Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Sabtu, 12 Maret 2011

Kisah Inspiratif bag:3 { ketika cinta-NYA, tiada tertandingi}


Kedatangan Zanimra
Ali berkuda dengan riang menuju hutan, pertemuannya dengan Raja semalam diluar dugaannya. Semula dia merasa khawatir jika Raja bukanlah raja yang bijak. Tapi ternyata Raja adalah seorang raja yang patut dikagumi ayahnya selama ini. Pikirannya melayang kepada kekasihnya Zanimra yang sebentar lagi akan datang. Pagi ini dia telah menerima surat kilat yang mengabarkan Zanimra akan datang. Sekilah terlintas bayangan Putri Aelia, sungguh dia wanita yang luar biasa kecantikannya dan baik budi pekertinya, tapi Ali tidak pernah tertarik pada kecantikan paras wanita. Ada sesuatu pada diri Zanimra yang tidak dimiliki sang putri.
Ali tersentak dari lamunanya ketika dia melihat serombongan tandu menghadang jalannya. Kereta Putri Aelia yang gemerlap berdiri dengan anggun dihadappannya, kemudian sosok cantik yang menyilaikan mata itupun turun dengan langkah yang hampir melayang seperti peri.
“Salaam ya Ali,”
“Walaikum salam Putri,” jawabnya tenang.
Putri melihat tajam ke arah Ali, lagi-lagi pemuda itu menundukkan pandangannya.
“Hai Ali, kau tidak memiliki janji saat ini bukan? Sudikah kau menghormatiku dengan turun dari kudamu?” Dengan sekali anggukan Ali turun dari kudanya dengan mata tetap menunduk.
“Terima kasi Ali, aku ingin bertanya kepadamu, pernahkah sekalipun kau melihat wajahku?”
“Duhai tuan Putri, sungguh wajahmu telah terkenal akan kecantikannya.”
“Aku tidak bertanya tentang apa yang kau pernah dengar, aku bertanya apakah kau pernah melihat wajahku?”
“Pernah.”
“Pernahkan sedekat ini?” Tiba-tiba Putri telah berdiri sagat dekat dengan Ali, keharuman tubuhnya merebak sangan kuat dan memabukkan siapapun yang menciumnya. Ali dengan sigap mengambil langkah mundur, tapi tertahan ketika Putri menangkap tangannya.
“Ali, sekarang kau melihatku!” Putri membungkukan dirinya dengan wajah menengadah tepat di depan mata Ali yang tertunduk. Sungguh kecantikan yang luar biasa terpampang dihadapan Ali. Kemerduan tawanya sangar renyah dan menggemaskan. Tapi hal itu malah membuat Ali merasa geram. Menyadari posisi Raja yang dihormatinya, Ali menahan kegeramannya. Dengan sopan Ali melepaskan genggaman tangan Putri Aelia dan melangkah mundur.
“Maaf Putri, sungguh putri memiliki kecantikan yang luar biasa. Jadikanlah ia berkah Allah bagimu dan jangan jadikan kecantikan itu bencana bagimu. Sesungguhnya syaitan amat licik dalam membuat tipu daya, dan kecantikan wanita adalah salah satu senjata terampuh bagi mereka.”
“Ah Ali, aku tak merasa beruntung dengan kecantikan ini, karena dengan kecantikan yang kumiliki inipun tak mampu mendapatkan apa yang paling aku mau, yaitu dirimu!”
“Demi Allah wahai Putri, sungguh kecantikanmu tak semua orang memilikinya, sungguh itu adalah berkah dari Allah jika Putri bersyukur.”
“Ali!…Ali…tak tahukan betapa pedih rasa cinta yang kurasakan untukmu? Jika aku buruk kau mau mencintaiku, maka aku rela untuk menjadi buruk bagimu!”
Ali menghela nafas panjang, ia tahu apapun yang akan dia katakan hanya akan membuat Putri semakin galau. Ali hanya berkata lirih.
“Maafkan saya duhai Putri, sungguh saya telah terikat sumpah, maka saya tak
akan mengingkarinya.”
“Yah aku tahu, sumpah pada seorang gadis. Sungguh Ali, jika dia tidak melebihi aku, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu. Tapi jika kau bisa meyakinkan aku bahwa dia lebih baik dariku, aku akan rela melepaskanmu!”
“Saya tahu janji saya pada Raja, dan saya akan menepatinya.”
“Oh Ali, ijinkan aku bersamamu sebelum dia datang… ijinkan aku berada disekelilingmu, berkuda bersamamu, apapun yang kau lakukan.”
“Maaf Putri, sumpah saya adalah sumpah atas nama Allah, sebagaimana saya tidak akan rela jika kekasih saya menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, begitupun dia tidak akan bahagia jika saya berbuat demikian.”
“Ah Ali, mengapa begitu kejam dirimu padaku?”
“Sesungguhnya aku hanya bersikap yang semestinya Putri.”
“Aku tahu Ali, aku hanya mengujimu. Ternyata memang kau seperti apa yang aku harapkan! Ini membuatku semakin menginginkanmu Ali. Aku akan berjuang demi dirimu Ali!” Putri lalu berbalik menuju keretanya. Beberapa langkah kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Ali lagi,
“Ali, apakah kau pikir aku bertabiat buruk?”
“Saya banyak mendengar tentang Putri, sungguh Putri adalah seorang Putri yang dicintai rakyatnya. Jadi tidak mungkin Putri bertabiat buruk.” Jawaban Ali membuat Putri Aelia tersenyum pilu, lanjutnya lagi dengan lirih,
“Jika kau belum bertemu gadis itu, apakah kau akan menerima pinanganku?”
“Demi kebaikan Raja dan kerajaan ini, insyaallah Putri.”
“Mengapa kau tak pernah sekalipun datang padaku sebelum kau bertemu gadis itu Ali?”
“Jikapun saya menemui dirimu, bukan berarti pada saat itu Putri akan berhasrat pada saya, boleh jadi pada saat itupun Putri akan menolak saya.”
“Sungguh pandai kau bersilat lidah Ali! Aku semakin kagum padamu. Katakan Ali, aku tahu kau begitu percaya akan kekasihmu, tapi bagaimana jika dia melanggar janjinya padamu?” Dengan tenang Ali menjawab,
“Na udzubillah, aku berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. Tapi jika Allah berkehendak demikian, maka itu adalah urusan Allah dengan dirinya. Dan hidupku kupasrahkan sepenuhnya di tangan Allah.”
“Aku masih tak mengerti, apa yang membuat kau terpaku pada gadis itu.” Gumam Putri Aelia.
Putri menaiki keretanya dan berlalu. Ali menghela nafas dengan lega, dia beristigfar untuk beberapa saat mengingat kejadian singkat denga putri. Sebagai laki-laki sungguh kecantikan dan keharuman tubuh Putri Aelia sangat memabukkan, tapi rasa mabuk itu bagi Ali tidak lebih dari harumnya bau arak, semakin harum dan memabukkan semakin ia menjauhinya. Sungguh desakan Putri Aelia membuatnya gusar, tapi beberapa saat kemudia dia teringat akan kedatangan Zanimra, bayangan kekasihnya itu menyejukkan hati Ali seketika. Kecintaannya pada Zanimra bagi Ali adalah kecintaan yang menyejukkan jiwanya, kecintaan kepada wanita seperti Putri Aelia baginya adalah kecintaan yang memabukkan jiwanya. Ali menyadari bahwa tak semua orang akan mengerti jalan pikirannya, tapi dia tidak perduli, dengan tangkas Ali menaiki kudanya lalu melaju dengan pesat meninggalkan tempat itu, dalam hati dia berkeras tak akan mengunjungi hutan itu lagi selama Putri masih berada disana.
*****
“Assalammualaikum.” Abdullah dikejutkan oleh kemerduan suara seorang wanita dari belakangnya, “Walaikum salam.” Jawabnya bersemangat. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok anaknya Ali yang berdiri dengan seorang wanita disebelahnya dan seorang lelaki paruh baya.
“Zanimra, putriku! Selamat datang!” sambutnya riang. Untuk beberapa saat Abdullah memperhatikan Zanimra, kecantikan Zanimra sungguh biasa-biasa saja dan jauh dibandingkan dengan kencantikan Putri Aelia. Tubuhnya kecil dan tidak terlalu tinggi. Pakaiannya sederhana dan rapi, tapi tak satupun dari diri Zanimra yang bercahaya dan memukau pandangan. Hanya saja Zanimra tampak lebih muda dibanding Putri Aelia, mungkin karena tubuhnya yang kecil. Abdullah menyadari bahwa ukuran tubuh penduduk Madagashphur memang kecil.
“Terima kasih Tuan Abdullah, sangat senang saya berada disini. Sudah banyak sekali Ali bercerita tentang Anda. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berkunjung.”
“Ayah, ini calon menantumu bersama Pamannya Nagosh Abdurrahman.” Kemudian Abdullah merangkul paman Zanimra
“Selamat datang sahabatku Nagosh Abdurrahman, sungguh suatu kehormatan bertemu kalian.” Paman Zanimra membalas pelukan Abdullah dengan ramah tapi tak bersuara sedikitpun.
“Maaf Tuan, Paman saya tidak dapat berbicara, tapi dia bisa mendengar.” Kata Zanimra kemudian. Abdullah melepaskan pelukannya lalu mempersilahkan semuanya duduk. “Ah maaf jika begitu, silahkan duduk, kalian pasti sangat lelah…”
“Terima kasih.” Sahut Zanimra lembut.
“Ah yaaah, aku merasa senang ketika mengetahui akhirnya Ali menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh hati! Sungguh aku pikir hanya wanita yang luar biasa sajalah yang mampu meluruhkan hati Ali! Sungguh sahabatku Nagosh, keponakanmu ini membuat kerajaan ini geger.” Nagosh tertawa mendengar ucapan Abdullah yang dikiranya hanya sebagai lelucon.
“Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah.” Jawab Zanimra tersipu segan, Abdullah terhenyak melihat mimik wajah Zanimra dan reaksinya yang sama persis seperti Ali jika dia menerima pujian.
“Sungguh aneh Ali, aku seperti melihat dirimu dalam sosok wanita pada Zanimra!” Ali tertawa kencang mendengar kalimat jujur ayahnya sedangkan Zanimra hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba Zanimra membisikan sesuatu pada Ali lalu Ali tersenyum.
“Maaf Ayah, Zanimra takut jika dia tidak sopan, tetapi ini sudah waktunya shalat dan dia belum sempat membersihkan diri dari perjalanan jauhnya.”
“Ah! Bodohnya Abdullah,” Jawab Abdullah memaki dirinya sendiri.
“Aku yang tidak sopan wahai putriku! Aku tahu kau pasti sangat lelah dan memang ini sudah waktunya shalat. Baik- baik…bersihkan dirimu dan kita shalat bersama.”
“Insyaallah Tuan Abdullah, terima kasih banyak, Anda benar-benar Tuan rumah yang sangat menyenangkan.”
“Ah Zanimra! Berhenti memanggilku Tuan! Panggil aku Ayah!”
“Baiklah Ayah, dengan senang hati. Saya permisi dulu.”
“Ya, aku akan tunggu kalian di Mushalah.” Abdullah tidak melepaskan pandangan dari Zanimra dan anaknya sewaktu mereka berjalan meninggalkannya. Semula ia merasa kecewa dengan perawakan Zanimra yang biasa saja, tapi setelah berbicara dengan gadis itu, Abdullah merasakan sesuatu yang berbeda dan sangat kuat, seperti yang selalu ia rasakan bila bersama anaknya. Zanimra adalah bentuk lain dari Ali! Sebagai ayah kini ia mengerti mengapa Ali memilih Zanimra, tapi apakah Raja dan Putri akan memahami apa yang dia rasakan?
Hari itu berlalu dengan riang hingga tibalah malam, Abdullah melihat gairah hidup pada mata anaknya. Gairah hidup yang tak pernah dia temukan selama dia mengenal Ali. Abdullah dapat menangkap keyakinan Ali pada Zanimra dan hal sama pada sebaliknya, kekuatan hubungan batin kedua insan didepannya dijalin oleh sesuatu ikatan kuat. Abdullah melihat keindahan yang manis dari jalinan cinta anaknya, tapi Abdullah juga menyadari, tak semua orang mampu memahaminya. Semakin lama dia melihat Zanimra dan Ali, Abdullah semakin merasa lapang dan damai. Waktu makan malampun tiba, tetapi sayangnya Nagosh harus menghabiskan waktu di tempat tidur karena kelelahan. Ditengah kehangatan makan malam tiba-tiba seorang pelayan masuk dengat tergesa.
“Maaf Tuan, Putri Aelia datang berkunjung.” Abdullah dan Ali terhenyak. Ali tak ingin memberitakan perihal Putri Aelia pada Zanimra melalui surat, tapi karena begitu bahagia Ali lupa untuk memberitahu Zanimra pada hari itu. Lagipula kedatangan Putri Aelia sungguh diluar dugaan.
“Kami akan menjemputnya di ruang utama.” Jawab Abdullah singkat, pelayan itu bergegas kembali keruang utama.
“Putri Aelia, Putri yang terkenal dengan kecantikannya itu datang? Subhanallah, kecantikan seperti apakah yang Allah limpahkan padanya hingga namanya terucap disetiap bibir laki-laki diseluruh dunia?” ujar Zanimra dengan penuh rasa keingin tahuan.
“Mari anak-anakku, kita sambut tamu agung kita terlebih dahulu.”
Lalu ketiganya beranjak dari kursi makan mereka. Sewaktu memasuki ruang tamu utama langkah Zanimra terhenti. Matanya begitu silau seperti melihat bidadar. Ali menyadari keterpanaan kekasihnya, sedangkan Abdullah yang berjalan didepannya terus menyambut Putri dengan ramah. Zanimra menoleh pada Ali lalu berbisik,
“Subhanallah wahai kekasihku, demi Allah dia begitu elok rupanya dan merdu suaranya. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan ciptaan yang berdiri didepanku ini.”
Mendengar kekaguman Ali berbisik ketelinga kekasihnya,
“Ya Zanimra, sungguh kecantikan yang kau miliki lebih memikat hatiku daripada seribu kecantikan paras wanita yang kau kagumi itu. Kutahu kau mengerti benar akan maksudku.” Zanimra tersenyum simpul lalu menjawab, “Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya. Aku mengenalmu wahai Ali seperti engkau mengenalku, aku percaya padamu Ali seperti engkau percaya padaku. Aku hanya mengagumi kebesaran Allah yang terlihat didepan mataku.”
Ali dan Zanimra tidak menyadari keakrabannya menjadi sorotan tajam Putri Aelia, Abdullah yang melihat hal tersebut mencoba mencairkan kebekuan sikap Putri.
“Ah Putri Aelia, mari aku perkenalkan tamu terhormatku Zanimra.”
Zanimra dan Ali tersadar lalu dengan tersipu Zanimra mendekati sang Putri dan menghulurkan tangannya.
“Assalammualaikum Putri Aelia, subhanallah sungguh senang bertemu dengan Anda.”
“Walaikum salam Zanimra, senang juga bertemu denganmu. Kami tidak sabar menunggu kehadiranmu diistana.” Zanimra tertegun mendengar perkataan putri.
“Istana?”
“Ah, jadi Paman Abdullah dan Ali belum memberi kabar padamu bahwa Raja mengundangmu untuk tinggal diistana?”
“Maaf Putri, Zanimra baru saja datang hari ini, belum sempat kami mengabarkan apapun tentang undangan Raja.” Jawab Abdullah menengahi, lalu ia melanjutkan,
“Tuan Putri, jika tidak berkeberatan, kami hendak memulai makan malam. Apakah Putri berkenan bergabung bersama kami?”
“Ah maafkan aku mengganggu makan malam kalian, tentu saja aku merasa terhormat menerima tawarnmu Paman.”
“Kehormatan berada pada kami Putri Aelia.” Putri menyadari bahwa kecantikannya jauh diatas Zanimra, dengan sengaja dia menjajari Zanimra dengan ramah dan mengajaknya berjalan didepan Ali. Abdullah tahu perilaku ramah itu hanya siasat Putri untuk membuat Ali melihat perbandingan kecantikan kedua gadis itu. Abdullah melirik anaknya yang sedang tersenyum geli, tak ayal Abdullahpun ikut tersenyum geli. Putri belum juga memahami bahwa apa yang dilihat Ali bukanlah kecantikan paras Zanimra. Dalam jamuan makan pembicaraanpun berlanjut.
“Bagaimana menurutmu tentang kerajaan kami Zanimra?”
“Alhamdulillah kerajaan ini sangat menyenangkan, dari pelabuhan yang sangat tertib sudah mencerminkan betapa baiknya ketata negaraan kerajaan ini.”
“Hmmm… apakah kau pikir kerajaan ini aman?”
“Inshyaallah. Alhamdulillah, kerajaan ini adalah negri yang sangat makmur, sebuah kerajaan hanya bisa mencapai kemakmuran seperti kerajaan ini jika keamaan terjaga baik didalamnya Putri. Tapi selain dari hal itu, saya sering mendengar bahwa Putri Aelia memiliki kesenangan menjelajah hutan dengan sedikit pengawal dan dayang. Dari kebiasaan tersebut tercermin betapa amannya kerajaan ini.”
“Ah, jadi kau tahu beberapa hal mengenai diriku?”
“Insyaallah, Putri Aelia…alhamdulillah, Anda sangat terkenal dengan keelokan rupanya. Saya belajar banyak tentang negara ini dari Ali.”
“Oh? Ali pernah berbicara perihal diriku padamu?”
“Ya, dia berkata bahwa Putri adalah Bulan dari Andimarsedonia.”
“Zanimra, apa menurutmu tentang diriku sekarang setelah kau bertemu denganku?”
“Maha Besar Allah, kecantikan Putri jauh lebih daripada yang saya bayangkan.”
“Apa menurutmu laki-laki yang menikah denganku aku bahagia?”
Zanimra terdiam sesaat,
“Putri terkenal dengan kebaikannya diseluruh negri, kecantikannya juga tak terperi. Insyaallah barang siapa yang menikahi putri akan bahagia.”
“Apakah kau ikhlas jika orang yang kau sayangi mendapatkan wanita seperti aku?” Zanimra tersenyum lalu dengan perlahan dia menjawab.
“Demi Allah, jika kecantikan akhlak Putri sebaik kecantikan paras Putri, laki-laki manapun dibumi akan sangat beruntung. Jika orang yang saya sayangi mendapatkan yang demikian, maka saya ikhlas.” Lalu putri menoleh pada Ali dengan tajam,
“Ah! Kau dengar itu Ali? Zanimra rela dan ikhlas jika memang aku lebih baik darinya!” Zanimra tertegun mendengar kalimat Putri Aelia, sedangkan Ali tersenyum dengan penuh keyakinan dan melancarkan pandangan tepat pada mata Putri. Putri tersentak gugup ketika menangkap tatapan tajam Ali yang sungguh diluar dugaan. Putri Aelia dapat mengangkap keyakianan luar biasa di mata Ali pada Zanimra.
“Ah Paman, putramu ini sungguh menyiksaku!” Katanya singkat pada Abdullah. Zanimra yang masih gamang terhadap situasi itu hanya diam seribu bahasa. Abdullah hanya terdiam menahan senyum. Abdullah merasa kagum pada putranya.
“Paman, terima kasih atas makan malamnya, saya rasa hari sudah larut. Sebaiknya saya mohon pamit.” Ucap Putri kemudian dengan lembut dan sopan berusaha menutupi kekacauan dihatinya. Ingin sekali Putri berteriak pada Zanimra bahwa ia mencintai Ali, tapi ia tahu ini bukan saatnya. Dengan berwibawa dan anggun Putri kemudian bertitah,
“ Zanimra, kakakku menunggu kedatanganmu segera.”
“Terima kasih Putri, entah karena apa saya mendapat kehormatan dengan undangan Raja ini. Saya menerimanya dengan senang hati, insyaallah saya akan bersedia.”
“Paman, berangkatlah dengan Zanimra bersama rombonganku besok pagi.”
“Baik Putri Aelia. Tapi Ali akan berangkat lusa karena saya memiliki tugas penting yang harus dia kerjakan besok.” Jawab Abdullah.
“Oh Ali! Kau akan membiarkan Zanimra bersama kami sendirian?”
“Putri, Zanimra bersama ayah saya, isnyaallah saya akan datang keesokan harinya.” Jawab Ali tenang.
“Baiklah, sekali lagi terima kasih dan selamat malam.”
Abdullah, Ali dan Zanimra melepas Putri Aelia, setelah kereta putri tidak terlihat lagi Abdullah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ali hanya tersenyum geli. Zanimra hanya memandang keheranan. Ada banyak pertanyaan dalam otaknya, dengan akrab Abdullah merangkul pundak Zanimra, sambil memasuki ruang duduk Abdullah mulai berbicara.
“Ah putriku Zanimra yang manis, pasti kami telah membuatmu kebingungan dengan kehadiran Putri Aelia dan undangannya itu. Maafkan kami!”
Abdullah duduk di kursi besarnya, Ali dan Zanimra duduk dikursi panjang yang berhadapan dengan Abdullah.
“Baiklah Ali, sebaiknya kau ceritakan apa yang telah terjadi pada putri manisku ini.” Dengan pelan dan hati-hati Ali menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi antara dia dan Putri Aelia. Zanimra mendengarkannya dengan takjub, tapi tak nampak sedikitpun perasaan galau atau gusar dimatanya. Setelah selesai mendengarkan cerita Ali Zanimrapun tersenyum kaku.
“Masyaallah, sungguh diluar dugaanku! Ternyata wanita secantik bidadari itu menyatakan perang dengan diriku?” Mendengar ucapan polos Zanimra Ali dan ayahnya tertawa.
“Zanimra, aku tak mengenalmu sejauh Ali mengenalmu. Aku minta kau jujur padaku, katakan apa pendapatmu tentang masalah ini?”
“Ayah, apalah arti dunia? Ketidak kekalan. Apa yang terjadi didunia ini hanyalah bagian dari dunia itu sendiri. Dan bagi Ali dan aku, bukanlah dunia tujuan akhir kami. Aku percaya pada Ali, tapi terlepas dari itu, aku percaya pada Allah diatas segala sesuatu. Maka tenanglah selalu hatiku.”
“Ha ha ha! Putri manisku Zanimra, sungguh aku akan dengar hal yang sama dari mulut putraku. Demi Allah jika urusan Raja dan Putri ini selasai, akan kunikahkan kalian segera!”
“Alhamdulillah, Insyaallah Ayah.” Jawab keduanya dengan tersipu.
“Hemh, aku hanya berharap Putri akan memahami cara pandang kalian. Pada Raja aku optimis dia akan mengerti, tapi Putri Aelia…..aku tak tahu.” Abdullah menggelengkan kepalanya sambil melenguh…
“Ayah, tenanglah… percayalah pada Zanimra.”
“Ha ha ha, yah aku percaya sebesar rasa percayamu padanya, Ali, Aku akan tinggalkan kalian berdua. Sungguh kalian tak sempat melepas rindu, apalagi besok pagi kita harus keistana Zanimra.” Abdullah meninggalkan kedua insan itu, Ali lalu memanggil seorang dayang terdekatnya untuk menemani mereka berbincang-bincang.
“Bibi Alima, kau mengasuhku sedari kecil dan mengenalku seperti ibuku sendiri, tolong jaga kami berdua karena sungguh tidak baik jika kami hanya berdua karena syaitanlah ketiganya, jika kita bertiga Allahlah ke-empatnya.” Dayang itu tersenyum lalu duduk diam dipojok ruangan yang sama. Ujar Ali kepada dayangnya, lalu dia mendekati Zanimra.
“Wahai kesejukan jiwaku Zanimra, sungguh aku rindu akan dirimu.”
“Demi Allah, akupun rindu, tapi jarak yang memisahkan kita adalah hijab yang sangat baik bagi kita Ali.”
“Yah akupun setuju, sungguh aku ingin segera menikahimu sewaktu aku datang menemui ayah. Dan kau tau tujuanku itu. Diluar dugaan dan kuasaku Putri bertemu denganku dan membuat hambatan ini.”
“Allah hendak mencoba kesabaran kita, dan hanya orang yang bersabar yang berhak mendapatkan tempat kembali yang baik.”
“Kau benar Zanimra, ini mungkin ujian bagi kita, atau mungkin pula teguran bagi kita. Sungguh aku selalu beristighfar memohon ampunan Allah dari kesalahanku dan dirimu.”
“Aku juga berpikir demikian, sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Bijaksana, kita percaya pada-Nya, apapun yang telah dan akan terjadi adalah demi kebaikan kita juga. Sungguh aku takut akan murka Allah padaku.” Ucap Zanimra lirih.
“Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita. Aku percaya padamu Zanimra. Percayalah padaku, hatiku tak akan goyah karena kecantikan atau kekayaan Putri itu.”
“Wahai Ali, aku percaya padamu, jika kau tak benar-benar mencintaiku maka tak akan berani kau bersumpah padaku atas nama Allah.” Lalu keduanya tersenyum geli mengingat semua yang terjadi, lama kelamaan senyum mereka pecah menjadi tawa yang riang.
“Aku benar-benar tak tahu apa rencana Raja padamu Zanimra, berhati-hatilah.”
“Relakah jika kau harus keluar dari negri ini selama-lamanya Ali?”
“Dunia…apalah artinya dunia Zanimra?” kembali keduanya tersenyum.
Dayang Alima yang sedari tadi memperhatikan menggelengkan kepalanya dengan kagum pada pasangan majikannya itu. Dia dapat mendengar semua pembicaraan majikannya karena memang majikannya tak ingin ada fitnah atau aib yang muncul.
“Baiklah, sebaiknya kau tidur Zanimra, aku harus lebih bersabar dengan kerinduanku padamu.”
“Ya Ali, demikian halnya sama denganku. Kita memang harus lebih bersabar.”
Ali mengantarkan Zanimra ke kamarnya diikuti Alima, lalu dia bergegas kekamarnya sendiri penuh senyuman bahagia dan syukur.
Pengakuan Abdullah
Pagi menjelang tanpa terasa, Abdullah tergopoh-gopoh menuju keretanya diikuti Zanimra dan Ali. Tiba saatnya ujian bagi mereka yang datang dari Raja. Zanimra telah menunggu bersama Ali dipintu kereta kuda, Nagosh yang masih kelelahan tidak dapat menemani Zanimra keistana, sehingga Zanimra harus pergi sendiri.
“Ayah, aku titip Zanimra padamu.”
“Ali, apakah kau tak melihat? Zanimra terlihat jauh lebih tenang daripada aku. Aku rasa dia yang malah akan menjagaku nantinya,” gurau Abdullah menggoda Ali. Zanimra hanya tersenyum simpul.
“Insyaallah Ya Ayahku,” Sambut Ali dengan tawa. Abdullah masuk kedalam kereta kudanya terlebih dahulu.
“Hati-hatilh Penyejuk mataku,” bisik Ali lirih pada kekasihnya.
“Kau juga, semoga Allah selalu bersama kita, amin.”
“Amin, assalammualaikum.”
“Walaikum salam.”
Keretapun berlalu, Ali amat pasrah kepada Allah akan nasib kekasihnya. Ali berdoa semoga Allah menjaga hati Raja dari godaan syaitan sehingga dapat melihat kelebihan Zanimra yang sesungguhnya.
Didalam kereta Abdullah diam-diam memperhatikan Zanimra yang sedang sibuk memperhatikan sekelilingnya sepanjang perjalanan. Dia menangkap expresi wajah Zanimra yang sering berubah.
“Hai Zanimra, apa yang sedang kau pikirkan? Sedari tadi aku perhatikan, reaksi wajahmu selalu berubah. Kadang kau tersenyum, lalu termenung sedih dan mulutmu selalu bergerak.”
“Ah maaf Ayah, sudah menjadi kebiasaanku yang sulit hilang. Aku mengerti, Ayah bukan satu-satunya orang yang bertanya. Baiklah, semoga penjelasanku akan menyingkirkan prasangka buruk.” Zanimra meluruskan duduknya yang sedari tadi dimiringkan menghadap jendela. Sama seperti Ali, jika dia berbicara pada orang, dia selalu dengan penuh menghadapkan tubuh dan pandangannya pada orang yang diajaknya bicara.
“Ayah, Ini adalah kali pertama aku di kerajaan ini. Tak sedikitpun aku ingin membuang kesempatan dalam perjalanan ini untuk memperhatikan segala sesuatu yang terjadi disepanjang jalan yang kulalui. Tak pernahkan Paman memperhatikan, bahwa banyak sekali adegan kehidupan nyata yang secara sekilas yang kita lewati dapat menjadi pelajaran bagi kita?”
“Hm, aku mulai tertarik. Lanjutkan.”
“Banyak Ayat dalam Al-Qur’an yang memperingati tentang banyak kejadian dimuka bumi ini, dan sebagian besar dari peringatan itu akan diikuti dengan kalimat…”… Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. Lalu banyak juga ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi, ‘…sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi telah tertulis dalam kitab Allah.’
Dari ayat-ayat tersebut, kita dapat mengambil makna global, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini, bahkan perjalanan yang kita lakukan ini telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Agung, Allah. Bahkan jatuhnya selembar daun dari pohonnya juga sudah merencanakan rencana tertulis dari Allah. Tidak satupun yang kita anggap sebagai kebetulan diluar dari rencana dan diluar dari pengetahuan Allah. Dan sungguh sangat banyak ayat dalam Al Qur’an yang meminta kita untuk berfikir. Berfikir itu dapat mematahkan sihir, insyaallah.”
Abdullah tersenyum, semangat yang dipancarkan mata Zanimra membiaskan rasa kecintaan yang dalam pada apa yang sedang ia utarakan.
“Ya Zanimra, kau benar.”
“Alhamdulillah, Ayah tuaku yang bijak, apakah tidak akan menarik hatimu untuk melihat mencari petunjuk Allah dan mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang terjadi disepanjang jalan ini?”
Abdullah termenung, sungguh Zanimra lain dari kebanyakan gadis yang pernah dia temui selama ini. Bagi kebanyakan orang, kejadian sekelilingnya hanyalah kegiatan sehari-hari dan mereka tak akan memperhatikan hal-hal itu seperti Zanimra.
“Sungguh menarik apa kata-katamu itu Zanimra, kalau begitu katakan padaku, apa yang sejauh ini kau dapatkan dari balik jendela kereta ini? Kulihat kau tersenyum, apa yang membuatmu tersenyum?”
“Entah kejadian mana yang pasti yang dimaksud ayah, ada beberapa kejadian yang membuatku tersenyum. Tapi ada satu kejadian yang paling membuatku terharu. Dipersimpangan pertama memasuki gerbang kota kita berhenti beberapa waktu untuk memperbaiki roda depan yang rusak. Ada seorang pemuda yang tiba-tiba berhenti ditengah jalan lalu menjatukhan tas besar bawaannya tepat didepan sebuah kereta yang darang dari arah berlawanan. Kusir kereta kebingungan karena tiba-tiba pemuda itu berlari ketepi jalan yang semula dengan meninggalkan tas besarnya. Ternyata seorang kakek sangat renta dengan tongkatnya melambai-lambai ingin ikut menyeberang. Lalu lintas kota ini memang tak terlalu ramai, tapi untuk kakek yang jalannya sangat lambat, jalan kereta yang lambatpun akan membuat lututnya kelu. Pemuda itu menghampiri kakek itu lalu menggendongnya dibelakang, lalu ia lari lagi mengambil tas besarnya dan karena beban bertambah, akhirnya dia berjalan menyeberang sambil minta maaf dan berterima kasih pada sang kusir.”
“Ah, tapi mengapa pemuda itu mempertaruhkan tas besarnya dengan resiko digilas kusir kereta atau dibuang ketepi oleh sikusir. Mengapa dia tidak kembali ketepi jalan lalu menunggu bersama si kakek hingga kereta itu lewat saja?”
“Aku juga sempat berpikir demikian ayah, sewaktu pemuda itu lari menjemput si kakek aku melihat keseberang jalan yang hendak mereka tuju, ternyata disana telah menunggu sebuah perahu angkutan yang akan berjalan. Pemuda itu tak ingin ditinggalkan perahu angkutan itu dan juga tak ingin membiarkan kakek itu. Seperti dugaan pemuda itu, kakek itupun sedang mengejar perahu yang sama.”
“Ha ha ha! Ternyata si tua Abdullah ini mendapat pelajaran dari seorang gadis belia sepertimu hai Zanimra, sangat menarik! Kurasa mulai sekarang aku akan lebih banyak memperhatikan jalan daripada tidur dalam kereta, ha ha ha….” Lalu Abdullah berbicara serius,
“Apakah kau ingat wajah pemuda itu Zanimra?”
“Sungguh Ayah , aku memiliki kekurangan dalam mengingat wajah orang. Maafkan aku. Tapi aku rasa aku akan ingat si kakek tua itu.”
“Ah kurasa itu sudah cukup, aku sedang mencari kurir yang bisa kupercaya. Kurasa pemuda itu cocok, ah Zanimra, jika saja aku melakukan apa yang kau lakukan, niscaya aku sudah memiliki seorang pegawai yang cakap dan berbudi!”
“Semoga kita berjodoh untuk bertemu dengannya lagi Ayah, insyaallah.”
“Insyaallah, lalu adegan seperti apa yang membuatmu sedih Zanimra?”
“Segala sesuatu yang membuat Allah murka dan benci adalah hal yang membuatku sangat takut dan sedih Ayah.” Air muka Zanimra yang semula ceria berubah dengan drastisnya.
“Sungguh Ayah, banyak sekali manusia yang lupa akan Penciptanya. Itu yang membuatku amat takut dan sedih. Aku sedih akan nasib mereka di hari akhir nanti, tapi terlabih aku takut jika aku menjadi salah satu dari mereka.
Ketika aku memasuki keramaian kota, aku lihat hal seperti itu. Aku tahu kerajaan ini adalah negri yang sangat makmur. Karen kemakmuran itulah kulihat banyak ke-alpaan yang manusia lakukan. Aku banyak melihat laki-laki yang memakai pakaian dan jubah terbuat dari sutra penuh, sungguh Rasulullah pernah bersabda, tidak akan memakai sutra di surga bagi laki-laki yang memakai sutra lebih dari selebar ini,” ujar Zanimra memperlihatkan selendang kecilnya. Abdullah mengangguk setuju.
“Kerajaan ini adalah kerajaan dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tapi yang kulihat didalam kota banyak wanita yang mempertontonkan kecantikannya dan mencabut alisnya… Ah Ayah, sungguh itu membuatku ngeri, Rasulullah bersabda, “Laknatullah…. Laknat Allah …bagi wanita yang menyukur alisnya. Betapa pedih murka Allah, terlebih lagi ‘Laknat’ Allah.”
Abdullah sungguh terpana dengan tutur Zanimra selama ini. Segala keraguan dan rasa was-was didalam hatinya tentang nasib anaknya dan Zanimra hilang. Abdullah mengakui secara tulus, Putri Aelia sedang berhadapan dengan lawan yang amat sulit. Abdullah semakin mengerti akan perasaan Ali pada Zanimra dan mengapa tak sedetikpun Ali ragu akan keputusannya. Tapi walaupun Putri Aelia sangat cerdas, kebijakan hatinya yang belia masihlah berdiri dibalik dinding kecintaan pada dunia, seperti apa yang diucapkan Zanimra, banyak manusia yang melupakan Penciptanya.
“Masya Allah Zanimra, sungguh kau adalah pilihan dari Ali.”
“Alhamdulillah Ayah, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.”
Abdullah menahan pertanyaannya tentang bibir Zanimra yang terus bergerak, karena ia sudah tahu jawabannya. Meskipun semula Abdullah ingin memperingati Zanimra, karena dia sadar akan banyak orang berprasangka buruk tentang perilaku Zanimra di istana nanti. Abdullah merebahkan kepalanya dengan damai di sandaran kereta, dengan perlahan dia menggumam hingga tak terdengar oleh Zanimra.
“Ah putriku Zanimra, meskipun bulan cantik, tetapi saja tetap saja tak mampu mengalahkan cahaya matahari.”
Melihat Abdullah memejamkan mata, Zanimra kembali asyik dengan jendela keretanya. Tiba-tiba Abdullah berkata masih dengan mata terpejam,
“Zanimra, jadilah mataku saat ini dan ceritakan padaku hal-hal yang menarik yang kau nanti malam padaku.” Zanimra tersenyum, “Baik Ayah.”
Kereta Abdullah akhirnya tiba di istana peristirahatan Putri Aleia, dia telah menunggu disana. Putri Aelia bersikeras agar Abdullah dan Zanimra duduk satu kereta dengannya.
“Zanimra, bagaimana tidurmu malam ini?”
“Alhamdulillah, tidur saya nyenyak. Semoga Putri mengalami hal yang sama.”
“Masya Allah, belumkah Abdullah dan Ali bercerita padamu?” Tanya putri terheran mendengar jawaban Zanimra yang sangat tenang.
“Jika yang Putri maksudkan adalah lamaran Putri terhadap Ali, kami telah memberitahukan hal itu pada Zanimra.” Sahut Abdullah denan hormat. Putri Aelia merasa amat takjub, setelah mengetahui bahwa Zanimra tengah bersaing dengannya, tak sedikitpun ia menangkap kegusaran dimata Zanimra.
“Zanimra, apakah kau juga terbuat dari es seperti Ali?” ucapnya tanpa sadar, Abdullah yang mendengarnya tak mampu menahan tawanya. Sedangkan Zanimra hanya tersenyum manis.
“Mengapa tak terpancar sedikitpun rasa khawatir dirimu Zanimra? Apakah yang membuatmu sangat percaya diri?”
Zanimra menjawab dengan satu kata sambil tersenyum,
“Allah.” Abdullah diam-diam tertawa geli melihat kebingungan diwajah Putri Aelia, seperti dugaannya, Putri Aelia belum bisa memahami jalan pikiran Zanimra.
“Tidakkah kau takut atau benci pada diriku Zanimra?”
“Mengapa saya harus merasa demikian?”
“Karena aku ingin merebut Ali darimu.”
“Saya akui, kecantikan paras tuan Putri tak tertandingi. Tapi jika Putri benar-benar mengenal Ali, maka putri akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini.”
“Zanimra! Bukankah laki-laki dimuka bumi ini semua sama saja? Hiburan apalagikah dari wanita yang mereka dambakan selain dari kesempurnaan wajah, otak dan budi pekertinya? Seperti ucapanmu semalam, kau menilaiku sebagai wanita yang bertabiat baik dan terpelajar sepertimu. Apa yang membuatmu merasa tenang seperti itu, sedangkan aku memiliki beberapa kelebihan atasmu.”
“Putri Aelia yang bijak, bukankah karena Ali tidak seperti kebanyakan laki-laki dimuka bumi ini Putri menginginkannya?” tak ayal Abdullah merasa sakit perut karena begitu hebat dia mencoba menahan tawanya. Zanimra membalikan pertanyaan Putri Aelia dengan amat telak. Putri Aelia tampak salah tingkah dibuatnya.
“Sungguhkah kau seyakin itu bahwa Ali tak akan berubah pikiran, ingat kata-katamu semalam Zanimra, kau akan ikhlas jika orang yang kau kasihi memiliki yang lebih baik?”
“Baiklah Putri, bolehkah saya balik bertanya?”
“Silahkan.”
“Apakah Putri benar-benar mencintai Ali.”
“Jika tidak, aku tak akan memperjuangkan dia seperti ini.”
“Ya, dan Putri mencintai Ali karena dia laki-laki terhormat yang jujur dan baik bukan?”
“Benar adanya.”
“Apakah perasaan Putri akan berubah jika tiba-tiba wajah Ali rusak?”
“Tidak! Aku akan terus mencintainya.”
“Jika demikian, mengapa Putri begitu yakin Ali akan merubah cintanya hanya karena wajah dan tubuh saya tidak secantik Putri?” tenggorokan Putri Aelia tercekat, Abdullah sekuat tenaga untuk tidak tertawa melihat expresi wajah bidadari didepannya itu memerah semerah tomat segar.
Putri Aelia sadar akan posisinya, dia memilih untuk diam sebelum pertanyaannya membuat dia semakin kecil dihadapan Zanimra. Didalam hati Abdullah menyayangkan kondisi mental Putri yang kacau karena cintanya yang begitu membara pada Ali. Ketangkasan berpikir dan bersilat lidahnya menjadi kabur, Putri Aelia mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Yang membuat Zanimra dapat mematahkan setiap kalimat Putri Aelia hanyalah ketenangan dan keyakinan Zanimra yang begitu kuat sehingga pikirannya jernih. Abdullah mengenal Putri sejak kecil, kecerdasan intelektual Putri tak kalah dengan Zanimra, tapi pengendalian emosi dan keyakinan Putri masih jauh dibawah Zanimra. Akhirnya Putri memutuskan untuk berbincang-bincang dengan Abdullah tentang masalah-masalah kerajaan. Zanimra mendengarkan dengan penuh rasa tertarik.
Gadis Bertelanjang Kaki dan Perjanjiannya
Perjalanan menempuh waktu tiga perempat hari, di tengah perjalanan rombongan Putri beristirahat di tempat peristirahatan keluarga kerajaan yang terdapat dipinggir sebuah desa pertanian yang sangat rapi.
Begitu turun dari kereta, Putri Aelia disambut sangat hangat oleh penduduk setempat. Zanimra dapat melihat keramahan Putri bada rakyatnya. Dia tersenyum ketika Putri turun ketengah ladang sayur dan berbicara langsung dengan petani yang sedang bekerja disana. Sungguh sosoknya amat menyilaukan ditengah ladang itu.
“Ayah, desa ini kecil tapi sangat menarik,”
“Tentu saja, desa ini khusus dibangun sebagai tempat persinggahan bangsawan. Hasil pertanian disini juga diperuntukan bagi keluarga kerajaan.”
“Putri Aelia nampak seperti bidadari ditengah penduduk yang berkerumun itu.” Guman Zanimra.
“Hei Putriku, apakah kau kehilangan rasa percaya dirimu?”
“Masyaallah Ayah, bukan begitu. Hanya saja aku tak bisa berhenti mengagumi keindahan yang sedemikian rupa sampai aku tak bisa membayangkan bagaimanakah keindahan bidadari disyurga nanti. Jika seluruh penghuni syurga keindahannya dapat melebihi Putri Aelia, bagaimanakah keindahan syurga itu sendiri?… Terlebih lagi, bagaimanakah keindahan dari Dzat Penciptanya?……Sungguh aku gemetar jika membayangkannya….subhanallah….subhanallah…….” Abdullah tertegun, selama ini diapun mengagumi kecantikan Putri Aelia, tapi tak pernah dia berpikir sejauh Zanimra.
“Hem, bagaimana menurutmu sejauh ini tentang Putri Aelia?”
“Saya kagum akan kecerdasannya dibidang ketata negaraan, terlebih lagi sekarang ini, kecantikannya tidak membuatnya angkuh. Tak segan dia turun keladang untuk berbicara pada petani tentang tanaman-tanaman itu. Dia adalah Putri sejati, seorang wanita pemimpin yang baik. Sayang sekali dia sedang berjalan diatas pematang yang salah.”
“Pematang yang salah? Apa maksudmu?”
“Rasa cintanya Ayah, rasa cintanya yang dapat menghancurkan.” Guman Zanimra sedih.
“Sayang memang, dia mencintai Ali setelah Ali bertemu denganmu.”
“Bukan itu Ayah, jikapun dia mendapatkan Ali sebelum Ali bertemu denganku, cinta yang dimiliki putri tetap akan menghancurnya.” Abdullah mengangguk setuju.
“Apa yang akan kau lakukan Zanimra?”
“Semoga Allah memberikan aku kekuatan untuk menolongnya.”
“Amin.” Sahut Abdullah tulus. Sekarang dia benar-benar mengerti mengapa Ali begitu yakin akan kekasihnya ini.
Tiba-tiba sebuah bola menggelinding dikaki Zanimra, seorang anak perempuan melihat bola itu dengan malu-malu. Zanimra memungut bola itu dan menghampiri gadis kecil yang dibelakangnya berdiri segerombolan anak lainnya.
“Assalammualaikum, gadis cantik, apakah ini bolamu?”
“Walaikum salam, Iya itu bola saya.”
“Boleh aku bermain dengan kalian?” Anak itu terkejut, mendadak anak laki-laki dibelakang gadis cilik itu berkata lantang.
“Wah tidak adil nanti jadinya!”
“O? kenapa begitu?” tanya Zanimra menggoda.
“Tubuhmu lebih besar dari kami, kami pasti kalah.” Ujar anak laki-laku itu lagi.
“Hummm…… tapi aku pakai rok yang panjang, lariku tak dapat secepat kalian. Apakah itu masih tidak adil?” Gerombolan anak itu saling memandang untuk beberapa saat, kemudian tertawa kecil.
“Iyah, kakak larinya jadi pendek seperti kami!” canda anak-anak itu riang.
“Jadi…aku boleh ikut bermain?”
“IYA…” jawab anak-anak itu serempak. Maka Zanimra melepaskan sepatunya lalu ikut berlarian bersama anak-anak petani itu. Abdullah tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Dia sungguh tak habis pikir pada Zanimra, didepan keanggunan dan keindahan Putri Aelia yang luar biasa, dia melepas sandalnya untuk bermain bersama anak-anak diatas tanah berumput. Dari seberang yang berlawanan Putri Aelia tercengang melihat kejadian itu. Dia bersaing dengan seorang gadis yang saat ini bertelanjang kaki berlarinan kesana kemari mengejar bola bersama anak-anak kecil. Dalam hati dia merasa malu untuk mengakui bahwa dia sedang bersaing dengan gadis itu. Putri merasa khawatir dengan penilain penduduk karena Zanimra turun dari satu kereta dengannya. Seperti yang dia duga perhatian para petani didekatnya tertuju pada Zanimra, Tapi diluar dugaannya, mereka tertawabahkan beberapa diantaranya ikut bersorak.
“Sungguh baik sekali putri itu, dia mau bermain bersama anak-anak kita seperti itu!” Celetuk seorang wanita paruh baya tanpa sadar bahwa didekatnya a berdiri Putri Aelia
“Iya, putri kepala desa saja tak akan sudi melepas sandalnya untuk bermain bersama mereka.” Sahut petani lainnya.
“Ah aku merasa seperti sungguh dihormati sebagai bangsawan!”
Ketika menyadari keadaannya dia buru-buru minta maaf dengan muka pucat pada Putri Aelia.
“Maafkan perkataan saya Putri, saya tidak bermaksud merendahkan Putri dengan perkataan tadi.” Putri Aelia hanya tersenyum mengangguk.
“Kamu tak bersalah.” Jawabnya singkat sambil tersenyum.
“Maaf Putri, jika diijinkan saya bertanya, siapakah putri itu? Bukankah dia datang satu kereta dengan Tuan Putri?” Tanya kepala perkebunan dengan sedikit ragu pada Putri Aelia.
“Dia tamu undangan Raja.”
“MasyaAllah, Sungguh luar biasa! Jarang anak-anak dapat menerima orang dewasa untuk bermain bola bersama mereka. Terlebih lagi, sungguh langka seorang tamu kehormatan raja bersikap ramah seperti itu. Siapakah namanya?”
“Zanimra.”
“Nama yang sangat asing.”
Putri Aelia jadi merasa canggung berdiri disana sedangkan sekelilingnya memperhatikan Zanimra dengan pandangan cinta. Mereka baru saja melihat Zanimra, tapi dengan cepat Zanimra dapat memikat hati banyak orang. Diapun berpamitan pergi, lalu menghampiri Abdullah yang masih terus tertawa.Untuk kesekian kalinya Putri merasa dipatahkan.
“Ya Abdullah, sungguh apa yang dilakukan Zanimra?”
“Oh Putri, maafkan saya, sungguh lucu sekali putriku itu berlari dengan rok panjangnya yang sedikit sempit. Anak-anak terus tertawa sambil mengejarnya.”
“Yah, aku dapat melihatnya, dan seluruh orang disinipun memperhatikannya.” Jawab Putri dingin. Mendengar nada datar Putri, Abdullahpun menghentikan tawanya.
“Aku mendengar dari Ali, Zanimra sangat menyukai anak-anak, jika melihat anak-anak dia akan berubah seperti anak-anak. Sekarang saya bisa melihatnya secara langsung.”
“Apakah kau pikir pantas jika seorang Putri undangan Raja bertingkah laku demikian Abdullah?”
“Ehm, maafkan saya Putri, yang saya lihat dari mata penduduk adalah rasa kagum dan hormat pada Zanimra, apakah itu suatu hal yang buruk?” Putri tertegun, dalam hati diapun mengakui bahwan Abdullah benar. Tapi rasa persaingan dihatinya telah membuatnya memupuk rasa iri yang semakin mengaburkan presepsinya. Akhirnya Putri Aelia mengajak Abdullah menemaninya untuk duduk di beranda.
Tak lama kemudian permainan anak-anak dan Zanimra selesai, mereka duduk diatas tikar yang disediakan penduduk. Satu persatu petani mendatangi dan memberi salam pada Zanimra. Mereka tampak sangat senang ketika Zanimra dengan lahap memakan buah yang diberikan penduduk. Mereka lebih takjub lagi ketika Zanimra menyuapi beberapa anak yang bersandar dipangkuannya.
“Sungguh siapakah dirimu wahai putri yang baik?”
“Alhamdulillah jika kau menganggapku baik. Aku adalah orang biasa seperti kalian juga, janganlah panggil aku Putri, karena aku bukan berasal dari keluarga bangsawan.”
“Tapi Putri Aelia mengatakan bahwa, kau adalah tamu undangan kerajaan. Sungguh kedudukanmu diatas kami semua wahai Putri. Kami hanya petani.”
“Alhamdulillah aku mendapat kehormatan itu dari Raja, pemimpin dari negara ini. Tapi tetap saja aku ini adalah tamu kalian dan kalian adalah tuan rumahnya. Makanan yang kumakan sekarang ini adalah pemberian kalian, mengapa kedudukanku lebih tinggi dari kalian sedangkan kalian yang memberi hadiah dan aku yang menerima?”
“Sungguh kami merasa terhormat dengan duduk ditikar yang sama denganmu.”
“Sesungguhnya aku lebih merasa terhormat diijinkan bermain dengan anak-anak kalian.”
“Kakak, gelangmu bagus!” celetuk gadis kecil yang sedang bermain dengan tangan Zanimra.
“Ah, Salama, kau suka?”
“Iyah, indah sekali warnanya!”
“Ambillah jika kau mau.” Penduduk makin tercengang melihat Zanimra membiarkan gadis kecil itu membuka gelang dari tangannya,
“Eh, tunggu dulu. Kau boleh memilikinya jika kau janji dua hal padaku.” Kata Zanimra tiba-tiba sambil menahan tangan anak yang dipanggil Salamah.
“Apa itu?”
“Patuh pada orang tuamu dan takutlah pada Allah, jangan pernah tinggalkan shalatmu.” Gadis itu mengangguk setuju.
“Jika lain kali, insyaallah jika kakak datang dan orang tuamu mengatakan bahwa kamu melanggar janji, aku akan meminta kembali gelang ini darimu. Setuju?”
“Iya, aku berjanji kakak!”
“Baik, siapa orang tua dari Salama?”
“Saya Pamannya, Hasan”
“Baik, Paman Hasan sebagai saksi! Salama, Insyaallah jika kau memegang janjimu disaat aku datang nanti, aku akan memberi hadiah yang lebih lagi dari gelang ini.”
“Benarkah? Kakak aku janji!” Kemudian Hasan, paman dari Salama bertanya heran, “Nona Zanimra, mengapa kau mengadakan perjanjian dengan Salama, bukankan dia hanya seorang anak kecil?”
“Paman Hasan, sesungguhnya anak-anak akan mengingat janji dan memegangnya dengan seluruh kepercayaannya yang tulus. Jika kita melanggar janji pada mereka, maka kepercayaan mereka kepada kita akan musnah. Jadi berhati-hatilah dalam memegang janji pada siapapun, terutama pada anak-anak.”
“Jadi kakak janji akan datang lagi?” tanya Salama lagi.
“Tidak Salama, aku berkata Jika aku datang lagi, Insyaallah. Aku tidak tahu apakah aku bisa datang lagi atau tidak dikemudian hari, tapi jika aku datang lagi aku akan menagih janjimu dan jika kau menepatinya aku akan memberikan hadiah yang lain padamu. Dan aku berjanji, jika Allah mengijinkan, aku akan datang lagi.”
“Aku berharap kakak akan datang lagi dan lagi!” Ucap Salama keras-keras, mengundang tawa yang lain.
“Insyaallah Salama, selalu ucapkan Insyaallah.” Sahut Zanimra lembut.
“Insyaallah!” celetuk Salama dengan logat yang lucu.
“Nah, untuk anak-anak lainnya, apakah mau mengikat perjanjian denganku? Jika mau aku akan mencarikan beberapa hadiah untuk kalian.” Kata Zanimra lagi pada anak-anak yang lain. Serentak yang lain menyetujui. Zanimra tersenyum ceria, diapun melangkah pergi menuju kereta kuda. Abdullah dan Putri melihat Zanimra yang tergopoh-gopoh membuka tas besarnya.
“Sedang apa kau Zanimra?” Tanya Abdullah penasaran.
“Aku hendak mengadakan perjanjian dengan anak-anak Ayah.”
“Perjanjian dengan anak-anak? Apa maksudmu?” Tanya Abdullah semakin heran. Putri Aeliapun ikut penasaran.
“Jika Ayah ingin tahu, ikutlah denganku.” Abdulahpun meminta ijin pada putri,
“Bolehkah saya permisi untuk melihat perjanjian itu Putri?”
“Aku sendiri penasaran hai Abdullah, sungguh Zanimra itu aneh-aneh saja.” Maka mereka berdua turun dari beranda Pondok dan menghampiri Zanimra.
“Ah Ayah, adakah sesuatu benda yang bisa kau berikan padaku sebagai hadiah yang cocok bagi anak laki-laki?”
“Hem…yang kumiliki hanya teleskop kecil ini.”
“Bagus sekali! Bolehkah aku memintanya?”
“Ambillah putriku.” Zanimra meletakkan beberapa benda kecil diatas selembar kain hijabnya.
“Yang kumiliki kurasa sudah cukup untuk enam anak, dua gadis kecil dan empat anak laki-laki, nilai masing-masing benda tak jauh berbeda, kurasa ini cukup adil.” Gumamnya pada diri sendiri.
“Bagaiman menurutmu ayah, apakah nilai benda-benda ini cukup adil?” Abdullah memperhatikan benda-benda tersebut dan dia mengangguk setuju. Zanimra mengambil beberapa selendang lagi dari tasnya lalu bergegas menghampiri petani yang masih duduk menunggunya diikuti Abdullah dan Putri Aelia.
Setibanya disana Zanimra membagikan benda-benda tadi sesuai dengan pilihan setiap anak,. Lalu Zanimra melakukan perjanjian yang sama seperti yang dilakukannya dengan Salamah. Dari setiap anak dimintanya seorang saksi laki-laki atau dua orang saksi perempuan. Setelah selesai dengan semua anak-anak diapun bertanya,
“Apakah kalian semuanya senang dan ikhlas?”
“Kami senang sekali!”
“Anak-anak, ingat, apapun hadiah yang ada ditangan kalian bukanlah dariku, tapi dari Allah semata. Aku hanya sebagai alat penyalur berkah dan rahmatnya, jadi ucapkanlah…. Alhamdulillah. Sebagaimana benda yang ada ditanganmu itu Rahmat/pemberian Allah yang datang melalui tanganku, jika kalian melanggar janji, maka karena Allah pulalah aku akan mengambilnya kembali, apakah kalian mengerti?”
“Kami mengerti,”
“Jika kalian mengerti, sekarang katakan kepadaku, Demi siapakah kalian memegang akan memegang janji?”
“Demi Allah!” jawab anak-anak serempak,
“Mengapa demikian?”
“Karen Allah-lah yang memberikan hadiah ini melalui tangan kakak dan Allah pula yang akan mengambilnya dari kami melalui tangan kakak jika kami melanggar janji.”
“Insyaallah jika Allah memberi kesempatan pada kakak. Alhamdulillah kalian mengerti….. subhanallah, kalian memang anak-anak yang cerdas.”
“Ingat janji kalian baik-baik, patuhlah pada orang tua, takutlah pada Allah dan dan kerjakanlah shalat lima waktu.
Q.S. Al Fath:10. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. ”
“Kami berjanji.” Jawab anak-anak secara serempak lagi.
“Para saksi, aku sangat berterima kasih atas kesediaan kalian menjadi saksi, sungguh aku hanya dapat memberikan ini sebagai ucapan terima kasihku yang sangat.”
Zanimra membagikan beberapa selendang sutra miliknya yang diterima dengan suka ria.
“Nona, seharusnya kamilah yang berterima kasih padamu, karena perjanjianmu membuat kami sadar akan dari mana datangnya rezeki yang kami dapatkan sekarang ini. Sungguh kami jarang sekali bersyukur. Berjanjilah untuk sering berkunjung jika kau berkesempatan.”
“Insyaallah jika memang saya memiliki kesempatan dilain hari, jagalah anak-anak ini dalam memegang janjinya, sesungguhnya janji yang mereka ucapkan adalah janji seluruh manusia kepada Allah. Aku hanya mencoba mengingatkan mereka. Semoga pada usianya yang tepat mereka akan mengerti keseluruhan dari maksud perjanjian ini.”
“Amin.” Jawab semua yang hadir secara serempak.
“Baiklah, selagi aku sempat, maukah kalian mendengar sebuah kisah tentang dua petani dan kebunnya?” Dengan hampir berbarengan yang hadir menyetujui,
“Kami akan senang mendengarkannya.”
“Insyaallah, alhamdulillah… cerita ini terdapat didalam Al-Qur’an, semoga kita semua mendapat Rahmat Allah untuk mendapat pelajaran darinya.” Zanimra diam sebentar lalu membuka Al-Qur’an kecil yang selalu dibawanya.
“Bismillahirohmaan nirrohiim, Surat Al Kahf ayat 32-46;
32. Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
33. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
34. dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”.
35. Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,
36. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”.
37. Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
38. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.
39. Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,
40. maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.
41. atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”.
42. Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.
43. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.
44. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.
45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.” Zanimra menutup Qur’annya.
“Sungguh ceritamu membuat kami semakin sadar dan takut kepada Allah, kami berlindung kepada Allah dari kesombongan seperti yang dilakukan petani pertama itu.” Kata seorang petani dengan tulus, yang lainnya mengangguk-angguk setuju. Zanimra tersenyun bahagia, dia begitu bersyukur karena Allah begitu Pemurah melembutkan hati orang-orang yang ditemuinya hari ini, dengan senyum lebar dia berkata lagi.
“Sungguh banyak sekali cerita menarik dan pengajaran penuh rahmat dari Allah di dalam Al Qur’an. Bacalah Al Qur’an, hatimu akan merasa tenang dan bahagia, insyaallah.
Q.S. Yusuf:111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Abdullah kali ini benar-benar dibuat tercengang oleh tingkah laku Zanimra, tak jauh beda dengan Putri Aelia, dia semakin tercekat melihat kejadian itu. Akhirnya Zanimra minta Abdullah untuk memimpin shalat berjama’ah dibawah pohon itu. Selesai shalat merekapun melanjutkan perjalanan ke istana. Suasana hening karena tak satupun berbicara, Zanimra masih asyik dengan kain katun yang diberikan penduduk setempat sebagai kenang-kenangan.Tiba-tiba Putri melontarkan pertanyaan karena tak tahan menahan rasa penasarannya,
“Zanimra mengapa kau melakukan perjanjian seperti ini dengan anak-anak?”
“Karena aku ingin mengajarkan pada anak-anak tentang perjanjian.”
“Apakah kau pikir mereka akan memegang janjinya? Mereka hanya anak-anak.”
“Bukankan pelajaran lebih baik dimulai dari dini? Anak-anak sangat kuat daya ingatnya dan sangat rapuh kepercayaannya. Jika aku melanggar janjiku, mereka akan mencabut kepercayaannya dariku dan akan mengingat hal itu selamanya. Tapi yang terpenting disini, anak-anak mengerti dari siapa hadiah itu datang dan untuk siapa perjanjian itu sebenarnya dilaksanakan. Dan demi siapa mereka akan memegang janjinya. Semua karena Allah semata. Aku ingin anak-anak memahami, bahwa darimanapun atau siapapun datangnya rezeki sesungguhnya semua itu datang dari Allah. Dan hanya pada Allah seharusnya mereka bersyukur.”
“Apakah kau merencanakan hali ini Zanimra?”
“Bagaimana mungkin saya merencanakannya jika saya baru saja menginjak pedesaan itu?”
“Bagaiman kau bisa berbuat demikian jika tidak kau rencanakan?”
“Alhamdulillah, Allah-lah yang menginginkannya terjadi. Hal itu terlintas dipikiranku ketika si kecil Salamah meminta gelangku.”
“Jika Salamah tidak menerima perjanjian itu, kau tak akan memberikan gelang itu padanya?”
“Tidak.”
“Bukankah itu kejam?”
“Yang kutawarkan dalam perjanjian itu jauh lebih berharga dari gelangku Tuan Putri.” Putri tertegun mendengar jawaban Zanimra.
“Yang kuminta pada Salamah adalah menjalankan shalat dan patuh kepada orang tuanya. Hal itu tidak sulit bagi Salamah, karena dia lahir dari keluarga muslim. Shalat dan patuh pada orang tua adalah hal yang sudah biasa mereka kerjakan karena memang itu diwajibkan. Yang kulakukan hanyalah meberi mereka motivasi dalam menjaganya lebih baik. Salamah menyadari hal itu, oleh karenanya dia dengan berani menyetujui perjanjian itu.”
“Bagaimana dengan anak yang lain? Bukankah tidak semua anak berpikiran sama?”
“Sebagaimana Salamah, aku tanya tentang kerelaan mereka terlebih dahulu, dan mereka merasa rela mengadakan perjanjian itu. Dan mereka tak merasa dirugikan sedikitpun, terlebih lagi dengan hadiah imbalan yang kujanjikan jika mereka menjalankan janji mereka.” Lalu Zanimra mengarahkan pandangannya pada Abdullah dan berkata,
“Ayah, kau dengar tentang janjiku kepada mereka bukan?”
“Bahwa kau akan mempertanyakan tanggung jawab mereka dalam memegang janji atau tidak. Dan jika mereka melanggar janji, kau akan mengambil kembali hadiah itu, tapi jika mereka memegang janji, kau akan memberikan hadiah lain lagi bagi mereka. Ya! Aku dengar Zanimra.”
“Sudikah ayah membantu aku dalam memegang janjiku?”
“Tentu saja, insyaallah jika aku bisa putriku, Aku akan merasa senang sekali jika bisa ikut serta dalam perjanjian mulia ini!” sahut Abdullah dengan semangat.
“Aku akan menitipkan beberapa hadiah yang kujanjikan itu kepadamu. Jika dalam setahun aku tak bisa kembali kesini, maukah paman menyampaikan hadiah-hadiah itu bagi mereka yang memegang janji dan mengambil hadiah yang mereka miliki jika mereka melanggar janji?”
“Ha ha ha, subhanallah, tentu saja. Insyaallah jika umurku masih panjang. Dan insyaallah aku akan menambahkan beberapa hadiah lagi!”
“Alhamdulillah, terima kasih Ayah.” Jawab Zanimra dengan riang.
“Zanimra, kau memberikan pelajaran yang sangat berharga kepadaku. Jika kau bisa melakukan hal itu pada anak-anak di negri yang baru saja kau kunjungi, mengapa aku tak bisa? Aaaahh, aku sungguh malu padamu Zanimra!”
“Sungguh segala sesuatu datangnya dari Allah Ayah, aku hanya seorang hamba. Alhamdulillah.” Abdullah tersenyum bahagia karena ia mendapatkan Zanimra sebagai calon menantu. Dia tak dapat berkata terlalu banyak demi menjaga perasaan Putri. Karena kelelahan bermain dengan anak-anak akhirnya Zanimra jatuh tertidur. Perjalananpun menjadi kembali hening, bertolak belakang dengan isi kepala Putri Aelia yang semakin berkecamuk. Dalam beberapa jam saja Putri sudah merasakan kelebihan-kelabihan yang dimiliki Zanimra, hatinya semakin gusar. Jika dirinya bisa mengakui kelebihan Zanimra seperti ini, apalagi orang lain dan kakaknya. Kereta memasuki gerbang istana ditengah malam buta. Abdullah dan Zanimra langsung di antarkan ke kamar mereka.

BERSAMBUNG...

 Afwan ya ikhwah fillah kalu penasaran,,,heheheh

http://www.facebook.com/notes/melati/kisah-inspiratif-bag3-ketika-cinta-nya-tiada-tertandingi/187042791334104

Kisah inspiratif bag:2 {Ketika cinta-NYA, tiada tertandingi}


Berita Dari Istana
Pagi menjelang, kesegaran menerobos dengan lincah disela dedaunan berlomba dengan angin pagi. Abdullah menyeruput minuman madu yang masih panas dengan perlahan, sedangkan Ali baru keluar dari bilik mushola keluarganya setelah menjalankan shalat fajar.
“Salaam Ayah, selamat pagi.”
“Walaikum salam! Ah anakku Ali, Sungguh aku diberkahi Allah dengan memiliki anak yang tak lepas dari sajadahnya seperti dirimu Ali.”
“Alhamdulillah Ayah, segala pujian hanya kepada Allah semata. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.”
“Ha ha ha, seperti biasanya, kau benar-benar sungkan dengan pujian Ali!” Ali duduk di kursi desebelah ayahnya. Taman mawar yang luas dihadapannya menyebarkan keharuman yang sangat menyegarkan. Taman mawar itu selalu mengingatkan Ali akan ibunya yang telah wafat dua tahun yang lalu. Taman mawar ini adalah peninggalan kelembutan dan pancaran kasih sayang dari ibunda Ali.
“Ah kau lihat Ali, ibumu adalah wanita seperti mawar-mawar itu. Cantik dan selalu membawa kesegaran dirumah ini. Apalah arti taman itu tanpa mawar-mawar itu Ali?”
“Kosong dan membosankan Ayah.” Jawab Ali singkat.
“Benar Ali!… begitu pula hidup seorang laki-laki tanpa wanita.”
“Apakah ayah ingin menikah lagi?” mendengar pertanyaan Ali yang spontan Abdulah tertawa terbahak-bahak.
“Oh Ali!!! Aku ini sudah tua dan banyak anak!… ibaratkan taman itu, tamanku telah penuh dengan buah-buahan!” Abdullah masih tertawa geli, sedangkan Ali sudah menangkap maksud dari ayahnya.
“Ali, kau jangan pura-pura bodoh. Kau tahu apa maksud dari “ayah tuamu” ini.”
Ali menghela nafas pendek sambil tersenyum. Abdullah terkejut dengan expresi anaknya saat itu. Tidak seperti biasanya, Ali tersenyum, biasanya dia hanya akan menjawab dengan sikap segan dan wajah penuh keseganan.
“Ayah… Aku tahu, maksud ayah tentang wanita untuk diriku… sebenarnya ayah…” Belum sempat Ali melanjutkan kalimatnya, seorang pelayan menghadap Abdullah dengan sebuah surat ditangannya.
“Dari Raja?” Abdullah membaca surat perintah Raja dengan serius. Lalu dia melipat surat itu dan memandang tajam kearah anaknya.
“Ali, sungguh senyum diwajahmu barusan amat membuatku penasaran, tapi aku harus menunggu jawabanmu dilain waktu, karena Raja memintaku datang sekarang juga.” Ali tertawa melihat kebingungan diwajah ayahnya, “Ya Ayahku, aku akan berada disini jika kau kembali aku tak akan lari dari pembicaraan ini, isnyaallah. Pergilah menghadap Raja Ayah.” Jawaban Ali semakin membuat Abdullah penasaran dan sedikit girang, jika Ali tak menghindar dari pemboicaraan ini, apakah artinya Ali telah menemukan seorang gadis?… Abdullah merasa tersiksa akan rasa penasaran tentang anaknya, tapi dia harus bergegas pergi, karena titah Raja adalah tugas utamanya. Perjalanan dari tempat tinggal Abdullah menuju istana memakan waktu setengah hari dengan kuda yang dipacu kencang. Abdullah tak mau membuang waktu dengan mengendarai kereta kuda, dia menunggang kudanya yang terbaik lalu melesat pergi.
Sesampainya di istana Abdullah diundang minum teh bersama Raja taman. Abdullah tahu, jika Raja bersikap demikian berarti Raja hendak membicarakan sesuatu yang serius.
“Abdullah, assalammualaikum!”
“Walaikum salam Baginda, pagi yang amat segar dan mengherankan saya, apakah gerangan yang membuat Baginda ingin bertemu dengan saya dalam waktu singkat seperti ini?”
“Sungguh Abdullah ada kabar baik kudengar malam tadi, sampai-sampai bulan negeri ini bersinar lebih terang dari sebelumnya!” Abdullah tertegun, ia tahu yang dimaksud Raja adalah Putri Aelia.
“Ah! Subhanallah, berita gembira apakah yang sampai-sampai membuat kecantikan negeri ini bersinar lebih lagi?”
“Bulan negri ini telah menemukan bintang pendamping yang diingininya Abdullah!!”
Seperti semua orang, berita ini sangat mengejutkan Abdullah. Dia mengenal Putri Aelia dari kecil, dibalik kelambutan dan kecantikannya, Aelia memiliki sifat yang keras dan pendiriannya yang kuat. Menyadari kecantikan dan kedudukannya sebagai seorang Putri, Aelia sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya.
“Allohuakbar Ya Raja, benarkah itu? Siapakah pemuda yang sungguh beruntung ini?” Tanya Abdullah dengan mata yang membulat, Rajapun tertawa menggoda Abdullah.
“Hai Abdullah, tak bisakah kau menebak siapa pemuda itu?”
“Sungguh tak mampu saya menerkanya,”
“Ah Abdullah!!! Aku tahu aku sering memintamu datang seperti ini karena aku senang berbicara tentang berbagai masalah padamu karena pengetahuan dan intuisimu sangat tajam. Tapi sungguhkah kau tak bisa menebak siapa pemuda itu?”
“Benar seperti yang Baginda katakan, tak jarang Baginda memanggil saya seperti ini, jika dalam masalah kenegaraan akan mudah bagi saya untuk memberikan terkaan. Tapi masalah yang satu ini sungguh saya tak bisa menerka.”
Mereka terdiam beberapa saat, Raja memberikan kelonggaran waktu untuk bernafas pada Abdullah.
“Sudahkah kau tenang dari keterkejutanmu hai Abdullah?”
“Ah… Ya Baginda, saya baik-baik saja.”
“Adikku bertemu dengan pemuda itu kemarin di hutan daerah kekuasaanmu.” Kembali Raja diam dan menyelidik wajah Abdullah, seperti dugaannya, air muka Abdullah memancarkan keheranan.
“Apakah saya mengenal pemuda ini Baginda?”
“Ya Abdullah, kau mengenalnya dengan baik.” Abdullah semakin keheranan dan penasaran.
“Dia tinggal didaerah kekuasaan saya dan saya mengenalnya, saya pikir sudah tidak ada satu pemudapun di kerajaan ini yang menarik perhatian Putri Aelia.”
“Benar hai Abdullah, tak ada satu pemudapun ‘di kerajaan ini’ yang menarik perhatian adikku, kecuali satu pemuda yang sedari kecil tidak tinggal disini, tapi secara kebetulan dia putra dari negeri ini. Pemuda itu hanya singgah beberapa waktu saja untuk mengunjungi ayahnya yang kebetulan Bangsawan Daerah Selatan.”
Bagai disambar petir Abdullah terperanjat hingga terbangun dari duduknya.
“Ali???!!!” Raja tersenyum simpul lalu menarik Abdullah untuk kembali duduk. Sungguh hari ini penuh dengan kejutan bagi Abdullah, sikap Ali yang lain dari biasanya dan sekarang berita dari Raja tentang anaknya tersebut.
“Ali abdul Jabbar bin Abdullah adalah nama pemuda itu, dan dia adalah putra keduamu.”
“Ya dia putra saya, tapi maaf Baginda, bagaimana Putri bisa mengenal putra saya?”
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, adikku bertemu dengan putramu kemarin siang disaat dia berkuda dihutan. Tampaknya pertemuan yang amat singkat itu membuat adikku terpikat dengan putramu. Jadi sekarang kau tentu tahu kemana arah pembicaraanku Abdullah.”
“Ya, tapi saya tidak berani memberikan jawaban apapun saat ini, karena keputusan itu ada ditangan putra saya.”
“Hum, aku mengerti Abdullah. Sampaikan pinanganku ini kepada Ali. Kabari aku selekasnya setelah kau mendapatkan jawaban Ali. Sekarang bergegaslah kau kembali, karena seperti adikku dan dirimu, aku tak sabar untuk mendapat jawaban Ali.”
Abdullahpun undur diri dengan membawa beban berat dipundaknya. Ia mengenal sekali akan tabiat putranya yang selalu menolak lamaran yang datang kepadanya. Abdullah merasa khawatir akan penolakan yang mungkin datang dari Ali, tapi dia teringat akan senyum Ali pagi tadi. Apakah mungkin pertemuan Ali dan Putri Aelia itu yang ingin disampaikan Ali? Ah Bisa jadi!!! Pekiknya girang dalam hati. Siapa yang tak akan terpesona oleh kencantikan Putri Aelia, mentaripun akan turun jika Putri Aelia menerima lamarannya. Abdullah pulang dengan menghibur diri sendiri akan pertemuan Putri dan Ali.
Matahari telah lama meninggalkan takhtanya ketika Abdullah sampai tempat tinggalnya. Ali masih terjaga menanti kepulangan Abdullah. Secangkir kopi dan sepiring makanan ringan telah disiapkan Ali, dia tahu benar ayahnya tak akan pergi tidur sebelum rasa penasarannya hilang.
“Assalammualaikum Ali,”
“Walaikum salam Ayah, ada sesuatu yang hebatkah yang ayah dengar dari Raja hari ini? Wajahmu tampak lebih bingung daripada disaat kau berangkat tadi.”
Abdullah merebahkan tubuhnya yang gembul sambil menghela nafas panjang sekali, “Ayah sebaiknya kau langsung istirahat, kau tampak lelah sekali.” Kata Ali kemudian.
“Ah tidak…tidak!” Abdullah menggoyangkan tangannya dengan kencang,
“Oh Ali anakku, aku tak akan mampu tidur dengan nyenyak sebelum berbicara padamu!” Ali tersenyum simpul, seperti biasa, dugaannya benar.
“Ali, aku ingin bertanya padamu…” Abdullah menyeruput kopinya untuk menenangkan dirinya.
“Ya Ayah, apakah itu?”
“Benarkah kemarin kau bertemu dengan Putri Aelia di hutan?” Abdullah menatap tajam berharap menangkap perubahan wajah Ali,
“Astagfirullah!! Ya, hal itu benar. Maaf aku tidak sempat menyampaikan salamnya pada Ayah, aku benar-benar lupa, apakah Putri bertanya tentang hal itu diistana tadi? Sungguh bodoh diriku karena lupa menyampaikan amanah darinya. Lain kali ayah bertemu dengannya, tolong sampaikan maafku.” Jawab Ali dengan rasa sesal yang kentara, Abdullah tersenyum simpul, anaknya memang selalu panik jika lupa menyampaikan amanah siapapun. Tapi bukan perubahan expresi wajah ini yang diharapkan Abdullah.
“Kurasa kau harus menyampaikannya sendiri dilain waktu, karena. Ehm…..Bagaimana menurutmu tentang dia?”
“Seperti yang telah tersebar diseluruh negeri, dia wanita yang luar biasa kecantikan wajah dan parasnya. Alhamdulillah.”
“Apakah kalian lama berbicara?”
“Tidak Ayah, aku harus segera pulang karena aku berjanji kepada ayah.”
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Ayah, sungguh dia hanya bertanya dan aku menjawab pertanyaan beliau, dan pada saat itu aku terburu-buru.” Abdullah menghela nafas setengah mengeluh, kekhawatirannya semakin menjadi. Dengan perlahan dia melanjutkan,
“Ali anakku, kau ingat tentang mawar dikebun?”
“Ya, pembicaraan kita yang terputus pagi ini.” Jawab Ali singkat.
“Apakah Putri Aelia bisa menjadi mawar dikebunmu Ali?” Mendengar itu Ali tersenyum tertawa karena dia pikir Abdullah sedang bercanda untuk menggodanya.
“Ah Ayah!… jangan bercanda, dia seorang putri yang semua Raja diseluruh dunia ingin memilikinya. Apalah aku ini!”
“Ali, aku tidak bercanda.” Jawaban Abdullah yang singkat dan serius menghentikan tawa Ali. Dengan wajah penuh harap Abdullah menjelaskan,
“Baginda hari ini memanggilku untuk menyampaikan maksud hati sang Putri padamu.” Ali sangat terperanjat, matanya yang bulat semakin bulat sedangkan mulutnya terkatup rapat. Kemudian suasana membeku untuk beberapa saat. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam, Abdullah menghela nafas panjang dan tubuhnya semakin lemas menempel dikursinya. Ia tahu tundukan kepala Ali berarti berita buruk. Beberapa saat kemudaian, dengan tenang Ali menatap ayahnya dalam-dalam dan berkata dengan perlahan.
“Masya Allah Ayah, ini berita yang sangat mengejutkan. Aku sungguh tidak menyangka pertemuanku yang sedemikian singkat dengan Putri akan menimbulkan hasrat pada hatinya. Tapi ayah…” Abdullah memotong kalimat Putranya dengan gusar,
“Ali, alasan apakah lagi saat ini yang kau ingin ajukan? Kau telah terlalu lama dan banyak menolak pinangan dari negeri ini, bahkan dari negeri tempat kau tinggal. Apa lagi yang kau inginkan? Saat ini yang meminangmu adalah seorang putri yang tidak hanya luar biasa kecantikannya, tapi juga kecerdasan otaknya.” Dalam hati Ali sedikit sedih melihat kekecewaan diwajah Abdullah, dengan suara semakin direndahkan Ali kembali berbicara.
“Ayah, sesungguhnya pagi ini sewaktu ayah bertanya, aku ingin menyampaikan kabar kepadamu bahwa aku telah bertemu dengan seorang gadis.” Dugaan Abdullah benar adanya tentang senyum yang tersungging di bibir Ali pagi itu.
“Ali, apakah gadis ini parasnya secantik Putri Aelia?”
“Tidak, dia memang cantik, tapi tidak ada yang mampu menandingi kecantikan paras Putri Aelia ayah.”
“Lantas tidak bisakah kau merubah keputusanmu tentang gadis itu?”
“Maaf ayah, tidak.”
“Mengapa Ali?”
“Karena aku bersumpah untuk menikahinya atas nama Allah.”
“Ah Ali, aku tahu sumpah itu sangat besar tapi…apakah karena sumpah itu saja sehingga kamu menolak lamaran Putri Aelia?”
“Bukan hanya itu Ayah, jikapun aku tidak bersumpah kepada gadis itu, aku akan tetap memilih dia daripada Putri Aelia.” Abdullah tertegun, kepastian kata-kata Ali menimbulkan rasa sangat penasaran dihatinya pada gadis yang dimaksud anaknya itu. Apa kelabihan gadis itu dibanding Putri Aelia, seberepa luar biasakah sosok gadis ini? pikirnya.
“Apakah dia datang dari keluarga bangsawan?” Selidik Abdullah lebih lanjut.
“Tidak, dia dari keluarga yang biasa saja.” Jawab Ali singkat. Abdullah berdiam diri beberapa saat, lalu dengan nada lembut dia berkata,
“Ali, Ayah mohon… ini adalah permintaan Raja, tolonglah ayah untuk mempertimbangkan keputusanmu lagi. Jika gadis itu benar mencintaimu, ayah yakin dia akan melepaskanmu dengan rela.” Mendengar permohonan ayahnya wajah Ali mengeras. Dengan pandangan lesu dan penuh penyesalan Ali menolak,
“Ayah, maafkan jika anakmu tidak berbudi. Tapi ayah, ayah memiliki alasan sendiri dalam keputusan ayah untuk menikahi ibu, begitupun diriku. Demi Allah aku telah bersumpah akan menikahi dia, dan aku akan melaksanakan sumpahku karena rasa takutku pada Allah, selain dari itu ayah, aku sungguh mencintai gadis itu. Jika aku menikah, aku hanya ingin menikah dengan gadis seperti itu atau tidak sama sekali, insyaallah. Dan Putri bukanlah gadis seperti dia.” Abdullah menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya dalam sehari. Dia tahu jika Ali telah mengatakan Demi Allah, maka taka akan ada yang dapat merubah keputusannya. Dengan lembut Ali mengusap pundak ayahnya,
“Ayah, maafkan aku. Tapi keputusan seorang Putri dan Raja tak akan dapat merubah sumpah yang telah kuucapkan karena Allah. Sungguh aku takut kepada Allah.”
“Ali anakku, aku mengerti. Sungguh kau benar-benar mencintai gadis itu hingga kau berani bersumpah atas nama Allah. Akupun takut kepada Allah.” Mendengar keikhlasan dalam kalimat Abdullah, Ali merasa sangat lega. Kemudian Abdullah melanjutkan,
“Katakan padaku siapa nama gadis itu dan dari mana asalnya. Sudah berapa lama kalian mengenal satu sama lain?”Akhirnya expresi wajah yang ditunggu Abdullah tampak diwajah Ali sewaktu menyebutkan nama gadis yang mematahkan pinangan Raja dan Putri Aelia.
“Zanimra, gadis dari belahan bumi seberang, dari Madagashphur. Aku mengenalnya hanya dalam waktu singkat, tapi masyaallah dialah gadis yang aku cari selama ini, ayah.”
Abdullah tertegun beberapa saat, diluar dugaannya nama gadis itu tidak mencerminkan nama Islam. Dia semakin penasaran dengan Zanimra, calon menantunya yang mampu mendahului Putri Aelia.
“Ali, hiburlah ayahmu dari kekecawaan ini, undanglah Zanimra kemari.”
“Baik ayah, aku akan memintanya datang.”
“Segera Ali, kapan dia bisa datang?”
“Perjalanan dari negerinya memakan waktu beberapa hari, tapi ayah bersabarlah. Insyaallah dia pasti akan datang jika ayah yang mengundang.”
“Ah sungguh berat!…Aku tak tahu harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Raja, aaaahhh sungguh berat!!….” Abdullah menggelengkan kepalanya keras-keras. Ali merasa menyesal membuat ayahnya kecewa, tapi dia tahu Abdullah mendukung keputusannya.
“Ayah, jika ayah berkenan, aku pribadi yang akan menyampaikan jawabanku pada Baginda Raja atau Putri sendiri.”
”Hai anakku, sungguh itu hal yang baik. Akan kubawa kau besok menghadap Raja, sekarang aku benar-benar lelah.” Abdullah beranjak dari tempat duduknya, dia berlalu kekamarnya sambil menepuk-nepuk pundak Ali. Sambil lalu dia berkata “Ali, aku mendukung keputusanmu.” Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir Ali merasa tenang.
Permintaan Raja
Udara taman keputrian sangat segar pada pagi hari, bunga yang bermekaran sangat cantik terpuruk malu ketika Putri Aelia memasuki taman itu dengan riang. Kegirangan diwajahnya sungguh membuat kecantikannya semakin bersinar. Dari pagi hingga malam senyumnya membias tak pernah surut. Nama Ali terus terucap lirih dibibirnya. Raja memperhatikan adiknya dari kejauhan dengan rasa senang. Belum pernah selama hidupnya melihat adiknya benar-benar merasa bahagia semenjak kepergian ayah bundanya. Raja merasa yakin Ali tak akan menolah keinginan adiknya, terlebih lagi Putri Aelia terkenal selain dengan kecantikan parasnya juga kecantikan tingkah lakunya kepada sesama. Dia gadis yang baik dan sangat cantik, tak akan ada seorang pemudapun yang akan menolaknya.
Tiba-tiba seorang punggawa kerajaan membuyarkan lamunannya. “Baginda, Abdullah beserta putranya hendak menghadap.” Dengan girang Raja memerintahkan kedua orang yang dinantinya untuk menemuinya di taman umum kerajaan, tempat biasa dia bercengkerama dengan Abdullah. Setelah Punggawa itu pergi raja memanggil adiknya.
“Aleia, ikutlah denganku.”
“Baik kakak,” sambil berjalan Aelia melihat senyum diwajah kakanya, “Kak ada apa?” Raja hanya menggelengkan kepala, beberapa langkah dari taman Raja menunjuk kearah dua sosok tubuh yang sangat dikenal Putri. Jantung Putri hampir berhenti melihat sosok Ali yang berdiri tak jauh dihadapannya, lututnya menjadi lemah lunglai seketika.
“Ali…” bisiknya lirih dengan bibir gemetar. Raja membimbing adiknya untuk mendekat, tapi tubuh putri mematung seperti es.
“Kakak, aku takut tak mampu menguasai diriku, biarkan aku disini. Temuilah mereka dan kabarkanlah padaku berita yang terucap dari bibir Ali.” Raja mengangguk, lalu berlalu mendekati kedua sosok Ali dan Abdullah yang belum menyadari kehadiran Raja dan Putri, sementara itu putri bersembunyi dibalik rerumpunan mawar yang merambat. Dengan debaran jantung yang semakin mengeras Putri Aelia menunggu kakaknya, pandangan matanya tak sekejappun lepas dari sosok Ali.
Beberapa langkah mendekati Abdullah dan Ali, Raja merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan ketika dia menangkap mata Abdullah yang sayu. Setelah mereka bertiga duduk Raja memperhatikan Ali dalam waktu yang cukup lama.
“Ah, rupanya inilah pemuda yang membuat adikku melayang diatas awan dan menari dilintasan pelangi.” Goda sang Raja pada Ali. Ali tersenyum gugup, tapi Abdullah lebih gugup lagi.
“Ali, berbicaralah padaku. Bagaimana menurutmu tentang Aelia.”
“Baginda, Putri adalah wanita dengan paras tercantik yang pernah saya temui didunia ini.” Raja tersenyum simpul. Tapi dia menangkap nada datar dari kata-kata Ali, hal itu membuatnya sedikit gusar.
“Dan menurutmu, apakah dia akan menghibur seorang laki-laki sebagai istri?”
“Bagi pria yang menikahinya dia adalah berkah dari Allah.”
“Ah, jadi menurutmu dia berkah dari Allah bagimu!” Sahut Raja tajam. Abdullah hendak angkat bicara, tapi kemudian Ali mendahului dengan tenang.
“Dengan segala kerendahan hati dan beribu maaf, Ayah telah menyampaikan maksud Raja dan Putri kepada hamba, tapi dengan berat hati saya tidak dapat menerimanya.” Wajah Raja mengeras dan nada suarannya semakin merendah menahan getaran hatinya.
“Hai Ali, apakah yang menyebabkan kamu menolak adikku?”
“Karena saya takut kepada Allah.” Raja tertegun, mendengar kata Allah kegeramannya sedikit mereda.
“Apa maksudmu?”
“Alasan saya tidak dapat menerima pingangan ini karena Saya telah mengangkat sumpah atas nama Allah pada seorang gadis sebelum bertemu Putri. Saya telah bersumpah untuk menikahi gadis itu. Dan saya tidak mungkin melanggar sumpah tersebut karena saya takut kepada Allah.”
“Hemh… kau takut kepada Allah karena sumpahmu aku bisa memahami, tapi jika gadis itu mau melapaskanmu dengan rela, apa yang akan kau lakukan Ali?”
“Tetap saya tidak dapat melanggar sumpah melainkan jika Allah berkehendak dia yang memutuskan untuk meninggalkan saya karena saya berbuat aniaya padanya. Sungguh saya takut kepada Allah, karena Allah berfirman dalam kitab-Nya,
Q.S. An Nahl:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
Q.S. Al Baqarah : 225. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
“Bagaimana jika gadis itu pergi meninggalkanmu?”
“Allah yang Kuasa atas segala kejadian dimuka bumi, saya percaya padanya. Sebagaimana saya telah bersumpah atas nama Allah, diapun telah berjanji atas nama Allah untuk menanti dan menikahi saya.”
“Baiklah Ali, aku mengerti maksudmu. Bagaimana jika kau tak terikat sumpah dengan gadis itu?”
“Maaf, dengan sejujurnya Saya yang tak akan rela melepaskan diri saya dari gadis itu Baginda.” Baginda terhenyak, seperti apakah gadis yang mengalahkan hasrat Ali dari kecantikan adiknya.
“Jadi, tanpa sumpah-pun kau akan tetap menolak adikku?”
“Jika saya telah bertemu dengan gadis itu, gadis manapun dibumi akan saya tolak. Tapi jika saya belum bertemu dengan gadis itu, demi kebaikan ayah, saya akan menerima Putri sebaga istri saya.” Seperti halnya Abdullah, Raja sangat penasaran dengan gadis yang mengikat hati Ali.
“Begitu besarkah cintamu pada gadis itu Ali? Mengapa kalian begitu berani mengadakan perjanjian sekuat itu?”
“Demi ketenangan jiwa kami bedua, Baginda.”
“Sungguh mengherankan kepercayaan kalian berdua pada satu sama lain.”
“Sebenarnya yang kami percayai bukanlah diri kami, tapi Allah semata. Saya memegang janji yang diucapkannya karena Allah, dan dia memegang sumpah yang saya ucapkan karena Allah. Pada Allah sajalah kami menaruh kepercayaan penuh.”
“Baiklah Ali, sungguh aku amat sangat menyayangkan hal ini. Aku menghargai keputusan dan pendirianmu. Tapi demi kebahagiaan adikku, aku akan memperjuangkan dirimu untuk menikahinya. Buatlah aku mengakui bahwa gadis pilihanmu itu jauh lebih baik dari Aelia, maka aku akan rela merestui pernikahanmu dengan gadis itu. Tapi jika ternyata dia tidak lebih baik dari Aelia, aku tak ingin kau kembali kenegeri ini karena airmata adikku yang akan terus mengalir. Undanglah gadis itu untuk tinggal diistana ini sebagai tamu kerajaan.” Mendengar titah Raja, Abdullah merasa gusar, dia melirik kepada Ali, diwajah anaknya terlukis ketenangan dan keyakinan yang luar biasa. Keyakinan Ali membuatnya semakin bertanya-tanya tentang Zanimra, sebesar itu keyakinan Ali tentang gadis pilihannya, bahkan dihadap Raja sekalipun.
“Jika itu kehendak Baginda, saya akan melaksanakannya. Sampaikan perasaan penyesalan saya yang terdalam kepada Putri Aelia, semoga Allah memberinya keselamatan dan rahmat.” Kemudian Raja meminta Ali meninggalkan beliau dan ayahnya sendiri. Setelah Ali berlalu Raja berkata dengan penuh kesedihan pada Abdullah. Terbayang dimatanya tangis Putri Aelia karena rasa kecewa.
“Ah Abdullah, ternyata selama ini julukan Pemuda Es atas anakmu ini benar adanya. Sayang sekali aku tak bisa mengikat tali kekerabatan denganmu.”
“Maafkan saya Baginda,”
“Yah, aku tak menyalahkanmu Abdullah, hanya saja aku tak bisa melihat air mata adikku satu-satunya. Pahami keputusannku untuk mengembalikan kepercayaan adikku atas dirinya, satu-satunya jalan adalah hanya dengan mempertemukan dua putri ini dalam satu ruangan. Siapa tahu Ali memang benar akan pilihannya dan adikku bisa belajar sesuatu dari gadis tersebut. Aku hanya berharap cara ini akan membuat adikku rela melepaskan anakmu ini, Abdullah.”
“Saya mengerti dan saya yakin putra saya juga memahaminya.”
“Ya! Ya!… aku kagum pada putramu, tapi keyakinan diwajahnya terhadap gadis ini benar-benar membuatku penasaran. Seperti apakah gadis itu yang bisa membuat mata anakmu berpaling dari keajaiban kecantikan adikku? Abdullah, titahku pasti, bawalah gadis itu sebagai tamu istanan ini.”
“Titah Baginda akan saya laksanakan, insyaallah dalam beberapa hari Zanimra akan tiba dikerajaan ini.”
“Ah jadi itu namanya… darimana dia berasal?”
“Dari kerajaan Madagashphur.”
“Bukankah itu kerajaan Hindu??”
“Ya, benar. Tapi dia gadis muslim sejak lahir.”
“Baiklah, biarkan aku menilainya setelah aku bertemu dengannya. Sekarang sebaiknya kau cepatlah berlalu karena adikku sedang menunggu dibalik semak mawar itu….aahh…..bagaimana caraku menyampaikan berita ini pada Aelia hai Abdullah…” Abdullah menganggukkan kepalanya lalu berlalu.
Melihat Abdullah pergi, Putri Aelia berlari menghampiri kakaknya.
“Ah adikku bulan negeri ini, duduklah.”
Aelia dengan patuh duduk dihadapan kakaknya.
“Aelia…walaupun kita ini orang terpenting dikerajaan ini, tapi tentu kau sadari bahwa kita tidak dapat memaksakan kehendak kita…” Sungguh dirasa sangat berat dada Raja ketika melihat mata wajah adikknya memucat seputih melati.
“Aelia, tabahkan hatimu, ternyata …”
“Ali… menolakku…” Air mata Putri mengalir membasahi pipinya yang memucat, rasa sakit dihatinya begitu pilu.
“Duhai kakak, kenapa aku merasa begitu hancur seperti ini? Mengapa aku merasa sangat bahagia pada semula waktu dan merasa mati disaat ini. Aduhai… pedih sekali rasanya.”
Raja memeluk kepala adiknya dengan lembut, tangis adiknya seperti pisau menyayat ulu hatinya. Sungguh jika dia bukanlah raja yang bijak, kekuasaan ditangannya akan dia gunakan demi kebahagiaan adiknya.
“Bersabarlah wahai adikku, dengarkan aku. Pintu belumlah sepenuhnya tertutup. Dengarlah.” Lalu Raja menceritakan rencananya untuk mengundang Zanimra, dia yakinkan bahwa ini adalah kesempatan kedua bagi Putri untuk merubah keputusan Ali.
“Aku ingin bertemu Ali Kak, ijinkan aku tinggal diwilayah selatan untuk berada dekat dengannya.”
“Jika itu bisa membuatmu senang, pergilah. Tapi ingat, sebagai manusia kita tak boleh memaksakan kehendak atas manusia lain.”
“Aku mengerti.”
Pada malam itu juga Putri Aelia pergi ke wilayah selatan dengan membawa harapan mampu merubah keputusan Ali.

bersambung,,,

http://www.facebook.com/notes/melati/kisah-inspiratif-bag2-ketika-cinta-nya-tiada-tertandingi/186965714675145

Kisah inspiratif bag:1 { ketika cinta-NYA, tiada tertandingi}


CINTA PUTRI AELIA
Bulan Andimarsedonia

Pada suatu masa, sebuah kerjaan kecil berdiri dengan sangat makmur dan damai.Walau kerajaan ini kecil, karena kekayaannya ia sagat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan tetangganya. Kerajaan ini bernama Andimarsedonia. Andimarsedonia dipimpin oleh seorang raja yang masih muda tapi bijaksana dalam bernegara, beliau memiliki seorang permaisuri dan seorang adik yang bernama Putri Aelia.
Putri Aelia dikenal sebagai Bulan dari Andimarsedonia, karena dia berparas sangat rupawan, kulitnya putih dan bersinar, bibirnya semerah darah dengan senyum yang sangat merekah, suaranya sangat merdu dan lemah lembut, rambutnya yang panjang sehitam arang, tubuhnya harum seharum melati. Kecantikannya yang luar biasa tidak hanya tersebar hingga kesuluruh pelosok kerajaan, tapi berita itu juga mencapai keberbagai negri didunia. Tidak sedikit yang berlomba-lomba untuk melihat wajahnya walau hanya sekejap. Berdatangan pinangan dari pernjuru, tapi tak satupun yang dapat meluluhkan hati sang putri.
Putri Aelia tidak hanya dikagumi dengan kecantikannya, tapi juga karena kecerdasannya dan kepiawaiannya diberbagai bidang. Jiwanya yang keras dan kesadaran akan kedudukannya inilah yang membuat Putri sangat pemilih dalam masalah percintaan.
Putri Aelia merupakan salah satu tangan kanan Raja dalam menjalankan roda pemerintahan.
Pada suatu hari Putri Aelia sedang berjalan-jalan dihutan wilayah selatan bersama beberapa pengawal dan dayangnya. Tiba-tiba sebuah kuda melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan. Ketika melihat rombongan putri, si penunggang kuda memperlambat jalan kudanya, lalu berhenti didepan rombongan sang putri dengan menganggukan kepalanya sekali sebagai tanda hormat. Ketika pandangan mata pemuda itu bertemu dengan pandangan sang putri, pemuda itu langsung menundukkan pandangannya. Putri merasa heran, selama hidupnya hampir semua laki-laki akan terpana akan kencantikannya sehingga tak akan mampu mengalihkan pandangan mereka dari wajahnya untuk beberapa lama. Tapi dalam sekejap saja pemuda dihadapannya ini langsung menundukkan pandangannya.
Karena rasa herannya, putri meminta sang pemuda untuk mendekat. Pemuda itupun mendekat dengan masih saja menundukkan pandangannya.
“Salaam hai pemuda. Siapakah kau dan sedang apa kau disini?”
“Walaikum salam Putri Aelia, Saya adalah Ali abdul Jabbar bin Abdullah, dan saya sedang berkuda berkeliling hutan.” Jawab pemuda itu tanpa sekejappun menaikkan pandangannya pada sang putri. Sikap pemuda bernama Ali semakin membuat putri penasaran.
“Wahai Ali, mengapa kau selalu menundukkan pandanganmu ketika berbicara padaku, padahal aku tak berkeberatan dengan hal itu.”
“Sungguhpun saya tahu Putri tidak berkeberatan, tapi Allah dan Rasul-Nya berkeberatan jika saya memandang Putri, dan saya takut akan murka Allah.”
Putri Aelia merasa malu mendengar perkataan pemuda itu, karena selama berbicara, tak sekejapun ia menundukkan pandangannya dari Ali. Putri menyadari bahwa Ali memiliki wajah dan perawakan yang sangat tampan, tapi ketampanan budi dan akhlaknya semakin membuat Putri Aelia kagum. Bagi sang Putri, Ali adalah sosok yang sangat lain dari yang lain, Putri merasakan sesuatu pecah didadanya, ada perasaan riang yang tiba-tiba menggelitik relung hatinya, akhirnya dia menyadari bahwa Ali adalah laki-laki yang ia tunggu selama ini.
“Wahai Ali, siapakah orang tuamu dan dimanakah rumahmu?”
“Ayah saya adalah Abdullah bin Mustofa, Bangsawan kerjaaan bagian selatan dan rumah kami…”tiba-tiba Putri memotong kalimat Ali.
“Ah aku tahu, ternyata kau putra dari paman Abdullah, aku mengenalnya, tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu berkunjung ke istana?”
“Karena sejak kecil saya tidak pernah berada dikerajaan ini, saya menetap kerajaan tetangga. Saat ini saya sedang berlibur disini untuk beberapa waktu.”
“Ah baiklah kalau begitu, apakah kau bersedia untuk berburu bersama rombonganku?”
“Terima kasih banyak tuan Putri, saya merasa terhormat, tetapi saya telah berjanji pada ayah untuk pulang pada saat makan siang, dan saya rasa saya telah sedikit terlambat. Jika Putri tidak berkeberatan, saya harus memenuhi janji saya pada beliau, saya mohon pamit.”
Putri menghela nafas kesekian kalinya, jika bukan Ali, tanpa sedetikpun berpikir laki-laki manapun akan menerima tawarannya itu dengan girangnya. “Sungguh kau ini laki-laki yang berbeda wahai Ali, tak sedikitpun kau bernafsu untuk menghabiskan waktu bersamaku. Baiklah Ali, senang berkenalan denganmu, sampaikan salamku pada paman Abdullah, dan percayalah Ali, aku akan menemuimu lagi diwaktu yang dekat.”
“Insyaallah Putri dan terima kasih, wasalammualaikum.”
“Walaikum salam,” jawab putri lembut.
Ali pun melesat pergi dengan lari kudanya yang sangat kencang. Sambil melihat kepergian Ali bersama kudanya, Putri Aelia menarik nafas panjang-panjang, akhirnya dia menyandarkan kepalanya kedinding kereta dan berbisik pada pelayannya, “Ah Ali, tak sekalipun dia menoleh kebelakang… sungguh dayang, aku merasa melayang bersama larinya kuda Ali. Dayang, perintahkan rombongan untuk pulang ke istana!”
Rombongan putripun kembali keistana, tetapi hati sang putri sangat kentara telah terbawa oleh pemuda Ali dan kudanya ke arah yang berlawanan.
Sesampai diistana Putri bergegas menuju Taman Keputrian, sebuah tempat khusus dalam istana yang merupakan berkumpulnya para putri dan istri bangsawan. Ia ingin sekali mencari kabar berita tentang pemuda yang baru saja ditemuinya. Seperti dugaannya, pada saat itu Taman Keputrian sangat ramai, dia mendekati segerombolan putri bangsawan yang sangat terkenal dan pandai, mereka adalah teman-teman dekat Putri Aelia
“Salam wahai saudariku, Aisya, Amina, Safira” Rombongan itu membalas salam putri dengan riangnya.
“Walaikum salam Putri Aelia, masyaallah kau terlihat sangat ceria. Wajahmu tampak sangat kemerahan dan senyummu sungguh lebih merekah daripada biasanya! Ada apakah gerangan yang terjadi?” Putri Aelia tertegun, sejelas itukah pancaran kebahagiaan hatinya dari wajahnya?
“Ah kalian memang teman dekatku, mungkin kalian dapat langsung membaca pikiranku tanpa kuberi tahu.”
“Ah Putri, jika aku tak mengenalmu lebih lama, aku akan berkata kau sedang jatuh cinta. Tapi setahuku tak satu pemudapun yang kau minati dinegeri ini. Jadi aku dengan jujur berkata padamu, aku tak tahu…” Jawab Aisya yang dibarengi anggukan kedua putri lainnya. Putri Aelia tertawa sangat kencang dan renyah, tidak seperti biasanya dia selalu tertawa lirih dan lembut, hal itu semakin membuat yang lain keheranan.
“Sungguh wahai saudariku, aku bertemu seorang pemuda hari ini.”
Dengan serempak, ketiga putri itu menjatuhkan gelasnya dengan mulut menganga.
“Masya Allah!!!…..siapakah pangeran impian ini???” tanya mereka hampir serempak.
“Ah saudariku, aku baru saja mengenalnya, maukah kalian membantuku untuk mencari tahu segala sesuatu tentang dia? Karena sebagai seorang Putri aku malu untuk bertanya kesana kemari perihal seorang pemuda pada banyak orang.”
“Tentu saja kami mengerti, dan kami akan membantumu dengan senang hati. Katakan kepada kami, siapakah nama pemuda tersebut?”
Dengan wajah yang semakin memerah putri membisikan nama Ali abdul Jabbar bin Abdullah.
“Ah, aku tahu tentang dia, aku bertemu dengannya dua hari yang lalu. Dia baru datang dari Kerajaan Dalusia, tapi aku tak sempat berbicara padanya… ehm, saat itu aku dengar dikalangan para gadis dia dikenal sebagai Pemuda Es, karena dia sama sekali tak pernah berbicara akrab dengan wanita.” Kemudian Safira dengan menggoda berbisik pada Putri Aelia, ”Tapi jangan kuatir putri, dia belum menikah.” Diikuti gelak tawa yang lainnya.
“Ah Putri, sungguh tak salah pilihanmu!” tiba-tiba Aisya berteriak girang.
“Sungguh jika aku belum bertunangan, aku akan meminta Ayah untuk meminang dia untuk diriku sendiri ha ha….” Canda Aisya lagi riang, lalu dengan serius dia meneruskan. “Aku baru teringat ketika Safira berkata tentang Pemuda Es, Dia memang jarang sekali berkunjung ke negeri ini. Seperti kau tahu, aku masih sepupu dengan Ali, karena dia menganggapku saudara, dia pernah berbicara padaku setahun yang lalu. Ah sungguh dia pemuda yang luar biasa! Tidak hanya tampan, tapi juga pandai dalam segala bidang, terlebih lagi, dia sangat rendah hati. Banyak sekali gadis dikerajaan ini ingin menikah dengannya, tapi lamaran orang tua mereka selalu ditolak oleh Ali dengan hormat. Aku sendiri tak mengerti mengapa, padahal dia saat itu belum memiliki kekasih. Akhirnya sampai saat ini semua orang tua segan untuk melamarnya lagi. Jika putri mereka meminta pada orang tua mereka untuk melamarkan Ali, mereka akan berkata …’Lebih baik kau tunggu Ali datang melamarmu’. Sungguh mereka tahu bahwa tak akan lamaran mereka itu diterima.”
“Waaah, benar! Para orang tua berhenti melamar Ali setahun yang lalu. Orang tuaku salah satunya. Mereka melamarkan Ali untuk Syafia kakak sulungku. Tapi Ali menolak karena alasannya dia belum ingin menikah dan ingin melanjutkan pendidikannya. Sungguh malang kakakku itu, aku beruntung tak pernah bertemu Ali, karena aku takut akan senasib seperti kakakku, yang kudengar, dia selalu menjauhi wanita dan menundukkan pandangannya setiap kali berbicara dengan wanita.” Kenang Amina.
“Ah Putriku yang cantik, kau telah bertemu orang yang sama dengan dirimu!” kata Amina lagi. Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat.
“Tapi siapakah yang mampu menolak kecantikan Putri??!!” teriak ketiga gadis itu dengan serempak sambil menggoda Putri Aelia, kemudian mereka semuanya tertawa.
“Mengapa aku tak pernah mendengar tentang dia dari kalian atau yang lain?”
“Ah Putriku yang cantik, kami segan membicarakan tentang seorang pemuda yang jauh dari jangkauan kami. Lagipula kami bertiga sudah bertunangan, kami malu untuk membicarakan perihal seorang pemuda selain dari tunangan kami. Lapi pula, dia jarang sekali tinggal disini, hanya orang yang tinggal di daerah selatan yang banyak tahu tentang Ali, ehm…tentu saja hampir semua gadis dinegeri ini, sedangkan Kau jarang sekali keluar istana, apalagi bertanya tentang pemuda!”
Putri Aelia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba dia berkata,
“Aku akan menghadap kakakku.” Ketiga putri tersebut tertegun mendengar kalimat terakhir Putri Aelia, mereka tahu maksud dari perkataan adalah tekad Putri Aelia untuk mendapatkan Ali melalui sang Raja. Siapakah orang yang akan menolak lamaran seorang Raja negaranya. Dalam hati mereka berkata, “Ah Ali, sudah saatnya kau menerima lamaran seorang wanita!”
Lalu Putri Aelia berpamitan meninggalkan ketiga temannya dengan keyakinan yang mantap, ketiga putri bangsawan itupun bubar masih dengan perasaan terkejut
****
Walaupun malam telah larut, Putri Aelia mengunjungi kamar peristirahatan kakaknya sang Raja. “Ah Adikku tersayang Aelia, tak biasanya kau ingin bertemu aku secara tergesa-gesa seperti ini, ada bintang apakah yang jatuh ditanganmu?”
“Duhai kakakku tersayang, tak nampakkah olehmu cahaya bulan yang memancar dari wajahku?” Raja tertegun lalu memperhatikan mimik wajah adiknya yang rupawan.
“Masyaallah, mengapa wajahmu merona dan tersipu seperti itu? Apakah mungkin hal yang luar biasa terjadi padamu?”
“Ayolah kakak coba tebak jika kau mengenalku sedalam lautan!”
“Wahai adik, jangan kau permainkan kakakmu ini! Tak mungkin jika kau ini bertemu seorang pria?!” Mendengar tebakan Raja wajah putri semakin memerah dan senyumnya semakin merekah, kecantikannya terpancar lebih bercahaya dari biasanya. Rajapun sangat terkejut bercampur girang melihat anggukan malu adiknya.
“Masya Allah!!! Benarkah ini? Adikku menemukan pujaan hatinya? Allohuakbar!” Raja memeluk adiknya denga perasaan sangat berbunga.
“Sungguh berita yang amat baik yang kau bawa malam ini wahai Aelia! Ceritakan padaku siapa orangnya!” Aeliapun menceritakan pertemuannya dengan Ali dan apa yang dia dengar tentang Ali dari teman-temannya.
“Ah Putra kedua Abdullah bin Mustofa! Aku sering mendengar tentang dia dari Abdullah dan bangsawan yang lain. Dia cukup dikagumi, tapi sejak kecil ia tinggal dan menetap dengan Paman dari pihak ibunya di Dalusia jadi aku tak pernah mengenalnya secara langsung. Aku percaya pada penilaianmu tentang Ali. Apapun kehendakmu aku percaya wahai adikku. Baiklah, aku akan memanggil Abdullah bin Mustofa menghadap besok pagi!”
“Terima kasih Kakakku tercinta.” Putri Aelia kembali ke pembaringannya dengan perasaan berbunga, perasaan yang tak pernah dia alami selama hidupnya. Semalaman dia terjaga karena tak mampu untuk memejamkan mata dan pikirannya yang telah penuh dengan sosok Ali.

bersambung...
semoga bermanfaat untuk pembaca sekalian amien..

http://www.facebook.com/notes/melati/kisah-inspiratif-bag1-ketika-cinta-nya-tiada-tertandingi/186915638013486

KESAN AL-QURAN PADA TUBUH MANUSIA


Bismillahirrahmanirrakhiim....

Ada menyeruak perhatian yang begitu besar terhadap kekuatan membaca Al-Qur’an, dan yang terlansir di dalam Al-Qur’an, dan pengajaran Rasulullah. Dan sampai beberapa waktu yang belum lama ini, belum diketahui bagaimana mengetahui dampak Al-Qur’an tersebut kepada manusia. Dan apakah dampak ini berupa dampak biologis ataukah dampak kejiwaan, atakah malah keduanya, biologis dan kejiwaan.
Maka, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami memulai sebuah penelitian tentang Al-Qur’an dalam pengulangan-pengulangan "Akbar" di kota Panama wilayah Florida. Dan tujuan pertama penelitian ini adalah menemukan dampak yang terjadi pada organ tubuh manusia dan melakukan pengukuran jika memungkinkan. Penelitian ini menggunakan seperangkat peralatan elektronik dengan ditambah komputer untuk mengukur gejala-gejala perubahan fisiologis pada responden selama mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an.
Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap sejumlah kelompok manusia:
* Muslimin yang bisa berbahasa Arab.
* Muslimin yang tidak bisa berbahasa Arab
* Non-Islam yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.
Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur’an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara sprontanitas. Dan penjelasan hasil penelitian ini aku presentasikan pada sebuah muktamar tahunan ke-17 di Univ. Kedokteran Islam di Amerika bagian utara yang diadakan di kota Sant Louis Wilayah Mizore, Agustus 1984.
Dan benar-benar terlihat pada penelitian permulaan bahwa dampak Al-Qur’an yang kentara pada penurunan tekanan syaraf mungkin bisa dikorelasikan kepada para pekerja: Pekerja pertama adalah suara beberapa ayat Al-Qur’an dalam Bahasa Arab. Hal ini bila pendengarnya adalah orang yang bisa memahami Bahasa Arab atau tidak memahaminya, dan juga kepada siapapun (random). Adapun pekerja kedua adalah makna sepenggal Ayat Al-Qur’an yang sudah dibacakan sebelumnya, sampai walaupun penggalan singkat makna ayat tersebut tanpa sebelumnya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam Bahasa Arabnya.
Adapun Tahapan kedua adalah penelitian kami pada pengulangan kata "Akbar" untuk membandingkan apakah terdapat dampak Al-Qur’an terhadap perubahan-perubahan fisiologis akibat bacaan Al-Qur’an, dan bukan karena hal-hal lain selain Al-Qur’an semisal suara atau lirik bacaan Al-Qur’an atau karena pengetahun responden bahwasannya yang diperdengarkan kepadanya adalah bagian dari kitab suci atau pun yang lainnya.
Dan tujuan penelitian komparasional ini adalah untuk membuktikan asumsi yang menyatakan bahwa "Kata-kata dalam Al-Qur’an itu sendiri memiliki pengaruh fisiologis hanya bila didengar oleh orang yang memahami Al-Qur’an . Dan penelitian ini semakin menambah jelas dan rincinya hasil penelitian tersebut.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston. Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal:
(i) Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer, dan
(ii) Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh. Perangkat ini sangat lengkap dan menambah semakin menguatkan hasil validitas hasil evaluasi.
Subsekuen:

1. Program komputer yang mengandung pengaturan pernafasan dan monitoring perubahan fisiologis dan printer.
2. Komputer Apple 2, yaitu dengan dua floppy disk, layar monitor dan printer.
3. Perangkat monitoring elektronik yang terdiri atas 4 chanel: 2 canel untuk mengevaluasi elektrisitas listrik dalam otot yang diterjemahkan ke dalam respon-respon gerak syaraf otot; satu chanel untuk memonitor arus balik listrik yang ke kulit; dan satu chanel untuk memonitor besarnya peredaran darah dalam kulit dan banyaknya detak jantung dan suhu badan.
Berdasarkan elektrisitas listrik dalam otot-otot, maka ia semakin bertambah yang menyebabkan bertambahnya cengkeraman otot. Dan untuk memonitor perubahan-perubahan ini menggunakan kabel listrik yang dipasang di salah satu ujung jari tangan.
Adapun monitoring volume darah yang mengalir pada kulit sekaligus memonitor suhu badan, maka hal itu ditunjukkan dengan melebar atau mengecilnya pori-pori kulit. Untuk hal ini, menggunakan kabel listrik yang menyambung di sekitar salah satu jari tangan. Dan tanda perubahan-perubahan volume darah yang mengalir pada kulit terlihat jelas pada layar monitoryang menunjukkan adanya penambahan cepat pada jantung. Dan bersamaan dengan pertambahan ketegangan, pori-pori mengecil, maka mengecil pulalah darah yag mengalir pada kulit, dan suhu badan, dan detak jantung.
Metode dan Keadaan yang digunakan:
Percobaan dilakukan selama 210 kali kepada 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan yang berusia antara 40 tahun dan 17 tahun, dan usia pertengahan 22 tahun.
Dan setiap responden tersebut adalah non-muslim dan tidak memahami bahasa Arab. Dan percobaan ini sudah dilakukan selama 42 kesempatan, dimana setiap kesempatannya selama 5 kali, sehingga jumlah keseluruhannya 210 percobaan. Dan dibacakan kepada responden kalimat Al-Qur’an dalam bahasa Arab selama 85 kali, dan 85 kali juga berupa kalimat berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan sungguh adanya kejutan/shock pada bacaan-bacaan ini: Bacaan berbahasa Arab (bukan Al-Qur’an) disejajarkan dengan bacaan Al-Qur’an dalam lirik membacanya, melafadzkannya di depan telingga, dan responden tidak mendengar satu ayat Al-Qur’an selama 40 uji-coba. Dan selama diam tersebut, responden ditempatkan dengan posisi duduk santai dan terpejam. Dan posisi seperti ini pulalah yang diterapkan terhadap 170 uji-coba bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an.
Dan ujicoba menggunakan bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an seperti obat yang tidak manjur dalam bentuk mirip seperti Al-Qur’an, padahal mereka tidak bisa membedakan mana yang bacaan Al-Qur’an dan mana yang bacaan berbahasa Arab bukan Al-Qur’an. Dan tujuannya adalah utuk mengetahui apakah bacaan Al-Qur’an bisa berdampak fisiologis kepada orang yang tidak bisa memahami maknanya. Apabila dampak ini ada (terlihat), maka berarti benar terbukti dan dampak tidak ada pada bacaan berbahasa Arab yang dibaca murottal (seperti bacaan Imam Shalat) pada telinga responden.
Adapun percobaan yang belum diperdengarkan satu ayat Al-Qur’an kepada responden, maka tujuannya adalah untuk mengetahui dampak fisiologis sebagai akibat dari letak/posisi tubuh yang rileks (dengan duduk santai dan mata terpejam).
Dan sungguh telah kelihatan dengan sangat jelas sejak percobaan pertama bahwasannya posisi duduk dan diam serta tidak mendegarkan satu ayat pun, maka ia tidak mengalami perubahan ketegangan apapun. Oleh karena itu, percobaan diringkas pada tahapan terakhir pada penelitian perbandingan terhadap pengaruh bacaan Al-Qur’an dan bacaan bahasa Arab yang dibaca murottal seperti Al-Qur’an terhadap tubuh.
Dan metode pengujiannya adalah dengan melakukan selang-seling bacaan: dibacakan satu bacaan Al-Qur’an, kemudian bacaan vahasa Arab, kemudian Al-Qur’an dan seterusnya atau sebaliknya secara terus menerus.
Dan para responden tahu bahwa bacaan yang didengarnya adalah dua macam: Al-Qur’an dan bukan Al-Qur’an, akan tetapi mereka tidak mampu membedakan antara keduanya, mana yang Al-Qur’an dan mana yang bukan.
Adapun metode monitoring pada setiap percobaan penelitian ini, maka hanya mencukupkan dengan satu chanel yaitu chanel monitoring elektrisitas listrik pada otot-otot, yaitu dengan perangkat Midax sebagaimana kami sebutkan di atas. Alat ini membantu menyampaikan listrik yang ada di dahi.
Dan petunjuk yang sudah dimonitor dan di catat selama percobaan ini mengadung energi listrik skala pertengahan pada otot dibandingkan dengan kadar fluktuasi listrik pada waktu selama percobaan. Dan sepanjang otot untuk mengetahui dan membandingkan persentase energi listrik pada akhir setiap percobaan jika dibandingkan keadaan pada awal percobaan. Dan semua monitoring sudah dideteksi dan dicatat di dalam komputer.
Dan sebab kami mengutamakan metode ini untuk memonitor adalah karena perangkat ini bisa meng-output angka-angka secara rinci yang cocok untuk studi banding, evaluasi dan akuntabel..
Pada satu ayat percobaan, dan satu kelompok percobaan perbandingan lainnya mengandung makna adanya hasil yang positif untuk satu jenis cara yang paling kecil sampai sekecil-kecilnya energi listrik bagi otot. Sebab hal ini merupakan indikator bagusnya kadar fluktuasi ketegangan syaraf, dibandingkan dengan berbagai jenis cara yang digunakan responden tersebut ketika duduk.
Hasil Penelitian
Ada hasil positif 65% percobaan bacaan Al-Qur’an. Dan hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang ada pada otot lebih banyak turun pada percobaan ini. Hal ini ditunjukkan dengan dampak ketegangan syaraf yang terbaca pada monitor, dimana ada dampak hanya 33 % pada responden yang diberi bacaan selain Al-Qur’an.Pada sejumlah responden, mungkin akan terjadi hasil yang terulang sama, seperti hasil pengujian terhadap mendengar bacaan Al-Qur’an. Oleh karena itu, dilakukan ujicoba dengan diacak dalam memperdengarkannya (antara Al-Qur’an dan bacaan Arab) sehingga diperoleh data atau kesimpulan yang valid.
Pembahasan Hasil Penelitian dan Kesimpulan
Sungguh sudah terlihat jelas hasil-hasil awal penelitian tentang dampak Al-Qur’an pada penelitian terdahulu bahwasanya Al-Qur`an memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap syaraf. dan mungkin bisa dicatat pengaruh ini sebagai satu hal yang terpisah, sebagaimana pengaruh inipun terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, voleme darah yang mengalir pada kulit, dan suhu badan.
Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya. Jadi, ditemukan sejumlah kemungkinan yang tak berujung ( tidak diketahui sebab dan musababnya) terhadap perubahan fisiologis yang mungkin disebabkan oleh bacaan Al-Qur`an yang didengarkannya.
Oleh karena itu sudah diketahui oleh umum bahwasanya ketegangan-ketegangan saraf akan berpengaruh kepada dis-fungsi organ tubuh yang dimungkinkan terjadi karena produksi zat kortisol atau zat lainnya ketika merespon gerakan antara saraf otak dan otot. Oleh karena itu pada keadaan ini pengaruh Al-Qur`an terhadap ketegangan saraf akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, dimana dengan bagusnya stamina tubuh ini akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya. Dan hal ini sesuai dengan keadaan penyakit tumor otak atau kanker otak.
Juga, hasil uji coba penelitian ini menunjukan bahwa kalimat-kalimat Al-Qur`an itu sendiri memeliki pengaruh fisiologis terhadap ketegangan organ tubuh secara langsung, apalagi apabila disertai dengan mengetahui maknanya.
Dan perlu untuk disebutkan disini bahwasanya hasil-hasil penelitian yang disebutkan diatas adalah masih terbatas dan dengan responden yang juga terbatas.

http://www.facebook.com/notes/melati/kesan-al-quran-pada-tubuh-manusia/186320021406381

12 GOLONGAN YANG DIDOAKAN MALAIKAT


Bismillaahirrahmanirrakhiim....

Insya Allah berikut inilah orang-orang yang didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci".
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'"
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan"
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf"
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)
5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu".
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)
7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.
Rasulullah SAW bersabda,
"Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat
( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal.
Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'"
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., Shahih Muslim no. 2733)
9. Orang-orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'"
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa
"sunnah"
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh"
(Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

http://www.facebook.com/notes/melati/12-golongan-yang-didoakan-malaikat/186055168099533

5 HAL YG PERLU DI PERTAHANKAN


Bismillaahirrahmanirrakhiim..

Kesucian dan ketakwaan yang ada dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap muslim. Hal ini disebabkan kesucian dan ketakwaan ini bisa mengalami pelarutan, atau bahkan hilang sama sekali. Namun, ada beberapa tips yang membuat seorang muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya.
PERTAMA, Muraqabah
Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan kontrol ilahiah dan kedekatan dirinya kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)
Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)

KEDUA, Mu’ahadah
Mu’ahadah yang dimaksud di sini adalah iltizamnya seorang atas nilai-nilai kebenaran Islam. Hal ini dilakukan kerena ia telah berafiliasi dengannya dan berikrar di hadapan Allah SWT.
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)

KETIGA, Muhasabah
Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Allah berfirman;
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr (59) : 18)
“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)

KEEMPAT, Mu’aqabah
Mu’aqabah adalah pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya.
“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah (2) : 179)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

KELIMA Mujahadah (Optimalisasi)
Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (al-Hajj (22) : 77-78)
“Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.’” (HR. al-Bukhari Muslim)
Inilah lima langkah yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang ingin mempertahankan nilai keimanan, yang ingin bertahan dan istiqamah di puncak ketakwaannya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal dan akhirnya kita dijanjikan surga-Nya.amin.

http://www.facebook.com/notes/melati/5-hal-yg-perlu-di-pertahankan/186055028099547

Di Kala Rasa Lemah itu Menjengah


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Memang.
Rasa lemah itu kadangkala menyapa diri.
Ujian-ujian yang datang bertimpa-timpa, kadang kala membuatkan kita rebah dan tersungkur.
Terkadang, cukup satu ujian yang menerpa. Namun, beratnya sudah cukup membuat kita hilang arah.
Jika kita berjaya bangun, dan kembali menyusun langkah, alhamdulillah.
Namun, kadang-kadang kejatuhan yang kita alami itu seakan-akan merenggut segala daya dan upaya kita. Tenaga yang masih bersisa hilang entah ke mana, lantaran harapan buat hari esok yang semacam tiada.
Lalu, masihkah ada sinar harapan buat kita bangkit kembali?
Bagaimana kita menyingkapinya?
Saya percaya, menyuruh orang bersabar tatkala diuji itu jauh lebih mudah, berbanding diri sendiri yang menghadapinya.
Benar. Memang tidak dapat dinafikan. Saya pun pernah berada dalam kondisi itu. Di kala, kata-kata motivasi yang kita sering laung-laungkan kepada orang lain juga ada masanya seakan tidak punya kesan terhadap diri. Keyakinan yang selama kita ini kita pegang pun mampu tergoyah kembali.Maka di sini, kita dapat melihat kepentingan saling nasihat-menasihati kepada kebenaran dan kesabaran, yang ditekankanNya melalui surah al-Asr.
Seringkali, kata-kata tulus mereka itu jualah yang menyembuhkan semangat diri.
Namun bukan itu yang saya mahu sentuh di sini. Dalam konteks diri kita sendiri, bagaimana seharusnya kita berdepan dengan ujian itu. Bagaimanakah caranya untuk kita memotivasikan diri sendiri?
Ok. Perkara ini kita perlu faham dengan jelas, supaya tatkala kita diuji nanti mudah-mudahan perkongsian ini turut mampu membangkitkan kita kembali.
Mulakanlah dengan bersangka baik kepada Allah dalam apa jua perkara.

Bersangka baiklah.
Yakinlah, Dia tidak menciptakan sesuatu ujian atau bencana itu, hanya dengan sia-sia. Pasti punya hikmah di sebalik peristiwa yang menimpa.
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." - \[Surah Al-Baqarah, 2: 216]
Kemudian, sertai kepositifan tadi (bersangka baik) dengan bersabar. [I]Inallaha ma'as sobirin.[/I] Kerana sesungguhnya, Allah itu berserta dengan mereka yang sabar.

Sabar.
Dan kelak, kesabaranmu itu pasti akan membuahkan hasil yang bermanfaat. Agar kemudiannya kau dapat merenung kembali hikmah yang Dia susunkan itu, sambil dirimu tersenyum.

Kesilapan kita.
Ada masa kita silap.
Kita rasakan yang kita ini sudah cukup kuat, bagaikan kita ini telah kebal dari sebarang titik-titik kelemahan.
Terkadang, kita rasakan bahawa kita mampu berdiri sendiri sehinggakan kita fikir semua ujian yang datang kepada kita itu, mampu untuk kita selesaikan seorang diri.
Tidak. Saya tidak salahkan kemahuan kita untuk hidup berdikari.
Namun, kita sering lupa bahawa hakikatnya, kita ini hanyalah makhlukNya yang serba lemah dan kekurangan. Mampukah kita menanggung semua ujian itu dengan sendirinya tanpa sebarang bantuan?
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, kerana manusia diciptakan (bersifat) lemah." - \[Surah An-Nisa', 4: 32]
Ya. Manusia itu sifatnya tidak akan mampu berdiri dengan sendirinya; jika tidak dia memperoleh kekuatan itu dari Allah.
Bukankah ujian itu datangnya dari Allah? Maka, kepada siapa lagi harus kita kembalikan jika tidak kepada Dia Yang Maha Kuasa?
Namun, silapnya pada kita.
Kita sering menyombongkan diri untuk bersimpuh memohon pertolonganNya.
Kita merasakan diri kita sudah lengkap sempurna. Kuat, berkuasa.
Sedangkan hakikatnya, kita sedikit tidak punya daya jika Dia tidak mengizinkannya.

Wujudnya saat muhasabah.
Manusia jarang sekali mahu bermuhasabah diri. Tatkala disentap dengan ujian yang berat barulah wujud saat mereka kembali berfikir apakah salah silap mereka selama ini. Itupun jikalau mereka sedar.
Maka, salah satu hikmah dari ujian adalah wujudnya masa kita untuk bermuhasabah.
Masa untuk kita merenung kembali sejauh mana kehidupan ini telah dibawa.
Adakah kita masih berada pada landasan yang benar?
Hikmah dari muhasabah ini akan membawa kita melihat dan memikirkan pula hikmah-hikmah yang lain dari ujian tadi.
Baik.
Apakah hikmah yang ingin Dia tunjukkan kepada kita melaluinya?
Manusia itu selalu bersifat lupa diri tatkala diberi nikmat. Namun, tatkala kita diuji dengan sedemikian rupa, barulah kita bersegara kembali mencariNya. Sungguh-sungguh kita mohon padaNya agar dipermudahkan segala kesulitan yang ada. Sedang selama ini, hendak mengingatiNya sebentar pun terasa berat. Astagfirullah, hamba jenis apakah kita ini?
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan." - \[Surah Yunus, 10: 12]
Maka, di situ punya hikmah untuk sama-sama kita renungkan.
Bersangka baiklah kepada Allah atas ujian yang menimpa kita.
Dia mahu kita kembali kepadaNya.
Dia mahu kita selamat di 'sana'.
Dia mahu kita merenung sebentar dan bermuhasabah kembali.
Sekarang, jawab dengan hati kita. . .
Benarkah selama ini kita telah meletakkan Dia sebagai matlamat hidup kita?
Atau tanpa sedar kita meletakkan perkara-perkara lain (nikmat-nikmat yang Dia tarik itu mungkin) sebagai tujuan hidup yang mesti kita capai?
Benarkah kita telah meletakkan pergantungan kita sepenuhnya kepadaNya?
Atau mungkin, kita meletakkan pergantungan kita kepada 'tuhan-tuhan' lain (manusia-manusia lain atau diri sendiri) lebih, berbanding Dia Yang Maha Sempurna?
Moga-moga, hati-hati yang bersih itu mampu memberikan jawapan yang jujur.
Kerana saya yakin, pasti semua tahu, bahawa apabila kita sudah mengakui Allah itu sebagai Tuhan kita, seharusnya hanya Dialah yang menjadi matlamat utama hidup kita. Dan hanya kepadaNya jualah tempat kita bergantung segala.
Dan perkara-perkara lain yang 'terkorban' (ketika diuji) itu, tidak lain hanyalah salah satu kurnia dariNya dan juga sebagai ujian pembuktian keimanan manusia.
Seharusnya ia tidak mampu menggoyah matlamat hidup serta keyakinan kita.
Selama ini, adakah itu cara kita melihat?

Penutup: Kembali sedar matlamat dan peranan hidup

Kembalilah menapak bersama matlamat dan hala tuju yang jelas.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdikan diri kepadaKu." - \[Surah Ad-Dzariyat, 51: 56]
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi". Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merosak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami sentiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Dia berfirman, 'Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" - \[Surah Al-Baqarah, 2: 30]
Manusia itu seharusnya sedar, bahawa tujuan dia tercipta di muka bumi ini adalah untuk menghambakan diri kepadaNya (melaksanakan tanggungjawab dan perintahNya, serta meninggalkan laranganNya).
Manusia itu sewajarnya sedar peranan yang perlu dia mainkan di muka bumi ini ialah sebagai khalifah; yakni dengan memakmurkan muka bumi, serta membawa manusia kembali kepada Allah, satu-satunya 'Illah' (Tuhan) seluruh semesta.
Setelah kesedaran, kefahaman, dan keyakinan tadi mendasar, semua permasalahan tadi pasti akan tampak lebih mudah. InshaAllah.
Wajar sahaja kita merasa sedih tatkala diuji, kerana itu merupakan lumrah seorang manusia. Namun, amatlah tidak wajar untuk kita merasa kecewa dan berputus asa. Sekaligus, kita tidak akan sesekali memanjangkan kesedihan yang dirasa.
Ya. Ia adalah atas keyakinan kita bahawa Allah itu Tuhan yang menciptakan segala.
Memperhambakan diri kepadaNya merupakan tujuan hidup kita.

Dan pasti, Dia tidak menciptakan sesuatu sia-sia, melainkan ada hikmahnya.
Jika kita sudah sedar akan perkara ini, maknanya, hikmah dari ujian itu seharusnya sudah nampak. Kebangkitan yang ditunggukan-tunggukan itu juga seharusnya sudah dimulakan langkahnya.
Wahai diri,
Kali ini. . .
Letakkan Dia 'bersama' ketika kamu menapak.
Dan pasti, jalan penyelesaian itu akan mula kelihatan.
" ... Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia akan membukakan jalan keluar bagiNya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." - \[Surah At-Talaq, 65: 2-3]

http://www.iluvislam.com/inspirasi/motivasi/1723-di-kala-rasa-lemah-itu-menjengah.html