Mengenai Saya
Laman
Minggu, 05 Desember 2010
"A L A M A T T E T A P"
Pada saat dan ketika ini, satu angkatan tentara sedang menuju ke arah diri kita? datangnya untuk menamatkan riwayat hidup kita! Langkahnya tidak pernah henti, semakin hari semakin dekat, dan hentakan kakinya bisa menggoncangkan jantung kita.
Angkatan tentara ini terus melangkah setapak demi setapak ke arah kita... tujuannya hanya satu, untuk 'membunuh kita!. Tiada seorangpun yang bisa menghindarinya... Tiada kekuatan Bala Tentara manapun yang bisa menandinginya... Tiada sebarang kerajaan di dunia pun yang dapat menghalanginya.
Itulah "Tentara Malaikat Maut" yang menjalankan perintah ALLAH untuk memayatkan kita karena kita sebenarnya telah di jatuhkan ketetapan mati sebelum kita lahir! kita telah di jatuhkan hukuman sejak dari dalam perut Ibu.
***
Tetapi manusia memilih lalai dan alpa. Pada waktu tengah hari, ketika Adzan Dzuhur sedang berkumandang, mereka memenuhi Bank Islam, Pasar Islam, Kedai Makan Islam, Museum Islam, Perpustakaan Islam... sedangkan Rumah Tuhannya orang Islam kosong...
Matahari mulai tergelincir. Kelihatan manusia mulai pulang dari tempat kerja masing-masing... Ada yang cedera di tempat kerja, tetapi esok akan tetap datang bekerja. Ada yang bertengkar dan bergaduh di tempat kerja, tetapi esok akan tetap datang lagi dan teruskan bekerja seperti biasa...
Dalam dunia ini terdapat banyak manusia yang perasaan sibuk dengan hal keduniaan, dan tidak suka dengan perbincangan mengenai MATI karena bimbang kelezatan dunia akan hilang. JIka di bincang tentang MATI sekalipun, apa yang di bincangkan hanyalah tentang keburukan mati karena dengan kematian itu, mereka akan kehilangan uang dalam bank, harta, tanah, anak istri, mobil mewah dan segala kelezatan dunia yang lainnya.
Tetapi manusia masih perasaan sibuk... Pada petang hari, setelah pulang dari kerja-kerja dunia yang memenatkan, manusia mulai menambah penat dengan berolah raga sehingga maghrib... dengan alasan untuk hilangkan stress...
Dan pada waktu malamnya pula, manusia mulai bergerak mencari hiburan, juga untuk menghilangkan stress... nonton film, nonton TV, ngobrol larut di kedai kopi, berkaraoke dan lain2 lagi...
"mau hilangkan stresslah, sudah sehari suntuk bekerja..." Itulah alasan yang sering di berikan sekiranya di pertanyakan. Pada ketika ini masih memilih lalai dan alpa... masih berseronok mencari hiburan duniawi...
Di dalam kubur, ada yang ketika di dunia dahulu pandai menyanyi tetapi sekarang senyap membisu... ada yang melupakan mati tetapi sekarang sedang menjadi mangsanya...
Dan apa yang perlu takut dan risaukan adalah, kita masih belum mengetahui ALAMAT TETAP KITA...
Apa alamat tetap di masa depan kita?, Syurga? atau Neraka?
http://www.facebook.com/notes/melati/a-l-a-m-a-t-t-e-t-a-p/166317586739958
*** Nakalnya Cinta ***
"..Lihatlah dan engkau pun
pasti pernah atau bahkan sedang merasakan nakalnya cinta. Ia mengetuk pintu air
mata. Jadilah mata berkaca dan tetesan bening pun berlinang menyusuri pipi.
Pun, tak ada tangan lembut yang menyeka.."
**************************************************
Kembali pena ini hadirkan tentang
cinta karena ia menyusup dalam kehidupan tanpa meminta dan dipinta. Cinta
memberikan warna dalam kanvas kehidupan walaupun manusia belum memahami makna
kehidupan itu sendiri. Cinta memberi bekas dalam hidup. Kadang bekas itu berupa
luka maupun dentuman bahagia. Tanpa sadar harus dan telah memilih, manusia bisa
menjadi digdaya atau bahkan gila karena cinta. Maka, bukankah hanya kepada Pemilik
dan Penganugerah Cinta lah kita pasrahkan jiwa??
>>Kenakalan Cinta. . .
Cinta itu nakal. Lincah, pula.
Dibuatnya bayi menangis, menjerit dan berteriak hanya untuk menggapai susu sang
ibu.
Cinta itu nakal. Lihatlah disana. Betapa
banyak anak gadis tersihir rayuan gombal cinta dari lelaki. Betapa banyak anak
lelaki ingusan harus berlagak pahlawan di depan wanita yang dicinta. Ia harus
tersulap dan bertopeng menjadi laki-laki bijaksana nan arif. Penampilan pun
berubah baik dari pakaian, parfum dan gaya berjalan hanya untuk sekedar
menepati janji pertemuan dengan si dia.
Sungguh nakal cinta itu. Lihatlah si
kaya memiskinkan diri agar meraih kenikmatan sesaat dengan kekasih hati yang
tak sah secara syar’i. Lihatlah pula si miskin, ia mengkayakan dirinya agar
terlihat “wah” di depan sang pujaan. Para wanita pun dibuat nakal oleh cinta.
Jadilah mereka tak bermalu. Jadilah mereka begitu mudah terayu. Jadilah mereka
diobral. Secara sadar atau tidak, mereka mengatasnamakan cinta sejati. Mereka
rela berkorban segalanya demi pria yang dikasihi.
Nakalnya cinta. Atas namanya lah
seorang muda-mudi berzina. Mereka robohkan keimanan dan kehormatan diri.
Aiiiiiiiiiiih..
Karena kenakalan cinta, seorang
suami kerap kali berbohong menutupi jati dirinya karena khawatir isterinya akan
kecewa. Kekecewaan sang isteri adalah rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Maka
tak usah kaget ketika sang isteri baru tahu belakangan sang suami adalah
koruptor..
Bisa jadi sang suami yang begitu
baik, santun dan penuh kasih itu ternyata seorang berdarah dingin yang bisa
membunuh ratusan orang dengan kesadisannya.
Demi kebahagiaan sang anak, atas
nama cintalah orang tua harus bermaksiat kepada Allah. Jadilah ayah seorang
pencuri. Jadilah ia pemakan riba. Jadilah ia pendusta. Jadilah ia menghalalkan
yang haram atau mengharamkan yang halal.
Aduhai. .
Nakalnya cinta. Ia hadir dan
bereaksi dalam jiwa dan membuat letupan-letupan makna yang kerap mengejutkan.
Dan jiwa pun tak sadar kapan ia bergemuruh di langit hati. .
Terlalu banyak manusia yang menjadi
korban kenakalan cinta. Bertumpuk-tumpuk novel-novel picisan menglamorkan kisah
para korban cinta itu dalam adegan-adegan heroik. Padahal siapaun tahu kalau
adegan tersebut adalah kecelakaan yang menonjok jiwa sekaligus menumbuhkan
dosa.
“dijadikanlah indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang
ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah
tempat kembali yang baik (surga)..”[1]
>>Mendayung Hati di Telaga
Cinta Sejati. .
Adalah Allah azza wajalla telah
selipkan teori mengakali cinta dalam lengkap, agung dan paripurnanya ajaran
islam sebagai risalah langit. Hanya islam lah yang mampu jelmakan cinta menjadi
anugerah. Hanya islamlah yang mampu menempatkan cinta pada rel yang sebenarnya.
Untukmu saudaraku,
Untukmu saudariku,
Sekiranya cinta tidak ditundukkan
dan di akali maka ia lah yang akan mengakali jiwa yang menjadi tempatnya
ber-inang. Setelah itu, ia akan mendikte pikiran. Ia akan membodohi diri. Lalu
ia akan menghentakkan anggota badan untuk memperagakan kemaksiatan. Tak lah bisa
selanjutnya dibedakan hitam dan putih sehingga menubruk dosa yang mengkaratkan
hati.
Menundukkan cinta sama lah artinya
dengan membangun ketundukan dengan penuh kepatuhan dan penyerahan diri terhadap
Sang Penganugerah cinta itu sendiri. Dialah Allah Yang Maha Rahman dan Maha
Rahiem.
Dialah yang menciptakan langit tanpa
tiang penyangga. Dialah Allah yang menjadikan malam bertabur gemerlapnya
bintang dan memoles langit malam dengan kemuning rembulan. Dialah Allah yang
menerbitkan mentari di ufuk timur lalu disambut kicauan burung-burung. Beberapa
waktu kemudian datanglah hangatnya waktu dhuha seiring keringnya embun di
dedaunan.
Dialah Allah yang membenamkan
mentari dengan warna mewah memerah. Telah tiba saatnya hewan-hewan kembali ke
sarangya. Telah tiba saatnya adzan berkumandang.
Dialah Allah yang mentakdirkan
kemarau datang bertandang. Setelah itu datang lah musim hujan. Allah lah yang
menyiramkan air ke bagian permukaan bumi yang Dia kehendaki. Basah lah bumi
itu. Dialah Allah yang menguncupkan dedaunan muda dan menghijau sejuk
dipandang.
Dialah Allah yang menghembuskan
udara yang mengalir diantara langit dan bumi. Sementara burung-burung
mengepakkan sayapanya sambil berpurtar-putar di udara. Dialah Allah yang
menggerakkan awan menyusuri langit biru.
Dialah Allah yang mengabulkan
seluruh do’a hambanya. Dia anugerahkan dan membagikan rizki. Dialah Allah Yang
Maha Pengasih lagi Penyayang melebihi kasih sayang seorang ibu yang bercucur
mata karena begitu cinta kepada sang anak.
Dialah yang menjadikan surga dan
kenikmatannya teruntuk orang-orang yang bertauhid dengan benar. Pula Dia
sediakan neraka dan adzabnya bagi kaum yang ingkar lagi kufur.
Allah lah pula yang menurunkkan
agama yang mulia melalui malaikat yang mulia dengan kitab yang paling mulia
kepada seorang manusia yang paling mulia. Dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam yang sangat cinta kepada umatnya. Amat menginginkan kita masuk surga
dan terhindar dari adzab neraka. Dialah lelaki yang selalu mencintai dan selalu
dicintai.
Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya
lah menjadi muaranya cinta. . .
>>Ada Allah Tempat Adukan
Rasa. .
Ibarat koin, cinta itu bermuka dua.
Ia bisa mendatangkan bahagia dan pula penghias jiwa. Namun di sisi yang lain,
ia bisa guncangkan derita. Kerapkali jiwa dibuatnya merana. Kerap kali ia
goreskan luka. Terlalu sering diundangnya duka di hati. Jadilah hati berkarat
dosa nan menanggung derita.
Lihatlah dan engkau pun pasti pernah
atau bahkan sedang merasakan nakalnya cinta. Ia mengetuk pintu air mata.
Jadilah mata berkaca dan tetesan bening pun berlinang menyusurupi pipi. Pun,
tak ada tangan lembut yang menyeka.
Namun begitu, ada Allah tempat
mengadu. Para pendahulu baik para nabi dan orang-orang shalih pun mengadukan
kepada Allah terhadap peliknya masalah yang mereka hadapi. Mengadu yang bukan
menggugat namun menumpahkan rasa dan menyemburatkan do’a penuh harap.
Adalah Yusuf ‘alaihissalam
mengadukan rasa kepada Allah ketika dia harus digoda seorang wanita cantik
dalam ruangan yang tertutup di istana raja. Nakalnya cinta tengah bereaksi
hebat. Dan dengan keteguhan imannya, Yusuf ‘alaihissalam pun diselamatkan Allah
dari maksiat yang menggoda hati dan menggelorakan nafsu. .
Subahanallah, Dialah yang menolong
hamba-Nya. Dan memang kepada-Nya lah meminta pertolongan.
“iyyaaka na’budu wa iyyaka
nasta’ien.”
“hanya kepada-Mu lah kami beribadah
dan hanya kepada-Mu lah kami pinta pertolongan”[2]
>>Saatnya Mengakali Nakalnya
Cinta. . .
Telah tiba saatnya seorang balita
harus berhenti diberikan ASI. Namun ketika ia masih ketagihan, seorang ibu
harus mengakalinya. Entah harus memolesi jejamuan pahit di [maaf] puting susu
atau dengan cara lain agar sang balita sedikit “kapok”.
Begitulah cinta. Harus pula diakali
dan disiasati agar tak menguasai dinasti hati..
Kecintaan berlebih terhadap makanan
dan minuman harus diakali dengan puasa sehingga tak rakus lagi mengejar nikmat
perut semaunya.
Kecintaan berlebih terhadap syahwat
akan menggelorakan nafsu. Diakalilah ia dengan menikah atau puasa bujang
(shaumul ‘uzzab) bagi yang belum mampu berumah tangga. Lalu melunaklah nafsu
yang bergejolak sehingga ia tak berlagak dan merusak. Tak terceburlah diri
dalam dosa.
>>Senarai Harapan. .
Tetaplah berada pada kesadaran bahwa
cinta itu sebagai penghias jiwa, bukan menguasai jiwa. Jadikanlah cinta itu
indah sesuai dengan ketentuan agama yang mulia. Oleh karena itu, memahami islam
dengan benar adalah kunci utamanya. Pelajari lah tauhid agar memebersihkan
karat-karat hati.
Jadikanlah cinta sebagai alat memburu
kebahagiaan hakiki. Hiasilah hati dengan cinta sejati yaitu cinta yang dikelola
agar benar-benar bermuara dan berlabuh syahdu di dermaga cinta-Nya. Maka cinta
lain akan tunduk dan mendahului kecintaan kepada Allah.
“pokok-pokok iman yang paling kuat adalah mencintai karena
allah dan membenci karena Allah.” [3]
Tak usahlah bersikap jumawa untuk
tidak berdo’a dan meminta pertolongan kepada Allah dalam berbagai masalah.
Hanya dengan pertolongan Allah lah terselamatkan dari jerat-jerat cinta.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
berkata kepada Ibnu Abbas:
“sekiranya engkau hendak pinta pertolongan, pintalah kepada
Allah..” [4]
Akhirnyaaaa…
Cintailah siapapun, cintailah apapun
selama cinta itu bermakna dan berguna untuk kehidupan dunia maupun kelak dihari
kebangkitan. . .
Wallahu a’lam. Subahanaka allahumma
wa bihamdika asyhadu alla ila hailla anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. .
******************
Penulis : Rufaidah Kiky & Fachrian Almer Akiera
Editor : Fachrian Almer Akiera
Footnotes:
[1]. QS. Al-Imran: 14
[2]. QS. Al-Fatihah: 5
[3]. HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam
Al-Kabir, No. 11537; Ibnu Syaibah dalam Al-Iman, hlm. 110, dan dishahihkan oleh
Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, No. 1728
[4]. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi
IV : 667, oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak III : 623, Al-Haitsami dalam
Majma’uz Zawa-id VII : 189 dan Ahmad dalam Musnad-nya I : 293.
all of u can share or copas all
articles in this blog without get my permision but i think u should copy-paste
and than tag your friends. I hope u appear the link of this blog as your
articles source. May Allah bless us n u. Aamiin
Meredam Rasa tersinggung
oleh : Moel Andre
Assalamualakum warahmatullahi wabarakatuh
Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri.
Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain. Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya amal kita. Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.
Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, saleh, tampan, dan merasa sukses. Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri. Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung. Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan. Pertama, belajar melupakan. Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita ustadz lupakan keustadzan kita.
Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini amanah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah amanahkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati. Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat.
Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian, dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji′uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157).
Ketiga, kita harus berempati.Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah. Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung, cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri. Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mengamalkan sifat mulia. Yaitu, memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.
Wallahu a′lam bish-shawab.
Akhirnya, Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..
http://www.facebook.com/notes/melati/meredam-rasa-tersinggung/166187303419653
Jika Aku Mati
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
============================
Alhamdulillah, sampai detik ini masih diberi kesempatan untuk mereguk udara yang ada, terfikir andaikan pagi ini jasadku sudah menjadi seonggok mayat yang tak bernyawa? --tears--
Ok lah, nggak ada niatan nulis panjang lebar sih, cuma pingin berbagi kisahku beberapa waktu lalu ini sedikit saja ketika sehari setelah aku sakit dan dirawat di RS.
Yaa...waktu itu aku lagi seriiiing banget ketakutan, sering berfikir apa jadinya kalau Qodarullah berkata bahwa saatku 'dijemput' itu tinggal sebentar lagi?
Hari rabu waktu itu, jam 2 pagi kebangun dengan keadaan badan yang emang kerasa gak cukup baik. Walaupun ngantuk gencar menyerang, ku paksakan untuk bangun dan melangkah turun ke lantai 1 untuk ngambil wudhu, terus sholat tahajjud. Jam 3 lewat dikit udah kelar, badan kerasa emang kurang baik, aku pun memutuskan untuk tidur lagi, berpikir semoga ntar pas shubuh udah enakan.
Trus bangun, sholat shubuh, bukannya makin baik, aku ngerasa badanku agak anget, yawiss lah, aku langsung bilang ama Ibu izin hari ini gak bisa bantuin didapur, dan pergi tidur lagi karena mata emang beraaaatttt.. Sekitar jam setengah 7-an baru bangun lagi dan langsung pergi mandi, badanku masih ngerasa anget gimana gitu... Waktu itu ibu dan ayah sudah berangkat bekerja. Jadilah aku cuma berdua ama adik di rumah. Lalu jam setengah 9-an kupaksakan badanku untuk sholat dhuha, pas udah kelar mencoba untuk tilawah walau hanya beberapa lembar. Nah, pas buka halaman tilawah, mataku passs banget langsung ngeliat ayat ini:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي
ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya : Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang)
yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az-zumar : 42)
Apa yang ku rasa pas baca ayat itu? Subhanallah.. merinding luar biasa. Mataku langsung berlinangan.. Ya ALLAH.. Bener deh, sekarang tuh seriiiing banget kepikiran kalau waktuku untuk kembali kepada ALLAH sebentar lagi, trus gimana? Apalagi saat itu aku inget keadaanku yg kebetulan juga lagi gak nyaman banget, badan panas, pusing, dan lemas. Aku berusaha menenangkan diri dan membaca Al-Qur'an dengan masih berlinangan air mata, di surat Al-Mu'min ayat 33 aku berhenti. Diam sejenak, dan aku menangis...
Banyak pikiran yang berkecamuk dalam benakku saat itu:
Dalam keadaan apa aku mati?
Di mana?
Apakah aku termasuk orang yang beruntung ataukah merugi?
Yang selamat atau yang celaka?
Di dalam kubur nanti seperti apa ketika aku ditanya oleh malaikat munkar nakir?
Apakah aku yang sempit lagi gelap kuburnya atau yang terang dan lapang?
Bagaimana di akhirat nanti?
Apakah yang mendapat syafa'at atau yang teracuhkan?
Surga kah untukku atau kekal dalam nerakanya?
Lalu bagaimana dengan Ayah, Ibu, Adikku, dan suamiku..?
Keluargaku, Saudaraku, Guru, Teman?
Hiks.. macem-macem perasaan berkecamuk dikepalaku saat itu, dan aku hanya bisa menangisi dosa-dosa yang telah ku perbuat, semoga ALLAH berkenan mengampuni, ampuni aku Yaa Ghoffar...
Udah puas nangis, aku pun langsung turun ke lantai bawah. Jam 12-an mbak pulang dan aku cuma sendirian di rumah, dan sampai sore aku terus menunggu, ya menunggu, apakah waktuku dijemput adalah hari itu.
Berkali-kali mataku berlinang, berkali-kali aku berusaha menghilangkan rasa takut, pikirku dalam hati, "Kalau sudah waktunya mati, ya mati..!", tapi tetap saja rasa takut itu datang menyergap. Kalau udah ketakutan suhu tubuhku langsung meningkat, keringat bercucuran, pas udah agak tenang aku merasa baikan, tapi kemudian merasa takut kembali begitu seterusnya. Berkali-kali pula aku nelpon Ibu menanyakan kapan beliau pulang, sendiri benar-benar suatu keadaan yang tidak mengenakkan!
Sore Ibu pulang, dan aku merasa sedikit lega, walaupun perasaan takut itu masih ada, sangat ada. Sampai aku nggak menyadari bahwa pukul 5 sore tuh ada gempa Cuma beberapa detik tapi cukup terasa! Ibuku pun demikian. Orang-orang pada heboh mengatakan tadi ada gempa, sedangkan aku sendiri nggak merasa apapun, saat itu aku sedang berada di atas sofa, aku inget banget.
Malam datang, aku masih juga merasa tak tenang, kapan waktunya? Aku sholu maghrib, kemudian menunggu lagi. Datang waktu 'isya aku langsung bergegas dan segera sholat. Masih terus berkecamuk akan mati akan mati akan mati dalam diri ini, wajahku pucat bisa kulihat itu. Kakiku terasa dingin aku menggerakannya, masih bisa bergerak alhamdulillah.. Aku nggak mau jauh-jauh dari Ayah Ibu tapi tak juga bisa mengatakan apa yang sedang ku rasakan. Ayah nyuruh aku tidur ama Ibu di kamarnya, aku menurut, jam 9-an aku pun terlelap, dan pagi ini, alhamdulillah.. masih diberi umur untuk bisa menjalani hari...
Huff, sedih banget, belum pernah aku setakut ini. Dan hari ini ku goreskan dalam hati, jangan takut dengan matinya, tapi takut sama ALLAH ! T_T
Barusan banget ngeliat ada acara lintas berita di TV seorang artis yang mengatakan pengalamannya pas gempa kemarin, dia mengatakan bahwa merasa gempa ketika akan show, dia bilang bahwa ketika gempa kemarin dia tenang aja karena dia yakin kalau sudah waktunya mati ya mati. Dan dia berkata bahwa akan begitu bahagia bila mati ketika sedang berada di atas panggung! Na'udzhubillahi min dzalik...
Aku berfikir, memang dia pikir mati ya mati aja, udah, selesai, tanpa tau bahwa sesudah mati itulah ada perjalanan yang sesungguhnya, hidup yang sesungguhnya, yang kekal! Astaghfirullah...
Sedangkan aku berfikir aku ingin sekali meninggal dalam keadaan yang baik, husnul khotimah, di tempat yang baik, dengan cara yang baik, dan Ayah Ibu yang ridho dengan anaknya ini, menghembuskan nafas terakhir dengan mengucapkan kata Laa Ilaha Ilallah... Hiks... aamiin Yaa ALLAH.. aamiin... T_T
Jalani tiap detik dengan baik mungkin, jangan pernah disiakan, bila sudah saatnya kita untuk kembali, ya itulah saatnya, dan ALLAH sudah tuntas menentukan semuanya..
Aku hanya bisa berdo'a, Yaa ALLAH panjangkanlah umur kami lagi berkahilah ia, matikan kami semua dalam keadaan husnul khotimah, allahumma aamiin...
Dari Anas Ibn Malik radiallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang suka diluaskan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." ( HR.Bukhari-- )
Barakallahufikum
Wassalam
--------------------
http://www.facebook.com/notes/renungan-dan-motivasi-ifta-istiany-notes/renungan-jika-aku-mati/175520629143259
Langganan:
Postingan (Atom)
