Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam
tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan
pekerjaan tersebut.
”Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup
memelihara kebiasaan yang baik.”
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang
mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki
sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.
Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya
sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
”Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup
punya inisiatif sedikit saja.”
Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu
menjawab: “Mengapa?” Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak
marah-marah.”
”Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu
tidak marah-marah.”
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya
berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan
tumbuh dengan subur.” Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku,
tapi aku sedang membina anakku.”
”Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia
rajin bekerja.”
Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke
dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” Ada yang menjawab: “Cari mulai
dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke
dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih
memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung
rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana.”
”Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan
segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan
meloncat-loncat.”
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir
jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir
jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari
kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si
katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
”Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari
kemalasan saja.”
Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan
berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada
yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa:
“Karena barang bawaan saya sedikit.”
”Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak
serakah dan memiliki secukupnya saja.”
Nikmati saja hidupmu, wahai sahabat…
Usahlah engkau bersedih dan mengeluh,
engkau di dunia ini tak akan selamanya,
esokpun engkau akan berpulang,
kembali padaNya... menemuiNya,
Usah engkau risaukan duniamu,
akhirat yang abadi lebih mulia,
bersiaplah engkau untuknya,
Tak perlu banyak bicara,
lakukan saja yang engkau bisa,
ada Dia yang selalu melihatmu,
ada Dia yang selalu mendengar doa-doamu,
ada Dia yang setia menemanimu,
Yakinlah, engkau tak pernah sendiri lagi,
engkau bahagia bersamaNya, bukan?
Rasakanlah kehadiranNya yang setiap saat dekat denganmu,
bahkan ia lebih dekat dari urat nadimu sekalipun,
Lalu...Apalagi alasanmu untuk bersedih?
Apa lagi alasanmu untuk dapat menumpahkan keluhmu?
Apa lagi alasanmu untuk pamerkan kecengenganmu?
Apa lagi alasanmu untuk tidak berbuat, saat kesempatan berbuat begitu luas
terbuka?
ia ada untuk engkau isi,
kesempatan itu untuk engkau taklukkan,
So, jangan pernah ragu lagi,
engkau sudah sangat kuat bersamaNya,
engkau sangat luar biasa dalam bimbinganNya,
engkau mampu taklukkan egomu,
engkau mampu runtuhkan kelumu,
engkau mampu robohkan karang kesombonganmu itu,
engkau mampu berlemah lembut,
engkau bisa berkasih sayang,
engkau akan selalu memiliki jiwa yang lapang,
untuk kembali menerbitkan senyumanmu,
senyuman terindah yang engkau miliki,
Yakinlah bahwa engkau mampu,
maka engkau benar-benar mampu, wahai sahabatku…
Semangat berjuang!
gigih berdoa,
jangan pernah engkau lupa, ada Dia bersamamu,
Semoga engkau selalu ingat,
ada yang mengharapkan kebaikan-kebaikanmu,
kenanglah saat-saat engkau menderita,
maka engkau akan mampu berbagi di saat bahagiamu
sumbangkanlah walau sepotong senyumanmu,
sampaikanlah walau sebait nasehatmu,
bagilah walau satu kata motivasimu hari ini,
maka engkau akan bahagia…
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah
dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial
keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan
barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi
kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah
karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu
sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali
inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa.
Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu
memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya
kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30
dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan
dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya
beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk
istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan
jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul
kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu
itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki
itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya
dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu.
Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu
tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera
membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang
mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu
mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar
dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita
menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian
mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima.
Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu
seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang
itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya
berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh
perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah
koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam
dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah
Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
Memaafkan itu indah
Memaafkan itu sedekah
Memaafkan itu mengundang Maghfirah-Nya
Memaafkan itu mengundang Rahmah-Nya
Memaafkan itu nikmat
Memaafkan itu lezat
Memaafkan itu melapangkan perasaan
Memaafkan itu melapangkan kesusahan
Memaafkan itu membuka pintu-pintu cinta
Memaafkan itu membuka pintu-pintu dunia
Memaafkan itu membuka pintu-pintu bahagia
Memaafkan itu membuka pintu-pintu surga
Memaafkan itu melepaskan masalah
Memaafkan itu melepaskan rasa susah
Memaafkan itu melepaskan rasa serba salah
Memaafkan itu melepaskan berbagai rasa resah
Memaafkan itu melancarkan pernapasan
Memaafkan itu melancarkan hubungan
Memaafkan itu menambah ketampanan
Memaafkan itu menambah kejelitaan
Memaafkan itu mengikhlaskan
Memaafkan itu menyehatkan
Memaafkan itu mendewasakan
Memaafkan itu mencerdaskan
Memaafkan itu membersihkan diri
Memaafkan itu mengundang rejeki
Memaafkan itu menenangkan hati
Memaafkan itu mengundang ridho Ilahi
Dengan demikian,
jangan lagi kita mengatakan :
"Huh,enak banget dong kalau dia gue maapin, enek di die gak enak di
gue..."
Lho? Astaghfirullaahal'azhiim...
Allah…Dialah Yang Maha Dekat. Bahkan Dia lebih dekat kepada hambanya
daripada hambanya kepada dirinya sendiri. Terkadang kita masih menganggap bahwa
Allah adalah sesuatu yang jauh dilangit, sehingga ketika berdoa, kita pun
mengarahkan wajah kita ke langit.
Sahabatku…jika kita mencoba untuk mengenalNya lebih dalam, kita akan
menyadari bahwa Ia begitu dekat dengan kita. Manifestasi sifat-sifatNya
terpancar diseluruh alam semesta.
Dunia ini adalah tempat dimana Tuhan Yang Maha Esa termanifestasikan ke
dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Manifestasi dari sifat-sifatNya bisa
kita lihat disekitar kita, sifat Ar-RahmanNya, Yang Maha Pengasih
termanifestasikan dalam kasih sayang orang tua kepada anaknya, dalam kasih
sayang induk ayam menemani anak-anaknya ketika mencari makan, dalam tetesan air
hujan, hingga matahari yang memancarkan kehangatan sinarnya kepada bumi.
SifatNya Al-Badii’, Yang Maha Indah, terwujud dalam Keindahan bunga-bunga
yang merekah, dalam indahnya warna-warni pelangi, dan juga dalam kicauan
burung-burung yang terdengar begitu merdu di telinga kita. Dengan sifatNya
Al-Hadi, Yang Maha Pemberi Petunjuk, Ia selalu membimbing kita dengan penuh Cinta
dan kasih Sayang sehingga kita bisa mengerti tentang arti kehidupan. Ia memberi
petunjuk kepada kita agar kita mengetahui mana yang baik bagi diri kita, dan
mana yang buruk. Dia yang mengajarkan kita bagaimana caranya untuk mengenal dan
mencintai DiriNya agar manusia merasa tenteram dalam hidupnya karena memang
untuk itulah kita diciptakan.
Sahabatku…dimana kita bisa menemukan tempat yang tidak ada Dia? Tidak ada
satu tempat pun tanpa keberadaanNya. Kemanapun wajah kita menghadap kita
melihat manifestasi dari sifat-sifatNya.
Dan Kisah dibawah ini mengajarkan sesuatu kepada kita bahwa Tuhan bukanlah
sesuatu yang jauh disana, Ia bukanlah sesuatu di langit sana. Tetapi ia ada di
sekeliling kita, Ia selalu menemani kita, Ia selalu hadir bersama kita sebagaimana
seorang sufi Dhu ‘l-Nun mengatakan “Ya Tuhan, ketika aku mendengar suara
binatang, suara pohon-pohon, suara percikan air, kicauan burung-burung, gemuruh
angin dan gelegar halilintar, aku menyadari pada mereka bukti dari keEsaanMu,
aku merasakan bahwa Engkaulah Sang Pencipta, Yang Maha Besar, Yang Maha Bijak,
Yang Maha Adil”. Tidak sesuatu pun yang luput dari kehadiranNya. Semoga Dia
selalu menjaga hati kita agar senantiasa peka terhadap kehadiranNya di dalam
setiap nafas kehidupan kita. amin
Salah satu bangsa Israel mendatangi Musa dan mengatakan, “Tolong sampaikan
kepada Tuhanmu bahwa kami mengundangnya untuk makan malam.” Musa menjawab bahwa
Tuhan tidak makan ataupun datang ke jamuan makan malam. Namun, ketika suatu
kali Musa ke Gunung Sinai, Tuhan berkata kepadanya, “Mengapa tidak kau
sampaikan undangan jamuan makan malam dari hambaKu?”
Musa berkata, “Tapi Tuhanku, Engkau tidak makan.” Tuhan menjawab,
“Rahasiakan apa yang kau ketahui antara dirimu dengan Ku. Katakan pada mereka
bahwa Aku akan datang memenuhi undangannya.”
Musa turun dari Gunung Sinai dan mengumumkan bahwa Tuhan akan datang pada
jamuan makan malam tersebut. Tentunya setiap orang mempersiapkan hidangan yang
luar biasa, termasuk Musa. Pada saat mereka semua sibuk memasak, tiba-tiba
muncul seorang kakek tua yang keletihan setelah melakukan perjalanan jauh.
“Aku sangat lapar,” dia berkata kepada Musa. “Tolong berikan aku sesuatu
untuk dimakan.”
Musa menjawab, “Bersabarlah, Tuhan alam semesta akan datang. Ambil ember ini
dan timbalah air disumur, kau juga bisa membantu kami menyiapkan hidangannya.”
Setelah ember terisi, kakek tua tersebut memberikannya kepada Musa dan
sekali lagi meminta makanan kembali, tetapi tidak ada yang bisa memberikan ia
makanan sebelum Tuhan datang. Ketika waktu yang ditentukan telah tiba, namun
Tuhan tidak juga muncul. Setiap orang mulai menyalahkan Musa atas ajakannya
yang tidak benar. Musa merasa sangat malu.
Keesokan harinya, Ia mendaki Gunung Sinai dan berkata, “Tuhanku, apa yang
kau lakukan padaku? Aku berusaha meyakinkan setiap orang bahwa Engkau Wujud,
Kau berkata bahwa Kau akan datang pada jamuan tersebut dan Kau tidak pernah
muncul. Tidak seorang pun yang akan mempercayaiku lagi!”
Tuhan menjawab, “Aku datang, Aku sebenarnya mendekatimu, tetapi ketika Aku
memberitahumu bahwa Aku lapar, kau menyuruhkKu menimba air. Aku kembali
meminta, tetapi engkau menyuruhKu menyiapkan hidangan. Baik kamu maupun orangmu
tidak mampu menyambutKu dengan hormat.”
“Tuhanku, seorang kakek tua datang kepadaku dan meminta makanan kepadaku.
Tetapi ia hanyalah seorang mahluk hambaMU.”
“Aku bersama hambaKu yang kelaparan itu. Menghormatinya berarti
menghormatiKu. Melayaninya berarti melayaniKu. Seluruh langit dan bumi terlalu
kecil untuk menampungKu, tetapi tidak demikian dengan hati para hambaKu. Aku
tidak makan, tidak pula minum, tetapi menghormati hambaKu yang kelaparan
berarti menghormatiKu. Memperhatikan mereka yang kelaparan adalah
memperhatikanKu.”
--------------------------------------------------
Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan, dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Aku
mendengar Kekasihku Rasulullah ShalallahuAlaihi Wassalam bersabda:”
Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari kiamat,” Wahai Anak Adam, Aku sakit
namun engkau tidak menjengukKu. Aku lapar tapi engkau tidak memberiKu makan.
Aku haus tapi engkau tidak memberiKu minum”.
Anak adam berkata,” Wahai Rabb, bagaimana aku menjengukMu sedangkan
Engkau adalah Rabb semesta alam?”.
Allah berfirman,” Bukankah engkau mengetahui bahwa hambaKu si fulan
sakit namun engkau tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau
menjenguknya, niscaya engkau akan mendapatiKU bersamanya ?”
Anak adam berkata,” wahai Rabb, bagaimana aku memberimu makan
sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?”.
Allah berfirman,” Bukankah engkau mengetahui bahwa hambaKu si
fulan ( pengemis ) meminta makan kepadamu namun engkau tidak memberinya makan?
Tidakkah engkau tahu bahwa jika engkau memberinya makan, niscaya engkau
mendapati pahalanya padaKU?”.
Anak adam berkata,” wahai Rabb, bagaimana aku memberimu minum
sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?”.
Allah berfirman,” Bukankah engkau mengetahui bahwa hambaKu si fulan
meminta minum kepadamu namun engkau tidak memberinya minum? Tidakkah engkau
tahu bahwa jika engkau memberinya minum,niscaya engkau mendapati pahalanya
padaKU ?” .( HR.Bukhari-Muslim dalam shahihnya ).
Hari ini setan menghadiahiku sebuah surat, ditujukan untuk semua
anak adam:
Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktivitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu,
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum
memulai sarapanmu,
Ketika pulang bekerja, kau juga tidak sempat mengerjakan shalat Isya'
sebelum berangkat ketempat tidurmu, apalagi tahajud mana pernah kau
sempat..hahaha..
Kaupun lebih suka menonton bola di TV 90 menit penuh tanpa beranjak, tapi
membaca alquran 10 menit saja engkau tak pernah sempat..
Hmmm..Kau benar2 orang yang TIDAK bersyukur, Aku menyukainya..
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah
cara hidupmu.
Hai anak cucu adam yang Bodoh, Kalian millikku..
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu..
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu
sepanjang masa untuk membalasnya..
Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana indah
untukmu dihari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,dan aku akan membuat kehidupanmu
seperti neraka.
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH, dan
itu membuatku senang..
Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada
NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani.
Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik,
makan sekenyang-kenyangya, guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang,
menyakiti tetangga, mengghibah orang dari belakang, tidak hormat pada orang
tua, banyak tertawa yg membuatmu lupa akan kematian,memegang tubuh perempuan
dalam pacaran..
Semua itu aku menyukainya..!!
Kau tidak pernah ke Masjid, berperilaku buruk, menyakiti hati teman dengan
lisan,
engkau mengaku muslim tapi perkataan dan perbuatanmu dzalim..
engkau mengaku beriman tapi tidak mampu menjaga lisan..
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja bukan...?
Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya di neraka..
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita kelak..
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untukmu..
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku
memanfaatkan hampir di seluruh masa hidupmu.
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan aku tawa.
Dan dosapun sudah mulai bertumpuk mewarnai hidupmu.
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat
dosa, meminum khamer, berpacaran, durhaka kepada orang tua..semuanya....
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi,
berzina,
bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak..
Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau pasti akan lari sembunyi dariku, dan
bertaubat atas dosa-dosamu. Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit, Karena kaupun tak pernah tahu kapan kau akan mati bukan..?
Tapi memperingati orang bukan tabiatku, karena diusiamu sekarang dan tetap
melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.
Tapi begitulah, bukankah kaupun bangga denga dosa-mu..?
Maka lanjutkanlah..
Dan jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi orang tolol yang lebih baik dimata ALLAH.
Hai anak adam, kekasihku dan sahabat sejatiku..
Sampai jumpa denganku di kehidupan akan datang, KUTUNGGU ENGKAU DI PINTU NERAKA !!!
----------------------------------------------------
Barakallahufikum...semoga bermanfaat
Wassalamualaikum
---------------------- (Semoga surat ini akan membuat kita benar-benar berfikir)
Siapa wanita yg tak ingin menjadi
wanita sholehah alias bidadari Bumi? Semua wanita pasti menginginkannya, tidak
terkecuali saya pribadi.
Kemarin iseng-iseng membuka-buka
tumpukan perpustakaan pribadi dirumah, dan kutemukan sebuah koleksi buku yg
sangat menginspirasi saya untuk berusaha keras menjadi "Bidadari Bumi'
tersebut.
Berikut saya nukilkan Penggalan
dalam buku Menjadi Bidadari Cantik ala Islam, karya Ummu Ahmad Rifqi,
bagian yang paling ku sukai. Betapa bahwa menjadi seorang istri yang demikian
tertulis di dalamnya memang sangat susah dan mahal untuk diperoleh.
--------------------------------------
Ada sebuah pengakuan yang sangat
menarik dari seorang suami :
Aku rasa istriku adalah karunia
terindah yang Allah berikan kepadaku. Saat di dalam rumah, ia selalu berusaha
memanjakanku. Kebutuhanku selalu dia penuhi sebelum dirinya. Saat aku pergi
meninggalkan rumah, tak ada gelisah atas anak-anak dan hartaku. Aku percaya ia
tidak akan menelantarkan mereka. Aku yakin ia akan senantiasa menjaga
kehormatan diri dan keluarganya.
Saat aku di tempat kerja, bahkan
saat di luar kota, seringkali ia menelepon menanyakan keadaanku. Saat aku
sakit, ia menjadi yang begitu prihatin dengan keadaanku. Dan dengan panggilan
sayang yang sering ia ucapkan, aku menjadi begitu bahagia. Aku merasa, bahwa
kehadiranku di dunia ini, keberadaanku di tengah-tengah mereka menjadi semakin
berharga.
Istriku juga akan sangat bahagia
saat aneka masakan dan kue yang dibuatnya lahap kami nikmati. Ia juga begitu
senang saat dapat berbagi dengan para tetangga. Ia selalu mendukung setiap
kebaikan yang aku lakukan. Ia pun tak pernah memberatkanku dengan segala macam
tuntutan yang sulit aku penuhi. Ia lebih tenang dan senang berkumpul bersama
kami di dalam rumah, daripada berkeliling di mal-mal atau tempat hiburan dan
rekreasi.
Bahkan, saat kami kesulitan keuangan,
ia tidak jarang harus menjual perhiasan yang dipakainya secara diam-diam.
Menyadari segala kebaikan yang dipersembahkannya kepadaku, aku merasa sangat
miskin kebaikan.
Aku merasa berutang budi begitu
banyak terhadapnya. Sepertinya apa yang selama ini aku berikan sangat tidak
sebanding dengan segenap kebaikan yang ia persembahkan. Dan aku menjadi semakin
terharu, saat menawarkan sedikit kemewahan, tapi ia menolak dan lebih memilih
hidup apa adanya.
Saat aku memberi sesuatu yang
membahagiakannya, tak lupa ucapan terima kasih dan doa mengalir dari bibirnya.
Ini semakin memacu semangatku untuk mengimbangi segala kebaikannya dengan
mempersembahkan kebahagiaan untuknya.
Anak-anakku begitu bahagia saat
berada di dekatnya. Kami merasa begitu sedih dan kehilangan saat ia marah
karena sikap atau perkataan kami yang tak berkenan di hatinya. Dan aku menjadi
semakin terharu, saat ia mengatakan tak keberatan untuk mencarikanku istri
lagi. "Bagaimana mungkin aku membutuhkan wanita lain kalau kamu adalah
wanita terbaik yang aku miliki? Apalagi yang aku cari dari seorang
wanita?"
Sejujurnya kuakui, setelah Allah dan
RasulNya, ia adalah sumber kebahagiaan kami. Tapi saat aku mengakui dengan
sejujurnya akan hal itu kepadanya, ia hanya tertawa dan menganggapnya hanya
rayuan belaka. Wahai sayangku, semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan
surga-Nya yang terindah. Engkau adalah bidadari yang Allah karuniakan padaku di
dunia.
--------------------------------
Itulah sepenggal kisah yg dituangkan
oleh seorang suami dalam buku tersebut. Sebuah kisah nyata tentunya.
Subhanallah, betapa mulianya jika
seorang istri mampu menjadi pendamping setiap bagi sang suami. Dan betapa agung
kedudukannya di hati sang suami saat ia mampu memikat perasaan sang suami
dengan segala kemuliaan yang ada dalam dirinya. Dan saat suaminya berkata
kepadanya, ia akan mengatakan, "Aku mendengar dan menaati", persis
seperti yang dikabarkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam kepada para
sahabatnya.
"Maukah aku kabarkan kepada
kalian tentang istri kalian yang berada di surga?" Kami berkata, "Ya
wahai Rasulullah." Beliau bersabda : "Dia adalah wanita yang sangat
mencintai lagi subur, bila sedang marah atau sedang kecewa atau suaminya sedang
marah maka ia berkata, 'Inilah tanganku aku letakkan di tanganmu dan aku tidak
akan memejamkan mata sebelum engkau ridha kepadaku' " (HR.Imam Thabrani dalam Al-Ausath (5806))
"Saya melihat neraka yang tidak
pernah aku lihat seperti hari ini, dan saya melihat penghuni terbanyak dari
kalangan wanita." Mereka bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda : "Karena pengingkaran mereka." Beliau ditanya,
"Apakah karena ingkat kepada Allah?" Beliau bersabda : "Mereka
membangkang dan mengingkari kebaikan suami. Jika engkau berbuat baik kepada
salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, lalu ia melihat darimu sesuatu
(yang tidak disukai), maka ia berkata, 'Saya belum pernah melihat darimu
kebaikan sama sekali.' "
(HR.Imam Bukhari dalam shahih-nya (1052) dan Imam Muslim dalam shahih-nya
(907))
Dari Abu Umamah bahwa Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
Tidak ada perkara yang lebih bagus
bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah,
bila ia menyuruhnya maka ia menaatinya, bila ia memandangnya membuat hati senang,
bila bersumpah maka ia mendukungnya dan bila ia pergi maka ia dengan tulus
menjaga diri dan hartanya." (HR.Imam Ibnu Majah dalam sunan- nya (1857))
"Maukah kalian aku tunjukkan
harta simpanan yang paling baik bagi laki-laki, yaitu wanita shalihah. Bila
dipandang menyenangkan, bila diperintah menaatinya dan jika pergi jauh ia
menjaganya." (HR.Abu Dawud 1664 dari Abdullah bin Abbas dan Hakim di
Mustadrak (1/567, 2/363)
"Jika seorang wanita shalat
lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya,
maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai." (Shahih
diriwayatkan Imam Ibnu Hibban dalam shahih-nya (4151))
Subhanallah, hiks, pingin nangis
bacanya.
Semoga aku, kita semua, baik yang
belum, sudah, atau akan menikah, bisa menjadi istri dan wanita shalihah dengan
predikat Bidadari Bumi seperti yang dijelaskan di atas. Aamiin.
Suatu hari ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya dan
lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus. dan lukisan ini dipakai pada saat
pernikahan putri diana.
Sang pelukis ketika menyelesaikan lukisannya sangat senang dan memandangi
lukisan yang berukuran 2×8 m dan sambil memandanginya pelukis tersebut berjalan
mundur. dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang.
dia terus berjalan mundur dan dibelakang adalah ujung dari gedung tersebut yang
tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia mengakhiri hidupnya.
tapi tidak jadi karena dia berpikir sekali dia berteriak pelukis tersebut
malah bisa jatuh. Kemudian orang yang melihat pelukis tersebut mengambil kuas
dan cat yang ada didepan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut
sampai rusak.
Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut.
tetapi beberapa orang yang ada disitu menghadang dan memperlihatkan posisi
pelukis tadi yang nyaris jatuh.
Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan
memimpikan suatu hari yang indah bersama dengan pasangan yang kita idamkan.
tetapi lukisan itu kelihatannya dirusak oleh Tuhan, karena Tuhan melihat bahaya
yang ada pada kita kalau kita melangkah. Kadang-kadang kita marah dan jengkel
terhadap Tuhan atau juga terhadap pemimpin kita. tapi perlu kita ketahui Tuhan
selalu menyediakan yang terbaik.
“ Angka cepuluh, nich yeeeee….” masih terngiang olokan adekku tadi
sore. Mbak Vita, kakak perempuanku yang mendengar waktu itu pun ikut
senyum-senyum, sementara ibu yang menegur adikku tampak sekali untuk
tidak terpancing dengan situasi yang ada. Aku hanya cemberut tanpa bisa berkata
apa-apa.
Postur tubuhku memang lumayan semampai, dengan tinggi 165 cm dan berat badan
54 kg. Sedangkan suamiku bertubuh gemuk dengan tinggi badan 155 cm. Seringkali
ada rasa malu yang menghinggapiku jika harus berjalan berdua. Jika bepergian
bersama, aku lebih memilih naik sepeda motor dibanding naik kendaraan umum.
Acapkali aku merasa tak nyaman dengan pandangan orang-orang.
Hari Ahad besok ada undangan walimah di tempat saudara sepupu. Sebenarnya
aku sangat senang karena kemungkinan besar bakal berjumpa dengan
saudara-saudaraku yang sudah cukup lama tak bertemu, akan tetapi aku
mendadak jadi badmood. “ Adek sayang, motornya belum sempat diservis. Tadi pagi
remnya kurang makan. Besok kita naik angkot aja ya,” suamiku berkata
penuh kelembutan.
“ Ga mau, ah… Pokoknya naik motor aja. Lagian ngapain juga motornya ga
dikasih makan sampe kenyang,” aku menjawab seenaknya. Terbayang di
benakku orang-orang yang memandang aneh dan berbisik-bisik karena melihat kami.
“Ayolah Kak, bawa ke bengkel sekarang aja. Paling-paling cuma beberapa menit
dah beres lagi. Kalo naik angkot kan lebih lama,” kataku kemudian sambil
merajuk.
“Iya-iya, tapi jangan lupa siapin jahe hangatnya ya. Dah mendung banget, sepertinya
bentar lagi bakal turun hujan.”
“Baik, Kakak sayaaaaang,” senyumku pun mengembang. Lega rasanya karena
besok tidak jadi naik angkot.
~~@~~
Di tengah perjalanan, aku dikejutkan dengan pemandangan yang luar
biasa. Mataku yang waktu itu mulai mengantuk tiba-tiba terbelalak. Tampak
sepasang suami istri yang sangat mesra. Sang istri menggamit erat lengan
suaminya. Bukan hanya kemesraannya yang mengagetkanku tetapi postur tubuh
sepasang sumi istri itu yang tak jauh berbeda dengan kami, bahkan suaminya jauh
lebih gemuk dibanding suamiku.
Belum habis keterkejutanku, tiba-tiba suamiku menghentikan motornya.
“Assalamu’alaikum…,” sapa suamiku.
“Wa’alaikum salam… Waaaaah, lama tak jumpa,” dia menjabat erat tangan
suamiku sementara istrinya mengangguk dan tersenyum padaku. Ternyata orang itu
adalah sahabat suamiku, Andri Priyatna yang biasa diceritakan tapi
baru saat ini aku berkesempatan bertemu beliau dan istrinya. Aku pun berkenalan
dan berbincang akrab dengan Yuni, istrinya yang sebaya denganku.
~~@~~
Alhamdulillah hari ini aku libur sedangkan suamiku ada acara
dadakan di kantornya. Terpikir untuk berkunjung ke rumah mbak Yuni. Kutelpon
suamiku, “ Assalamu’alaikum, Kakak. Di rumah sepi banget, bolehkah adek
silaturahmi ke tempat mbak Yuni?”
“Wa’alaikum salam waramah. Mbak Yuni yang mana ya?” suamiku malah balik
bertanya.
“Aduuuhh kakaaaaak… Itu lho mbak Yuni istrinya mas Andri, sahabat
kakak,” jawabku gemes.
“Ooo… hehehe… iya, maaf kakak lupa. Maklumlah, Cuma ada satu wanita manis
yang paling kakak ingat. Anne Susanti tersayang. Adek sudah punya alamat
rumahnya atau belum?”
“ Kakak lebay, hehehe… Udah dong Kak. Adek berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum,
Kakak sayaaang,” penuh riang kujawab pertanyaan suamiku.
“Wa’alaikum salam warahmah, hati-hati Dek. Pulangnya jangan terlalu sore
ya,” pesan suamiku.
“Iya, Kak. Terima kasih,” segera kuakhiri pembicaraan. Mumpung belum terlalu
siang, aku segera bergegas mengayun langkah ke luar rumah.
~~@~~
Alhamdulillah sampai juga. Butuh sekitar tiga puluh menit hingga tiba di
rumah kontrakan mbak Yuni. Tak ada halaman, hanya teras kecil yang dipakai
untuk berjualan gorengan. Kontrakannya pun tidak luas, berbeda sekali dengan
rumah kontrakan kami yang jauh lebih luas dan asri.
Kulihat mbak Yuni sedang sibuk melayani pembeli. Kutunggu beberapa saat
hingga mulai sepi dan kuucapkan salam. Dia segera menjawab salam dan
menyambut kehadiranku.
“Maaf ya mbak An, jadi sungkan nich. Koq ga kasih kabar kalau mau ke sini.
Ayo masuk dulu,” tersungging senyum manisnya.
“Ga pa-pa mbak, aku yang minta maaf. Jadi merampas waktu mbak Yuni,” gantian
aku yang merasa sungkan.
“ Mbak Anne, kaya’ nemuin siapa aja sich. Aku ini cuma penjual gorengan
bukan pejabat atau politisi yang super sibuk, hehehe,” kelakar mbak Yuni
mencairkan suasana.
Cukup lumayan lama kami berbincang tentang banyak hal. Hingga tiba-tiba
terdengar suara orang mengucapkan salam. Serentak kami menjawabnya. Kulihat
mbak Yuni segera mematut diri. Wajahnya tampak sangat riang. Segera disambutnya
lelaki itu, yang tak lain adalah suaminya. Penuh takzim dia cium tangan
suaminya.
“Sepertinya Abang capek sekali, Yuni bikinin es teh dulu ya,” diusapnya
peluh yang menetes di dahi suaminya.
“Iya dek, tadi salah satu ban gerobaknya pecah, makanya Abang pulang
lebih awal. Maaf ya dek, baksonya belum banyak yang kejual. Insya Allah habis
dzuhur Abang betulin dulu,”
“Ga pa-pa, Bang. Yang penting Abang baik-baik saja. Soal bakso kan bisa
dijual besok lagi,” tampak senyum ketulusan di wajah mbak Yuni.
“Eh, ada tamu. Maaf mbak. Saya permisi ke dalam dulu ya,” suami mbak Yuni
tampak sungkan karena tak menyadari kehadiranku di situ. Beliau segera masuk
kamar.
Belum sempat aku menjawab, mbak Yuni sudah berkata,”Astaghfirullah, mohon
maaf ya mbak Ann, sampai dianggurin kaya gini.”
“Ngga pa-pa kok mbak, kebetulan juga saya mau pamit. Sekalian mau belanja
kebutuhan rumah. Terima kasih ya mbak, sudah meluangkan waktu untuk saya. Kalau
mbak Yuni ada waktu, silaturahmi ke tempat saya ya,” aku beranjak dari tempat
dudukku dan menyalaminya.
“Jangan kapok ya, insya Allah saya akan ke sana. Terima kasih sudah berkenan
datang ke sini,” tersirat kesungguhan dalam kata-katanya.
“Sama-sama, Mbak. Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikum salam,” diantarnya aku hingga di teras kecilnya.
~~@~~
Matahari makin terik ketika kulangkahkan kaki menuju rumah. Sambil berjalan,
kuingat kejadian-kejadian di tempat mbak Yuni. Banyak hikmah yang kupetik dari
silaturahmi tadi. Aku merasa malu sekali pada diriku sendiri. Selama ini aku
tak pernah bersikap seperti itu.
Mulai saat ini, aku, Anne Susanti akan berubah menjadi istri yang
benar-benar manis. Tidak akan mudah merajuk lagi dan bersyukur dengan segala
keadan suamiku. “I love you, Kakak. Sudah semestinya aku bangga
mempunyai suami yang begitu perhatian dan sabar seperti engkau,” kataku dalam
hati.
Pada suatu hari seorang kakek tua yang bijaksana berjalan melalui hutan
bersama seorang anak muda yang terkenal tidak bertanggung jawab dan kepala
batu.Setelah melakukan perjalanan sekian jam kakek tua itu menghentikan
langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil. "Cabutlah pohon itu," kata sang kakek tua.
Segera pemuda itu membungkuk, dan hanya dengan dua jari saja ia dengan mudah
dapat mencabut pohon itu.Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu
berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. "Coba cabut pohon ini," kata sang kakek
tua.Sekali lagi pemuda itu menuruti perintahnya, namun kali ini dia menggunakan
kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut akar pohon itu.Setelah itu
mereka melanjutkan perjalanan kembali dan akhirnya mereka berhenti di depan
sebuah pohon yang sangat besar. "Sekarang, cabutlah pohon ini!" perintah sang
kakek tua. "Wah itu tidak mungkin!" protes pemuda itu. "Aku tidak mungkin dapat mencabut pohon sebesar ini. Untuk
memindahkannya diperlukan sebuah buldoser". lanjut anak muda itu. "Engkau benar sekali," jawab kakek tua itu seraya
tersenyum.Dan begitulah sahabat, maka dari kisah diatas dapat ditarik
kesimpulan, "Kebiasaan", entah baik ataupun buruk,
sama seperti pohon-pohon itu:Kebiasaan yang belum berakar dalam, seperti pohon
yang masih kecil. Dapat dicabut dengan sangat mudah.Kebiasaan yang akarnya
mulai mendalam, seperti pohon yang sudah agak besar. Untuk mencabutnya di
perlukan usaha dan tenaga yang sangat kuat.Kebiasaan yang sudah berakar kuat,
seperti pohon besar yang menjulang tinggi kokoh.
Bahkan orang itu sendiri tak lagi mampu untuk mencabutnya.Maka dari itu
sahabat, jagalah diri kita agar kebiasaan yang sedang kita tanamkan adalah
kebiasaan-kebiasaan yang baik.Coba ambil waktu, lalu selidiki hatimu sahabat.
Adakah kebiasaan buruk yang masih sangat kecil tertanam di hatimu? Atau
mungkin 'pohon buruk' yang sudah agak besar? Dan yang lebih penting, adakah
'pohon besar' yang tertanam begitu lama? Jika ada, segera carilah penyelesaian
masalah atas kebiasan burukmu sahabat.
Tanya orang lain yang menurut sahabat bisa dipercaya dan mampu untuk
membantu menyelesaikan masalah itu.Dan tidak hanya itu, berdo'a dan meohonlah
kepada Allah agar dapat di berikan kemudahan dan petunjuk. Lalu cobalah untuk
mengubah sedikit demi sedikit perilaku yang buruk menjadi lebih baik. Walau
mungkin sesekali kita akan gagal, terus coba dan ulangi lagi. Dengan sikap yang
ingin berubah dengan total.
Insya Allah.. kita akan lebih mudah untuk membuang 'akar jelek'
tersebut.Marilah sama-sama kita mencoba untuk menjadi hamba-hamba yang lebih
baik lagi. Jikapun memang benar keburukan kita tak tampak dimata manusia, tapi
janganlah sampai kita lupa, ada Yang Maha Melihat atas apa-apa yang telah kita
kerjakan, yaitu Allah SWT.
Janganlah sampai kita menyesal, karena setiap perbuatan pasti akan ada
balasannya. Baik dan buruk? Ada syurga dan neraka yang telah menanti. Dan di
mana tempat kita nanti? Itupun dapat di pengaruhi oleh 'pohon' yang kita tanam
di hati. Pohon yang 'baik' ataukah Pohon yang 'buruk'? Semua itu adalah pilihan
kita sendiri. "Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka jahanam, sedang kamu kekal
di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruknya tempat bagi orang yang sombong."
(Qs. Al-Mu' min : 76) "Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang
sholeh, sesungguhnya akan kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi
di dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal
didalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu)
yang bersabar dan bertawakal kepada rabbinya." (Qs. Al-Ankabut : 58-59)
Beruntung, saya pernah mengenal tiga orang saleh, ketiganya tinggal di
daerah yang berbedah, sikap dan pandangan agamis mereka berbeda, dan jenis
kesalehan mereka pun berbeda. saleh pertama di klender, orang betawi campuran
arab. ia saleh, semata karena namanya. orang menyukainya karena ia aktif
siskamling meskipun bukan pada malam gilirannya. Orang kedua, Haji Saleh Habib
Farisi, orang jawa. agak aneh memang, Habib Farisi sebuah nama jawa, ia saleh
dalam arti sebenarnya, minimal kata para jamaah masjid kampung itu, jenggotnya
panjang, peci putihnya tak pernah lepas, begitu juga sarung plekat abu2nya itu,
tutur katanya lembut, seperti mas danarto. ia cekatan memberi senyum pada orang
lain. Alasannya, " Senyum itu Sedekah ". Kepada anak kecil, ia
sayang. Hobinya mengusap kepala bocah-bocah yang selalu berisik pada saat
sholat jamaah berlangsung.
Usapan itu dimaksudkan agar anak-anak itu tak lagi bikin gaduh. Tapi yang
namanya bocah ya tetap aja bocah, biar seribu kali kepala di usap, ribut tetap
jalan. seolah mereka khusus dilahirkan buat bikin ribut di masjid.
" Ramai itu baik saja," Katanya dengan sabar ( ketika orang-orang
lain pada marah ). " Karena ramai tanda kehidupan ", katanya lagi.
" Lagi pula, kita harus bisa sholat khusuk dalam keramaian itu. "
Mungkin ia benar, Buktinya ia betah berjam-jam Dzikir di masjid. Sering
sholatnya sambung menyambung tanpa terputus kegiatan lain.
Selesai magrib, ia tetap berdzikir sambil kepalanya terangguk-angguk hingga
Isya' tiba. Jauh malam, ketika orang masih lelap dalam mimpi masing-masing, ia
sudah mulai sholat malam, kemudian dzikir panjang sampai subuh tiba. Selesai
subuh dzikir lagi, mengulang-ulang Asmaul Husna dan beberapa Ayat pilihan
sampai terbit matahari.
Ketika sholat Duha, tidur lagi satu jam, selebihnya dzikir..dzikir..dzikir.
pas betul dengan nama yang disandangnya. Dasar sudah saleh, plus Habib ( nama
sufi besar ) ditambah Farisi ( salah seorang sahabat Nabi .
Kalau kita sulit menemui Pejabat karena banyak acara, kita sulit menemui
orang jawa ini, karena ibadahnya di masjid begitu padat. Para tetangga menaruh
Hormat padanya, banyak pula yang menjadikannya Idola. Namun ia mempunyai
kekurangan, ada dua macam cacat utamanya. Pertama,, kalau dalam sholat jamaah
tak ditunjuk jadi Imam, ia tersinggung. Kedua, kalau orang tak sering Sowan ke
rumahnya, ia tidak suka karena ia menganggap orang itu telah mengingkari
eksistensinya sebagai orang ada di depan.
" Apakah ia dengan aktif di masjid karena ingin menjadi Tokoh ?. "
Hanya Allah dan dia yang tahu. Pernah saya berdialog dengannya, setelah begitu
gigih menanti dzikirnya yang panjang itu selesai. Saya katakan bahwa kelak bila
punya waktu banyak, saya ingin selalu dzikir di masjid seperti dia, saya tahu,
kalau sudah pensiun, saya akan punya waktu macam itu.
" Ya kalau sempat pensiun, " Komentarnya. " Maksud pak Haji
?. " Memangnya kita tahu berapa panjangnya usia kita ?. Memangnya kita
tahu bakal mencapai usia pensiun ?. " Ya, ya benar pak Haji,". saya
merasa terpojok.
" Untuk mendapat sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan
seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat
hidup kekal abadi di surga ?. " Benar pak, Haji, orang memang senang
mengejar dunia." Itulah, cari neraka saja mereka". Maka tak
bosan-bosan saya ulang nasehat bahwa orang harus sholat sebelum di sholatkan.
" Mungkin tak ada yang salah dari sikap pak Haji Saleh. " Tapi kalau
saya takut, sebabnya kira-kira ia terlalu menggaris bawahi " Ancaman
".
Sya membandingkannya dengan orang Saleh ketiga, ia juga Haji, pedagang
kecil, petani kecil, dan Imam di masjid kecil. Namanya bukan Saleh, melainkan
Sanip, Haji Sanip, orang betawi asli. Meskipun Ibadahnya ( di masjid ) tak
seperti Haji Saleh, kita bisa merasakan kehangatan Imannya. Waktu saya tanya,
mengapa sholatnya sebentar, dan Do'anya begitu pendek, cuma melulu Istigfar (
mohon ampun ). ia bilang bahwa Ia tak ingin meminta aneh-aneh. ia malu kepada
Allah.
Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Allah berjanji
Mengabulkannya ?
" Itu betul, Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan
sendirinya kan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari
nyandong Berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Memang Allah Maha Pemberi, termasuk
memberi kita rasa malu, Kalau Rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak
kita gunakan ?" katanya.Bergetar saya, untuk pertama kalinya saya merasa
malu pada hari itu. Seribu Malaikat, Nabi-Nabi, Para wali, dan orang-orang suci
langsung di bawah Komando Allah seperti serentak mengamini ucapan orang betawi
ini.
" Perhatikan di masjid-masjid, Jamaah yang meminta Allah kekayaan,
tambahan Rezeki, naik gaji, naik pangkat.
Mereka pikir Allah itu Kepala Bagian Kepegawaian di kantor kita. Allah kita
Puji-puji karena akan kita mintai sesuatu, ini bukan Ibadah, Tapi dagang,
mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu, Allah kita sembah, lalu kita perah
Rezeki dan Berkah-Nya, bukannya kita sembah karena memang seharusnya kita
menyembah, seperti tekad Al-Adawiyah itu, " katanya lagi.
Nafas saya sesak , saya tatap wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran
batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda ketuaan itu terpancar ketulusan
Iman. Kepada saya, pak. Haji itu jadinya menyodorkan sebuah cermin.
Tampak disana, wajah saya retak-retak, saya malu melihat diri sendiri.
Berapa banyak saya meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi. Mental
korup dalam Ibadah itu, ternyata bagian hangat dari kehidupan pribadi saya
juga.
Aku tahu…………bahwa dunia ini fana, tapi aku mengejarnya
Aku tahu bahwa menuju akhirat adalah perjalanan yang panjang, tapi aku tidak
mempersiapkan bekal
Aku tahu bahwa neraka itu benar-benar ada, tapi aku berusaha menjauhinya
Aku tahu bahwa surga itu mahal harganya, tapi aku beramal asal-asalan
Aku tahu bahwa ‘adzab ALLAH itu pedih, tapi aku masih berbuat dosa
Aku tahu bahwa Allah Maha Mengabulkan do’a, tapi aku meminta kepada manusia
Aku tahu bahwa Allah Maha Adil, tapi aku membalas kedhaliman manusia
Aku tahu bahwa harta itu bisa membaut hisabku diakhirat menjadi lama, tapi
aku mnegumpulkannya
Aku tahu bahwa waktu adalah nafas yang tiada kembali, tapi aku berbuat
sia-sia
Aku tahu bahwa Al-Qur’an itu kelak bisa menjadi hujjah bagiku ( membelaku )
dan bisa menjadi hujjah atasku ( mendebatku ) tapi aku tidak cemas akan hal itu
Aku tahu bahwa do’a orang yang terdholimi itu tanpa hijab dengan Allah, tapi
aku suka menyakiti saudaraku
Aku tahu bahwa kenikmatandunia bisa jadi istidraj, tapi aku tidak khawatir
tentangnya
Aku tahu bahwa penyakit itu menghapus dosa-dosa, tapi aku membencinya
Aku tahu bahwa cobaan itu meningkatkan iman, tapi aku mengeluh tentangnya
Aku tahu bahwa istri/suami adalah manusia, tapi aku menuntutnya sempurna
Aku tahu bahwa setan itu musuh yang ingin mengajakku ke neraka, tapi aku
menuruti bisikannya
Aku tahu bahwa ajal datang tiba-tiba, tapi aku selalu menunda persiapan