Praktek Puasa 'Asyura oleh Puasa Sunnah Senin-Kamis Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu praktek apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai praktek puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat. Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya, أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam. "[1] An Nawawi-rahimahullah-menjelaskan," Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram. "[2] Lalu mengapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya'ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh An Nawawi. Pertama: Mungkin saja Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baru mengetahui preferensi banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau. Kedua: Bisa jadi pula ia memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram. [3] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, "Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab-pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah). "[4] Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu ') ada dua macam: 1. Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram. 2. Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah muthlaq. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal. [5] Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu 'Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram. [6] Bulan haram adalah bulan Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab. Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa 'Asyura Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari 'Asyura' yaitu pada tanggal 10 Muharram [7]. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapus dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata, وسئل عن صوم يوم عرفة فقال «يكفر السنة الماضية والباقية». قال وسئل عن صوم يوم عاشوراء فقال «يكفر السنة الماضية" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Ia juga ditanya mengenai keistimewaan puasa 'Asyura? Beliau menjawab, "Puasa 'Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." [8] An Nawawi-rahimahullah-mengatakan, "Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa' Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan,-pen) adalah sunnah dan bukan wajib. "[9] Sejarah Pelaksanaan Puasa 'Asyura [10] Tahapan pertama: Nabi shallallahu' alaihi wa sallam melaksanakan puasa 'Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan lainnya untuk melakukannya. Dari' Aisyah-radhiyallahu 'anha-, beliau berkata , كان يوم عاشوراء تصومه قريش فى الجاهلية, وكان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يصومه, فلما قدم المدينة صامه, وأمر بصيامه, فلما فرض رمضان ترك يوم عاشوراء, فمن شاء صامه, ومن شاء تركه "Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa 'Asyura. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa 'Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa). "[11] Tahapan kedua: Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Ahlul Kitab melakukan puasa' Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa saat itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa 'Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata, أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قدم المدينة فوجد اليهود صياما يوم عاشوراء فقال لهم رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «ما هذا اليوم الذى تصومونه». فقالوا هذا يوم عظيم أنجى الله فيه موسى وقومه وغرق فرعون وقومه فصامه موسى شكرا فنحن نصومه. فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «فنحن أحق وأولى بموسى منكم». فصامه رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وأمر بصيامه. "Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menemukan orang-orang Yahudi melakukan puasa' Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?" Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, "Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir'aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini ". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas berkata, "Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa dari kalian.". Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. "[12] Apakah ini berarti Nabi shallallahu' alaihi wa sallam meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi? An Nawawi-rahimahullah-menjelaskan," Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melakukan puasa 'Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa' Asyura, lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun ia melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a'lam. "[13] Para ulama berselisih pendapat apakah puasa 'Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu'akkad? Di sini ada dua pendapat: Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada waktu tahapan kedua, puasa 'Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom. Pendapat kedua: Pada waktu tahapan kedua ini, puasa 'Asyura dihukumi sunnah mu'akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi'i dan kebanyakan dari ulama Hambali. [14] Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa 'Asyura tidak diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi-rahimahullah-. [15] Tahapan ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk berpuasa' Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh 'Aisyah radhiyallahu' anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu 'Umar berikut ini. Ibnu Umar-radhiyallahu 'anhuma-mengatakan, أن أهل الجاهلية كانوا يصومون يوم عاشوراء وأن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - صامه والمسلمون قبل أن يفترض رمضان فلما افترض رمضان قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «إن عاشوراء يوم من أيام الله فمن شاء صامه ومن شاء تركه. "Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari 'Asyura. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan. "[16] Ibnu Rajab-rahimahullah-mengatakan," Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa' Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, ia meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa 'Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini ada perselisihan di antara para ulama. Begitu pula jika hukum puasa 'Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa'ad mengatakan, "Kami masih tetap melakukannya." [17] Intinya, puasa 'Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan). Tahapan keempat: Nabi shallallahu' alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak sendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu' alaihi wa sallam melakukan puasa hari 'Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى. "Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani." Lantas ia mengatakan, فإذا كان العام المقبل - إن شاء الله - صمنا اليوم التاسع "Bila tiba tahun depan-insya Allah (jika Allah menghendaki) - kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan. "Ibnu Abbas mengatakan, فلم يأت العام المقبل حتى توفى رسول الله - صلى الله عليه وسلم -." Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sudah keburu meninggal. "[18] Menambahkan Puasa 9 Muharram Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahwa di akhir umurnya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertekad Tambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun ia sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu. Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi rahimahullah. Imam Asy Syafi'i dan ulama Syafi'iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan. Apa hikmah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Tambahkan puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya. Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat sinyal tentang hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari 'Asyura' (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambahkan hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a'lam. [19] Ibnu Rojab mengatakan, "Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. "[20] Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa 'Asyura ada dua tingkatan yaitu: 1. Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus. 2. Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja. [21] Puasa 9, 10, dan 11 Muharram Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura [22]. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, صوموا يوم عاشوراء وخالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما "Puasalah pada hari' Asyura '(10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya. "Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu 'Adi, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho'if (lemah). Di dalam sanad tersebut ada Ibnu Abi Laila-yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin 'Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Ia berkata, "Daud kadang yukhti '(keliru)." Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Namun, ada hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma'anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari 'Atho' dari Ibnu Abbas. Ia radhiyallahu 'anhuma berkata, خالفوا اليهود وصوموا التاسع والعاشر "Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram. "Sanad hadits ini adalah shohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai kata sahabat). [23] Catatan: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka dapat ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram. Imam Ahmad-rahimahullah-mengatakan, "Jika ragu mengenai penentuan awal Muharram, maka bisa berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian. "[24] Sebagai Motivasi Semoga kita terdorong untuk melakukan puasa Asyura. Cukup ayat ini sebagai renungan. Allah Ta'ala berfirman, كلوا واشربوا هنيئا بما أسلفتم في الأيام الخالية "(Kepada mereka dikatakan):" Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu "." (QS. Al Haqqah: 24 ) Mujahid dan selainnya mengatakan, "Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, dan akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati). "[25] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa . Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/ http://www.facebook.com/notes/melati/puasa- asyura/166662653372118 dan akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati). "[25] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa. Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/ http://www.facebook.com/notes/melati/puasa- asyura/166662653372118 dan akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati). "[25] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa. Insya Allah tanggal 10 Muharram jatuh pada tanggal 27 Desember 2009 sedangkan tanggal 9 Muharram jatuh pada tanggal 26 Desember 2009. Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel http://rumaysho.com/
http://www.facebook.com/notes/melati/puasa- asyura/166662653372118
Mengenai Saya
Laman
Selasa, 07 Desember 2010
== Insya Alloh ==
Dikisahkan oleh Ibnu Hisyam yang meriwayatkan bahwa ketika pertentangan pemikiran antara Rasulullah saw. dan kaum Quraisy di Mekah semakin memanas, kaum Quraisy meminta bantuan kepada orang Yahudi di Madinah. Kaum Quraisy mengutus Nadhir bin Haritsah dan Uqbah bin Abi Mu'aith ke para rabbi Yahudi untuk bertanya pada mereka tentang kenabian Rasulullah saw Sampai keduanya di sana kemudian berkata, "Kalian adalah Ahli Kitab (Taurat), kami datang kepadamu agar kamu mengabarkan kami tentang sahabat kami ini! " Para rabbi itu menjawab, "Tanyakan padanya tiga hal yang kami perintahkan, jika ia mengetahui dua satu dan tidak mengetahui yang ketiga, maka ia benar seorang Nabi yang diutus, tetapi jika ia tidak dapat menjawabnya, berarti ia mengada-ada, kemudian terserah kalian . "" Pertama, tanyakan pada para pemuda yang pergi di masa lalu, apa yang mereka lakukan, sesungguhnya mereka mengalami peristiwa yang menakjubkan. " "" Kedua, tanyakan padanya pada lelaki yang sering berkelana, ia telah mengunjungi seluruh penjuru bumi. "" Ketiga, tanyakan padanya tentang apa itu roh. "Keduanya lalu kembali ke kaum Quraisy dan berkata," Wahai penduduk Quraisy, kami datang kepadamu dengan membawa pembeda antara kamu dan Muhammad. Para rabbi Yahudi itu menyuruh kita agar menanyakannya pada hal-hal yang mereka perintahkan. "Mereka lalu datang kepada Rasulullah saw. Dan berkata," Hai Muhammad, beri tahukan kami tentang pemuda yang pergi pada waktu lalu, mereka memiliki kisah yang menakjubkan, tentang laki -laki yang berkeliling ke seluruh penjuru dunia, dan beritahukan kami pada roh. "Maka Rasulullah saw. menjawab," Akan kujawab apa yang kamu tanyakan besok. "Esok pun tiba, tetapi Jibril tidak datang memberi jawaban, lalu Rasulullah saw. diam selama lima belas hari, tetapi wahyu Allah tidak kunjung datang. Penduduk Mekah terguncang, terujilah keimanan mereka, dan mereka berkata, "Muhammad telah berjanji kepada kita satu hari, dan hari ini telah lima belas hari, tetapi Muhammad belum juga memberi tahu kita tentang hal itu . "Sedihlah hati Rasulullah saw. karena wahyu Allah belum juga sampai padanya. Ia juga merasa gelisah atas apa yang dikatakan oleh penduduk Mekah. Hingga akhirnya saat yang dinantikan pun turun wahyu berupa ayat yang menegur Rasulullah ketika alpa (lupa) mengucapkan insya Allah." dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, "Aku pasti melakukan itu besok pagi," kecuali dengan mengatakan Insya Allah (jika Allah menghendaki) "Dan Ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah," Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat pada kebenaran dari pada ini. "(al-Kahfi (18) ayat 23-24)." Insya Allah "yang berarti" jika Allah menghendaki atau mengizinkan "bukanlah hanya sekedar ucapan atau bahkan digunakan menghindari janji, tetapi sebagai usaha sekuat energi dan hati untuk memenuhinya. Kata "insya Allah" menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi. Meskipun Rasulullah pernah lupa, akan tetapi hal ini tidak mengurangi kenabian dan keterjagaan beliau dari kesalahan. Lupa yang terjadi kepada Rasulullah adalah atas kehendak Allah, dan satu hal yang Rasulullah tidak akan pernah lupa adalah ayat-ayat al-Qur'an yang diwahyukan kepada beliau, ini janji Allah. Setiap lupanya Rasulullah, membawa hikmah dan pelajaran untuk diri beliau dan Ummatnya, Dikisahkan pula suatu waktu ketika beliau melaksanakan sholat, diperhatikan oleh sahabatnya, pada roka'aat kedua ia langsung berdiri, dan melupakan tasyahud awwal. Lalu sahabatnya itu bertanya soal itu kepada beliau. Lalu beliau duduk menghadap kiblat, dan sujud dua kali, lalu salam. Lalu ia menghadap ke sahabatnya itu dan bersabda, "Jika ada perubahan dalam sholat, pasti kalian akan aku beritahu, tetapi aku ini hanyalah seorang manusia yang dapat lupa sebagaimana kalian, jika aku lupa, ingatlah aku. Jika salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam sholatnya maka hendaklah ia mencari yang benar, dan menyempurnakan sholatnya itu kemudian lakukanlah sujud sebanyak dua kali. "(HR. Imam Muslim) Lupanya Rasulullah SAW menjadi sebab diturunkannya syari'at:" Sujud Sahwi ". Setelah dilanjutkan turunnya beberapa wahyu Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW menjawab dua pertanyaan pertama beliau yaitu kisah ashabul Kahfi dan Dzulqarnain. Dan untuk pertanyaan yang ketiga, pada apa itu ruh? Ia menjawab dengan wahyu Allah lainnya, tapi kali ini tidak mendetail. Ia hanya membacakan ayat, "Dan mereka bertanya tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit saja" (al-Isro '(17): 85) Karena pada hakikatnya tidak ada satu manusia pun yang mengetahui apa itu ruh, juga bentuknya. Dan pengetahuan akan hal tersebut ada pada sisi Allah. Hanya Allah yang mengetahui. Dengan demikian terbuktilah bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah SWT. Keraguan yang awalnya sempat merebak di kalangan penduduk Mekkah, karena Allah menahan wahyu-Nya selama 15 hari, kini pun berubah menjadi keyakinan yang mendalam akan kenabian beliau. Meskipun begitu tetap saja masih ada beberapa orang-orang kafir Quraisy yang ingkar .. "Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu ungkapan tentang Islam, yang saya tidak memintanya kepada siapapun kecuali kepadamu." Bersabda, "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah, 'kemudian Istiqamahlah. "(HR Muslim)
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-insya-alloh-/10150096189751042
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-insya-alloh-/10150096189751042
Antara "Setan" dan "Syaitan"
Setan, setiap kali membicarakan setan pastilah yang muncul pertama kali dalam benak kita adalah pocongan, kuntilanak, gondoruwo, tuyul, dan lain sebainya yang identik dengan mahluk halus yang menghantui kita. Hal itu sebenarnya tidak salah, karena di dalam Kamus besar bahasa indonesiapun “setan” sendiri dimaknakan dengan roh jahat (yg selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat); sehingga dengan berpegangan pada makna kata setan dalam kamus Bahasa Indonesia, banyak dari kita yang mengartikan setan sebagai kata benda ( Noun ).
Lalau bagaiman bila di lihat dari akar katanya sendiri?
Kata “setan” atau “Syaithaan” ( dalam bahasa Arab ) di sadur dari bahasa Ibrani yang mempunyai arti lawan atau musuh. Dan kata setan ini telah di kenal oleh bangsa Yahudi sebelum adanya Agama Nasrani dan Islam, hal ini menurut ‘Abbas Mahmud al – ‘Aqqaad dalam bukunya yang berjudul “Iblis”.
Meskipun masih menurut beliau, bahwa pendapat ini tidak dapat di buktikan karena orang Yahudi mengenal kata “setan” dan menggunakan kata “setan” untuk tingkah laku manusia yang “jahat” setelah mereka berhijrah ke Babel ( Babylonia )
Di lain pihak, para pakar Mesir yang kenamaan menyebutkan bahwa kata “setan” / “syaithan” berasal dari bahasa Arab sangat tua yang asli, hal ini di buktikan dengan adanya sekian kata bahasa Arab asli yang dapat di bentuk dengan kata “Syaithan”, misalnya :
“syathatha – syaatha – syawatha – syathana “
yang kesemuanya mengandung makna
“Jauh – Sesat – Berkobar dan Terbakar atau Extrem”
Seorang pakar bahasa “al Jauhari” ( w.1005 ) menjelaskan dari segi makna bahwa, setiap sesuatu yang membangkang dari perintah Allah, baik jin ataupun manusia, di namakana “Syaithan.”
Sedangkan dalam bukunya “Yang Tersembunyi”, H 128, DR Quraish shihab menggatakan bahwa dari sekian banyak ayat al Qur’an dan Hadis, ternyata kata “setan”tidak terbatas pada kata benda tapi pada kata sifat / perilaku yang buruk / tidak menyenangkan / tercela / dan juga lambang kejahatan.
Dalam kamus karya Ahmad Ibn Muhammad A’li al Fayyuumi (w.1368 ) yaitu Al-Misbah al-Munir, dijelaskan bahwa kata “setan” bisa jadi di ambil dari akar kata “ Syathana” yang menyerupai arti “jauh”.
Sementara itu di dalam al-Quran sendiri kata “Syaitan”
(الشيطان, شيطن) tercatat sejumlah 61 ayat dalam 32 surat, yaitu :
1. al-Baqoroh : 36, 168, 208, 268, dan 275;
2. Ali ‘Imron : 36, 155, dan 175;
3. an-Nisa’ : 36, 60, 76, 83, 117, 119, dan 120;
4. al-Ma’idah : 90 dan 91;
5. al-An ‘am : 43, 68, dan 142;
6. al-A’raf : 20, 22, 27, 175, 200, dan 201;
7. al-Anfal : 11 dan 48;
8. Yusuf : 5, 42, dan 100;
9. Ibrohim : 22;
10. al-Hijr : 17;
11. an-Nahl : 63 dan 98;
12. al-Isro’ : 27 dan 53;
13. al-Kahfi : 63;
14. Maryam : 44 dan 45;
15. Thoha : 120;
16. al-Hajj : 3, 52, dan 53;
17. an-Nur : 21;
18. al-Furqon : 29;
19. an-Naml : 24;
20. al-Qoshosh : 15;
21. al-‘Ankabut : 38;
22. Luqman : 21;
23. Fathir : 6;
24. Yasin : 60;
25. ash-Shaffat : 7;
26. shad : 41;
27. Fushshilat : 36;
28. az-Zukhruf : 36 dan 62;
29. Muhammad : 25;
30. al-Mujadilah : 19;
31. al-Hasyr : 16; serta
32. at-Takwir : 25.
Sehingga kata “setan” atau “syaitan” (شيطن) di ambil dari kata “Syathana” (شطن) yang mashdarnya “syathnan” (شطنا) yang artinya menentang, menyalahi atau ingkar. Dalam Tafsir al-Mishbah dan Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa pengertian “syaitan” menurut bahasa adalah suatu sifat yang ada dalam diri mahluk, yaitu Jin dan Manusia yang selalu membawa pada kesesatan, menentang perintah kebaikan, menyalahai aturan-aturan Allah dan ingkar kepada-Nya.
Dari beberapa makna kata dari “setan” di atas maka apabila merujuk pada kamus bahasa Indonesia maka kata “setan” akan di maknai dengan roh jahat yang menganggu manusia dalam berbagai macam bentuk yang sangat menyeramkan seperti kuntilanak, pocong, gondoruwo, suster ngesot, wewe gombel, Sundel bolong, Tuyul, Kemangmang, Orang bunian, Siluman, Leyak, Rangda, Kuyang, Palasik, Jenglot dan Lain-lain.
Akan tetapi apabila kata “setan” itu bila kita pahami seperti pada kamus bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Arab, maka akan tidak sesuai artinya dengan bahasa Arab, bila yang dimaksud adalah serapan dari kata Arab “syathana” (شطن) seperti yang telah di jelaskan di atas yang berarti menentang, menyalahi atupun ingkar. Dan merupakan sebagai kata sifat yang bisa di sematkan kepada setiap mahluk baik manusia, jin ataupun hewan yang berkelakuan buruk dan bukan merupakan kata benda seperti penggunaan kata “setan” dalam kamus bahasa Indonesia.
Sebagai orang Indonesia dan yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia tentu kita tidak dapat mengingkari arti bahasa dalam Kamus besar Bahasa Indonesia yang telah di susun oleh tokoh-tokoh besar kita namun juga sebagai seorang muslim kita tentu tidak bisa mengindahkan maksud dan arti kata yang terdapat di dalam al-Quran. Dan mungkin yang sering terjadi adalah kesalah pahaman kita dalam memaknai penggunaan kata antara “setan” dan “syaitan”.
Sering kali kita bermaksud dengan arti kata “syaitan” akan tetapi orang yang menangkap kata itu menerjemahkannya “setan” dan kemudian merujuk pada kamus besar Bahasa Indonesia, sehingga maksud antara yang menyampaikan dan yang memahami kata berbeda, ataupun mungkin sebaliknya.
Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa kata “setan” dan “syaitan” itu adalah dua kata yang berbeda dan memliki arti yang berbeda pula, kata “setan” berati roh jahat (yg selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat); sehingga dengan berpegangan pada makna kata setan dalam kamus Bahasa Indonesia, banyak dari kita yang mengartikan setan sebagai kata benda ( Noun ).
Sedangkan “syaitan” (شيطن) menurut beberapa ahli bahasa merupakan diambil dari kata “Syathana” (شطن) yang mashdarnya “syathnan” (شطنا) yang artinya menentang, menyalahi atau ingkar. Dan merupakan kata sifat yang dapat di sematkan pada mahluk, baik itu Jin, Manuisa ataupun Binatang.
Sehingga tidak bisa digunakan kata “setan” untuk maksud “syaitan” ataupun sebaliknya, walaupun kata “setan” itu sendiri merupakan serapan dari kata “syaitan” namun tetap keduanya memiliki arti yang berbeda.
Maka dari itu ada baiknya kita menggunakan kata "setan" dan "Syaitan", secara berbeda pula untuk memudahkan dalam mencerna maknanya.
*sumber :
1.Kamus besar bahasa Indonesia
2.http://m-irsyad.blogspot.com/2010/04/s-e-t-n.html
3.http://bardawi212.wordpress.com/2008/05/05/kata-jin-syaitan-dan-iblis-dalam-al-qur’an/
http://www.facebook.com/notes/melati/antara-setan-dan-syaitan/166684093369974
http://www.facebook.com/notes/melati/antara-setan-dan-syaitan/166684093369974
Belajar Dari Kesalahan Yang Kita Perbuat
Tidak ada orang yang suka berbuat kesalahan. Namun jika anda ingin melewati hidup dengan baik, maka tidak ada jaminan bagi anda untuk tidak melakukan kesalahan. Jika anda dapat belajar dari kesalahan dengan tepat, maka anda akan mendapatkan bahan bakar baru untuk maju kedepan.
Anda harus menyadari bahwa kesalahan adalah bagian yang penting dalam pengembangan diri. Jangan termenung terus dengan rasa bersalah dan penyesalan, pelajari bagaimana anda dapat belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut.
1. Minta Maaf dengan Tulus dan Sungguh-sungguh
Jika anda telah melakukan kesalahan yang menyakiti/membahayakan orang lain, sangat penting bagi anda untuk segera meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Pastikan bahwa itu adalah betul-betul suatu kecelakaan yang tidak akan terulang. Permintaan maaf yang baik akan mengembalikan tingkat kepercayaan orang tersebut pada anda.
Sebaliknya, jika anda tidak meminta maaf, maka kemungkinan besar orang tersebut akan menyerang anda. Akan sangat efektif jika anda meminta maaf secara pribadi dibandingkan lewat surat atau email. Namun, begitu anda telah mendapatkan maaf, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama lagi, karena itu adalah suatu kekonyolan dan sangat menjengkelkan. Segera perbaiki tindakan-tindakan anda.
2. Jangan Menjadi Seorang Yang ’Perfectionist’
Jika anda menjalani hidup dengan ketakutan untuk melakukan kesalahan, maka anda akan menghabiskan hidup anda dengan tidak melakukan apa-apa. Bukan masalah jika anda melakukan kesalahan, karena sekali lagi itu adalah bagian penting dari hidup agar anda terus maju. Semakin banyak tanggung jawab yang anda pikul, kemungkinan anda melakukan kesalahan pun semakin sering.
Jika anda selalu ingin merasa semuanya sempurna, selalu ingin menghindari kesalahan-kesalahan sekecil apapun, hal itu lama kelamaan akan membentengi diri anda secara psikologi dan anda menjadi tidak berani dalam mengambil resiko.
3. Jangan Membuang Waktu Dengan Mencari Pembenaran
Kita manusia mempunyai sifat alami untuk mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Ketika kita melakukan kesalahan, rata-rata reaksi pertama kita adalah menyalahkan orang lain.
”Ya, saya telah menabrak mobil di depan saya, tapi itu adalah karena teman saya yang selalu mengajak saya bergosip sehingga konsentrasi saya terpecah…”
”Saya tidak dapat menyelesaikan tugas sesuai jadwal karena komputer saya mengalami gangguan …”
Perlu anda ketahui, ketika kesalahan telah dibuat, atasan anda sama sekali tidak tertarik dengan pembenaran-pembenaran yang anda buat. Kita mencari pembenaran karena ego kita yang tinggi. Kadang-kadang, hal terbaik yang perlu diucapkan, sangat sederhana : ”Ya, saya telah melakukan kesalahan.”
4. Pahami Mengapa Kesalahan Tersebut Dapat Terjadi
Kesalahan-kesalahan dapat terjadi karena berbagai macam kesalahan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama dua kali, anda harus memahami akar permasalahannya.
Sebagai contoh, anda seringkali berbicara dengan nada cepat dan marah; sering anda mengeluarkan kata-kata yang kurang baik. Anda harus mencari tahu apa yang menyebabkan anda marah pada saat itu. Mungkin anda merasa sangat lelah atau kepala anda sedang sakit. Jika anda melakukan kesalahan karena anda begitu lelahnya, cobalah untuk tidak tidur sampai larut malam. Jika anda merasa stress, carilah jalan untuk membuat anda relax.
5. Hindari Mengulang Kesalahan Yang Sama
Anda harus menghindari perasaan bersalah yang terus menerus karena telah berbuat kesalahan, namun pada saat yang sama, anda harus mencari jalan pemecahan dan melakukan tindakan perbaikan. Jika anda mengulang kesalahan yang sama, hal tersebut menunjukkan bahwa anda tidak mengalami suatu kemajuan dan menyebabkan kerugian/penderitaan yang berulang.
Seringkali kesalahan disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Untuk mencegah kesalahan yang sama berulang, anda harus menghapuskan kebiasaan buruk tersebut. Hal ini memang tidak mudah dan membutuhkan usaha ekstra untuk merubah kebiasaan. Bagaimanapun, semakin cepat anda bisa merubah kebiasaan buruk tersebut, semakin cepat anda menghindari melakukan kesalahan yang sama.
6. Kesalahan Adalah Kesempatan Untuk Belajar
Dari kesalahan-kesalahan yang telah anda buat, tentu saja anda akan semakin berkembang dan bijak. Kesalahan-kesalahan, dalam hubungannya dengan keberanian mengambil resiko, merupakan sesuatu yang krusial untuk kesuksesan anda. Hal yang terpenting adalah melihat kesalahan sebagai batu loncatan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi dan kehidupan yang lebih baik.
semoga bermanfaat,,,^_^
Dan smoga kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi...
http://www.facebook.com/notes/melati/belajar-dari-kesalahan-yang-kita-perbuat/166034446768272
http://www.facebook.com/notes/melati/belajar-dari-kesalahan-yang-kita-perbuat/166034446768272
Teguran Rasulullah Pada Abubakar r.a
Dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tabarani dari Abu Hurairah ra bahwa seorang lelaki telah mencerca Abu Bakar ra Ketika itu, Rasulullah SAW juga sedang duduk di sana. Beliau tersenyum dan keheranan melihat kondisi lelaki tersebut. Ketika pria itu mulai bersikap kurang ajar terhadap dirinya, Abu Bakar pun membalas beberapa kata pria tersebut. Dengan yang demikian, Rasulullah SAW menjadi marah lalu bangun dan dibuntuti oleh Abu Bakar. Abu Bakar menemui dan berkata kepada Rasulullah SAW: "Lelaki itu bersikap kurang ajar terhadap diriku, oleh karena itu aku membalasnya. Ketika aku mulai membalasnya, kamu meninggalkan kami di tempat itu ". Rasulullah SAW bersabda:" Bila kamu tidak membalas kata-katanya, terdapat malaikat yang membalasnya untuk kamu. Namun saat kami mulai membalas kata-kata kasarnya itu syetan mula mengambil tempat dan duduk di antara kamu. Yang demikian itu aku tidak mau duduk bersama-sama dengan setan ". Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi: "Ya Abu Bakar! Ada tiga hal yang benar yaitu: 1) Bila seorang hamba itu dizalimi dengan satu kezaliman, maka dia meninggalkan tempat itu semata-mata karena Allah, Allah akan menguatkan dan membantunya. 2) Apabila seseorang itu membuka pintu kedermawanannya dan memberi hadiah, maka Allah akan menambahkan kekayaannya. 3) Apabila seseorang itu mulai meminta-minta untuk menambahkan kekayaannya, maka Allah akan mengurangi kekayaannya. Oleh: Edi S. Kurniawan, Muhammad Haryadi
http://www.facebook.com/notes/melati/teguran-rasulullah-pada-abubakar-ra/166614700043580
http://www.facebook.com/notes/melati/teguran-rasulullah-pada-abubakar-ra/166614700043580
Berdakwah Dari Hati (Oleh: Ustadz Addariny)
by Al Fawaid
الحمد لله وكفى، والصلاة والسلام على عبد الله ورسوله المصطفى، وعلى آله وصحبه ومن اكتفى، أما بعد
Setiap muslim yang sejati dan peduli dengan din-nya tentu akan mendambakan tersebarnya tuntunan-tuntunan agama yang dianutnya pada masyarakat sekitarnya, ia menginginkan orang lain juga mengetahui apa yang dipelajarinya, karena ia tahu bahwa “Belum sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai (kebaikan) untuk dirinya sendiri.” [1]
Tapi dengan jalan apa ia bisa mewujudkan keinginan itu?
Mungkin ada yang menjawab: Ya… gampang saja! dengan ceramah keliling, atau khutbah di masjid-masjid, atau jadi da’i terbang, atau jadi dosen di kampus-kampus terkemuka, kita bisa menyampaikan semuanya kepada masyarakat!
Memang kelihatannya sederhana, tapi masalahnya apakah masyarakat akan dengan mudah tertarik dengan apa yang kita dakwahkan? Apakah mereka sudi menghadiri dan mendengarkan ceramah kita? Bisa jadi sudah kering tenggorokan kita, tapi belum juga kita menuai hasil yang diinginkan!
Sesungguhnya yang lebih penting adalah bagaimana kita mengambil hati mereka? Sehingga nantinya mereka akan dengan senang hati dan lapang dada menerima dakwah kita.
Untuk tujuan inilah kita harus mengerti cara bermu'amalah yang baik, kita butuh memperkuat tali persaudaraan islam dan menghidupkan kembali ruh iman di setiap sanubari, kita membutuhkan budaya tukar pendapat yang tenang dan damai, hubungan yang serasi, dan saling menghormati satu sama lain, sehingga akan terpancar jelas keindahan dan keanggunan Islam dalam masyarakat kita, dan mereka akan menjadi teladan bagi masyarakat lain yang seakidah, bahkan akan menjadi pembuka kebaikan bagi mereka yang berada di luar Islam untuk masuk gerbang agama tauhid ini.
Kita ingin mengambil hati orang di sekitar kita, tapi bukan dengan mujamalah ataupun dengan mudahanah, bukan pula dengan reformasi agama atau malah meruntuhkannya, tapi kita ingin mengambil hati mereka dengan akhlak yang tinggi dan adab yang mulia, sebagaimana sabda Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam-: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [2]
Kenapa kita harus mengambil hati? Tentunya bukan karena tujuan harta dan gemerlapnya dunia, bukan pula untuk kepentingan pribadi ataupun memamerkan kelebihan yang ada pada kita, kita melakukannya karena niat ibadah mendekatkan diri kita kepada Allah, dzat yang senang dengan akhlak yang mulia dan membenci akhlak yang tercela.
Kita melakukannya karena dorongan ingin mengikuti jejak Rosululloh sebagai orang yang paling mulia akhlaknya.
Kita melakukannya karena kita ingin meraih kecintaan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, tidak hanya itu, bahkan kita akan berada dekat dengan beliau kelak di akhirat, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya diantara orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah mereka yang paling bagus akhlaknya.” [3]
Kita melakukannya karena ingin mengaplikasikan tuntunan syari’at dan budi pekerti agama ini dalam kehidupan kita, baik dalam tindakan maupun ucapan, baik ketika sendiri maupun di hadapan orang, sebagaimana sabdanya: “Pergaulilah orang lain dengan akhlak yang terpuji!” [4]
Kita melakukannya karena kerinduan kita kepada surga, tentunya kita tidak akan lupa dengan sabdanya: “Sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke surga adalah taqwa dan akhlak yang mulia.” [5]
Kita melakukannya karena ingin menambah berat timbangan amal kita, karena: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari pada akhlak yang mulia.” [6]
Kita melakukannya agar orang lain bersahabat dengan kita, tidak lari meninggalkan kita: “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [7]
Inilah beberapa keutamaan dan buah akhlak yang mulia, yang insyaAllah dapat menjadi pendorong dan motivator kita untuk menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, ia merupakan sebuah ibadah yang agung dan sarana mendekatkan diri kepada Allah: “Sungguh berbekal akhlak yang mulia, seorang mukmin akan mencapai derajat orang yang selalu berpuasa (pada siangnya) dan selalu menghidupkan malamnya.” [8]
Memang sangat agung kedudukan akhlak dalam Islam, oleh karenanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Akhlak yang mulia adalah kebaikan yang paling agung.” [9]
Tapi bagaimana kita dapat meraih akhlak yang mulia itu? Tentunya kita harus tahu dulu mana yang baik dan mana yang buruk, di antara caranya adalah: dengan banyak bergaul dengan orang-orang sholih, memperhatikan gerak langkah dan akhlak mereka. dan dengan banyak membaca buku-buku tentang adab dan mengkajinya. [10].
Setelah kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk, maka kita harus mempraktekkannya, dan setelah itu mengajak orang lain untuk ikut serta melakukan dan memperaktekkannya.
Apakah cukup dengan itu semua? Tentunya tidak, karena ada satu hal lagi yang tak kalah penting, yaitu dengan banyak do’a dan bersimpuh di hadapan Sang Pencipta sebagaimana dituntunkan oleh teladan kita Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wa sallam-, dengan doanya:
اللهم كما أحسنت خلقي فأحسن خلقي[11]ـ
اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق والأعمال والأهواء[12]ـ
اللهم اهدني لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت, واصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت.[13]ـ
Subhanallah, kalau orang seperti Rosul -shollallohu alaihi wa sallam- saja selalu berdoa agar dibaguskan akhlaknya padahal Allah swt telah jelas-jelas memujinya dalam firma-Nya: “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. ” [14], bagaimana halnya dengan kita? Sungguh sudah seharusnya kita lebih rajin dan giat melantunkan doa-doa tersebut.
Akidah & Akhlak
Tidak bisa dipungkiri, bahwa akhlak punya hubungan yang kuat dengan keimanan dan akidah seseorang, Ibnul qoyyim rohimahullah berkata: “Seluruh agama ini adalah akhlak, maka siapa yang lebih tinggi akhlaknya berarti ia lebih tinggi agamanya.” [15].
Orang yang memperhatikan dengan seksama keadaan masyarakat muslim, ia akan dapati banyak dari mereka yang lalai terhadap pentingnya masalah akhlak dan memanfaatkan sisi ini sebagai sarana ibadah, mereka tidak menyadari bahwa akhlak sangat erat hubungannya dengan keimanan. Maka jangan heran kita akan dapati orang yang mengira dirinya telah mempraktekkan tauhid dan memurnikan keimanannya, tapi tetap saja melakukan tindakan-tindakan tercela yang dapat mengganggu nilai keimanannya, seperti: takabur, hasad, su'udhdhon, dusta, berbuat keji, egois dsb.
Bahkan bisa jadi dia tidak tahu bahwa perbuatan tersebut sangat berpengaruh buruk terhadap akidah dan keimanannya,
atau lalai bahwa agama ini mencakup seluruh sendi-sendi kehidupan, sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [16].
Sesungguhnya usaha merealisasikan tauhid dan menyempurnakan keimanan tidak hanya sebatas dengan menjauhi syirik akbar, tapi juga dengan menjauhi segala yang mencemari tauhid dan keimanan, dengan menjauhi segala amalan tercela dan memperaktekkan akhlak yang mulia. Jadi akidah bukanlah sekedar manuskrip yang hanya dibaca dan dihapal, tapi ia harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, dalam pergaulan dengan masyarakat di sekeliling kita.
Da’i-da’i Tanpa Kata
Sejarah mengisahkan, Islam masuk hindia selatan, silan, kepulauan maldif, pesisir cina, filipin, indonesia dan afrika melalui pedagang muslim yang militan, mereka mempengaruhi warga pribumi bukan dengan kilauan dinar dan dirham, tapi karena islam yang telah menjelma dalam gerak langkah mereka, disamping juga sifat amanah dan sifat jujur mereka yang mengagumkan. Mereka warga pribumi takjub dengan akhlak ini, dan terdorong untuk mencari tahu asal muasalnya. Ketika mereka tahu bahwa itu semua bersumber dari tuntunan Islam, akhirnya mereka bersedia memeluk agama Islam dengan sukarela dan hati yang lapang.
Memang, metode paling handal dalam mengambil hati orang adalah dengan akhlak yang mulia, bahkan tidak dipungkiri lagi inilah sarana yang memegang peranan paling penting tersebarnya agama Islam di seluruh penjuru dunia.
Orang yang memperhatikan dengan seksama kisah perjalanan Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- akan mendapati bahwa beliau adalah sosok yang tidak pernah lepas dari akhlak yang mulia dalam semua gerak langkahnya, khususnya dalam hal berdakwah, sehingga dengan mudah orang berbondong-bondong menerima dakwahnya.
Berapa banyak orang masuk islam karena kemuliaan akhlaknya, ada yang masuk islam seraya mengatakan: “Demi Allah! mulanya tidak ada di muka bumi ini wajah yang lebih kubenci dari engkau, tapi sekarang engkau menjadi orang yang paling aku cintai melebihi siapa pun!” [17]
Ada juga yang mengatakan: “Ya Allah! Curahkanlah rahmatMu kepadaku dan Muhammad, dan jangan kau sertakan dengan kami siapa pun juga!” [18] karena sangat terpesonanya dengan akhlak pemaaf Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.
Ada lagi yang berkomentar: “Sungguh aku rela mengorbankan ibu bapakku demi dia, belum pernah ku jumpai guru yang lebih baik dari dia, baik sebelum maupun sepeninggalnya!” [19].
Ada juga yang menyerukan: “Wahai kaumku, masuklah ke dalam agama Islam, karena sesungguhnya Muhammad itu memberi seakan ia tak khawatir akan menjadi fakir (karena kehabisan harta)!”[20] dan sangat banyak contoh-contoh yang serupa dalam siroh beliau -shollallohu alaihi wasallam-.
Semoga Allah merahmati Ibnu Ashma’, ketika ajal akan menjemputnya ia mengumpulkan anak-anaknya dan berwasiat: “Wahai anak-anakku! Pergaulilah masyarakat dengan pergaulan yang apabila kalian hidup, mereka akan simpati kepadamu, dan apabila kalian mati, mereka akan menangisi kepergianmu!” [21]
Dan sungguh indah perkataan Abdulloh bin Mubarok: “Kalian lebih membutuhkan akhlak walaupun hanya sedikit, dari pada ilmu yang banyak (tapi tidak diamalkan, pen).” [22]
Merubah Akhlak Kita
Mungkin sebagian dari kita mengatakan: “Aku sudah terlanjur dengan akhlak yang jelek sejak kecil, mana mungkin aku bisa merubahnya?!” atau mengatakan bahwa akhlak adalah tabi’at tetap manusia yang tidak mungkin dapat dirubah! atau berpendapat bahwa akhlak akan dengan mudah dibentuk dan dirubah, tergantung keinginan individu masing-masing.
Ketahuilah! bahwa akhlak (tingkah laku) terbagi menjadi dua: ada yang alami (bawaan lahir), dan ada juga yang iktisabi (yang dibentuk oleh manusia melalui belajar, latihan dan usaha).
Seandainya akhlak tidak dapat dirubah sama sekali, maka apalah gunanya pesan dan nasehat diberikan? Apalah tujuan firman Allah?: “Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri.” [23]
Juga firman-Nya?: “Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.” [24]
Dan apalah makna dari sabda Rasul -shollallohu alaihi wasallam-?: “Sesungguhnya ilmu (didapat) dengan belajar, sedang sifat murah hati (didapat) dengan melatih diri. Barangsiapa berusaha mencari kebaikan, ia akan mendapatkannya, dan barangsiapa berusaha menghindar dari kejelekan, ia akan selamat darinya.” [25]
Orang yang memperhatikan kebiasaan binatang sirkus, sebelum dan sesudah dilatih akan menemukan hakekat bahwa akhlak (tingkah laku) pada manusia merupakan hal yang dapat menerima perubahan, tentunya perubahan tersebut juga berbanding lurus dengan usaha dan kesungguhannya melatih diri untuk berakhlak mulia.
Panah-panah Sakti Penakluk Hati
Kiranya akan semakin lengkap jika kita sebutkan beberapa akhlak terpuji yang punya pengaruh kuat untuk mengambil hati orang-orang yang ada di sekitar kita:
1. Senyuman ramah.
Ia bagai garam pada masakan, ia juga merupakan busur yang paling cepat menaklukkan hati seseorang, ditambah lagi ia merupakan ibadah dan amal sedekah, sebagaimana sabdanya: “Senyuman yang kau lemparkan ke wajah saudaramu adalah amal sedekah.” [26].
Sahabat abdullah bin harits berkata: “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih banyak tersenyum melebihi Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam-.“ [27]
2. Memulai salam.
Ia adalah panah tajam yang akan menancap di hati orang yang kau salami, tapi jangan lupa barengi juga dengan wajah damai, jabat tangan serta sambutan yang hangat dan akrab.
Dengannya kita juga mendapatkan pahala sekaligus ghonimah karena: “Yang paling baik dari keduanya adalah orang yang memulai dengan salam.” [28].
Berkata Abu Amr an nadby: “Aku pernah berjalan bersama Abdullah bin Umar, maka setiap berjumpa dengan orang ia langsung memberi salam, tak peduli orang tersebut masih kecil ataupun sudah berumur.” [29]
3. Hadiah.
Ia memiliki pengaruh yang mengagumkan, karena bersentuhan langsung dengan pendengaran, penglihatan dan perasaan hati. Karenanya Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- memberi perhatian khusus dalam masalah ini dalam sabdanya: “Hendaklah kalian saling bertukar hadiah! niscaya kalian akan saling mencintai." [30]
4. Jadilah pendengar yang baik!
Dengan tidak memotong pembicaraan yang belum tuntas, inilah akhlak Rosul ع, beliau tidak memotong pembicaraan sehingga lawan bicaranya mengakhiri kalamnya. Sungguh barangsiapa yang memperaktekkan ini, ia akan dikagumi oleh banyak orang, lain halnya dengan orang yang banyak ngoceh dan sering memotong pembicaraan orang lain.
Atho’ menceritakan dirinya berkaitan dengan sifat ini: “Adakalanya seorang bercerita kepadaku dan aku diam mendengarkannya, seakan aku tidak pernah mendengarnya, padahal sebenarnya aku telah mendengar cerita itu jauh hari sebelum ia dilahirkan.” [31]
5. Ulurkan bantuan dan jasa baikmu!
Pepatah mengatakan: “Berbuat baiklah kepada orang lain! maka kamu akan mendapatkan hatinya sebagai tawananmu.”
Membantu orang lain juga merupakan sarana menggapai mahabbatullah, sebagaimana firmanNya: “Berbuat baiklah (kepada orang lain), Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” [32].
Begitu pula sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia.” [33].
Ahibbati fillah! Sungguh mengherankan orang yang rela membeli hamba sahaya dengan uang, apa yang menghalangi mereka untuk membeli orang merdeka dengan jasa baiknya?! Dan ingatlah orang yang banyak jasanya, akan banyak pula sahabatnya!
6. Penampilan yang baik.
Ini meliputi badan, pakaian dan bau yang harum, Rosulullah ع bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, menyukai sesuatu yang baik.”[34]
Simak juga ketika Abdul Malik bin Abdul Hamid almaimuni mensifati Imam Ahmad: “Sungguh aku tidak melihat ada orang yang lebih perhatian dengan kumisnya, rambut kepala dan tubuhnya serta tidak kulihat orang yang pakaiannya lebih bersih dan putih melebihi Ahmad bin Hambal.” [35]
7. Husnudhdhon dan memberikan udzur.
Hendaklah kita saling berbaik sangka dengan saudara-saudara seiman kita, selagi masih ada celah untuk itu, dan kalaupun ia memang telah melakukan kesalahan hendaklah kita menasehatinya dengan cara yang halus dan selanjutnya memberikan udzur yang pantas baginya, insyaAllah dengan begitu akan semakin kuat barisan umat ini.
8. Ungkapkan kecintaanmu kepada saudaramu!
Ketika anda menaruh rasa simpati kepada orang lain atau mungkin ia mendapat tempat tersendiri di hati anda, maka ungkapkanlah perasaan itu kepadanya, karena itu akan meluluhkan hatinya, oleh karenanya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apabila ada yang menyukai sahabatnya, maka hendaklah ia datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa dirinya menyukainya karena Allah swt![36]
Dalam riwayat yang lain “Karena itu akan lebih mempererat tali persahabatan dan lebih menguatkan rasa kasih sayang antar keduanya.” [37]
Tapi tentunya dengan syarat, rasa kasih sayang tersebut karena Allah semata, bukan karena dunia, jabatan, harta, ketenaran, kecantikan atau ketampanan, karena setiap kecintaan yang dasarnya bukan lillahi ta’ala itu bagaikan debu, ia akan lenyap atau malah berbalik menjadi permusuhan kelak pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [38]
Hendaknya pula kita selalu menghadirkan dalam sanubari kita sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam-: “Setiap orang akan bersama orang yang dicintainya (pada hari kiamat).” [39]
Intinya mengungkapkan rasa cinta & kasih sayang adalah merupakan cara yang sangat manjur untuk mempengaruhi hati seseorang dan menjadikan timbulnya rasa saling mencintai satu sama lain. Dengan ini akan terbentuklah sebuah masyarakat yang dipenuhi rasa cinta, damai, masyarakat yang bersatu, kompak dan saling membantu.
Ahibbati fillah… dalam soal perasaan, emosi dan ‘atifah, kebanyakan orang berada pada dua kutub yang berlawanan, sungguh amat disayangkan! Ada yang mendewakan akalnya, sehingga hubungan itu menjadi kaku, kering dan tidak bersahabat. Disisi lain ada yang mendewakan perasaan dan emosinya, sehingga seringkali mengorbankan rasionalitas, bahkan tidak jarang sampai pada tingkatan ketergantungan dengan orang lain.
Memang memadukan dan mengkompromikan antara akal dan perasaan adalah pekerjaan yang susah, tidak semua orang bisa menuntaskannya, tapi itu merupakan fadhal (keistimewaan) yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendakinya.
9. Al-mudaarooh
Haruskah kita menggunakan metode ini untuk menundukkan hati? Apakah ia sama dengan mudahanah? Apa definisi yang benar dari keduanya?
Dalam menghadapi banyak orang, kita akan menemukan berbagai macam karakter individu yang berbeda, dan tentunya kita harus dapat mensiasati kenyataan ini, kita harus segera mencari cara untuk mengkompromikan karakter-karakter yang berseberangan ini, agar terjalin hubungan yang harmonis antara individu satu dengan yang lainnya.
Keadaan ini menuntut kita untuk memiliki cara bagaimana menghadapi setiap karakter individu yang berbeda, diantaranya adalah dengan mudaarooh, yaitu mengorbankan dunia untuk mendapatkan keuntungan duniawi ataupun ukhrowi ataupun keduanya, seperti berlaku lemah lembut, bertutur secara halus dan menampakkan wajah yang bersahabat kepada para fussaq beserta cs-nya, dengan tujuan, pertama: agar kita terhindar dari gangguan mereka, dan kedua: mungkin dengan mudaarooh seperti ini hati mereka akan terbuka, dan menjadi sebab kembalinya mereka ke jalan yang lurus (tentunya dengan syarat mudaarooh ini bersih dari basa-basi dalam masalah agama).
Sedangkan mudaahanah adalah mengorbankan agama demi mendapatkan keuntungan duniawi[40], misalnya dengan mengobral fatwa-fatwa “murahan” untuk mendapatkan jabatan, agar dekat dengan orang penting, agar mendapatkan harta yang fana, ataupun tujuan yang sejenisnya! nas’alullohas salaamata wal ‘aafiah.
Yang penting untuk diingat di sini adalah bahwa hukum asal dari mudaarooh adalah mubah, ia bisa menjadi mustahab bahkan wajib, namun bisa juga menjadi makruh bahkan menjadi haram! Tergantung timbangan maslahat dan mafsadatnya, baik untuk diri si pelaku ataupun untuk masyarakat yang selalu memperhatikan setiap gerak-gerik seorang dai, jadi sangat diperlukan pertimbangan maslahat dan mafsadah yang matang sebelum kita memperaktekkan langkah ini, wallahu a’lam.
Inilah beberapa contoh akhlak mulia, yang insyaallah akan membantu kesuksesan seorang da’i dalam mengemban misinya membumikan ajaran Ilahi yang mulia ini, semoga kita selalu dalam naungan nikmat, rahmat dan taufiqNya, sehingga kita dapat meraih kesuksesan dunia dan akhirat dalam mengemban amanat besar ini.
وصلى الله وسلم وبارك على عبد الله ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين,
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Disarikan dari tulisan syeikh Ad Duwaisy yang berjudul “Thorīqunā ilal qulūb”
[1] Muttafaqun alaih (Bukhari hadits no 12, Muslim hadits no 64)
[2] Mustadrokul Hakim hadits no 4221, dishohihkan oleh Imam Alhakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, begitu juga syeikh albani (silsilah shohihah hadits no 45)
[3] HR. Attirmidzi hadits no 1941, ia mengatakan hadits ini hasan ghorib, dan dihasankan pula oleh syeikh albani (silsilah shohihah hadits no 791)
[4] HR. Attirmidzi hadits no, ia berkomentar hadits ini hasan shohih, begitu juga syeikh albani meng-hasan-kannya (shohih targhib wat tarhib hadits no 3160)
[5] HR. Attirmidzi hadits no 1927, ia berkomentar hadits ini shohih ghorib, dan di-hasan-kan pula oleh syeikh Albani (silsilah shohihah hadits no 977)
[6] HR. Abu dawud hadits no 4166 dan Attirmidzi hadits no 1925, ia berkomentar hadits ini hasan shohih, di-shohih-kan juga oleh syeikh Albani (shohih targhib wat tarhib hadits no 2641)
[7] Ali Imron ayat 159
[8] HR. Abu Dawud hadits no 4265, di-hasan-kan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah hadits no 794)
[9] HR. Muslim hadits no 4632
[10] Seperti misalnya: kitab adabul mufrod karya Imam Bukhori, Makarimul Akhlaq karya Ibnu Abid Dunya, kitab-kitab syama’il yang menceritakan sifat-sifat dan akhlak nabi ع, dll.
[11] HR. Ahmad, hadits no 3632, di-shohih-kan oleh syeikh albani (shohih targhib wat tarhib, hadits no 2657)
[12] HR. Tirmidzi, hadits no 3515, dishohihkan oleh syeikh Albani (misykatul mashobih, hadits no 2471)
[13] HR. Muslim, hadits no 1290
[14] Surat Al-qolam ayat 4
[15] Madarijus Salikin 2/307
[16] Surat Al-An’am ayat 162-163
[17] Muttafaqun alaih, Bukhori hadits no 4024, Muslim hadits no 3310
[18] HR. Bukhori, hadits no 5551
[19] HR. Muslim, hadits no 836
[20] HR. Ahmad, hadits no 12328, dishohihkan oleh Syu’aib al-arna’uth
[21] Nurul Qobas karya abul mahasin al yaghmury, hal 46
[22] Mukhtashor tarikh dimasyq karya Ibnu Mandhur, hal 1884
[23] Surat Al-A’la ayat 14
[24] Surat Asy-Syams ayat 9
[25] HR. Thobaroni fil mu’jamil kabir, hadits no 1763, dihasankan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah no 342)
[26] HR. Tirmidzi, hadits no 1879, dihasankan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah hadits no 572)
[27] HR. Tirmidzi, hadits no 3574, dishohihkan oleh syeikh Albani (mukhtashorusy syama’il, hadits no 194)
[28] Muttafaqun Alaih (Bukhori hadits no 5613, Muslim hadits no 4643)
[29] Mushonnaf Abdur Rozzaq, atsar no 19442
[30] HR. Bukhori fil adabil mufrod, dihasankan oleh syeikh Albani (Irwa’ul Gholil, hadits no 1601)
[31] Aljami’ li akhlaqir rowi wa adabis sami’, karangan Alkhotib albaghdadi, atsar no 352)
[32] Surat Albaqoroh, ayat 195.
[33] HR. Thobaroni, hadits no 13646, dihasankan oleh syeikh Albani (silsilah shohihah, hadits no 906)
[34] HR. Muslim, hadits no 131.
[35] Shifatush Shofwah 2/340
[36] HR. Ahmad, hadits no 20332 (lihat silsilah shohihah, hadits no 417)
[37] Tambahan hadits ini dihasankan oleh syeikh Albani (shohihul jami’, hadits no 280)
[38] Surat Azzukhruf, ayat 67.
[39] Muttafaqun Alaihi (shohih bukhori, hadits no 5702, shohih muslim, hadits no 4779)
[40] Almufhim karya Alqurthuby 9/338, fathul Bari karya Ibnu Hajar hal: 13/581
http://addariny.wordpress.com/2009/05/12/3/
Baca juga:
KUNCI SUKSES BERMU'AMALAH (Oleh: Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari)
http://www.facebook.com/notes/abu-muhammad-herman/kunci-sukses-bermuamalah-oleh-ustadz-abu-ihsan-al-atsari/10150246155775175
http://www.facebook.com/notes/abu-muhammad-herman/kunci-sukses-bermuamalah-oleh-ustadz-abu-ihsan-al-atsari/10150246155775175
Langganan:
Postingan (Atom)
