Mengenai Saya
Laman
Senin, 21 Maret 2011
Sesungguhnya Sesudah Kesulitan Itu Ada Kemudahan
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
===========================
Begitu indahnya Allah ciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dalam keadaan berpasang-pasangan. Sudah menjadi ketentuan-Nya bahwa apapun yang ada di sekitar kita memiliki pasangan kata, makna, rasa dan zat. Dunia akhirat, surga neraka, pria wanita, siang malam, susah senang, baik buruk, pahit manis, berat ringan, keras lunak dan banyak lagi contoh lainnya yang memang pada dasarnya selalu akan berpasang-pasangan.
Bacalah apa yang ada dalam tubuh kita, mata yang berpasangan, telinga yang berpasangan, tangan dan kaki yang berpasangan dan semuanya akan serba berpasangan. Bagi seseorang yang tidak memiliki pasangan anggota tubuhnya (maaf : cacat) baik karena bawaan sejak lahir, kecelakaan ataupun sebab lainnya, semoga mereka diberikan kesabaran dan tetap optimis menjalani hidup. Apapun yang menimpa diri kita, itulah yang terbaik di sisi Allah dah hanya Allah-lah yang Maha Mengetahuinya.
Ketika kita berada di dunia maka tidak lama lagi kita akan berada di akhirat, ketika kita berada di waktu siang maka kita akan segera menemui malam, ketika kita merasakan manis maka pahit pun akan kita jumpai, ketika kita membawa sesuatu yang berat maka suatu saat kita akan membawa yang ringan pula dan begitulah seterusnya tentang makna berpasang-pasangan. Begitu indah terdengar bila sepasang kata dan makna dipadukan, tapi mungkin akan membuat hati kita bergetar dan ketakutan bila hal itu menimpa diri kita terutama pada kondisi yang tidak kita inginkan.
Ada hal menarik yang perlu kita pikirkan dan renungkan lebih dalam ketika memaknai bahtera hidup ini. Sepasang kata dan ungkapan yang indah, belum tentu menjadikan diri kita siap untuk menerimanya. Dan ungkapan itu adalah “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”.
Siapa yang tak kenal ungkapan ini? Siapa yang tak paham prinsip hidup ini? Dan siapa pula yang mengingkari bahwa hal ini adalah kenyataan yang ada dalam hidup kita? Semuanya akan menjawab : ” Saya mengenalnya, saya memahaminya dan saya tahu bahwa itu adalah prinsip hidup yang selalu saya pegang sejak lama.”
Mari kita berpikir sejenak dan merenungkan tentang makna terdalam yang ada dalam ungkapan “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan”. Ketika Allah mentakdirkan segala sesuatunya dengan berpasang-pasangan, pastilah Allah telah memperingatkan kita dengan ayat-ayatnya. Bukti bahwa Allah telah memperingatkan kita adalah dengan wahyu-Nya “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 6). Dan masih banyak lagi peringatan-peringatan yang telah Allah berikan pada kita.
Kembali pada ungkapan tersebut, bagi sebagian orang, tapi mudah-mudahan tidak termasuk Anda, terkadang sulit untuk menerima kenyataan itu. Mereka mengerti makna ungkapan tersebut, tapi tidak dibuktikan dengan perilaku pada saat menimpa dirinya. Mereka sebenarnya menyadari bahwa ia sedang berada pada kondisi salah satunya entah kesulitan atau kemudahan. Pada saat mereka berada dalam kondisi kesulitan, mereka lupa bahwa kemudahan akan datang. Dan sebaliknya, jika kondisi mereka sedang berada dalam kemudahan, ia lupa bahwa sebentar lagi kesulitan pun akan menghampirinya.
Pada saat kesulitan hidup datang, mereka lupa bahwa hidupnya sedang dalam ujian dan cobaan bahkan peringatan. Mereka mengeluh dan menangis, mereka tidak terima dan berontak, mereka lari dan berputus asa. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri dan mengkambing hitamkan orang lain, mereka mencaci diri sendiri dan memaki siapa saja. Dan mereka pun sampai pada titik terlemahnya iman seseorang dengan mengatakan bahwa : ” Tuhan tidak adil, Tuhan tidak mengasihaniku, mengapa aku ditimpa kesulitan dan kesusahan seperti ini?”.
Sampai sejauh manakah respon kita dalam menyikapi kesulitan yang datang? Sampai dimanakah keikhlasan kita pada saat kesulitan menimpa kita? Sampai sejauh manakah kita mengambil hikmah dari kesulitan yang melanda diri kita? Sekali lagi, ungkapan itu begitu indah, begitu menggetarkan hati, tapi dalam kenyataannya tidak semudah seperti yang kita bayangkan.
Begitu beratnya diri kita untuk menerima kenyataaan itu dengan ketulusan dan begitu bodohnya diri kita bila mengakui bahwa itu adalah prinsip hidup kita tapi tidak memaknai bahwa semuanya itu adalah suatu ujian, pelajaran, motivasi dan penambah kepekaan hati kita terhadap kesulitan yang orang lain rasakan. Jika ingin kesulitan kita berkurang bahkan sirna, maka belajarlah untuk bisa mengurangi kesulitan orang lain, dan Allah pun akan menghapuskan kesulitan kita.
Bukankah setiap penyakit ada obatnya? Bukankah setiap permasalahan ada jalan keluarnya? Bergembiralah dan yakinkanlah dalam benak dan hati kita yang paling dalam bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan menerpa akan ada kemudahan yang menghampiri. Janganlah berputus asa karena masih banyak dari mereka yang ditimpa kesulitan jauh melebihi kesulitan yang kita alami! Berbahagialah dan teruslah berharap kemudahan dan kebahagiaan menyelimuti hidup kita wahai saudaraku!
Tidak bisa dipungkiri bahwa siapapun pasti mendambakan hidupnya selalu dalam kemudahan. Bagi mereka yang pada saat ditimpa kesulitan tetap tabah, ikhlas dan tulus sepenuh hati serta selalu menganggapnya sebagai pelajaran, peringatan juga motivasi hidupnya, maka sesungguhnya mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda bila kemudahan telah datang menghampirinya. Seakan-akan dalam hidupnya mereka tidak pernah terjadi kesulitan, melainkan hanya ujian yang dinikmati dan dilanjutkan dengan kemudahan yang sesungguhnya.
Bisa jadi mereka berkata: “Aku tidak pernah mengalami kesulitan, karena aku ikhlas menerimanya. Aku tidak pernah merasakan kesusahan, karena aku tulus menjalaninya. Aku tidak pernah mengeluh karena aku tetap tegar menguasai jiwaku. Aku tidak pernah merasakan penderitaan, karena aku sedang berusaha untuk menjadi dewasa. Aku tidak pernah menangis, karena aku tidak berputus asa.”
Maka berbahagialah mereka yang selalu menganggap segala kesulitan dan kesusahan adalah awal dari kemudahan. Mereka beruntung karena memiliki jiwa yang kuat dan tetap menjadi dirinya sendiri.
Dan ujian pun akan muncul kembali pada saat kemudahan kita nikmati. Dikala kemudahan menghampiri kita, kita sadar bahwa kemudahan telah tiba. Hidup kita terasa lapang dan semuanya serba terang seakan tak ada penghalang. Kebutuhan ekonomi terpenuhi setiap hari, pekerjaan tetap lancar setiap saat, karir terus menanjak seiring waktu, penghargaan pun bermunculan dimana-mana, usahapun kian melambung dan melonjak tajam. Hidupnya benar-benar diselimuti dengan kemudahan dan kesenangan. Seolah-olah kemudahan itu tak mau beranjak dari diri kita walau sedetik pun. Akhirnya mereka berada dalam kesenangan dunia yang seakan-akan tak pernah putus dan tidak akan pernah mengalami kesulitan dan kesusahan.
Sungguh ironis bila kenyataan hidup seperti itu tidak dibarengi dengan pondasi jiwa yang kuat, ilmu yang memadai dan iman yang menjadi tameng. Ketika mereka berada dalam puncak kesenangan hidupnya, mereka sedikit lalai bahkan mulai pudar prinsip yang ia pegang. Dia merasa hidupnya sudah mapan dan tak ada sesuatu pun yang bisa membuatnya menderita. Keangkuhannya, kesombongannya, kecongkakannya ternyata membuka pintu hidupnya kembali pada tahta terendah dalam hidupnya. Mereka lupa dan tidak pernah memikirkan bahwa setelah ada turunan curam, maka mereka akan berhadapan dengan tanjakan terjal. Ketika diumpamakan dengan sebuah mobil, pada saat menemui turunan maka mobil harus direm dan pada saat mendapatkan tanjakan mobil pun harus digas. Rem adalah pengendali agar tidak terperosok dan gas adalah motivator agar cepat berada dalam harapan dan keinginan.
Kehidupan yang serba mudah akan dengan cepat berbalik arah menuju kesusahan dan keterpurukan. Mereka yang tidak siap menghadapi ke fase berikutnya terutama berhadapan dengan kesulitan hidup, maka mereka akan mengalami stress yang berkepanjangan bahkan gangguan jiwa. Semuanya karena mereka tidak mempersiapkan jiwa dan pikirannya dengan keikhlasan dan tidak pernah belajar dan mengambil hikmah pada saat kesulitan datang menghampirinya. Wahai saudaraku, manfaatkanlah pada masa kesulitan dan kesusahan itu sebagai ujian, pelajaran, motivasi dan hikmah yang berharga dalam rangka pendewasaan diri. Bergembiralah karena sesudah kesulitan pasti ada kemudahan !
Pada akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan khususnya pada diri saya sendiri dan umumnya bagi mereka yang membaca tulisan ini. Kita harus sabar, ikhlas, besar hati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kita. Bukankah kesulitan itu merupakan awal menuju kemudahan? Bukankah kehidupan kita ini selalu berpasang-pasangan? Hari ini kita susah, tapi yakinlah cepat atau lambat kemudahan akan menghampiri kita. Dan jika sekarang kita sedang merasa ada dalam kemudahan, bersiap-siaplah dengan kesulitan yang segera mendekat. Perkuat jiwa kita agar kita mampu menikmati segala liku-liku perjalanan hidup! Semoga engkau menjadi orang yang beruntung wahai saudaraku!
Ketika kita bisa membaca dan belajar dari setiap peristiwa hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah. Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai peristiwa yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar. Semoga kita menjadi orang yang beruntung dan berguna bagi sesama.
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-sesungguhnya-sesudah-kesulitan-itu-ada-kemudahan/202107639817891
Minggu, 20 Maret 2011
BIRRUL WALIDAIN
Berbakti kepada orang tua merupakan kewajiban seorang anak terhadap ibu bapaknya. Ibu yang begitu tulus mencintai kita semenjak kita berada dalam kandungan, ikhlas menjaga dan mendidik kita semasa kita bayi hingga dewasa , bersabar dengan segala kenakalan bahkan tak jarang kekurangajaran kita, baik kita sengaja atau tidak. Sementara bapak rela bercapek-capek banting tulang mengais rejeki untuk kebutuhan rumah tangga dan sekolah kita. Sudah sepantasnya bukan jika kita sebagai anak menghormati, menghargai bahkan berbakti pada kedua orang tua kita.
Sobat ada kisah yang buat aku sangat menarik untuk aku tulis di sini. Kisah ini aku ambil dari kisah harmoni milik "bunda Neno Warisman". Kisah bakti seorang dokter "gelandangan" kepada ibunya.
~~~~
Dr. Darmanto dan Embak
Seluruh ijasahnya dicuri, entah oleh siapa. Dan dia menerima seraya berkata kepada ibunya yang biasa dipanggil Embak. "Sekarang ini mbak, aku sudah tidak membutuhkan ijasah-ijasah itu lagi, percayalah kita bisa tetap hidup bahkan selama ini juga, tidak dari ijasah-ijasah itu".
Suaranya terasa perih namun bijak. Itu yang mahal dari seorang ayah bernama Darmanto. Ijasah dokter, dan ijasah serta berbagai sertifikat di bidang biologi dan bahan-bahan khasiat selama beliau menuntut ilmu di luar negeri... raib.
Cerita duka tersebut mengalir disela-sela kekeh tawanya. Kadang kekeh tawa itu terdengar seperti tawa bayi. Polos murni, begitu paham pada kehendak Allah Rabb. Kami yang mendengarkannyapun menjadi tertular aroma kepasrahan.
Esok siangnya saya dan seorang saudara menyempatkan diri berkunjung ke rumah beliau. Saya pernah singgah sekali beberapa waktu lalu, mungkin sekitar setahun lewat. Tak ada yang berubah. Sekotak ruang tamu dengan kursi yang amat sederhana. Lemari coklat panjang sebagai satu-satunya benda lain. Gordin batik itu saja.
Di rumah di desa Cebongan inilah sehari-harinya, Dr. Darmanto tinggal bersama 2 orang anaknya kelas 6 dan kelas 2 SD, seorang kakak laki-laki yang memiliki kebutuhan khusus dan Embak yang berusia hampir 90 thn, yang ketika terakhir saya berkunjung masih sehat dan sangat mandiri. Masih mampu membaca Al Qur'an dan doa-doa zikir, masih mencuci bajunya sendiri, menyapu pekarangan dan mengemong 2 cucu ketika dr. Darmanto pergi menyuluh para petani di desa-desa atau peternak, yang selalu diajarkannya untuk memiliki teknologi tepat guna yang berbasis sumber-sumber alam daerah sendiri.
Ya, dr. Darmanto sebagaimana ayahnya yang bergelar "dokter gelandangan" (dokter yang selalu menolong para gelandangan dan orang miskin) ia setali tiga uang dengan ayahandanya. Bedanya ayahnya masih cukup kaya saat masih hidup dan dr. Darmanto miskin itu saja.
Di tepi pembaringan yang dihampar di lantai, Dr. Darmanto mengisi pipet suntikan di tangannya. Bubur halus memasuki hidung Embak. Embak mengeluarkan suara, lalu terdengar seperti orang berkumur di tekak. " Ayo mbak, ojo digae dolanan hayoo,,, mengko tak walik meneh nek digae dolanan,,, hayoo,,," guraunya pura-pura marah. Benarlah Al Qur'an, kata Dr. Darmanto, orang tua kita akan kembali menjadi seperti bayi dan kita yang jadi orang tua untuk mereka.
Saya melihat adegan itu dengan menahan sebongkah batu besar didada. Saya tahu dr. Darmanto memiliki beberapa saudara yang hidup sangat layak di beberapa kota termasuk Jakarta. Sangat strategis dan tidak dapat saya mengerti dengan alasan apapun juga, bagaimana mungkin hanya Dr. Darmanto yang miskin menanggung semua ini sendiri.
"Embak kehilangan gula dari tubuhnya. Hilang sama sekali. Itu yang terjadi. Uang Rp. 30 juta untuk pindah rumah habis
untuk seminggu perawatan, lalu saya putuskan untuk membeli albumin yang sangat mahal tapi dapat menyelamatkan Embak."
Cinta Sejati
" Lebih dari Rp. 28 juta kemudian saya berhutang. Dan alhamdulillah berkat albumin, kemajuan embak banyak." Albumin adalah protein yang ada dalam darah yang di perlukan oleh tubuh untuk memelihara dan memperbaiki jaringan.
" Untuk orang lain, Embak mestinya di harapkan untuk segera mati. Saya tahu itu. Tidak untuk saya. Saya cek semua, jantung, otak, ginjal, paru,,, semua bagus! Embak juga masih berkomunikasi. Coba lihat, senyum itu di beri jus jeruk kesukaannya,,! Sambil menekan pipet selang, Dr. Darmanto menggosok mesra pipi keriput ibunya dengan sangat mesra.
Saya sendiri yang mengganti sehari dua kali kasur ini setelah saya mandikan, saya lap, saya selimuti dengan kain yang embak suka," Dr. Darmanto menyisi ke sisi lain pembaringan lalu melakukan terapi totok sambil terus mengajak ibunya berbicara. Sepanjang semua bakti itu ia lakukan, saya yang melihat hanya merasa pasti, keduanya ini bukan makhluk bumi.
Dr. Darmanto adalah sosok manusia langka. Itu sebabnya utusan-utusan Prancis, Morokko, Inggris masih terus mengincarnya, menawarkan boyong sekeluarga untuk keluar dari Indonesia dan bekerja untuk negara pengundang. Di sana ia akan mendapatkan fasilitas teramat layak.
Di daftar orang-orang cerdas terbaik di Indonesia, tak ada nama Dr. Darmanto. Namun saya yakin ia ada di daftar hamba-hamba terbaik dari pendidik surga. Dan ia tetap bertahan untuk hanya mencintai negeri ini. sekalipun negeri ini tak perduli padanya.
~~~
Sobat dari kisah diatas sekiranya aku mulai berfikir, bisakah aku seperti beliau yang begitu berbakti merawat ibu beliau yang tengah sakit dengan kasih sayang yang tulus dan ikhlas? Aku merasa seperti membaca kisah malaikat.. Subhanallah kisah yang benar-benar membuat aku melihat pada ibuku yang saat ini tengah tertidur dalam lelapnya. Semoga aku bisa, paling tidak menyenangkan hati beliau,, semoga,, dan semoga sobat semua bisa mengambil hikmah dari kisah diatas.
>>>*<<<
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/birrul-walidain/10150157123551042
@}~~ menjadi suami yang mempesona istri ~~{@
Menjadi istri yang mempesona suami?
Itu hal biasa yang telah banyak dibahas dalam berbagai literatur, kajian,
diskusi dan kesempatan. Tetapi tahukah Anda wahai para suami, para istri juga
menginginkan laki-laki yang mempesona sebagai suaminya. Meski gambaran suami
yang mempesona boleh jadi relatif, berbeda antara satu perempuan dengan perempuan
lainnya, tetapi dapat dikatakan secara umum kaum perempuan membutuhkan pesona
yang dapat lebih membuat mereka senantiasa mencintai suaminya.
Boleh jadi selama ini Anda para
suami menyangka bahwa istri Anda mencintai Anda karena ia telah mendampingi, melayani,
melahirkan dan mengasuh anak-anak Anda. Mungkin hal itu benar, tetapi untuk
membuat perasaan istri Anda tidak berubah ia tetap selalu mencintai Anda dari
waktu ke waktu dibutuhkan lebih banyak proses, perbuatan, tingkah laku yang
semuanya bermuara pada satu titik bahwa Anda tetap mempesonanya, sehingga ia
menganggap Anda layak untuk mendapatkan cintanya untuk selamanya.
Ada satu pelajaran yang menarik
terutama untuk para suami dari kisah seorang perempuan yang mendatangi
Rasulullah SAW untuk menceritakan, bahwa sekian lama berumah tangga ternyata
perasaannya mengalami perubahan, ia tidak lagi bisa mencintai suaminya dan
karena itu ia khawatir berbuat kekufuran.
Adalah istri Tsabit bin Qais bin
Syamas (sahabat Rasulullah SAW) yang bernama Jamilah, ia mendatangi Rasulullah
SAW untuk menceritakan perasaannya terhadap suaminya, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku tidak mencela agama dan akhlak Tsabit, tetapi aku khawatir
jika hidup bersamanya aku berbuat kekufuran.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah
engkau hendak mengembalikan kebunnya?” (waktu itu mahar Tsabit adalah
kebunnya). Jamilah menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengutus
seseorang kepada Tsabit untuk menyampaikan pesannya,”Terimalah kebun itu dan
ceraikanlah dia.” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas ra)
Kisah lainnya yang juga diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra berikut ini menunjukkan bahwa seorang
istri diperbolehkan melepaskan diri dari suami yang tidak dapat dicintainya.
Barirah adalah seorang budak wanita
dari Habasyah yang berada dibawah kekuasaan Utbah bin Lahab. Majikannya ini
memaksa Barirah untuk menikah dengan seorang yang tidak disukainya yaitu budak
laki-laki bernama Mughits. Merekapun menikah, Barirah tidak mencintai suaminya
tapi sebaliknya Mughits sangat mencintai istrinya.
Ummul Mukminin Aisyah ra merasa
kasihan kepada Barirah, beliau lalu membeli dan memerdekakannya. Setelah itu
Barirah merasa benar-benar memiliki kebebasannya dan merasa dapat menentukan
hidupnya, maka ia meminta cerai dari suaminya.
Ibnu Abbas ra berkata, “Suami
Barirah adalah seorang budak bernama Mughits, seakan-akan aku melihatnya
berjalan dibelakangnya sambil menangis, air matanya menetes sampai ke
jenggotnya. Nabi SAW berkata kepadaku , “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub
pada cinta Mughits pada Barirah dan kebencian Barirah pada Mughits?’
Selanjutnya Nabi berkata kepada Barirah, "Seandainya engkau mau kembali,
sesungguhnya dia adalah suamimu dan ayah anakmu." Maka Barirah bertanya,
"Apakah engkau memerintahkan aku ya Rasulullah?" Beliau menjawab,
"Aku hanya menawarkan kepadamu." Barirah berucap, "Aku tidak
membutuhkannya”.
Nah, para suami, beberapa saran
berikut ini dapat membantu Anda untuk menjadi pribadi yang mempesona dimata
istri Anda:
Memperhatikan penampilan luar
Tidak disangsikan lagi bahwa
penampilan luar dapat membangkitkan pesona pada jiwa perempuan. Suami yang
dapat menjaga kebersihan dirinya, rapi dan perlente umumnya lebih mempesona
ketimbang suami yang jorok, lusuh dan kumal. Bukankah Rasulullah SAW bersabda
bahwa kebersihan itu cabang iman? Umar bin Khattab ra pun pernah berkata,
“Perempuan menyukai kalau suaminya berhias untuk dirinya, sebagaimana laki-laki
suka istrinya berhias untuk dirinya.”
Tidak Kaku dan Monoton
Suami seperti ini selalu mau belajar
memahami perasaan istrinya, punya banyak cara dan gaya dalam mengungkapkan
perasaan cinta dan kasih sayang kepada istrinya, juga tidak enggan untuk
menyatakan cintanya dengan kata-kata.
Terbuka
Suami seperti ini tidak enggan
mengungkapkan harapan, keinginan dan perasaannya agar istri mengerti dan dapat
melakukan hal yang sesuai dengan yang dikehendakinya. Ia bukan suami yang diam
dan membiarkan istrinya dalam kesulitan menebak-nebak apa yang diinginkannya.
Matang
Kebanyakan perempuan ketika menikah
menginginkan suaminya adalah orang yang siap melindungi, membimbing dan dapat
menjadi tempat bersandar. Laki-laki yang matang seperti ini lebih mempesona
perempuan dibanding yang kekanak-kanakan dan emosional.
Peduli dengan Keluarga
Adalah benar suami memiliki tanggung
jawab dalam masalah nafkah, tetapi kesibukannya dalam pekerjaan atau hal
lainnya tidak membuatnya menjadi orang yang acuh terhadap istri dan
anak-anaknya. Ia mau menemani anak belajar dan tidak keberatan mengantar
istrinya pergi menghadiri acara-acaranya.
Dapat Berbagi Rasa
Suami mempesona mau belajar
bagaimana dapat ikut merasakan apa yang sedang dirasakan istrinya. Ia mau
mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan
permasalahannya, ikut merasakan kegelisahannya dan dapat membantu
menentramkannya atau mengatasi permasalahannya. Ia adalah tempat curhat
istrinya yang setia dan dapat dipercaya.
Mencintai Orang Tua, Saudara dan
Kerabat Istri
Anda akan semakin mempesona istri
Anda manakala Anda mencintai orang tuanya, menyayangi saudara-saudaranya dan
bersikap baik kepada kerabatnya. Dan jika Anda senantiasa bersikap demikian
maka percayalah iapun akan berusaha keras untuk mencintai orang tua Anda dan
bersikap baik pada saudara dan kerabat Anda.
Jangan ragu dan gengsi untuk
melakukan saran-saran diatas, mulailah sekarang juga maka Anda akan takjub
mendapati limpahan cinta istri Anda yang seolah tanpa batas, karena begitulah
sifat dan karakter perempuan, ia akan memberi lebih dari apa yang Anda berikan
kepadanya!***
"Kalau Kau Utusan Tuhan, Kok Masih Ke Pasar?"
Salah satu ciri orang tak mau beriman adalah tidak percaya masalah yang gaib. Mereka hanya menyakini yang bisa di jangkau panca indra saja. Konsepsi tentang TUHAN, Malaikat, Hari Kiamat, dan surga-neraka berada di luar jangkauan fisik manusia.
Di zaman modern ini sepertinya banyak yang memproklamasikan dirinya sebagai anti TUHAN (ateis) Yang paling populer adalah Friedrich Nietszche (1844-1900), filosof asal Jerman yang membuat metafora. "Coba terka kemana TUHAN pergi ? Tak ada jawaban, " tulisnya. " Aku mau mengatakan kepada kalian, kita telah membunuhnya. Yah, kita semua telah membunuhnya!" Nietszche adalah proklamator kematian tuhan di barat. Tuhan baginya hanya ada di dalam pikiran. Tuhan tidak wujud di luar sana.
Jika menilik sejarah, kekufuran seperti ini selalu ada di setiap jaman. Di masa Rasulullah Muhammad saw, para penentang juga bersikap sama. Suatu ketika, beberapa orang kafir mendatangi nabi saw seraya berkata " Hai Muhammad, jika engkau benar-benar rasul Allah, cobalah engkau meminta pada Tuhanmu untuk melenyapkan gunung-gunung yang menghimpit kita supaya Mekkah menjadi luas. Lalu di dalamnya terdapat mata air yang mengalirkan air di kanan-kiri seperti kota Syam, Irak, Mesir dll.
"Hendaklah engkau meminta lagi kepada Tuhanmu untuk menghidupkan lagi orang tua kita dan para leluhur kita yang sudah mati. Terutama yang mulia Qushay bin kilab karena dia adalah orang yang sangat berjasa semasa hidupnya dan di percaya oleh bangsa kita. Jika engkau dapat memenuhi permintaan kami saat ini juga, kami akan percaya sesungguhnya engkau adalah utusan Tuhan"
Nabi saw, menjawab, " Bukan untuk ini aku di utus kepada kalian semua. Aku di utus dengan apa yang telah aku datangkan kepadamu dari sisi Allah ( Al Qur'an ) dan aku menyampaikan apa saja yang aku bawa kepada kamu semua. Jika kamu menerimanya, itulah pahalamu di dunia dan akherat. Jika kamu menolaknya, aku akan bersabar dan menyerahakan ini kepada keputusan Allah sehingga Allah memberi keputusan di antara aku dan kamu semua"
Tak lama kemudian turunlah wahyu, " Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu, gunung-gunung dapat di guncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentulah Al Qur'an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah.
Maka tidaklah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman) tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semua. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana terjadi dekat tempat tinggal mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu kemudian aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan Ku itu" (QS. Ar Ra'du : 31-32)
Di lain kesempatan kaum kafir menghampiri nabi saw, "Jika engkau benar-benar utusan Tuhan, mengapa engkau masih suka pergi ke pasar, masih makan, masih menikah, masih suka punya anak. Mengapa engkau tidak dikawal malaikat untuk menolong engkau supaya menakut-nakuti kami? Kalau begitu, sama saja antara kami dan engkau tidak berbeda sedikitpun"
Allah SWT merekam pernyataan mereka, " Dan mereka berkata, mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar? Mengapa tidak di turunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? Atau (mengapa tidak) di turunkan kepadanya perbendaharaan atau (mengapa tidak) ada kebun baginya yang dia dapat makan dari hasilnya? Dan orang-orang zolim itu berkata, " kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir" (QS. Al Furqan : 7-8)
Allah SWT memerintahkan nab sawi menjawab, "Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang di wahyukan kepada ku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa. Barang siapa berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al Kahfi 110)
Demikianlah sikap orang yang tak beriman dari dulu hingga kiamat. Permintaan mereka itu tidak lain hanyalah olok-olok. Kalaupun di kabulkan, mereka tetap tak akan percaya dan bahkan menuduh itu hanyalah sihir belaka.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/kalau-kau-utusan-tuhan-kok-masih-ke-pasar/10150155842921042
Kala aku juara
Masing-masing dari kita, pasti pernah mengalami sebuah peristiwa yang begitu heroik, dan kita merasa jadi pahlawan sekaligus pemenang dalam peristiwa itu.
Mungkin, kejadian yang aku alami pada saat aku masih kelas 1 SMP (atau kelas VII sekarang), tepatnya pada pertengahan tahun 1996, saat hendak naik kelas 2 (VIII), adalah yang memberiku bekal pertama kali dalam hidup soal ketenangan menghadapi situasi sulit sebagai seorang pemimpin.
Kejadian itu, yang mendidikku secara alamiah bagaimana saat kita dibiarkan sendiri menghadapi kesulitan, dan kerumitan di hadapan kita, apa yang harus kita lakukan.
Seperti biasa, tiap akhir tahun, SMP kami mengadakan perkemahan persahabatan bersama dengan beberapa sekolah tetangga, sedianya untuk menjalin keakraban, meski yang selalu muncul adalah rivalitas dan persaingan sengit.
Perkemahan bersama 4 sekolah, itu agenda tetap SMP tempatku sekolah. SMP Wachid Hasjim bersama 3 SMP Negeri. Dan lawan sengit kami tiap tahun adalah SMPN Maduran. Dua SMPN yang lain, SMPN Sekaran dan SMPN Laren hanya sekedar sebagai penggembira saja. Kami satu-satunya swasta.
Dan "Perkemahan Bersama" yang aku ikuti pada tahun 1996 itu, ternyata "Perkemahan Bersama" terakhir. Setelah itu tak pernah diadakan lagi.
Namun sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, suasana panas dan tegang telah terasa jauh sebelum perkemahan dilangsungkan. Tentu saja antar SMP-ku (yang satu-satunya swasta) dengan rival abadinya, SMPN Maduran. Aku pun merasakan atmosfer yang memanas itu.
Dua minggu menjelang hari H, sekolahku membentuk beberapa regu dan aku dipercaya memimpin salah satunya, regu Garuda. Itu kali pertama aku dipercaya memimpin sebuah tim. Pelajaran hidup pertama tentang leadership yang aku terima.
Tentu saja aku mempersiapkan timku dengan meniru persiapan senior-seniorku. Yang aku rasakan sekali saat itu adalah kekompakan, seniorku banyak mengajariku apa yang harus aku lakukan. Bagaimana juga membagi tugas, menyusun strategi, dan memimpin tim dengan baik.
Semua persiapan sempurna kami lakukan, hanya saja ada satu kejanggalan. Aku awalnya tak sadar, baru tahu setelah salah satu Pinru (pimpinan regu) senior memberitahukan padaku kejanggalan aneh yang bisa mengancam kedigdayaan sekolahku selama ini di dunia Pramuka.
Setiba di bumi perkemahan, yang diadakan jauh dari wilayah sekolah kami, tepatnya di perbatasan Lamongan-Jombang, aku merasakan hal yang benar-benar menggiriskan. Sempat minder dan down, melihat lautan regu dari sekolah-sekolah lain.
Ternyata SMP-ku "hanya" berkekuatan 9 regu saja, yang sebelumnya aku kira sudah merupakan kekuatan besar. Sementara rival terberat kami, SMPN Maduran, menurunkan lebih dari 35 regu, SMPN Sekaran sekitar 15, dan SMPN Laren mengirim 11. Kekuatan yang tak imbang, pikirku kala itu.
Namun senior-seniorku yang jauh lebih pengalaman, mengumpulkan seluruh pimpinan regu, termasuk aku, dan mensupport kami untuk selalu semangat serta menjaga kekompakan. Mereka sukses memompa daya juang dalam hatiku.
Hanya saja, aku tak melihat pembinaku ada bersama kami. Itu kejanggalan yang kurasakan.
Kok beliau nggak menjenguk kami ya, apalagi memberi pengarahan. Dan aku mendapat slentingan kabar jika beliau kayaknya tidak ingin kali ini SMP-ku juara, tapi SMPN Maduran yang beliau juga membina di sekolah itu.
Sempat terpukul mendengar kabar itu, tetapi dalam hatiku berbisik, tak lucu jika bergantung, saatnya membuktikan diri.
Singkat cerita, selama 6 hari perkemahan yang melelahkan, dengan persaingan ketat itu, SMP-ku begitu perkasa. Kekompakan kami mampu mengalahkan jumlah besar regu-regu dari SMP lain. Yang aku ingat, reguku sendiri menyumbang 3 medali emas dari seluruh perlombaan yang kami ikuti.
Aku tak lupa saat melonjak-lonjak dan berjoget sambil menyanyikan lagu "Marina Menari" di depan Posko panitia ketika tahu reguku, Garuda, menang dalam lomba kerapian pakaian, kerapian tenda, dan Baris-berbaris.
Dan pada akhir perkemahan, saat pengumuman pemenang, dan SMP-ku dinyatakan sebagai juara umum, entah siapa yang punya inisiatif, oleh guru-guru pendamping, aku dipercaya mengambil Trophy juara umum atas nama SMP-ku.
Serasa melayang kala aku mengangkat trophy juara itu, padahal tanganku yang kanan dalam keadaan terkilir sebab terjatuh kala aku berlari untuk mewakili reguku, membela sekolahku.
Aku juga masih ingat, bagaimana pembinaku yang sama sekali tak menjenguk kami, terduduk lesu dan malu ketika sekolah yang digadangnya, bahkan dengan rekayasa, gagal mengalahkan kami.
@ @ @
Pelajaran penting yang kudapat adalah :
@ kebenaran al-Qur'an, (kam min fi-atin qolilatin gholabat fi-atan katsirotan bi idznillah)
Sebab kulihat, SMPN-SMPN yang lain justru terjadi persaingan antar regu mereka sendiri. Sebesar apapun jumlah, jika tak ada kerjasama, tidak ada insijam (keserasian), tidak ada tauhidul fikroh (kesamaan pemikiran), maka hanya bak bumbung kosong belaka. Sangat rapuh.
@ ketenangan; meski suasana genting, ketenangan adalah segalanya, tanpa ketenangan, semua tambah kacau.
@ tidak tergantung pada sosok seseorang, sebab itu justru melemahkan, tapi harus percaya pada kemampuan diri sendiri.
@ menjadi pemimpin itu, harus kuat dalam karakter, tak mudah diombang-ambingkan, dan mampu mengambil keputusan yang tepat dan tegas di saat kurang menguntungkan. Serta mampu memilih anak buah untuk tugas yang tepat. The right man in the right place.
@ sistem dan manajemen yang bagus. Faktor utama daripada sebuah kesuksesan, sebagaimana telah kita ketahui.
@ kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas (al-kaif ahammu min al-kamm)
@ terpenting dari pada itu, sebuah kesuksesan dan kemenangan, tak bisa datang begitu saja, harus ada awamil, anashir, dan asbabun nuhudh (faktor, unsur, dan sebab kebangkitan). Perang badar adalah pelajaran besar soal itu bagi kita semua.
@ @ @
Kejadian yang sama, terulang lagi saat aku kelas 3 (IX). Aku sendirian memimpin kelasku dalam classmeeting di SMP-ku sendiri. Kala itu kami sendirian, sebab wali kelasku "meninggalkan" kami (tidak care). Dan pengalaman yang aku peroleh saat kelas 1, kuterapkan kembali, dan lagi-lagi kami muncul sebagai juara umum :)
Experience, is the best teacher.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-kala-aku-juara-sebuah-renungan/10150155398026042
Indahnya Menikah
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Menikah, adalah suatu hal yang dinanti-nanti. Keindahannya tak bisa dibayangkan kecuali bagi yang sudah mengalaminya. Dengan menikah, pikiran, dan hati menjadi tenang, tentram tak terkira. Pandangan jadi lebih bisa terjaga. Lebih dari itu, menikah adalah fitrah setiap anak Adam. Dengan menikah, seseorang bisa semakin lebih dewasa dalam berfikir, berprilaku bahkan dalam mengambil dan memutuskan sebuah pilihan. Ada beberapa hal yang bisa dihayati mengapa seseorang itu harus menikah. Di antaranya; pertama, menikah berarti melengkapi agamanya. “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Thabrani dan Hakim).
Kedua, menikah bisa menjaga kehormatan diri. “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
Ketiga, bersenda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia melainkan suatu amal mulia yang dianjurkan. “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309)..
Keempat, bersetubuh dengan istri termasuk sedekah. Suatu ketika para shahabat Nabi SAW berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih, takbir, tahlil dan tahmid terdapat sedekah; memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah.”
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?”
Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu di salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?”
Mereka menjawab, “Ya, tentu.”,
Beliau bersabda, “Demikian pula bila dia menyalurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala. (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah.
Lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat Dhuha dua rakaat.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125). Wallahua’lam
Semoga bermanfaat ya bagi ikhwan dan akhwat yang sedang dalam masa mencari belahan jiwa.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/indahnya-menikah/10150155325936042
Kehebatan Seorang Ibu
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Ia rela memberikan cinta kasihnya kepada orang yang dicintai,
memberikan tubuh dan hatinya untuk suami tercinta,
memberikan rahimnya untuk menampung sebuah kehidupan baru,
Ia rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkan,
Mengorbankan semua waktu dan tenaganya untuk merawat anaknya,
tidak mengeluh saat membersihkan popok anaknya tanpa rasa jijik sekalipun,
tidak pernah mengatakan untung rugi untuk anaknya tercinta…
walau derita harus ditanggungnya karena perlakuan suaminya,
Ia tetap tersenyum dan tegar melewati hidupnya….
walau pun akhirnya suaminya meninggalkannya…
Ia tidak pernah menyesali semuanya…
Ia dengan sekuat tenaga membesarkan anaknya…
Memberi nafkah bagi anak-anaknya…
tak sekalipun terpikir untuk kembali menikah…
Tetap menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya…
Tiada sedikitpun berkata tentang kesepiannya…
tiada sedikit pun mengeluhkan beratnya kehidupan…
Bekerja tanpa lelah, hanya demi anak-anakanya tercinta…
memberikan yang terbaik untuk anaknya makan dahulu…
dan menyisakan yang jelek bagi dirinya sendiri…
Dengan tangan-tangannya yang telah letih…
tetapi bersemangat memberikan kehangatan bagi anaknya…
suaranya yang merdu melantunkan kidung nyanyian yang indah,
menemani tidur anak-anaknya.
Kini aku telah dewasa,
ibuku masih tetap tegar seperti biasanya,
seorang diri tanpa suami disisinya,
menjalani hidup dengan bersyukur dan terus bersyukur,
dimatanya tetap anak-anaknya lah tumpuan hatinya,
dan di mata anak-anak, Ibulah pahlawan bagi kami…
cinta ibu yang tulus pada anaknya tak pernah padam…..
walau kerut diwajah telah tidak lagi sedikit,
tangan-tangannya yang lembut, kini telah penuh keriput,
tetapi masih memberikan kehangatan yang sama,
tetap bersahaja sampai akhir hayatnya.
Ditengah sakitnya yang parah sebelum pergi untuk selama-lamanya, Ia memberikan pesan bagi kami:
“Jangan kalian benci ayah kalian sendiri, wahai anak-anakku tercinta!”
“karena tanpanya maka kalian tidak akan pernah lahir di dunia”
“Ia lebih memilih hidupnya sendiri… tetapi bagaimanapun Ia adalah orang yang paling ku sayangi di dunia ini, dan Ia adalah ayahmu sendiri”
“Bila suatu saat Ia kembali, mohon katakan aku tidak pernah sedikitpun membencinya, rawatlah bila Ia sakit”
“Maka Ibu akan benar-benar bahagia dan selalu memberikan restu untuk kalian semua….”
Kisah renungan ini fiktif adanya,
tetapi mungkin di dunia ini ada kejadian yang persis sama dengan cerita ini.
Anda dapat melihat dan merenung, dari posisi mana anda berada.
tidak perlu di bahas panjang lebar, tetapi dapat diselami untuk di jadikan suatu pelajaran…..
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/kehebatan-seorang-ibu/10150154523246042
Relativitas Waktu
Tahun 1950 seorang sarjana fisika, Albert Einstein, telah mengejutkan sarjana-sarjana fisika lainnya di seluruh dunia dengan sebuah teori relativitas. Ternyata teori ini merupakan pemecahan terhadap berbagai persoalan penting yang dihadapi para ahli fisika abad 20 ini. Dengan teori ini orang mengetahui tentang kesetaraan massa dan tenaga, yang merupakan dasar dalam perhitungan tenaga nuklir; dan juga orang mengetahui bahwa besarnya massa, ukuran panjang, dan waktu adalah relative, tergantung pada kecepatan sistemnya.
Walau kita bukan ahli fisika atau malah mungkin nilai raport fisika kita merah terus, kita dapat memahami secara sederhana. Ternyata pengaruh kecepatan akan sangat terasa sekali bila ditempat sangat tinggi hingga mendekati kecepatan cahaya. Menurut teori relativitas, kecepatan cahaya dalam hampa (300.000 km / detik) adalah kecepatan maksimum yang tak dapat dilampaui oleh materi.
Masa suatu benda akan bertambah besar bila kecepatan makin tinggi, sedangkan ukuran panjangnya akan menyusut, dan waktu akan bertambah lambat. Jadi satu jam bagi sistem yang bergerak sangat cepat terhadap kita, mungkin sama dengan satu hari, atau satu bulan, ataupun satu tahun menurut ukuran kita.
Relativitas seperti itu sesuai dan dapat dipahamkan dengan firman Allah sebagai berikut: "Tuhan menyelenggarakan urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam sehari yang ukurannya seribu tahun menurut perhitungannmu." [As sajdah : 5]
atau "Para malaikat dan ruh naik kepadaNya dalam satu hari yang ukurannya 50 ribu tahun." [Al Ma’arij : 4]
Kalau kita kaji lebih dalam ternyata ayat-ayat dalam Al quran merupakan konsep hidup yang sangat dahsyat dan lengkap, mencakup berbagai sisi kehidupan kita sebagai makhluk Allah dimuka bumi. Dari yang sederhana hingga yang sangat rumit. Sebagian kecil ayat di atas merupakan mujizat ilmiah yang datang dari Allah yang Maha Mengetahui segala rahasia yang di langit dan di bumi.
Mudah-mudahan dapat menambah keimanan kita terhadap Allah, Rosul-Nya dan kitab-Nya. Semoga pula kita termasuk orang-orang yang berfikir.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-relativitas-waktu-/10150151961201042
AKHIRNYA KEHENDAK ALLAH ITU BICARA
Jepang diguncang gempa dan tsunami, gedung-gedung hancur, media ramai memberitakannya, dunia ikut terkejut. Negara maju dan secanggih Jepang yang mampu menciptakan alat pendeteksi gempa dan tsunami itu tidak mampu mencegah lebih dini bencana alam tersebut.
Saya teringat beberapa waktu lalu, saat terlibat pembicaraan seru dengan beberapa orang Hong Kong mengenai bencana alam di Indonesia. Mereka yang tidak memiliki agama mengatakan dengan sombong bahwa “bencana alam terjadi pada negara miskin yang menganut agama islam, negara maju yang tidak memiliki agama lebih makmur dan aman dari bencana, buktinya Hong Kong dan beberapa negara lain,” Begitulah mereka berujar.
Mereka mengambil contoh dari gempa dan Tsunami yang terjadi di Indonesia, lalu gempa yang sempat mengguncang Pakistan.
Namun kini, akhirnya kehendak Allah itu bicara, langit membuktikan, bumi menyaksikan, makhluk hidup diperlihatkan, bahwa teknologi maju yang mereka banggakan itu tidak memiliki manfaat sama sekali jika Allah sudah berkehendak.
Alat pendeteksi gempa dan tsunami, ternyata tidak mampu memberikan sinyal lebih awal agar manusia bisa mengendalikan bencana lalu selamatlah gedung-gedung mewah yang mereka miliki. Teknologi canggih itupun tidak mampu berbuat apa-apa. Teknologi itu tidak mampu melawan arus takdir yang Allah Kehendaki.
Akhirnya Kehendak Allah itu benar-benar bicara, bahwa alat-alat canggih ciptaan manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan Allah, alat-alat canggih itu benar-benar menjadi saksi dunia, bahwa bencana alam yang Allah Kehendaki tidak dapat diselamatkan dengan teknologi canggih.
Jika ada yang beranggapan, bahwa semua murni bencana alam, bukan kehendak Allah, maka berpikirlah secara logika saja, teknologi tidak akan mungkin berwujud jika tidak ada tangan-tangan manusia yang menciptakan, dan teknologi yang telah manusia ciptakan tidak akan mampu bergerak jika tidak ada manusia yang menggerakkan, lalu bagaimana dengan bumi dan langit yang luas ini? Bukankah bumi dan langit ini juga tidak mungkin ada jika tiada yang Menciptakan? Bukankah bumi dan langit ini tidak mungkin bergerak jika tidak ada Sang Maha Penggerak?
http://www.facebook.com/notes/melati/akhirnya-kehendak-allah-itu-bicara/189890904382626
ANEKDOT BAGI PARA LELAKI
Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita.
Tanpa mereka, hati, fikiran dan perasaan lelaki akan resah.
Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya.
Apa yang kurang di Surga, namun Nabi Adam a.s tetap rindukan Siti Hawa.
Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri.
Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki,
tetapi kalau lelaki sendiri yang tak lurus, tak mungkin mampu untuk meluruskan mereka.
Tidak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.
Luruskanlah wanita dengan cara yang ditunjuk Allah, karena mereka dicipta begitu rupa oleh Allah.
Didiklah mereka dengan panduan dariNya.
JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA, NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR.
JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN, NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA.
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal.
AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU.
HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN.
PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK.
Suburkanlah, karana dari situlah nanti mereka akan nampak nilai dan keadilan Tuhan.
Akan terhibur dan bahagialah hati mereka, walaupun tidak menjadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator.
Bisikkan ke telinga mereka bahawa kelembutan bukan suatu kelemahan.
Itu bukan diskriminasi Tuhan.
Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan.
Karana rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki negarawan, karyawan, jutawan dan 'wan-wan' yang lain.
Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.
Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak boleh diluruskan, bahkan mereka pula yang akan membengkokkannya.
LEBIH RAMAI LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN DARIPADA PEREMPUAN YANG
DIRUSAKKAN OLEH LELAKI.
SEBODOH-BODOHNYA PEREMPUAN PUN DAPAT MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAINYA LELAKI.
Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal tuhan.
Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki.
Kini bukan saja ramai seorang Owner telah kehilangan secretaris,
bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapak akan kehilangan puteri.
Bila wanita durhaka, dunia lelaki akan huru-hara.
Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Para lelaki pula jangan hanya mengharapkan ketaatan tetapi binalah kepimpinan.
Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri dahulu kepadaNya.
Jinakkan diri dengan Allah, niscaya akan jinaklah segala-galanya di bawah kepimpinan kita.
SEMOGA TIDAK MNJADI DISKRIMINATIF BAGI PARA IKHWAN.
http://www.facebook.com/notes/melati/anekdot-bagi-para-lelaki/189749157730134
Sabtu, 19 Maret 2011
UNTUKMU BUNDA
Ingin kuberikan sesuatu yang istimewa di hari ini Bunda
Sesuatu yang masih dalam angan ku
Menggantung di wajah langit senja
Ku persembahkan untuk senyummu
Bertahun sudah pengharapanmu tak pernah surut
Larut dalam do'a dan pujian
Tanpa rasa gundah atau kecewa
Kau gantungkan semua keinginan hanya pada DIA
Bunda..
Senyum tulusmu selalu membayang di pelupuk mataku
Menghampar jelas di dalam benakku
Meneduhkan kegersangan hati
Bagai mendapat setetes embun nirwana
Bunda..
Hari ini yang teristimewa
Untuk mengenang kembali masa kecilku
Saat aku masih bermanja padamu
Dalam dekapan hangatmu aku tertidur
Waktu berlalu begitu cepat bunda
Lihatlah hamparan langit di penghujung senja
Tersenyum takzim pada ketulusan
Yang tak berbatas ruang dan masa
Semua hanya untukmu bunda
Rabbighfili waliwaalidayya...
Do'a ini untukmu bunda
Ku ingin mengumpulkan senyummu dalam bingkai emas
Yang kusimpan dalam ruang teristimewa di hatiku
Dan selalu kutaburi dengan do'a di hari-hari ku
>>>*<<<
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/untukmu-bunda/10150151121351042
[ Catatan Khusus ] : KRITERIA MEMILIH JODOH YANG BAIK :D
Catatan berikut, bisa jadi serius bisa jadi nggak serius. Sebab catatan ini aku buat setelah berkali-kali mendapat request yang aku sendiri sampai sekarang masih selalu saja bingung jika ditanya perihal request ini.
Kriteria memilih jodoh, nah, heee... :D
Permasalahannya itu karena aku sendiri belum menikah. Belum juga final menentukan pilihan siapa yang akan menjadi pendampingku kelak (silakan berdoa pada Tuhan YME untuk menjadi pendampingku yah, huehehe.. Ge er abis :D).
Alhasil, jika aku ditanya, Kamu ingin Istri yang bagaimana? Maka jawabanku bermacam-macam. "Yang Pasti, aku tidak pasang kriteria macam-macam, pokoke iso macak iso masak" :D ... Yang penting bisa bersolek yang cantik buat suami, dan bisa masak. Itu salah satu jawabanku :D :p
Kan nggak lucu, kalau suami capek-capek dari luar dalam keadaan lapar, pengen makan enak, tapi ternyata di meja makan cuma ada semangkuk mie rebus, sama sepiring telor goreng, mana gorengannya amburadul lagi :D
Kritikan pedas nih buat para cewek masa kini. Kok bisa jadi sangat aneh kalau sekarang teramat banyak wanita yang tidak bisa masak. Alasannya karena sibuk kuliah, sibuk karir. Padahal dua alasan itu mentah. Kami saja yang sibuk belajar masih bisa masak, bahkan terlatih masak saat di pondok.Karena, salah satu rahasia keharmonisan rumah tangga, adalah kecakapan istri dalam hal masak-memasak. Jadi, bisa dianalisa, salah satu faktor banyaknya perceraian akhir-akhir ini, karena ketidakmampuan istri dalam tata boga.
So, mulai sekarang bagi mbak-mbak, ukhti-ukhti, neng-neng, yang nggak bisa masak, belajar masak yah, mumpung belum telat, beli resep-resep masakan, praktekin, liat acara-acara Farah Queen, atau Rudi Khoiruddin. Atau belajar dari Ibu masing-masing. Aib wanita tidak bisa masak, sangat aib.
Ntar kalau masakanmu keasinan, bagaimana perasaanmu saat dikatain suami, "De', kok sedap banget masakannya, kamu tambahin upilmu ya" :D
Nggak lucu kan kalau suamimu akhirnya suka makan di warung terus kecantol mbak-mbak pelayan warungnya hanya gara-gara dia lebih pinter ngulek sambel terasi daripada kamu, nah lho.
Pada dasarnya, bagi wanita, dalam hal memilih jodoh, yang perlu menjadi penilaian utama adalah kesalehan dia. Jangan langsung melihat dia sudah kerja atau belum? Kesalahan pandangan ini.
Jangan khawatir deh ntar makan apa, pasti makan nasi, nggak mungkin makan batu.
Makanya, kalau ada mbak-mbak konsultasi padaku tentang calon jodohnya, maka pertama kali yang aku suruh lihat adalah sholatnya, beres 5 waktu tidak? Kalau beres, maka insyaallah semuanya baik. Sebab dia nanti akan menjadi pemimpin, imam bagi keluarganya itu. Dan penentuan imam yang paling penting adalah ketekunan sholat dia.
Kedua, akhlak dan tatakramanya. Cari suami yang mempunyai perangai bagus. Sebab itu berhubungan dengan interaksi sosial dia dengan keluarga mertuanya nanti. Karena lembaga pernikahan adalah lembaga yang mempertemukan dan menyambung dua keluarga, sebagaimana diketahui.
Dua hal ini yang menurutku terpenting. Sedang kriteria-kriteria tambahan lainnya, semisal ganteng, pintar, kaya, adalah kriteria pendukung dan penyempurna.
Sebab, sebagaimana inti dari semua nash-nash hadits Rosul seputar tata cara memilih jodoh, baik calon suami, ataupun calon istri, penekanannya adalah pada kebaikan agama calon suami atau calon istri.
Karena tentu saja jika agamanya baik, maka dia punya rasa khosy-yah, rasa taqwa pada Allah yang mendorongnya untun bertanggung jawab. Dan di antara bentuk bertanggung jawab bagiku, adalah bahwa calon istri itu juga kudu pinter masak, huehehe :D.
Karena tentu saja orang-orang model ini, adalah orang-orang yang bijak menghadapi hidup, yang tidak mudah goncang dengan keadaan yang sulit, mampu bersabar. Juga sebaliknya, saat keadaan enak, dia tidak mudah lalai dan terlena. Karena kemampuannya mensyukuri nikmat Penciptanya.
Kemampuan menjaga keseimbangan psikologinya, akan berdampak langsung dan nyata pada kemampuannya menjaga keseimbangan biduk rumah tangganya.
Bukan lantas catatan ini lalu diartikan, wah kalau gitu cari suami yang ahli agama saja, dari pesantren saja, yang aktif di Liqo'-Liqo' aja. Bukan begitu, tidak jaminan itu. Tetapi tadi adalah kriteria umum, dan bukan harus cari suami dari kalangan-kalangan agamis. Boleh dari kalangan apa saja, yang penting sholatnya baik, akhlaknya baik.
Pada akhirnya, di samping menyelidiki kandidat calon suami, bagaimana agamanya, bagaimana moralnya. Hendaknya sebelum memutuskan pilihan melalui musyawarah keluarga, juga tak lupa istikhoroh pada Allah Ta'ala.
Maa Khoba man Istakhoro, wa Maa Nadima man istasyaro.. Orang yang istikhoroh, tak akan kecewa, dan yang meminta pendapat, tak akan menyesal.
So akhir catatan, pintar-pintar lah memilih calon suami juga calon istri, sebab ini adalah keputusan terkrusial seumur hidup, menentukan kebahagiaanmu selamanya. Apalagi dengar-dengar katanya sekarang makin sulit mencari menantu baik. Wallahu A'lam.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-catatan-khusus-kriteria-memilih-jodoh-yang-baik-d/10150151654596042
@}~~ ARIGATO GHOZAIMASU ~~{@
Di mobil, perjalanan ketika suamiku baru menjemput aku di eki (stasiun) setelah tiba dari perjalanan ke luar kota. “Mas,... tadi abang (panggilan untuk putra sulung kami) jadi latihan karate khan ?”, tanyaku.
“Jadi koog, tau ngga dek, tadi abang waktu mas bangunin tidur siang bilang apa ?. Masa’ abang baru aja melek langsung bilang gini, “Abi, okoshitekurete arigatou nee”. (Abi udah bangunin abang makasih yaa…).
“Anak itu emang udah nihonjin (orang Jepang) banget kog perasaan”, komentar suamiku lebih lanjut. Aku hanya tersenyum, sambil membayangkan si abang.
“Iyaa bener juga, masa’ cuman perkara dibangunin dari tidur siang aja begitu melek masih sempet-sempetnya inget untuk bilang arigato (terimakasih), kataku dalam hati.
Aku lantas teringat kejadian beberapa hari yang lalu sepulang dari kampus membawa sisa camilanku yang tidak habis kumakan di lab. Abang menyambutku sambil bertanya, “Ummi, kore tabete ii ?” (Ummi, ini boleh abang makan ?).
Ketika melihatku mengangguk si abang lantas berkata “Ummi, arigatou nee… oishii mono katte kurete, arigatou” . (Ummi, makasih yaa udah beliin abang makanan enak).
Deeg,… aku tersenyum kecut sambil melihat camilan yang mungkin sudah tidak sampai sepertiga lagi isinya. “Duuh,… kesindir anak kecil niih”, gumamku. Padahal camilan itu bukanlah makanan yang mewah atau enak sekali, dan kurasa cukup sering aku membelikan anak-anak panganan kecil semacam itu. Tapi entah mengapa, apresiasi yang diberikan seakan-akan melebihi apa yang diterimanya. Hhmm…khas nihonjin (orang Jepang).
Memang begitulah salah satu budaya yang baik dari orang Jepang, lidah mereka terasa ringan untuk mengucapkan terima kasih. Jangankan untuk hal-hal yang besar, untuk hal-hal sepele saja orang Jepang mudah sekali memberikan apresiasi.
Contoh yang sering dijumpai adalah bila kita masuk ke sebuah toko, walaupun kita tidak membeli sesuatu, katakanlah hanya sekedar window shopping, saat kita keluar dari toko, pelayan akan langsung memasang senyum dan mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) sambil sedikit membungkukkan badannya. Bagi orang Jepang kata-kata “Terima kasih” lazim diucapkan sampai tiga kali. Pertama, disaat mereka menerima barang atau bantuan jasa. Kedua, selang beberapa hari kemudian biasanya orang Jepang akan telfon untuk mengucapkan terima kasih atau pada kasus terhadap orang yang dihormati, biasanya mereka akan mengirimkan kartu pos tertulis ucapan terima kasih. Ketiga, saat jumpa kembali, mereka akan spontan mengatakan “Senjitsu domo arigatou” (Terima kasih yaa untuk kejadian waktu itu).
Duh indahnya,… bila menerima perlakuan baik, mereka akan benar-benar mengingat dan menghargai. Belum lagi kebiasaan mereka berbalas hadiah, bila kita memberikan sesuatu hadiah, jangan heran bila selang beberapa hari mereka akan mengirimkan hadiah balasan sebagai ungkapan terima kasih.
Coba mari kita buka lembaran hadist, sebenarnya Rasulullah SAW manusia agung yang dirahmati Allah, 14 abad yang lampau telah mengajarkan kita untuk berlaku serupa. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadist yang bersumber dari Hadath Asy’as ra. Rasulullah SAW bersabda :
“Orang-orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah ialah orang-orang yang paling banyak bersyukur/berterima kasih pada orang-orang “. (Al-Mu’jam Al Kabir Lit-Tabrani).
Lantas mengapa kadang kita masih saja sulit untuk mengapresiasikan kebaikan orang-orang di sekeliling kita?.
Saya teringat keluhan seorang kawan muslimah beberapa waktu yang lalu, “Bu Na, suami saya tuh kalau ke orang lain perasaan gampang banget deh bilang ‘Jazakumulloh khoiron katsiroo” (Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan lebih baik dan banyak). Tapi, misalnya kalo saya abis masak besar untuk menjamu temen-temen suami, trus nyuci setumpuk piring kotor, atau ngebuatin suami teh manis, hhmm… boro-boro ada ucapan singkat ‘terima kasih’, suami bisa noleh sambil senyum aja sudah bagus banget, eeh,…yang ada suami terus aja asyik melototin monitor”. “Eeeh, bukannya saya ngga ikhlas lho yaa… tapi khan seneng aja kalo suami tuh menghargai pekerjaan kita, jadi semangat gitu mau ngapa-ngapain”, tutur kawan tersebut.
Sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali saya mendengar curhat yang senada. Memang benar juga, kadang saya amati, para bapak acapkali memandang apa yang sudah dikerjakan isteri adalah kewajiban yang sudah sepatutkan dikerjakan.
Padahal, sebenarnya tidak sedikit hal-hal yang dikerjakan isteri itu adalah justru merupakan kewajiban suami. Hanya karena rasa sayang terhadap suami, atau niatan beramal dengan harapan mendapat pahala yang lebih dari Allah, maka tugas-tugas suami lantas diambil alih, dan bila sudah keterusan, lama-kelamaan suami menganggap itu adalah sudah kewajiban isteri. Sehingga yang dulu awalnya hati selalu bersyukur, ucapan terima kasih senantiasa terucap tatkala isteri membantu meringankan tugas, lambat laun akan terlena, maka hilanglah sudah ucapan-ucapanterima kasih dan do’a “jazakillah khoir” itu.Coba anda ingat, kapankah terkahir kali anda mengucapkan kata-kata mesra ungkapan terima kasih penuh do’a pada isteri anda?. Bila anda sudah lupa, tunggu apa lagi? alihkan sejenak pandangan anda dari layar monitor ini. Lantas segeralah buzz atau telfon isteri anda, dan katakanlah… insyallah sepulang anda kerja, isteri anda akan menyambut dengan mesra dan penuh kehangatan.
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-arigato-ghozaimasu-/10150152595771042
MEREKA MENGAJARKAN KITA
Bismillaahirrahmanirrakhiim....
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kita jujur pada teman, dia berdusta pada kita. Saat dia telah berjanji pada kita, dia mengingkarinya. Saat kita memberikan perhatian, dia tidak menghargainya. Hal yang sangat mengecewakan adalah kita dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan.
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi ! Sebenarnya hal-hal yang kita alami sedang mengajari kita. Saat teman kita berdusta pada kita atau tidak menepati janjinya pada kita atau dia tidak menghargai perhatian yang kita berikan, sebenarnya dia telah mengajari kita agar kita tidak berperilaku seperti dia.
Bila kita dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajari kita untuk menjadi orang yang arif dan santun, kita telah membantunya saat dia dalam kesulitan.
Hal yang menyakitkan adalah saat kita mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintai kita atau dia yang kita sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajari kita untuk RIDHA menerima takdir-Nya.
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kita alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin, atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajari kita untuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajari kita untuk tidak berperilaku seperti itu.
Mungkin ALLAH menginginkan kita bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kita bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupan kita dan kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita.
http://www.facebook.com/notes/melati/mereka-mengajarkan-kita/188565054515211
Pemuda & Ayahnya yang Berubah Menjadi Himar
Bismillahirrahmanirrakhim.....
Dalam terik panas mentari yang memancar menyinari tanah Baitul Haram, seorang ulama zuhud yang bernama Muhammad Abdullah al-Mubarak keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana dia lekat melihat seorang pemuda yang asyik membaca sholawat dalam keadaan ihram. Malah di Padang Arafah dan di Mina pemuda tersebut hanya membasahkan lidahnya dengan sholawat ke atas Nabi."Hai saudara," tegur Abdullah kepada pemuda tersebut. "Setiap tempat ada bacaannya tersendiri. Kenapa saudara tidak membanyakkan doa dan sholat sedangkan itu yang lebih dituntut? Saya lihat saudara asyik membaca sholawat saja."
"Saya ada alasan tersendiri," jawab pemuda itu.
"Saya meninggalkan Khurasan, tanah air saya untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Apabila kami sampai di Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit kuat. Dia telah menghembuskan nafas terakhir di hadapan saya sendiri. Dengan kain sarung yang ada, saya tutup mukanya. Malangnya, apabila saya membuka semula kain tersebut, rupa ayah saya telah bertukar menjadi himar. Saya malu. Bagaimana saya mau memberitahu orang tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya begitu hodoh sekali?
"Saya terduduk di sisi mayat ayah saya dalam keadaan kebingungan. Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat seorang pemuda yang tampan dan baik akhlaknya. Pemuda itu memakai tutup muka. Dia lantas membuka penutup mukanya apabila melihat saya dan berkata,
"Mengapa kamu susah hati dengan apa yang telah berlaku?"
"Maka saya menjawab, "Bagaimana saya tidak susah hati sedangkan dialah orang yang paling saya sayangi?"
"Pemuda itu pun mendekati ayah saya dan mengusap wajahnya sehingga ayah saya berubah wajahnya menjadi seperti sediakala. Saya segera mendekati ayah dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan yang baru terbit pada malam bulan purnama.
"Engkau siapa?" tanya saya kepada pemuda yang baik hati itu.
"Saya yang terpilih (Muhammad)."
"Saya lantas memegang jarinya dan berkata, "Wahai tuan, beritahulah saya, mengapa peristiwa ini bisa terjadi?" Rahasia sholawat 100 kali
"Sebenarnya ayahmu seorang pemakan harta riba. Alloh telah menetapkan agar orang yang memakan harta riba akan ditukar wajahnya menjadi himar di dunia dan di akhirat. Alloh telah menjatuhkan hukuman itu di dunia dan tidak di akhirat. "
Semasa hayatnya juga ayahmu seorang yang istiqamah mengamalkan sholawat sebanyak seratus kali sebelum tidur. Maka ketika semua amalan umatku ditontonkan, malaikat telah memberi tahu keadaan ayahmu kepadaku. Aku telah memohon kepada Alloh agar Dia mengizinkan aku memberi syafaat kepada ayahmu. Dan inilah aku datang untuk memulihkan semula keadaan ayahmu."
Subhanallah....
Allohumma sholli ala Muhammad
Allohumma sholli alaihi wassalim
http://www.facebook.com/notes/melati/pemuda-ayahnya-yang-berubah-menjadi-himar/188269501211433
Manusia seperti apakah kita?
Bismillaahirrahmanirrakhiim....
Bilamana anda menemukan anti virus H1N1 apa yang akan anda lakukan? Maka sebagian besar akan menjawab :" Saya akan jadikan peluang untuk memulai bisnis anti virus dengan harga yang tentu saja menguntungkan sehingga saya dapat mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan saya.Seorang penemu metode pengajaran atau keilmuan membuat hak paten atas hasil karyanya, otomatis siapapun yang memanfaatkan metodenya harus membayar royalti padanya sebagai bentuk penghargaan atas hasil karyanya.
Suatu ketika Al Banna berbincang-bincang dengan seorang kawan yang berprofesi sebagai trainer dari lembaga terkenal di Indonesia, mereka berbicara panjang lebar mengenai metode pembelajaran training dengan inovasi nya. Dia menyeletuk " Pak Al Banna anda tidak takut ilmu nya saya pakai karena anda mengeluarkan semua trik2 untuk metode pembelajaran yang betul2 fresh dan sangat menarik untuk diterapkan."
Al Banna menjawab " Ooo..ngak masalah karena semua apa2 ilmu yang ada di kepala saya bukan milik saya kalo anda mau memanfaatkannya silakan gratis....jadi saya tidak akan pernah sakit hati bilamana anda menggunakan metode saya dan anda menghasilkan sesuatu untuk anda, cukuplah buat saya bilamana ilmu itu bisa bermanfaat buat orang lain.
Selama ini kita selalu berpikir keuntungan secara materi, apa yang saya dapatkan dari itu...? itulah pertanyaan yang sering muncul di benak kita. Tapi kita tidak pernah berpikir kemanfaatan apa yang dapat kita berikan buat orang lain.
Agama ini mengajarkan kepada kita bahwa Ilmu hanyalah milik Allah maka kita sebagai orang yang diijinkan Allah untuk mendapatkan ilmu tersebut sebaiknya untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain tanpa berharap mendapat sesuatu berupa keuntungan materi untuk diri kita. Ilmu di ibaratkan seperti air. Bilamana sebuah kolam selalu dimasukkan air tanpa dialirkan maka air tersebut akan keruh dan kotor begitu pula dengan otak kita, bila ilmu tersebut tidak segera dialirkan maka otak kita akan rusak dengan pikiran2 kotor sehingga menjauhkan diri kita dari Allah.
Dalam diri manusia terdapat 2 jenis sifat binatang antara lain :
1. Hewan Ternak ( Bahima ): Nafsu keinginan untuk hidup dg makan dan minum, Syahwat keinginan akan
berkembang biak.
2.Hewan Buas ( Shiba ) : Amarah, iri,dengki, keinginan untuk berkuasa.
Oleh karena itu Islam mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan sifat hewani yang ada dalam diri kita dengan berpegang teguh atas ajaran agama Islam.Agar kita tidak terjerembab dalam kenistaan yang dalam. Banyak orang-orang yang terjatuh dalam lingkaran ini, hanya orang-orang yang berpegang pada agama yang dapat selamat. Dengan kita membuat hak paten atas ide atau ilmu yang kita miliki maka sama hal nya kita telah memutuskan tali rantai keberkahan atas ilmu tersebut. Sehingga di akhirat kita tidak akan mendapatkan apa2.
Entah ini sengaja atau tidak disengaja, hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan dan wajar dilakukan setiap orang.Padahal dalam esensi ibadah hal ini dapat menjerumuskan kita sehingga tidak mendapatkan keberkahan atas ilmu tadi.
Sistem pendidikan kita hanya mengajarkan anak untuk menjadi "pandai" bukan menjadi" baik", sedangkan dalam hal ilmu agama sekolah hanya mengajarkan islam secara ilmu bukan pesan2 agama secara substansial.Oleh karena itu banyak orang yang paham agama tapi tidak pandai dalam mengamalkan ajaran tersebut dengan baik.
Tuntutan kita terhadap anak2 kita adalah agar mereka mendapatkan nilai yang baik di sekolah, untuk mendukungnya kita tidak segan2 memasukkan anak2 kita ke kursus bimbingan belajar,bahasa inggris,kumon dll, bagaimana dengan agamanya?Apakah hanya cukup dimasukkan ke TPA ? Semua yang kita lakukan atas anak2 kita atas dasar materi dan dunia itu sangat penting dalam kehidupan mereka.
Semoga kita semua sadar bahwa ada yang lebih penting bagi anak2 kita yaitu AGAMA, bilamana kita memasukkan nilai agama itu dengan benar maka insya Allah mereka akan selamat dunia dan akhiratnya, karena AGAMA bukan urusan akhirat saja melainkan juga urusan dunia. Selama ini kita hanya beranggapan AGAMA adalah urusan akhirat.
Agama mengajarkan kepada kita untuk berkomitmen agar kita menjadi "hamba Allah" yang utuh bukan hamba bagi yang lainnya.Oleh karena itu setiap hari kita selalu berkomitmen " Iyyakana' budu......"
Semoga kita semua dapat menjadikan agama sebagai pegangan hidup kita dan kita dapat menjadi manusia yang seutuhnya yang diharapkan agama "Manusia yang berakhlaq mulia dan memiliki rasa malu". ( definisi manusia dari 12 kitab Tafsir Al Qur'an yang masyhur di dunia ).
http://www.facebook.com/notes/melati/manusia-seperti-apakah-kita/187631741275209
Jangan Salah Cara dalam Mencintai Nabi Kita!
Oleh: Badrul Tamam
Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam termasuk
ushul iman (pokok keimanan) yang bergandengan dengan cinta kepada
Allah 'Azza wa Jalla. Allah telah menyebutkannya dalam satu ayat
dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada
kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.
قُلْ
إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan
Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasik"." (QS. Al Taubah: 24)
Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna
kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam. Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih
menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat
baik dan membantunya. Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan
seorang mukmin.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda,
لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara
kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia
seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Ibnu Baththal, makna hadits ini adalah orang
yang sempurna imannya pasti tahu bahwa hak Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam lebih utama baginya daripada hak bapaknya, anaknya, dan seluruh
manusia. Karena melalui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita
terselamatkan dari neraka dan diselamatkan dari kesesatan."
Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan
beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya.
Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang
mukmin.
Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu
menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,
dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya
terhadap dirinya sendiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menafikan
kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas
segala-galanya.
Maka wajib mendahulukan dan mengutamakan
kecintaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas kecintaan
kepada diri sendiri, anak, kerabat, keluarga, harta, dan tempat tinggal serta
segala sesuatu yang sangat dicintai manusia.
Memang setiap orang berhak untuk mengklaim
dirinya sebagai pencinta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun
klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti
sunnahnya), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya.
Al Qadli 'Iyadl rahimahullah, berkata:
"di antara bentuk cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup
bersamanya, . . . "
Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al
Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan,
sebagai firman Allah Ta'ala:
قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku." (QS. Ali Imran: 31)
Karenanya klaim cinta kepada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari
kelahiran beliau. Namun, perilaku banyak menyimpang dan tidak sesuai dengan
tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Sejarah Peringatan Maulid Nabi
Dalam sejarah pun, motivasi orang-orang yang
mula-mula melakukan peringatan maulid Nabi, yaitu pengikut mazhab Bathiniyyah
tidak didasari rasa cinta kepada beliau, tapi untuk tujuan politis.
Pelopor pertama peringatan maulid Nabi shallallahu
'alaihi wasallam adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal
dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah pada pertengahan abad ke empat
Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir
pada tahun 362 H.
. . motivasi orang-orang yang mula-mula melakukan peringatan
maulid Nabi, mazhab Bathiniyyah, tidak didasari rasa cinta kepada beliau, tapi
untuk tujuan politis.
Perayaan maulid diadakan untuk menarik simpati
masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk
untuk mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang
sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.
Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan
bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun.
Beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang
rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya
adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih
parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan
Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad
(Natal), dan hari Khamisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).
Fakta sejarah peringatan maulid yang tidak
ditemukan pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan masa
tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini,
menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam
bid'ah haram.
Tak dipungkiri, di antara ulama ada yang
menganggapnya sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik), selama tidak
dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar
al Atsqalani dan as-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi
adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat
walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.
Keabsahan peringatan maulid Nabi bagi mereka
disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik
permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumentasinya
melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat
maupun secara tersirat dalam Al Quran dan al Sunnah, dan diperkuat dengan
kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang
disyariatkannya suatu ibadah.
Hujjah Pendukung Peringatan Maulid
Para pendukung maulid berusaha mencari dalil untuk
melegitimasi bolehnya peringatan maulid tersebut, antara lain:
Pertama: Sikap Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari
Asyura. Puasa tersebut adalah ungkapan syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla
atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam pun menyerukan untuk berpuasa pada hari tersebut.
Peringatan maulid Nabi, menurut Ibn Hajar dan
as-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wasallam ke muka bumi.
Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya. Mereka
menganggapnya sebagai alasan yang dipaksakan, mengingat dasar suatu ibadah
adalah adanya dalil yang memerintahkannya dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam, bukan pada logika, analogi dan istihsan.
Puasa 'Asyura termasuk sunnah yang telah
dipraktikkan dan diserukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sebaliknya, beliau telah
mewanti-wanti ummatnya dari membuat-buat bid'ah, seperti dalam sabdanya,
"Jauhilah amalan yang tidak aku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah
sesat." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa
mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan nikmat terbesar yang
tercurah pada umat ini adalah diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, Al
Qur'an menyebut pengutusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
sebagai nikmat,
لَقَدْ
مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ
أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberikan karunia
kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di
tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri." (QS. Ali Imran:
164).
Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran
beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut
dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan
menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura' berbeda dengan status
umatnya. Beliau adalah musyarri' (pembuat syariat), adapun umatnya
hanya muttabi' (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan
dianalogikan dengan beliau.
Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk
syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang
empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka
adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dan sangat antusias mengerjakan berbagai kebaikan.
. . sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada
Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak
ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, . .
Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan
rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi’ul Awwal saja? Bukankah
bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba’ pada
sunnahnya?
Kedua: Nabi memeringati hari
kelahirannya dengan berpuasa.
Sebagian beralasan dengan puasa seninnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang merupakan hari kelahirannya.
Ketika beliau shallallahu 'alaihi wasallam ditanya mengenai puasa
Senin, beliau pun menjawab, “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari
aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR.
Muslim). Ini menunjukkan bolehnya memeringati hari kelahirannya.
Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah puasa pada tanggal yang
diklaim sebagai kelahirannya, 12 Rabi'ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah
puasa pada hari Senin. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid diadakan tiap
pekan, bukan sekali setahun.
Selain itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin setiap pekan, tapi juga hari Kamis.
Alasan beliau, "Keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada
hari Senin dan Kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah
sedang aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).
Sehingga berdalih dengan puasa Senin tanpa hari
Kamis termasuk pemaksaan dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat
diterima, mestinya peringatannya dilakukan dalam bentuk puasa, bukan
berfoya-foya dan makan-makan.
Ketiga: Peringatan maulid Nabi
dianggap sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Anggapan ini lahir dari
klasifikasi sebagian ulama terhadap bid'ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan
bid’ah sayyi’ah (jelek) atau dhalalah (sesat).
Alasan ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa
peringatan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat
diterima sebagai bid'ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi shallallahu
'alaihi wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan
yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan diyakini
oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
أَمَّا
بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى
مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik
perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad
Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan
(bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).
Ibnu Mas’ud radliyallah 'anhu berkata,
“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), janganlah
membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah
adalah sesat.” (HR. ath-Thabrani dan al Haitsami).
Abdullah bin ‘Umar radliyallah 'anhu menyatakan,
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.”
(Al Ibanah al Kubra libni Baththah, 1/219).
Keempat: Peringatan Maulid
merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam.
Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang
pentingnya mengenal sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid'ah dipoles
menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan
untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah
pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu
tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup
bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid
merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang
Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui
natalan. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ
تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka
dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud serta
dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
. . upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan
salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang
merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui natalan.
Mengenal sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau
seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya
kepada anak-anak mereka setiap waktu.
Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan
meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi
perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.
Wallahu A’laa wa A’lamu bis-shawab
Keajaiban Sebuah Kelembutan
Kelembutan memberikan pengaruh besar dalam sebuah rumah tangga. Anugrah Allah yang satu ini, yang biasanya menjadi hak milik para istri, akan selalunya memberikan sebuah kebahagiaan. Kelembutan berarti berarti bersabar memahami orang lain, Kelembutan berarti ikhlas dalam senyum menerima apapun yang terjadi dan mewujudkannya dalam sikap yang terbaik, kelembutan berarti membalas betapapun sakitnya perlakuan orang lain dengan sebuah pembalasan yang justru dapat membahagiakannya. Kelembutan juga berarti menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan orang lain tanpa harus menyakiti.
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh SAW yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh SAW tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau SAW membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh SAW. Subhanallah...
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata. Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata "aku ingin.." sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia. Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan. Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah "gengsi" yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita. Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata'ala. Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan. Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri. Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak. Sungguh, kedengaran berat sepertinya. Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita. Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan.
http://voa-islam.com/muslimah/article/2011/02/28/13529/keajaiban-kelembutan/
Langganan:
Postingan (Atom)
