Mengenai Saya
Laman
Sabtu, 19 Maret 2011
Keajaiban Sebuah Kelembutan
Kelembutan memberikan pengaruh besar dalam sebuah rumah tangga. Anugrah Allah yang satu ini, yang biasanya menjadi hak milik para istri, akan selalunya memberikan sebuah kebahagiaan. Kelembutan berarti berarti bersabar memahami orang lain, Kelembutan berarti ikhlas dalam senyum menerima apapun yang terjadi dan mewujudkannya dalam sikap yang terbaik, kelembutan berarti membalas betapapun sakitnya perlakuan orang lain dengan sebuah pembalasan yang justru dapat membahagiakannya. Kelembutan juga berarti menegur kesalahan dan menyatakan kesalahan orang lain tanpa harus menyakiti.
Absennya sikap ini membuat semuanya seringkali kacau, betapa tidak, walaupun seseorang mempunyai niat baik yang besar sekalipun dalam memulai sesuatu, namun jika hal tersebut disampaikan dengan cara yang kasar, maka akhirnya akan pasti tidak membahagiakan.
Ingatkah kita kisah tentang Rosululloh SAW yang selalu diludahi oleh seorang yahudi, yang mana Rosululloh SAW tidak pernah membalasnya dengan tindakan yang sama, malahan ketika si yahudi jatuh sakit, beliau SAW membalasnya dengan menjenguk si yahudi ke rumahnya.
Dan yang terjadi selanjutnya ternyata keluhuran dan kelembutan akhlak Rosululloh telah meruntuhkan segala kedengkian dan kerasnya hati si yahudi dan memberikan kesan dihatinya, sehingga tanpa diminta dan dipaksa, si yahudi tersebut akhirnya menyatakan keislamannya di hadapan Rosululloh SAW. Subhanallah...
Kehidupan yang tidak lepas dari sebuah masalah dan ujian, biasanya melahirkan suasana getir dan tegang yang menyebabkan hati menjadi sedikit keras. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga. Betapa bahagianya jika para suami memiliki pendamping yang menyejukkan hati dalam bersikap dan berkata. Betapa damainya seorang suami yang memiliki istri yang tidak pernah memakai kata "aku ingin.." sebagai pencerminan dari egonya, kecuali pada kalimat: aku ingin semua orang yang ada di sekitarku bahagia. Ya, ternyata tidak perlu menjadi sangat cantik,untuk disayang suami, karena dengan bersikap lembut, para istri telah memiliki kecantikan yang tak terbatas. Hal ini juga menjadikannya layak untuk disayang, bukan hanya suami, namun dengan semua orang disekitarnya, bahkan benda mati sekalipun.
Kelembutan seorang wanita bukan berarti sosok yang lemah ataupun gampang menangis, justru dengan adanya kelembutan itulah seorang wanita sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan itu sendiri adalah, bahwa kelembutan seorang wanita bisa meluluhkan hati laki-laki yang keras sekalipun. Betapa bahagianya seorang suami yang mendapati partner hidupnya tersebut menegurnya dengan cara yang lembut, dan elegan. Karena sudah menjadi sebuah kemakluman bagi semua istri bahwa biasanya seorang suami memiliki sebuah "gengsi" yang tidak mau di otak atik oleh siapapun. Ya itulah laki-laki, para suami kita. Dan sekali lagi, semua itu akan tertaklukkan bukan justru dengan sebuah sikap kasar apalagi kekerasan, sifat lemah lembut mampu membawa mereka yang sedang terlupa untuk kembali kepada aturan dan jalan Allah subhanahu wata'ala. Kelembutan berarti meluruskan dengan tanpa mematahkannya, dan memperbaiki dengan tanpa merusak satupun dari sisi-sisinya.
Kelembutan juga berarti sinergi antara akal dan hati dan hal ini selalu berakhir dengan kebahagiaan. Kelembutan tidak usah membeli dan rasa sayang sudah ada pada setiap diri. Dan tergantung pada kemauan kita masing masing- masing untuk mau melaksanakannya atau tidak. Sungguh, kedengaran berat sepertinya. Tapi itulah contoh teladan yang diwariskan oleh orang-orang pilihan terdahulu kepada kita. Dan dengan menjadikan diri kita bersemangat dan berusaha melatih diri agar senantiasa mampu bersikap lembut dan peka rasa ketika berinteraksi dengan siapapun, terutama dengan sang suami, maka insyaallah kita akan menjadi sumber kebahagiaan yang menyejukkan.
http://voa-islam.com/muslimah/article/2011/02/28/13529/keajaiban-kelembutan/
Jumat, 18 Maret 2011
Mau Masuk Surga, Tempuhlah Jalannya!
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah
menjanjikan surga bagi hamba-hamba yang taat kepada-Nya. Shalawat dan salam
semoga terlimpah kepada Rasulullah yang telah menjelaskan semua jalan ke surga
dan menyuruh umat untuk menempuhnya, juga kepada para keluarga dan sahabatnya.
Allah telah menyiapkan surga bagi para hamba yang
takwa. Kenikmatannya tak ada bandingannya. Allah menggambarkannya sebagai
kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbersit dalam
hati hamba. Maka bayangan seseorang tentang kenikmatan surga tak akan pernah
sama persis dengan hakikatnya.
Sesungguhnya semua yang ada di dunia tidak akan
bisa menyamai sedikit saja dari kenikmatan surga. Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam menjelaskan,
مَوْضِعُ
سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Satu tempat di surga yang sebesar cambuk
lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari, Ibnu Majah, Ahmad
dan lainnya dari Sahal Bin Sa’id al-Sa’idi)
وَاللَّهِ
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ
هَذِهِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan
akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian yang memasukkah satu jarinya ke
laut, -hendaknya dia melihat, apa yang didapatkannya.” (HR. Muslim)
Maksudnya, bahwa bila pendeknya waktu dunia dan
kenikmatannya yang fana dibandingkan dengan abadinya akhirat dan
kenikmatannya, tidak lain kecuali seperti air yang menempel pada jari tangan
seseorang setelah dicelupkan di laut dengan banyaknya air laut, sungguh tidak
sebanding. (Lihat Syarah Shahih Muslim milik Imam Nawawi)
Dalam riwayat Thabrani yang disebutkan Syaikh
Wahid Abdul Salam Bali dalam Shifat al-Jannah, perhiasan penghuni
surga yang paling rendah kualitasnya lebih baik daripada seluruh perhiasan
penduduk surga.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
juga pernah menjelaskan tentang beberapa macam pahala yang akan diberikan
kepada orang yang mati syahid, beliau bersabda; “Dikepalanya dipakaikan
mahkota kebesaran yang mana satu mutiara Yakutnya lebih baik daripada dunia
seisinya.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Maka siapa yang mengetahui keutamaan kenikmatan
akhirat (surga) yang kekal dan tidak akan punah dibandingkan kenikmatan dunia
-seindah dan sebanyak apapun itu- yang pasti akan hilang dan punah, maka dia
tidak akan mengutamakan yang fana atas yang abadi. “Apa yang di sisimu akan
lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. Al-Nahl: 96)
Orang berakal pasti akan mengutamakan kebaikan
akhiratnya dan menempuh jalan yang bisa menghantarkan ke sana dengan tetap
melaksanakan kebutuhan materi dan dunianya. Allah Ta’ala berfirman,
وَابْتَغِ
فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ
الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ
فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Apa Amalan Ahli Surga?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullaah
menyatakan bahwa tidak mungkin mengungkap semua amalan-amalan ahli surga dengan
rinci. Namun secara global amalan ahli surga semuanya masuk kategori ketaatan
kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan itu teringkas dalam iman dan takwa, yang
mencakup amal batin dan dzahir.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَمَنْ يَعْصِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا
وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Barang siapa taat kepada Allah dan
Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang
besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Nisa’:
13-14)
Berikut kami paparkan beberapa amalan ahli surga
yang beliau rahimahullaah sebutkan secara rinci dalam Majmu’
Fa tawanya: 2/387-388:
Amalan-amalan ahli surga: iman kepada Allah, Para
malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, dan hari akhir serta beriman
kepada qadar (takdir) yang baik maupun yang buruknya.
Amalan ahli surga: Bersyahadat Laa Ilaaha
Illallah (Tiada Tuhan yng berhak diibadahi kecuali Allah) dan Muhammad
rasulullah (Nabi Muhammad adalah utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan
zakat, berpuasa Ramadlan, dan berhaji ke Baitullah. Engkau beribadah kepada
Allah seolah-olah meliha-Nya, dan jika tidak bisa, maka yakinilah bahwa Dia melihatmu.
Di antara amalan-amalan ahli surga: Berbicara
jujur, menunaikan amanat, menepati janji, birrul walidain (berbakti kepada
orang tua), menyambung hubungan kerabat, berbuat baik kepada tetangga, anak
yatim, orang miskin, dan yang menjadi tanggungannya dari kalangan manusia atau
binatang.
Di antara amalan ahli surga lainnya: Ikhlas
beribadah kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada
Rasul-Nya, takut kepada Allah dan berharap rahmat-Nya, kembali
kepada-Nya, bersabar menetapi hukum-Nya, dan menyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Di antara amalan ahli surga: Suka membaca
Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, berdoa kepada-Nya, meminta dan berharap
kepada-Nya.
Di antara ahli surga: Beramar ma’aruf (menyuruh
orang berbuat kebaikan), bernahi munkar (melarang orang dari berbuat buruk),
berjihad di jalan Allah dalam memerangi orang kafir munafikin.
Di antara amalan ahli surga: Adil dalam semua
urusannya, adil terhadap semua makhluk sampai terhadap orang kafir, dan
amalan-amalan yan serupa.
Di antara amalan ahli surga: Menyambung tali
persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang yang pelit
kepadamu, memaafkan orang yang menzalimimu, karena Allah menyediakan surga bagi
orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang tetap berinfak dalam kondisi
lapang maupun sempit, menahan amarah, memaafkan manusia, dan Allah menyukai
orang-orang yang senantiasa berbuat baik. Wallahu’ Ta’ala a’lam.
All About Love: Makin Asyik Bicara Cinta
By: Ria Fariana
Love , cinta, liebe , atau menjadi deretan huruf
apapun ia dan dalam bahasa apapun, selalu saja indah dan asyik untuk
dibicarakan. Iya nggak sih?
Bo’ong banget kalo kamu sampe menggelengkan
kepala. Bahkan topik inilah yang paling universal untuk dibicarakan atau pun
dinikmati. Apalagi untuk remaja-remaji seusia kamu, kayak nggak ada tema lain
yang mendominasi pembicaraan selain love and love mulu. Iya apa iya?
Sobat muda, cinta emang indah dan nikmat untuk
dibicarakan atau pun dirasakan. Cinta ternyata ibarat dua sisi mata pisau yang
tajam. Bila tak benar menggunakannya bukan tak mungkin kita malah akan terluka
karenanya.
Seperti kata Kahlil Gibran neh bahwa di balik
sayap indah cinta, waspadalah ada terselip sebilah pisau tajam untuk
mencabikmu. Ciee…nggak usah bingung bagi kamu yang nggak ngeh dengan bahasa
kiasan Bung Gibran ini.
Ketika kamu jatuh cinta, dunia terasa indah dan
berbunga-bunga. Kamu jadi rajin ke sekolah, rajin belajar, suka tersenyum,
nyapa kiri-kanan, dll. Tapi semua itu akan berubah banget ketika kamu dapetin
orang yang kamu cintai dengan tulus ternyata tidak membalas cintamu.
Hiks…langit seakan runtuh. Lagu Pupus-nya Dewa 19 didendangkan
berulang-ulang. Emang enak bertepuk sebelah tangan? Kamu pun merasa jadi orang
paling merana sedunia dan selalu terbayang gimana caranya gantung diri di pohon
tomat. Tapi apa iya sih, cinta cuma sebatas itu?
….Ketika kamu jatuh cinta, dunia terasa indah dan berbunga-bunga. Tapi semua
itu akan berubah banget ketika orang yang kamu cintai ternyata tidak membalas
cintamu….
What is love?
Apa cinta itu? Bila ada sepuluh orang kamu tanya
tentang pertanyaan ini, akan ada sepuluh jawaban pula yang bakal disodorkan.
Bahkan para filsuf dan pemikir dari jaman baheula hingga jaman kiwari masih
pada kebingungan untuk mendefinisikan tentang cinta ini. Bahkan ada yang
bilang, cinta tidak untuk didefinisikan karena it’s all about feeling (duilee..
sampe segitunya)
Tapi ada satu hal yang kita pasti sepakat, bahwa
semua makluk hidup pasti mempunyai cinta. Induk ayam saja rela mengais-ngais
tanah demi mendapat seekor cacing demi disuapkannya pada mulut anaknya. Belum
lagi kalo kamu berusaha mendekati anak ayam yang masih imut, jangan salahkan
bila kamu bakal diterjang sama induknya. Semua itu karena dorongan naluri, rasa
cinta.
Apalagi yang namanya manusia, keberadaan naluri
mencintai dan dicintai ini sudah built-up diberi dari sononya. Karena rasa ini
adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis atau bahasa kerennya,
gharizah nau’. Bisa kamu bayangkan bila seorang suami tidak mencintai istri dan
anaknya, maka ia tak akan mau bersusah payah bekerja mencari nafkah. Begitu
juga seorang ibu, tanpa cinta tak mau ia merasakan lelahnya mengandung sembilan
bulan lamanya, sekitnya melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya, menyusui
hingga dua tahun, dan mendidik serta membesarkan anak-anaknya.
Tanpa cinta, tak mungkin Rasulullah Muhammad SAW
menghabiskan seluruh hidupnya untuk berpikir dan berbuat demi umatnya. Bahkan
di saat detik-detik akhir kehidupannya saat sakaratul maut menjelang, tahu
nggak apa yang diingat beliau tercinta ini? ‘umati…umati’ (umatku…umatku).
Bukan menyebut nama anak-anaknya, bukan pula menyebut nama istri-istrinya,
apalagi menyebut harta yang memang tidak beliau punya, tapi Rasulullah menyebut
umatnya. Termasuk kita yang hidup ribuan tahun jaraknya dari beliau pun sudah
disebut dalam lisan sucinya.
Betapa beliau mengkhawatirkan umatnya dengan
penuh cinta. Malu nggak sih kita bila mengingat ini, sedalam apa balasan cinta
kita untuk Rasulullah SAW? Maka sungguh indah senandung lagu milik Bimbo dengan
penggalan lirik seperti ini:
‘Rindu kami padamu, ya Rasul, rindu tiada
terperi. Berabad jarak darimu ya Rasul, serasa dikau di sini’.
….Semua terjadi dengan begitu teratur, begitu indah, dan begitu setia. Tentu
dari Yang Mahamemiliki cinta itu sendiri, Allah SWT….
Siapa sih yang nggak merasa cinta pada sosok
mulia ini? Pasukan perang Tabuk rela menjadikan tubuhnya sebagai tameng anak
panah demi menyelamatkan sang Nabi tercinta. Tubuh dan nyawa mereka tak ada
artinya dibandingkan dengan keselamatan sang Rasul mulia. Bahkan ketika
mendengar berita tentang isu wafatnya Rasul, semua sahabat menangis
tersedu-sedu. Dan ketika mendapati beliau masih hidup tetapi dengan luka
sekujur tubuh, para sahabat lega meski masih merasa sedih dengan terlukanya
sosok yang dicintai. Ingin rasanya mereka menjadi pengganti rasa luka itu
selama bisa mengurangi rasa sakit yang diderita Rasulullah akibat tusukan
pedang dan anak panah. Semua itu mereka lakukan karena cinta.
Bila kita mau menoleh pada hal lain barang
sejenak, akan kita dapati matahari yang bersinar tanpa syarat ke bumi, hujan
pun turun untuk membasahi ladang gersang, dan tanah yang masih juga menumbuhkan
tanaman buat manusia.
Semua itu terjadi dengan begitu teratur, begitu
indah, dan begitu setia. Dari siapa? Tentu dari Yang Mahamemiliki Cinta itu
sendiri; Allah SWT.
Perwujudan cinta
Lalu bagaimana dengan kita? Dengan apa kita harus
membalas semua rasa cinta yang pernah, sedang, dan akan terus kita rasakan
hingga akhir hayat kita itu? Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang
jalan, kasih anak sepanjang galah. Kamu pasti tahu dong, beda panjang jalan dan
galah. Jauh banget kan? Kalau kasih ibu saja sepanjang itu, lalu bagaimana
dengan kasih dan cinta Muhammad saw. pada umatnya? Lalu bagaimana lagi dengan
kasih dan cinta Allah SWT pada kita? Sungguh, seandainya seluruh pohon di bumi
ini dijadikan pena dan air laut sebagai tintanya tetap tak bisa melukiskan
sedalam dan sejauh apa cinta Allah pada kita.
Pernahkah kita merasakan dengan sadar cinta Allah
dalam setiap tarikan dan hembusan nafas? Dalam setiap langkah yang kita buat,
dalam setiap detik waktu yang terlewat, pernahkah itu kita sadari? Semua itu
ibarat matahari, yang karena terbiasanya kita dengan sinarnya kita jadi lupa
pada jasanya.
….Pernahkah kita merasakan dengan sadar cinta Allah dalam setiap tarikan dan
hembusan nafas? Dalam setiap langkah yang kita buat, dalam setiap detik waktu
yang terlewat….
Bayangkan bila sedetik saja Allah menarik pasokan
oksigen untuk kita hirup, makhluk seisi dunia bisa kelabakan. Tapi Allah begitu
sayang dan cinta terhadap kita sehingga tak peduli orang yang durhaka
terhadap-Nya juga diberi pasokan oksigen yang sama dengan mereka yang taat.
Meski tentunya ada konsekuensi juga kan? Mereka yang taat jelas tempat
kembalinya di akhirat; surga. Begitu pun dengan yang durhaka sudah dintentukan
tempatnya; neraka.
Sobat muda muslim, pernah nggak kamu dicintai
oleh orang lain yang begitu tulus mencintaimu tanpa pamrih? Apa yang ingin kamu
lakukan? Kamu pasti berusaha membalas ketulusannya dan berusaha mencintainya
dengan tulus pula.
Lalu, bagaimana dengan membalas ketulusan Allah
dan rasulNya yang sudah begitu mencintai kita tanpa pamrih? Yaitu dengan
berusaha menjalankan perintaNya dan menjauhi laranganNya.
BTW, kalo kamu sedang jatuh cinta, apa sih yang
akan kamu lakukan demi si dia? Kalo si dia nggak suka liat kamu pakai baju
merah, pasti kamu nggak bakal pakai baju itu demi menyenangkan hatinya meski
sebetulnya kamu setengah mati suka warna merah. Jika si dia suka banget makan
bakso kamu pasti berusaha setengah mati bisa mentraktirnya makan bakso meski
kamu lagi kanker alias kantong kering. Kenapa bisa begitu? Karena cinta identik
dengan ketaatan. Identik dengan keinginan untuk membahagiakan. Itu pulalah yang
ingin kita lakukan bila ingin membalas cinta Allah dan RasulNya. Wajar dan
sangat adil kan?
Bentuk riilnya?
Ketika kamu melaksanakan shalat lima waktu dan
puasa Ramadhan, kamu sedang melakukan sebentuk bukti riil cinta kepada-Nya.
Tapi itu belum cukup, karena Islam bukan hanya agama ritual saja. Ketika kamu
menutup aurat, kamu melakukannya karena cinta. Ketika kamu patuh dan sopan pada
orang tua, sayang pada yang lebih muda, ringan tangan pada saat orang lain
membutuhkanmu, bersedia mendengar keluh kesah kesedihan teman yang lagi
durundung duka, itu semua juga sebagian bukti cinta.
Ketika kamu menasihati temanmu untuk tidak
berpacaran dan tidak suka membolos, itu juga bukti cinta. Ketika kamu tahu
menjalankan syariat Islam adalah wajib dan kamu mendakwahkannya pada yang lain,
itu juga bentuk cinta. Bahkan tersenyum pun (asal bukan senyum yang TP alias
tebar pesona yah) itu juga bentuk kecintaan kita pada sesama.
Jangan mentang-mentang kamu udah ngaji duluan,
lalu merasa sok bener sendiri tanpa mau membagi cintamu itu dengan
mendakwahkannya. Emang surga milik kamu sendiri? Nggak kan? Alangkah enaknya
surga itu bila kita bisa menghuninya beramai-ramai. Bukankah kamu lebih suka
rumahmu didatangi banyak temanmu daripada bengong sendirian nggak ada yang
diajak ngomong. Tul nggak?
Cuekin aja kalo ada temanmu yang suka becanda
bilang ‘Enak lho masuk neraka bisa ketemu bintang film macam Britney Spears,
J-Lo, Mas Nunu alias Keanu Reeves or Brandon’. Anggap saja mereka adalah
orang-orang yang membutuhkan sentuhan cintamu dalam bentuk dakwah, amar makruf
nahi munkar. Jangan benci mereka dan jangan pula dijauhi. Sentuh akal dan
perasaannya sehingga mereka dapat memperoleh hidayah dan ‘terjerumus’ dalam
cinta; Islam.
Karena cinta
Yup, benar sekali bahwa semua kejadian di dunia
ini tidak pernah terlepas dari yang namanya cinta. Mulai dari nongolnya kamu di
dunia ini adalah hasil pertautan cinta ibu-bapakmu sampai kamu bisa beriman dan
berislam hingga hari ini juga karena cintanya Rasul terhadap umatnya, juga
cinta Allah terhadap hambaNya. Cinta bukan melulu Tejo yang naksir Surti, tidak
selalu sang putri yang menunggu pangeran idaman datang meminang. Tapi cinta
adalah kehidupan itu sendiri.
….Semua kejadian di dunia ini tidak pernah terlepas dari yang namanya cinta.
Karena cinta adalah kehidupan itu sendiri….
Pernahkah kamu menikmati setiap aliran cinta yang
merambati tubuhmu di saat kamu menarik nafas segar di pagi hari, merasakan
sejuknya embun yang menetes di wajahmu, dan bugarnya badan untuk memulai
beraktivitas? Bila belum, cobalah. Pejamkan matamu dan rilekskan pikiranmu.
Maka biarkan ada yang bening mengaliri sanubarimu. Oksigen yang terhirup, embun
yang lembut, sinar mentari yang hangat, tubuh yang sehat, iman yang kuat dan
pikiran yang mantap, itu semua ada karena cinta.
So , kamu-kamu udah pada ngeh kan, bahwa cinta
bukan melulu seperti yang kamu pahami selama ini, sekadar hubungan
taksir-menaksir antar lawan jenis.
Cinta ternyata bisa begitu luas dan indah. Semoga
artikel cinta ini bisa membuka hati dan akalmu tentang makna cinta itu sendiri.
Sehingga kamu pun bisa melangkah dengan mantap di kehidupan dengan menaburkan
sebanyak mungkin cinta kepada sesama.
Bukan cinta sempit yang sulit dibedakan dengan
nafsu, tapi lebih mengarahkan arti cinta kepada kebenaran itu sendiri, yakni
Al-Islam. Agama yang selama ini menjadi pilihan hidup kita. Nggak berlebihan
kan? Bahkan tulisan ini pun dibuat juga karena cinta kami pada kamu, sang calon
pemegang tongkat estafet dakwah di masa depan. Sungguh, betapa indah dan ringan
semua hal bila kita mendasarkannya karena cinta. Yakinlah ^_^
Ada Apa di Hari Jum'at?
Besok hari adalah hari Jum'at yang dimulai dari
tenggelamnya matahari di kamis sore ini. Hari yang penuh kemuliaan dan
diagungkan di dalam Islam. Tahukah kita apa saja yang terdapat di dalamnya?
Berikut ini beberapa keutamaan yang terdapat di dalam hari Jum'at.
Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam
(pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Pada hari itu terdapat lima kejadian yang besar, yaitu
diciptakannya Adam, diturunkannya ke bumi, dan diwafatkannya, pada hari itu
terdapat satu waktu mustajabah untuk berdoa yang pasti dikabulkan, dan pada
hari Jum’at pula kiamat akan terjadi. Oleh karenanya, pada hari tersebut para
malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan merasa khawatir di hari
Jum’at (akan terjadi kiamat).
Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam
(pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Ringkasnya, hari Jum’at memiliki
keutamaan yang tidak dimiliki hari lain. Kedudukannya di bandingkan dengan hari
lain, seperti bulan Ramadlan terhadap bulan yang lain dan waktu ijabah doa pada
hari itu sebagaimana lailatul qadar pada bulan Ramadlan.
Hari Jum’at menjadi cermin bagi kualitas amal
sepekan seorang hamba, sebagaimana Ramadlan yang menjadi cerminan amal
setahunnya. Jika amalnya pada hari Jum’at tersebut baik, seolah-olah
menggambarkan amalnya pada pekan tersebut juga baik. Sebagimana Ramadlan, jika
ibadah di dalamnya baik, baik pula amalnya pada tahun tersebut, begitu juga
sebaliknya.
Jika amalnya pada hari Jum’at tersebut
baik, seolah-olah menggambarkan amalnya pada pekan tersebut juga baik.
Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat ibadah
yang wajib dan sunnah yang tak diperoleh di selainnya. Di antaranya shalat
Jum’at, bersuci dan memakai wewangian dan pakaian terbagus yang dimiliki ketika
menghadiri jum’atan, membaca surat Al Kahfi, bershalawat untuk Rasulullah, dan
amal-amal shalih lainnya.
Karenanya, seorang hamba hendaknya menjadikan
hari Jum’at sebagai hari ibadah dan meliburkan diri dari kegiatan duniawi,
bukan hari Ahad yang menjadi hari ibadah orang Nashrani.
Karenanya, seorang hamba hendaknya
menjadikan hari Jum’at sebagai hari ibadah dan meliburkan diri dari kegiatan
duniawi,
bukan hari Ahad yang menjadi hari
ibadah orang Nashrani.
Di hari Jum’at ada penghapusan dosa
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya,
dari Salman dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bertanya kepadaku, “apakah kamu tahu hari Jum’at itu?” aku menjawab, “hari
Jum’at adalah hari Allah mengumpulkan Nabi Adam.” Beliau menjawab,
لَكِنِّي
أَدْرِي مَا يَوْمُ الْجُمُعَةِ لَا يَتَطَهَّرُ الرَّجُلُ فَيُحْسِنُ طُهُورَهُ
ثُمَّ يَأْتِي الْجُمُعَةَ فَيُنْصِتُ حَتَّى يَقْضِيَ الْإِمَامُ صَلَاتَهُ
إِلَّا كَانَ كَفَّارَةً لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ
مَا اجْتُنِبَتْ الْمَقْتَلَةُ
“Tapi aku mengetahui apa hari jum’at itu.
Tidaklah seseorang menyempurnakan bersucinya, lalu mendatangi shalat Jum’at,
kemudian diam hingga imam selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan
menjadi penghapus dosa antara Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia
menjauhi dosa besar.”
. . . kemudian diam hingga imam
selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan menjadi penghapus dosa antara
Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia menjauhi dosa besar.”
Masih dalam Al Musnad, dari Atha' al
Khurasani, dari Nubaisyah al Hudzaliy bahwa dia meriwayatkan dari Rauslullah shallallahu
'alaihi wasallam, "Bahwasanya jika seorang muslim mandi pada hari
Jum'at, lalu datang ke masjid dan tidak menyakiti seseorang; dan jika dia
mendapati imam belum datang di masjid, dia shalat hingga imam datang; dan jika
ia mendapati imam telah datang, dia duduk mendengarkan khutbah, tidak berbicara
hingga imam selesai melaksanakan khutbah dan shalatnya. Maka (balasannya)
adalah akan diampuni semua dosa-dosanya pada Jum'at tersebut atau akan menjadi
penebus dosa Jum'at sesudahnya."
Dari Abu Darda', Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ
اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَبِسَ ثِيَابَهُ وَمَسَّ طِيبًا إِنْ كَانَ
عِنْدَهُ ثُمَّ مَشَى إِلَى الْجُمُعَةِ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ وَلَمْ يَتَخَطَّ
أَحَدًا وَلَمْ يُؤْذِهِ وَرَكَعَ مَا قُضِيَ لَهُ ثُمَّ انْتَظَرَ حَتَّى
يَنْصَرِفَ الْإِمَامُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
"Siapa mandi pada hari Jum'at, lalu
memakai pakaiannya (yang bagus) dan memakai wewangian, jika punya. Kemudian
berjalan menuju shalat Jum'at dengan tenang, tidak menggeser seseorang dan
tidak menyakitinya, lalu melaksanakan shalat semampunya, kemudian menunggu
hingga imam beranjak keluar, maka akan diampuni dosanya di antara dua Jum'at."
(HR. Ahmad dalam Musnadnya)
Dalam Shahih Al Bukhari, dari Salman radliyallah
'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لَا
يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ
وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا
يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا
تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ
الْأُخْرَى
“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at
dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak
wangi yang di rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak
memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan
shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan dengan seksama
ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi)
antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
bahwa pengampunan dosa dari satu Jum'at
ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan
yang disebutkan dalam hadits, antara lain mandi, . . .
*Keterangan: bahwa pengampunan
dosa dari satu Jum'at ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan
melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits, antara lain mandi,
membersihkan diri, memakai minyak atau wewangian, memakai pakaian terbagus,
berjalan ke masjid dengan tenang, tidak melangkahi dan memisahkan antara dua
orang yang duduk bersebelahan, tidak menyakitinya, shalat nafilah, tidak bicara
dan tidak melakukan sesuatu yang sia-sia selama khutbah hingga selesai shalat.
Dan masih ada satu syarat lagi, yaitu selama dia tidak melakukan dosa besar di
hari itu.
Kepatuhan Kepada Suara Kebenaran Hati Nurani
Ketika banyak hal terjadi dalam hidup, maka hati nurani menjadi filter bagi kita.Saat harus memilih, manusia memiliki kebebasan hakiki sebagai manusia. Di sini pulalah hati nurani berbicara untuk menjaga langkah kita dari kesesatan. Suara kebenaran yang selalu di usungnya menjadikan dia menjadi raja bagi yang mengangkatnya sebagai raja. Dia menjadi alarm bagi pribadi yang mematuhi dan rajin berkonsultasi kepadanya.
Kepatuhan atau penyangkalan kita kepada suara Hati nurani, yang selalu menyerukan sesuatu yang baik, akhirnya menjadi pengukir jalan nasib kita selanjutnya. Bisa saja manusia pintar dalam menyusun kata untuk berdalih atau berbohong, namun kebenaran dari hati nuraninya sendiri tak akan pernah bisa disangkalnya. Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran itu, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal figur tuhan dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK". Dengan kata lain, sebenarnya hal tersebut secara tidak langsung menyangkal pendirian mereka sendiri. Bukankah hati nurani adalah salah satu dari kewujudan kuasa Allah subhanahu wata'ala juga.
" Bahkan seorang atheis sekalipun bisa merasakan kebenaran dari hati nurani mereka sendiri, sekalipun dia tidak mengenal atau tidak mau mengenal Allah subhanahu wata'ala dalam hidupnya. mereka tak akan bisa menyangkalnya betapapun mereka mencobanya, betapapun lidah dan tubuh mereka mengatakan "TIDAK" atas kuasa Allah."
Apakah kita pernah merasa terpenjara, walaupun sebenarnya kita bebas? ternyata penyangkalan kita terhadap suara hati nurani sudah cukup sangat memenjarakan kita dalam sempitnya pemikiran dan dunia kita sendiri. Kenyamanan dan kesenangan dunia tidak lagi terasa, karena beratnya pikiran dan langkah yang terasa seperti terkekang dan sangat terbatas.
Ternyata, sebagai manusia ternyata kita benar-benar tidak akan bisa terlepas dari kefitrahan kita sebagai figur ciptaan Sang Maha Pencipta. Artinya, dalam kondisi harus membuat pilihan yang terbebas sekalipun, hati nurani yang membawa pesan moral dan tetap berusaha memagari. Manusia tidak akan pernah 100% menjadi individu yang bebas. Namun ketika kita berusaha selalu mentaati kebenaran yang dibisikkannya, maka hal tersebut akan memberikan kita kebebasan yang benar-benar bebas.
http://www.voa-islam.com/muslimah/article/2011/03/02/13558/kepatuhan-kepada-suara-kebenaran-hati-nurani/
4 Hal yang Lebih Baik Daripada Dunia dan Seisinya
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji Allah yang menjanjikan
surga bagi hamba yang bertakwa. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada
Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Sesungguhnya kebaikan hamba di dunia dan akhirat
berporos pada takwa. Sehingga Allah Ta’ala memerintahkannya dalam banyak
firman-Nya dengan beragam cara, salah satunya menjanjikan pahala besar bagi
para hamba yang bertakwa. Tujuannya, agar mereka semakin semangat
menjalankannya.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ
الْعَظِيمِ
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu
bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan
menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)
Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di
dalam tafsirnya Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan,
takwanya seorang hamba kepada Rabb-Nya merupakan tanda kebahagiaan dan alamat
keberuntungannya. Dan Allah telah menetapkan pahala takwa yang sangat banyak
yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Dan dalam ayat ini bahwa orang yang
bertakwa kepada Allah mendapatkan empat hal, dan setiap bagiannya adalah lebih
baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya:
Pertama, al-Furqan: yaitu ilmu
dan petunjuk yang dengannya dia bisa membedakan antara hidayah dan dhalalah
(kesesatan), hak dan batil, halal dan haram, orang-orang yang bahagia dan
orang-orang yang sengsara.
Anugerah ini, seperti yang dinukil Ibnu Katsir
dari Ibnu Ishaq , adalah menjadi sebab datangnya pertolongan, keselamatan
dirinya, dan solusi bagi dirinya dari segala urusan dunia dan kebahagiaannya di
akhirat.
Kedua dan ketiga, Takfir
Sayyiat (penghapusan kesalahan) dan Maghfirah Dunub (ampunan
dosa). Keduanya, ketika dipisah memiliki makna sama. Namun ketika dikumpulkan, Takfir
Sayyiat berarti penghapusan dosa-dosa kecil, sedangkan Maghfirah Dunub
yakni penghapusan dosa-dosa besar.
Keempat, ganjaran besar dan
pahala yang banyak bagi orang yang bertakwa dan lebih mengutamakan keridhaan
Allah daripada hawa nafsunya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah,
وَاللَّهُ
ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Anfal: 29) Menurut Syaikh Abu Bakar al-Jazairi dalam Aisar Tafasirnya,
adalah surga dan kenikmatannya.
Sungguh besar pahala yang akan didapatkan oleh
orang yang menjalankan ketakwaan, yaitu mereka yang melaksanakan
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Yaitu mereka yang ikhlash
dalam seluruh amalnya, benar-benar ittiba’ (mengikuti) utusan Allah, berakhlak
baik, berkata benar, semangat dalam kebaikan, berlomba meraih fadhilah,
beribadah dengan keyakinan berada di hadapan-Nya dan disaksikan oleh-Nya, dan
benar-benar takut kepada Allah dengan penuh kesadaran bahwa selalu mengawasinya
dan melihatnya di masa saja dan kapan saja. Allahu Ta’ala a’lam.
BAHAGIALAH (setiap hari!!!)
Banyak di antara kita menunggu datangnya hari libur. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang dinanti-nanti. Kita akan merasa sangat senang dan bahagia ketika datang hari tersebut. Bahkan pada hari Jum’at sore sudah tercium aromanya. Lalu bagaimana dengan hari-hari yang lainnya (senin-jum’at). Apakah berarti hari Senin sampai dengan Jum’at kita tidak bahagia?..atau mungkin sedikit bahagianya dibandingkan hari Sabtu Minggu?
Sayang sekali kalau kita hanya berbahagia hanya kurang lebih 2 hari dalam satu minggu. Itu berarti kita merasa bahagia selama 8 hari dalam satu bulan. Atau kalau kita mau konversi kan lagi, berarti hanya 96 hari dari 365 hari yang kita miliki dalam satu tahun. Itupun kalau kita kalau semua hari sabtu-minggu kita benar-benar berbahagia.
Dan ternyata, ada juga yang tidak bisa betul-betul bahagia sekalipun pada hari Sabtu-Minggu. Sering kita lihat hari Sabtu-Minggu di isi oleh banyak keluarga dengan bepergian, misal menginap di vila. Ada pendapat menarik, alasan bepergian,di antaranya adalah karena jenuh atau daripada bertengkar di rumah. Karena tidak mampu menjalin komunikasi yang baik dengan keluarga, sehingga daripada bermasalah di rumah lebih baik bepergian, menginap di luar kota. Lalu kalau begini kapan bahagianya?
Dalam tulisan saya sebelumnya menguraikan, pada dasarnya yang diinginkan manusia adalah kebahagiaan dan menolak penderitaan atau musibah. Namun kadang konsep-konsep yang ditawarkan juga beragam. Sebagian beranggapan kebahagiaan itu seperti komoditas : misal membelinya melalui rumah, mobil mewah, baju baru, kosmetik, bahkan operasi plastik. Ada juga yang mencarinya dengan keterkenalan, kekayaan, uang, tabungan, jabatan, nama baik, jaim dan sebagainya (Gede Prama, 2006). Dan ada juga yang mencarinya dengan obat-obatan, minum-minuman dan segala perbuatan tercela lainnya (kami berlindung kepada Tuhan dari hal-hal sedemikian)
Namun fakta empiris dan semua ajaran suci mengatakan bahwa itu semua adalah kebahagiaan yg seperti ini yang dibeli atau datang dari luar (ekstrinsik) maka sifatnya akan datang dan pergi, tidak berakar, keropos, mudah diterbangkan angin, begitu komoditinya hilang maka kebahagiaannya menjadi hilang. Apalagi ketika kebahagiaan atau kesenangan yang dicari asimetri dengan ajaran suci. Maka yang didapat hanyalah kemuraman.
Ada juga yang bahagianya tergantung orang lain. Orang lain mampu membuat sedih dan bahagia pada diri kita. Pada dasarnya ketika ini terjadi, kita sudah memberikan saklar kebahagiaan kita pada orang lain. Bukan kita yang memutuskan bahagia atau tidak, melainkan orang lain. Mereka yang menguasai saklar, mereka yang memutuskan. Mestinya jangan sembarangan kita berikan saklar keputusan penting kita pada orang lain.
Ditemukan juga fakta menarik yang banyak terjadi pada menimpa kita semua. Yaitu ketika komoditinya tidak hilang, komoditinya masih melekat dalam dirinya, masih kita punyai, namun kebahagiannya telah pergi. Orang itu masih punya rumah mewah, masih punya mobil bagus, kaya dan keluarga lengkap serta sehat, namun anehnya dia merasa tidak bahagia.
Sebagai contoh sederhana misalnya, dahulu ketika sebagian dari kita masih kekurangan, belum punya kendaraan, berangkat kerja di antar sampai ditepi jalan. Kemudian bersalaman dengan hangat, disertai cium dan peluk istri-anak, rasanya seperti guyuran air terjun wisata yang percikan air dan embunnya segar menerpa wajah kita. Namun paradok dengan masa lalu, setelah kendaraan bagus dimiliki, justru hilang ”rasa” itu. Dengan alasan nyuci mobil, mengecek oli, atau memanaskan mesin sepertinya sudah tidak sempat lagi kehangatan itu kita rasakan. Tidak sempat lagi alasannya. Rasa ”bahagia” itu sudah hilang tanpa harus komoditinya hilang terlebih dahulu.Bahagia adalah merupakan putusan kita dalam memilih. Dengan komoditi yang ada atau komoditi yang sama, kita bisa memutuskan memilih bahagia atau tidak bahagia. Dengan sarana atau tanpa sarana atribut dunia kita bisa bahagia. Kita bisa memilih bahagia hari ini atau juga tidak berbahagia hari ini. Komoditi / Faktor eksternal memang dapat mempengaruhi kebahagiaan kita, namun tetap pada akhirnya kita yang memutuskan.
Maka putuskanlah anda untuk berbahagia, karena dengannya semua fikiran, perasaan dan tindakan Anda akan berfokus kepada yang membahagiakan (Mario Teguh,2010)
PUTUSKANLAH untuk BERBAHAGIA......
Waktu yang terbaik untuk berbahagia adalah hari ini...dan pada suatu hari di surga nanti..
Tempat terbaik untuk berbahagia adalah di sini...dan pada salah satu taman dari taman di surga kelak
Metode agar mendapat Kebahagiaan yang bertambah-tambah adalah dengan bersyukur..
Mengawetkan kebahagiaan adalah dengan lapang hati, ridho & merasa cukup....
Cara tercepat mendatangkan kebahagiaan adalah dengan memberikan kebahagiaan pada sesama..
Atau MEMUTUSKAN UNTUK TIDAK BAHAGIA...???
Cara terbaik untuk menghilangkan kebahagiaan adalah dengan berma’siyat pada-Nya..
Cara menunda kebahagiaan adalah dengan memilih hari tertentu untuk bahagia..
Cara termudah merusak kebahagiaan adalah dengan menyakiti sesama…
Cara tersulit untuk berbahagia adalah dengan serakah & mementingkan diri sendiri…
Putuskanlah sendiri SEKARANG juga untuk menyelimuti hidup kita dengan kebahagiaan…
Pancarkan & bagi kebahagiaan kita SETIAP HARI pada semesta….
BAHAGIALAH di DUNIA..
BAHAGIA pula di SURGA..
http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/pelajaran-hari-ke-2-bahagialah-setiap-hari/10150111827605849
Mengenali Peluru-peluru Syaithan
Untuk mencapai keberhasilan,
kita harus dapat mengenali dan waspada terhadap tipu daya syaithan
karena syaithan selalu mencari kesempatan untuk menyerang
dan merasuk hati manusia.
Menurut Imam Ghazali , syaithan sering masuk dan memanfaatkan hal-hal berikut :
1. Perasaan marah
2. Hawa nafsu
3. Perasaan tamak dan dengki
4. Kenyang
5. Cinta kepada perhiasan dan harta benda
6. Bergantung kepada manusia
7. Bertindak terburu-buru dan terburu nafsu
8. Cinta kepada uang
9. Pelit
10. Fanatik terhadap mazhab dan kelompok
11. Berpikir mengenai zat, sifat, dan af’al atau perbuatan Allah tanpa ilmu
12. Sikap mudah berburuk sangka terhadap orang-orang islam
Semoga bermanfaat
http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/mengenali-peluru-peluru-syaithan/491623320848
Dusta yang Mana Lagi ( ? )
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
==============================
Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman? Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat. Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi "fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban" (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat bahasa sastra yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?".
Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta"; bukan kata "ingkari",. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.
Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Sarjana atau Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby. Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.
Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan! Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda, ingatlah–baik anda dustakan atau tidak–semua ni’mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!
"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini" ( QS 102:8 )
Sudah siapkah anda menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???
Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI’MATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).
Tidak patutkah anda bersyukur kepadaNYA, Mari mengucap Alhamdulillah sebagai bagian dari rasa syukur kita .
Barakallhufikum
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-dusta-yang-mana-lagi-/200265876668734
Munafik? No Way, lah yoww!!
"Rencana jahat apabila ada pada diri seseorang maka akan kembali akibatnya kepadanya. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakanya sendiri." (Fa'athir : 43)
=========================================
'MUNAFIK' ,tujuh huruf tiga suku kata, tapi dahsyat! Tak cukup di pandang, hanya dengan dua bola mata.Heheh.. Lantas mau di pandang dengan apa lagi jenk? 'Mata hati' gitu..
Karena hanya dengan membuka mata hati lah, kita dapat mendeteksi keberadaan sifat yang paling menakutkan ini. Bahkan junjungan kita yang mulia Rosulullah saw sangat menghawatirkan keberadaan sifat ini diantara umatnya (kita juga termasuk umatnya bukan?).
Sabda Rosulullah :"Aku tidak khawatir umatku dari mu'min maupun musyrik, sebab yang mu'min telah di jaga oleh imannya. Sedang si musyrik telah di belenggu kekafirannya. Namun yang aku takutkan atas kalian adalah keberadaan seorang munafik yang pandai berbicara tentang apa-apa yang kamu ketahui namun dia berbuat apa-apa yang kamu ingkari." (Shahih Bukhari)
Nah! karena itulah, sifat yang satu ini sungguh sangat menakutkan. Karena pengaruh sifat ini terhadap orang di sekitarnya dapat mengubah yang mukmin menjadi musyrik, jika kita tidak pandai untuk mengenali sifat ini dari awal.
Dalam sabda Rosulullah saw yang lain, beliau memberikan 4 tanda kemunafikkan pada diri seseorang.Sabda Rosulullah :
"Empat hal yang menjadikan tanda kemunafikkan.
Dan jika salah satunya ada pada diri seseorang maka dia telah menyandang sebagian tanda (karakter) tersebut sehingga ia meninggalkannya. Yaitu: 1. jika berbicara ia berbohong, 2. jika berjanji ia mengingkari, 3. jika bekerja sama akan menipu, 4. jika bermusuhan akan bertindak aniyaya (fajir)." (Shahih Bukhari)
Maka dari itu sahabat, kita harus lebih waspada dan hati-hati. Bukan berarti kita berprasangka buruk pada orang, hanya saja lebih tingkatkan kewaspadaan dengan orang seperti ini. Jika kau tidak mau jatuh dan terjerumus bersama kemunafikkanya. Upst! atau jangan-jangan, kita juga termasuk orang yang munafik?! Atau malah.. selama ini kita tidak pernah merasa atau menyadari, bahwa sebenarnya kemunafikkan telah menjadi sifat dasar kita?? (astaghfirullah)Selain dari sifat munafik ini, ada satu lagi sifat yang tak kalah seremnya.Yaitu sifat 'JAHIL'.
"Berkata sam' un: "Beritahulah diriku tanda-tandanya orang yang jahil?" Rosulullah saw menjawab: "Jika kau temani, dia akan merepotkanmu. Jika engkau jauhi, dia akan mencelamu. Bila memberimu sesuatu, dia akan mengungkit-ungkit. Jika kau memberi sesuatu, dia akan mengingkari. Jika kau berbicara tentang sesuatu rahasia, dia akan mengkhianatimu. Bila memberi tahu sesuatu hal yang rahasia padamu, ia akan menuduhmu yang bukan-bukan. Bila merasa cukup, dia berlaku sombong dan kasar. Jika butuh sesuatu dia akan meremehkan nikmat Allah tanpa merasa berdosa. Jika senang dia akan melampaui batas. Jika di timpa kesedihan dia segera putus asa. Kalau tertawa terbahak-bahak. Jika menangis akan menjerit-jerit. Dia selalu menjelekkan orang baik. Serta tidak mencintai Allah dan tidak mengikuti aturan-Nya. Juga tidak merasa malu kepada Allah. Jarang menyebut nama-Nya. Jika kau di anggap merelakanya, dia akan memujimu dengan pujian yang tidak ada padamu. Dan jika marah kepadamu, dia akan mencacimu dengan sesuatu kejelekan yang tidak pernah engkau lakukan. Itulah perilaku orang jahil." (Shahih Bukhari)
Nah lho..?? gimana sahabat, adakah ciri-ciri diatas menjadi sifatmu? ataukah orang-orang yang ada di sekitarmu? atau malah, aku sendiri juga punya ciri-ciri diatas? hmmm (weh.. kalau itu mah rahasiaku! ) heheh.. :b
Semoga kita semua dapat menghindari sifat-sifat buruk ini (Munafik, jahil) atau sifat-sifat buruk yang lainnya.
"Tunjukkan kami jalan-Mu ya Rabbi.. Tuntun dan bimbinglah langkah kami.. Luruskan niat dan teguhkanlah iman di hati.. Rahmat dan Hidayah-Mu Ya Illahi."
"Apa saja yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (An-Nissa : 79)
=========================================
"Allah SWT tidak menilai rupa atau harta kalian, Tapi Allah menilai hati dan perbuatan kalian. Wahai manusia! Aku tinggalkan padamu (sesuatu), jika kalian berpegang padanya, tidak akan tersesat selamanya : Kitab Allah (AL-Qur'an) dan Itrahku Ahlul Baitku." (Shahih Bukhari)
..:: Jagalah Hati lentera hidup ini, jagalah Hati cahaya Illahi ::..
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/munafik-no-way-lah-yoww/10150150369606042
Kamis, 17 Maret 2011
Catatan Khusus: JANGAN BOHONG DI DUNIA MAYA
Sebenarnya tulisan ini, sudah pernah aku muat, tapi dulu, lama sekali, dan aku kira tidak banyak sahabat-sahabat baru yang punya waktu membongkar tumpukan catatan-catatanku, maka ada baiknya, aku posting lagi, dengan beberapa editan.
Aku pernah membaca cerita menarik di harian Okaz ( koran dengan oplah terbesar di Saudi Arabia). Cerita tentang sepasang suami istri di Yordania, yang lagi bertengkar hebat.
Singkat cerita, keduanya pun pisah ranjang dan tidak tinggal serumah lagi. Untuk mengusir kesepian dan kejenuhan, keduanya mencoba mencari hiburan dengan masuk ke alam dardasyah (dunia chatting). Keduanya pun berhasil menemukan pasangan masing-masing di dunia maya.
Sang istri curhat pada 'pasangan'-nya tentang problem hidupnya, begitu juga sang suami pada cewek chat-nya.
Mereka pun akhirnya (setelah lama hubungan maya dengan pasangan masing- masing) sepakat melakukan kopdar. Pikir sang istri, pasti cowok chat-ku ini orang baik banget, udah begitu perhatian ama aku. Sang suami juga berpikir sama, cewek chat-ku ini pasti lebih baik dari istriku dulu, dan lebih cantik.
Hari pertemuan pun ditentukan, tempatnya di bandara, masing-masing memakai baju dengan warna yang telah disepakati. Sang istri datang duluan di bandara menunggu cowok chat-nya. Di sisi lain,sang suami berpacu jantung, bagaimana wajah calon istri keduanya.
Waktu berjalan merayap, setelah hampir 1 jam, sang istri dari kejauhan melihat pria berjalan ke arahnya dengan tanda pengenal yang disepakati. Sementara di saat yang sama, sang suami yang juga mau kopdar, melihat tanda cewek chat-nya di kursi pengunjung. Dia pun berlari ke arah wanita itu. Di tempat lain, sang istri melihat ada pria bergegas mendekat kepadanya.
Dan setelah dekat dan bertemu, yang terjadi adalah keterkejutan yang luar biasa, ternyata teman cewek chat si suami itu, adalah istrinya sendiri ! Si istri pun tak kalah kagetnya setelah tahu cowok chat-nya adalah suaminya sendiri.
Yang terjadi setelah itu adalah tragedi, pertengkaran memalukan terjadi di bandara dengan hebat, masing-masing merasa dibohongi oleh pasangan chat-nya.
Percekcokan itu, berakhir dengan perceraian memilukan yang membuat sang istri seketika pingsan di tempat.
Satu kisah di antara jutaan kisah yang terjadi berawal dari dunia maya.
Sebenarnya, perbedaan antara dunia nyata dengan dunia maya tipis sekali, itu jika kita mau dengan cermat memperhatikan.
Kadang orang menjadikan dunia maya sebagai pelarian dari dunia nyata, dia anggap hanya iseng saja, yang tanpa sadar justru dia masuk pada masalah baru.
Sebab bagaimanapun, semua pelakunya adalah manusia yang punya hati.
Aku pribadi sama sekali tidak yakin jika usai chat kita merasa biasa saja, pasti terkadang ada perasaan bahagia, sedih, marah, kagum, cemburu, bahkan jatuh cinta. Bukti dari itu, tidak sedikit di antara kita yang kepikiran usai chat. Makan tidak enak, tidur tidak tenang, dan sebagainya. Atau sebaliknya, tergantung keadaan psikologi kita.
Istilah Kehidupan di dunia maya pun tidak beda jauh dengan dunia nyata, di sana juga ada istilah cyber crime, kriminalitas. Polisinya juga ada. Bedanya hanya semuanya bermain di khayalan kita, namun persamaannya (dan ini poin yang paling penting) sama-sama berpengaruh pada psikologi, perasaan dan kinerja hati kita.
Kita bisa iri pada teman maya kita, sombong pada mereka, bahkan benci dan dendam, yang secara tidak sengaja malah mengotori hati kita. Sayangnya, kita banyak mengabaikan hal ini, ah, cuma dunia maya, nggak beneran.
Suatu sikap yang bisa berubah menjadi pedang bermata dua. Dan yang paling membahayakan bagi proses pembersìhan hati dan jiwa kita saat di dunia maya, adalah BERBOHONG.
Sumber dari segala kehancuran kita, adalah sikap bohong. Nabi sendiri pernah berkata, bahwa seorang mukmin itu tidak berbohong, (wa in zanaa wa in saroq) walau berzina walau mencuri. Karena iman dan kebohongan tidak pernah bersatu.
Tetapi kebanyakan di antara kita, lebih memilih berbohong saat di dunia maya. Kita tega membohongi teman kita (di saat yang sama,dia pun tega bohongin kita) Dan tak jarang kebohongan itu malah membahayakan, merugikan dan mengecewakan bagi kita atau teman kita.
Sebenarnya,apa sih sulitnya jujur?dan sudah jadi hukum alam, kejujuran tidak pernah merugikan.
Memalukan jika kita mengaku muslim,tapi kita tega membohongi saudara muslim. Kita semua pasti tahu, salah satu tanda sikap hipokrit (munafik) adalah, saat berbicara selalu berbohong.
Akhir catatan, yang perlu dituntut dari kita, adalah mawas diri. Proses penjernihan hati dan jiwa untuk mencapai tingkat ma'rifatullah tidaklah mudah. Jalan cukup terjal, apalagi jika kita terjun ke dunia maya,bersiap-siaplah untuk lebih ekstra hati,jika kita tidak ingin jiwa kita menjelaga pelan-pelan tanpa kita pernah terasa. Wallohu a'lam (*)
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-catatan-khusus-jangan-bohong-di-dunia-maya-/10150147853771042
@}~~ Ketika Bidadari Turun Ke Bumi ~~{@
♥●♥_◕_♥●♥
Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.
Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?
♥●♥_◕_♥●♥
Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2. Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)
Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi.
jika kau mau dan mampu menjadi sepertinya,,, satukan niat yg bersih, lakukan, dan istiqomahlah,,, :-)
♥●♥_◕_♥●♥
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-ketika-bidadari-turun-ke-bumi-/10150149421396042
Ada Saat - Saat Ketika Resah Tak Menemukan Jawabnya...
Bismillaahirrahmanirrakhiim......
Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya.
Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah.
Di saat kesendiriaan tak sanggup kita tanggungkan,
sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga,
ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih :
"Kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir??”
Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggamanNya.
Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam,
dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih.
Kita mencoba merenung sejenak secara jujur,
apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepadaNya,
sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan dan bahkan mungkin kesombongan kita terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba.
Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri?
Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk semua orang?
Cobalah bertanya sejenak pada hati nurani, tanpa perlu menitikkan airmata duka.
Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai suami atau istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?
Cobalah untuk bertanya.
Cobalah! Cobalah! Cobalah! Dan tahan dulu kerisauan itu…….
Sudahkah kita bertanya pada hati nurani…….penantian itu, apakah sebabnya tak kunjung berakir??
KADANG IA ADALAH UJIAN
Allah memberikan ujian kepada hamba-hambaNya agar dengan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimanannya dan orang-orang yang benar-benar mencintaiNya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika ingin naik kelas. Sesungguhnya Allah tidak akan member ujian yang melebihi batas kesanggupan hambaNya.
“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)
Pertanyaannya, apakah yang kita hadapi sekarang merupakan ujian dari Allah??
Wallahu ‘Alam bisshowab. Yang bisa mengetahui adalah diri kita sendiri. Nurani kita yang dapat meraba. Karena itu, bertanyalah pada hati nuranimu.
Selebihnya, ada beberapa hal yang dapat kita catat. Jika sudah bersungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu tetapi belum datang-datang juga. Jika sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidup. Kalau sudha berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh tetapi tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau sudah didesak oleh kerinduan sembari disaat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh merupakan ujian…..
Obat menghadapi ujian adalah sabar. Sabar dalam menanti takdir. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berdoa dan sabar dalam memegangi kebenaran. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang mendapat pertolongan Allah.
BARANGKALI KITALAH PENYEBABNYA
Betapa banyak orang yang menunda pernikahan dengan berbagai macam alasan. Untuk seorang laki-laki, kadang-kadang karir menjadi alasan. Karir yang belum seberapa menjadikan niat dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang banyak agar bisa menyenangkan istrinya kelak. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan melurukan niat.
Bagaimana mungkin mendapatkan pendamping yang bisa mencintai dengan sederhana jika menjadikan gemerlap kemapanan sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang menerima dengan sepenuh hati dan tidak ada cinta untuk wanita lain kecuali untuk istrinya sementara meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat pernikahan? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang terjaga jika mendekatinya dengan cara menggodanya?? Jika ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, pasti tak bisa didapatkan dengan : “Hai cowok……godain kita, dong”
Diluar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhoi tak jarang karena kita sendiri penyebabnya. Begitu banyak wanita yang menunda pernikahannya karena alasan kuliah atau alasan masih muda atau bahkan karena ingin mengejar karir. Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya tapi…dengan alasan karir, masih muda, ingin mengejar cita, tidak mau terkekang, masih ingin kuliah ia menolak semua ajakan serius.Sampai semua keinginan telah tercapai, saat karir sudah mapan, kuliah sampai S3, cita sudah tergenggam; sampai ia tersadar bahwa usianya sudah tak terlalu muda lagi, sampai ia merasakan betapa sepinya hidup. Sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangatlah sulit, sesulit menaklukkan hatinya ketika ia masih muda dulu.
Ketika mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Menunda-nuda pernikahan tanpa alasan syar’i dan akhirnya benar-benar takut melangkah si saat hati sudah benar-benar gelisah tetapi tak kunjung ada yang mau serius.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus berlanjut. Bila di usia-usia dua puhan tahun menunda pernikahan karena takut dengan ekonomi yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan. Mereka menginginkan pendamping dengan criteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak criteria semakin sedikit pula yang masuk criteria. Ketika menetapkan criteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan. Sementara wanita memiliki ambang batas usia, masalah yang dihadapi bukan soal criteria tapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengan wanita yang lebih tua.
Ya….ya….ya….kadang kita sendirilah penyebabnya. Kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu sendiri penyebabnya, beristigfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan segala urusan kita. Aminnnnn….
ADA YANG TAK BISA KITA INGKARI
Kadang, ada perasaan kepada sesorang. Seperti Mughits…(salah seorang sahabat Rasulullah) yang selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata mengawasi, hati mencari-cari dan telinga merasa indah ketika mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayam di dada. Bukan karena terlalu menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnul Qayyim Al Jauziyah dari sebuah Bukunya, “Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta”
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti- kadang sampai membuat badan kurus kering—sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Merasa yakin dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tidak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.
Kita bisa menengok sejarah betapa para salafush-shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak lebih indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Marilah kita membedakan antara menjaga pandangan dengan mengendalikan perasaan dan mengingkari perasaan.
Di atas semua itu, Allah akan senantiasa membuka pintuNya untuk kita. Ketuklah pertolonganNya dengan do’a. di saat merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan,
“Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits” (Qs. Al Anbiya : 89)
Panjatkanlah doa saat merasa gelisah oleh rasa sepi mencekam. Panjatkan doa saat merasa membutuhkan hadirnya seorang pendamping, saat hati dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula doa saat hati merasa dekat denganNya, saat dalam perjalanan ketika Allah jadikan doa mustajabah dan saat mustajab lainnya.
Wallahu A’lam
Memanfaatkan Waktu Luang
Kasman berasal dari kelas bawah. Ibunya
buta huruf dan bekerja sebagai pedagang kain kecil-kecilan. Ayahnya seorang
juru tulis. Untuk menghidupi 7 anaknya penghasilan mereka sangatlah kurang.
Ia dilarang ibunya bersekolah. Tapi ia jalan terus karena ia ingin sukses dan ia haus akan ilmu pengetahuan. Untuk bisa membiayai sekolahnya sendiri Kasman bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia rajin menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju. Dari sana ia mendapatkan makan, pakaian bekas dan uang untuk membiayainya sekolah Di HIS (Holland Inlandsche School) yaitu Sekolah Dasar untuk Pribumi pada masa Penjajahan Belanda di Indonesia.
Setelah itu dengan tetap bekerja sebagai pembantu ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
Kasman benar-benar menyukai bekerja keras. Ketika Jepang datang iapun bekerja keras dengan masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air). Di sana ia mengikuti latihan-latihan militer dengan disiplin yang sangat ketat ala Jepang.
Sejak sekolah ia tidak puas dengan ilmu yang didapat di sekolah. Ia masuk Muhammadiyah dan banyak belajar agama Islam dan belajar berpidato di sana. Pulang sekolah ia sering berlatih pidato/presentasi. Intinya ia merasa waktu itu sangat berharga dan ia selalu meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Ketika di PETA ia menjadi Komandan PETA di Jakarta. Di sana komandan sering berpidato. Kasman menyelipkan ajaran-ajaran agama ketika berpidato.
Ketika Indonesia merdeka ia menjabat sebagai Jaksa Agung dan kemudian Menteri Muda Kehakiman. Tahun 1955-1959 ia menjadi anggota Konstituante (Badan Pembuat Undang-Undang Dasar).
Pada tahun 1955 Kasman juga menjadi Presiden direktur Gloria Trading Company di Glodok. Tahun itu juga ia mendirikan pabrik Rajut PT Gloria Knitting di Ancol, Jakarta Utara. Kedua perusahaan yang dipimpinnya inipun sukses pada masa kepemimpinannya. Kuncinya hanya satu, Kasman tidak mau waktu terbuang sia-sia. Ia selalu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat.
Jadi walaupun berasal dari kelas bawah Kasman Singodimedjo bisa sukses juga. Apalagi buat orang yang tidak berasal dari kelas bawah. Yang penting adalah memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat jangan terbuang sia-sia.
Bagaimana dengan anda?
Ia dilarang ibunya bersekolah. Tapi ia jalan terus karena ia ingin sukses dan ia haus akan ilmu pengetahuan. Untuk bisa membiayai sekolahnya sendiri Kasman bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia rajin menyapu, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju. Dari sana ia mendapatkan makan, pakaian bekas dan uang untuk membiayainya sekolah Di HIS (Holland Inlandsche School) yaitu Sekolah Dasar untuk Pribumi pada masa Penjajahan Belanda di Indonesia.
Setelah itu dengan tetap bekerja sebagai pembantu ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
Kasman benar-benar menyukai bekerja keras. Ketika Jepang datang iapun bekerja keras dengan masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air). Di sana ia mengikuti latihan-latihan militer dengan disiplin yang sangat ketat ala Jepang.
Sejak sekolah ia tidak puas dengan ilmu yang didapat di sekolah. Ia masuk Muhammadiyah dan banyak belajar agama Islam dan belajar berpidato di sana. Pulang sekolah ia sering berlatih pidato/presentasi. Intinya ia merasa waktu itu sangat berharga dan ia selalu meluangkan waktu untuk menuntut ilmu. Ketika di PETA ia menjadi Komandan PETA di Jakarta. Di sana komandan sering berpidato. Kasman menyelipkan ajaran-ajaran agama ketika berpidato.
Ketika Indonesia merdeka ia menjabat sebagai Jaksa Agung dan kemudian Menteri Muda Kehakiman. Tahun 1955-1959 ia menjadi anggota Konstituante (Badan Pembuat Undang-Undang Dasar).
Pada tahun 1955 Kasman juga menjadi Presiden direktur Gloria Trading Company di Glodok. Tahun itu juga ia mendirikan pabrik Rajut PT Gloria Knitting di Ancol, Jakarta Utara. Kedua perusahaan yang dipimpinnya inipun sukses pada masa kepemimpinannya. Kuncinya hanya satu, Kasman tidak mau waktu terbuang sia-sia. Ia selalu memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat.
Jadi walaupun berasal dari kelas bawah Kasman Singodimedjo bisa sukses juga. Apalagi buat orang yang tidak berasal dari kelas bawah. Yang penting adalah memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat jangan terbuang sia-sia.
Bagaimana dengan anda?
Cita-cita
"Cita
cita yang tinggi tidak menjamin kita dapat meraih kesuksesan. Tetapi orang yang
sukses pasti memiliki cita cita yang tinggi!!"
Setiap orang, apapun profesinya, baik
sebagai karyawan, seniman, CEO, olahragawan, wirausahawan ataupun profesional,
pasti pernah memiliki cita-cita tinggi, dan tentu mengharapkan itu dapat
diperjuangkan menjadi kenyataan, yaitu sebuah KESUKSESAN.
Namun perlu diingat, di setiap perjuangan ada 2 kemungkinan hasil akhir yaitu: sukses atau gagal.
Contoh: di bidang olahraga, setiap atlet pasti memiliki cita-cita untuk menjadi juara / meraih medali emas. Mereka menyiapkan diri secara matang, berjuang keras dalam persaingan yang keras dan ketat. Tapi toh akhirnya, juara pertama alias peraih medali emas hanyalah satu orang.
Jadi tepat sekali kalimat ini: "mempunyai cita-cita yang tinggi tidak menjamin kita bisa meraih kesuksesan".
Mungkin saja, kita telah berjuang dengan segenap kekuatan pikiran, tenaga, waktu, dan pengorbanan lainnya untuk meraih cita-cita. Tapi semuanya ternyata harus kandas di tengah jalan, tidak tercapai, dan gagal.
Sayangnya, begitu banyak orang yang langsung larut dalam kekecewaan, down, frustasi, depresi bahkan putus asa ketika mengalami kegagalan..
Padahal kenyataannya adalah:
Tidak menjadi juara pertama, bukan berarti kita gagal total.
Tidak tercapainya target yang kita tentukan, di bidang apapun bukan berarti dunia runtuh!
Asalkan proses perjuangan kita telah maksimal, juga dilakukan secara jujur/halal, maka di setiap hasil pencapaian, sukses atau gagal, pasti ada nilai pembelajaran yang bisa didapat. Karena gagal bukan berarti selamanya kita gagal. Jika sukses, juga bukan berarti kita akan terus sukses! Pembicara tersohor Robert H. Schuller pernah mengatakan, "Success is never ending, failure is never final."
Maka, untuk mencapai sukses yang berkualitas, mari berani menentukan cita-cita yang bernilai untuk diperjuangkan. Dengan cita cita yang tinggi, hidup pasti terasa lebih bergairah, hidup pasti akan lebih bersemangat! Tidak perlu takut gagal. Kemarin gagal, hari ini kita belajar. Hari ini kita gagal, besok kita bangkit kembali!!
Namun perlu diingat, di setiap perjuangan ada 2 kemungkinan hasil akhir yaitu: sukses atau gagal.
Contoh: di bidang olahraga, setiap atlet pasti memiliki cita-cita untuk menjadi juara / meraih medali emas. Mereka menyiapkan diri secara matang, berjuang keras dalam persaingan yang keras dan ketat. Tapi toh akhirnya, juara pertama alias peraih medali emas hanyalah satu orang.
Jadi tepat sekali kalimat ini: "mempunyai cita-cita yang tinggi tidak menjamin kita bisa meraih kesuksesan".
Mungkin saja, kita telah berjuang dengan segenap kekuatan pikiran, tenaga, waktu, dan pengorbanan lainnya untuk meraih cita-cita. Tapi semuanya ternyata harus kandas di tengah jalan, tidak tercapai, dan gagal.
Sayangnya, begitu banyak orang yang langsung larut dalam kekecewaan, down, frustasi, depresi bahkan putus asa ketika mengalami kegagalan..
Padahal kenyataannya adalah:
Tidak menjadi juara pertama, bukan berarti kita gagal total.
Tidak tercapainya target yang kita tentukan, di bidang apapun bukan berarti dunia runtuh!
Asalkan proses perjuangan kita telah maksimal, juga dilakukan secara jujur/halal, maka di setiap hasil pencapaian, sukses atau gagal, pasti ada nilai pembelajaran yang bisa didapat. Karena gagal bukan berarti selamanya kita gagal. Jika sukses, juga bukan berarti kita akan terus sukses! Pembicara tersohor Robert H. Schuller pernah mengatakan, "Success is never ending, failure is never final."
Maka, untuk mencapai sukses yang berkualitas, mari berani menentukan cita-cita yang bernilai untuk diperjuangkan. Dengan cita cita yang tinggi, hidup pasti terasa lebih bergairah, hidup pasti akan lebih bersemangat! Tidak perlu takut gagal. Kemarin gagal, hari ini kita belajar. Hari ini kita gagal, besok kita bangkit kembali!!
Pernikahan yang Agung
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
===========================
Sekelumit tentang kehidupan rumah-tangga Sayyidatina Fatimah az-Zahra dgn Imam Ali bin Abi Thalib, semoga bisa diambil hikmah nya buat kita semua :
Rasulullah SAW bersabda kepada para peminang Fatimah: " Fatimah milik Allah SWT dan menjadi ketetapan Allah SWT untuk menikahkannya kepada siapapun." (Kitab ar-Raudhatul Fa'iq bin Saad al-Misri) . Pada kitab Nuzhatul Majalis dan as-Suyuthi kitab Tadhirul Khawas, meriwayatkan bahwa Rasul Allah SAW bersada:
"Jibril As mengabarkan kepadaku bahwa: Allah SWT telah menikahkan Fatimah dengan Ali di langit, disaksikan 40.000 Malaikat dan bidadari menghiasi Fatimah dengan gaun pengantin dari permata dan memerintahkan kepadaku agar segera menikahkannya di bumi."
Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai Fatimah, aku nikahkan kau dengan orang yang pertama beriman kepada Allah SWT & kepadaku."
[Sawaiq Muhriqah hal 85- Kifayah Al-talib hal 298- Dhakair Al-Uqba hal 29].
Imam Ali dipinjami sebuah kamar berukuran kecil di belakang rumah Sahabat Al-Haris ra. Adanya berita perkawinan itu, Imam Ali As meratakan batu-batu tajam di kamarnya hingga kejalan umum, lalu menimbuninya dengan pasir halus. Al-Haris ra datang dengan heran lalu bertanya:
Haris : " Mengapa kau rapikan tanah sedemikian itu, padahal sebelumnya kakimu tak peduli akan ketajaman batu¬batu itu..?"
Ali : " Putri Nabiku akan tinggal bersamaku di sini."
Haris : " Gunakan kamarku wahai Ali."
Ali : " Kami Ahlul Bait diwajibkan oleh Allah SWT hidup setara dengan rakyat miskin."
Doa Rasulullah SAW pada saat menikahkan Imam Ali dengan Sy Fatimah az-Zahra:
" Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya. Merakhmati dan memberkati keduanya. Meningkatkan kualitas keturunannya. Menjadi pembuka pintu rakhmat, Sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi seluruh umat manusia."
50 hari setelah pernikahannya, Rasul SAW baru mengizinkan Ali As membawa pulang Fatimah. Sebelumnya Ummu Salamah berkunjung ke Imam Ali lalu bertanya:
US : " Wahai Ali.. bukankah Fatimah telah menjadi istrimu..?"
I. Ali : " Benar, wahai Ummul Mukminin"
US : " Mohonlah pada Rasul untuk membawanya kerumahmu"
Ali : " Aku tak patut bersuara sebelum Nabiku bersabda "
Ummu Salamah ra dan para Sahabat ra mengisahkan rasa belasnya terhadap Imam Ali As dan Fatimah As kepada Rasulullah SAWW dan memohon agar keduanya diizinkan hidup bersama. Kemudian Cintailah siapapun yang mencintainya. Musuhilah siapapun yang memusuhinya. Dan hindarkanlah semuanya dari segala siksa dan api neraka.
Setelah pernikahannya dengan Fatimah Az-Zahra r.a., Imam 'Ali r.a. tinggal bersama isterinya di sebuah rumah yang sungguh amat sederhana. Sebagian besar perkakas rumah tangganya terbuat dari tembikar (tanah Hat). Namun, Rasulullah s.a.w. merasa bangga, tenang dan bahagia serta penuh kasihsayang sebagai ayah kepada puteri belahan hati beliau sendiri. Suasana yang penuh kesejahteraan dan keserasian itu lebih disemarakkan lagi oleh kelahiran dua orang cucu beliau s.a.w., Al-Hasan dan Al-Husain — radhiyallahu 'anhuma, dua orang putera Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a. yang dipandang sebagai pewaris ilmu dan hikmah kebijakan beliau serta sebagai orang yang mempunyai kesamaan ciri dan kekhususan dengan beliau s.a.w. kecuali dalam hal kenabian.
Di dalam rumah ahlu -bait Rasulullah s.a.w. itulah Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu anhuma — dibesarkan di bawah naungan beliau. Betapa puas perasaan beliau menyaksikan kesentosaan dan keserasian hidup putra-putri dan cucu-cucunya. suasana demikian itu oleh beliau dirasakan sebagai hiburan yang menghilangkan kelelahan dan meringankan kesukaran-kesukaran berat yang dihadapinya sehari-hari dalam menjalankan tugas da'wah dan memimpin perjuangan ummat untuk menegakkan kebenaran Allah di muka bumi.
Di dalam rumah yang diliputi suasana kebahagiaan itu Rasulullah sering duduk berbincang-bincang dengan mereka. Imam Ali r.a. duduk di sebelah kanan dan Fatimah Az-Zahra r.a. duduk di sebelah kiri beliau. Sedang dua orang cucu befiau, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhuma — duduk di atas pangkuan beliau s.a.w. Secara bergantian beliau menciumi kedua orang cucunya itu. Beliau mendoakan keberkahan bagi mereka semua dan mohon kpd Allah Swt agar berkenan menjauhkan mereka dari segala macam noda dan kotoran hidup serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.
Sungguhlah, seumpama orang yang benar-benar beriman dipersilakan memilih: Manakah yang lebih disukai, dunia dengan segala kesenangan dan kegemerlapannya ataukah butir-butir gandum yang ditumbuk oleh Rasulullah s.a.w. bersama Imam 'Ali r.a.; orang itu pasti lebih suka memilih butir-butir gandum itu!
Jadi, di manakah sesungguhnya letak kemiskinan dan kemelaratan? Di dalam rumah yang sering menjadi tempat turunnya wahyu Ilahi, tempat Rasulullah s.a.w. bersama Imam 'Ali dan Fatimah Az-Zahra r.a. bersama-sama menumbuk gandum, di rumah tempat Rasulullah bersama ahlu-baitnya biasa minum air dengan cawan tembikar; ataukah di dalam istana-istana kaum bangsawan dan kaum hartawan Persia/Rumawi yang penuh dengan bau busuk perzinaan, arak dan kemaksiatan?!
Fatimah Az-Zahra hidup mendampingi suaminya, Imam 'Ali bin Abi Thalib r.a., yang tidak mempunyai apa pun juga selain hati dan pedang, ilmu dan iman. Isteri yang setia dan ikhlas itu menepung sendiri hingga tapak tangannya membengkak, menimba air sendiri hingga bajunya basah kuyup, menyapu rumah dan halaman hingga pakaiannya berdebu. Ia tidak hidup sebagaimana Asiyah binti Mazahim, wanita pendamping Fir'aun yang mempunyai piramid dan bengawan Nil, seorang permaisuri yang hidup serba dilayani oleh beratus-ratus budak pembantu dan tidak pernah bekerja selain melarang dan menyuruh. Cobalah kita bayangkan: Manakah di antara dua orang isteri itu yang lebih bahagia hidupnya, lebih tenteram hatinya dan lebih cerah keadaannya?!
Seandainya alat-alat rumah tangga kepunyaan Fatimah Az-Zahra r.a. seperti batu gilingan gandum, sapu, wadah air yang terbuat dari kulit dan lain sebagainya; masih ada hingga zaman kita dewasa ini, perkakas-perkakas itu barangkali akan dikeramatkan dan dikunjungi oleh manusia dari berbagai pelosok dunia, baik mereka yang beragama Islam maupun yang beragama lain! Mungkin mereka akan menilai barang-barang itu lebih berharga dari pada seribu bengawan Nil serta seribu piramid!
Apakah sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Muhammad Rasulullah dan keluarganya bagi kepentingan ummat manusia sedunia ? Ummat manusia telah mendapat tuntunan untuk memperoleh kebajikan, rahmat Allah dan kemuliaan abadi; yakni mereka telah mendapat petunjuk serta hidayat untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah swt melalui agama yang benar. Di akhirat kelak mereka akan memperoleh syafa'at (pertolongan) dan kebahagiaan, khusus bagi mereka yang dicintai beliau dan mereka yang mencintai beliau.
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-pernikahan-yang-agung/199540116741310
Ada Banyak Kenikmatan yang Terus Mengalir
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualiakum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Ada banyak kenikmatan yang terus mengalir ; Nikmat Kehidupan, Nikmat kesehatan , Nikmat Pendengaran , Nikmat Penglihatan , Nikmat Kedua Tangan dan Kaki , Nikmat Air dan Udara serta Nikmat Makanan. Nikmat keharmonisan keluarga, nikmat harta, kendaraan, dan lain sebagainya.
Dan yang paling agung dari semua itu adalah Nikmat Rabbaniyah, yakni nikmat Iman dan Agama Islam.
Apakah anda ingin mata anda dibeli dengan harga 1 juta dollar ?
Apakah Anda ingin menjual kedua telinga Anda dengan harga 1 juta
dollar ?
Apakah Anda ingin kedua kaki Anda dibeli dengan 1 juta dollar ?Apakah Anda Ingin kedua tangan anda dibeli dengan 1 juta dollar? Apakah anda ingin menjual hati anda, berapa juta dollar?
Saya yakin anda tdk mau menjual anggota tubuh anda berapapun mahalnya !
Syukuri nimat Allah dari sekarang, betatapun kecilnya. Karena siapa yg tidak besyukur ketika mendapat sedikit, ia tidak akan bersyukur ketika mendapat banyak.
Ingatlah betapa banyak harta yang ada di tangan kita ,namun kita jarang bersyukur.
Barakallahufik..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-ada-banyak-kenikmatan-yang-terus-mengalir/199538596741462
Tidurlah Seperti Tidurnya Pengantin
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullhi wabarakatuh
-----------------------------------------------------
Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata: Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Apabila mayit — atau beliau katakan, seorang dari kamu sekalian- telah dikubur, maka datanglah kepadanya dua malaikat besar yg hitam kebiru-biruan. Yang satu bernama Munkar, dan yang lain Nakir. Keduanya berkata, "Apa yang telah kamu katakan tentang orang ini?" Maka dia katakan seperti yang senantiasa dia katakan, "Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya."
Kedua malaikat itu berkata, "Kami telah tahu, bahwa kamu berkata seperti itu." Kemudian kuburnya dilapangkan seluas 70 hasta kali 70 hasta, kemudian diterangi ruangannya, dan dikatakan kepadanya: "Tidurlah."
Maka mayit itu bertanya, "Bisakah aku pulang kepada keluargaku, sehingga aku ceritakan kepada mereka?" Tapi kedua malaikat itu menjawab, "Tidurlah seperti tidurnya pengantin, yang tidak bisa dibanguanan kecuali oleh orang yang paling dkintainya."
Demikianlah, sampai kelak dia dibangkitkan Allah dari tempat berbaringnya itu dihari kiamat.
Adapun orang munafik, dia berkata, Saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku mengatakannya pula, tapi saya tidak tahu." Maka kedua malaikat itu berkata, "Kami telah tahu kamu berkata seperti itu."
"Maka dikatakanlah kepada bumi: "Gulunglah dia." Maka digulungnya dia sampai berantakan tulang-belulangnya. Demikianlah dia selalu disiksa, sampai Allah membangkitkannya kelak dari tempat berbaringnya itu." (Kata AtTirmidzi, hadits ini hasan-gharib. Isnadnya hasan: Zhilal Al-Jarinah fi Takhrij karya Ibnu Abi Ashim (864) dan Ash-Shahihah (1391) karya Al-Albani ).
Demikian pula, Abu Dawud telah meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah masuk ke kebun korma milik Bani Najjar. Di sana beliau mendengar suara sesuatu. Beliau terkejut, maka beliau bertanya, "Siapa penghuni kubur-kubur ini?"
Para sahabat menjawab, "Ya Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang meninggal di masa jahiliyah."
Maka beliau berkata, "Berlindunglah kamu sekalian kepada Allah dari siksa kubur dan fitnah dajjal."
Mereka bertanya, "Kenapa begitu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Sesunggulmya apabila orang mukmin telah diletakkan di dalam kuburnya, maka datanglah satu malaikat kepadanya, lalu berkata, "Apa yang telah kamu sembah?" Jika Allah memberinya hidayah, maka dia menjawab, "Aku menyembah Allah."
Lalu ditanya, "Apa yang telah kamu katakan tentang orang ini?" Dia jawab, "Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya."
Hanya itu yang ditanyakan kepadanya, lalu dibawa ke sebuah rumah, yang semula akan diberikan kepadanya di dalam neraka. Tapi dikatakan, "Inilah yang semula akan diberikan kepadamu di dalam neraka, tetapi Allah telah memelihara dan merahmatimu, maka Dia ganti dengan sebuah rumah untukmu di dalam surga."
Mayit itu berkata, "Biarkan aku pergi memberitahuu keluargaku." Tapi dikatakan kepadanya, "Diamlah."
Adapun orang apabila telah diletakkan di dalam kuburnya, maka datanglah kepadanya satu malaikat. Orang kafir itu dibentaknya seraya ditanya, "Apa yang telali kamu sembah?" Dia jawnb, "Saya tidak tahu. Saya dulu hanya mengatakan seperti yang dikatakan orang-orang." Oleh karena itu dia dipukul dengan palu-palu besi antara kedua telinganya. Maka dia berteriak dengan teriakan yang terdengar oleh seniva makhluk, selain jin dan manusia.
Lalu bagaimana tidurnya para pengantin..?? yaitu sama sekali tidak berasa, tahu-tahu hari sudah pagi.
Begitulah gambaran orang yg mati didalam kubur dan baik amalnya ketika didunia,, dia menunggu didalam kubur hingga hari kiamat seperti tidurnya seorang pengantin. Wallahualam bi showab..
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-tidurlah-seperti-tidurnya-pengantin/199259610102694
Kita...,Adalah Saudara Rasulullah SAW
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
=============================
Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang.
Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang engkau. “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh,” kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar laksana bulan purnama. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari di Madinah berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, “Adakah air pada kalian?”
Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain sibuk memeriksa kantong mereka, “Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah.” Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.
Kudengar suaramu yang indah, “Bawakan padaku wadah yang masih basah.” Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudhu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat Abdullah bin Mas’ud pun mereguk sepuas-puasnya.
Dan sahabat Billa bin Rabbah mengumandangkan iqomat: Qad qamatish shalah, qad qamatish shalah…
Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anam. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku laksana taburan mutiara.
Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.
Kudengar kau berkata, “Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?”
Kami jawab serempak, “Malaikat, ya Rasulallah.”
“Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?” jawabmu.
“Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah.”
“Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?”
“Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah.”
“Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.”
Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Air yang mengalir dari jemarimu tadi, dan sempurnanya kitab suci Al-quran yg diturunkan kepadamu adalah mukjizat terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tidak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?
Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kau puji itu, ya Rasulallah? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak:
“Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku.”
Kami terkejut. “Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?”
Kau menjawab, “Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka (QS. Al-Baqarah; 3)”.
Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata dengan tatapan mata yang sayu dan setitik airmata yang jatuh, “Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku.”
Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah…
Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, “Barangsiapa yang datang kepadaku dengan membawa shalawat kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat.”
Ya wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah.
Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah.
Yaa Rasulullah, engkau mencintai kami semua padahal kami adalah umatmu yang datang setelah 1400 tahun engkau tiada. Engkau menganggap kami adalah saudaramu-saudaramu padahal engkau tidak pernah melihat kami sebelumnya, sehingga para sahabatmu mencemburui kami.
Padahal siapalah kami ya Rasulullah..?? kami hanyalah umatmu akhir zaman yg kadang sering lalai dari sunahmu. kami hanyalah umatmu yang sering bermaksiat kepada Allah dan sering mengabaikan sunah-sunahmu.
Tetapi menjelang detik-detik sepeninggalmu engkau masih sanggup berkata," ummatii..ummatii..ummatii..."!.
Yaa Rasul, betapa engkau mencintai kami melebihi dirimu sendiri. Betapa engkau mengasihi kami lebih dari seorang ibu menyayangi anak kandungnya. Padahal engkau tidak pernah melihat kami seorangpun.
Lalu, pantaskah diri ini..
Pantaskah diri ini..
Pantaskah diri ini menerima syafaatmu..???
Pantaskah diri ini minum di telagamu kelak..??
Pantaskah diri ini menjadi tetanggamu di surga..??
Pantaskah diri ini kau sebut saudaramu..??
Ya rasulullah, subuh ini akan menjadi subuh terindah disepanjang hariku..!
Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam
http://www.facebook.com/note.php?note_id=160571077304881&id=137365446278178&ref=mf
Langganan:
Postingan (Atom)
