Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Rabu, 26 Januari 2011

Dijalan Dakwah Aku Menikah


Bismillaahirahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================


Hidup itu penuh perjuangan..
Bekerja membalik tanah, menyingkap rahasia langit dan bumi.
Dakwah itu berat, Cinta juga berat..
Semakin engkau menyelami, semakin engkau tidak mengerti,
Karena keduanya tidak terbatas.
---------------------------------------------
" Lagi ngapain mas? " Dani tersenyum ketika melihat pesan dari HP-nya. oh Dian. Dengan cekatan dia pencet cepat tombol-tombol HP bututnya.
"Mas lagi di bulan sekarang " kembali kedua bibir itu senyum-senyum sendiri.
"Eh jangan senyum-senyum sendiri gitu donk, entar jadi kebiasaan lho. aku nggak mau punya adek di katain orang ‘agak-agak’ gara-gara senyum-senyum sendiri lho." tawa kembali terurai ketika dia pencet send di HP nya.
Memang Dani dan Dian sudah mendeklarasikan diri sebagai kakak dan adek sejak setahun lalu.(walaupun hanya mereka yang tahu). Ngga tahu entah dari mana asal usul itu, padahal nggak ada ikatan darah antara keduanya. Tapi memang kakak dan adek kelas. Kebetulan mereka berdua belajar di kampus yang sama, hanya jurusannya yang berbeda. Kebetulan lagi, Dani adalah mantan pengurus organisasi yang sekarang sedang dihuni oleh Dian.
Organisasi yang paling dihormati seluruh mahasiswa, organisasi yang paling di benci oleh misionaris-misisonaris kristen dan yahudi. Organisasi yang para punggawanya berusaha untuk benar-benar menjaga dan memperbaiki diri.Ya…..organisasi yang paling tidak diminati sejak SMA oleh para mahasiswa jika diamanahinya. Kenapa? tanya kenapa? Ya..itulah Lembaga Dakwah Kampus atau yang paling dikenal sebagai Rohis. Tapi kok Dani…?
" Mas jangan bikin adek penasaran ah ? mas lagi dimana ?" begitu jawaban Dian di HP, mungkin kalo telepon dengan nada sebel.
" Mas lagi di rumah, di kamar, di atas kasur, tiduran sambil baca buku yang baru beli tadi siang..!” balasnya menggambarkan keadaannya sedetail-detailnya.
" Afwan ya, di rumah ? rumah mana mas? Jakarta atau yogya? “ Dian balas lagi dengan pertanyaan. Memang mereka berdua kebetulan melanjutkan kuliah di luar kota, meninggalkan hiruk pikuk Jakarta yang semrawutnya luar biasa.


 Tepatnya kekota gudeg, kota pelajar, kota wisata, kotanya nyi roro kidul ( ue alah….hari gini percaya gituan.hehe..).
" di rumah ! Rumah Cinta..hehe.becanda.!!! "Mas lagi di Jakarta ! lagi baca buku nich, tepatnya novel judulnya "Cinta Yang Terlambat". Bagus dech, mo pinjem ?." Jawabnya terlihat bangga karena bisa membeli buku.
" Jakarta ? kok pulang ngga’ bilang-bilang. tahu gitu kan adek bisa bareng! eh..Bagus tuch kedengarannya. ya dah dech, met bermelankolis aja dech buat mas. Jangan lupa, ntar kalo udah selesai, adek pinjem yach. syukron ba’dahu. Wass…." Dian mengakhiri percakapan SMS-nya.
" Afwan, mas tadi buru-buru. anak isteri dah kangen katanya. hehehe….. Insyaallah nanti kalo dah selesai, pasti aku pinjemin. Wa’alaikum salam.." dan "klik" Dani juga selesai menutup HP-nya. 
Mungkin karena sama-sama jauh dari rumah dan asal yang sama juga, mereka berdua bisa akrab, bahkan kelewat akrab untuk seorang yang mengaku sebagai "penyeru dan aktivis da’wah", sama-sama senasib katanya. Memang sebuah alasan klise untuk hubungan seperti itu. Hubungan yang sangat beresiko membuka peluang bagi para syetan untuk berlomba-lomba menjerumuskan mereka kedalam kubangan dosa berlabel "pacaran"….
" Ah…insayallah aku ngga’ akan ada rasa apa-apa dengannya", gumam dalam hati Dani membenarkan alasannya, sambil melantunkan sebait do’a : " Ya Allah lindungi hamba, jauhkan hamba dari dosa. Dosa untuk mata yang melihat tanpa berusaha memalingkannya. Dosa untuk lisan yang tak terjaga dan berdusta. Dosa untuk telinga yang merasa tenteram mendengar suaranya. Dosa untuk jantung yang berdebar tenteram ketika bertemu dengannya. Dosa untuk wajah yang selalu menebar pesona. Dosa untuk cinta yang hadir sebelum waktu seharusnya. Kabulkanlah Ya Allah. Ami…n."
" SMS dari siapa tuuch….cieeee dari siapa..ce ileeeeh dari siapa siiiiich ….ayo ngaku ayo ngaku cieeeh.." Bunyi ringtone HP disamping bantal yang membuat jantungnya sedikit berdegup meninggi. Dengan cekatan, langsung di ambilnya HP itu…dan…hingga pada sebuah tanda "message" dia pencet "OK". hampir sepuluh detik-an HP itu loading menmpilkan pesan, maklum HP butut. !!! Jantung yang belum lama normal dari kaget kembali harus di paksa berdetak kencang,begitu message itu terbuka …
Saat kumenatap langit
Rasanya ada satu bintang yang hilang dari pandanganku
Bintang yang memiliki sinar sendiri, ketika malam menerangi bumi Dan selalu bersinar dimanapun ia berada


Dan ternyata…..
Seiring berjalannya waktu
Bintang itu telah menghiasi hati seseorang
Dengan cinta , kerinduan dan harapan.
Deg….deg…deg…. suara detak jantung yang mirip suara drum dari nasyidnya IZZIS yang didengarnya lewat earphone MP3. Entah mengapa ketika membaca SMS itu, ada sebuah sensasi yang luar biasa dahsyatnya. Padahal sering kali dia membaca puisi seperti itu ketika melihat-lihat blog internet. Tapi ini beda, apakah karena …DIAN??. Ah….. campur aduk rasa yang ada dalam hatinya kembali bergemuruh. Antara seneng dan sedih, antara suka dan benci bahkan satu rasa yang mungkin ada pada setiap pemuda karena sebuah puisi seperti itu…yach "Gede rasa alias GR". Apakah dia…ehm..ehm…. ataukah cuma ehmmm..ehmmm. " . Pikirannya jadi bertanya dan berprasangka. Dan akhir sebuah tanya itu dia kembali….
" Astaghfirullah!!! ini belom boleh terjadi " kata Dani dalam hati. "Percuma kamu mengaku aktivis dakwah, ngakunya ikhwan, liqo’nya intensif, manusia-manusia ter-tarbiyah, yang seharusnya menjaga ketat hijabnya, dan menyebar kesholihan ke sekitarnya.Ah…..percuma " kembali kesadaran itu muncul, kesadaran ilahiyah yang jelas-jelas petunjuk yang benar.
" Tapi bukankah itu manusiawi. bukankah mencintai itu fitrah manusia. Bukankah mencintai itu hak setiap diri pada makhluk yang Allah namakan An Naas, manusia. Bukankah jika ngga’ mengungkapkannya ngga’ akan terjadi apa-apa. dan bukankah……" kembali jiwa kemanusiaannya menjawab sendiri dan pertentangan hatinya itu terus berlanjut.
" Iya betul, kamu berhak untuk mencintai. tapi, apakah sekarang ini waktu yang tepat untuk itu, apakah kamu mampu untuk menjaga hatimu, angan-anganmu, sikapmu, bukankah selayaknya cinta itu tumbuh setelah ada ikatan indah yang menghalalkanmu " kembali malaikatnya menimpali.
" Tapi semenjak kenal dia, aku jadi tambah rajin ibadah, semangat belajar, kuliah, hafalan juga lumayan, sering baca hadits karena kita sms-annya saling nasehatin kok. trus nambah rajin ke mesjid juga ". masih keukeuh dengan pendiriannya.
" Eit…s. hati-hati Dani !. Sekarang koreksi lagi niatmu melakukan semua itu. Apakah karena Allah atau karena Dian?, sesungguhnya akan sia-sia semuanya kalo kau kotori niatmu karena "dia". Jika karena Allah..Alahamdulillah, tapi tetep juga beresiko, suatu saat nanti terkotori. karena syetan nggak akan menyerah. Awalnya seperti itu, tapi hisablah diri, seberapa lama itu dapat bertahan?..masih perdebatan dalam hatinya semakin berkecamuk.


" Astaghfirullahal ‘adhim. Ya Allah tunjukkan padaku bahwa yang benar itu nampak benar, hingga aku bisa mengikutinya dan yang salah itu nampak salah hingga aku bisa menjauhinya ". sebuah do’a yang akhirnya dia panjatkan.
" Lho… bukankah jelas jalan yang baik dan yang buruk. kenapa masih memohon pada Allah untuk menunjukkannya???. Cinta itu terlarang sebelum ada ikatan suci indah menghalalkan yaitu pernikahan. !!!". malaikatnya masih berusaha
" Ya…. semua ini harus segera di akhiri sebelum semuanya terlambat lebih jauh dan semakin keruh". rasa yakin dengan kebenaran kembali merasukinya. " Ya ..Allah. berikan hamba kekuatan itu."
------------------------------------------------------------------------------------------
Detik berlalu, menit berganti, jam terus berputar dan haripun berubah. Semangat yang tadinya menyala-nyala untuk kembali meluruskan hati itupun sedikit demi sedikit mulai luntur. Ya…… sebuah tekad yang kuat untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Dian terkikis oleh waktu, yang semakin lama membuat pijakan mulai goyah. Satu yang belum ada " keberanian". Ya.. keberanian untuk mengucapkannya, keberanian untuk meniti jalan ilahi yang terbentang lurus. Keberanian untuk menghindari jerat-jerat dosa yang sungguh mudah untuk dilalui. Banyak perasaan-perasaannya sendiri yang membuat itu tidak mudah dan serasa semakin sulit.
" ah entar aku disangkainnya ke-GeEr-an donk, siapa sich kamu Dan, kok bisa-bisanya berpikiran dicintai akhwat sesempurna Dian?. ahh…..sekarang kan baru memasuki masa ujian takutnya kau melukai hatinya, trus belajarnya terganggu, trus nilainya anjlok, kan aku juga yang salah nanti. ‘ mulai perasaan-perasaan itu merasuk kedalam hati dan mengikis tepi-tepi keyakinan hati.
" Tapi kalau tidak kamu katakan, akan lebih sakit dan lebih susah bagi kamu dan dia. Jika rasa itu memang ada , akan sangat sulit bagi wanita untuk segera melupakannya !" kembali perasaannya berkecamuk. Ditengah-tengah kebimbangan yang sangat itu, terus dia berpikir. Bisikan setan dan bisikan malaikat datang berganti-ganti mengobrak abrik dinding pertahanannya. Bagaimana dan bagaimana. Hingga suatu saat keyakinan itu muncul, ketika seorang sahabat memberikan dukungannya. sebuah dukungan yang luar biasa kuatnya.
" Afwan akhi, antum harus sangat bijak , karena memang antum yang memulainya. Jika antum biarkan juga akan berkepanjangan dan tentunya akan lebih sulit bagi antum dan dia. Insyaallah ini waktu yang tepat untuk memutuskan. Jika antum sama-sama siap, Allah sudah memberikan jalan yang begitu indah bagi kita, berupa pernikahan. Tapi jika antum belum yakin bisa menjaga hati, lebih baik segera minta pengertiannya, bahwa hubungan yang antum berdua jalani sungguh besar resikonya, baik bagi antum berdua dan untuk dakwah yang menjadi jalan kita "begitu seorang sahabat itu menasehati.


" Tapi saya takut karena sekarang baru masuk masa ujian,” Dani menimpali.
 " Yakinlah bahwa Allah akan membantu hamba-hambaNya yang ingin tetap menjaga kesucian menempuh jalan-Nya. "kembali sahabat itu meyakinkannya.
" Bersabarlah dan bersyukurlah. bersabar karena antum berhadapan dengan godaan syetan yang sudah masuk kedalam wilayah perasaan. dan bersyukurlah, karena ditengah-tengah godaan tersebut, Allah masih membukakan hati kita atas belenggu-belenggu dosa yang menghijabnya, sehingga Allah menunjukkan jalan lurus kehadirat-Nya. ".. Kata bijaksana seorang sahabat. Memang sahabat adalah orang yang bisa mengingatkan ketika kita telah mulai bahkan belum melamgkah meniti jalan maksiat dan dosa.
-------------------------------------------------
Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Kamar kost yang dia yang dia tempati sejak tiga tahun lalupun belum banyak berubah, karena memang tidak di rubah. Kasur busa yang hanya cukup untuk dirinya dengan sprey yang terlihat kotor ( karena memang malas untuk nyuci) membujur di lantai. Meja belajar rendah dengan tumpukan buku-buku kuliah berserakan masih tetap setia berada di tempatnya, pojok ruangan. Sambil berbaring dia layangkan pandang ke rak buku yang menempel di tembok tepat menghadap ke dirinya. Rak yang penuh dengan buku islam yang memang mulai dua tahun lalu dia koleksi.
Eh… bukan cuma di koleksi, memang dia berencana untuk membuat perpustakaan pribadi. seluruh buku itu dia beli dari hasil uang jajan yang disisihkannya setiap bulan. Target satu buku satu bulan sudah mulai dirintisnya. Sementara matanya melayangkan pandangan ke rak itu, hingga sebuah suara terdengar di telinga. Suara ringtone HP yang menggelikan itu berbunyi. Segera diambilnya HP butut yang ada di meja, dibukanya sambil memilih-milih buku di rak itu, karena memang loading HP-nya lumayan lama. Bersamaan dengan terbukanya massage di telepon genggamnya, matanya terhenti ketika sampai sebuah buku ," Jangan nodai Cinta ", diambilnya buku itu dan kembali ke massage yang telah terbuka. Dengan berbaring di atas kasur sambil ditopang bantal yang agak tinggi dia baca ,
Dinding kesetiaan,
Atap pengorbanan
Jendela kejujuran,
Pintu kepercayaan
Dan…… Halaman kasih sayang.


Ah…rumah cinta "  
‘Subahanallah’ kata yang ada di benaknya, kagum, bangga dan….ah sebuah perasaan yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hingga akhirnya selantun do’a terucap dari bibirnya, menutup kembali semangatnya untuk membaca buku yang telah di pilihnya. " Ya… Allah berikanlah rumah cinta itu untukku. jadikanlah barakah itu di rumahku….berikanlah yang terbaik untukku dan untuknya ".    
------------------------------------------------------------------------
Disuatu siang nampak begitu banyak mahasiswa berkumpul di masjid. Ada yang nampak sibuk mondar-mandir, kesana kemari sambil berbicara dengan temannya yang mengikuti di sampingnya. Sebuah name tag kotak agak kecil menggantung di lehernya. Name tag itu bertuliskan " PANITIA". Ya memang hari ini adalah jadwal kajian bulanan rutin di masjid kampus temmpat Dani dan Dian kuliah. Spanduk besar terpampang di dinding, jelas di sana tertulis tema yang begitu menggelitik dan sungguh menarik., " Ketika Cinta Menyapa " dengan pembicara Ustadz  Ilyas Abdullah.
Berjubel banyaknya peserta yang hadir di tempat itu. Memang untuk urusan cinta, pasti banyak peminatnya. bukan cuma mahasiswa umumnya tapi juga ikhwan akhwat pun sangat antusias ketika membahas masalah fitrah manusia ini. Ya cinta…dan ujung-ujungnya nanti akan mengerucut kepada cinta antara sepasang kekasih tanpa harus dimulai membahasnya.
Nampak didepan , menghadap para jama’ah, di meja kecil, jelas terpampang tulisan ‘MC’ , seorang ikhwan berumur kira-kira 20-an, bejenggot tipis khas ikhwah tanpa kumis, dengan kopyah putih dan baju gamis hijau muda, memegang microphone dan mempersilakan jama’ah untuk merapikan shaf duduknya. Ba’da salam dan shalawat, dia memulai acara dan memperkenalkan dirinya. Dari situ bisa di ketahui namanya Dani, dialah yang akan memandu acara kajian siang itu. Kemudian dia segera memperkenalkan seseorang ikhwan di sampingnya, dengan penampilan yang hampir sama dengan dia, hanya bedanya jenggotnya sedikit lebih tebal. Namanya Ilyas Abdullah, beliaulah yang akan memberi tausyiah kajian tersebut.
Dan tanpa menunggu lama, MC-pun mempersilakan pembicara untuk menyampaikan tausyiahnya, setelah sebelumnya, dengan hikmat para jama’ah mendengarkan lantunan kalam ilahi yang di bacakan secara murottal. Dengan suara tegas namun lembut terdengar di telinga, ustadz Ilyas memulai tausyiahnya. Tak lupa salam, syukur dan shalawat ke atas rasulullah SAW, beliau memberikan tausyiah kepada yang hadir. Subahanallah, begitu jelasnya apa yang disampaikan ustadz Ilyas, hingga semua hadirin seakana tersihir oleh kata-katanya. Semua tersampaikan secara sistematis dengan bahasa yang mudah di mengerti terutama untuk kalangan remaja, sesekali dengan kalimat puitis dan juga humor yang sewajarnya.



" Akhi wa ukhti fillah, antum sekalian mungkin sudah sangat familiar bahkan hafal di luar kepala dengan firman Allah dalam surat Ar Ruum ayat 21. Bahkan kebanyakan undangan pernikahan yang kita terima, tertulis di sana dengan tinta emas. Namun sayang beribu kali sayang mereka tak mencoba menghayati maknanya:
" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa- jiwa) kalian sendiri, azwaaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya, dan di jadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir"
Coba kita periksa betapa indah kata-kata Allah dalam ayat ini. Disini Allah menjelaskan pada kita semuanya, bagaimana seharusnya sebuah alur perayaan cinta. Yaa….sebuah alur perayaan cinta. antum ingin tahu apa itu perayaan cinta. ikuti sesi selanjutnya !" ustadz Ilyas behenti untuk tersenyum sejenak.
" Kata-kata pertama yang dibicarakan alqur’an tentang pernikahan dua orang manusia adalah min anfusikum, dari jiwa-jiwa kalian. Ya…pertama adalah kesejiwaan. Persamaan visi dan misi dalam membangun rumah tangga. apa itu? komitmen kepada Allah dan agamanya,
sehingga rasulullah kita ketika memilih calon pendamping hidup untuk mendahulukan agamanyadaripada harta, tampang dan keturunannya.
Yang kedua dari ayat ini, Allah menjelaskan "azwaajan", yg artinya pasangan hidup. alqur’an mengatakan setelah ada kesejiwaan, tak berlama-lama langsung menunjuk kepada suami istri. inilah komitmen. Jika komitmen kita kepada Allah dan agamanya, insyaallah itulah bekal utama untuk menggapai rumah tangga bahagia. Orang selalu berpikir, bahwa kita harus selalu mencari pasangan yang tepat, sesuai dengan kriteria kita, tetapi kenapa tidak terpikirkan oleh kita untuk menjadikan orang yang ada disamping kita yang memang hebat itu menjadi orang yang tepat. Ya…." Menjadikan" bukan sekedar " Mencari ". Ada dua hal di dunia ini, Menikahi orang yang kita cintai atau mencintai orang yang kita nikahi. Yang pertama adalah kemungkinan namun yang kedua adalah keharusan.
Setelah pasangan hidup, Allah mengajarkan “supaya kalian tentram, tenang padanya”. Litaskunuu ilaihaa. Dalam bahasa arab, huruf  lam disini sebagai ishim maushul ( kata hubung ) yang menunjukkan otomatis. Allah menjamin, pernikahan dimulai dengan kesejiwaan, maka otomatis suami istri akan merasakan ketentraman terhadap pasangannya. Tentram karena gejolak syahwat telah menemukn saluran yang halal dan thayyib, tenang karena ada sahabat lekat yang siap mendukung perjuangan. Itulah mengapa pernikahan disebut separuh agama.
Waja’ala bainakum mawaddatan. Selanjutnya adalah mawaddah. Yang harus di usahakan dan diupayakan serta diproses yaitu mawaddah, cinta, love. Seperti cinta kita pada Allah yang merupakan buah dari ikhtiyar kita, mengapa kita tidak mengupayakan cinta kita pada ‘dia yang di halalkan’ untuk kita.

Ingatlah yang disampaikan oleh Fahri, itu tuch tokoh “Ayat-ayat cinta”-nya ustadz Habiburahman el Shirazy, ketika menjawab suratnya Nurul, sang lentera yang bercahaya diantara cahaya. “ Bangun, proses dan usahakan cintamu pada yang memang seharusnya kamu cintai, suamimu kelak. Karena cinta sejati ada setelah ikatan suci yang menghalalkan, pernikahan.”
Disamping mawaddah, rahmah juga harus diupayakan. Ini juga cinta lho, bukan Cuma kasih sayang. Cinta yang bagaimana? Cinta yang memberi tanpa pinta, berkorban tanpa tuntutan, bersedia tanpa menunggu, pokoknya cinta yang romantis banget kalo bahasa kita sekarang.. Nah akhi wa ukhti fillah… Inilah alur perayaan cinta kita sampai disini. “ panjang lebar ustadz Ilyas mengulas pelajaran dari firman Allah tersebut.
Sungguh mulianya alqur’an, tiada kitab yang mampu menandingi dengan bahasa seperti ini. Dan satu ayat saja beribu-ribu pelajaran bisa di ambil, berjuta manusia bisa merasakan bahagia, beribu Negara aman tenteram dan damai, karena komponen dasar pendukungnya adalah rumah tangga bahagia, sakinah mawaddah wa rahmah yang di bangun di atas dasar aqidah...
ustadz Ilyas kembali bertausiyah,
“ Lalu kenapa Banyak sekali pernikahan yang error akhir-akhir ini ?” tampak raut muka sedih dan memelas. “ Karena biasanya mereka mulai alur pernikahannya juga error. Plotnya kacau balau. Pernikahan tidak dimulai dengan kesejiwaan tapi justru dengan mawaddah. Sebelum menikah mereka sudah menikmati cinta yang romantis. Entah apa namanya, pacaran, TTM, HTS. Semuanya itu adalah mawaddah. Tanpa sakinah, apalagi rahmah.” Lanjutnya.
 “ Untuk antum, para aktivis dakwah pun harus berhati-hati,”dengan suara tegas beliau berpesan “ Jangan salah, syetan tidak pernah kehabisan cara menyimpangkan manusia dari jalan ilahi sejauh-jauhnya. Jangan sampai niat suci antum terkotori oleh hal-hal yang kurang terpuji. Perhatian, kado, bunga, coklat, kedekatan, khalwat, pandangan. Itu semua mawaddah. Bahkan SMS berisi nasehat “ bertakwalah pada Allah”, misscall tahajud, hadiah buku dan kaset nasyid berjudul “Jagalah Hati”, dan seterusnya, itu juga mawaddah. Bentuknya saja yang beda, yang satu bunga dan coklat valentine yang lain buku dan kaset dakwah. Tetapi sensasi yang dirasakan oleh pemberi dan yang menerima sama : mawaddah.
Nah saudaraku, hati-hatilah dengan mawaddah. Biasanya meski engkau aktivis da’wah, memulai dengan kesejiwaan, coba-coba mencicipi mawaddah sebelum dihalalkan akan mengaburkan kesejiwaan itu dan membuat segalanya berantakan. Celakalah mereka yang menikmati mawaddah sebelum waktunya!!”
“ katakan amii….nnn!” ustadz Ilyas menutupnya serentak seluruh jama’ah yang hadir membalas dengan ucapan “Amiiin” dengan berbagai ekspresi paling banyak yang menunduk, mungkin malu. Tak terkecuali Dani pun menunduk malu.


“ Yang terakhir, bagi antum para ikhwan saya berpesan. Jatuh cintalah pada akhwat manapun, berapapun banyaknya, tapi jadilah gentle dan sportif! Kalau ada ikhwan lain yang lebih siap dating mendahului menjemput sang pujaan hati pengisi sepi, jangan menangisi nasib diri! Persilakan dengan gagah, bahkan bantu dengan segenap pengorbanan kalau perlu! Seperti teladan Sayidina Ali. Cintanya kepada Fatimah sebelum menikah adalah Mempersilakan atau Mengambil kesempatan. Mempersilakan adalah pengorbanan, Mengambil kesempatan adalah keberanian. Mempersilakan artinya bila sudah ada ikhwan lain yg mendahuluimu meminang akhwat pujaanmu, maka ikhlaskanlah. Salah sendiri karena engkau tidak bergerak menjemputnya...hmmm. Dan mengambil kesempatan artinya adalah keberanianmu untuk meminangnya atau menempuh jalan taaruf yg diridhoi Allah.
Begitupun para akhwat, antunna bebas mencintai ikhwan manapun. Tetapi kalau seorang yang baik akhlak dan agamanya datang dan kita tak punya alasan syar’i untuk menolak, jangan sekali-kali menghindar. Atau berbagilah manakala saudarimu yang lebih membutuhkan, bantulah ia untuk segera menggenapkan dien”. Ingatlah “cinta bukanlah segalanya”,dalam hidup selalu ada pilihan, menikahi orang yang kita cintai atau mencintai orang yang kita nikahi. Yang pertama hanyalah kemungkinan namun yang kedua adalah kewajiban yang harus kita laksanakan.”
 Setelah panjang lebar, ustadz Fahri mengakhiri tausiyahnya dengan do’a kafaratul majelis serta salam penutup.
“ subhanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar. Banyak sekali ibroh yang bisa kita ambil dari tausiyah yang telah disampaikan. Jazakallah khoiron katsir ya ustadz. Semoga kita semuanya terhindar dari godaan syetan yang senantiasa menjerumuskan manusia dari jalan kebenaran kepada gelapnya jalan kesesatan.
----------------------------------------------------------------------------
“ Ya Allah, sungguh aku mohon kepadamu untuk dipilihkan yang terbaik menurut ilmu-Mu, memohon agar diberi keputusan berdasar keputusanMu dan memohon dari karuniaMu yang agung. Sebab sesungguhnya engkau Maha berkuasa sedang aku tidak berkuasa. Engkau Maha mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkau mengetahui segala hal yang ghaib.
Ya Allah jika engkau mengetahui behwa ‘dia’ baik bagi agamaku kehidupanku dan akhir urusanku, dunia akhiratku, maka tetapkanlah ia untukkudan mudahkanlah aku menggapainya, kemudian berkahilah dia untukku. Jika Engkau mengetahui bahwa ‘dia’ adalah bukan untukku, agamaku, kehidupanku dan akhir urusanku serta dunia akhiratku, maka jauhkanlah ‘dia’ dariku dan jauhkanlah aku darinya. Tetapkanlah kebaikan untukku dan untuknya dimana saja berada, kemudian jadikan aku ridho menerima semua keutusan_Mu. 
                

        Kegundahan itu kembali menyeruak dalam hati. Kegelisahan yang sangat, keresahan yang dahsyat kegalauan hati yang teramat.keberanian yang terkikis oleh ketakutan. Keyakinan dan ketidakyakinan silih berganti mengisi akal dan hati. Ya….perasaan yang sungguh sangat wajar bagi remaja ketika dihinggapi tanggung jawab ini. Menikah.
Banyak sekali yang mengedepankan akalnya, hitung-hitungan secara matematis terutama soal ma’isyah untuk menafkahi keluarganya nanti. Padahal Allah telah menjaminkan bahwa Allah pasti akan membantu, jika mereka miskin, Allah akan menjadikannya kaya. Jika mereka tidak mampu, Allah akan memampukannya. Hanya memang tergantung kita yang menjemputnya. Sebuah kewajaran memang!! Namun sedikit demi sedikit keyakinan itu menguat. Azzam telah terpatri. Keberanian itu tumbuh makin meninggi. Keberanian untuk menempuh jalan ilahi, Tuhan yang pasti akan menolong hamba_Nya jika kita mendekat pada-Nya.
-----------------------------------------------------------------------------------
“ Assalamu ‘alaikum”. Sapa Dani memulai pembicaraan telepon.
“ wa’alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh” jawaban diseberang sana.
“ ada apa mas kok tumben-tumbenan telepon, kangen ya? Sebuah pertanyaan centil selanjutnya.
“ hehehe….mas ganggu ya, nggak da apa apa kok. Pingin telepon aja, lagi ngapain dek?” sebuah basa basi
“ nggak kok mas, Cuma lagi baca-baca buku aja. “ jawab Dian singkat “ buku apa, boleh tahu nggak ?” Tanya Dani masih berbasa basi.
“ buku nikah nich, lagi persiapan ilmu. Hehehe.” Jawabannya agak malu. Dan beberapa lama basa basi itu terus berlanjut tentang kabar, kegiatan hari itu, keadaan keluarga, kuliah dan hingga suatu waktu..
“Afwan ya…. Sebenarnya mo bicara tentang kita”. Dani berubah jadi serius
“ tentang kita ? ada pa mas kelihatannya kok serius banget?” Dian bertanya seolah bercanda
“ Ya tentang kita selama ini, kedekatan kita dan mungkin ini sebuah muhasabah diri kita. Entah berapa kali gossip beredar tentang kita menyebar disini, fitnah dari sini. Tadinya mas nggak ingin menanggapi itu, tapi memang kita nggak bisa lepas dari kungkungan kita. Apapun yang kita lakukan mereka tahu hanya bagian luar fisik kita dan sesungguhnya nggak tahu apa yang ada dalam hati kita.” Kata-katanya terhenti sejenak untuk menenangkan hatinya dan lalu memulainya kembali..


“ sebuah resiko memang memulai hubungan seperti ini. Kita mungkin tahu bagaimana perasaan di hati kita masing-masing dan insyaallah belum terkotori niat-niat yang melenakan , tapi kita hidup di tengah-tengah lingkungan, kita adalah makhluk yang belum lengkap tanpa kehadiran orang lain. Dan orang lain tidak mungkin akan tahu hati kita dan itulah yang sehausnya kita jaga “ Dani berhenti menunggu reaksi dari sebelah sana.
“ Astaghfirullahal ‘adhim…. Afwan mas kalau selama ini Dian sudah membuat mas Dani susah “ suara pelan seperti kurang yakin.
“ Dian yang memulai hubungan ini, tapi Dian tulus mas…Dian anggap mas udah seperti kakakku sendiri. Dan semua gossip itu nggak betul mas” lanjut Dian agak tegas, menahan gejolak di hati
“ Alhamdulillah…..mas yakin tentang itu. Tapi kembali lagi Dian, orang lain tidak akan bisa baca apa yang ada dalam hati kita, yang mereka tahu adalah yang mereka lihat” . suara Dani kian bergetar.
“ afwan jiddan kalau mas dah nambah beban fikiran kamu, tadinya mas mau ngomong ini setelah UAS nanti , tapi….mas pikir kalau diperlama malah akan lebih sakit jadinya.
“ Nggak papa kok mas…insyaallah nggak akan mempengaruhi persiapan ujianku.”jawab Dian.
 “ Dian..”!. Getaran kata itu terhenti tiba-tiba, seolah ada sesuatu yang mencekat kuat di tenggorokannya. “ Apa kamu sudah siap untuk membina sebuah keluarga, dimana kau menjadi sebuah guru peradabannya, madrasah kehidupan bagi anak-anaknya ?.” Pertanyaan itu membuat jantung Dian tiba-tiba seakan berhenti sejenak, aliran darah di pembuluh pun seakan tersumbat lemak yang sudah mengeras. Namun pelan-pelan semuapun kembali normal, hingga...
“ insyaallah mas “, jawaban Dian pendek, tak tahu dari mana kekuatan itu, namun terdengar sangat yakin.
“Alhamdulillah, mungkin ini waktu yang tepat untuk menyampaikannya, kembali suara di ujung sana memulai bicara.
“ Waktu yang tepat”. Dian bertanya dalam hati.
Pelan – pelan ia menyiapkan hatinya, seperti seorang terdakwa saat akan menerima vonis dari pengadilan. Campur aduk perasaan. Satu demi satu perasaan dan pikiran muncul bergatian. Dian masih duduk termangu di atas sajadah yang belum sempat dilipatnya seusai sholat isya’nya. Lirih dalam hati dia memohon “ Ya rabb….kuatkan hatiku untuk mendengarnya, “.



“ mas mau curhat nich, maukah kau medengarnya Dian?”. Suara Dani dengan nada memelas meminta
“ insyaallah mas, dengan senang hati”. Dian menjawab yakin
“ Nggak tahu harus darimana memulainya! Yang jelas sebenarnya mas sudah lama memikirkan tentang hal ini, tentang hati ini. Tentang kita!. Mas juga sudah curhat ke temen-temen, murobbi siapa saja yang mas anggap lebih dewasa. Mas juga sudah istikhoroh untuk menguatkan hati dan memohon jalan terbaik dari Allah. Dian , maukah kau jawab pertanyaanku !. “ suara lirih itu terhenti.
Dalam ketidakpastiannya Dian menjawab:“ apa mas ?.”
Kemudian suara di seberang telepon itu kembali terdengar…..
“ insyaallah mas yakin dengan keputusan ini. Maukah kau menjadi ummi bagi anak-anakku, menempuh jalan dakwah ini bersamaku ?” nada yakin terdengar dari Dani. Suara itu terdengar seakan-akan sebuah bom atom tepat meledak di telinga Dian, seakan tak mau kalah suara degub jantungnya.
“ Ya Allah, bintang itu…..bintang yang bersinar paling terang diantara banyak bintang. Bintang yang memancarkan cahayanya sendiri itu….bintang yang selama ini menyenangkan jika kupandang itu…? Ohhh….rabbi bantulah hambaMu. Berikan kekuatan padaku untuk menjawabnya..!” dalam lamunannya Dian mencoba berdoa. Kemudian entah kekuatan darimana… “ ehmmm mas serius dengan keputusan mas ?.” Dian seakan masih tak percaya
“ Dua rius Dek !” jawab Dani penuh keyakinan.
Sejenak suara menjadi hening. Berganti suara aliran nafas mereka sendiri dan degub jantung masing-masing yang terdengar keras. Hampir dua menit mereka memagut diri dalam penantian, saling menunggu. Dani menunggu jawaban kalimat khitbahnya, sedangkan Dian menunggu kekuatan jiwanya. Berpikir dan berdoa, karena terus terang dia belum tahu dan belum mampu menjawabnya. Dan tiba-tiba sebuah kekuatan itu muncul. Entah bisikan darimana. Bisikan dari hati yang bersih dan jiwa yang suci. Bisikan ilahi yang selama ini ia usahakan untuk mendekat kepada-Nya.
“Ehmm mas bolehkah Dian minta waktu untuk istikhroh, menguatkan hat. Terus terang ini hal berat untuk Dian. Dian ingiin, barakah Allah tetap menjadi hal yang ingin Dian raih .” kelu lidahnya berbicara.
“ Insyaallah tetap di jalan dakwah kita menikah, dan istikharoh adalah suatu keniscayaan. Tafaddhol (silahkan) ukhti.” Jawab Dani.


“Afwan mas semuanya insyaallah telah Dian serahkan pada Allah . insyaallah jawaban yang akan Dian berikan adalah hasil istikharoh Dian dan kemantapan hati ini.” Dian mengulangi keyakinannya.
“ Baik ukhti. Insyaallah mas tunggu jawaban segera darimu, memang benar semuanya telah kita serahkan pada Allah. Apapun keputusanmu, insyaallah mas siap menerimanya, dan doakan mas siap juga menjalaninya. Kalau begitu, udah dulu yach…kita mohon pada Allah limpahan barokahNya. Aku tunggu jawabannya..Wassalamu ‘alaikum.” Dani segera mengakhiri pembicaraannya.
“ Amiiin. insyaallah mas. Wa’alaikum salaam.”
------------------------------------------------------
Kuncup bunga-bunga di taman seakan masih malu untuk menyambut hangat mentari yang menghapus beningnya embun pagi ini. Gelap malampun rasanya enggan untuk tergantikan terang cahaya. Namun itulah sunnatullah yang harus terjadi. Waktu harus terus berjalan dan berganti, pagi berganti siang. Malampun menjelang dengan keheningannya. Kemudian sapaan sejuk embun pagi kembali menyapa bumi, berganti hari.
Dan seiring hari-hari yang berganti itupun juga telah dilewati oleh dua orang yang berusaha menemukan jalan tuhannya, Dani dan Dian. Berat bagi Dian untuk memutuskannya, dan Dani dalam masa yang paling kurang menyenangkan, tidak menyenangkan bahkan. Menanti…ya…menanti sebuah jawaban atas sebuah pertanyaan tentang masa depan, tentang hari-hari yang akan terlewati dan tentang jalan-jalan ilahi. Dan semuanya adalah proses, ya…. Proses yang harus dilewati.
“Tut…tut..tut…tutututut…..” suara HP itu memecah keheningan. Keheningan malam yang khusyu’ untuk berdoa. Mendekat pada-Nya.
“ Bismillaahirrahmaanirrahiim..” bisik Dani sebelum membuka HP. “ Hallo assalamu ‘alaikum”. Segera dia membuka salam mengikuti sunnah nabi.
“ wa’alaikum salaam…” balas Dian lengkap. Semoga keselamatan dan kebahagiaan atas orang-orang yang lebih dahulu membuka salam.
“ Afwan mas, ganggu! Udah selesai qiyamul lailnya?’. Tanya Dian.
Ya memang sebuah kenikmatan tersendiri bisa melaksanakan ibadah nafilah itu
“ alhamdulillah sudah, kenapa?”. Jawab Dani yang baru saja menyelesaikan witir dan dzikirnya.


“Afwan mas ini masalah yang kita bicarakan beberapa minggu lalu”. Suara Dian terhenti di situ.
Ya beberapa minggu lalu , Dani memintanya untuk menjadi teman mengarungi jalan dakwah mereka bersama, berdua. Memulai mahligai indah permikahan, meletakkan dasar-dasar madrasah peradaban.
“ sebelumya, Dian mohon maaf. Bukannya Dian nggak percaya dengan mas. Dian yakin dengan niat mas, begitupun juga keikhlasan mas. Tappi ada beberapa hal yang ingin Dian sampaikan. Dian harap mas Daninggak keberatan?.” Dian kembali menahan suaranya.
“ Jazakillah ukhti.Tafadhol!” jawab Dani singkat.
“ seandainya mas Dani adalah...afwan, seorang akhwat, sesuai fikih dakwah yang kita telah pelajari dalam liqo pekanan kita. Menurut mas ketika ada dua orang ikhwan yang hampir sama keshalihannya datang untuk ta’aruf. Siapa yang akan mas pilih?”
“ Alhamdulillah kita tetep berusaha melaksanakan fikih dakwah kita. Akhwat juga boleh memilih antara dua. Menurut mas kita lihat kondisi backgroundnya dulu. Mana yang lebih mendesak untuk segera menikah?.” Jawab Dani.
“ ikhwan pertama , umurnya 25 tahun, ma’isyahnya sudah ada. Ingin segera menikah karena takut terjerumus ke lembah dosa walaupun karena memang sudah waktunya kalau dilihat dari segi usia. Sedang yang kedua umurnya 20 tahun, masih kuliah, juga sudah punya ma’isyah. Juga ingin segera menikah sama dengan ikhwan yang pertama. Kira-kira mas akan pilih yang mana ?”.
“ Emmm ..bener-bener pilihan yang sulit, tapi dengan mengucap bismillah mas pilih yang pertama. “ jawab Dani yakin.
“ Walaupun ikhwan itu tidak mas cintai?” lanjut Dian minta penegasan.
“ Ya walaupun dia bukan ikhwan yang mas cintai. Hidup memang adalah sebuah pilihan, menikah dengan orang yang kita cintai atau mencintai orang yang kita nikahi. Yang pertama ini adalah pilihan, dan yang kedua adalah sebuah keharusan. Menikah adalah ibadah., untuk Allah. Dan semua yang dilandasi karena Allah, insyaallah semuanya menjadi berkah dan insyaallah akan mudah, hingga Allah akan menumbuhkan cinta antara keduanya, cinta yang sangat indah, yang di bangun dengan dasar-dasar ibadah.” Jawab Dani panjang.
“Aaamiin “ jawab Dian penuh pengharapan. Tapi dengan airmata yg mulai menetes.
“ Nah itu jika mas adalah akhwat. Sekarang mas adalah seorang ikhwan sebenarnya. Jika ada dua akhwat yang juga sama-sama shalihahnya, mengharapkan mas segera mengkhitbahnya gimana. Kasusnya hampir sama, akwat pertama umurnya 19 tahun, masih kuliah,namun kedewasaannya mengalahkan umurnya.

Dan yang kedua, 24 tahun, bekerja. Nah kondisi akhwat pertama masih aktif dan intensif liqo’nya, tapi yang kedua kurang intensif bahkan sangat susah. Karena memang ikhwah di sana sangat kurang, dan juga beban pekerjaan yang kadang memaksanya tidak mengikuti liqo pekanannya. Dia ini sudah beberapa kali ta’aruf, tapi akhirnya tidak jadi karena masalah jarak yang memisahkan keduanya. Nah mana yang akan mas dahulukan?”.
“ Bismillah, inyallah mas mementingkan dakwahnya, mas pilih yang kedua untuk menjadi pendamping mas, karena dia lebih membutuhkan dari yang pertama. !”
“ walaupun akhwat yang pertama adalah yang mas cintai?”.
“ emmmm…insyaallah mas tetep mencoba istiqomah” ada sedikit keraguan dalam hatinya.
“ Alhamdulillah. Jika begitu Dian mantap dengan mas. Dan ini insyaallah yang terbaik. Mas tahu kan mbak Salma, akhwat yang beberapa bulan kemaren biodatanya Dian titipin ke mas ?”. sampai di sini Dani berhenti.
“ iya mas masih inget. Ada apa?” jawab Dani, sedikit keheranan.
Ya…biodata yang beberapa bulan lalu coba dia berikan kepada murobbinya untuk dicarikan ikhwan yang siap untuk mengkhitbahnya, meminangnya. Seorang akhwat yang sudah waktunya untuk menikah namun belum ada ikhwan dating meminangnya. Akhwat yang sedang futur karena banyaknya tekanan menghantamnya. Seorang akhwat yang sudah sangat jarang tersentuh tarbiyah intensif karena jarak yang membentang memisahkannya dari komunitas tarbiyah. Tidak ada ikhwan yang menguatkan hatinya karena memang kader di daerahnya bisa terhitung dengan jari. Seorang akhwat yang mengharapkan uluran tangan ikhwan sholeh, yang membimbing dan menguatkan langkah kakinya. Ah.. sungguh dilematis buatnya.
“ Insyaallah Dian siap dengan sepenuh keyakinan menikah sekarang mas. Tapi sungguh sangat egoisnya Dian, jika menikah sementara saudara kita yang lebih membutuhkan, yang harus kita dahulukan, yang butuh dukungan, merana dalam penantian tanpa kepastian. Yang mulai goyah karena tekanan keluarga dan lingkungan. Yang mulai menurunkan standar criteria ikhwan calon suaminya karena usia yang semakin menua. Yang hampir kehilangan pegangan jika kita tidak segera meraihnya. Mas...Dian ingin, mas adalah ikhwan itu. Yang sedia mengulurkan tangan, meraih jari jemarinya, meneguhkan langkah perjuangannya. Tempat mencurahkan kasih sayangnya. Memberikan bahunya tempat menyandarkan kepalanya ketika penat menghampirinya.!
“ Tapi….” Dani seakan sesak karena gugup tak percaya dengan apa yang di dengarnya. “ bagaiman denganmu?”.
“ Insyaallah Dian ikhlas dan bahagia bisa berbagi kebahagiaan dengan saudara.


Semuanya telah Dian serahkan pada Allah, berat memang sebenarnya, karena tak ada alasan menolak ikhwan seperti mas. Tapi Dian yakin, Allah akan memudahkannya, untuk Dian dan mas Dani sendiri”.
“ Tapi bagaimana mas bisa mencintainya sedang mas belum mengenalnya dan bagaimana juga dengan beliau?.”
“ Afwan mas, seharusnya pertanyaan itu tidak mas tanyakan ke Dian, tapi pada diri mas sendiri. Dimanakah Allah dan karena siapa mas menikah, bukankah kita menikah karena dakwah. Ingatlah janji Allah Barang siapa menolong agama-Ku, maka Aku akan menolongnya”. “ Asytaghfirullahal ‘adhiim”. Dan lirih Dani mohon ampun.
“ Cinta..? cinta akan tumbuh ketika kita mencintai agama-Nya, dakwah dan jihad di jalan-Nya, bersama-sama!. Yakinlah Allah akan menumbuhkannya, jika mas mengupayakannya! Istikharah mas, moga Allah menunjukkan jalan dan keputusan terbaik bagi kita.” Panjang lebar Dian meyakinkan ‘kakak’nya.
“ Syukron..jazakillah ukhti atas semuanya. Sungguh pelajaran yang berharga baru aku dapatkan “.
“ Wa iyyakum. Mas, menikah dengan orang yang kita cintai adalah pilihan, tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah keharusan. Pilihlah yang kedua, moga Allah melimpahkan barakah-Nya”.! Pesan Dian untuk kesekian kalinya.
“ Aamiin. Insyaallah. Tapi kita masih tetap saudara kan?”. Giliran Dani mengajukan pertanyaan.
“ Kita sesama muslim adalah saudara dan Dian tetap adik mas. Tapi ada batas-batas syar’i yang harus kita patuhi.” Jawab Dian tegas.
“ Pasti ya ukhti. Jazakillah “ Jawab Dani pendek.
“ Wa iyyakum” setelah memberikan salam dia tutup teleponnya. Ada rasa lega dalam hatinya tapi juga sedikit berat menggelayutinya…hingga tak beberapa saat kembali HP itu berbunyi kembali. Dia sempatkan untuk membukanya.
Cinta…..dimanakah ia berada?
Apakah tersirat di tebaran kata para pujangga?
Syair sebuah tembang asmara atau pesona kuntum bunga kala musim penghujan tiba?
Bukankah cinta yang demikian akan usai bila tlah tiba waktunya? Wahai jiwa….kini ku sadar…..

Cinta sebenarnya ada pada hati yang pasrah seraya meratakan kening pada hamparan sajadah….
Hati yang tak pernah lelah….merengkuh pada Sang Pemiliknya.  
Dan tangan itu segera memencet tombol-tombol untuk membalasnya
Bagi mereka yang mengupayakan cinta
Hanya ada iklim hangat dan iklim sejuk Meski ada goda aurora dan pelangi khatulistiwa
Bagi mereka yang mengupayakan cinta Setiap musim membagi cinderamata Kristal salju, kuntum bunga, pasir pantai, serasah hangat juga payung dan laying-layang
Bagi mereka yang mengupayakan cinta di tiap cuaca cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat hujan menyanyi rizki, badai mengeratkan peluk dan tiba-tiba, syurga mengetuk pintu rumah.
-----------------------------------------------------------------------------------
Mentari telah mulai menyapa pagi. Kabut telah mencair menjadi embun. Kuncup-kuncup bunga di taman semerbak menyebarkan wanginya. Tak kalah, melati di bawah jendela kamar, telah tersenyum manis. Putih mewangi. Dan haripun telah dimulai. Hari-hari untuk kembali menapaki jalan-jalan perjuangan. Tak ketinggalan Dian. Sambil membolak-balikkan pot bunga yang ada di tangannya, sibuk merawat bunga-bunga di taman. Di tengah taman-taman itu, dengan tekun dia bersihkan rumput-rumput di pangkal tanaman. Jilbab hijau muda yang menutup rapat tubuhnya serasi dengan penampilannya. Bagai bunga yang mekar indah, menutup bunga-bunga yang ada. Jika bunga-bunga itu bisa berbicara, mungkin akan iri pada apa yang di karuniakan Allah padanya.

Anggun layaknya bidadari. Ya, karena setiap muslimah yang menjaga ketat hijabnya dan sholihah adalah layak untuk disebut bidadari. Itu Rasulullah tercinta yang mengabarkannya. Dan memang, wanita sholihah adalah bidadari, hingga bidadari syurga pun cemburu padanya. Di tengah-teallahu laka wabaarakallahu ‘alaika wajama’a bainakuma fii khoir. Semoga barakah Allah selalu ,menghiasi rumah tangga kami nanti, dan kebahagiaan kami belumlah lengkap tanpa terlengkapi dengan kehadiran ukhtina, dalam acara walngah keasyikannya bercumbu dengan bunga-bunga, sebuah suara menyadarkannya. Suara yang berasal dari Hpnya. Segera di bukanya dan baca.
“Doakan kami dengan ‘ Baarakimatul ‘ursy kami berdua” -Dani dan Salma-“


“Mas Dani..?” ya kenangan dua bulan yang lalu menyembul kembali ke angan-angan. Hatinya bergemuruh.tapi kenapa, bukankah aku telah mengikhlaskannya?..dan kesadaran telah kembali di dapatnya. Dengan cepat dia pencet HP untuk membalasnya..
“ baarakallahu laka. Alhamdulillah. Kapan mas?” Dian usahain betul-betul datang. Doakan moga ngga’ ada kegiatan di kampus. “
“ insyaallah tanggal 24 bulan depan, acaranya di rumah bidadari yach.”
“ oke dech. Selamat sekali lagi ya mas”. “ Syukron. Kami tunggu ya”. Dan klik…rasa lega bercampur lara. Gelisah yang bertambah resah. Akan tetapi penuh keyakinan yang membuatnya tegar menghadapinya. Allah pasti membantunya dan menyiapkan yang terbaik baginya.
Dan akhirnya, Dijalan Dakwah Aku Menikah !       

TAMAT

Barakallahufikum..semog bermanfaat
Wassalam…


http://www.facebook.com/note.php?note_id=161496163879039&id=137365446278178&ref=mf

Gita Cinta Dari SMA


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
============================

Pernah dengar istilah CINTA MONYET..?? Bukan cintanya sepasang monyet lho. Kalo itu yang kamu artikan berarti tak ada bedanya dong antara kita-kita ini dengan MO****..?? :D *kidding*
Maksud saya Cinta Monyet itu adalah cinta yang terjadi ketika kita masih dibalut busana seragam sekolah.
Sebetulnya saya pribadi kurang setuju dengan istilah “Cinta Monyet”  tersebut, yg sudah biasa dikatakan oleh mereka yg mengenal cinta ketika masih dibangku sekolah SMP atau SMU.


Tidak adakah istilah lain yg lebih bagus sebagai gantinya ? Dan terlepas dari istilah tersebut, ada seorang laki-laki, tepatnya adalah adik dari sahabat saya, pernah cerita kepada saya atau boleh dibilang curhat.
Dia masih duduk di bangku SMA kelas tiga. Ada seorang gadis yg pernah ditaksirnya ternyata mengecewakan hatinya. Ingatannya kepada si gadis mengakibatkan studinya terganggu. Sampai segala aktivitasnya sehari-hari ikut terganggu. Bahkan dia hampir down ketika nilai salah satu mata pelajaran favorit yg diikutinya ternyata jatuh, lantaran sering memikirkan si gadis. Maka pantaslah jika saya mengutip petuah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah yg mengatakan: “Seorang pecinta adalah korban pembunuhan oleh orang yg dicintainya. Ia menjadi hamba yg tunduk dan hina di hadapan orang yg dicintainya”. Masyaallah, alangkah meruginya dirimu jika hal ini terjadi padamu sahabat.
Ya Allah, Engkau memang tidak pernah salah. Tujuan-MU melarang mendekati zina memang lebih banyak mengandung maslahat daripada mudharat. Engkau tidak akan pernah dzalim sedikitpun kepada hambaMU ya Rabb.
Ya, karena yakin, perasaan suka -- atau lebih dalam disebut cinta – antara seseorang kepada lawan jenisnya yg masih dibungkus seragam sekolah, biasanya hanya sekadar cinta monyet yg tiada keinginan kuat, apalagi keseriusan, untuk membingkainya kedalam sebuah ikatan pernikahan. Walaupun ada juga yg ketika masih SMP atau SMU sudah memiliki keinginan utk menikah, namun kasus seperti ini hanyalah satu diantara seribu.
Dan jika sudah begitu keadaannya, saya sarankan lebih baik lupakan saja dirinya. Lebih baik memfokuskan diri menggapai cita-cita yg belum terealisasi. Bukankah hal itu lebih realistis, lebih baik dan lebih menyenangkan daripada memikirkan dirinya yg belum tentu adalah jodoh yang Allah pilihkan untukmu..?
Kembali ke sahabat pelajar yang curhat tersebut. Alhasil, dia belum bisa menerima dan tidak puas dengan jawaban yg saya berikan. Seringnya mereka bertemu ( karena mereka satu sekolah ), menjadikannya sulit sekali untuk melupakan si gadis. "Ya begitulah cinta, memang sungguh menyiksa jika engkau menyikapi datangnya cinta yg memang belum saatnya ".
Karena itu bagi saya pribadi, cinta adalah sebuah pernikahan. Jujur saya katakan bahwa saya sendiri tidak tahu bagaimana rasanya berpacaran dan bagaimana indahnya sekaligus deritanya akibat dari cinta monyet tersebut. Karena sejak saya dibangku SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi belum pernah merasakan namanya pacaran dengan segala atribut indahnya yaitu cinta monyet tersebut.
Oleh karena itu, saya berpesan kepada adek-adekku..saudara dan saudariku yg masih berada di bangku sekolah, juga yg masih kuliah *karena masih ada satu dua anak kuliah yg sikapnya kayak anak SMA..:) * : Berhati-hatilah dengan cinta monyet !


Untuk menjadi pelajar ideal, bukanlah mereka yg dikerubuti banyak pacar, apalagi yg sampai banyak ‘Mewisuda’ para korbannya menjadi ‘Mantan Pacar’. Justru seorang pelajar ideal adalah mereka yang 'BERANI BERBEDA' dengan yg lain-lainnya. Saat yg lainnya mampu pacaran, dia mampu menahan dan lebih mementingkan menyelesaikan amanah yg ada dihadapan yaitu belajar. Berkreasi, berprestasi, dan perpotensi untuk berupaya mengoptimalkan potensi yg dia miliki.
HATI-HATI DENGAN SMS
Masih seringnya bertemu kembali dengan dirinya di sekolah, atau di suatu organisasi osis dengan dia yg pernah mengobrak-abrik pertahanan dinding hati, biasanya akan menjadi siksa batin yg teramat berat bila tidak disikapi dgn hati dan pikiran yg sehat. Walaupun sudah berkomitmen untuk melupakannya, namun tidak semudah kita mengucapkannya.
Jika engkau pernah merasakan cinta monyet ini, dan sudah merasakan pahitnya derita cinta model ini, dan jika tidak ingin terjerumus kedua kalinya, maka saya sarankan hati-hatilah dengan komunikasi dua arah yg menggunakan media digital atau SMS ini.
Perhatikanlah kasus berikut:
SMS 1.
Akhwat : “Akhi, bagaimana kabar antum? Kapan antum balik kesini?”
Ikhwan : “ Alhamdulillah saya sehat2 saja. Insya Allah senin depan saya kembali. Ukhti sendiri  sehat? Memang ada apa ya ukh ?”
Akhwat : “Alhamdulillah saya jg sehat2 saja, akh. Ya, tidak ada apa-apa. Cuma mau tanya saja, bgmn kelanjutan rapat kemarin. Kapan kita akan rapat lagi ya Akh?”
SMS 2.
Akhwat : “Assalamualaikum akh, kapan kita akan rapat lagi?”
Ikhwan : “Waalaikum salam, insa Allah senin depan bisa”.
Sekilas, kalau dilihat antara sms 1 dan sms 2 hanya berbeda jumlah kata dan tarif pulsa untuk sms. Namun, dari situlah sebenarnya kita patut waspada. Terkadang sms-sms itulah yg akan menjadi celah bagi setan untuk menebarkan kembali ranjau – ranjaunya.
“Akhi, bagaimana kabar antum? Kapan antum balik kesini?”, adalah sebuah ungkapan yg terkesan sederhana tapi menyimpan sejuta makna.


Terkesan seperti seseorang yg mengkhawatirkan keadaan kekasihnya. Padahal engkau sudah berniat melupakan dirinya, tp kenapa smsmu seperti sms seorang kekasih..?
Sungguh, kekuatan kata memiliki dampak yg luarbiasa. Engkau tidak perlu bertele-tele menanyakan hal tentang dirinya jika maksud sebenarnya hanya ingin bertanya kapan rapat berlangsung. Karena itu bila dengan 5 kata saja informasi sudah cukup jelas, kenapa harus dengan 8 atau 10 kata? Bukankah sisanya merupakan kemubaziran?
INGAT, setan sangat pandai mengubah yang jelas menjadi samar. Para setan durjana itu berjejer di ujung sinyal handphonemu. Sms yang engkau ketik memang berwarna hitam, tapi begitu sampai ke penerima, setan mengubah huruf smsnya menjadi 'MERAH JAMBU'. Itulah liciknya setan. Maka hati-hatilah dengan sms !
Tidak usah basa-basi, langsung saja dengan pertanyaa ke sasaran: “akh, kapan kita akan rapat lagi?”, bukankah itu sudah sangat jelas? Jadi tidak perlu dgn menanyakan dirinya jika memang engkau tidak mau terulang lagi dengan derita cinta monyet itu.
Bagaimana, engkau setuju…????
SILATURAHMI TANPA HENTI
Orang bilang anak kecil itu kalau sudah ngambek, lama sembuhnya. Padahal tidak selalu begitu. Sebetulnya yg mengambek lama itu justru orang dewasa dan orang tua. Kalau tidak percaya, coba saja lihat di sekelilingmu.
Misalkan dua anak kecil, namanya Ali dan Rudi, berkelahi memperebutkan sebuah mainan. Salah satu anak itu kemudian menangis. Biasanya, yg kemudian terjadi adalah permusuhan diantara kedua orang tuanya, kadang sampai berlarut-larut, apalagi kalau ada anak yg terluka. Maka ekspresi dan luapan kemarahan bisa lama bahkan berhari hari. Padahal beberapa jam kmudian setelah berkelahi, Ali dan Rudi sudah kembali tertawa ceria dan bermain bersama. Sejam lalu berkelahi, sejam kemudian sudah berkejar-kejaran.
Lalu, apa hubungan cerita Ali dan Rudi dengan derita cinta monyet yg pernah engkau dapatkan ? Sahabat, biasanya seseorang yg baru pertama kali jatuh cinta berkisar umur 14 tahun sampai 18 thn. Yaitu masa-masa pertama kali masuk jenjang SMP dan SMA. Jika salah seorang diantara mereka jatuh cinta dan kemudian patah hati, maka akan berlanjut sikap diam-diaman selama beberapa bulan, bahkan bertahun tahun. Tidak saling menegur, tidak saling menyapa, ketemu dijalan juga seolah-olah tidak melihat. Dan hal itu trjadi hanya karena mereka tidak bisa membingkai cinta monyet mereka selamanya.



Namun, apakah hanya karena ini silaturahmi harus terputus? Engkau malu bertemu dengan dia? Tiada tegur sapa berbulan-bulan hingga tiga turunan? Duh sahabatku, alangkah sempitnya engkau melihat dunia kalau begitu?
Karena itu jadikanlah cinta monyet itu sebuah pelajaran berharga, yang dapat engkau aplikasikan saat ini yaitu saat engkau sudah dewasa, sudah matang, dan sudah siap untuk menjemput pujaan baru.
Dan saya berharap semoga silaturahmi juga tidak akan terputus, dan engkaupun akan mampu berkata padanya: “Engkau tetap saudaraku. Engkau tetap sahabatku. Karena persahabatan dan persaudaraan yg kita bina bukan lantaran materi. Kita bersahabat, berteman dan bersaudara karena Allah. Dan tiada pernah terputus kecuali atas izin Allah”.
Jadi ketika engkau teringat masa-masa 'Gita Cinta Dari SMA' itu kembali hadir, jadikan itu sebagai pelajaran berharga disaat ini, saat engkau sudah dewasa dan matang, yang siap untuk menjemput pujaan baru dengan cara yang syari dan diridhoi Allah. Sehingga si dia yang pernah mengisi hari2mu dengan cinta monyet-nya itu akan terlupakan dengan sendirinya. Maka hilanglah sudah cinta haram yg datang sebelum waktunya tersebut. Dan tiada dendam, tiada sakit hati apalagi benci..!!!

Barakallahufikum..semoga bermanfaat
Wassalam…


http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-gita-cinta-dari-sma/186394914722497

Saudaraku, jangan Lebay yach?


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
==============================

Wahai anak adam (manusia) ambilah pakaianmu ketika hendak memasuki masjid (sholat), makan dan minumlah dan jangan engkau berlebih-lebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS al-A’raf : 31).
Sahabatku, hati-hati nich dengan kebiasaanmu yang lebay. Israf yang akrabnya kita sebut “Lebay” ini sesungguhnya penyakit hati yang merajalela dan berbahaya. Israf secara harfiyahnya adalah boros atau melebihi batas kebiasaan, atau bisa juga diartikan dengan melakukan segala sesuatu yang diluar kemampuan. Beberapa perbuatan israf yang dekat dengan kita tanpa kita sadari. Check this out :
  1. Makan dan Minum. Pola makan yang tidak baik memberi dampak yang tidak baik buat tubuh kita. Terlalu cepat atau kebiasaan menunda makan sama artinya  mengundang penyakit. Efeknya tentu ke diri kita sendiri. “Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.

 Begitulah Rasul mengajarkan kita. Namun kita sebagai manusia biasa terkadang khilaf. Ketika melihat makanan enak tersaji di dapur khilaf juga jadinya tanpa baca doa, tanpa cuci tangan, dalam sekejap bersih semua makanannya. So, buat sahabatku, jangan lebay yach kalau lagi makan dan minum.
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesunggahnnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al A’raf: 31)
2. Lebay dalam berpakaian. “Haduch, zaman sekarang pakaian aneh-aneh saja, Basahan untuk mandi kok di pakai untuk nyanyi” Jangan heran sahabatku, begitulah emak ku tercinta berkomentar saat melihat artis yang pakaian rok nggak sampai lutut, terkadang baju punya adeknya di pakai. Pakaiannya memang nggak berlebihan, dasar pakaiannya kurang lagi ada. Tetapi maksud si pemakai yang Lebay, karena si pemakaiannya berniat mencari sensasi. Lebay juga kan jadinya?
3. Tempat tinggal, kendaraan dan gaya hidup yang lebay. Sekeluarga hanya ada 3 orang tapi pembantu 7, Rumah 2, Motor 5, mobil 2. Allahu Akbar. Tajir amat yach itu orang?!?!? Itu hanya misalkan, mudah-mudahan kita termasuk orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah dan mengerti cara menggunakan harta di jalan Allah, selalu. Amiiiiin!  
“Hingga apabila Kami timpakan adzab kepada orang-orang yang hidup mewah di antara mereka, dengan serta merta mereka memekik minta tolong. Janganlah kamu memekik minta tolong pada hari ini. Sesungguhnya kamu tiada akan mendapat pertolongan dari Kami.” (Al Mu’minun: 64-65)
4. Lebay dalam berbicara. Nach, yang satu ini paling dekat dan amat dekat dengan kita terutama bagi kaum hawa. Hati-hati yach buat yang suka berbicara. Mulutmu harimaumu, dan diam adalah emas. Sahabat, engkau dan diriku adalah sama. Kita masih sama-sama belajar dan memperbaiki lisan kita. Selalu berusaha untuk melafaskan setiap ucapan yang baik dari mulut kita.
"Dan berikan kepada keluarga-keluarga terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang berada dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta-hartamu secara boros. Sesunggunya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan." (QS : Al Isro': 26-27).
Nach, sahabatku. Orang yang lebay atau israf adalah temannya syaitan. Maka berhati-hatilah. Jangan lebay lagi yach sahabatku. Upz, tapi ada juga Lebay yang sangat dicintai oleh Allah. Masih ingat kan dengan notes Nai yang kemarin. Tepat, Anda benar! Lebay dalam bersedekah. Allah mencintai bagi mereka yang lebay dalam bersedekah. So, galakkan terus berbagi rezeki buat orang disekitarmu. Ingat! Didalam hartamu terdapat juga hak mereka.


"Barang siapa yang membelanjakan seratus ribu dirham dalam ketaatan bukanlah israf, sebaliknya barang siapa yang membelanjakan satu dirham dalam kemaksiatan adalah israf. Dan siapa yang mencegah dirinya dari membelanjakan hartanya maka ia kikir (al-qatr)".
Dengan demikian, sedikit atau banyaknya harta yang dikeluarkan bukan menjadi ukuran penghamburan, melainkan dilihat dalam hal apa harta itu dibelanjakan.

Mudah-mudahan kita menjadi sosok yang lebih baik untuk nanti dan esok.
Wassalamulaikum wr. Wb,


http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-saudaraku-jangan-lebay-yach/186360611392594

Setiap Akhwat Itu Unik


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Huhuhu…entah kenapa tiba2 terpikir oleh saya untuk menceritakan al Ukh yg begitu mempesona… Sejak pertama kali melihat, wuiii… dah kebayang, kaya’ gini ya calon bidadari surga tu… Seketika itu juga langsung berasa,  she’s “the one”…
Weiiitttsss.. jangan salah.. ! Bukan brarti saya dah beralih “orientasi”, nyadar bgt koq itu dilaknat Alloh.. Lagian, saya masih 100% NORMAL!!!
Cuma, ya itu dia… she’s sooo.. can’t find the right words to describe…
Bukan, bukan cantik secara fisik (gak bisa dipungkiri iya juga siy..) tapi lebih ke inner beauty dan attitudenya itu loh… yg akhwati banget!!!
Masalah “the one” tadi? Hihihi.. maksudnya the one that I wanted to be like…
Apalagi pas awal2 hijrah dulu, jadi terstigma… klo mau jadi akhwat sejati tu ya harusnya kaya’ gitu… dan jadilah al Ukh tersebut my role model..
But the big problem is, saya sama sekali gak seperti dia.. yg kalem, lembut, manis, cantik, tapi tetep punya semangat dan mobilitas tinggi dalam dakwah… bisa super ramah en full senyum kalo ma akhwat lain, yg gak dikenal sekalipun, tapi masang muka ketus plus agak judes klo berhadapan ma ikhwan…*emang gak segitunya kali yack..:) *
Huuuhhh… jadi, klo mencoba meng-compare gitu, wuiiihh gubrraaaaaakkzzz abissss deh pokoknya!!! Dan terasa semua yg saya lakuin tu salah karena gak sedikitpun sesuai dg apa yang dia lakuin… Sempat jadi mengalami semacam krisis identitas.. Karena saya sangat ingin jadi “manusia baru” yg lebih baik dari saya yang dulu, tapi… rasanya nyiksa banget dan menipu diri sendiri ketika berusaha jadi “seseorang yg lain” itu…
Dah sering banget siy, dibilangin, just be your self!! Apa enaknya jadi orang lain? Toh bersikap Islami bukan berarti membuang semua yg ada pada diri, kaan??!!
Tapi, tetep dalam hati bersikeras, klo mau jd akhwat beneran ya harus jadi kaya’ ukhti cantik itu!! Walo gak tau gimana caranya dan kapan bisa terealisasinya…

Sampai suatu ketika, gak tau kenapa, mungkin karena Alloh yg mengilhamkan.. saya melihat ukhti lain yg sangat berbeda dari ukhti yg saya maksud tadi (yg memenuhi kriteria akhwat ideal menurut saya) tapi dia tetap bisa terlihat begitu menarik dan memikat, dan gak bisa dibilang dia bukan akhwat sejati… padahal perbedaannya bisa dibilang 180 derajat!!
Hmmm.. setelah itu kemudian saya mencoba melihat ke sekeliling.. ternyata banyak sekali sisi cantik yg bisa dilihat dari seorang akhwat…entah kenapa tiba2 semua akhwat jadi terlihat cantik dimata saya.. baik itu yang lembut, yg keras, yg pendiam, yg cerewet, yg kalem, yg biyayakan, yg tenang, yg ekspresif, yg dewasa, yg manja, yg tomboy, bahkan yg centil sekalipun, jadi gak terlalu bermasalah di mata saya.. *hohoho.. yg terakhir ngomongin diri sendiri niy kaya’nya..:p*
Yah, sekarang sudah timbul kesadaran bagi saya, bahwa setiap manusia itu memang diciptakan berbeda, menurut karakter dan pembawaannya masing2… mengubah diri secara total hanya pada outer look, bukan itu essensi dari “hijrah”.. apa yg ada di dalam hati, itu yg jauh lebih penting…
Lagipula, perbedaan itu indah kan? Pelangi tak kan sempurna jika tak berwarna-warni..
Sekarang, tinggal bagaimana membingkai karakteristik masing2 pribadi agar sesuai dg ajaran yang Islami dan kemudian bersinergi untuk bekerjasama dalam membangun peradaban bangsa ini, agar lebih berkembang, maju, dan mendapat ridho Illahi…
Tentang ukhti cantik itu, ia masih terlihat amat cantik dimata saya.. masih sering terpesona ketika melihatnya.. tapi, sekarang ia punya banyak saingan… karena sekali lagi, setiap akhwat mempunyai sisi unik dan menarik yg membuat ia terlihat cantik… apalagi ketika kelebihannya itu digunakan untuk berjuang di jalan-Nya… wuuiiiiihhhhh…
Subhanalloh abis de pokoknya… Luar biasa cantik jadinya!!
Jadi siapapun anda ya ukhti, anda tetap cantik dan menarik bagi saya..selama anti berjalan dalam koridor Islam dan dalam rangka ketaatan perintahNya.. -senyum-
Once more, buat setiap ukhti di seluruh dunia….
I may not know you, but I know that I love you…
coz one thing that make us one, our Dinul Islam...
together we can always be strong and make our dreams come true..
so that one day we can see Islam rule the world again!!!


Message : remember, you can find your own inner beauty without being anyone else..
      —khususnya buat diri sendiri! ^_^ —

Barakallahufikum..jabat erat dan salam hangat
Wassalamualaikum


http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/motivasi-setiap-akhwat-itu-unik/186189938076328

Selasa, 25 Januari 2011

Bunda Dan Facebook…


Hari ini saya angkat tema tentang orang tua dan anak,,dan pengaruh lingkungan terhadap kewajiban kita sebagai orang tua dan calon orang tua..
“Iya, bunda sih, facebook-kan terus, bentar-bentar buka komputer, bentar-bentar facebook-kan, bunda tuh kurang perhatian sama anak-anak”, demikian celoteh Dion (6 tahun) pada ibunya.
Dengan sabar bunda menjawab : “Sabar nak, nanti bunda susul ke sekolah, dipakainya jam berapa Din?"
“Jam 8, bunda. Pagi-pagi begini toko mana ada yang buka?”, Dina menjawab setengah menangis.
“Sudah, sudah, bunda sibuk, jangan marah-marah dengan bunda seperti itu, bunda akan usahakan semua keperluan kamu sebelum jam 8 pagi, ayo semuanya berangkat sekolah, nanti terlambat.”, gusar bunda pada dina dan dion.
Hari itu menjadi hari yang memusingkan buat Bunda Dina karena dengan tergopoh-gopoh, beliau mencari semua yang diperlukan putrinya, memang semua salahnya, karena sibuk bekerja dan memikirkan agenda rapat yang hasrus dilaksanakan pada hari ini, maka dari kemarin sore hingga malam hari, bunda Dina membawa pekerjaan kantornya ke rumah dan alhasil semua pembicaraan anak-anaknya tidak mendapat tempat dalam memorinya. Bunda Dina hanya mengangguk saja ketika anaknya bertanya dan meminta apa-apa, sementara pikiran dan matanya sibuk dengan tuts-tuts handphone di tangannya, membahas semua pekerjaan kantor yang tak ada habisnya.
Dan semua bisa terlambat, bila bunda Dina tidak segera tanggap dan cepat, serta berkeras untuk tinggalkan semua pekerjaan kantor bila sampai di rumah, bila mau mendapatkan anak-anaknya tetap berkomunikasi dengannya, karena bisa saja sang anak akhirnya mencari kawan bicara yang mau mendengarkan semua keluhannya, semua ceritanya dan yang mampu memenuhi semua kebutuhannya untuk bicara, namun karena bunda sibuk dengan pekerjaan kantor yang dibawa pulang kerumah, akhirnya anak-anak berkesimpulan, “bunda sibuk! , dan tak mau bicara denganku. dan aku akan mencari kawan bicara diluar sana” (kalau boleh aku bisikan pada anak-anak itu, satu alinea saja: 'hati - hati nak, di luar banyak serigala berkulit domba yang akan menerkammu, bila kau salah mencari kawan bicara').


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/bunda-dan-facebook/185185704834419

Muslimah Kini Dan Nanti


Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya .... ” (QS An-Nur : 31)
Sudah sering mendengar ayat ini? atau mungkin telah mengahafalnya?
Ya ... ayat ini menjadi bukti betapa Islam melindungi seorang wanita. Kemuliaan seorang wanita dalam Islam terletak pada usahanya untuk menjaga kehormatan dirinya. Islam telah mengatur bagaimana seorang wanita bisa menjadi mulia dengan akhlaq, menutup aurat dan melaksanakan perintah Allah. Perintah menutup aurat bukan mengekang kebebasan seorang wanita, justru memperlihatkan bahwa Islam mengerti dengan apa yang dibutuhkan oleh wanita.
Bila diibaratkan, terdapat dua buah kue yang sama jenisnya, dijual di tempat yang terpisah, yang satu ditaruh di etalase kaca bertulisan jangan disentuh dan yang satu lagi dibiarkan “berdesakan” dengan jajanan lain tanpa penutup apa-apa dan yang pasti telah sering dipegang oleh tangan-tangan yang belum tentu steril.
Nah, kita diminta memilih, mana yang akan kita beli ? secara logika tentu saja kita pilih yang tidak pernah dipegang karena pasti terjaga kualitasnya. Seperti itu pula wanita, begitu sayangnya Allah sehingga Ia ingin menjadian kita sesuatu yang “mewah” dan suci karena terlindungi ....
sebuah kisah akan mengingatkan kita pada wanita mulia ....
Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya.”
Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah menyembuhkannya.' Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.' Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, aura tku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ "

Apa amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya.
Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperliha tkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya. Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, dan amalan-amalan salihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.
Subhanallah, ternyata untuk menjadi mulia tidak butuh kosmetik mahal, perawatan kulit untuk menjadi putih dan alat-alat kecantikan lainnya, namun yang dibutuhkan hanya kesabaran dalam “memutihkan” hati dan menjaga kesucian diri.
Sekarang, patutlah diri di depan kaca, dan katakanlah bahwa saya akan menjadi seorang wanita mulia mulai sekarang dan nanti. Kenapa nanti? karena tidak ada yang tahu apakah kita masih seperti sekarang besok, beberapa hari lagi bahkan bertahun-tahun berikutnya, karena baiknya iman kita saat ini ... ketulusan yang hadir hari ini belum tentu bertahan hingga nanti jika tidak ada usaha untuk memperbaiki diri.
Kesempatan untuk memompa semangat tidak selalu datang begitu saja, ia butuh diberi sebuah asupan dari saat ini, keinginan untuk terus berubahpun tak datang tiba-tiba karena butuh keteguhan dan kekuatan cinta pada Ilahi. Modal tersebut akan didapat melalui proses pencarian sebuah ilmu yang mampu memantapkan hati kita bahwa muslimah seperti inilah yang diharapkan muncul dari sebuah generasi pembaharu.
Muslimah yang teguh dengan hijabnya, yang terus menambah wawasan keislamannya dan muslimah yang mampu mempengaruhi orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Jilbab yang hadir di tengah masyarakat yang gersang akan ilmu agama bisa menarik orang lain untuk mendalami Islam, apalagi bila ditambah dengan kecerdasan dan talenta yang dimilki oleh muslimah tersebut,maka akan dapat menimbulkan tarikan yang lebih kepada mereka.
Berangkat dari pemahaman inilah terdapat kesimpulan bahwa ancaman muslimah dalam kehidupannya dipengaruhi oleh lingkungan yang homogen dan heterogen. Hanya tinggal muslimah itulah yang berusaha untuk menjaga dirinya sekarang dan hingga nanti ... Wallahu’alam bishowwab


Dua Waktu Tidur Yang Makruh Dalam ISLAM


Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.
Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.


1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh
Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).
2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).
Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat.
Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/dua-waktu-tidur-yang-makruh-dalam-islam/184977321521924

Anak Sulungku…


Matanya bekerjap-kerjap dan bibirnya terlihat bergetar, nampaknya anak lelaki berusia 11 tahun itu ingin mengucapkan sesuatu yang sulit untuk diucapkan. Keadaan mencekam yang tercipta pada pagi dingin tadi berlangsung hingga sekarang didalam rumah sehingga membuat suasana tidak nyaman.
Sang ibu terlihat sibuk menyiapkan sarapan dengan tangan yang masih penuh remah-remah roti. Celemek lusuh yang sesekali diangkatnya ke atas untuk menyeka keringat dan wajah masam sang ibu dengan bibir yang tertekuk semakin menyiratkan kegelisahan, membuat sang anak menjadi semakin merasa bersalah dan tidak enak hati atas apa yang terjadi di rumah itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, dan sekitar 10 menit lagi akan ada kereta api yang lewat yang akan menolong anak lelaki kecil itu berangkat menuju ke sekolahnya, namun tidak akan cukup waktu baginya untuk tidak datang terlambat ke sekolah sebelum ia berbicara dengan ibunya.
Dengan kegelisahan yang semakin lama semakin memuncak dan diamnya sang ibu yang sibuk sendiri dengan wajah masam dan mulut cemberut tanpa suara sepatahpun, membuat anak lelaki kecil yang sangat disayanginya dan juga diharapkannya menjadi semakin panik dalam kebisuan yang menyakitkan bagi dirinya.



Akhirnya, dengan tidak tahan, sang anak menghampiri ibunya yang terlihat masih marah dalam diam. Dia mencoba untuk memeluk sang ibu namun dengan agak kasar ditepis tangan anaknya. Ketika anaknya sekali lagi meminta maaf atas kesalahannya yang sholat subuh kesiangan karena nonton bola semalam, juga kekhilafannya karena tidak membuat PR matematika yang ditekankan oleh gurunya berkali-kali, membuat sang ibu marah bukan kepalang, dan rasanya bagi si anak tidak ada maaf baginya.
Anak kecil itu kemudian berlari keluar rumah dan dengan wajah menahan marah serta mata berkerjap-kerjap menindas air mata yang hendak keluar, sang anak bersumpah dalam hati akan membenci ibu yang telah menyakiti hatinya. Namun perasaan sayang dan cinta begitu kuat, sehingga sang anak tidak tahu kemana harus dilampiaskan perasaannya yang gamang itu.
Sungguh sedih, ketika seorang anak berbuat kesalahan yang cukup fatal dimata orang tuanya dan sang anakpun sebenarnya sudah memohon maaf dan mengakui kesalahannya namun seringkali karena seorang ibu merasa bahwa dirinya adalah penguasa bagi anaknya, maka dia mampu untuk berbuat apa saja, termasuk mau memaafkan atau tidak atau bahkan diam saja dengan cara yang membimbangkan hati anak pra-remajanya. Apalagi, bila sang ibu hafal hadist yang berbunyi,
اْلجَÙ†َّØ©ُ تَØ­ْتَ Ø£َÙ‚ْدَامِ اْلأُÙ…َّÙ‡َاتِ
"Surga itu di bawah telapak kaki ibu."
maka sang anak, seperti merasa terancam akhir hidupnya ditangan seorang ibu yang mencintainya sekaligus menjadi penguasa baginya..


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/anak-sulungku/185181408168182

Dulu Haram Kini Halal


Pada suatu ketika di zaman Nabi Muhammad SAW ada seorang pencuri yang hendak bertaubat, dia duduk di majelis Nabi Muhammad SAW dimana para shahabat berdesak-desakkan di Masjib Nabawi.
Suatu ketika dia menangkap perkataan Nabi saw : "Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang Haram itu dalam keadaan halal". Sungguh dia tidak memahami maksudnya, apalagi ketika para shahabat mendiskusikan hal tersebut setelah majelis dengan tingkat keimanan dan pemahaman yang jauh dibawah sang pencuri merasa tersisihkan.


Akhirnya malam pun semakin larut, sang pencuri lapar. Keluarlah dia dari
Masjid demi melupakan rasa laparnya.
Di suatu gang tempat dia berjalan, dia mendapati suatu rumah yang pintunya agak terbuka. Dengan insting pencurinya yang tajam ia dapat melihat dalam gelap bahwa pintu itu tidak terkunci...dan timbullah peperangan dalam hatinya untuk mencuri atau tidak. Tidak, ia merasa tidak boleh mencuri lagi.
Namun tiba-tiba timbul bisikan aneh : "Jika kamu tidak mencuri mungkin akan ada pencuri lainnya yang belum tentu seperti kamu". Menjadi berfikirlah dia, maka diputuskan dia hendak memberitahukan/mengingatka
n pemiliknya di dalam agar mengunci pintu rumahnya, karena sudah lewat tengah malam.
Dia hendak memberi salam namun timbul kembali suara tadi : "Hei pemuda! bagaimana kalau ternyata di dalam ada pencuri dan pintu ini ternyata adalah pencuri itu yang membuka, bila engkau mengucap salam ... akan kagetlah dia dan bersembunyi, alangkah baiknya jika engkau masuk diam-diam dan memergoki dia dengan menangkap basahnya !" Ah.. benar juga, pikirnya.
Maka masuklah ia dengan tanpa suara... Ruangan rumah tersebut agak luas, dilihatnya berkeliling ada satu meja yang penuh makanan - timbul keinginannya untuk mencuri lagi, namun segera ia sadar - tidak, ia tidak boleh mencuri lagi.
Masuklah ia dengan hati-hati, hehhh ...syukurlah tidak ada pencuri berarti memang sang pemilik yang lalai mengunci pintu. Sekarang tinggal memberitahukan kepada pemilik rumah tentang kelalaiannya, tiba-tiba terdengar suara mendengkur halus dari sudut ruang....Ahh ternyata ada yang tidur mungkin sang pemilik dan sepertinya perempuan cantik.
Tanpa dia sadari kakinya melangkah mendekati tempat tidur, perasaannya berkecamuk, macam-macam yang ada dalam hatinya. Kecantikan, tidak lengkapnya busana tidur yang menutup sang wanita membuat timbul hasrat kotor dalam dirinya.
Begitu besarnya hingga keluar keringat dinginnya, seakan jelas ia mendengar jantungnya berdetak kencang didadanya, serta tak dia sangka ia sudah duduk mematung disamping tempat tidur...Tidak, aku tidak boleh melakukan ini aku ingin bertaubat dan tidak mau menambah dosa yang ada, tidakk !!
Segera ia memutar badannya untuk pergi. Akan ia ketuk dan beri salam dari luar sebagaimana tadi. Ketika akan menuju pintu keluar ia melalui meja makan tadi, tiba-tiba terdengar bunyi dalam perutnya...ia lapar. Timbullah suara aneh tadi : "Bagus hei pemuda yang baik, bagaimana ringankah sekarang perasaanmu setelah melawan hawa nafsu birahimu?"


Eh-eh, ya. Alhamdulillah ada rasa bangga dalam hati ini dapat berbuat kebaikan dan niat perbuatan pemberitahuan ini akan sangat terpuji. Pikir sang pemuda. Suara itu berkata :"Maka sudah sepatutnya engkau memperoleh ganjaran dari sang pemilik rumah atas niat baikmu itu, ambillah sedikit makanan untuk menganjal perutmu agar tidak timbul perasaan dan keinginan mencuri lagi!!"
Berpikirlah dia merenung sebentar, patutkah ia berbuat begitu? "Hei - tiba2x ia tersadar serta berucap dalam hati - engkau dari tadi yang berbicara dan memberi nasihat kepadaku? Tapi nasihatmu itu telah menjadikan aku menjadi tamu tidak diundang seperti ini, tidak.. aku tidak akan mendengarkan nasihatmu. Bila engkau Tuhan, tidak akan memberi nasihat seperti ini. Pasti engkau Syaithon....(hening).
Celaka aku, bila ada orang yang di luar dan melihat perbuatanku .... aku harus keluar." Maka tergesa-gesa ia keluar rumah wanita tersebut, ketika tiba dihadapan pintu ia mengetuk keras dan mengucap salam yang terdengar serak menakutkan.
Semakin khawatir ia akan suaranya yang berubah, setelah itu tanpa memastikan pemiliknya mendengar atau tidak ia kembali menuju masjid dengan perasaan galau namun lega, karena tidak ada orang yang memergoki dia melakukan apa yang disarankan suara aneh tadi.
Sesampai dimasjid, ia melihat Nabi saw sedang berdiri sholat. Di sudut ruang ada seorang yang membaca al qur-aan dengan khusyu' sambil meneteskan air mata, di sudut-sudut terdapat para shahabat dan kaum shuffah tidur. Dingin sekali malam ini, lapar sekali perut ini teringat lagi ia akan pengalaman yang baru dia alami, bersyukur ia atas pertolongan Allah yang menguatkan hatinya.
Tapi ... tidak di dengar bisikan Allah di hatinya, apakah Allah marah kepadaku? Lalu ia menghampiri sudut ruang masjid duduk dekat pintu, dekat orang yang membaca al qur-aan. Ditengah melamunnya ia mendengar sayup namun jelas bait-bait ayat suci ......
"Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong:"Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari pada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja Mereka menjawab:"Seandainya Allah memberi petunuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadam.Sama saja bagi kita apakah kita mengeluh ataukah bersabar.Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri". (QS. 14:21)"
"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan:"Sesungguhnya
 Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya.


Sekali-kali tidak kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamulalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri.Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku.Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (QS. 14:22)"
Bergetarlah hatinya mendengar perkataan Allah yang di dengarnya, berkatalah ia "Engkau berbicara kepadakukah, ya Allah?" Serasa lapang hatinya, semakin asyik dia mendengarkan bacaan suci itu, maka lupalah ia akan laparnya, segar rasanya badannya.
Cukup lama ia mendengarkan bacaan orang itu hingga tiba-tiba tersentak ia karena bacaan itu dihentikan berganti dengan ucapan menjawab salam. Terlihat olehnya pula bahwa pria itu menjawab salam seseorang wanita dan seorang tua yang masuk langsung menuju tempat Nabi Muhammad SAW sedang duduk berdzikir, dan wajah wanita itu ... adalah wajah wanita tadi !!!??? Timbul gelisah hatinya, apakah tadi ketika ia berada diruangan itu sang wanita pura-pura tidur dan melihat wajahnya? Ataukah ada orang yang diam-diam melihatnya, mungkin laki-laki tua yang bersamanya adalah orang yang diam-diam memergokinya ketika ia keluar dan mengetuk pintu rumah itu? Ahh ... celaka, celaka.
Namun gemetar tubuhnya, tidak mampu ia menggerakkan anggota tubuhnya untuk bersembunyi atau pergi apalagi tampak olehnya pria yang tadi membaca al Qur-aan hendak tidur dan tak lamapun mendengkur. Dan ia lihat mereka sudah berbicara dengan Nabi saw.... celaka, pikirnya panik !!
Hampir celentang jantuh ia ketika terdengar suara Nabi Muhammad SAW. : "Hai Fulan, kemarilah !" Dengan pelahan dan perasaan takut ia mendekat. Ia berusaha
menyembunyikan wajahnya.
Ia mendengar sang perempuan masih berbicara kepada Nabi Muhammad SAW. katanya : "...benar ya Rosulullah, saya sangat takut pada saat itu saya bermimpi rumah saya kemasukan orang yang hendak mencuri, dia mendekati saya dan hendak memperkosa saya, ketika saya berontak ... ternyata itu hanya mimpi. Namun ketika saya melihat sekelilingnya ternyata pintu rumah saya terbuka sebagaimana mimpi saya dan ada suara menyeramkan yang membuat saya takut. Maka segera saya menuju rumah paman saya untuk meminta dicarikan suami buat saya, agar kejadian yang dimimpi saya tidak terjadi bila saya ada suami yang melindungi. Sehingga beliau mengajak saya menemui engkau disini agar memilihkan calon suami untuk saya".
Nabi saw memandang kepada si pemuda bekas pencuri, lalu berkata : "Hai Fulan, karena tidak ada pria yang bangun kecuali engkau saat ini maka aku tawarkan padamu, maukah engkau menjadi suaminya?" Terkejut ia mendengar itu, cepat mengangguklah ia.


Dan setelah sholat shubuh Nabi saw mengumumkan hal ini dan meminta para shahabat mengumpulkan dana untuk mengadakan pernikahan dan pembayaran mas kawin si pemuda ini.
Setelah pernikahannya, tahulah ia akan arti perkataan Nabi Muhammad yang lalu :
"Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Allah, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang Haram itu dalam keadaan halal".
Sekarang ia dapat memakan makanan yang tadi dengan halal (dahulunya haram), dan ia dapat menikmati wanita itu sebagai isterinya dengan halal. Allahu Akbar, wal Hamdu Lillah.


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/dulu-haram-kini-halal/184500198236303

Renungan Malam


Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah ke ibu anda. Hmm....kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh waktu kita bayi itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.
Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu....ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat...semuanya orang - orang yang tercinta. Rasakan energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu......


Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di lakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.
Secara ajaib Allah SWT mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah- wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara dia berkata : " Betapa lelahnya aku hari ini" dan apa penyebab lelah itu ?.......juga untuk siapa dia berlelah-lelah ? Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik anak-anak juga mengurus rumah.
Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.
**Renungan untuk kita semua...
Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka nanti malam.....rasakan betapa kebahagian dan keharuan seketika memuncak jika mengingat itu semua...........
Bayangkan apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu tak membuka matanya..selamanya!"


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/renungan-malam/184702371549419

Belajar Dari Cicak


Aneh sekali, makanan cicak ialah serangga yang bisa terbang. Lalat, kumbang kecil dan lain-lain yang mempunyai sayap. Kalau difikirkan secara logika, mana mungkin cicak yang hanya ada kaki yang melekap di dinding dan di atap itu mampu ‘memburu’ mangsanya yang bisa terbang. Tentulah begitu sulit bukan? Bukankah lebih sesuai jika Allah kurniakan untuk cicak sepasang sayap yang juga mampu terbang  bagi memburu mangsanya? Barulah adil.
Tapi Allah SWT Maha Mengetahui, walaupun cicak tidak dikaruniakan sayap tetapi Allah karuniakannya lidah yang panjang, mata yang tajam dan kecepatan yang luar biasa untuk mendapat rezkinya. Seolah-olah cicak tidak ‘mengeluh’ karena tidak bersayap, sebaliknya menggunakan lidah, mata dan kakinya dengan penuh kesungguhan untuk mencari rezki. Secara mudah, bolehlah dikatakan cicak tidak fokus pada kekurangannya, sebaliknya berfokus pada kelebihannya. Hasilnya, cicak tetap dijamin rezekinya.
Anak-anak juga perlu belajar dari kegigihan cicak ini. Sebagai manusia, kita juga ada kelebihan, dan kita juga ada kekurangan. Untuk belajar kita perlu tumpukan pada kekuatan kita. Mungkin kita pelajar miskin, tapi itu bukan penghalang untuk belajar. Tumpukan pada kerajinan kita. Mungkin fisik kita agak lemah, tetapi pertajamkanlah fikiran kita. Mungkin kita anak yatim, tetapi kita masih boleh membina hubungan yang baik dengan ibu saudara, bapa saudara, guru-guru dan teman-teman kita.intinya, jangan jadikan kekurangan sebagai satu alasan… tetapi tukarkan ia menjadi satu kelebihan!


Jadi bila anak-anak melihat cicak, jangan pandang begitu saja. Jangan hanya berimajinasi minta diberi sepasang kaki dan tangan seperti cicak… sedarlah kita lebih mulia daripada cicak. Sebaliknya pandang kelebihan yang ada pada kita manusia. Pandanglah kekuatan kita sebagai seorang individu yang punya berbagai keistimewaan. Allah Maha Kaya, pasti ada kelebihan pada setiap manusia yang diciptakan-Nya termasuk diri kita. Ingatlah ungkapan yang berbunyi:
“Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. DIA hanya menciptakan manusia dengan kebijaksanaan berbeda.”


http://www.facebook.com/notes/blog-nya-mas-rully/belajar-dari-cicak/184452628241060

"Iman Adalah Fondasi Dan Amal-Amal Adalah Bangunannya."


Siapa saja yang ingin bangunannya tinggi dan kokoh, ia harus membuat fondasi yang kuat. Amal adalah bangunannya, sedangkan iman adalah fondasinya. Jika fondasi tersebut kokoh, maka bangunanpun akan tegak kuat menjulang, sebaliknya kalau fondasinya lemah atau rapuh, maka bangunan pun akan runtuh.
Orang yang mengenal  hakikat ini, ia akan lebih memperhatikan fondasi daripada bangunan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

Afaman assasa bunyaanahu 'alaa taqwaa mina allaahi waridhwaanin khayrun am man assasa bunyaanahu 'alaa syafaa jurufin haarin fainhaara bihi fii naari jahannama waallaahu laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina
Artinya:
" Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
(QS. At-Taubah [9]:109).
Oleh karena itu, dirikanlah bangunan amal di atas fondasi iman yang kokoh sehingga apabila di antara bangunan amal ada yang retak, atau rusak, maka akan dapat diperbaiki dengan mudah dan bahaya pun lebih kecil.
Fondasi bagi amal yang bernama iman ini terdiri atas dua hal:
1. Benarnya makrifat tentang Allah, tentang asma dan sifat-sifat-Nya.
2. Kepatuhan totalitas kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.


Inilah fondasi terkuat bagi bangunan amal si hamba, maka lindungi dan peliharalah ia. Kemudian sempurnakanlah bangunan dengan akhlak karimah dan berbuat ihsan kepada yang lain, dan pagarilah dengan dinding waspada sehingga tidak diterjang musuh dan cacatnya tidak kelihatan. Berilah pintunya dengan kunci berupa diam menahan diri dari hal-hal yang ditakuti akibatnya.

Wallahu'alam…


http://www.facebook.com/notes/memetik-hikmah-disetiap-kata-kejadian/iman-adalah-fondasi-dan-amal-amal-adalah-bangunannya/190338507659059

Mengenal Sang Kekasih


Ini adalah sebuah kisah tentang salah satu dari sifat sifat suci Sang Rasul Akhir Jaman, Muhammad SAW, yang ditulis Jalaluddin Rumi dalam buku Al-Matsnawi.

Pada suatu hari di mesjid, Rasul kedatangan serombongan kafir yang meminta untuk bertamu. Mereka berkata,
“Kami ini datang dari jarak yang jauh, kami ingin bertamu kepada Engkau, Ya Rasulullah.”
Lalu Rasul mengantarkan para tamu tersebut kepada para sahabatnya. Salah seorang kafir yang bertubuh besar seperti raksasa tertinggal di mesjid, karena tidak ada seorang sahabat pun yang mau menerimanya.
Dalam syair itu disebutkan, ia tertinggal di mesjid seperti tertinggalnya ampas di dalam gelas. Mungkin para sahabat takut menjamu dia, karena membayangkan harus menyediakan wadah yang sangat besar.
Lalu Rasul membawa dan menempatkannya di sebuah rumah. Dia diberi jamuan susu dengan mendatangkan tiga ekor kambing dan seluruh susu itu habis diminumnya. Dia juga menghabiskan makanan untuk delapan belas orang, sampai orang yang ditugaskan melayani dia jengkel. Akhirnya petugas itu menguncinya di dalam.
Tengah malam, orang kafir itu menderita sakit perut. Dia hendak membuka pintu tapi pintu itu terkunci. Ketika rasa sakit tidak tertahankan lagi, akhirnya orang itu mengeluarkan kotoran di rumah itu.
Setelah itu, ia merasa malu dan terhina. Seluruh perasaan bergolak dalam pikirannya. Dia menunggu sampai menjelang subuh dan berharap ada orang yang akan membukakan pintu.
Pada saat subuh dia mendengar pintu itu terbuka, segera saja dia lari keluar. Yang membuka pintu itu adalah Rasulullah saw. Rasul tahu apa yang terjadi kepada orang kafir itu. Ketika Rasul membuka pintu itu, Rasul sengaja bersembunyi agar orang kafir itu tidak merasa malu untuk meninggalkan tempat tersebut.
Ketika orang kafir itu sudah pergi jauh, dia teringat bahwa azimatnya tertinggal di rumah itu. Jalaluddin Rumi berkata, “Kerakusan mengalahkan rasa malunya. Keinginan untuk memperoleh barang yang berharga menghilangkan rasa malunya.” Akhirnya dia kembali ke rumah itu.
Sementara itu, seorang sahabat membawa tikar yang dikotori oleh orang kafir itu kepada Rasul,
“Ya Rasulullah, lihat apa yang dilakukan oleh orang kafir itu!”


Kemudian Rasul berkata, “Ambilkan wadah, biar aku bersihkan.”
Para sahabat meloncat dan berkata, “Ya Rasulullah, engkau adalah Sayyidul Anâm. Tanpa engkau tidak akan diciptakan seluruh alam semesta ini. Biarlah kami yang membersihkan kotoran ini. Tidak layak tangan yang mulia seperti tanganmu membersihkan kotoran ini.”
“Tidak,” kata Rasul, “ini adalah kehormatan bagiku.”
Para sahabat berkata, “Wahai Nabi yang namanya dijadikan sumpah kehormatan oleh Allah, kami ini diciptakan untuk berkhidmat kepadamu. Kalau engkau melakukan ini, maka apalah artinya kami ini.”
Begitu orang kafir itu datang ke tempat itu, dia melihat tangan Rasulullah saw yang mulia sedang membersihkan kotoran yang ditinggalkannya. Orang kafir tidak sanggup menahan emosinya. Ia memukul-mukul kepalanya sambil berkata, “Hai kepala yang tidak memiliki pengetahuan.” Selanjutnya, dia memukul-mukul dadanya sambil berkata, “Hai hati yang tidak pernah memperoleh berkas cahaya.”
(tulisan diambil dari berbagai sumber)
Catatan :

  • Betapa mulianya Rasululloh, alam semesta ini diciptakan hanya karena beliau, namun beliau tidak pernah sedikit pun bersikap arogan, sombong dan takabur. Beliau senantiasa rendah hati, tawadlu dan sangat menghormati tamu, meski tamu itu adalah seorang kafir yang tidak tahu diri.
  • Ya Allah curahkanlah sholawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, yang dengan berkah sholawat tersebut Engkau berkenan lembutkan hati kami dan perindah akhlak kami sebagaimana Engkau telah perindah rupa kami. Amiiin.