Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Minggu, 13 Februari 2011

PANDAI MEMAAFKAN


Sahabat tercinta….
Tak hendak memperdebatkan kebenaran kisah yang melatarbelakangi lagu “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree" . Lagunya memang benar ada dan silakan kalau sahabat hendak mencoba dengarkan. Pada kesempatan ini kita hanya hendak mengambil hikmah dari  kisah (yang konon  menjadi latar belakang) lagu ini, sebagai ilustrasi yang memudahkan kita belajar untuk memiliki pribadi yang agung. Salah satu cirinya adalah pribadi yang pandai memaafkan….
Berikut kisah yang sudah sangat populer beredar di internet …..
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Seks, judi, mabuk-mabukan, dia menikmati semuanya.
Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.
Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.
Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis,
"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku, namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan?”
“Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."
Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau jika istrinya membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?
Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Dia meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, kalau lewat White Oak, jalannya pelan-pelan saja......"
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.
Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya......
Dia tidak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tiada  sehelai......
Melainkan ada seratus  (100) helai pita-pita kuning....
bergantungan di pohon beringin itu...
Ooh...pohon itu seakan dipenuhi pita kuning...!!!!!!!!!!!!
Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Kemudian lahir lagu "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree". Lagu ini  ditulis oleh Irwin Levine dan L. Russell Brown. Mencapai nomor satu di Amerika Serikat dan lagu Inggris selama empat minggu pada bulan April 1973 dan nomor satu di tangga lagu Australia selama tujuh minggu dari Mei-Juli 1973.
I'm coming home I've done my time
And I have to know what is or isn't mine
If you received my letter Telling you I'd soon be free
Then you'd know just what to do If you still want me , If you still want me
Oh tie a yellow ribbon 'Round the old oak tree
It's been three long years Do you still want me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree
I'll stay on the bus, forget about us Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree
Bus driver please look for me 'Cause I couldn't bare to see what I might see
I'm really still in prison And my love she holds the key A simple yellow ribbon's
all I need to set me free I wrote and told her please Oh
tie a yellow ribbon 'Round the old oak tree It's been three long years Do you still want me
If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree I'll stay on the bus,
forget about us Put the blame on me If I don't see a yellow ribbon 'Round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons 'Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon 'round the old oak tree Tie a ribbon 'round the old oak
Sahabat terkasih……
Alangkah indahnya jiwa sang istri….
sulit kita melukiskan keagungan hati wanita di balik kisah di atas.
Tidak hanya sekedar memaafkan…
namun dia memberikan lebih dari sekedar permaafan.
Dia memberikannya dengan segenap jiwa dan kasih sayang yang mengharukan hati.
Wanita tersebut adalah seorang yang sangat pandai dalam memaafkan.
Menjadi pribadi yang pemaaf adalah baik,
menjadi pribadi yang pandai memaafkan tentu akan lebih baik.
Pandai memaafkan, berarti  mudah dan cepat
dalam  hal sesuatu yang memang harus segera dimaafkan.  
Tidak akan menyimpan rasa marah apalagi dendam dalam hati.
Pandai memaafkan , tentu saja tidak akan menyimpan “penyakit” dalam hati dan pikiran kita.
Seorang ahli hikmah mengatakan, lupakanlah dua hal.
"Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain
dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu."
Insan yang pandai memaafkan bahkan membalas orang yang menyakitinya dengan kebaikan yang mengesankan.
Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: "Rasulullah SAW bersabda, "wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu." (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Sahabatku tercinta……
Jadilah  orang yang pandai memaafkan,
berikanlah maaf pada sesama dan semua…..
Memaafkan dengan segera, santun, tulus ,
dengan segenap kemampuan sering menyisakan jejak...
Jejak keagungan, jejak yang bisa dibaca dan menjadi pelajaran bagi sesama..
Mungkin ada di antara kita,
memilih menumpahkan kemarahan ketika harga diri dijatuhkan.
Mendahulukan emosi ketika orang menyakiti
dengan kalimat-kalimat sindiran yang disengaja.
Orang yang pandai memaafkan memilih untuk berterima kasih
dan meyakini adanya transfer pahala ketika mampu memaafkan.
Dan memilih tidak lagi harus khawatir,
karena harga diri manusia hanyalah akan jatuh di mata-Nya,
ketika dia menggadaikan diri pada perbuatan dosa dan maksiat….
Pandailah dalam memaafkan, sahabat…
Termasuk pandailah memaafkan diri kita sendiri…
Agar kita bisa menikmati kilaunya pagi…
bisa meresapi indahnya jingga senja hari…….
"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.
Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?
Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur :22).


http://www.facebook.com/notes/kata-kata-hikmah/pandai-memaafkan/10150091828790849

Untuk Adekku Diana


Bismillaahirahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ala Rasulillah. Ini kisah nyata yang saya alami  3 tahun lalu. Semoga kita bisa mengambil ibroh dan hikmahnya.
Ada segores pedih saat ku ukir namamu dik…, Perih. Seakan ribuan belati menusuk ke hati, meninggalkan gumpalan sedih di lubang rasaku.. Penyesalan yang tak berujung, yang membuatku merutuki diri ini yang begitu ego diri. Allah…, Ampuni aku.. Adik, maafkan kakak….
Aku mengenalmu pertama kali ketika kami masih berpakaian putih abu-abu, dan berlanjurt di tingkat kuliah. Aku masih teringat sinar matamu saat aku memasuki kelasmu, dan kamu mengajak kami dan teman-temanmu memanfaatkan waktu kalian di sela waktu luang dalam sebuah majlis ilmu. Kajian jum’at, yang rutin ku jalankan bersama teman-teman akhwatku di rohis.
Sayangnya, sepertinya teman-temanmu tidak begitu merespon, mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan bergosip dan hal-hal yang tidak bermanfaat, tapi kamu berbeda. Kamu terlihat istimewa. Kamu datang, dengan wajah penuh riang. Dik, sampai sekarang aku masih ingat senyuman yang tak penah lepas dari wajahmu. Senyuman yang dapat menghilangkan segala penat dan lelahku karena tugas-tugas yang menumpuk, program kerja di rohis yang begitu padat, rapat-rapat dan pertemuan yang begitu melelahkan. Tapi kamu…, yah kamu tetap riang dan seolah mengajarkan kami kakak-kakakmu untuk tetap semangat dan menikmati dunia dengan riang.
Kamu semakin dekat pada kami, kamu begitu mudah menyerap segala pengetahuan yang kami berikan kepadamu. Kamu cerdas dik. Mungkin karena belajar dengan hati, kamu begitu mudah menerima kebaikan. Kamu hanif dik, hatimu begitu lembut dengan kebenaran… Allahu akbar, aku malu dik saat menyadari betapa banyak kesombongan di hati ini, tak seperti kau yang sangat bersahaja.
Aku mulai menyadari, dirimu sangat berbeda dengan teman-temanmu. Kamu begitu dekat dengan kami, senior-seniormu, bahkan sangat manja, berbeda dengan teman-temanmu yang cukup segan kepada kami. Tapi aku suka sifatmu dik, aku seolah memiliki adik baru. Kamu sangat perhatian pada kami, terutama padaku. Itu yang ku rasa dulu, setiap di sela jam istirahat, kamu pasti selalu membawa coklat untukku, dan berbisik padaku:
“Kak, jangan bilang sama kak iva yah, aku cuma kasih kakak. He he he.” Katamu dengan wajah penuh rahasia. Aku tertawa, menyambutnya juga dengan wajah tak kalah licik. Ha ha ha ( mb.iva mungkin kamu ingat itu…lucunya adik kita yang satu ini. Tapi ternyata aku salah, kau melakukan hal yang sama pada mb.iva juga. Kami tertipu, tetapi kami tetap senang. Begitulah caramu membuat kami merasa begitu kamu cintai. Allah, begitu banyaknya dia mengajari kami.Hari itu kamu mendatangiku, dengan wajah penuh semangat lebih dari biasanya. Kamu bertanya kepadaku:
“Kak, aku mau kayak kakak. Menutup aurat dengan sempurna.” Allahu Akbar ! aku menyambut dengan begitu bahagia. Aku sampaikan pada uphi, Hilda dan ade, serta akhwat-akhwat yang lainnya. Mereka merespon dengan begitu bahagia. Kau memintaku menemanimu membeli kain, tentu saja aku mau. Subhanallah, bahagianya hatiku saat itu. Serasa tiada hari terindah melebihi ketika aku pergi bersamamu pada hari itu.
Beberapa hari kemudian kamu datang dengan wajah cemas. Katamu, keluargamu tidak senang dengan perubahanmu, bahkan mereka pernah menyembunyikan jilbabmu. Kamu pun kini ragu dengan pilihanmu. Aku mencoba meyakinkanmu bahwa Allah lah sebaik-baik penolong. Tak ka nada yang bisa menyakitimu dalam lindungan-Nya. Kamu menangis. Kemudian aku mengajakmu ke mushola. Kita shalat dhuha, dan selesai shalat kamu berkata mantap, “Aku mantap untuk memakainya kak.” Subhanallah, ya Allah, Engkau penguasa hati makhluk-Mu…
Keesokan harinya, kamu dengan jilba lebarmu, dengan wajah yang sangat berbahagia. Aku memeluk dan menciummu dengan penuh sayang. Aku mencubit pipi tembemmu yang besemu merah, semua akhwat memelukmu dengan bahagia, ahlan wa sahlan yaa ukhti, semoga kamu terjaga dalam busana syar’i ini.
Kamu pun smakin dekat padaku, sangat perhatian pada kami smua, tak pernah seingatku kamu tak datang menjengukku setiap kali aku sakit. Kamu selalu datang walau dalam kondisi sangat lelah.. Dik, kakak sangat bangga padamu.. Kamu semakin aktif, semua amanah yang diberikan mampu kamu kerjakan dengan penuh semangat. Bahkan, rasanya tanpa kamu, kami sangat kerepotan. Kami sangat sayang padamu dik.
Tak terasa 2 tahun kebersamaan kita…. Aku lulus, dan harus meninggalkan kampus kita tercinta, meninggalkan rohis MPM KARAMAH (Mahasiswa Pencinta -Mushallah Kerukunan Remaja Mushallah Aliyah) yang kami rintis dari awal dengan penuh perjuangan, akhwat-akhwatku, adik-adik mentorku, perjuangan kami. Aku harus meninggalkann mereka semua. Termasuk kamu dik. Kamu menangis, kamu meminta kami agar tak meninggalkan kalian. Yah, kami berjanji akan lebih sering mengunjungi. Tak akan berhenti memperhatikanmu dan yang lain. Tapi, ternyata….
Semua hanya janji, kami masuk dalam lingkungan kampus, yang kesibukannya menumpuk, terlebih aku mengambil fakultas paling sibuk di antara semua fakultas yang ada… Aku tak menepati janji, aku ingkar padamu dik. Allah, ampuni aku…
Aku melupakanmu, aku mulai sibuk di lembaga dakwah kampusku, yang juga meminta perhatian yang sangat besar. Kuliah-kuliahku, lab-labku yang membuatku tak punya waktu untuk yang lain, termasuk padamu. Aku mulai melupakanmu, tapi kamu sering sekali menelponku.
Yah…telpon-telponmu dik.. .Allah, jika mengingat ini, sungguh penyesalanku seakan tak ada habisnya. Kamu begitu sering menelponku, menceritakan semua keadaan di SMU kita, tentang keluargamu yang semakin menentangmu, tentang saudaramu yang sangat membencimu, tentang tidak adanya orang yang mau mendengarkan seluruh keluh kesahmu. Bahkan terkadang, kamu meneleponku sampai dua jam. Dan aku yang begitu egois, mulai bosan dengan semua keluhanmu. Aku yang terkadang begitu lelah dengan rutinitasku, yang hanya mencuri waktu
untuk istirahat, juga harus terganggu dengan teleponmu. Ampuni hamba ya Allah…, aku mulai menghindarimu, tak ku jawab telepon-teleponmu, tapi kamu sekalipun tidak marah. Ya Allah…,
Suatu hari, kamu datang ke rumah dengan wajah letih, tak ku temukan keceriaan itu lagi. Ada yang aneh pada dirimu dik, aku sangat terkejut melihatnya…
Wajahmu yang dulu penuh semangat dan selalu dihiasi senyum,keceriaan, yang biasanya mampu mengobarkan semangat orang-orang di sekitarmu. Kini kamu begitu berbeda, wajahmu begitu pucat, loyo, tanpa semangat hidup seperti dulu.
Tubuhmu dik…, Allah… ada apa dengan dirimu dik ? dulu kamu begitu gemuk menggemaskan, dengan pipi tembem yang sangat lucu hingga matamu yang sipit akan semakin kecil saat dirimu tersenyum. Dulu kami (akhwat-akwhat) di rohis sering menyebutmu “Roti donatku” dan kamu akan membalasnya dengan wajah cemberut, yang kemudian diikuti dengan merajuk… tapi kini, kamu sangat kurus dik… sakit kah dirimu ? ini memang pertemuan pertama kita setelah aku lulus, selama ini kita hanya berkomunikasi melalu telepon..
Dulu setiap kali kita berkumpul kamu akan menceritakan semua pengalamanmu padaku, bibirmu akan terus berceloteh tanpa henti, dengan riang dan semangat… aku selalu menjadi pendengar setiamu… tapi kini kamu hanya diam membisu, tercenung tanpa berkata apa-apa….
Saat ku tanya kamu dari mana ? kamu hanya menjawab dengan singkat bahwa kamu hanya kebetulan lewat setelah pulang tarbiyah… lalu selebihnya kamu hanya diam… Dik, tahukah kau, betapa banyak yang ingin ku tanyakan kepadamu? tapi aku tak ingin menambah penatmu dengan pertanyaan-pertanyaanku. Jadi ku biarkan saja kamu dalam diammu… hingga akhirnya kamu tertidur… Aku menatap wajahmu yang teduh dalam tidurmu… dik, sebenarnya apa yang terjadi denganmu ?
Lalu kamu punpamit, pergi tanpa sedikitpun cerita sebagaimana lazimnya….
Aku kembali dalam duniaku, Kuliahku, labku, amanah dakwahku… Dan.. Ya Rabb, aku kembali melupakanmu dik, hingga kemudian aku menerima sebuah telepon dari temanmu, “Kak, Diana sakit, sudah 1 minggu dia tidak masuk sekolah, kayaknya parah, kalau bisa kakak sempatkan waktu untuk menjenguknya, dia selalu menanyakan kakak dan akhwat-akhwat yang lain.” aku tercenung di ujung telepon, tak tahu harus berbuat apa..
Saat aku dan akhwat-akhwat lain tiba di rumahmu, segera kami ke kamarmu, kamar sempit yang pengap. Hatiku miris…, aku baru kali ini ke rumahmu dik. Rabb, aku baru menyadari betapa aku tidak memperhatikan saudaraku yang memberiku parhatian luar biasa selama ini. Hatiku perih melihat keadaanmu, tubuhmu begitu kurus seperti seonggok tulang berselimut kulit, aku bahkan tak mampu mengenalimu, tubuhku bergetar, dadaku sesak menahan tangis, air mataku jatuh tak mampu ku bendung..
Aku mendekatimu, kamu berusaha tersenyum tapi yang ku lihat adalah ringisan menahan sakit. Aku mencoba menahan perasaanku. Aku memelukmu, mencium keningmu, akhwat yang lain pun melakukan yang sama… kamu tersenyum, mencoba menggapai tanganmu, ku raih dan ku genggam tangan kurusmu… ku mencoba menghiburmu dengan berbagai cerita lucu, kamu tertawa, akwat-akhwat pun tertawa, tapi aku menangis di sini. Di lubuk hati terdalamku, meratapi keacuhanku…,Ketika ingin pamit, kau ingin menahanku, maafkan kakak dik, harusnya dulu aku menemanimu lebih lama dalam kesakitanmu…
Aku mencoba bertanya pada ibumu kenapa kamu tidak dibawa ke Rumah Sakit, dan kembali ku temukan jawaban yang menghempaskan perasaanku hingga hancur berkeping-keping, kau menderita kanker kelenjar getah bening. Dan karena ekonomi, tak punya biaya, kamu hanya di bawa ke puskesmas. Kamu sudah pernah dibawa ke RS tapi di keluarkan karena tak punya biaya…
Rabbana, apa gunaku selama ini, inikah ukhuwah yang aku dengang-dengunkan selama ini? inikah ikatan persaudaraan bagai satu tubuh yang selalu aku ikrarkan dalam setiap majelis yang aku bawakan? inikah kasih sayang yang aku serukan? Tidak, aku harus melakukan sesuatu untukmu dik… Saat itu segera aku bertanya krpada kakakku, dan katanya aku harus mengambil surat keterangan tidak mampu untukmu agar kamu dapat segera di rawat secara gratis…Tunggu aku, aku akan berusaha… ku bisikkan padamu bahwa aku pasti kembali…
Aku kembali menjengukmu dik bersama hilda dan uphi serta beberapa akhwat lain. Aku belum berhasil menyelesaikan urusan surat miskin itu, ternyata harus dengan berbagai macam prosedur, tapi aku akan berusaha dik…Kali ini kondisimu semakin memburuk. Aku memelukmu dan dan kamu berkata “Ini kakak yang cengeng itu yah?” kamu tersenyum.. Aku terperanjat, Rabbana… Dik apa kamu sekarang tidak bisa melihatku ? kamu tersenyum dan berkata, “Kak, afwan kalo bicara suaranya di kencengin yah, aku sudah tidak bisa melihat dan mendengar lagi.”
Tubuhku bergetar, aku tahu wajahku pucat pasi saat itu, aku pun tak bisa membendung tumpahnya air mataku, aku menangis. Para akhwat menarikku menjauh darimu. Dalam pelukan akwat, aku tumpahkan segala rasaku, sedihku, penyesalanku, dan ketakutanku… aku takut kau tak mampu bertahan dik… sungguh aku sangat takut kehilanganmu.
Tiba-tiba kamu tidak sadarkan diri, tak lama kemudian kamu siuman lagi, begitu seterusnya…
Allah, kurasakan aroma sakaratul maut semakin dekat di ruangan ini… ku raih tangan ringkihmu.. inilah tangan yang dulu sering memelukku dari belakang, menutup mataku dan menyuruhku menebak siapa dia, dan tentu saja aku tahu, tak ada tangan yang segemuk punyamu dik, saat aku menjawab, “Pasti si roti donat” kamu tertawa… tapi kini tangan itu tak mampu bergerak lagi… Aku usap air mata di pipimu dik, kamu menangis, apakah kamu merindukanku, merindukan kami saudaramu, yang telah melupakanmu ? sudihkah kau memaafkan kami dik ?
Aku mendekatkan bibirku ke telingamu, aku tak tahu apakah saat itu kau sadar atau tidak. Aku bisikkan kalimatullah. Aku menuntunmu menyebut nama-Nya “Laa Ilaaha illallaah…laa Ilaaha illallah…” bibirmu bergerak dan aku mendengarmu berkata “Allah…Allah..” Rabbana inikah sakaratul maut… sesakit inikah…??? Ya Rabbal izzati… Allahummagfirlahu, Allahummarhamhu… Ampunilah dia, Rahmatilah dia…Aku baru selesai shalat subuh, yang kemudian aku lanjutkan dengan Al-Ma’tsurat dzikir pagi. Hari ini aku berencana mengambil surat keterangan miskin untukmu, yang dijanjikan selesai hari ini, aku sangat bersemangat. Kamu akan segera di rawat dik. Saat baru saja aku hendak mandi, telepon berbunyi, ternyata dari ukhti Uni, mungkin dia mengajak menjengukmu lagi, tentu saja aku mau, tapi aku salah, berita yang aku terima sungguh sangat membuatku terguncang.. “Ukhti, adik kita Diana… Innalillahi wa innailaihi Rojiun”
Aku tak mau berburuk sangka ” Uni, kamu ngomong apa sih ? ada apa ? ngomongnya jangan nangis gitu dong…?” kataku mencoba menenangkan diri .
“Diana ukh, dia sudah nggak ada, dia meninggal tadi malam jam 01.00, kita doakan yah.. nanti kita sama-sama melayat ke rumahnya” Rabbana… aku terdiam, tak mampu berkata-kata, serasa ada benjolan besar di tenggorokanku yang siap meledak, aku terdiam, tak ku hiraukan uni yang terus memanggilku dan terus menyuruhku bersabar.. aku terduduk.. menangis.. aku tumpahkan segala kesedihanku, penyesalanku, keacuhanku, ketakpedulianku, keegoisanku…
Wajahmu terus berkelabat dalam benakku, senyummu, tawamu, manjamu, semangatmu… aku terus menangis…
Baru saja jenazahmu di bawa dari rumahmu. Ibumu sejak tadi tak sadarkan diri. Kakakmu yang kamu bilang membencimu ternyata sangat mencintaimu, dia yang merawatmu selama kamu sakit. Dik, begitu banyak orang yang datang melayatmu, menghantar jenazahmu, mensholatimu.. .aku hanya bisa diam menatap iringan membawamu ke tempat pembaringanmu meninggalkan kami…
Dik, kakak tak mampu menemanimu lagi seperti dulu, tak akan ada lagi telepon-teleponmu dan smsmu yang kini dan hingga kini ku rindukan dan selalu ku nanti tapi aku tahu hanya akan berbalas kesedihan. Tak ada lagi coklat-coklat kejutan rasa cintamu pada kami… Tak ada lagi cerita-ceritamu tentang masalah-masalahmu yang kini dan hingga kini selalu ku nantikan dan ku tahu hanya berbalas kecewa.
Dik, maafkan kakak, Semoga kau tenang disana, semoga kau dapat menahan himpitan kubur yang kita semua akan merasakannya. Rabbana… Lapangkanlah kuburnya, terangilah dengan cahaya-Mu, jauhkanlah dia dari adzab kubur… Bukakanlah pintu jannah-Mu, sungguh dia adalah mujahidah-Mu, dia adalah tentara yang memperjuangkan agama-Mu..
Ku tahu saat ini begitu banyak dari kami menangisi kepergianmu mujahidah, namun aku pun yakin, ribuan penduduk langit bersorak menyambut kedatanganmu dan ribuan malaikat menaungimu dalam hamparan sayapnya… dalam kedamaian di sisi Rabbmu… Pergilah adikku… kakak ridho..
“Kak, apa aku juga bisa disebut mujahidah ? aku kan tidak berperang” …tertawa…
“Tentu saja dik, setiap orang yang memperjuangkan agama Allah dan mati dalam keyakinan pada-Nya adalah seorang mujahid-mujahidah.” …
 “Kak, aku mau berjilbab lebar seperti kakak, pantas nggak yah? aku kan gendut…?” …katamu tersenyum malu…
“Kau akan sangat cantik dengan busana syar’i dik, masih adakah yang lebih penting dari kecantikan di mata Allah…?” ….Kau tertawa…
“Aku mauuuuu cantiiik di mata Allah…” …Tertawa riang….
*** Untuk adikku Diana tenanglah disana, dalam perlindunganNya, tak akan ada yang mampu menyakitimu dik…” ****

Barakallahufikum..smoga bmanfaat
Wassalam…


http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-untuk-adekku-diana/189690554392933

Sabtu, 12 Februari 2011

Cinta oh Cinta


Cinta seperti angin … dirasakan ato tidak dia memberikan kehidupan kepada semua mahluk di bumi ini. Seperti angin Cinta tidak pernah senang untuk dirasakan dan tidak kecewa bila diabaikan. Dia ikhlas dan hanya memberi kita kehidupan.
Cinta Seperti Air … setia mengalir melewati semua rintangan dan celah kehidupan. Dia tak pernah mengeluh apa yang datang padanya… Dia selalu setia memberikan kehidupan tak pernak menyesalkan seburuk apapun perjalanannya  ikhlas..mengalir hingga sampai samudera.. luas
Cinta itu ada walau kadang kita menampikannya dan tetap ikhlas dalam keangkuhan dan Ego…


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/cinta-oh-cinta/187917464561243

Kiat-kiat Menghadapi Permasalahan Hidup


Satu kesulitan, ada dua kemudahan. Kemudahan pertama adalah ketika kita "menghadapi" dan bukan "menjalani". Kemudahan kedua adalah ketika kita menggeser fokus kepada yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Berikut ini ada 11 langkah yang mungkin berguna buat kita dalam menghadapi masalah hidup, yaitu:
1. SADARI
Maka, upaya terbaik kita yang pertama adalah menciptakan sebuah kesadaran tentang keberadaan persoalan itu dan tentang pemahaman bagaimana memisahkan "diri" dari "masalah".
2. TERIMA
Jangan tolak keberadaan masalah. Jika ia memang ada dan nyata, terima dulu. Pisahkan dua hal ini; "ada masalah" dan "saya ada masalah". Ketika kita merasa frustrasi, maka kita sebenarnya sedang dalam kesulitan untuk memisahkan dua cara pandang ini.
3. SOLUSI ADA DI DALAMNYA
Setiap persoalan, dipastikan selalu membawa bibit penyelesaian. Dan yang namanya bibit, sifat alamiahnya adalah pantas untuk tumbuh. Maka persoalan atau masalah, adalah tentang bagaimana Tuhan sebenarnya sedang menumbuhkan dan mendewasakan kita.
4. SELESAIKAN
Masalah hanya akan berlalu jika diselesaikan.
Belajarlah tentang cara dan pola yang sistematis dalam menyelesaikan masalah. Belajarlah auditing untuk berbagai persoalan.
5. NAIKKAN LEVEL BERPIKIR
Masalah kita muncul pada sebuah tingkat atau cara berpikir. Masalah itu akan bisa diselesaikan hanya jika kita menaikkan tingkat berpikir kita. Ini bisa dilakukan dengan mempelajari seluk beluk persoalan dan dengan melatih pola berpikir problem solving.
Cara yang paling mudah: Turunkan tingkat kepentingan dari masalah. Ini bisa dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang menguji tingkat kepentingan masalah.
Latihan ini akan membiasakan himmah (kecenderungan, hasrat, niat, tekad, kehendak, semangat, sikap menyukai atau menyenangi, kecintaan) hati dan pola pikir kita, ke hal-hal lain yang jauh lebih baik untuk diri kita.
"Apakah masalah ini memang benar-benar masalah?"
"Apakah 'ini masalah' adalah hanya cara pandang saya saja?"
"Adakah sesuatu yang lebih baik dari apa yang menjadi masalah itu?"
Banyak sekali hal yang kita anggap masalah, sebenarnya hanya persoalan remeh. "Masalah" semacam ini bisa selesai justru dengan tidak menganggapnya sebagai masalah.
Hadapilah hanya yang memang benar-benar masalah (Perkecil masalah yang besar dan hilangkan masalah yang kecil)
6. JIKA PERLU: TULIS
Jika kita anggap perlu, tuliskanlah masalah yang kita hadapi. Berikan semua rincian yang bisa kita pikirkan. Dengan melakukan ini, kita akan bisa mulai mengorganisir, memilih, dan memilah pokok-pokok permasalahan yang kita hadapi.
7. CARI SOLUSI
Kita tak akan menemukan, jika kita tidak mencari.
Selalulah berupaya untuk mencari solusi. Ketahuilah, jika kita mencari kita pasti akan menemukan. Kita mungkin tidak tahu kapan, tapi pasti, pasti kita temukan. Teruslah mencari.
Sabar, tidak putus asa, dan pantang menyerah.
8. GUNAKAN WAKTU DENGAN BIJAK
Isilah waktu kita dengan mencari, menemukan, dan mengembangkan solusi. Jadilah manusia yang berorientasi pada solusi. Berhentilah mempertanyakan, dan mulailah bertanya. Mempertanyakan adalah tanda belum menerima, dan bertanya adalah sebaliknya.
Gunakan hanya sedikit waktu untuk masalah, dan segeralah bergerak mencari solusi.
9. PROPORSIONAL
Jangan biarkan masalah kita menjadi lebih besar dari pada diri kita sendiri. Ingatlah bahwa "sering", belum tentu sama dengan "besar".
 Setiap masalah akan menjadi aturable (bisa di-manage), manakala masalah itu bisa diterjemahkan menjadi pecahan-pecahan kecil dari langkah-langkah yang perlu kita ambil.
10. BERSIKAPLAH BENAR
Kembangkan dan latih sikap yang tepat untuk setiap masalah. Berlatihlah untuk terampil menerapkan Prinsip 10/90 dari Stephen Covey. 10% adalah fakta, 90% adalah sikap.
Jika sudah terbiasa, maka yang biasa kita sebut dengan "masalah" akan menjadi "pengalaman belajar" dan "kesempatan".
11. JANGAN LIHAT MASALAH YANG TAK ADA
Gunakan kekuatan imajinasi kita untuk mencari solusi. Jangan gunakan untuk membayang-bayangkan masalah yang tidak ada.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-kiat-kiat-menghadapi-permasalahan-hidup-/10150124681411042

Prasangka Buruk Mengotori Hati


*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Malam ini, aku ingin berbicara mengenai rasa kekecewaan seseorang terhadap saudara/inya.
Sebut saja namanya Fulanah. Begitu banyak prasangka yang hadir pada dirinya. Bukan sebagai pelaku yang berprasangka. Ternyata, ia adalah korban dari prasangka orang lain terhadapnya.
Menangis, deras dan tak henti... Mengingat kesalahan yang tak sepenuhnya harus ia tanggung. Berat beban yang berada di pundaknya. Menjalani hari-hari yang sebenarnya orang lain tak pernah tahu apa yang tengah diperjuangkannya.
Hal ini, membuatku jadi teringat... Bahwa berbagai prasangka buruk terhadap orang lain sering kali bersemayam di hati kita. Sebagian besarnya, tuduhan itu tidak dibangun diatas tanda atau bukti yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah asal tuduh kepada saudara/inya yang lain. Kasihan sekali, korban yang menjadi tuduhannya... Iya kalau memang benar tuduhannya tersebut dan merasa bersalah, lah kalau ternyata yang dituduhkan padanya tak sepenuhnya benar, bagaimana???
Ternyata buruk sangka kepada orang lain atau su`uzhan mungkin biasa atau bahkan sering hinggap di hati kita. Berbagai prasangka terlintas di pikiran kita, si A begini, si B begitu, si C demikian, si D demikian dan demikian.  Begitulah, ada saja orang yang kita prasangkakan. Namun, yang parahnya adalah terkadang perasangka kita itu tiadalah berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan zhan tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain bukan menyampaikan langsung pada orang yang kita tuduh melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Padahal su`uzhan kepada sesama kaum muslimin tanpa ada alasan/bukti merupakan perkara yang terlarang dalam agama.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)
Jadi, Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut tidaklah terlarang. Hal itu memang merupakan tabiat manusia.
Subhanalloh, perlu begitu hati-hati terhadap sikap yang kita lakukan. Abu Hurairah pernah menyampaikan sebuah hadits yang berbunyi:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Alloh tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ِBukhari  Muslim)
Luar biasa... Ternyata Alloh sudah melarang jelas-jelas untuk tidak berprasangka pada orang lain. Apalagi terhadap saudara/inya sendiri yang telah diikat oleh tali ukhuwah. Bila ada yang kurang disenangi dengan apa yang dilakukan oleh saudara/i kita, alangkan lebih baiknya bila disampaikan secara langsung, tanpa membicarakannya di belakang dan diceritakan ke orang lain. Tak malu kah, aib saudara/inya diumbar? Tak jijikkah, memakan bangkai saudara/inya sendiri?
Malu ohh malu... Ya Robb, lindungi diri dari berprasangka terhadap orang lain. Masih banyak waktu untuk bisa menghabiskan waktu dengan hal berguna. Mengapa kita terlalu memikirkan urusan orang lain? Mengapa juga kita selalu meributkan masalah sepele, padahal semuanya akan mudah jika disampaikan atau dibicarakan dari hati ke hati, bukan malah bermain belakang. Semoga, kita tak menganggap diri kita jauh lebih baik dari orang lain, semoga prasangka yang pernah kita jatuhkan pada saudara/i kita diampuni dan segera Alloh beri kesempatan kita untuk memperbaiki diri.
إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِإُمَّتِي مَا حَدَثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَـمْ يَتَكَلَّمُوْا أَوْ يَعْمَلُوْا بِهِ
Sesungguhnya Alloh memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.” (HR. Bukhari Muslim)
Masih ada waktu untuk bermuhasabah diri... Membingkainya dalam munajat pada Ilahi. Dekatilah Tuhan sebelum Ia menjauhi... Dan akhirnya harus berpikir berkali-kali, sebelum dosa-dosa menelan bumi dan penyesalan yang mesti dihadapi. 
*Belajar berintrospeksi diri, sebelum orang lain dihakimi. Belajar mencintai, sebelum cinta itu pergi.
Persembahan untuk saudara/iku yang sempat terkotori hatinya oleh prasangka, yuk berbenah diri dan tabayun sebelum prasangka mengotori hati.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/prasangka-buruk-mengotori-hati/10150124679146042

Takdir MilikNya, Doa dan Usaha Milik Kita


*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Sebuah sms sampai di hapeku, "Takdir itu milikNya. Usaha dan doa milik kita". Seperti disiram air yang dingin, sejuk sekali membaca potongan kata yang sederhana tersebut. Sejauh ini, terkadang masih terbersit keraguan terhadap apa yang telah ditakdirkan olehNya, padahal.....
Bukankah Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya?
Takdir itu memang milik DIA, sebab DIA lah penentu bagi jalan hidup kita. Bukan orang lain yang menentukan apakah kita akan gagal dalam meraih impian atau apakah kita tidak akan bisa mengerjakan suatu hal. Bukan! Sejatinya, hanya Allah lah yang menentukan segala baik dan buruknya takdir bagi kita. Jikalau ujian datang, yakinlah bukan karena Alloh tak cinta, tapi justru karena Allah cinta lah maka ia memberikan ujian untuk kita agar semakin mendekat padaNya.
Sedangkan usaha dan doa itu milik kita. Ya! Sepakat sekali. Sebab Allah memerintahkan kita untuk berusaha secara maksimal demi mendapatkan apa yang diinginkan, bukan mudah putus asa dan menyerah begitu saja. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan sesuai kemampuan kita lalu imbangi dengan doa yang dipanjatkan sehingga semakin lengkap munajat kita padaNya. Allah Maha Melihat, segala bentuk ikhtiar kita dan sedalam apa lantunan doa yang dipanjatkan demi impian-impian yang ingin dicapai.
Lagi-lagi, sederhana saja.... "Takdir itu milikNya. Usaha dan doa milik kita"
Bahwa doa dan ikhtiar kita yang miliki, sedangkan takdir Allah yang menguasai..... Apapun yang terjadi, optimislah dalam menjalani. Semoga semua dalam berkahnya Ilahi.
          *Terima kasih untuk seseorang yang selalu menginspirasi :)
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/takdir-miliknya-doa-dan-usaha-milik-kita/10150124669286042

Menjadi Muslimah Diam


Bismillahirrahmanirrakhiim....

Diam adalah emas...
Sahabat, sering kita dengar ungkapan tersebut. Namun diam seperti apakah yang akan menjadi emas? Tentu bukan diam karena tidak tahu, diam karena lemah, diam karena pasrah, atau diam karena menyerah kalah. Menjadi muslimah diam? Diam apakah yang akan menjadikan seorang muslimah menjadi pribadi unggulan yang dijadikan sebagai figur dambaan umat?

1. Dewasa.
Seorang muslimah dituntut untuk dewasa. Bukan hanya dewasa dari segi fisik atau usia, tetapi dituntut untuk bisa dewasa atau matang dalam sikap dan perbuatan. Seorang ibu dituntut untuk bersikap dewasa dihadapan anak-anak dan keluarganya. Jika seorang muslimah tidak bisa bersikap dewasa, maka ia akan tidak sabar dengan pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya, juga dia tidak akan sabar dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.
Memang, setiap individu memiliki sisi kekanakan dalam dirinya. Tak masalah, jika usia seseorang masih terbilang muda, atau remaja, tapi pikirannya dewasa, sebaliknya, tak lucu jika seseorang yang sudah dewasa dari segi umur, namun sifatnya masih sangat kekanak-kanakkan. Seorang muslimah pun dituntut selalu berpikiran jernih di setiap kondisi. Semua itu bisa diraih bila muslimah bersikap dewasa.

2. Inovatif
Seorang muslimah dituntut untuk inovatif, selalu mempunyai gagasan dan ide-ide baru hingga segala sesuatu tidak terkesan monoton dan membosankan. Contoh, jika seorang ibu rumah tangga terus-terusan memasak masakan yang sama, tanpa ada inovasi-inovasi, tentu akan membuat anggota keluarganya bosan. Atau tatanan kamar yang sama selama bertahun-tahun, tentu akan membuat kita bosan.
Coba, jika kepala kita sedang penuh masalah, lalu kita rubah interior kamar kita, buang atau simpan barang-barang yang sudah tidak kita perlukan. Insya Allah, suasana baru akan membantu menyegarkan pikiran kita. Atau juga, jika kita memiliki beberapa pakaian lama yang masih bagus, kita bisa memperbaharuinya dengan menambah atau mevariasikannya dengan baju-baju lain atau dengan beberapa aksesoris, sehingga terkesan baru. Akan banyak hal-hal baru yang terciptakan yang akan membuat perubahan dalam hidup kita jika selalu berfikiran inovatif.
Bisa juga inovatif dalam menciptakan suasana segar dlm keluarga,,bisa melalui humor ,menciptakan suasana atau moment romantis dlm keluarga agar suasananya sll bervariasi.

3. Alami
Bersikaplah wajar, alami, tidak dibuat buat. Berperilaku wajar dan alami tidak dibuat-buat. Berdandan wajar, alami tidak terlalu menor. Karena kadang segala sesuatu yang berlebihan malah membuat sesuatu jadi tidak enak dipandang. Segala sesuatu yang alami tak akan pernah lekang ditelan jaman. Biarkan segala sesuatu berjalan apa adanya, sesuai kehendak Allah.

4. Menyejukkan
Seorang muslimah haruslah jadi penyejuk bagi suami juga keluarganya. Seperti yang dilakukan Bunda Khadijah saat Rasulullah SAW ketika beliau mendapat wahyu pertama. Siti Khadijah menenangkan beliau. Siti Khadijah juga yang setia mendampingi Rasulullah SAW dalam setiap langkahnya. Seorang istri haruslah bisa jadi penyejuk dalam setiap langkah suaminya, penerang dalam gelapnya.
Seorang muslimah harus bisa jadi penyejuk di tengah lingkungannya, jangan sampai jadi pemanas suasana. Banyak wanita yang menghabiskan waktunya untuk bergosip, membuat suasana menjadi panas. Seorang istri harus dengan sabar mendampingi suaminya, karena banyak rumah tangga yang suasananya menjadi panas, hanya karena si istri menuntut terlalu banyak dari suaminya. Sudah banyak diriwayatkan, bahwa sebagian besar pengisi neraka adalah wanita. Na'udzubillahi min dzalik.
Seorang ibu juga harus selalu jadi penyejuk bagi anak-anaknya, menjadi pendengar yang setia dari setiap keluhan yang diceritakan anak-anaknya, dengan memberi thausiyah-thausiyah yang menyejukkan kalbu. Subhanallah, alangkah indahnya jika seorang muslimah bisa menjadi penyejuk pandangan setiap insan, terutama keluarganya. Dimana ia menjadi tempat yang dicari setiap orang untuk berteduh dari lelahnya, yang akan selalu siap menyambut mereka dengan senyuman yang tulus dan kata-katanya bagaikan embun di tengah gersang.
Ukhti muslimah, Saat ini kita terlalu lelah dengan berbagai kondisi yang sering tidak menentu. Maka jadilah Anda sebagai figur dambaan umat, yang dengan DIAM (Dewasa, Inovatif, Alami, Menyejukkan), Anda menjadi muslimah yang selalu dirindukan setiap orang. Wallahu'alam bishshowab.


http://www.facebook.com/notes/melati/menjadi-muslimah-diam/178013855570331

::.. Cinta Tanpa Koma ..::


Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.
Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan. amai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak  heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan. Lalu bagi kita,  cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?
Cinta sejati yang terabai
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.
Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.
Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?
Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.
Cinta sejati tak akan pernah menyakiti
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya.  Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan.  Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”
Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.(Mutafaq ‘alaih)
 Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.
Cinta tanpa koma
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”
Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik.  Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta'ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)
Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke  sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/-cinta-tanpa-koma-/187845397901783

==Maaf Perspektif Saya Berbeda..Walau Kita..==


Seperti kita ketahui keluarga merupakan seseorang yang terdekat dari kehidupan kita yang tentunya amat kita prioritaskan dan kita cintai seumur hidup kita. Keluarga merupakan bagian yang tak terpisahkan hidup seseorang. Walau sejauh, sebaik,seburuk, setinggi maupun serendah apapun derajat seseorang apapun. Walau bagaimana pun ia tetap merupakan keluarga kita.
Namun, terkadang tidak sedikit pula kasus yang kita temui justru sebuah keluarga terkadang menjadi momok bagi diri kita ibarat bagaikan sebuah duri, batu sandungan maupun musuh terbesar bagi seorang anak dari keluarga tersebut terhadap proses perjalanan & kenyamanan hidup-nya yang ia pilih.
Mengapa, hal tersebut bisa terjadi??
Tidak dipungkiri, faktor karakter yang terbentuk dalam keseharian sebuah keluarga hingga menjadi doktrin amatlah melekat. Beragam pandangan pun mengemuka dengan alasan yang berbeda. Faktor pengalaman seseorang, kultur budaya lingkungan sekitar rumah, pemahaman keterbatasan pengetahuan sikap bijak yang dimiliki maupun tingkat kefanatikan suku terkadang amatlah menentukan prinsip dari seorang pemimpin keluarga (Ayah&Ibu) terhadap pembentukan keluarga yang dibentuk dalam tautan kasih terhadap anak-anaknya.
Namun, semua itu tetap tidaklah sama.
Mungkin ada pepatah yang begitu cukup dikenal masyarakat  berupa ”Like Father, Like Son” ataupun ”buah tidak mungkin jatuh jauh dari pohonnya” maupun pepatah analogi serupa lainnya.
Hidup ini tidak ada yang sama Akhi..Ukhti.
Seseorang yang terlahir kembar maupun nama yang sama pun tidaklah mungkin memiliki sifat yang sama.
Terkadang seseorang selalu berpikir apa yang menjadi jalan pemikirannya tersebut selalu dianggap Benar. Faktor Usia seseorang, termasuk pengalaman hidupnya yang selalu dijadikan sebagai guru terbaik dianggap sebagai bekal yang cukup untuk menentukan bahwa seseorang tersebut cukuplah memiliki kapabilitas dan ahli...
Cukup bijakkah orang tua tersebut???
Padahal,..............hmm Semua itu tidaklah sama Akhi..Ukhti!!
Permasalahan Hidup
Perspektif kehidupan Duniawi di mata seseorang
Tujuan Hidup di Dunia ini dalam pandangan seseorang
Semua itu masing-masing beragam.
Stop Ne-Think (Negative Thinking)
Berpikirlah melingkar..let’s We’re Thinking Out of The Box
Seorang bayi tidaklah mungkin bebas memilih jalan hidupnya sendiri bahwa ia mau dilahirkan melalui rahim Siapa dan dari Negara serta suku bangsa apa??

Sebuah permasalahan dapat berawal dari apapun.
Baik dari penglihatan, Pandangan, Pendengaran, Perasaan, Pengucapan kata dan lainnya.
Bukankah Setiap pertanyaan, keinginan, pernyataan dari setiap orang yang dilontarkan ke seseorang lain sudah sebijaknya haruslah ada solusinya..termasuk penjelasan tuntas & penanggungjawabnya. Jika tidak!! Maka akan dapat menjadi hanya sebuah usul, bisa pula menjadi doktrin bahkan intervensi dikarenakan keharusan ataupun sesuatu hal lainnya. Disesuaikan dengan tutur dalam penyampaian dan intonasi dalam pengucapan.
Sudah menjadi sunnatullah..Masalah Timbul, maka solusi pun memainkan peranannya..
****
Tidak ada masalah dengan masalah, yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menyikapi masalah. (Aa’ Gym)
‘Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” Q.S. Al-Insyirah, 94: 6-8.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasan, dia berkata: ”Nabi saw pernah keluar rumah pada suatu hari dalam keadaan senang dan gembira, dan beliau juga dalam keadaan tertawa seraya bersabda: ”Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, karena bersama kesulitan itu pasti terdapat kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.”
Wahai manusia, setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada kepuasan, setelah bergadang ada tidur pulas, dan setelah sakit ada kesembuhan. Setiap yang hilang pasti ketemu, dalam kesesatan akan datang petunjuk, dalam kesulitan ada kemudahan, dan setiap kegelapan akan terang benderang.
Sampaikan kabar gembira kepada malam hari bahwa sang fajar pasti datang mengusirnya dari puncak-puncak gunung dan dasar-dasar lembah. Kebarkan juga kepada orang yang dilanda kesusahan bahwa, pertolongan akan datang secepat kelebat cahaya dan kedipan mata. Kabarkan juga kepada orang yang ditindas bahwa kelembutan dan dekapan hangat akan segera tiba. (dikutip dari buku la tahzan karya dr. ‘aidh al-qarni)
 Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran. Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan. Kesulitan menghapuskan dosa. Kesulitan memperbanyak pahala.Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Allah SWT. Setiap musibah itu mempunyai tujuan. Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdo'a dan meminta kepada Allah SWT. Kemudian Allah SWT menyelamatkan dan melindungi kita. Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Allah memberi makan dan minum untuk kita. Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan keresahan, lalu Allah memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran. Kemudian Allah SWT memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.
Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya. Yang Terkenal dengan Pemberiannya. Yang Maha Memberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya. [Syaikh DR. Aidh Bin Abdullah Al Qarni]
Sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/maaf-perspektif-saya-berbedawalau-kita/10150124435271042

==Sedekah & berinfak setiap hari semampu kita...Mungkinkah???==


“Setiap pagi ada dua Malaikat yang datang kepada seseorang, dimana yang satu berdoa: “Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya”, dan malaikat yang lain berdoa “Wahai Allah, binasakanlah harta orang yang kikir” (HR Bukhori, Muslim)
“Sesungguhnya sedekah itu dapat menangkal tujuh puluh macam bala’ (musibah). Karenanya perbanyaklah sedekah, baik dengan cara sembunyi ataupun terang – terangan, maka kamu pasti akan diberi pahala, ditolong dan rizkinya dicukupkan (oleh Allah SWT)”. (Hadist Rasulallah SAW, Riwayat Imam Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedakah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan (menyelesaikan perkara) antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. (HR. Bukhari dan Muslim)
penjelasan hadits ini.
Makna Sulama
(سُلاَمَى) bermakna persendian. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah tulang.
Ibnu Daqiq Al ‘Ied mengatakan bahwa (سُلاَمَى) adalah persendian dan anggota badan.

Dinukil oleh Ibnu Daqiq Al ‘Ied bahwa Al Qadhi ‘Iyadh (seorang ulama besar Syafi’iyyah) berkata, “Pada asalnya kata (سُلاَمَى) bermakna tulang telapak tangan, tulang jari-jari dan tulang kaki. Kemudian kata tersebut digunakan untuk tulang lainnya dan juga persendian”.
Terdapat hadits dalam shohih Muslim bahwa tubuh kita ini memiliki 360 persendian. Di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ
“Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 2377)
setiap hari diwajibkan bagi anggota tubuh kita untuk bersedekah. Yaitu diwajibkan bagi setiap persendian kita untuk bersedekah. Maka dalam setiap minggu berarti ada 360 x 7 = 2520 sedekah.
Faedah dari hadits ini menunjukkan
setiap orang wajib bersedekah dengan setiap anggota badannya pada setiap harinya mulai dari matahari terbit. Karena perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (عَلَيْهِ صَدَقَةٌ) menunjukkan wajibnya. Bentuk dari hal ini adalah setiap orang harus bersyukur kepada Allah setiap paginya atas keselamatan pada dirinya baik keselamatan pada tangannya, kakinya, dan anggota tubuh lainnya. Maka dia bersyukur kepada Allah karena nikmat ini.
Kalau ada yang mengatakan hal seperti ini sulit dilakukan karena setiap anggota badan harus dihitung untuk bersedekah?
Jawabannya : Nabi telah memberikan ganti untuk hal tersebut yaitu untuk mengganti 360 sedekah dari persendian yang ada. Penggantinya adalah dengan mengerjakan shalat sunnah Dhuha sebanyak 2 raka’at.
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى »
“Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no. 1704)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyemangati sahabat Bilal bin Robbah radhiyallahu ‘anhu untuk berinfak dan beliau katakan jangan khawatir miskin. Beliau bersabda,
أَنْفِقْ بِلاَل ! وَ لاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً
“Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (HR. Al Bazzar dan Ath Thobroni dalam Al Kabir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 1512)
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan sendiri bahwa harta tidaklah mungkin berkurang dengan sedekah. Beliau bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah)
Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:
[1] Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan lama-kelamaan terbiasa merasakannya.
[2] Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.
[3] dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,
لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ
Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.” Dalam riwayat lain disebutkan,
أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ
Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut 
[4]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88)
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau menyimpan-nyimpan harta tanpa mensedekahkannya (menzakatkannya). Janganlah engkau enggan bersedekah (membayar zakat) karena takut hartamu berkurang. Jika seperti ini, Allah akan menahan rizki untukmu sebagaimana Allah menahan rizki untuk para peminta-minta.”
Allah Ta’ala berfirman,
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)
Allah Ta’ala berfirman,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Sahal ra menuturkan tentang Nabi Muhammad SAW.  Suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengenakan pakaian yang terbuat dari kain wool berwarna hitam dipadu warna putih di bagian sisi-sisinya.  Lalu, beliau pun keluar menuju para sahabat seraya berkata: ”Wahai sahabatku, betapa bagusnya kain ini!” Seorang Arab Badui datang menghampiri beliau sambil menyatakan, ”Hadiahkanlah kain itu kepadaku, wahai Rasulullah.”  Seperti diketahui, beliau tidak pernah menolak permintaan seseorang.  Tidaklah mengherankan bila kekasih Allah SWT itu segera menjawab, ”Ya, ambillah.”  Kemudian jubah yang beliau sukai itupun diberikannya kepada lelaki Arab tadi.  Beliau lantas meminta baju biasa untuk dikenakan.  Setelah itu beliau menyulam baju sebagaimana kain yang dikenakannya tadi.  Rasulullah pun wafat dengan mengenakan baju yang disulam tersebut (Kanzul Ummal, Juz IV, halaman 42).
Suatu waktu Nabi Muhammad SAW mengirim utusan kepada Utsman bin Affan agar ia dapat membantu pasukan al-'usrah.  Tanpa berpikir dua kali, Utsman menyerahkan uang senilai sepuluh ribu dinar melalui utusan tersebut.  Saat Rasulullah Muhammad SAW menerima dana tersebut, beliau mendoakan Utsman: ”Semoga Allah mengampunimu, wahai Utsman, baik kesalahan-kesalahanmu yang dirahasiakan, yang tersembunyi maupun yang nampak terlihat.  Semoga ampunan itu terus hingga hari Kiamat.  Tidak ada perbuatan yang lebih baik lagi dari ini setelahnya” (Diriwayatkan oleh Ibnu 'Adi, Daruquthni, Abu Nu'aim, dan Ibnu Asakir; al-Muntakhab, Juz V, halaman 12).
Pada masa kini, jumlah sepuluh ribu dinar kira-kira setara dengan 42,5 kilogram emas.  Bila harga 1 gram emas Rp 200.000 berarti Utsman menginfakkan hartanya untuk Islam sebesar Rp 8,5 milyar.  Dana sebesar itu tanpa perlu pikir-pikir dahulu.
Pernah Ibnu Umar sakit.  Ia ingin sekali makan anggur.  Dibelikanlah ia setandan anggur seharga satu dirham (sekitar 112 dinar atau Rp17.000).  Namun, datanglah seorang miskin mengemis.  Apa yang beliau lakukan?  Beliau memerintahkan agar anggur itu diberikan kepada orang miskin tadi.  Hal ini berulang hingga tiga atau empat kali.  Hingga akhirnya Ibnu Umar pun makan anggur (al-Hilyah, Juz I, halaman 297; al-Ishabah, Juz II, halaman 248).  Sungguh mulia pemandangan ini.  Harta yang diinfakkan bukan berarti harus selalu besar.  Siapapun dapat melakukannya.
Rupanya, para sahabat banyak yang secara sengaja menyisihkan dari penghasilannya untuk bersedekah berinfak.
Ibnu Sa'ad menceritakan dari Nu'man bin Humaid ra yang berkata: ”Aku bersama dengan pamanku pernah berkunjung ke rumah Salman al-Farisi di daerah Madain.  Ia menganyam daun kurma”.  Salman pun menjelaskan, ”Aku membeli daun kurma seharga satu dirham.  Lalu, aku anyam dan kujual seharga tiga dirham.  Satu dirham untuk modal, satu dirham untuk keluargaku, dan satu dirham sisanya untuk aku sedekahkan.  Andai saja Umar bin Khathab ra melarangku untuk melakukan ini, niscaya aku tidak akan berhenti melakukannya” (Ibnu Sa'ad, Juz IV, halaman 64).
Sudahkah kita meniru sahabat Nabi Salman al-Farisi?
Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Abu Mas'ud Al-Anshari
“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dengan menuntun seekor unta yang dilubangi hidungnya Kemudian ia berkata ‘Unta ini saya pergunakan untuk berperang di jalan Allah wahai Rasulullah' Kemudian Rasulullah SAW bersabda ‘Kamu akan mendapatkan tujuh ratus unta semisal itu pada hari kiamat semua dilubangi hidungnya' (HR Muslim)
Rasulullah SAW bahkan berwasiat khusus kepada kaum wanita Saat bertemu dengan Asma' Rasulullah SAW bersabda “Berinfaklah dan janganlah kamu menghitung-hitung hartamu karena Allah juga akan menghitung-hitung rezeki-Nya untukmu. Dan janganlah engkau bakhil dengan hartamu karena Allah juga akan bakhil kepadamu” (HR Bukhari)
Pada kesempatan lain saat usai shalat Idul Adha di sebuah tanah lapang Rasulullah SAW berseru
“Wahai manusia bersedekahlah kalian!” Kemudian beliau menuju ke tempat para wanita dan bersabda “Wahai para wanita bersedekahlah kalian semua karena aku telah melihat banyak penghuni neraka adalah dari golongan kalian” Mereka berkata “Ya Rasulullah mengapa hal itu bisa terjadi? ”Rasulullah SAW menjawab “sebab kalian sering melaknat dan mengingkari pemberian suami Aku tidak pernah melihat golongan yang lemah akal dan agamanya namun dapat menghilangkan kejernihan akal seorang lelaki yang teguh selain dari kalian wahai para wanita” Setelah mendengar anjuran tersebut para wanita itu segera melepas anting-anting dan cincin mereka Para shahabiyah itu bersegera menunaikan anjuran Rasulullah SAW yaitu bersedekah
Kemudian Rasulullah SAW pun pergi
Sesampai di rumah datanglah Zainab istri Abdullah bin Mas'ud Ia meminta izin untuk bertemu Salah seorang istri beliau pun berkata “Wahai Rasulullah ini ada Zainab” Kemudian Rasulullah SAW bertanya “Zainab siapa?” “Zainab istri Abdullah bin Mas'ud” jawab istri beliau Rasulullah SAW berkata “Izinkan ia masuk” Setelah masuk Zainab berkata “Wahai Nabi Allah hari ini Engkau telah menyuruh kami untuk bersedekah dan aku mempunyai perhiasan yang ingin aku sedekahkan namun Ibnu Mas'ud beranggapan bahwa ia dan anak-anaknya yang lebih berhak menerima sedekahku” Rasulullah SAW bersabda “Ibnu Mas'ud benar Suamimu dan anak-anakmu adalah orang-orang yang paling berhak menerima sedekahmu” (Hadist Riwayat Tirmidzi)
Selain bentuk-bentuk di atas yang digambarkan Rasulullah SAW yang dikategorikan sebagai shadaqah masih terdapat nash-nash hadits lainnya yang menggambarkan bahwa hal tersebut merupakan shadaqah secara umum di antaranya adalah:
1. Tasbih Tahlil dan Tahmid
Rasulullah SAW menggambarkan bahwa setiap tasbih tahlil dan tahmid adalah shadaqah Oleh karenanya mereka ‘diminta' untuk memperbanyak tasbih tahlil dan tahmid atau bahkan dzikir-dzikir lainnya Karena semua dzikir tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT Dalam riwayat lain digambarkan:
Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah SAW berkata “Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian Maka barang siapa yang bertakbir bertahmid bertasbih beristighfar menyingkirkan batu duri atau tulang dari jalan amar ma'ruf nahi mungkar maka akan dihitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian Dan ia sedang berjalan pada hari itu sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka” (Hadist Riwayat Muslim)

2. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar juga merupakan shadaqah Karena untuk merealisasikan amar ma'ruf nahi mungkar seseorang perlu mengeluarkan tenaga pikiran waktu serta perasaannya Dan semua hal tersebut terhitung sebagai shadaqah Bahkan jika dicermati secara mendalam umat ini mendapat julukan ‘khairu ummah' karena memiliki misi amar ma'ruf nahi mungkar Dalam sebuah ayat-Nya Allah SWT berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah Sekiranya Ahli Kitab beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” [QS Ali Imran: 110]
3. Bekerja dan untuk membantu nafkah bagi keluarga
Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits: Dari Al-Miqdan bin Ma'dikarib Al-Zubaidi ra dari Rasulullah SAW berkata “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri keluarga anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah” (Hadist Riwayat Ibnu Majah)
4. Membantu urusan orang lain
Dari Abdillah bin Qais bin Salim Al-Madani dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda “Setiap muslim harus bershadaqah” Salah seorang sahabat bertanya “Bagaimana pendapatmu wahai Rasulullah jika ia tidak mendapatkan harta yang dapat disedekahkan?” Rasulullah SAW bersabda “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk dirinya dan bersedekah” Salah seorang sahabat bertanya “Bagaimana jika ia tidak mampu wahai Rasulullah SAW?” Beliau bersabda “Menolong orang yang membutuhkan lagi teranaiaya” Salah seorang sahabat bertanya “Bagaimana jika ia tidak mampu wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab “Mengajak pada yang ma'ruf atau kebaikan” Salah seorang sahabat bertanya “Bagaimana jika ia tidak mampu wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab “Menahan diri dari perbuatan buruk itu merupakan shadaqah” (HR Muslim)
5. Mendamaikan dua orang yang berselisih
Dalam sebuah hadits digambarkan oleh Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda “Setiap ruas-ruas persendian setiap insan adalah shadaqah Setiap hari di mana matahari terbit adalah shadaqah mengishlah di antara manusia yang berselisih adalah shadaqah” (HR Bukhari)
6. Menjenguk orang sakit
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Ubaidah bin Jarrah ra berkata Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang menginfakkan kelebihan hartanya di jalan Allah SWT maka Allah akan melipatgandakannya dengan tujuh ratus kali lipat Dan barangsiapa yang berinfak untuk dirinya dan keluarganya atau menjenguk orang sakit atau menyingkirkan duri maka mendapatkan kebaikan dan kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya Puasa itu tameng selama ia tidak merusaknya Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu ujian pada fisiknya maka itu akan menjadi penggugur dosa-dosanya” (HR Ahmad)
7. Berwajah manis atau memberikan senyuman
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Dzar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikan pun Jika ia tidak mendapatkannya maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya ia menemuinya dengan wajah ramah dan jika engkau membeli daging atau memasak dengan periukkuali maka perbanyaklah kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya” (HR Turmudzi)
8. Berlomba-lomba dalam amalan sehari-hari
Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab “Saya wahai Rasulullah” Rasulullah SAW bersabda lagi “Siapakah hari ini yang mengantarkan jenazah orang yang meninggal?” Abu Bakar menjawab “Saya wahai Rasulullah” Rasulullah SAW bertanya “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberikan makan pada orang miskin?” Abu Bakar menjawab “Saya wahai Rasulullah” Rasulullah SAW bertanya kembali “Siapakah di antara kalian yang hari ini telah menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab “Saya wahai Rasulullah” Kemudian Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga” (HR. Bukhari)
(Sumber: www.dakwatuna.com)
Thabarani telah mengeluarkan di dalam kitabnya 'Al-Awsath' dari Qais bin Salk Al-Anshari ra. bahwa saudara-saudaranya telah mengadukan halnya kepada Rasulullah SAW Mereka berkata: Saudara kami Qais suka membuang-buang hartanya, dan terlalu mewah sekali dalam berinfak lalu Qais datang kepada Rasulullah SAW: wahai Rasulullah! Aku mengambil bagianku dari korma dan berinfak untuk orang-orang yang keluar berjihad fi sabilillah, dan kepada siapa yang mengikutiku. Mendengar itu, Rasulullah SAW pun menepuk dadanya seraya berkata: Infakkanlah harta di jalan Allah, niscaya Allah akan menginfakkan gantinya - disebutkan sampai tiga kali. Pada lain waktu, aku keluar berjihad fi sabilillah dan aku sudah mempunyai kendaraan sendiri, dan aku orang yang paling banyak harta dan yang terkaya di antara kaum keluargaku pada hari ini. (At-Targhib Wat-Tarhib 2:172)
Abu Daud, lbnu Hibban telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa seorang lelaki berkata kepada Rasulullah SAW Ada seorang yang ingin berjihad, tetapi niatnya hendakkan harta dunia, bagaimana? Jawab beliau: Tidak ada pahala sama sekali! Ramai orang memandang berat jawaban beliau itu, Ialu mereka kembali kepada orang yang bertanya itu seraya memintanya bertanya sekali lagi, barangkaii dia salah dengar jawabannya, ataupun dia tidak faham maksud dari jawaban beliau itu. Maka orang itu kembali lagi kepada Rasulullah SAW Ialu bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan orang yang berjihad fl sabilillah, padahal niatnya hendakkan dunia? jawab beliau masih sama: Tidak ada pahalanya sama sekali! Mendengar jawaban yang kedua, orang ramai masih belum puas hati, lalu memintanya supaya bertanya untuk terakhir kalinya. Maka jawaban beliau masih tetap itu juga, yakni tidak ada pahalanya sama sekali.
(At-Targhib Wat-Tarhib 2:419)
Abu Daud dan Nasa'i meriwayatkan dari Abu Umamah ra. dia berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: Apa katamu terhadap seorang lelaki yang berjihad fi sabilillah kerana inginkan pahala dan pujian, bagaimana keadaannya? Jawab beliau: Sia-sia saja jihadnya. Orang itu mengulangi lagi sampai tiga kali, dan setiap kali ditanya, tetap dijawab oleh beliau: Sia-sia saja jihadnya, kerana Allah tiada akan menerima sesuatu amal melainkan yang dibuat dengan penuh ikhlas kepadanya, dan mengharapkan keridhaannya! (At-Targhib Wat-Tarhib 2:421)
Sejarah indah melukis kekayaan seorang Utsman. Ketika semua sibuk berperang, beliau menawarkan jiwa dan hartanya untuk Jihad Islam. Panggilan jihad berkumandang, Utsman angkat bicara “ Ya Rasulullah, aku sumbangkan hartaku demi menjawab panggilan jihad Allah SWT”. Tak ada kamus rugi berniaga dengan Allah dalam kamus seorang Utsman. Tidak mengherankan Rasulullah saw menempatkan Utsman ra sebagai kalangan ahli surga. Semoga kita dapat meneladani kisah sahabat yang berjuang dengan hartanya. Dan semoga Allah menjadikan harta kita sebagai teman dan jalan mencapai kenikmatan surga.
PARA sahabat Nabi Saw sudah memberi teladan sangat baik dalam hal infak. Mereka berlomba-lomba menginfakkan harta demi pendanaan operasional dakwah dan jihad fi sabilillah.
Para sahabat Nabi yang kaya raya itu, seperti ungkapan Umar bin Khattab: ”menyimpan hartanya di tangan, bukan di hati. Mereka pun tidak menjadi budak harta, tetapi menjadikan harta itu sebagai sarana amal saleh –menginfakkannya di jalan Allah Swt.
Bagi para sahabat Nabi, berinfak adalah ”hobi”. Sebuah hobi sulit ditinggalkan. Abu Bakar pernah menginfakkan seluruh hartanya untuk membantu dana jihad; Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya.
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi, Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al-Lail: 17-21).
Rasulullah Saw memberikan motivasi dengan menggambarkan betapa besar pahala infak fi sabilillah. Gemar berinfak, dengan demikian, harus digalakkan di kalangan umat, khususnya umat Islam golongan kaya (aghniya), agar ”tidak pelit” untuk mendanai dakwah dan jihad fi sabilillah, demi tegaknya syiar Islam dan martabat kaum Muslimin.
 Di sisi lain, motivasi gemar berinfak juga mendorong umat Islam untuk bekerja mencari nafkah atau rezeki yang halal, bahkan menjadi kaya-raya, agar mampu berinfak fi sabilillah.
 PAHALA infak sangat besar. Imam Muslim mengeluarkan hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari ra. Dia berkata,
suatu ketika seorang lelaki datang kepada Nabi Saw dengam menarik seekor unta yang terikat tali di hidungnya, lalu menyerahkannya kepada beliau. Katanya: “Ini untuk sabilillah!” Maka berkata Rasulullah Saw: “Gantinya nanti di hari kiamat 700 ekor unta, semuanya dengan bertali di hidungnya” (HR. Muslim).
Imam Ahmad mengeluarkan dari Abdullah bin As-Shamit, dia berkata: pernah pada suatu ketika, aku berjihad (berperang) bersama-sama Abu Dzar ra. Maka setelah dibagi-bagi ghanimah (harta rampasan perang), dia mendapat bagiannya termasuk seorang jariah. Lalu dia pun membeli segala keperluannya, dan masih ada lagi banyak yang tersisa. Lalu dia menyuruh jariah tadi menukarkannya dengan mata uang untuk dibagi-bagikan kepada semua orang yang memerlukannya. Aku berkata kepada Abu Dzar: “Biarlah jariah itu menahan dulu uang itu untuk keperluan di lain hari, ataupun mana tahu jika datang tamu, maka Engkau tentu memerlukannya?” Abu Dzar menjawab: “Temanku (Rasulullah Saw) sudah membuat perjanjian kepadaku, bahwa apa saja emas atau perak yang disimpan, maka itu sama dengan gumpalan api neraka disimpan oleh tuannya, sehingga diinfakkan semuanya di jalan Allah Azzawajalla.
Dalam riwayat Ahmad dan Thabarani yang lain, siapa yang menyimpan emas atau perak, dan tidak diinfakkannya pada jalan Allah, maka semuanya akan menjadi gumpalan-gumpalan api kelak di hari kiamat, dan akan disetrikakan tuannya (pemiliknya) dengan gumpalan-gumpalan api itu (At-Targhib Wat-Tarhib).
Thabarani telah mengeluarkan di dalam kitabnya ‘Al-Awsath’ dari Qais bin Salk Al-Anshari ra., bahwa saudara-saudaranya telah mengadukan halnya kepada Rasulullah Saw. Mereka berkata: ”Saudara kami Qais suka membuang-buang hartanya, dan terlalu mewah sekali dalam berinfak”. Lalu Qais datang kepada Rasulullah Saw: ”Wahai Rasulullah! Aku mengambil bagianku dari korma dan berinfak untuk orang-orang yang keluar berjihad fi sabilillah, dan kepada siapa yang mengikutiku.” Mendengar hal itu, Rasulullah pun menepuk dadanya seraya berkata secara berulang (tiga kali): ”Infakkanlah harta di jalan Allah, niscaya Allah akan menginfakkan gantinya.” Pada lain waktu, aku keluar berjihad fi sabilillah dan aku sudah mempunyai kendaraan sendiri, dan aku orang yang paling banyak harta dan yang terkaya di antara kaum keluargaku pada hari ini.” (At-Targhib Wat-Tarhib) .
Thabarani telah mengeluarkan berita dari Mu’az bin Jabal ra. dia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda:
Sangat beruntung orang yang memperbanyakkan dzikir kepada Allah ketika sedang berjihad fi sabilillah, kerana baginya buat setiap kalimah tujuh puluh ribu hasanah, setiap hasanah darinya sama dengan sepuluh kali ganda apa yang ada di sisinya dari tambahannya.”
Para sahabat bertanya pula: ”Bagaimana pula dengan menginfakkan harta fi sabilillah, ya Rasulullah?” Jawab beliau: ”Menginfakkan harta sama kadarnya dengan yang demikian.”

Al-Qazwini telah mengeluarkan berita dari seorang yang tidak terkenal dan beritanya mursal kepada Nabi SAW dari Al-Hasan, dari Ahmad, Abu Dardak, Abu Hurairah, Abu Umamah Abdullah bin Amru,jabir dan lmran bin Hushain-radhiallahu-anhum marfuk kepada Nabi SAW bahwa beliau telah berkata:
”Barangsiapa yang mengeluarkan hartanya fi sabilillah, dan dia duduk di rumahnya, maka baginya pahala bagi setiap dirham 700 dirham. Dan barangsiapa berperang serta bernafkah sekaligus fi sabilillah, maka baginya buat setiap dirham 700,000 dirham.” Kemudian beliau membaca firman Allah yang bermaksud: ”Dan Allah menggandakan pahalanya kepada siapa yang disukainya.”
sejarah sahabat Rasulullah saw bagaimana mereka menginfakkan hartanya. Utsman tak segan berinfak 100 ekor unta. Abu Bakar ra mengambil keputusan “berani”. Beliau menyerahkan semua hartanya kepada Rasulullah. Saking herannya, Rasulullah menanyakan “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Beliau menjawab “ Allah dan Rasulnya”. Umar sendiri tak ketinggalan menyerahkan sebagian harta demi kepentingan jihad fisabilillah.
Dan belanjakanlah (harta benda kalian) di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik “ ( QS al-Baqarah (2) : 195)
Seorang da’i memotret harta dalam sebuah ungkapan indah “Jangan engkau meletakkan harta di hatimu, tapi letakkan harta di tanganmu”.


AKU CINTA KAU, WAHAI ISTRIKU.....


*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Aku memilihmu bukan sekedar melihat betapa menawannya rupamu, dan bukan pula bukan karena tidak ada wanita lain yang mau padaku. istriku, semuala sekedar berharap akan keikhlasan dan ketulusanmu melayaniku aku memilihmu.
Kini, aku mulai sadar betapa dikau mempesonakanku. Ingatanku akan wajahmu mengalihkan sekian banyak akhwat-akhwat yang sering terlintas di balik sudut mataku. Aku terpesona istriku, aku terpedaya olehmu istriku. Sanggupkah aku hidup jauh tanpamu?
Tiga tahun terus berlalu, wajahmu tak berubah seperti dulu saja. Engkau dengan sabar walau terkadang memaksakan keinginan-keinginanmu. Aku tahu itu betapa engkau memang atas kehendak_Nya terpilih untukku. Tak terluput dalam setiap mimpi-mimpi indahku terlintas pula sapa mesra tertuju untukku. Aku terpesona dan terpesona...
Masih teringat waktu dulu pertama dalam hidupku seorang wanita menggandeng tanganku. Itulah kau istriku, aku bagaikan melangkah di atas air begitu ringan. sejuk bagaikan tersesat di padang pasir tertimpa hujan salju, bagai melayang seringan anai-anai diterpai angin.
Aku tlah jatuh cinta...
Ketika kutatap wajah istriku, betapa aku sangat bersyukur kepada Allah, atas anugerah terbesar yang pernah aku terima. Seorang wanita yang sederhana, namun keridhoan dan keikhlasannya menerima diriku sebagai suaminya, membuat aku tidak berhenti bahkan tidak akan pernah berhenti bersyukur kepada Allah, atas kado pernikahan paling indah
yang diberikan kepadaku..
Ketika kutatap wajah istriku, betapa besar rasa maluku, karena masih banyak kekurangan pada diriku. Dan sungguh banyak kelebihannya, yang mungkin aku tidak akan mampu menandinginya. Seorang wanita yang tegar dan tidak banyak menuntut, kecuali tanggung jawabku sebagai suami, ayah dan imam keluarga. Dia wanita yang ikhlas menerima segala kelemahan dan kekuranganku, sebagai suami.
 Ketika kutatap wajah istriku, betapa bangga dan bersemangatnya diriku, karena dukungannya terhadap perjuanganku untuk terus memperbaiki diri. Aku memang bukan laki-laki yang sempurna dan dia juga bukan wanita yang sempurna, tetapi Allah telah memilihnya untuk menjadi pasangan hidupku dan juga ibu anak-anakku. Semoga inilih yang terbaik menurut
Sang Maha Penentu Takdir.
Ketika kutatap wajah istriku, di saat dia sedang lelap tertidur, tak terasa menetes air mataku, karena rasa syukur kepada Allah atas anugerah terbesar-Nya. Terlihat wajahnya yang kelelahan, karena harus melayani suami dan anak. Tapi aku yakin, lewat keikhlasannya, dia akan menjadi wanita yang mampu terus berjuang di jalan Allah dengan menjadi istri dan ibu anak-anakku. Kukecup keningnya, sambil keberdoa, Ya Allah, jadikanlah dia bidadari syurgaku, sehingga meringankan pertanggungjawabanku, saat menghadap-Mu di Hari Perhitungan kelak. Amin.
Robbana Hablana Min Azwajina Wa Dzuriyatina Qurrota Ayyun
Waj'alna Lil Muttaqiina Imaama
"Wahai Tuhan Kami Karuniakan kepada kami istri-istri dan anak-anak
yang menyejukan mata
dan jadikan mereka pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa

I love u so much my dear because of ALLAH.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/aku-cinta-kau-wahai-istriku/10150124015696042