Mengenai Saya
Laman
Rabu, 23 Maret 2011
Menyuap Malaikat Untuk Membeli Syurga
Bismillaahirrahmanirrakhiim.......
Jarang dikaji. Aktivitas membeli surga adalah diantara fenomena cukup ngetrend mewabah frekuensi gelombang kemajemukan simbolis religius bangsa kita dasawarsa ini. Identiknya, ironisme berasumsi bisa menyuap Malaikat Rokib sang pencacat amal ibadah, sekalian(berasumsi bisa) mengelabuhi Malaikat Atid sang pencatat segala macam kemaksiatan seluruh makhluk itu.
Hemat saya(pribadi). Hal itu, adalah geliat pragmatisme ibadah, konsekuensi dari dilematis(beragama) bagi Muslimin dalam menghadapi kompleksnya fenomena tantangan globalisasi.
Esensinya, sebagai pelarian akibat semakin terpuruknya kualitas istiqomah(kontinuitas) beribadah, sedangkan aktivitas hidupannya over dosis memuja harta(hedonisme). Mereka(pelaku) panik, dan sedikit menyadari telah terpolusinya keimanannya. Maka maraklah aktivitas membeli surga, dianggap jalur pintas untuk menjauhi neraka.
Makelar Surga Para artis dan para koruptor, yang mulutnya sering meletup-letup memproklamirkan diri katanya cinta agama, mayoritas -untuk dimaksud tidak semuanya-- mereka itulah Makelar surga paling berpengaruh. Mempromosikan kepada publik, bahwa surga adalah komoditas bisa diraih dengan bermodal materi. Kalaulah hal itu dianggap ibadah sampingan, tentu tidak masalah. Ironisnya mengesampingkan esensialitas ibadah kepada Allah SWT. Memang, dalam hati kecilnya, mereka pun mungkin takut atas dosa-dosanya(?). Namun magnet godaan setan dengan umpan fatamorgana duniawi eksis lebih kuat mengalahkan keimanannya.
Kroposnya akar-akar Islam di lapangan Ibadah, baik vertikal(kepada Allah) maupun horisontal(sesama ummat beragama), adalah resiko dominan dari komoditas surga. Faktor utamanya, mereka(pelaku) berpikir pragmatis, bahwa dalam konteks ibadah cukup mengeluarkan sebagian duitnya saja. Naifnya lagi, sering tanpa memperdulikan uang halal atau haram. Menggelikannya, banyak orang berceletuk : "Berbuat demikian itu lebih baik, daripada sama sekali tidak beramal ".
Marak para koruptor-pecandu mengeruk duit rakyat itu, atau artis(tak terkecuali artis bintang porno), mempublikasikan diri melalui berbagai media massa(yang dikontraknya), mereka berebut membangun megah masjid-masjid atau menyantuni para yatim piatu.
Seolah-olah mereka adalah "teladan beribadah bagi segenap Muslimin. Padahal selain unsur membeli surga, juga sering adanya faktor politis(bagi para koruptor) dan komersialis(mencari penggemar) bagi para artis. Jelaslah fenomena-fenoma tidak prosedural atau jauh dari autentisitas ibadah.
Kaveling Surga
Perspektif Tauhid(ilmu ketuhanan) adalah hak perogratif Allah SWT untuk membagi kebijakan sifat Rakhman dan Rakhim-Nya. Siapa yang akan dimasukkan ke surga atau neraka? Sesuai dengan keagungan Qudroth dan Irodath-Nya.
Entah ahli ibadah atau pecandu berbuat dosa, bahkan Muslim atau Kafir sekalipun? Menentukan masuk surga atau neraka adalah hak otoritas Tuhan yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun!
"Dia(Allah) mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu" (QS 5:18).
Sekali lagi, biarlah Allah SWT menentukan otoritas Rakhman-Rakhim-Nya kepada segenap makhlukNya. Adalah kesalahan fatal, bila ada manusia bermaksud "mengaveling surga", apalagi hanya dengan mengandalkan seonggok harta. Dan sedikitpun manusia tidak ada kelayakan ber-action jadi "agen surga".
Esensi Ibadah
Saya tidak bermaksud menjadi "sales surga". Tetapi, esensialitas persoalannya, perspektif hukum fiqih, empat madzahib fuqoha ahlissunnah waljama'ah(Hambali, Maliki Hanafi, Syafi'i) konsesus(ittifaq) bahwa generalitas dalam beribadah : Selain ada rukun yang dilaksanakan, juga sebelum memulai ibadah terlebih dulu harus memperhatikan terhadap syarat-syaratnya.
Selain ada syarat diwajibankannya(beribadah), utamanya harus memenuhi syarat syah, agar sesuai prosedur (ibadah)nya menjadi syah.
Apakah sesuai prosedur, mencuci lantai masjid dengan air kencing? Menyantuni para anak yatim dengan uang hasil korupsi? Atau membangun pesantren dengan uang hasil memamerkan aurat badan di berbagai media massa? Jelas tidak, bukan? Sesuai Qowa'id al-Fiqh : al-Ashlu baqou ma kana a'la makanan (hukum sesuatu hal, itu sesuai dengan kondisi asalnya). Umpamanya, uang haram dijariahkan ke masjid, maka tetap haramlah hukum menyalurkan duit(haram) itu.
Sedekah atau dermawan, memang dianjurkan. Namun dengan harta haram, dalam konteks ibadah, hal itu hanya melaksanakan rukun, sedangkan menafikan syarat(ibadah) tentunya menyebabkan tidak syah.
Dan memang, harta itu, hisabnya(pertanggung jawaban di hadapan Allah) dua hal ; dari mana(dengan cara apa, pen) diperoleh, dan untuk apa dipergunakan. (HR. at-Tirmidzi dari Abu Barzah R.A.). Maka, tidak tepat, menjadikan hal haram atau subhat itu, sebagai argumentasi
"untuk mencari modal" beribadah. Bukankah sangat banyak jalan untuk mencari rezeki sekaligus tanpa mencampakkan konstitusi(syariat) Ilahi?
Pun autentisitas total ibadah(bertakwa) bukanlah berorientasi meraih surga atau menjauhi neraka. Tapi Li-Allahi Ta'ala(karena Allah Ta'ala) murni menjalankan kewajiban hamba atas perintah Kholiq(Sang Pencipta).
Bila beribadah orientasinya masuk surga-menjauhi neraka, otomatis signifikan mengikis kualitas orisinilitas ibadah. Perspektif Tauhid adalah termasuk asy-Syirku al-Asghor(bagian dari penyekutuan kepada Allah SWT).
Efek Samping
Kompleksnya sistem media informasi, berperan aktif menularkan hedonisme. Kenaifan itu pun telah kronis mewabah ke plosok-plosok. Kini di daerah-daerah pun telah "ngetrend" terjangkit virus "Menyuap Malaikat-Membeli Surga". Berujung semakin terpinggirkannya implementasi kualitas ibadah. Fenomenanya, mereka mau menyumbangkan materi untuk pembangunan masjid, namun berat untuk melangkahkan kaki sholat berjamaah ke masjid. Atau marak pula(orang-orang daerah) gemar menyumbangkan duit untuk acara-acara pengajian/majlis ta'lim, namun enggan mengikuti pengajian di majlis yang didonasinya itu. Lebih parahnya, untuk golongan(orang daerah) semacam ini, sering berasumsi :"bahwa pendidikan bukanlah(lagi) hal terpenting dalam kehidupan manusia.
Utamanya memandang negatif kepada komunitas pelajar jurusan agama(Islam) karena dianggap tidak prospektif menghasilkan bongkahan-bongkahan materi". Meskipun realitasnya, terdapat jutaan orang-orang bergelar "sarjana ekonomi plus" berstatus pengangguran. Namun belum juga terbuka mata hati kaum hedonis itu.
Bagi mereka, yang terpenting adalah : "Bagaimana putra-putrinya secepat mungkin bisa meraup materi, misalnya berdagang, dengan tanpa membutuhkan pendidikan tinggi, toh ijazah pun(utamanya ijazah pendidikan agama) tidak menjamin masa depan". Itulah yang ada dibenak mereka. Sungguh naif! Ironisme mewabah adalah, dengan berprinsip" demikian itu, mereka pun sering ditemukan meninggalkan fardu ain(kewajiban personal) seperti sholat lima waktu dan atau puasa Ramadan. Dominan sibuk dengan aktivitas duniawi.
Inilah, diantara imbas hedonisme(pemuja harta). Terkesan "berprinsip": Boleh berpuas-puas berbuat dosa dengan kemewahan harta, termasuk cara(haram) memperoleh hartanya. Toh, dengan harta itu, akan mampu menyuap malaikat sekaligus membeli surga! . Sungguh memilukan! Firman Allah Ta'ala, (QS. Asy-Syu'araa': 88-89), akan datang suatu hari: "Yaitu pada hari di mana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
Insya Allah Ta'ala, dengan ketakwaan. Manusia akan diberi rahmat dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga oleh Dzat Maha Segalanya, yang "staffNya"(para malaikat) itu tidak bisa dikelabuhi dengan rekayasa fatamorgana materi. Dan memang, surga tidak bisa "dibeli"(dengan materi).
Ilmiahnya. Melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan Allah SWT sesuai orisinilitas syariatNya, itulah esensi dari kehidupan manusia berperadaban untuk estafet meraih honoris causa takwa. Sekaligus upaya prosedural "menyuap Malaikat-Membeli Surga!"
http://www.facebook.com/notes/melati/menyuap-malaikat-untuk-membeli-syurga/190889394282777
Adam Dan Hawa
Adam..
Kau bilang dirimu
hebat dan kuat ibarat pahlawan,
Gagah perkasa seperti
Badang,
Kau gunakan Hawa
sebagai umpan,
Untuk membuktikan
kelelakianmu yang hanya temberang.
Hawa..
Kau bangga dengan
kecantikan lahiriah yang ada padamu,
Kau sanjung tinggi
Adam yang terpikat dengan keindahan rupamu,
Kau tersenyum manis
saat Adam melihat lenggok tubuhmu,
Tapi kau marah dan
benci bila ada segelintir Adam yang menegurmu.
Adam..
Kadangkala kekacakan
yang ada padamu,
Bisa membuat Hawa
lemah dan cair ibarat ais terkena api,
Hati yang rapuh mudah
luluh dan tunduk pada nafsu,
Jiwa yang halus mudah
pula jatuh hati.
Hawa..
Iblis menggunakanmu
sebagai umpan untuk memerangkap Adam,
Ambillah kesempatan
ini untuk memperdayakan Iblis,
Selamatkanlah Adam
dari cengkaman api yang tidak akan terpadam,
Jatuhkanlah musuh
Islam dengan akal satumu yang genius.
Adam..
Kata-kata manis
nistamu bisa menggoda sanubari Hawa,
Senyum nakalmu
membuatkan Hawa semakin suka,
Lembutmu dalam
berbicara membuatkan Hawa senang mendekatimu,
Sikap prihatinmu
menjadikan Hawa tergilakan perhatianmu.
Hawa..
Sikap tak endahmu
menjadikan Adam berani terhadapmu,
Berani mengambil
peluang untuk menyentuh maruahmu,
Ketidaktegasanmu
membuatkan Adam semakin suka akan dirimu,
Hingga kau pun hanyut
dengan dunia cinta palsu.
Adam..
Kau bilang akalmu
sembilan mengalahkan nafsumu yang satu,
Gunakanlah akalmu itu
untuk mendidik nafsumu yang boleh membinasakan Hawa,
Cerdikkanlah akalmu
itu dengan berjihad menentang nafsu,
Agar Hawa terpelihara
sentiasa dalam jagaan taqwa.
Hawa..
Lenggok tubuhmu bisa
membuat Adam terpaku dan mata menjadi sepi,
Lembut suaramu bisa
mencairkan hati lelaki Adam,
Longgarkanlah
pakaianmu agar tubuhmu tertutup rapi,
Tegaskanlah suaramu
supaya syaitan tidak berpeluang merasuk Adam.
Oleh itu Adam..
Bersikap tegaslah
dengan Hawa dalam setiap urusanmu,
Kau harus kuat dan
sabar dalam membimbing Hawa yang semakin liar,
Kau harus terus
berjuang menentang hawa nafsumu,
Agar nafsu Hawa tidak
terus-terusan menular.
Adam..
Di mana imanmu saat
matamu melihat Hawa berpakaian tidak cukup kain?
Di mana kau letakkan
Allah saat hawa nafsu menjadi Tuhanmu?
Hawa meminta agar kau
bersikap tegas dan berani dalam perjuangan,
Agar Hawa takut untuk
menggoda dan mendekatimu.
Begitu juga Hawa..
Di mana malumu saat kau
menayangkan perhiasanmu kepada ajnabi?
Di mana taqwamu saat
syaitan menempiaskan bisikannya untuk menggoda Adam?
Adam menyeru agar kau
pelihara maruahmu supaya tidak dicemari,
Agar kawalan nafsu
sentiasa berada dalam pegangan iman Adam.
Hawa..
Mahalkanlah senyummu
yang bisa menawan hati lelaki,
Jagalah dan
peliharalah aurat dan maruah dirimu,
Untuk membentengi
nafsu yang sangat dibenci,
Agar kau suci
terpelihara saat Adam datang menyuntingmu.
Hawa..
Memang Adam mudah cair
dengan keanggunan wajahmu,
Namun, itu bukanlah
yang Adam impikan,
Adam mengimpikan Hawa
yang kuat pegangan agama sebagai penyuci kalbu,
Adam juga menginginkan
Hawa yang sopan berpakaian dan memelihara pandangan.
Untukmu Adam :
Jadilah Adam yang
berpendidikan tinggi dalam bab agama agar bisa membimbing Hawa dari menjadi
mangsa godaan syaitan. Jadilah Adam yang murah dengan kata-kata nasihat dan
teguran yang boleh memperbaiki Hawa. Jadilah Adam yang sentiasa berjuang
menentang nafsu dan memelihara dirinya untuk Hawa tercinta, iaitu, isteri.
Jadilah juga Adam yang bertanggungjawab menjadi ketua keluarga, imam dalam
solat jemaah dan pemimpin agama seperti yang diimpi oleh kebanyakan Hawa.
Untukmu Hawa :
Jadilah Hawa yang
tinggi dengan didikan agama, merendah diri dengan akhlak mulia dan baik hati.
Jadilah Hawa yang malu dan menjaga aurat serta maruah diri dari
sewenang-wenangnya ditonton oleh ajnabi. Jadilah Hawa yang sentiasa haus akan
ilmu nasihat dan teguran sebagai persiapan menjadi Hawa yang solehah untuk
suami tercinta. Jadilah juga seorang Hawa yang bisa menjadi anak, ibu dan
isteri solehah serta hambaNya yang beriman dan bertaqwa seperti yang diidami
oleh kaum Adam.
Seorang Muslimah Sejati
Seorang muslimah
sejati,
yang lembut fitrah
tercipta,
halus kulit, manis
tuturnya,
lentur hati,
telus wajahnya,
setelus rasa membisik
di jiwa,
di matanya cahaya,
dalamnya ada air,
sehangat cinta,
sejernih suka,
sedalam duka,
ceritera hidupnya...
seorang gadis itu...
hatinya penuh manja,
penuh cinta, sayang
semuanya,
cinta untuk diberi,
cinta untuk dirasa...
namun manjanya,
bukan untuk semua,
bukan lemah,
atau kelemahan
dunia...
ia bisa kuat,
bisa jadi tabah,
bisa ampuh menyokong,
pahlawan-pahlawan
dunia...
begitu unik tercipta,
lembutnya bukan lemah,
tabahnya tak perlu
pada,
jasad yang gagah...
seorang gadis itu...
teman yang setia,
buat Adam dialah Hawa,
tetap di sini...
dari indahnya jannah,
hatta ke medan dunia,
hingga kembali
mengecap nikmatNya...
seorang gadis itu...
bisa seteguh Khadijah,
yang suci hatinya,
tabah dan tenang
sikapnya,
teman Ar-Rasul,
pengubat duka dan
laranya...
bijaksana ia,
menyimpan lmu,
si teman bicara,
dialah Ishah,
penyeri taman
Rasulullah,
dialah Hafsah,
penyimpan mashaf
pertama kalamullah...
seorang gadis itu...
bisa setabah Maryam,
meski dicaci meski
dikeji,
itu hanya cerca
manusia,
namun sucinya ALLAH
memuji...
seperti Fatimah
kudusnya,
meniti hidup seadanya,
puteri Rasulullah,
kesayangan ayahanda...
suaminya si panglima
agama,
di belakangnya dialah
pelita,
cahya penerang segenap
rumahnya,
ummi tersayang cucunda
Baginda...
bisa dia segagah
Nailah,
dengan dua tangan,
tegar melindung
khalifah,
meski akhirnya
bermandi darah,
meski akhirnya
khalifah rebah,
syaheed menyahut
panggilan ALLAH...
seorang gadis itu...
perlu ada yang
membela,
agar ia terdidik jiwa,
agar ia terpelihara...
dengan kenal Rabbnya,
dengan cinta Rasulnya,
dengan yakin Deennya,
dengan teguh
Aqidahnya,
dengan utuh cinta yang
terutama,
ALLAH jua RasulNya,
dalam ketaatan penuh
setia,
pemelihara maruah
dirinya,
agama, keluarga dan
ummahnya...
seorang gadis itu...
melenturnya perlu
kasih sayang,
membentuknya perlu
kebijaksanaan,
kesabaran dan
kemaafan,
keyakinan dan
penghargaan,
tanpa jemu dan tanpa
bosan...
18 ciri-ciri suami yang soleh
1)Suami yang taat
dalam melaksanakan perintah serta ...suruhan Allah dan RasulNya dan dapat pula
membimbing isterinya
2)Suami yang mampu
memberikan nafkah sama ada zahir ataupun batin
3)Suami yang sedia
memberikan nasihat, bimbingan , dorongan , didikan dan tunjuk ajar dalam
melaksanakan tugas serta tanggungjawab rumah tangga dan juga terhadap Allah
S.W.T.
4)Suami yang bijak
dalam menyelesaikan permasalahan isteri yang timbul bersama jiran tetangga atau
sebagainya.
5)Suami yang dapat
memberikan pemerhatian dalaam hal keselamatan, kebajikan dan kesihatannya.
6)Suami yang dapat
menyediakan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang sempurna mengikut
kemampuannya
7)Suami yang penyabar
dan tidak mengggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu masalah atau untuk
mendapatkan sesuatu.
8)Suami yang tidak
cemburu buta tanpa asas terhadap isterinya yang mana boleh merosakkan keutuhan
rumah tangga mereka.
9)Suami Sentiasa
memberikan kasih sayang, belas kasihan dan pergaulan yang baik terhadap
isterinya.
10)Suami yang sentiasa
menjaga rahsia isterinya dan tidak didedahkan kepada orang lain.
11Suami yang ikhlas
dan jujur serta dapat menepati janji terhadap isteri dan anak-anak.
12)Suami yang
menjauhkan diri dari perbuatan maksiat seeprti meminum minuman keras, berjudi,
berzina, menipu, mencuri dan sebagainya.
13)Suami yang dapat
memberikan penjagaan dan pemerhatian yang baik terhadap isterinya. Penjagaan
ini meliputi semua hal termasuk kehormatannya.
14)Suami mestilah
bijak memahami persaan dan hati isteri sama ada dengan perbuatan atau
perkataan, jangan biarkan dirinya dalam keadaaan bersedih.
15)Suami yang sentiasa
mengutamakan kebersihan diri, zahir dan batin.
16)Suami mestilah
menahan dirinya dari bergaul secara bebas dengan wanita lain.
17)Suami yang dapat
menyelidiki secara cermat dan teliti segala hal yang disampaikan oleh orang
lain yang berkaitan dengan isterinya.
18)Suami yang bijak
dalam memimpin rumah tangganya dan melaksanakan tugas dengan penuh amanah serta
bertanggungjawab.
Kekuatan Pikiran
Pikiran merupakan kekuatan yang
sangat besar dalam diri kita. Berpikir melahirkan pengetahuan, pemahaman,
nilai, keyakinan dan prinsip. Dengan pikiran kita bisa menjadikan dunia kita
berbunga-bunga atau berduri-duri. Pikiran bahagia membuat kita gembira dan
fikiran sedih membuat kita berduka.
Berpikir tidak memiliki batas waktu,
jarak atau ruang. Ia bisa muncul tiba-tiba dalam kondisi apapun. Hebatnya
lagi, pikiran merupakan sumber pendorong perilaku, sikap dan hasil yang kita
dapatkan. Dari pikiranlah kita bisa menjadi seseorang yang berjiwa sehat atau
sakit. Plato mengatakan “sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran
kita bisa maju atau mundur. Dengan pikiran kita bisa bahagia atau
sengsara.
Jack Canfield dan Mark Vitctor
Hansen mengungkapkan sebuah data yang mencengangkan di dalam bukunya yang
berjudul “alladin Factor” bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari
60.000 pikiran. Pada tahun 1980, penelitian fakultas kedokteran di San
Fransisco mengumumkan hasil penelitiannya bahwa lebih dari 80% pikiran manusia
bersifat negative. Jika kita hitung secara sederhana, 80% dari 60.000 pikiran
yang dihasilkan manusia, berarti kita memiliki potensi 48.000 pikiran
negatif setiap hari! Dan itu turut mermpengaruhi perasaan, perilaku serta
penyakit yang mendera jiwa dan raga. So…, hati-hati dengan kekuatan pikiran
kita!
Kini, yang kita butuhkan
adalah bagaimana kita dapat mengarahkan pikiran kita pada hal yang positif
hingga yang berpotensi negatif pun bisa kita arahkan ketempat yang positif agar
tidak membahayakan kondisi jiwa, kepribadian dan rasa percaya diri.
Saatnya kita mulai memilih berbagai
pikiran ke arah yang positif. Selain tawakal pada Allah, kita mulai dari
memahami arti pikiran dan kekuatannya. Dalam Al Quran, Allah telah membedakan
antara orang yang berilmu dan yang tidak,
“Katakanlah, “Apakah sama orang
orang yang mengetahui dengan orang orang yang tidak mengetahui?”
[Al Zumar:9]
“Katakan apakah sama orang yang buta
dan orang yang melihat? Tidakkah mereka berfikir?”
[An’aam:50]
Keunikan Al Qur'an
Tiada bacaan sebanyak kosakata Al Qur’an yang berjumlah 77.439 kata dengan jumlah huruf 323.015 huruf yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya.
Sebagai contoh, kata hayat (hidup) terulang sebanyak antonimnya maut, masing masing 145 kali; akhirat terulang 115 kali sebanyak kata dunia; malaikat terulang 88 kali sebanyak kata setan; thuma’ninah (ketenangan) terulang 13 kali sebanyak kata dhiyq (kecemasan); panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin.
Kata infaq terulang sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan) masing-masing 73 kali; kikir sama dengan akibatnya yaitu penyesalan masing-masing 12 kali; zakat sama dengan berkat yakni kebajikan melimpah masing-masing 32 kali. Masih banyak keseimbangan lainnya seperti kata yaum (hari) terulang 365 sejumlah hari-hari dalam setahun, kata syahr (bulan) terulang 12 kali juga sejumlah bulan dalam setahun.
Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk seperti itu? Al Qur’an menantang:
Katakanlah, seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun semacam al Qur'an ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya, walaupun mereka bekerja sama.”
[Al Isra:88]
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-keunikan-al-quran-/10150157018756042
I Love Allah
Tolong beritahu si dia
aku ada pesanan buatnya…
Tolong beritahu si
dia, cinta agung adalah cintaNya
Tolong beritahu si
dia, cinta manusia bakal membuatnya alpa…
Tolong nasihati si
dia, jangan menyintaiku lebih dari dia menyintai Yang Maha Esa…
Tolong nasihati si
dia, jangan mengingatiku lebih dari dia mengingati Yang Maha Kuasa…
Tolong nasihati si
dia, jangan mendoakanku lebih dari dia mendoakan kedua ibu bapanya…
Tolong katakan pada si
dia, dahulukan Allah kerana di situ ada syurga…
Tolong katakan pada si
dia, dahulukan ibu bapanya kerana di telapak itu syurganya…
Tolong ingatkan si
dia, aku terpikat kerana imannya bukan rupa…
Tolong ingatkan si
dia, aku lebih cintakan zuhudnya bukan harta…
Tolong ingatkan si
dia, aku kasihinya kerana santunnya…
Tolong tegur si dia,
bila dia mula mengagungkan cinta manusia…
Tolong tegur si dia,
bila dia tenggelam dalam angan-angannya…
Tolong tegur si dia,
bila nafsu mengawal fikirannya…
Tolong sedarkan si
dia, aku milik Yang Esa…
Tolong sedarkan si
dia, aku masih milik keluarga…
Tolong sedarkan si
dia, tanggungjawabnya besar kepada keluarganya…
Tolong sabarkan si
dia, usah ucap cinta di kala cita belum terlaksana…
Tolong sabarkan si
dia, andai diri ini enggan dirapati kerana menjaga batasan cinta…
Tolong sabarkan si
dia, bina jarak menjadi penyebab bertambah rindunya…
Tolong pesan kepadanya,
aku tidak mahu menjadi fitnah besar kepadanya…
Tolong pesan
kepadanya, aku tidak mahu menjadi punca kegagalannya…
Tolong pesan
kepadanya, aku membiarkan Yang Maha Esa menjaga dirinya…
Tolong khabarkan pada
si dia, aku tidak mahu melekakan dia…
Tolong khabarkan pada
si dia, aku mahu dia berjaya dalam impian dan cita-citanya…
Tolong khabarkan pada
si dia, aku sentiasa mendoakan kejayaannya…
Tolong sampaikan pada
si dia, aku mendambakan cinta suci yang terjaga…
Tolong sampaikan pada
si dia, cinta kerana Allah tidak ternilai harganya…
Tolong sampaikan pada
si dia, hubungan ini terjaga selagi dia menjaga hubungan dengan Yang Maha
Kuasa…
Tolong sampaikan
kepada si dia kerana aku tidak mampu memberitahunya sendiri…
http://zafiruddin.blogspot.com/2011/01/i-love-allah.html
Selasa, 22 Maret 2011
Trik Menghadapi Ujian (Hidup)
♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Apapun yang menimpa diri kita, Insya Allah akan menjadi kebaikan kalau dihadapi dengan sikap positif.
Mencermati situasi saat ini, terasa betapa kehidupan dirasakan sangat berat. Bencana kebanjiran, tanah longsor, angin badai, dan maraknya kejahatan menjadi warna dominan dalam pemberitaan di media cetak ataupun elektronik. Kalau musibah atau ujian itu menimpa diri kita, apa yang harus kita lakukan untuk bisa menghadapinya ? Paling tidak ada tujuh trik untuk bisa menyelesaikan berbagai ujian kehidupan. Yaitu :
Pertama, yakini bahwa cobaan itu merupakan ekspresi cinta Allah pada hamba-Nya. Allah Swt memberikan cobaan agar kita menjadi lebih dewasa dan matang dalam mengarungi kehidupan.
Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka ia diberi-Nya cobaan."? (H.R.Bukhari)
Kedua, yakini bahwa makin besar dan banyak cobaan yang Allah turunkan kepada kita, makin besar pula pahala dan sayang Allah yang akan dilimpahkan kepada kita. Dengan catatan, kita bisa menyelesaikan setiap ujian itu secara baik. Anas r.a. berkata: Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya cobaan. Sesungguhnya apabila Allah Ta'ala itu mencintai suatu kaum maka Ia mencobanya. Barang siapa yang rela menerimanya, ia mendapat keridhoan Allah, dan barang siapa yang murka, maka ia pun mendapat murka Allah" (H.R.Tirmidzi)
Ketiga, yakini bahwa ujian itu akan menghapuskan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan. Abu Said dan Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: "Seorang muslim yang tertimpa penderitaan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, gangguan, dan kerisauan, bahkan hanya terkena duri sekalipun, semuanya itu merupakan kafarat (penebus) dari dosa-dosanya (H.R. Bukhari dan Muslim)
Keempat, selalu berpikir positif bahwa apapun yang menimpa diri kita akan menjadi kebaikan. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sungguh menakjubkan sikap seorang mukmin itu, segala keadaan dianggapnya baik dan hal ini tidak akan terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya, dan apabila ditimpa penderitaan, ia bersabar, maka itu lebih baik baginya."(H.R.Muslim)
Kelima, yakini bahwa setelah dalam kesulitan ada kemudahan. Fakta menunjukkan, sering kali ide-ide brilian justru lahir atau muncul ketika kita berada dalam puncak kesulitan. Contoh sederhana, banyak mahasiswa bisa mengarang pada saat menghadapi soal-soal ujian bukan ? Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Q.S. Alam Nasyrah 94: 5- 6)
Keenam, selalu optimis bahwa kita bisa menyelesaikan setiap ujian yang Allah swt. berikan, karena Allah swt. tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Optimisme bisa melahirkan energi yang tersembunyi dalam diri kita, karena itu optimisme bisa menjadi bahan bakar untuk menyelesaikan segala persoalan. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (Q.S. Al-Baqarah 2 : 286)
Ketujuh, hadapi ujian dengan usaha dan doa. Kerahkan segala ihtiar untuk menyelesaikan ujian dan bingkai usaha itu dengan doa. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap" (Q.S. Alam Nasyarh 94 : 7 - 8). Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu." (Q.S. Al-Mu'min 40: 60)
Itulah tujuh trik untuk menghadapi berbagai ujian. Apapun yang menimpa diri kita, Insya Allah akan menjadi kebaikan kalau dihadapi dengan sikap positif, optimisme, ihtiar yang maksial dan dibingkai dengan doa. Sesungguhnya pertolongan Allah akan turun kalau kita berada di klimaks ujian. Untuk itu, jadikanlah ujian sebagai tangga untuk meraih pertolongan Allah Swt.
♫•*¨*•.¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨¸¸ï·²¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/trik-menghadapi-ujian-hidup/10150161453416042
Langganan:
Postingan (Atom)
