu
memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya
kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30
dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan
dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya
beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk
istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan
jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul
kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu
itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki
itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya
dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu.
Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera
membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang
mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu
mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar
dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita
menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian
mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu
seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang
itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya
berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh
perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah
koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam
dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah
Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
Memaafkan itu indah
Memaafkan itu sedekah
Memaafkan itu mengundang Maghfirah-Nya
Memaafkan itu mengundang Rahmah-Nya
Memaafkan itu nikmat
Memaafkan itu lezat
Memaafkan itu melapangkan perasaan
Memaafkan itu melapangkan kesusahan
Memaafkan itu membuka pintu-pintu cinta
Memaafkan itu membuka pintu-pintu dunia
Memaafkan itu membuka pintu-pintu bahagia
Memaafkan itu membuka pintu-pintu surga
Memaafkan itu melepaskan masalah
Memaafkan itu melepaskan rasa susah
Memaafkan itu melepaskan rasa serba salah
Memaafkan itu melepaskan berbagai rasa resah
Memaafkan itu melancarkan pernapasan
Memaafkan itu melancarkan hubungan
Memaafkan itu menambah ketampanan
Memaafkan itu menambah kejelitaan
Memaafkan itu mengikhlaskan
Memaafkan itu menyehatkan
Memaafkan itu mendewasakan
Memaafkan itu mencerdaskan
Memaafkan itu membersihkan diri
Memaafkan itu mengundang rejeki
Memaafkan itu menenangkan hati
Memaafkan itu mengundang ridho Ilahi
Dengan demikian,
jangan lagi kita mengatakan :
"Huh,enak banget dong kalau dia gue maapin, enek di die gak enak di
gue..."
Lho? Astaghfirullaahal'azhiim...