------------------------------------artikel
1------------------------------------
(dinukil dari "Sejarah: Pertumbuhan dan Perkembangan Syi'ah",Dr.
Ihsan Ilahi Zhahier, Al-Ma'arif Bandung, secara ringkas)
Ketika Mu'awiyah wafat, para warga Kufa *) menulis kepada Husain,
"Kami telah mengurung diri kami, demi membai'at anda. Kami
hidupdan mati dalam mempertahankan bai'at kami. Maka selam ini kamitidak
menghadiri shalat Jum'at, maupun shalat jama'ah."(
"Murujudz-dzahab", jilid III/54, Al-Mas'usi, sejarawan Syi'ah)
*)Kufa adalah sebaik-baik negeri, yang pernah menjadi pusat dantanah
yang subur bagi kegiatan kaum Syi'ah, sehingga merkamengatakan, "Adapun
Kufa dan sleuruh daerahnya, di sanalah tempatSyi'ah Ali bin Abi
Thalib...." (Uyunul-akhbar, Arridha, dinukildari kitab "Syi'ah dalam
sejarah").Diriwayatkan dari Ja'far bahwasanya ia berkata, "Allah,
telahmenawarkan kesetiaan terhadap kita kepada rakyat-rakyat daribeberapa
negeri. Tiada satu negeri pun yang rakyatnya menerimabaik tawaran Allah itu,
kecuali warga Kufa." (dikutip dari kitab"Bahsairud-darajat",
bagian kesepuluh)
Telah sampai pula kepada Husain surat-surat lain, yang isinyaantara
lain, "Kebun-kebun telah menghijau dan buah-buahan telahmasak. Bila anda
suka, datanglah dengan membawa pasukan yangkuat." (Dari kitab
"A'lamul-wara", oleh Ath-Thabrasi, hal. 223 dankitab Al-Irsyad, hal.
220, karangan Al-Mufid).
Ketika surat-surat dari Kufa itu berturut-turut, serta banyaksekali datang
kepadanya, dan dalam pada itu warga Kufa dengankeras sekali meminta
kedatangannya, maka ia mengutus Muslim binAqil bin Abi Thalib ke Kufa, dengan
membawa suratnya, yang didalamnya ia memberitahu mereka bahwa ia segera
berangkat (menujuKufa), sesampai suratnya itu kepada mereka. Ketika Muslim tipa
diKufa, warga Kufa berkumpul menemui Muslim, dan menytakan sumpahsetia mereka
kepada Husain, serta memberikan kepadanya janji yang sungguh-sungguh untuk membela
dan mendukungnya, serta tetap setiakepadanya. (Tarikh Al-Ya'qubi, II/242)
Al-Mufid menambahkan, "Warga Kufa memba'iatnya dengan
menangis.Jumlah mereka lebih dari delapan belas ribu orang."
(Al-Irsyad,220)
Husain bersiap-siap untuk berangkat ke Kufa. Ibnu Abbas,
panglimapasukan Ali dan sekaligus penasehat pribadinya, lagi pula seorangyang
penuh pengalaman dan mengetahui dengan benar-benar watakkaum Syi'ah pada
zamannya, datang kepada Husain dan memberinasehat agar mengurungkan niatnya
pergi ke Kufa, karena warganyayang suka berkhianat. Lihat pesan Ibnu Abbas
dalam Murujudz-dzahab, III/55. Demikian pula nasehat Ibnu Abbas didukung
olehAbu Bakar bin Hisyam yang dikutip oelh Al-mas'udi dalam Murujudz-dzahab,
III/56)
Berita kedatangan Muslim bin Aqil di Kufa sampai kepada Yazid
binMu'awiyah. Dan ia menulis kepada Ubaidillah bin Zayyad danmenyampaikan
keputusan pengangkatannya sebagai Wali Kufa.
Tidak akan diceritakan di sini apa yang terjadi secaralengkapnya,
tentang terbunuhnya Muslim bin Aqil, Hani bin Urwahdan Abdullah bin Yaqthur.
Berita kematian tiga orang ini sampai kepada Husain bin Aliketika
berjumpa dengan Al-hurr bin Yazid Attamimi ketika sampaidi kota Qadisiah, dalam
perjalanannya ke Kufa.
Kemudian Husain berkhutbah di hadapan pengikut-pengikutnya,
"Amma ba'du, telah sampai kepada kami berita yang amat
dahsyat,yaitu terbunuhnya Muslim bin Aqil, Hani bin Urwah dan Abullah
binYaqthur. Syi'ah kami (di Kufa) telah mengkhianati kami. Oleh sebabitu,
barangsiapa di atnara kalian ingin meninggalkan kami,silahkan pergi, tanpa
keberatan (dari pihak kami) dan tanpakehilangan kehormatan (dari pihak
kalian)"
Maka berpencaranlah pengikut-pengikut Husain, meninggalkannya.Mereka
pergi ke jurusan kanan dan kiri; maka yang tingal bersamaHusain hanya
orang-orang yang berangkat bersama dia dari Madinah,dan sekelompok kecil orang
yang bergabung kepadanya....
Husain kemudian berangkat menuju Kufa. Di tengah jalan iaberjumpa
dengan salah seorang warga Kufa. Ia memberitahu Husainmengenai pengkhianatan,
keengganan dan kelicikan orang-orangKufa. Orang itu berkata,
"Di Kufa anda tidak mempunyai pembela danpendukung; bahkan kami
khawatir bahwa mereka akan bangkitmemerangi anda."
Ketika Husain melihat bahwa lasykar Kufa dan pengikut-pengikutinya
berpaling darinya dan sikap mereka (terhadapnya)malahan kebaikan dari apa yang
mereka tulis (kepadanya) dan dariapa yang dikatakan oleh utusan-utusan mereka,
bahakan merkamenyangkal apa yang mereka tulis kepadanya, ia berkta kepadasalah
seorang pengikutnya,
"Keluarkan dua kantong yang berisi surat-surat mereka, yang
merekakirimkan kepadaku."
Orang itu mengeluarkan dua kantong yang penuh berisi surat-surat;lalu
Husain membeberkan surat-surat itu. Mereka menyangkal surat- surat tersebut.
Kemudian Husain meneruskan perjalanannya, hingga mencapai Karbala. Melihat
banyaknya pasukan yang menghadapinya,Husain sadar bahwasanya tiada tempat
pelarian baginya. Ia laluberdo'a:
"Allahumma, ya Allah. Berilah keputusan antara kami dan suatu
kaumyang mengundang kami, dengan janji membela kami, lalu mereka itumalahan
akan membunuh kami."
Ia kemudian berjuang terus hingga jatuh terbunuh. Semoga rahmatdan
keridhaan Allah dilimpahkan kepadanya. Nyatalah bahwa semuayang datang di
medang perang Karbala, dengan tujuan memeranginyadan melaksanakan pembunuhan
terhadapnya, adalah laskar Kufa,tiada seorang pun warga Syam yang ikut.
(Murujudz-dzahab, III/61)
Al-Ya'qubi, ahli sejarah, yang fanatik kepada aliran
Syi'ahmenerangkan,
"Sesudah gerombolan warga Kuga itu membunuh Husain,
merekamerampok kemahnya, menawan kaum wanita, sanak kerabat Husainyang ikut
bersamanya, dan mengangkat mereka ke Kufa. Ketikawanita-wanita itu memasuki
Kufa, kaum wanita Kufa keluar, sambilmeratap dan menangis. Ali bin Husain (yang
ikut dalam rombongantawanan itu) berkata, "Mereka ini menangisi kami; lalu
siapakahyang membunuh kami?" (Tarikh Al-ya'qubi, I/235)
Inilah yang terjadi pada Husain, demikian pula yang terjadi, baik pada
masa Ali, maupun pada masa Ali dan Hasan serta pada masaaimam-imam dan
pemimpin-pemimpin syi'ah lainnya.
Apa komentar Welhausen, seorang orientalis Jerman, yangmenaruh simpati
kepada kaum Syi'ah terhadap peristiwaterbunuhnya Husain dan sikap orang Syi'ah
terhadap Husain.
(dinukil dari "Sejarah: Pertumbuhan dan Perkembangan
GerakanSyi'ah", Dr. Ihsan Ilahi Zahier, Al-Ma'arif Bandung,hal. 225-224)
"Sebagian besar warga Kufa tidak mempunyai keinginan
membelaPemerintah (kekuasaan Yazid bin Mu'awiyah),
tetapi sekalipundemikian, mereka tidak bergabung ke pihak-pihak
musuh-musuhPemerintah; SAMPAI-SAMPAI MEREKA, YANG DAHULUNYA MENGIRIMSURAT
KEPADA HUSAIN; YANG DIDALAMNYA MEREKA MENYATAKAN SUMPAHSETIA MEREKA
TERHADAPNYA, TIDAK BERGABUNG KEPADA TENTARAHUSAIN MALAH MENINGGALKANNYA DI
SAAT-SAAT IA DALAM KEMALANGAN,mereka tidak mengulurkan tangan untuk memberikan
pertolongankepadanya. Paling banyak yang mereka lakukan ialah
mengamatipertempuran dari jauh dan menyaksikan (dari jauh pula)pergolakan
terakhir Husain, kemudian (atas kematiannya) merekamenangisinya. Sedikit sekali
dari mereka yang bertekadmengikuti Husain, seta menemaninya dalam musibahnya.
Darimereka ini dapt disebutkan antara lain Abu Tsumamah Ash-Sha'idi, pengawas
Baitul-mal, dan Ibnu Usjah. Selain darimereka itu, orang-orang yang mengikuti
Husain dalampergolakannya terdiri atas mereka yang menjumpainya
dalamperjalanannya ke Kufa, kemudian mengikutinya, dan orang-orangyang yang
terdorong oleh rasa kemanusiaan, untuk bergabungdengannya, pada-pada saat
terkahir, sekalipun mereka ini,sebelumnya, tidak pernah mempunyai hubungan
sesuatu pundengannya dan tidak termasuk dalam golongan Syi'ahnya. Padahalahli
sejarah mengungkapkan kontradiksi ini, yakni antaraorang-orang wajib membela
(yang memikul kewajiban membelaHusain), tetapi tidak melakukan sesuatu, dan
orang-orangsukarelawan, yang dengan perbutan mereka (membela Husain)telah
membuat malu golongan yang pertama. Para ahli sejarahterkadang memaparkan
peristiwa tersebut secara dramatis. Yangmenarik perhatian ialah, bahwa kaum
Anshar juga, jadi bukansaja kaum Quraisy, telah meninggalkan Husain, tiada
seorangpun dari mereka yang keluar bersama Husain dari Madinah,sedang dalam
kalangan syi'ah kufa terdapat sedikit sekali dariorang-orang asal anshar.
Adapun pemberontakan yang meletus diMadinah, pada tahun 63 H., bukanlah
pemberontakan untukmembala anak-cucu Ali, hal mana terbukti bahwa Ali bin
Husainberlepas tangan dari pemberontakan itu.
Di samping golongan pengecut dan yang tidak setia itu,terdapat pula
golongan yang merupakan musuh-musuh Syi'ahdengan terang-terangan; mereka ini
adalah pengikut-pengikutdan pegawai-pegawai Pemerintah Bani Umayah. Perbantahan
yangdilakukan tidak berkisar sekeliling masalah-masalah agama
dankeimanan." (Demikian Welhausen dalam bukunya yang berjudul,"Kaum Khawarij
dan Syi'ah, hal. 134)
------------------------------------artikel
2------------------------------------
Al-Hasan dan Al-Husein adalah putera dari Ali bin Abi
Thalibradhiyallahu 'anhum, cucu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallamdari
anak perempuannya Fathimah radhiyallahu 'anha. Mereka termasukkalangan ahlul
bait Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yangmemiliki keutamaan-keutamaan
yang besar dan mendapat pujian-pujianRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
di antaranya beliaubersabda:
Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husein adalah kesayanganku dari dunia.(HR.
Bukhari dengan Fathul Bari, juz VII, hal. 464, hadits 3753 danTirmidzi, Ahmad
dari Ibnu Umar)
Juga bersabda:
Al-Hasan dan Al-Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda
ahluljannah. (HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari AbiSa'id
al-Khudri; dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani dalam SilsilahHadits Shahih, hal
423, hadits no. 796 dan beliau berkata hadits inidiriwayatkan pula dari 10
shahabat)
Riwayat Hidup Al-Husein dan Peristiwa Pembunuhannya
Beliau dilahirkan pada bulan Sya'ban tahun ke-empat Hijriyah.Diriwayatkan
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam men-tahnik (yakni mengunyahkan
kurma kemudian dimasukkan ke mulut bayidengan digosokkan ke langit-langitnya
-pent.), mendoakan danmenamakannya Al-Husein. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu
Katsirdalam Al-Bidayah wan Nihayah, juz VIII, hal. 152.
Berkata Ibnul Arabi dalam kitabnya Al-Awashim minalQawashim:
"Disebutkan oleh ahli tarikh bahwa surat-surat berdatangandari ahli kufah
kepada Al-Husein (setelah meninggalnya Mu'awiyahradhiyallahu 'anhu). Kemudian
Al-Husein mengirim Muslim Ibnu Aqil,anak pamannya kepada mereka untuk membai'at
mereka dan melihatbagaimana keikutsertaan mereka. Maka Ibnu Abbas radhiyallahu
'anhumemberitahu beliau (Al-Husein) bahwa mereka dahulu pernahmengkhianati
bapak dan saudaranya. Sedangkan Ibnu Zubairmengisyaratkan kepadanya agar dia
berangkat, maka berangkatlah Al-Husein. Sebelum sampai beliau di Kufah ternyata
Muslim Ibnu Aqiltelah terbunuh dan diserahkan kepadanya oleh orang-orang
yangmemanggilnya. "Cukup bagimu ini sebagai peringatan bagi yang
maumengambil peringatan" (kelihatannya yang dimaksud adalah ucapan
IbnuAbbas kepada Al-Husein -pent.).
Tetapi beliau radhiyallahu 'anhu tetap melanjutkan perjalanannyadengan marah
karena dien dalam rangka menegakkan al-haq. Bahkanbeliau tidak mendengarkan
nasehat orang yang paling alim padajamannya yaitu ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu
dan menyalahi pendapatsyaikh para shahabat yaitu Ibnu Umar. Beliau mengharapkan
permulaanpada akhir (hidup -pent.), mengharapkan kelurusan dalam kebengkokandan
mengharapkan keelokan pemuda dalam rapuh ketuaan.
Tidak ada yang sepertinya di sekitarnya, tidak pula memiliki pembela-pembela
yang memelihara haknya atau yang bersedia mengorbankandirinya untuk membelanya.
Akhirnya kita ingin mensucikan bumi darikhamr Yazid, tetapi kita tumpahkan
darah Al-Husein, maka datangkepada kita musibah yang menghilangkan kebahagiaan
jaman. (lihat Al-Awashim minal Qawashim oleh Abu Bakar Ibnul 'Arabi dengan
tahqiq danta'liq Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, hal. 229-232)
Yang dimaksud oleh beliau dengan ucapannya 'Kita ingin mensucikanbumi dari
khamr Yazid, tetapi kita tumpahkan darah Al-Husein' adalahbahwa niat Al-Husein
dengan sebagian kaum muslimin untuk mensucikanbumi dari khamr Yazid yang hal
ini masih merupakan tuduhan-tuduhandan tanpa bukti, tetapi hasilnya justru kita
menodai bumi dengandarah Al-Husein yang suci. Sebagaimana dikatakan oleh
SyaikhMuhibbudin Al-Khatib dalam ta'liq-nya terhadap buku Al-AwashimMinal
Qawashim.
Ketika Al-Husein ditahan oleh tentara Yazid, Samardi Al-Jausyanmendorong
Abdullah bin Ziyad untuk membunuhnya. Sedangkan Al-Huseinmeminta untuk
dihadapkan kepada Yazid atau dibawa ke front untukberjihad melawan orang-orang
kafir atau kembali ke Mekah. Namunmereka tetap membunuh Al-Husein dengan dhalim
sehingga beliaumeninggal dengan syahid radhiyallahu 'anhu. Inna Lillahi wa
InnaIlaihi Raji'un.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Al-Husein terbunuh di Karbaladi
dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya,sedangkan kepalanya
dikirim ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.Demikianlah yang diriwayatkan
oleh Bukhari dalam Shahihnya dan daripara imam yang lain.
Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telahdiriwayatkan dalam
beberapa jalan yang munqathi' (terputus) dantidak benar sedikitpun tentangnya.
Bahkan dalam riwayat-riwayattampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan
pengada-adaan riwayattersebut. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi
taringnyadengan besi dan bahwasanya sebagian para shahabat yang hadir
sepertiAnas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain mengingkarinya. Hal iniadalah
pengkaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besiadalah 'Ubaidilah bin
Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahihdan musnad, bahwasanya mereka
menempatkan Yazid di tempat 'Ubaidilahbin Ziyad. Adapun 'Ubaidillah, tidak
diragukan lagi bahwa dialahyang memerintahkan untuk membunuhnya (Husein) dan
memerintahkanuntuk membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibnu
Ziyadpun dibunuh karena itu.
Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadiseperti Anas
dan Abi Barzah tidak berada di Syam, melainkan beradadi Iraq ketika itu.
Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orangjahil (bodoh), tidak mengerti
apa-apa yang menunjukkan kedustaanmereka." (Majmu' Fatawa, juz IV, hal.
507-508)
Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husein binAli
radhiyallahu 'anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az-Zubair bin
Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalahseorang yang paling 'alim
dan paling tsiqah dalam masalah ini(tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan
bahwa kepala Al-Huseindibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana.
Hal ini yangpaling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan,
pamanayahnya Al-Abbas dan anak Ali dan yang seperti mereka. (Dalamsumber yang
sama, juz IV, hal. 509)
Demikianlah Al-Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma terbunuh pada hari
Jum'at, pada hari 'Asyura, yaitu pada bulan Muharram tahun 61 Hdalam usia 54
tahun 6 bulan. Semoga Allah merahmati Al-Husein danmengampuni seluruh
dosadosanya serta menerimanya sebagai syahid.Dan semoga Allah membalas para
pembunuhnya dan mengadzab merekadengan adzab yang pedih. Amin.
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Mu'awiyyah
Untuk membahas masalah ini kita nukilkan saja di sini ucapanSyaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah secara lengkap dari Fatawa-nya sebagaiberikut:
Belum terjadi sebelumnya manusia membicarakan masalah Yazid binMuawiyyah dan
tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien.Hingga terjadilah setelah itu
beberapa perkara, sehingga manusiamelaknat terhadap Yazid bin Muawiyyah, bahkan
bisa jadi merekamenginginkan dengan itu laknat kepada yang lainnya.
Sedangkankebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu.
Kemudiansuatu kaum dari golongan yang ikut mendengar yang demikian
meyakinibahwa Yazid termasuk orang-orang shalih yang besar dan Imam-imamyang
mendapat petunjuk.
Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisiyang
berlawanan:
Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq danbahwasanya
dia telah membunuh salah seorang anak perempuanRasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam, membunuh shahabat-shahabatAnshar, dan anak-anak mereka pada kejadian
Al-Hurrah (pembebasanMadinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh
dalam keadaankafir seperti kakek ibunya 'Utbah bin Rab'iah, pamannya Al-Walid
danselain keduanya. Dan mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenaldengan peminum
khamr dan menampakkan maksiat-maksiatnya.
Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yangadil,
mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk. Dan dia darikalangan shahabat atau
pembesar shahabat serta salah seorang dariwali-wali Allah. Bahkan sebagian dari
mereka meyakini bahwa diadari kalangan para nabi. Mereka mengucapkan bahwa
barangsiapa tidakberpendapat terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia
dalamneraka Jahannam. Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin 'Adi bahwadia
adalah wali yang seperti ini dan seperti itu. Barangsiapa yangberhenti (tidak
mau mengatakan demikian), maka dia berhenti dalamneraka karena ucapan mereka
yang demikian terhadap Yazid. Setelahzaman Syaikh Hasan bertambahlah perkara-perkara
batil dalam bentuksyair atau prosa. Mereka ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid
denganperkara-perkara yang menyelisihi apa yang ada di atasnya Syaikh 'Adiyang
agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena jalan beliausebelumnya adalah
baik, belum terdapat bid'ah-bid'ah yang sepertiitu, kemudian mereka mendapatkan
bencana dari pihak Rafidlah yangmemusuhi mereka dan kemudian membunuh Syaikh
Hasan bin 'Adi sehinggaterjadilah fitnah yang tidak disukai Allah dan
Rasul-Nya.
Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yangdisepakati oleh
para ulama dan Ahlul Iman. Karena sesungguhnya Yazidbin Muawiyyah dilahirkan
pada masa khalifah Utsman bin 'Affanradliallahu 'anhu dan tidak pernah bertemu
Nabi shallallahu 'alaihiwa sallam serta tidak pula termasuk shahabat dengan
kesepakatan paraulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan
keshalihan.Dia termasuk kalangan pemuda-pemuda muslim bukan kafir dan bukan
pulazindiq. Dia memegang kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukaioleh sebagian
kaum muslimin dan diridlai oleh sebagian yang lain.Dia memiliki keberanian dan
kedermawanan dan tidak pernah menampakkankemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana
dikisahkan oleh musuh-musuhnya.
Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besaryaitu:
1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu 'anhu sedangkan Yazid
tidakmemerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkankegembiraan
dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigitaringnya dengan besi. Dia
juga tidak membawa kepala Husein ke Syam.Dia memerintahkan untuk melarang
Husein dengan melepaskannya dariurusan walaupun dengan memeranginya. Tetapi
para utusannya melebihidari apa yang diperintahkannya tatkala Samardi
Al-Jausyanmendorong 'Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya.Ibnu Ziyad
punmenyakitinya dan ketika Al-Husein radhiyallahu 'anhu meminta agardia dibawa
menghadap Yazid, atau diajak ke front untuk berjihad(memerangi orang-orang
kafir bersama tentara Yazid -pent), ataukembali ke Mekkah, mereka menolaknya
dan tetap menawannya. Atasperintah Umar bin Sa'd, maka mereka membunuh beliau
dan sekelompokAhlul Bait radhiyallahu 'anhum dengan dhalim. Terbunuhnya
beliauradhiyallahu 'anhu termasuk musibah besar, karena sesungguhnyaterbunuhnya
Al-Husein -dan 'Utsman bin 'Affan sebelumnya- adalahpenyebab fitnah terbesar
pada umat ini. Demikian juga pembunuhkeduanya adalah makhluk yang paling jelek
di sisi Allah. Ketikakeluarga beliau radhiyallahu 'anhu mendatangi Yazid bin
Mua'wiyah,Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke Madinah.
Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Huseindan
berkata: "Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk Irak tanpapembunuhan
Husein." Tetapi dia tidak menampakkan pengingkaranterhadap pembunuhnya,
tidak membela serta tidak pula membalasnya,padahal itu adalah wajib bagi dia.
Maka akhirnya Ahlul Haqmencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah
lagi denganperkara-perkara yang lain. Sedangkan musuh-musuh mereka
menambahkankedustaan-kedustaan atasnya.
2. Ahlil Madinah membatalkan bai'atnya kepada Yazid dan merekamengeluarkan
utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkantentara kepada mereka,
memerintahkan mereka untuk taat dan jikamereka tidak mentaatinya setelah tiga
hari mereka akan memasukiMadinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka.
Setelah tigahari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh
mereka,merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanitayang
suci, kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang muliadan mengepungnya.
Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalamkeadaan mengepung Mekkah dan
hal ini merupakan permusuhan dankedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.
Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat iniadalah
mereka tidak melaknat dan tidak mencintainya. Shalih binAhmad bin Hanbal
berkata: Aku katakan kepada ayahku: "Sesungguhnyasuatu kaum mengatakan
bahwa mereka cinta kepada Yazid." Maka beliaurahimahullah menjawab:
"Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazidseorang yang beriman kepada
Allah dan hari akhir?" Aku bertanya:"Wahai ayahku, mengapa engkau
tidak melaknatnya?" Beliaumenjawab: "Wahai anakku, kapan engkau
melihat ayahmu melaknatseseorang?" Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan
kepadanya: "Apakahengkau menulis hadits dari Yazid bin Mu'awiyyah?"
Diaberkata: "Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang
telahmelakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?"
Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah raja dariraja-raja
(Islam -pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintaiorang-orang shalih
dan wali-wali Allah dan tidak pula melaknatnya.Karena sesungguhnya mereka tidak
suka melaknat seorang muslimsecara khusus (ta yin), berdasarkan apa yang
diriwayatkan olehBukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu:Bahwa
seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering minum khamr.Acap kali dia
didatangkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam dan dicambuknya.
Maka berkatalah seseorang: "Semoga Allahmelaknatnya. Betapa sering dia
didatangkan kepada Nabishallallahu 'alaihi wa sallam." Maka Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan engkau melaknatnya,
sesungguhnya diamencintai Allah dan Rasul-Nya. " (HR. Bukhari)
Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkanlaknat
terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telahmelakukan kedhaliman yang
menyebabkan laknat bagi pelakunya.
Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorangmuslim
yang memegang pemerintahan di zaman para shahabat dandibai'at oleh mereka. Serta
mereka berkata: "Tidak benar apa yangdinukil tentangnya padahal dia
memiliki kebaikan-kebaikan,atau dia melakukannya dengan ijtihad."
Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (AhlusSunnah),
bahwa mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dantidak pula melaknatnya.
Di samping itu kalaupun dia sebagai orangyang fasiq atau dhalim, Allah masih
mungkin mengampuni orang fasiqdan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki
kebaikan-kebaikanyang besar.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran bintiMalhan
radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallambersabda:
...
��������� ������ ���� �������� �������������������� ������������������ ������. (
���� �������)
Tentara pertama yang memerangi Konstantiniyyah akan diampuni. (HR.Bukhari)
Padahal tentara pertama yang memeranginya adalah di bawah pimpinanYazid bin
Mu'awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshariradhiyallahu 'anhu
bersamanya.
Catatan:Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu
denganucapannya: "Kadang-kadang sering tertukar antara Yazid bin Mu'awiyah
dengan pamannya Yazid bin Abu Sufyan. Padahal sesungguhnyaYazid bin Abu Sufyan
adalah dari kalangan Shahabat, bahkan orang-orang pilihan di antara mereka dan
dialah keluarga Harb (ayah AbuSufyan bin Harb -pent) yang terbaik. Dan beliau
adalah salah seorangpemimpin Syam yang diutus oleh Abu Bakar
ash-Shiddiqradhiyallahu 'anhu ketika pembebasan negeri Syam. Abu Bakar
ash-Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika mengantarkannya, sedangkandia
berada di atas kendaraan. Maka berkatalah Yazid bin AbuSufyan: "Wahai
khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan)atau aku yang akan
turun." Maka berkatalah Abu Bakar: "Aku tidakakan naik dan engkau
jangan turun, sesungguhnya aku mengharapkanhisab dengan langkah-langkahku ini
di jalan Allah. Ketika beliauwafat setelah pembukaan negeri Syam di zaman
pemerintahan Umarradhiyallahu 'anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu
Mu'awiyahuntuk menggantikan kedudukannya.
Kemudian Mu'awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zamanpemerintahan
'Utsman ibnu 'Affan dan dia tetap di Syam sampaiterjadi peristiwa yang terjadi.
Yang wajib adalah untuk meringkasyang demikian dan berpaling dari membi-carakan
Yazid bin Mu'awiyahserta bencana yang menimpa kaum muslimin karenanya dan
sesungguhnyayang demikian merupakan bid'ah yang menyelisihi ahlus sunnah
waljama'ah. Karena dengan sebab itu sebagian orang bodoh meyakini bahwaYazid
bin Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan bahwasanya diatermasuk kalangan
tokoh-tokoh orang shalih yang besar atau imam-imamyang adil. Hal ini adalah
kesalahan yang nyata." (Diambil dari Majmu'Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, jilid 3, hal. 409-414)
Bid'ah-bid'ah yang Berhubungan dengan Terbunuhnya Al-Husein
Kemudian muncullah bid'ah-bid'ah yang banyak yang diadakan olehkebanyakan
orang-orang terakhir berkenaan dengan perisiwaterbunuhnya Al-Husein, tempatnya,
waktunya dan lain-lain. Mulailahmereka mengada-adakan An-Niyaahah (ratapan)
pada hari terbunuhnya Al-Husein yaitu pada hari 'Asyura (10 Muharram),
penyiksaan diri,mendhalimi binatang-binatang ternak, mencaci maki para wali
Allah(para shahabat)
dan mengada-adakan kedustaan-kedustaan yangdiatasnamakan ahlul bait serta
kemungkaran-kemungkaran yang jelasdilarang dalam kitab Allah dan sunnah
Rasul-Nya shallallahu 'alaihiwa sallam serta berdasarkan kesepakatan kaum
muslimin.
Al-Husein radhiyallahu 'anhu telah dimuliakan oleh Allah subhanahuwa ta'ala
dengan mati syahid pada hari 'Asyura dan Allah telahmenghinakan pembunuhnya
serta orang yang mendukungnya atau ridladengan pembunuhannya. Dan dia mempunyai
teladan pada orangsebelumnya dari para syuhada, karena sesungguhnya dia dan
saudaranyaadalah penghulu para pemuda ahlul jannah. Keduanya telah
dibesarkanpada masa kejayaan Islam dan tidak mendapatkan hijrah, jihad,
dankesabaran atas gangguan-gangguan di jalan Allah sebagaimana apa yangtelah
didapati oleh ahlul bait sebelumnya. Maka Allah mulyakankeduanya dengan syahid
untuk menyempurnakan kemulyaan dan mengangkatderajat keduanya.
Pembunuhan beliau merupakan musibah besar dan Allah subhanahu wata'ala telah
mensyari'atkan untuk mengucapkan istirja' (Inna lillahiwa inna ilaihi raji'un)
ketika musibah dalam ucapannya:
.... Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orangyang sabar,(yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, merekamengucapkan: "Innaa
lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Merekaitulah yang mendapatkan
keberkatan yang sempurna dan rahmat dariRabbnya, dan mereka itulah orang-orang
yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 155-157)
Sedangkan mereka yang mengerjakan apa-apa yang dilarang oleh Nabishallallahu
'alaihi wa sallam dalam rangka meratapinya sepertimemukul pipi, merobek baju,
dan menyeru dengan seruan-seruanjahiliyah, maka balasannya sangat keras
sebagaimana diriwayatkandalam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud
radhiyallahu'anhu, berkata: Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:
Bukan dari golongan kami, siapa yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju,
dan menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah. (HR. Bukharidan Muslim)
Dalam hadits lain, juga dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari
radhiyallahu 'anhu, bahwa dia berkata: "Aku berlepas diridari orang-orang
yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallamberlepas diri darinya, yaitu
bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam berlepas diri dari
al-haliqah, ash-shaliqah danasy-syaaqqah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam Shahih Muslim dari Abi Malik Al-Asy'ari bahwa
Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Empat perkara yang terdapat pada umatku dari perkara perkarajahiliyah yang
mereka tidak meninggalkannya: bangga dengankedudukan, mencela nasab
(keturunan), mengharapkan hujan denganbintang-bintang dan meratapi mayit. (HR.
Muslim)
Dan juga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Sesungguhnya perempuan tukang ratap jika tidak bertaubat sebelummatinya dia
akan dibangkitkan di hari kiamat sedangkan atasnyapakaian dari timah dan
pakaian dada dari nyala api neraka. (HR.Ahmad, Thabrani dan Hakim)
Hadits-hadits tentang masalah ini bermacam-macam. Demikianlahkeadaan orang
yang meratapi mayit dengan memukul-mukul badannya,merobek-robek bajunya dan
lain-lain. Maka bagaimana jika ditambahlagi bersama dengan itu kezaliman
terhadap orang-orang mukmin (parashahabat), melaknat mereka, mencela mereka,
serta sebaliknyamembantu ahlu syiqaq orang-orang munafiq dan ahlul bid'ah
dalamkerusakan dien yang mereka tuju serta kemungkaran lain yang Allahlebih
mengetahuinya.
-----------Maraji':
-Minhajus-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.-Majmu' Fatawa, Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah.-Al-'Awashim Minal Qawashim, oleh Qadhi Abu Bakar-Ibnul
Arabi dengan tahqiq dan ta'liq Syaikh Muhibbudin Al-Khatib.-Al-Bidayah wan
Nihayah, Ibnu Katsir.-Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar
Al-Asqalani.-Shahih Muslim dengan Syarh Nawawi.-Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shahihah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
Ukhuwah fillh
http://www.facebook.com/notes/melati/kisah-terbunuh-nya-husain-bin-ali-bin-abi-thalib/161658737205843