Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Jumat, 24 Desember 2010

A2DC: Ada Apa dengan Cewek! [Part #4]


Wah, ternyata sekuel artikel A2DC -Ada Apa dengan Cewek, terus bersambung hingga part keempat!

Ehm, sekedar flash back, di part pertama, kita mengupas tuntas tentang kriteria cewek cantik. Lalu part kedua, tentang dua hadits -hadits pertama, yang mengatakan bahwa cewek itu kurang akal dan agamanya, dan hadits kedua yang mengatakan bahwa mayoritas penduduk neraka adalah cewek -sebuah hal yang 'gawat'. Dan part ketiga, tentang dua hadits -hadits pertama tentang pelarangan cewek untuk melakukan perjalanan jauh, dan hadits kedua tentang cewek itu seperti setan -lagi-lagi, persepsi yang salah tersebar di sebagian sahabat kita!
Dan sekarang part keempat, memahami sebuah hadits riwayat Alhakim yang artinya, "Siapapun cewek yang memakai parfum, lantas keluar untuk melewati sebuah kaum agar mereka mencium wanginya, maka ia adalah pelacur". [HR. Atturmudzi dan Abu Daud]
Wah, wah, gawat! Sebagian sahabat menganggap bahwa ini adalah pemojokan wanita, dan menganggap Islam tak adil -hei, kenapa hanya karena parfum, seorang cewek dihukumi berzina? Sebagian lagi mengartikan bahwa Islam melarang cewek memakai parfum!
Ehm.. Lagi-lagi, kita harus mengupas tuntas hadits ini, dan memahaminya lebih jauh. Ikut, yuk! Bismillah.
###
Sahabat, Islam sama sekali tak pernah mendiskreditkan cewek, atau menganak-tirikan cewek didepan cowok. Yah, saya yakin, kamu dapat memahami ini dari tiga part A2DC yang sebelumnya.
Begitu pula tentang parfum, Islam tak melarang cewek memakai parfum, kok. Rasulullah pernah menceritakan seorang wanita yang memberi parfum musk pada cincinnya, lantas Rasul berkata yang artinya, "Itu (parfum musk) adalah parfum paling harum". Ya, Rasul sama sekali tak melarang kaum hawa memakai parfum!
Nah, dari sini, memahami hadits yang menjadi tema tulisan ini, harus dilihat dari sisi lain -bukan difahami begitu saja.
Memahami hadits tersebut, saya harus menyebutkan beberapa poin:


Pertama. Memang, memakai parfum bagi cewek, sama sekali tak dilarang oleh Rasulullah. Kecuali, jika ia mempunyai maksud buruk saat menggunakan parfum tersebut: jika ia memakainya agar ketika ia melewati sekumpulan cowok, mereka dapat mencium harum parfumnya; hal ini dilarang! Karena dengan begitu, ia berarti bermaksud untuk menyulut api syahwat mereka, dan membuat mereka memperhatikannya.
Kedua. Nah, jika memang dia memang berniat buruk seperti itu, berati ia telah menyebabkan orang lain 'berzina dengan matanya' -ya, memandang lawan jenis dengan syahwat, dikategorikan sebagai dosa mata, atau diistilahkan dengan 'zina mata'. Dengan begitu, karena niat si cewek berhasil, maka ia telah berdosa!
Ketiga. Atau, kamu bisa mengartikannya kalimat 'Maka ia adalah pelacur' di hadits diatas, dengan kalimat 'Seakan dia adalah seorang pelacur'. Setidaknya, ada dua alasan mendasar atas pengartian ini. Satu, karena seorang pelacur, biasanya menggunakan parfum untuk menarik perhatian pelanggan -dan Islam tak menginginkan cewek menjadi seperti itu! Alasan kedua, karena sungguh tak masuk akal, bukan, jika kita menghukumi seorang cewek berdosa besar hanya gara-gara parfum?
Keempat. Lagi-lagi, Islam ingin menjaga harga diri seorang muslimah. Islam melarangnya menyerupai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh pelacur. Hei, kamu adalah cewek mulia, mempunyai harga diri. Jangan jatuhkan harga dirimu sendiri, dengan niat burukmu! Kamu sendiri, tentu tak mau dianggap oleh khalayak sebagai pelacur, bukan?
###
Nah, sebagai tambahan, disana ada dua hal yang perlu kamu -sebagai seorang cewek, atau cowok untuk menambah wawasan- ketahui tentang minyak wangi.
Dalam salah satu hadits, Rasul berkata yang artinya, "Parfum bagi lelaki adalah yang warnanya tak nampak, dan baunya semerbak. Sedangkan parfum bagi wanita, adalah yang berwarna, tapi bau tak terlalu semerbak." [HR. Attirmidzi].
Ya, inilah anjuran Rasulullah untuk kita. Bagi yang cowok, tampakkan bahwa kamu -sebagai muslim- mencintai kebersihan, bukan orang yang jorok. Bagi yang cewek, sebagai muslimah, selalu tampakkan kesopananmu!
Tapi catat, hadits ini diterapkan saat kita berada diluar rumah. Berbeda hukum bagi istri saat berada didalam rumah bersama suaminya, ia boleh saja memakai parfum semaunya, agar sang suami bahagia.



Dan untuk sahabat cewek, ketika kamu ingin pergi ke masjid, jangan memakai parfum yang terlalu harum -Rasul melarang hal itu! [HR. Abu Daud dan Annasai]. Karena itu bisa menimbulkan sesuatu yang buruk didalam masjid.
Ya, karena masjid adalah tempat ibadah. Ayolah, jangan usik ketenangan saudaramu yang sedang asyik beribadah didalamnya.
###
Nah, sekarang kamu sudah faham, bahwa cewek sama sekali tak dilarang memakai parfum, kecuali jika berniat buruk. Bagi sahabat cewek, pakai saja parfummu, dengan niat mengikuti kesunnahan. Dan lebih baik, jika parfummu tak terlalu berbau semerbak. Juga, bagi sahabat yang cowok, jika memang mencium harum seorang cewek, jaga hati dan pandanganmu! Jangan sampai mata menuliskan segaris dosa dalam buku amalmu!
Insya Allah
###
Ehm, apakah nanti ada part kelima? Wallahu a'lam.
###
Ya Allah,
Tunjukkan kebenaran dimata kami dengan jelasnya,
Dan rizkikan kami untuk mengikutinya.
Dan tunjukkan kebatilan dimata kami dengan jelasnya,
Lantas rizkikan kami untuk menjauhinya.
Amin.


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/a2dc-ada-apa-dengan-cewek-part-4/10150105218151042

(Ordinary Mom) Ibu,Lagu Rindu yang Selalu Terulang


Setiap menjelang tidur,sejak dulu,yang selalu melintas dalam benakku,adalah wajah teduh Ibuku. Masih terngiang jelas di telingaku,bisikan lembut itu. Bisikan yang menuntun bibir kecilku menguntai beberapa kalimat doa menjelang kupejamkan mataku.
Gema yang telah lewat lebih dari 22 tahun,masih saja berdengung indah dalam ingatanku. Suara syahdu ibuku yang selalu mendampingiku tiap kali aku akan tidur, mulai pertama kali aku mampu mengingat dan dengan cedal menirukan suara dari gerak bibir beliau.
"Robbigh firli waliwalidayya,warhamhuma kamaa Robbayani shoghiro".. doa pertama yang diajarkan ibuku padaku



"Ayo Nak,tirukan Umi', Robbana atina fid dun-ya hasanah,wa fil akhiroti hasanah,wa qina adzaban nar", aku pun dengan ceria menirukan ibuku.
"Robbisy-rohli shodri,wa yassirli amri wahlul uqdatan min lisaani,yafqohu qouli" aku melanjutkan sendiri doa ketiga,dan ibuku memujiku,"MasyaAllah,pinter",seraya tersenyum.
"Rodhitu Billahi Robba,wa bil islami diina wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rosula".. Eh,eh Umi',ceritakan Nabi Muhammad dong? Pintaku, "udah,besok saja,udah malam,tidur dulu",kata Ibuku sembari mengelus-elus punggungku..
Dan selalu,sebelum akhir aku memejamkan mataku cepat-cepat,sambil memeluk erat gulingku,bersama Ibu,aku baca doa tidur, "Bismikallahumma inni ahya wa amut".. Lantas aku rasakan ada kecupan lembut di pipi dan keningku..
Kuingat indah selalu memory masa kecilku itu. Itu yang kini selalu kurindukan setiap malamku. Tak akan kulupa pula,entah dengan tatacara apa,pelan-pelan setiap hari,dengan penuh kesabaran,beliau mendikteku satu-satu ayat-ayat pendek dalam al-Qur'an,sambil aku sibuk dengan mobil-mobilanku. Hingga tanpa terasa,usia 4 tahun aku hafal Juz Amma.. Ibuku sendiri yang telaten mendidikku.
Aku pun tak lupa,tiap usai mandi sore,sambil mendandaniku,mengoleskan Nivea di tangan dan kakiku,ibuku mengajakku bermain berhitung, "one,two,three,four.." dan aku kecil,dengan cerewet meneruskan sampai "one hundred" yang selalu kuakhiri dengan berteriak dan tepuk tangan ibuku sembari mengulas senyum indahnya padaku.
Waktu pun berjalan,aku mulai masuk sekolah,dan aku tak banyak lagi bersama ibuku,kecuali beliau mengawasiku. Sesekali menemaniku belajar. Sebab beliaupun juga sibuk merawat adik-adikku, dan seabreg kegiatan rumah tangga yang lain.
Namun kasih sayangnya tetap mengalir untukku,beliau lah pelindung utamaku tiap aku dimarahi ayahku. Beliau pula yang menghibur dan meredakan tangisku tiap aku terisak usai dibentak ayahku gara-gara kenakalan masa kecilku.
Hingga sampai beberapa tahun kemudian,di suatu sore,saat aku usai lulus SMP. Ayahku memanggilku,menanyakan keinginanku hendak melanjutkan studi ke mana,dan kujawab sesuai keinginan dan rencana yang tersusun di benakku,sambil menyebut nama universitas terkenal di Yaman.
Tetapi ayahku memberiku ide dan tawaran lain,beliau bilang, "Bagaimana jika kamu belajar Nahwu (1) denganku,dan menghafal Qur'an pada Umi'mu,lalu nanti aku antar kamu ke Makkah?" entah seketika itu saja aku setuju dengan tawaran ayahku.


Sejak itu,aku kembali lagi pada didikan ibuku. Tiap hari,menjelang ashar,aku menghafal lembar demi lembar kitab suci al-Qur'an pada Ibuku,dan tiap usai hafalan,beliau pasti memberiku cerita-cerita kehidupan sembari menunggu adzan ashar berkumandang.
Tak terasa 3 tahun aku dalam didikan ibuku,sampai pada suatu maghrib di September 2001,kala dengan kepala tertunduk,aku mengulang kembali hafalan juz Amma-ku pada Ibuku. Setelah lewat 14 tahun ibuku tak lagi menyimakku usai aku hafal di usiaku yang ke empat.
Dan tepat beberapa menit menjelang isya',selesai sudah masa pendidikan ibuku padaku,ya,atas anugerah Allah,aku sukses menghafal al-Qur'an seluruhnya di tangan ibuku. Aku masih tak lupa sengguk tangisku saat itu di pangkuan ibuku,dan beliau memelukku dengan penuh kasih sayang,mencium kedua pipiku, "Umi',terima kasih Umi',Awy' bisa balas apa Umi'",itu kalimat yang terbata-bata keluar dari bibirku.
Ibu, segalanya bagiku
Ibu, lagu rindu yang tak akan pernah terputus.
Ibu, nada indah yang selalu terulang-ulang
Ibu, doa kehidupan yang terus tersambung
Ibu, sinar mentari pagi nan hangat
Ibu... Ibu... Ibu....
Sejenak menjelang beliau melepasku merantau berpetualang mencari ilmu ke Makkah,dengan senyum di antara tangis bangganya,beliau berbisik padaku, "jangan pulang sebelum tumbuh jenggot di dagumu". Isyarat nyata,bahwa aku harus rajin-rajin belajar,agar menjadi Laki-laki pejuang sebagaimana harapannya...
Umi',doamu selalu ananda harap,doamu di sepertiga malammu,saat engkau bermunajat pada Allah Rabbul Izzati wal Jalal
Semoga Allah menjagamu selalu,memanjangkan usiamu dalam nuansa keberkahan.. Umi'ku... Amin ya Rabbal Alamin :)


http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/ordinary-mom-ibulagu-rindu-yang-selalu-terulang/10150105259201042

8 Kecantikan Seorang Muslimah


Bismillaahirrahmanirrakhiim....

8 Kecantikan seorang muslimah

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan
mata kaum laki-laki.
Seorang perempuan yang menghias jasmaninya dengan iman dan taqwa akan memancarkan cahaya surga.
Dengan kepatuhannya menjalankan ibadah, ia akan memesona. Yang kuasa akan memberikannya kecantikan abadi, magnet alami. Tak perlu kosmetik, parfum atau penampilan berlebih, laki-laki akan tertarik padanya.
2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria


Secara umum laki-laki memang responsif terhadap perempuan yang bagus fisiknya. Tapi ketertarikan itu tak kekal, bisa membuat laki-laki bosan. Kehangatan kasih sayang dan cinta kasih yang tuluslah yang akan membuat sang pria nyaman berada di sisinya. Tak bisa melupakannya.
3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya.
Kelembutan bukan berarti lembek dan manja. Kelembutan seperti roti. Meskipun sedikit, tapi mengenyangkan. Dari toko roti manapun roti berasal, ia tetap lembut. Jadi perempuan dari suku manapun bisa tetap lembut, pada pasangannya, pada anak-anaknya. Asalkan ia mau berusaha.
4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan suaranya yang hangat.
Walau mata tak seindah bintang kejora, setiap perempuan bisa memiliki mata embun. Teduh. Sejuk. Tak gampang emosi. Menyikapi tingkah laku
sekitarnya secara bijak. Ia selau berprasangka baik. Perkatannya bukan pisau yang menikam. Perkataannya adalah bara yang menyalakan semangat di dada. Tak ada kata sia-sia yang terucap dari bibirnya.
5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya .
Senyum adalah sedekah. Murah senyum tanpa bermaksud menggoda apalagi berlebihan bisa membuat wajah indah. Meskipun berwajah rupawan, tapi jika malas tersenyum, hanya aura negatif yang akan ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya
6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya
Ukuran intelektual bukan pada gelar sarjananya atau di mana ia pernah menuntut. Banyak ilmu-ilmu yang bisa dipungut dari sekitar, yang membuat si perempuan mejadi cerdas. Kehidupan adalah sekolah yang tak pernah tamat sebelum ajal menjelang. Tak ada sekolah untuk menjadi istri yang baik. Tak ada universitas yang melahirkan ibu yang baik.
Ruang dan waktulah yang akan menempa perempuan mejadi istri dan ibu
yang baik.
7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia



Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Seberapa jauh pengetahuan seorang perempuan akan terlihat dari tingkah laku keluarganya. Ia selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Mengambil peran penting dalam rangka memperbaiki lingkungan. Lihatlah laki-laki sukses di jagat raya. Dibalik kesuksesannya, pasti ada perempuan tangguh yangi menemani. Menjadi pendukung nomor satu, tempat kembali saat sang pahlawan lelah berjuang.
8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.
Orang bisa miskin harta, tapi ia bisa kaya hati. Selalu memberi, tanpa mengharap imbalan yang berarti. Ia senang ketika orang lain senang. Ia sedih ketika orang lain sedih. Kemurahan hatinya membuat wajahnya bersinar. Membuat ia selalu dirindukan, meskipun sosoknya biasa-biasa saja. Mungkin masih banyak kecantikan lain yang tercecer. Tapi dengan kecantikan-kecantik an ini, perempuan manapun bisa tampil memikat. Mudah caranya, murah biayanya. Satu hal yang paling penting, kecantikan-kecantik an ini sifatnya abadi. Akan dikenang meskipun si perempuan telah tiada. Tidak seperti kecantikan lahiriah yang sementara. Setelah tua, ketika senja menyapa, ia tak menarik lagi.
Manakah yang akan Anda pilih ? Kecantikan sementara atau kecantikan abadi?


http://www.facebook.com/notes/melati/8-kecantikan-seorang-muslimah/170108086360908

Puisi Untukmu, Wanita Teragung Dalam Hidupku


Saat ku tertatih dalam kelemahan
Engkau ada dengan segala kesabaran
Mengajariku  makna selaksa  ketabahan
Menuntunku tuk melangkah tak tergoyahkan
Kau ingin ku selalu tegar dan  teguh berjalan
Hingga kumampu bangkit dari keterpurukan
Kau tuntun aku dengan setulus bimbingan
Senyum ceriahmu selalu tersuguhkan.

Saat jiwaku terkulai dalam luka
Merintih atas segala duka dan lara
Menjerit merasakan kepedihan raga
Meringis  pilu di atas pusara bencana
Engkau hadir menghibur membawa ceria


Yang kau taburkan dengan sukacita
Walaupun lisan ini tiada meminta.
Namun nalurimu teramat peka

Saat aku lelah mengeluh
Diri letih bersimbah  peluh
Mengejar mimpi yang menjauh
Engkau ada dengan mata yang teduh
Memotivasi  agar imanku tidak runtuh
Meski diri ini kerap nakal bersikap acuh
Namun kasih sayang di hatimu tetap utuh.

Saat orang lain membuat ibunya bangga
Memberi  limpahkan  materi  dan harta
Mengukir  prestasi  setinggi  angkasa
Namun kumasih lemah tak berdaya
Tak kuasa memberimu permata
Belum  bisa membuatmu bahagia
Senantiasa sujudku berlinang air mata
Mengemis agar Allah memberimu kebaikan.



Duhai Ibu,
Aku sungguh malu
Kepada Ilahi juga terhadapmu
Selama ini ku kerap durhaka padamu
Tak pernah menyisihkan waktu di sisimu
Untuk berbakti dan menghibur hari-harimu.

Maafkan aku bunda,
Aku khilaf melupakan sejarah
Enggan memetik ibrah dari kisah Al-Qomah

Duhai ibu,
Terimalah maaf anakmu
Izinkan mencium tanganmu
Ku ingin menemani hari-harimu
Engkau wanita teragung dalam hidupku
Namamu abadi dalam palung sanubariku
Tak akan pupus hingga nyawa tinggalkan ragaku

Ya Allah, lindungi ibu dari segala mara bahaya
Bebaskanlah dia dari gundah gulana di qalbu


Lindungi dia dengan kasih dan rahmat-Mu
Jauhkanlah  dia dari siksa  api neraka-Mu
Mudahkan dia dalam meniti shirot-Mu
Naungilah dia  dengan maghfirah-Mu
Ridhailah setiap jengkal langkahnya.


http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2010/05/30/6532/puisi-untukmu-wanita-teragung-dalam-hidupku/

Fitnah Petunjuk Istikharah


“Ustaz, saya dan tunang saya sudah hampir ke tarikh pernikahan kami. Tetapi tunang saya telah secara mendadak memutuskan pertunangan kami. Beliau bermimpi melihat seorang perempuan lain dan setelah beristikharah, beliau yakin perempuan itu adalah pilihan sebenarnya kerana ia muncul dengan petunjuk Allah. Bagaimana pandangan ustaz? Saya dan keluarga saya serta keluarga tunang saya sangat terkilan. Apakah benar saya sudah dikeluarkan daripada petunjuk Allah? Di mana silap saya, ustaz?”
Sepucuk emel dihantar kepada saya.
Beristighfar dan mengurut dada.
Percaya atau tidak, gejala ini semakin menjadi-jadi.
Malah di kalangan pelajar universiti, Istikharah semakin popular di dalam trend yang tersendiri. Ia diamalkan bagi ‘memaksa’ Allah membuat pilihan untuk mereka. Berbekalkan kejadian persekitaran atau mimpi yang disangka petunjuk, kadang-kadang ‘pilihan Allah’ itu adalah tunang orang, suami orang, malah ada juga isteri orang. Bertindak atas nama ‘petunjuk Allah’, tercetus permusuhan sesama anak Adam.
Apakah Allah, atau Syaitan yang memberikan ‘petunjuk’ penuh mudarat dan zalim itu?
MEMBELAKANGKAN ILMU
Penyakit besar yang melanda anak-anak muda terbabit ialah beribadah tanpa ilmu. Mereka melaksanakan Solat Istikharah berdasarkan saranan rakan-rakan yang juga melakukannya atas saranan kawan-kawan yang lain. Berapa ramaikah yang membuka kitab Fiqh atau belajar mengenai Solat itu dan ibadah yang lain melalui para ustaz dan alim ulama’?
Keadaan ini menjadi lebih bermasalah apabila ada pula agamawan yang mengesyorkan panduan-panduan yang tidak berdasarkan keterangan al-Quran dan al-Sunnah malah diajar pula kaifiyat yang sangat membuka ruang manipulasi Syaitan dalam mengaburi pertimbangan anak Adam.
Mengira huruf tertentu di dalam Surah, menyelak secara rawak mushaf dan mencari petunjuk di muka surat yang terbuka, juga paling banyak meniti di minda ialah menanti mimpi yang menjawab permintaan.



Ia mengingatkan saya kepada pandangan Sheikh Saleem bin Eid al-Hilali di dalam kitab Bahjah al-Nadzireen syarah kepada Riyadh al-Sholiheen:
“Ada sesetengah orang berpendapat, “sesudah mengerjakan solat serta Doa Istikharah, akan muncullah nanti petunjuk dalam mimpinya, maka dia akan memilih sebagaimana yang ditunjukkan oleh mimpinya itu” Justeru ada sesetengah orang berwudhu’ dan kemudian melakukan Solat serta Doa Istikharah dan terus tidur (dengan meletakkan harapan  petunjuk datang melalui mimpi), malah ada juga mereka yang sengaja memakai pakaian berwarna putih kerana mengharapkan mimpi yang baik. Semua ini hakikatnya adalah prasangka manusia yang tidak berasas”
Menjadi satu keperluan yang sangat penting untuk kita kembali kepada maksud asal Solat Istikharah.
Istikharah itu bermaksud meminta bantuan daripada Allah untuk seseorang itu memilih di antara beberapa kemungkinan yang diharuskan oleh Syara’. Ada pun pilihan yang berada antara manfaat dan mudarat, apatah lagi Halal dan Haram hatta Makruh, maka tidak harus untuk Istikharah dilakukan kerana tindakan yang sepatutnya diambil sangat jelas iaitu pada meninggal dan menghindarkan pilihan yang tidak baik itu.
Sabda Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam:

“Hadith yang dikeluarkan oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya dengan sanadnya daripada Jabir radhiyallaahu ‘anhuma, beliau berkata:
Daripada Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam Baginda bersabda:
Apabila sesiapa daripada kalangan kamu diberatkan oleh sesuatu maka hendaklah dia Rukuk dengan dua Rukuk (mengerjakan Solat dua rakaat) yang selain daripada Solat yang Fardhu (yakni mengerjakan Solat dua Rakaat dengan niat Istikharah).
Kemudian hendaklah dia berdoa: Ya Allah, aku beristikharahkan Engkau dengan ilmu-Mu dan aku juga memohon ketetapan dengan ketetapan yang bersandarkan kurniaan-Mu yang Maha Agung. Engkaulah yang Maha Menetapkan sedangkan aku tidak mampu untuk menetapkan. Engkau Maha Mengetahui dan aku pula tidak mengetahui. Engkaulah yang Maha Mengetahui akan perkara-perkara yang tersembunyi. Ya Allah, jika pada ilmu-Mu sesungguhnya urusan ini – harus disebut hajat tersebut atau cukup sekadar meniatkannya kerana Allah Maha Mengetahui akan hajat itu – adalah baik untukku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan datang), maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku. Kemudian berkatilah bagiku di dalam pilihan ini. Dan andaikata pada ilmu-Mu sesungguhnya hal ini adalah buruk bagiku pada agama, kehidupan dan kesudahan urusanku (kini dan akan datang), maka hindarkanlah ia daripadaku dan hindarkanlah aku daripadanya. Tetapkanlah bagiku kebaikan dan jadikanlah aku redha dengannya.
ANTARA ISTIKHARAH DAN ISTISYARAH
Istikharah itu mempunyai gandingan yang memberi tambahan kemudahan. Ia dikenali sebagai Istisyarah.
Istisyarah ini bermaksud meminta pendapat mereka yang boleh dipercayai untuk membantu seseorang itu membuat keputusan.
Sheikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah pernah berkata:
http://saifulislam.com/wp-content/uploads/2010/05/istikharah02.gif
“Tidak akan menyesal seorang yang beristikharah kepada al-Khaliq (Allah) serta bermesyuarat dengan para Makhluq, serta tetap pendirian dalam keputusannya”
Biar pun para Ulama berselisih pendapat tentang mana yang patut didahulukan antara Istisyarah dan Istikharah, ia tidak menjejaskan bahagian yang perlu dimainkan oleh seorang manusia dalam proses dirinya membuat keputusan.


 Sebelum sampai kepada pertimbangan memilih antara dua kebaikan, seseorang yang berhajat itu mestilah mempunyai asas dalam penilaiannya agar pilihan yang ada di depan matanya adalah antara dua perkara yang harus serta sama baik. Sudah tentu, hal ini juga memerlukan dirinya untuk mengambil bahagian dengan berusaha.
Setelah beristikharah, namun hati masih berada di dalam ketidak pastian, harus baginya untuk mengulangi Solat dan Doa Istikharah itu hingga beroleh ketetapan hati dalam membuat keputusan. Di samping itu juga, dia dianjurkan beristisyarah, yakni meminta pendapat individu-individu yang dipercayai integriti dan kemahirannya dalam urusan tersebut, agar keputusan boleh dibuat.
Titik pentingnya ialah, keputusan hendaklah kita yang berhajat itu melakukannya dan bukan menyerahkan kepada Allah untuk membuat keputusan itu dan menampakkanya melalui petanda-petanda yang dicari. Di sinilah ruang untuk fitnah berlaku apabila dalam suasana hidup kita yang dibelenggu oleh pelbagai maksiat serta Iman yang teruji, kita membuka suatu ruang kosong untuk dicelah oleh tipu helah Syaitan.
Tambahan pula dalam keadaan jiwa anak muda yang selalu lemah untuk menolak kehendak diri dan sering terdorong mengikut kemahuan. Jiwanya tidak bulat meminta kepada Allah, sebaliknya bermain helah untuk mengharapkan Allah menyokong kecenderungan dirinya sendiri.
Berhentilah mencari mimpi.
Berhentilah menunggu petanda.
Beristikharah memanggil kebersamaan Allah dalam keputusan yang kita buat. Kita yang membuat keputusan itu, dengan keyakinan hasil Istikharah, bahawa keputusan yang kita buat itu adalah dengan kebersamaan Allah. Jika di kemudian hari, pada pilihan yang dibuat itu, datang mehnah yang menguji kehidupan, kita tidak akan berfikiran negatif malah berusaha untuk mencari sisi-sisi positif pada apa yang berlaku kerana keputusan yang dibuat dahulu itu adalah dengan kelengkapan Syariatullah (Istikharah) serta Sunnatullah (Istisyarah – Ikhtiar Usaha).
Pertimbangkanlah… seandainya pilihan yang disangkakan petunjuk daripada Allah itu mencetuskan mudarat, permusuhan, meninggalkan yang afdhal dan mengambil yang mafdhul… berhati-hatilah.
Ia mungkin mainan Syaitan.

“Sebahagian (daripada umat manusia) diberi hidayah petunjuk oleh Allah (dengan diberi taufiq untuk beriman dan beramal soleh); dan sebahagian lagi (yang ingkar) berhaklah mereka ditimpa kesesatan (dengan pilihan mereka sendiri), kerana sesungguhnya mereka telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin (yang ditaati) selain Allah. serta mereka pula menyangka, bahawa mereka berada di dalam petunjuk hidayah” [Al-Aa'raaf 7: 30]
KESIMPULAN
  1. Hindarkan diri daripada kesukaran menetapkan pendirian dalam kehidupan. Was-was adalah permainan Syaitan dan penyakit jiwa yang mengundang bahaya.
  2. Dalam hal-hal yang tiada keraguan dalam membuat pilihan keputusan, ia tidak berhajatkan kepada Istikharah.
  3. Ketika berdepan dengan pilihan yang sukar ditentukan, gunakan pertimbangan diri untuk melihat buruk baiknya.
  4. Jika jelas mudarat atau sudah ditentukan Haram hukumnya, maka tidak harus beristikharah.
  5. Pada perkara yang sukar untuk dibuat keputusan, beristikharahlah kepada Allah mengikut kaifiyat Solat Istikharah dan Doa yang Ma’thur daripada Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam.
  6. Istikharah boleh diulang beberapa kali hingga beroleh ketetapan hati untuk membuat keputusan.
  7. Di samping itu juga beristisyarahlah dengan meminta pandangan pihak yang boleh dipercayai kewibawaannya.
  8. Petunjuk daripada Allah ialah kemampuan hati untuk tetap pendirian membuat keputusan.
  9. Hindarilah perbuatan menunggu mimpi atau petanda berbentuk isyarat kerana ia sangat terbuka kepada belitan Iblis.
  10. Jauhi Bid’ah dan Syirik.
  11. Setelah keputusan dibuat, bertawakkallah kepada Allah dan tenang dengan keputusan itu.
  12. Seandainya timbul cabaran atau muncul sisi kekurangan pada pilihan yang dipilih, tiada fikiran negatif muncul kerana yakin adanya hikmah dan kebaikan daripada Allah.
  13. Istikharah terbuka kepada apa sahaja urusan kehidupan yang berada di dalam ruang lingkup keharusan Syara’ dan salah jika hanya dilihat sebagai mekanisme jodoh.
  14. Rujuklah kitab-kitab Fiqh serta panduan Sunnah dalam urusan Istikharah serta ibadah-ibadah yang lain.
  1. Melakukan ibadah dengan hanya berpandukan hearsay adalah pintu kebinasaan dalam beragama.