Mengenai Saya

Foto saya
Malang, East Java, Indonesia
Uhibbuka Fillah...

Laman

Jumat, 03 Desember 2010

Yang Tak Tampak Menjadi Banyak


Suatu hari Rasullullah dan sahabat -sahabatnya turun di suatu tempat dipadang pasir yang tandus,tidak ada tanam-tanaman.


tapi hari itu mereka perlu rantig-ranting kecil untuk menyalakan api .  
"Kumpulkan ranting-ranting kecil,   "   Perintah Nabi kepada Sahabat-sahabatnya .

" Baik ya Rasulllah , Jawab mereka, Tapi lihatlah. Betapa kosongnay padang pasir ini ,tidak terlihat kayu-kayu kecil sedikitpun disini"     " Bagaimanapun ,setiap orang harus mengumpulkan sebanyak yang dia bisa ."
 Semua sahabat pergi kepadang pasir ,dengan teliti ,mereka mencari  kayu-kayu kecil dan mengumpulkannya ,hingga akhirnya ,hingga akhirnya setiap orang berhasil membawa ikatan kecil ranting-ranting kayu,dan dikumpulkan di suatu tempat .sebentar kemudian ,jadilah setumpukan kayu yang telah menimbun.Kemudian Nabi SAW bersabda ,  "Dosa-dosa kecil sama seperti kayu-kayu kecil ini,pada mulanya dia tidak tampak dimata , namun setiap sesuatu pasti ada yang mencari dan mengejarnya.apa yang kalian cari atdi ,kini telah tertimbun banyak dihadapan mata .Dosa-dosa kalian ,kelak juga akan dikumpulkan dan dihisab.suatu hari nanti ,kalian akan melihat dosa-dosa kecil yang mulanya tidak tampak di matatiba-tiba telah tinggi menggunung ."

diambil dari kisah sejuta hikmah
orang-orang bijaksana

http://www.facebook.com/notes/melati/yang-tak-tampak-menjadi-banyak/165818493456534

Larangan Saling Bermusuhan Dan Saling Dengki


oleh Ratna Na


Bismillahirohmanirohim.
Asallamuallaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain,” (Al-Hujaraat: 12).
Diriwayatkan dari az-Zubeir bin Awwam r.a, bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Kalian telah terjangkiti penyakit ummat sebelum kalian, yaitu dengki dan angkara murka yang dapat mencukur (memusnahkan). Aku tidak katakan mencukur rambut, tetap dapat mencukur (memusnahkan) agama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk ke dalam surga hingga kalain beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku beritahu cara menumbuhkan hal itu? Yaitu sebarkan salam diantara kalian,” (Hasan, HR at-Tirmidzi [2510], Ahmad [I/167] dan Bukhari dalam Adabul Mufrad [260]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw. beliau bersabda, “Janganlah kalian berprasangka sebab prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mengintai kesalahan, saling bersaing, saling iri, saling benci, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara,” (HR Bukhari [6064] dan Muslim [2563]).
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, saling dengki, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang besaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari,” (HR Bukhari [6065] dan Muslim [2559]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis.


Maka pada hari itu setiap hamba diberi ampunan selama ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seorang hamba yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, ‘Akhirkan dulu mereka hingga mereka akur, akhirkan dulu mereka hingga mereka akur, akhirkan dulu mereka hingga mereka akur, akhirkan dulu mereka hingga mereka akur’,” (HR Muslim [2565]).
Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, mereka bertemu dan saling berpaling. Yang terbaik dari mereka berdua adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam,” (HR Bukhari [6077] dan Muslim [2560]).
Diriwayatkan dari Hisyam bin Amir al-Anshari r.a, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim memboikot saudaranya muslim lebih dari tiga hari. Mereka berdua jauh dari kebenaran selama mereka memutuskan hubungan. Kemarahan siapa yang reda terlebih dahulu maka hal itu sebagai kafarat untuknya dan apabila mereka berdua meninggal disaat memutuskan hubungan tersebut maka mereka tidak akan masuk surga selamanya. Jika salah seorang mereka mengucapkan salamnya dan tidak dijawan oleh yang lain maka malaikatlah yang menjawab salamnya tersebut. Sementara yang lain akan mendapat jawaban dari syaitan,” (shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [402]).

Banyak hadits-hadits yang termasuk dalam catatan ini.
...
 Intisari :
Pertama, kaum muslimin dilarang untuk saling membenci karena hawa nafsu bukan karena Allah. Sebab Allah telah menjadikan mereka teman dan saudara yang saling menyayangi bukan saling membenci. Allah telah mengharamkan atas orang-orang mukmin perkara yang dapat menimbulkan saling bermusuhan dan membenci diantara mereka, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran meminum khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilahkamu dari mengerjakan pekerjaan itu,” (Al-Maidah: 91).
Kedua, kaum muslimin dilarang berbuat dengki dan jahat. Oleh karena itu janganlah kalian saling iri dengki. Sifat iri merupakan sifat yang sudah ada dalam tabiat manusia. Yakni seorang manusia benci jika beberapa keutamaannya dikalahkan oleh seorang yang satu level dengannya. Setelah itu manusia terbagi pada tiga golongan: 1. Diantara mereka ada yang berusaha untuk menghilangkan nikmat orang yang didengki dengan berbuat jahat kepadanya, baik melalui perkataan maupuan perbuatan.


2. Ada yang berusaha memindahkan nikmat tersebut kepada dirinya. 3. Dan ada juga yang berusaha untuk menghilangkan nikmat orang tersebu tanpa memindahkan nikmat tersebut kepada dirinya dan ini merupakan sifat dengki yang lebih buruk daripada dua sifat yang lalu. Sifat dengki seperti ini merupakan sifat tercela yang dilarang dan ini merupakan dosa yang telah dilakukan iblis yang dilaknat Allah.
Allah telah menceritakan karakter Ahli Kitab dengan sifat ini, Allah berfirman, “Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran,” (Al-Baqarah: 109). 1. Dilarang saling bermusuhan, memutuskan hubungan dan memboikot lebih dari tiga hari karena urusan dunia. Sebab hal ini merupakan penghalang naiknya amalan dan masuknya seseorang ke surga. 2. Kebalikan dari yang lalu, perintah untuk saling bersaudara karena Allah dan bersatu dalam manhaj Allah. Oleh karena itu ALlah memberikan nikmat ini kepada hamba-hamba-Nya dengan cara mempersaudarakan mereka, sebab itu merupakan tali keimanan yang terkuat, terbaik, dan yang paling kokoh.
“Dan ingatlah akan nikmat ALlah kepadamu ketika kamu dahulu masa jahiliyyah bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara,” (Ali Imran: 103]).
- Ya Allah Kami Berlindung kepadaMu Dari Segala Penyakit – Penyakit Hati, yang Hanya Akan Menambah dosa – Dosa Kami.
- Semoga Bermanfaat.
Wasallamuallaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Bidadari Yang Cantik Jelita


Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.
Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita  yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separoh keindahan”
Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:
Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukanlaksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruandia menjadi perhatian karena perkataannya lembutIslam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahatAl-’In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang  baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya:  “Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)
Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari  rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi.


Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.
 Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?”  Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.
 Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: “Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)
Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.
Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.
Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam
(Sumber Rujukan: Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.
http://www.facebook.com/notes/melati/bidadari-yang-cantik-jelita/165809690124081

Ridho Suami


Dari Ummu Salamah, ia berkata, "Rasulullah S.A.W bersabda : Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meridhoinya, maka ia akan masuk surga." (HR. Ahmad dan Thabrani)

Muslimah yang bersuami, mendapat jaminan pintu surga. Alangkah enaknya jadi muslimah. Dalam pernikahan, ia tidak perlu mencari nafkah. Dengan status sebagai istri, ia akan mendapat makan, pakaian, dan tempat tinggal, plus perlindungan dari suami. Suami pula yang memenuhi kebutuhan mawadahnya. Islam sudah mengatur itu, namun ini harus ditempuh dengan usaha. Memang di dunia ini tidak ada hak tanpa kewajiban, tidak ada hadiah tanpa kerja. Suami yang memberikan semua jaminan tadi, harus disenangkan hatinya, dipatuhi keinginannya, dipenuhi kebutuhan mawadahnya.


 Pendek kata apa saja yang ia inginkan (selama bukan dosa), harus dipenuhi. Maka jika ia telah ridho terbukalah pintu surga bagi istrinya.
Suami kita adalah manusia dan manusia tidak ada yang sama persis satu sama lain. Manusia juga tidak ada yang sempurna, ada saja kekurangannya. Sebagaimana kita juga tidak sempurna, maka perlu kita terima kekurangan suami. Sebagaimana kita (wanita) juga memiliki kegemaran yang berbeda-beda, maka terima pula kegemaran-kegemaran suami kita. Bahkan dalam Islam, kegemaran suami adalah kewajiban istri untuk memenuhinya. Misalnya suami kita menggemari wangi-wangian, maka wajib bagi istrinya untuk selalu memakai wangi-wangian di hadapan suaminya.
Di zaman yang penuh berkah, di awal-awal abad hijriyah, telah hidup generasi yang diberkahi Allah S.W.T. Di zaman itu hidup putri Rasulullah yang mulia: Fatimah ra. Sosok wanita ahli surga yang menghabiskan waktunya di rumah, untuk memasak, mencuci pakaian, mengurus anak yang banyak...., tanpa pembantu. Ayahnya yang mulia (S.A.W ) tidak mengabulkan permintaan Fatimah agar dapat diberikan pembantu. Tetapi beliau malah memberikan resep dzikrullah yang dapat menghilangkan kelelahan.
Suami Fatimah adalah sahabat yang mulia pula, Ali ra. termasuk pria ahli surga. Sosok penuh kesederhanaan yang tidak pernah memadu Fatimah dengan wanita lain selama hidupnya. Sosok pemuda yang melamar putri pemimpin umat dengan menggadaikan baju besi.
Ada sosok lain di sisi Rasulullah yaitu Aisyah ra. istri beliau yang termuda usianya. Sosok wanita manja dan berpipi merah. Sosok istri pencemburu yang penuh siasat untuk memenangkan cinta kasih sang suami diantara delapan istrinya yang lain. Sosok wanita tidak berputra, tidak disibukkan dengan tangis dan ompol bayi. Tapi beliau adalah wanita cerdas, penghafal hadits yang ulung dan selalu belajar apa saja, sampai ilmu kedokteran. Dialah pintu ilmu para sahabat di jamannya. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat tidak suka memberikan fatwa tanpa bertanya lebih dulu kepadanya. Sosok wanita dengan muyul ilmiah syar'iyah dan berfungsi sebagai dosen hadits para sahabat dan thabi'in. Sosok ini pernah hidup dan mendapat pengakuan Islam.
Ada pula kakak Aisyah bernama Asma binti Abu Bakar, ibunda dan istri syahid. Sosok yang amat berbeda dengan adiknya yang manja. Asma adalah wanita yang tegar. Punya anak banyak dan bersuamikan mujahid yang aktif. Tapi juga bukan orang kaya. Asma wanita pemberani yang telah diberi kepercayaan oleh bapaknya untuk turut mensukseskan hijrah Rasulullah S.A.W. dengan tugas khusus sebagai pembawa ransum kepada dua orang muhajirin agung yang sedang sembunyi di gurun. Asma dikenal banyak akal, ketika ia tidak memiliki tali untuk mengikat makanan yang dibawanya, ia membelah ikat pinggangnya, sehingga ia dijuluki si "Dua ikat pinggang".
Apakah dia sama dengan sosok Fatimah ? Tidak, ia lain sekali dengan Fatimah. Asma bahkan biasa mengurus sendiri kuda-kuda Zubair (suaminya), memandikan dan memberi makan.


Ini biasanya pekerjaan laki-laki. Tapi Asma melakukannya karena mencari ridho suami. Asma juga biasa memanggul sendiri kayu bakar yang dicarinya, suatu pekerjaan yang biasa ditanggung laki-laki. Tapi ia melakukannya dengan alasan yang sama. Ia sosok ibu rumah tangga yang "selbstständig" (mampu mandiri) dan selalu mencari akal untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam rumah tangga. Dia jelas bukan tipe wanita ilmiah yang sibuk dengan pena dan kitab seperti adiknya. Tetapi ia pun wanita shalihah, wanita teladan sahabat Rasul S.A.W. termasuk salah satu "bintang cemerlang" di langit sirah Nabawiyah yang agung.
Adalah suatu waktu Rasulullah menyebutkan nama seorang wanita sebagai calon ahli surga, Muti'ah namanya, tidak banyak yang orang ketahui tentang kehidupan wanita ini selain suatu riwayat yang menyertai pengumuman Rasul tersebut. Salah seorang saksi mata mengatakan bahwa Muti'ah selalu menyambut kedatangan suaminya dengan bersolek sebaik-baiknya, menyediakan makanan yang enak dan hangat di atas meja dan.....seutas cambuk. Ia berkata pada suaminya : "Silahkan kakak makan dan minum, silahkan kakak gunakan diriku sebagaimana yang kakak mau dan cambuklah aku kalau ada di antara pelayananku yang tidak memuaskan hati kakak." Hanya itu riwayat tentang Muti'ah. Tapi dari riwayat yang secuil itu sudah banyak kita dapatkan pelajaran berharga
Dalam taman sirah, ternyata banyak wanita muslimah dengan tipe berbeda-beda. Bahkan masih ada sosok Shofiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah S.A.W. yang pernah dengan berani memancung leher Yahudi yang mengintai benteng tempat muslimah dan anak-anak muslim.
Ada pula Nusaibah, sahabat wanita yang bersedia menjadi perisai hidup bagi Rasulullah S.A.W.
Bagaimana dengan rumah tangga kita ? "Baiti Jannati" kata Rasulullah S.A.W. Apakah kita dapat mengatakan yang sama ? Apakah suami kita merasakan kebahagiaan yang sama ? Insya Allah demikian, sebab jika tidak, ....na'udzubillah! Berarti ridho suami masih harus kita kejar dan kita cari.
Tugas wanita di dalam rumah tangga sangat banyak. Jika sudah sibuk di rumah maka tidak ada lagi waktu menganggur. Pekerjaan rumah tangga seperti tidak ada habis-habisnya. Belum lagi urusan anak, kita menyebutnya "Amal yang tak berujung". Artinya itu adalah lahan amal yang tidak pernah kekurangan bahan. Baru selesai cuci piring makan pagi sudah harus memasak makan siang. Baru selesai memakaikan baju si kakak, si adik sudah mengompol lagi. Itu semua bisa jadi cuma tuntutan situasi. Tapi yang mana yang menimbulkan ridho suami ?
Yang perlu diperhatikan oleh seorang istri, adalah apa yang diinginkan suaminya. Apa yang menjadi kegemarannya dan sosok istri seperti apa yang ia ingin kita tempuh, kita usahakan. Hendaknya setiap istri lebih mendahulukan kemauan suami-nya dari pada kemauan dirinya sendiri. Mudah-mudahan kita semua termasuk golongan yang berkumpul di surga dengan pasangan kita masing-masing. Amiin !